"KERETA ANGIN KUNING"
”Lif- Alif, bangun… bangun…”. Ganggu sebuah suara yang yang panik. Aku yang baru saja melayang ke alam mimpi Jumat sore itu mencoba membuka mataku yang berat. Wajah
Dul yang terengah-engah muncul dari balik lemariku.
“Apa kesalahan kamu?” todongnya.
“Kesalahan apa?” tanyaku sambil mengucek-ngucek mata dengan malas.
“Kamu dipanggil KP sekarang juga!”
Dul menyerahkan memo panggilan kepadaku. Semua panggilan ke KP selalu menggoyang jantung. Lebih sering daripada tidak, urusannya adalah masalah disiplin dan hukuman. Akhirnya lebih sering adalah vonis bersalah,
hukuman botak, bahkan pemulangan tidak hormat. Dengan agak gugup, aku mencoba mengingat-ingat apa kesalahan fatal yang kulakukan dalam beberapa hari ini. Terlambat
shalat pernah, tapi hanya beberapa menit, berbahasa Indonesia sudah lama tidak, tidak ghosab, tidak juga keluar tanpa izin. Sejauh ingatanku, aku telah menjadi orang yang baik. Aku benar-benar tidak tahu apa kesalahanku.
Dengan wajah cemas, aku menghadap Ustad Torik yang duduk menunggu di kantornya. Dia dengan santai membolak balik sebuah buku besar tebal berwarna hitam. Aku sekilas
melihat sampulnya: “Catatan Perilaku Angkatan 1988″. Buku ini kami sebut kitab “dosa dan pahala” kami selama berada di PM; Bagai punya malaikat Rakib dan Atit, semua pelanggaran dan prestasi setiap murid tercatat rapi di buku ini.
Seperti biasanya, wajah Ustad Torik selalu siaga hingga aku semakin khawatir, nasib buruk apa yang jemputku hari ini.
“Ijlis, ya akhi,” katanya menyuruh duduk dengan sinar Mata sembilunya mengawasiku sebentar, lalu kembali ke buku hitamnya. Aku mengambil kursi yang terjauh. Lalu sepi. Hanya bunyi kertas dibolak-balik dan kitiran angin berdesau-desau di langit-langit.
Akhirnya, setelah mendehem beberapa kali dia mengangkat kepala dan melihat ke arahku.
“Isma’ ya akhi. Dengarkan. Kami telah memperhatikanmu beberapa waktu terakhir ini…”.
Badanku menegang mengantisipasi semua kemungkinan Awal yang menggelisahkan. Apa yang dia perhatikan? Kesalahan apa pula yang dia temukan? Aku sudah mencoba jadi anak baik kok.
“Kami juga telah mendapat masukan dan penilaian dari para gurumu, termasuk wali kelas…” Dia terus mengobrol pembukaan yang tidak jelas mau ke mana. Di bawah meja aku
menggenggam ujung jariku yang semakin dingin.
“Saya sendiri menilai, berdasarkan catatan” membuka kitab hitam di depannya. Dan melihat tangan nya yang kurus mengetuk-ngetuk satu halaman yang aku pikir adalah halaman diriku. Ya Tuhan, dia membuka buku dosaku. Selamatkanlah aku, Tuhan.
”Walau prestasi sekolah lumayan baik, kedua bahasa baik terutama Inggris, tapi pelanggaran-pelanggaran disiplin yang kamu lakukan dalam 3 tahun terakhir ini juga ada. Karena itu kami memutuskan…..” Dia menggantung suaranya sambil memandang mencorong kepada mataku. Dia seperti benar-
benar menikmati permainan berputar-putar ini. “…untuk mencoba memberi kepercayaan kepadamu untuk menjadi...
“Student Speaker” dalam bahasa Inggris.” Otot mukanya kali ini melemas. Senyum tipis hinggap sebentar di bawah kumis suburnya, lalu hilang lagi.
Aku ternganga tidak percaya.
Untuk memastikan aku tidak salah dengar, aku bertanya:
“Stu… student Speaker, kapan Ustad?”
“Minggu depan, hari Jumat jam 3 sore. Di depan Mr. McGregor, Dubes Inggris.”
Alhamdulillah, terima kasih Tuhan. Setelah semua proses menegangkan ini, aku ternyata malah diberi kepercayaan besar.
“Student Speaker” adalah sebuah kehormatan. Setiap ada tamu penting yang datang ke PM akan diterima di aula oleh kiai dan guru serta para murid. Setelah Kiai mengucapkan selamat datang, akan ada satu wakil dari murid yang
berpidato menyambut tamu ini tanpa membaca teks. Pidato bisa dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Arab, tergantung tamunya dari mana. Terpilih sebagai speaker adalah hasil seleksi dan pengamatan terhadap kemampuan berpidato dan bahasa. Hanya yang terbaik saja yang terpilih. Raja tahun lalu
pernah terpilih menjadi speaker ketika menyambut rombongan duta besar Mesir. Sejak itu aku belajar hebat, untuk bisa juga
dipilih. Setiap kesempatan latihan pidato dan diskusi berbahasa Inggris, aku membuat persiapan maksimal. Rupanya usahaku tidak sia sia, hari ini usahaku dibayar kontan.
Sesuai janji, aku harus membuat konsep dan persiapanpidato lima menit ini. Dalam dua hari aku harus sudah mendemonstrasikan pidato ini di depan para ustad KP. Penampilan pertamaku membuat kening Ustad Torik berkerut-kerut.
“Akhi, bahasa sudah bagus, tapi isinya belum bagus, coba perbaiki lagi. Ingat, waktunya tinggal 5 hari lagi” komentarnya.
Selama 3 hari 3 malam, ditemani Sahibul Menara sebagai konsultan, aku berlatih dan berlatih, di sebelah SipiH Bambu. Aku berteriak tanpa lelah kepada air, belukar, melatih lidahku
supaya fleksibel untuk membawakan pidatoku yang berjudul, “When East Greets West”. Ketika aku peragakan lagi pidato 5 menitku di depan Ustad Toriq mengangguk-angguk setuju. Aku lega tapi juga tegang. Dua hari lagi adalah hari H aku tampil di depan mata ribuan murid, para guru, kiai dan tamu agung dari Inggris itu. Bagaimana jika pada hari H suaraku hilang, atau sakit gigi, atau grogi, atau lupa hapalan pidatoku, atau… tidurku jadi tidak nyenyak.
Pagi Jumat ini aku sangat senewen. Semua persiapan yang perlu sudah kulakukan. Teks pidato sudah berkali-kali kuhapalkan. Jas, dasi dan kopiah hitam sudah rapi tersampir diatas lemariku. Tapi tetap saja aku ketar-ketir. Ini penampilan pertamaku di depan ribuan orang. Aku pernah membawakan makalah di depan 500 orang dan itu dalam bahasa Indonesia.
Tapi, di depan ribuan orang dan bahasa Inggris? Di depan kaca, aku temukan wajahku sendiri yang terjerat perasaan bangga dan grogi. Aku pandang mataku sendiri, dan lamat-lamat aku lafalkan nasihat Kiai Rais suatu kali: “Jangan pernah takut dan tunduk kepada siapa pun. Takutlah hanya kepada Allah. Karena yang membatasi kita atas dan bawah hanyalah tanah dan langit.”
“Bismillah, ya Tuhan, sudah aku kerahkan segala usaha, sekarang aku serahkan penampilanku kepadaMu dengan segala ikhlas, gumamku.
Sekali lagi aku rapikan sisiranku yang sudah licin dan aku tenggak sebutir multi vitamin untuk memastikan aku segar nanti di panggung.
“Your excellency, one of our students would like to welcome you. Mr. Ali Fikri…” Undang MC sambil menganggukkan dagu kepadaku yang duduk mengkerut di ujung aula. Tiba-tiba
kerongkonganku terasa kering dan dasiku terasa mencekik.
Tapi tidak ada pilihan lain, selain berjalan ke podium. Suasana hening sehingga aku bisa mendengar pletak-pletok sepatuku melantun-lantun di lantai. Kiai, Duta Besar, dan hadirin memanjangkan leher, mencoba menangkap wajahku. Ini semua menambah kegugupan. Pundakku rasanya seperti menumpu gajah. Tapi segera kugenggam lagi kepercayaan
diriku. Jangan pernah takut kepada siapa pun dan situasi apa pun. Takutmu hanya pada Tuhan. Hatiku bertakbir, Allahu Akbar. Suara takbir di dalam dadaku membuatku berani. Aku telah berusaha keras dan aku berhak untuk berhasil. Langkah aku percepat ke podium.
Aku kini tampil di atas podium. Aku bayangkan rasanya berada diruang muhadharah, ruang yang membuatku bisa melontarkan dan mengekspresikan pidato tanpa beban. Aku ingat lagi nasehat Raja, untuk menguasai hadirin dengan mengedarkan pandangan ke setiap sudut. Mataku terakhir tertumbuk kepada -Kiai Rais dan Duta Besar. Dengan anggukan kecil kepada mereka, aku membuka penampilan dengan salam terfasih dan
terbaikku.
Mendengar koor jawaban salam dari ribuan orang, gugupku pun meruap. Itulah kekuatan sebuah salam. Aku bisa mengendalikan ruangan ini dengan sebuah salam. Lalu aku
mulai melontarkan semua hapalan teksku yang intinya bercerita bahwa hubungan Timur dan Barat harus dipelihara dan dilandasi saling percaya serta saling menghargai. Aku lirik,
Dubes itu mengangguk-angguk sambil mengawasiku. Kiai Rais tersenyum tenang seperti biasa.
Di akhir pidato, aku selipkan sebuah rayuan gombal.
“Untuk terus memajukan hubungan krusial antara Barat dan Timur, tidak hanya cukup Pak Dubes yang berkunjung ke PM, bahkan PM sebagai wakil Timur pun siap berkunjung kepada Anda. Saling berkunjung, saling menyapa, saling lah kunci hubungan Timur Barat yang indah.”
Aku hadapkan wajahku kepada Dubes. Dia tersenyum terangguk-angguk. Matanya berbinar, bahkan dia menuliskan; sesuatu di buku catatannya. Bayangkan, dia bahkan mencatat pidatoku! Siapa tahu dia sedang mencatat sebuah beasiswa buatku.
Di akhir acara, aku sempat bersalaman dan berfoto bersama Pak Dubes dan Kiai Rais. Tanganku tenggelam di dalam tangan Dubes yang besar dan empuk. Diayun-ayunkan
tanganku beberapa kali sambil berkata, “Indeed, a very good speak. I like your idea on how to strengthen the relationship between west and east”.
Aku tersenyum-senyum sambil berulang-ulang menyebut… thank you Sir, thank you Sir…
Foto bertiga inilah yang menjadi andalanku. Segera aku kirim ke Randai dan Ayah juga Amak di rumah. Kata Amak, Ayah sampai memajang foto ini di papan pengumuman
balerong dengan bangga.
Selain Duta Besar Inggris, PM kerap dikunjungi tamu luar dan dalam negeri. Selain itu tentulah keluarga para murid sendiri. Dan setiap tamu ini hampir selalu tur keliling PM, seperti yang aku rasakan pertama kali datang dulu. Kami
dengan segenap kegiatan kami yang padat adalah tontonan para pengunjung ini.
Raja yang paling sarkastik dengan hal ini. “Kita perlu berempati kepada para penghuni taman safari yang asli. Di PM, aku merasa kita mirip warga taman safari. Lihat saja, setiap hari libur, taman itu dikunjungi banyak orang, yang
mengagumi dan memuji mereka dari jauh. Sesekali tangan diulurkan untuk membelai dan melempar sepotong wortel atau beberapa butir kacang ke mulut para penghuninya. Lalu
pengunjung dengan wajah puas dan gembira pulang ke rumah masing-masing.”
Karena metode pendidikannya unik, PM kerap menjadi tujuan “wisata”. Berbagai macam bus dan mobil datang silih berganti. Lalu, bagian penerimaan tamu akan mengajak mereka tur. Awalnya, aku dan teman-teman cukup terganggu dengan hadiran tamu ini. Mereka dengan wajah penuh heran dan ingin tahu melihat kami belajar, latihan pidato, menghapal mahfud bahkan dihukum jewer. Tapi lama-lama menjadi biasa. boleh sibuk mengamati, tapi kami tetap sibuk dengan buku dan pelajaran kami, keamanan sibuk dengan disiplinnya, jasus sibuk dengan buruannya, yang muflis sibuk berdebar-debar menunggu wesel. Kami menjadi kebal, dan tamu kemudian hanya angin lalu.
Jenis tamu juga beragam. Mulai dari seorang wali murid dari Kertosono, gubernur, menteri, presiden, duta besar manca negara, ahli sosiologi dari Australia, penyair, pelukis, direktur bank, militer, ibu negara, rektor universitas, sampai konglomerat.
Walau kami telah kebal terhadap tamu, sebetulnya ada beberapa tamu yang tidak bisa kami abaikan. Pertama adalah tamu remaja putri. Bagaimana pun PM adalah kerajaan ribuan laki laki. Setiap kedatangan perempuan adalah rahmat. Maka kalau ada teman sekamar yang kedatangan saudara
perempuannya, kami akan saling meledek siapa yang akan beruntung dikenalkan.
Suatu sore setelah Ashar setahun yang lalu, sebuah sepeda kuning meluncur kencang ke asrama kami. Sepeda kuning selalu tanda kebaikan, karena hanya dikendarai oleh bagian
penerimaan tamu yang datang dengan sebuah misi: mengabarkan ada yang kedatangan tamu. Kali ini, Soleh, kawanku yang dapat posisi di bagian penerimaan tamu langsung ke asrama kami.
Dia membaca kertas nota tamunya. ” Ya akhi, Zamzam?”
Zamzam berteriak mengangkat tangan. Kawanku ini tipikal orang Sunda yang putih bersih, apik, lemah lembut, dan tampan.
“Orang tua dan adik-adik menunggu di bagian tamu sekarang.”
Besoknya, Zamzam mendampingi keluarga besarnya mengunjungi asrama kami. Di taman di depan asrama dia sibuk menerangkan kegiatan sehari-hari, sementara kami duduk-duduk di kejauhan memandang mereka dengan penuh antusiasme. Zamzam dikelilingi empat orang perempuan. Satu orang sudah berumur, aku kira ibunya. Dan tiga orang muda
belia, aku kira sepantaran denganku. Mereka bertiga berwajah putih bersih, penuh senyum dan manis-manis.
“Ya salam, beruntung sekali si Zamzam ini, punya keluarga cantik-cantik,” kata Atang. Dia optimis gampang bergaul dengan mereka karena merasa asli Sunda.
“Semoga Zamzam sekeluarga diberkahi Allah,” sambung Said.
“Aku paling suka melihat yang berkerudung hijau,” kata Dul malu-malu. Aku mengangguk mengiyakan. Entah kenapa aku juga malu untuk terus terang mengungkapkan preferensi.
Sementara di tengah taman, bagai burung-burung cantik yang sedang menikmati alam, tiga perempuan belia ini tertawa, tersenyum, ceria, pura-pura tidak merasa ada yang
melihat mereka. Tiga hari tiga malam, perbincangan kami sekamar tidak pernah jauh dari saudari-saudari bening si Zamzam ini. Kami meributkan siapa yang disetujui Zamzam untuk berkenalan dengan saudaranya. Zamzam hanya bisa cengar-cengir saja.
Tamu lain yang menyedot perhatian kami adalah kunjungan persahabatan dari pondok-pondok khusus putri. Biasanya ada waktu untuk diskusi antar siswa. Senang sekali rasanya ngobrol dengan bahasa Arab, tapi lawan bicara kali ini perempuan. Kalau biasa kami menggunakan kata ganti orang ketiga laki-laki “anta”, kini kami bisa menggunakan kata ganti ”anti”.
Kami dengan mata berbinar-binar akan melayani mereka walau bahasa Arabnya terpatah-patah. Di akhir kunjungan biasanya ada foto bersama. Tapi tidak pernah foto berdua tentunya. Dan sebelum berpisah ada saja yang bertukar alamat, sambil mengendap-endap supaya tidak ketahuan KP.
Bagi murid yang datang dari jauh seperti aku, Raja, dan Baso, kunjungan tamu adalah sebuah peristiwa besar saking jarangnya. Said dan Tatang yang relatif dekat masih sering dapat kunjungan. Kalau penasaran bagaimana rasanya mendapat tamu, aku mengajak Raja dan Baso untuk melewati kantor bagian penerimaan tamu. Iseng saja, mau melihat
siapa saja yang dapat tamu dan siapa saja tamunya.
Walau bukan tamu sendiri, melihat teman dapat tamu juga sudah senang.
Bersambung...
______________________________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar