Episode 37
Ketika titik jernih mulai mengembang dalam hati Srintil ada suara memanggilnya dari
samping belakang. Srintil menoleh. Pada saat yang sama kamera di tangan Bajus berdecik. Detik yang sempurna tepat. Kamera bukan hanya merekam sosok seorang perempuan muda, melainkan juga citra manusia bebas emosi dan hatinya mulai menyentuh kedamaian yang dalam. Bajus tersenyum lebar tanpa sadar sedikit pun bahwa dirinya yang amatir secara kebetulan baru saja bertindak sebagai seorang juru potret profesional. Kelak dia sendiri heran melihat hasil kerjanya. Dalam hal normal pencahayaan, sudut pandang maupun perspektif obyek keberhasilannya tidak bisa dikatakan menyolok. Tetapi bahwa foto itu berbicara banyak dalam bahasa jiwa –
suatu prestasi fotografi yang sulit terjadi – hanya foto itu sendiri yang bisa mengiyakannya.
Puas berpanas dan berangin-angin Bajus mengajak Srintil bersama Goder berjalan
mencari tempat yang teduh di sekitar mobil. Di sana Bajus membuat beberapa potret lagi. Sekali Srintil diambil gambarnya ketika duduk di bumper mobil, sekali ketika dia duduk di jok depan memangku Goder. Lalu Bajus pergi dan kembali membawa tiga ikat rambutan dan tiga botol minuman. Bajus memperhatikan tertib jemari Srintil ketika mengupas rambutan. Juga ketika Srintil mengulum daging buah yang putih dan lembut itu. Samar-samar terlihat pertanda gejolak rasa pada wajah Bajus. Namun Bajus sendiri yang segera menumpasnya dengan cara secepatnya memalingkan muka dan mengutuk diri sesengit mungkin.
Hampir tengah hari Bajus menghidupkan mesin jipnya hendak pulang. Srintil sudah
membeli jajanan, pepaya dan selai pisang, tetapi Bajus yang membayarnya. Lepas dari
daerah pantai Bajus membelokkan jipnya, masuk ke halaman sebuah penginapan.
Sejenak Srintil tertegun. Teringat olehnya ke tempat semacam inilah dulu dia sering dibawa oleh 'laki-laki' itu dari tahanan. Apabila benar Bajus mempunyai tujuan erotik Srintil sudah siap menolaknya.
"Kita makan dulu," kata Bajus. "Di situ nasi gorengnya enak," sambungnya sambil menunjuk sebuah warung agak tersembunyi di samping losmen. Bajus yang tidak menaruh perhatian ketika Srintil menarik napas lega berjalan paling dulu menuju warung. Srintil membopong Goder lalu mengikutinya di belakang. Kebanyakan kursi
sudah diduduki oleh pembeli dan Bajus kehilangan tempat kesayangannya.
"Kamu juga suka nasi goreng?"
"Suka, Mas."
"Kita pesan tiga. Apa minumnya?"
"Terserah, Mas."
"Air jeruk?"
Srintil mengangguk. Seorang pelayan yang berpakaian kenes datang dan berbicara
dengan Bajus. Diam-diam Srintil memperhatikan bagaimana cara Bajus menghadapi pelayan yang jelas dipasang sebagai burung pemikat itu. Dia cantik dan kelihatan sudah mengenal Bajus. Namun Srintil harus mengakui sikap Bajus nyaris tanpa cela; dia hanya berbicara seperlunya dengan bahasa dan cara yang lugas pula. Srintil malu.
***
Kegairahan yang mewarnai wilayah kecamatan Dawuan sudah berlangsung hampir lima bulan. Truk dan buldoser sudah menjadi pemandangan biasa. Juga tingkah-laku orang-
orang kota yang bekerja di proyek pembangunan bendungan dan jaringan pengairan. Bisa jadi yang masih menarik perhatian orang adalah hadirnya orang-orang Jepang dan Prancis. Suatu kali mereka menciptakan suasana kocak ketika mereka mencoba makan pecel di sebuah warung. Mereka blingsatan dengan air mata bercucuran karena lidah mereka tersengat oleh pedasnya cabai.
Dukuh Paruk terimbas gairah. Bukan hanya Nyai Kartareja yang diberi kesempatan berdagang pecel dan laris; hampir semua laki-laki Dukuh Paruk mendapat pekerjaan. Mereka dibayar secara patut untuk pekerjaan membantu tukang batu, penggalian-
penggalian tanah atau ngemplek, yakni menutup tanggul baru dengan lapisan rumput.
Kesibukan Dawuan memberi kesan bahwa mala petaka tahun 1965 sudah mulai
terlupakan. Penggal sejarah baru sedang merayap datang.
Srintil merasakan perubahan itu dari wajah-wajah yang dilihatnya sehari-hari. Kadar
kecurigaan tidak lagi menjadi warna utama pada setiap pasang mata. Dan kenyataan
bahwa Srintil sering digandeng oleh orang yang punya peran penting dalam pembangunan pengairan, Bajus, mempengaruhi pandangan orang kepadanya. Orang-orang sekecamatan Dawuan hanya mempunyai wawasan yang sederhana. Bajus itu orang proyek. Proyek itu milik pemerintah, jadi Bajus orang pemerintah. Apabila Bajus
menggandeng Srintil maka orang-orang sekecamatan Dawuan hanya bisa memberikan
satu makna; Srintil sudah digandeng pemerintah. Bekas tahanan politik atau bukan
nyatanya Srintil sudah dipakai oleh pemerintah. Jadi keberadaan Srintil tentulah sudah positif.
Dan ada beberapa foto di rumah Srintil yang mempertegas tentang siapa dan bagaimana dia. Orang-orang melihat dengan mata berseri foto-foto yang memperlihatkan Srintil sedang duduk di bumper mobil Bajus dan foto Srintil ketika dia kelihatan begitu mapan di jok depan mobil itu. Kebanggaan Srintil muncul pada
senyumnya. Namun ada satu hal yang membuatnya kurang puas di hati. Mengapakah
foto kebanggaan itu mesti menempel pada dinding anyaman bambu di bawah atap
ilalang?
Selayaknya dia menempel pada dinding tembok yang putih atau setidaknya pada
dinding kayu dengan cat biru samar. Ah, ya. Apalagi bila Srintlil teringat celoteh orang
banyak; dirinya sepenuhnya pantas menjadi ibu rumah tangga pada keluarga yang memiliki sebuah mobil. Srintil teringat perhiasan-perhiasan emasnya. Jumlahnya cukup untuk menjadikannya tinggal dalam sebuah rumah kayu yang kuat, bahkan kalau mau, berdinding tembok. Sebagai bekas tahanan politik Srintil memang masih amat takut memperlihatkan suatu bentuk kebanggaan meski yang paling samar sekalipun. Takut dikatakan ora rumangsa, tidak tahu-diri sebagai orang yang pernah disangkutpautkan dengan perkara kesalahan hidup yang amat besar.
Tetapi ketakutan dalam hati Srintil mulai terkikis bilamana dia berhadapan dengan
nilai sejati kehidupan kampung, keselarasan. Apabila dia menghendaki sebuah rumah yang pantas maka itulah upaya mencapai keselarasan antara diri dengan kehendak
sejarah. Dalam kehidupan yang sedang bergairah Srintil mendengar bisikan yang jelas,
"Kamu sekarang tidak pantas lagi bersarang dalam sebuah gubuk ilalang."
Ketika yakin dirinya sudah didikte oleh sejarah maka Srintil mengajak Kartareja berbicara. Sengaja dipilihnya saat yang sepi sehingga tak seorang pun mendengar pembicaraan itu.
"Kek, apakah tidak salah bila aku ingin membeli rumah yang agak pantas? Apakah
tindakan semacam itu tidak menyinggung perasaan orang banyak?"
Episode 38
Kartareja tidak mampu segera menjawab. Kartareja sudah cukup lama membaca obah-
mosiking zaman, maka dia sudah yakin tak ada aral apa pun bagi niat Srintil. Boleh jadi masalahnya menjadi lain bila Srintil tidak cantik. Kecantikan itu tidak bisa ditampik dan dia perhiasan sejarah sendiri. Maka meskipun sama-sama bekas tahanan tidak bisa tidak Srintil memperoleh tempat yang khas. Kartareja tidak heran bila kehidupan sendiri sudah memberikan sasmita restu bagi Srintil yang menginginkan sebuah rumah baru.
Namun Kartareja memendam kekecewaan, mengapa yang memberikan motivasi
kegairahan Srintil adalah Bajus. Mengapa bukan Rasus? Adalah sangat citrawi bagi
Kartareja dan semua warga puak bila anak Dukuh Paruk sendiri yang memberi dorongan kemudian membawa Srintil ke dalam kehidupan baru. Kehidupan tanpa rasa takut dan sekaligus membersihkan Dukuh Paruk dari bekas-bekas luka akibat geger komunis 1965.
"Kakek diam, apakah Kakek tidak setuju?"
"Oh, bukan. Bukan. Aku setuju, Wong Ayu. Masalahnya, adakah kamu mendengar
seseorang hendak menjual rumah?" kata Kartareja berkelit dengan bagus.
"Memang belum, Kek. Itulah. Bila Kakek setuju, maka Kakek juga yang akan aku mintai tolong mencarikannya."
"Aku?"
"Ya, Kek. Kalau bukan Kakek, siapa lagi?"
"Memang benar, Cucuku. Tetapi lebih dulu kita harus minta izin lurah. Yah, sebaiknya kita hati-hati. Misalkan lurah tidak setuju, maka apa boleh buat, aku pun tidak akan setuju kamu membeli rumah baru."
"Aku hanya menurut kepada Kakek. Yang jelas aku sudah ingin keluar dari gubuk ilalang. Malu, Kek. Malu bila Mas Bajus berkunjung."
"Aku mengerti, Wong Ayu. Maka baiklah. Kamu sediakan saja biayanya. Nanti akan kucoba bertanya dulu kepada Pak Lurah."
Lurah Pecikalan yang tua dan kuno sesungguhnya merasa malu bila ada priayi proyek seperti Bajus masuk ke tengah kemelaratan Dukuh Paruk. Terang kemelaratan di pedukuhan terpencil itu secara resmi bisa dihubungkan dengan kemampuannya sebagai
kepala desa. Maka tanpa mengingat Dukuh Paruk yang sekali waktu dihubungkan dengan keberingasan orang-orang komunis, lurah Pecikalan menyetujui keinginan Srintil yang disampaikan lewat Kartareja. Bahkan lurah tua itu memberi keterangan tentang beberapa orang yang hendak menjual rumah. Mereka adalah para penerima uang ganti rugi tanah dan bermaksud membangun rumah baru yang permanen.
Tidak sampai sebulan Srintil sudah mendapat rumah yang akan dibelinya, sebuah rumah berkerangka kayu jati bekas milik seorang petani kaya di Dawuan. Pemboyongan rumah itu melibatkan semua orang Dukuh Paruk, tak terkecuali Sakum yang keropos kedua matanya. Bajus yang mengetahui hal itu beberapa hari kemudian mengirim lima orang tukang batu dengan kelengkapan secukupnya. Hanya dalam enam minggu semuanya selesai; buat kali pertama di Dukuh Paruk berdiri sebuah rumah kayu jati berdinding tembok dan berlantai semen, lengkap dengan kakus dan sumur. Srintil mengisinya dengan tempat tidur terbaik yang bisa dibeli di Dawuan serta perabotan lain. Dan sebuah lampu pompa. Malam hari rumah Srintil benderang sehingga setiap saat orang bisa melihat tiga buah foto tertempel di tembok ruang depan.
Srintil merasa hampir berhasil meraih dirinya kembali. Lihatlah ketika senyum itu
menciptakan lekuk bagus di kedua ujung bibir, tanpa hambatan rasa takut. Cahaya temaram mulai muncul di wajah Srintil, mengusir sedikit demi sedikit sikapnya yang mudah gugup, peka dan begitu cepat merasa cemas. Meski belum bisa dikatakan ceria namun kerenyahan tingkah sudah terlihat setiap hari. Bila seorang diri menghadapi foto-foto itu Srintil merasa terbang bersama burung branjangan yang berkicau riang di ketinggian langit di atas sawah luas di sekitar Dukuh Paruk. Matanya menatap luasnya bumi, jauh lebih luas daripada Dukuh Paruk yang kusam dan terasing. Dan sejuta kali lebih luas daripada kompleks rumah tahanan di kota Eling-eling. Dari kebebasan di awang-awang Srintil mudah sekali menikmati kuningnya kembang waru, merahnya kembang soka dan ungunya kembang kecipir. Awan-gemawan mengirimkan irama kecapi petikan jari Wirsiter dan asmara dahana yang bergetar bersih melalui pita suara
Ciplak.
Ketika terbang bersama burung branjangan itu pula Srintil mendapati dirinya berada pada inti kelembagaan perempuan; bukan perempuan lawan timbangan laki-laki dalam makna primitif, perempuan milik umum. Dia merasa ada lelaki tertentu di sampingnya, laki-laki yang akan membuatnya disebut sebagai perempuan somahan, perempuan rumah tangga. Memang laki-laki itu bukan dia yang paling banyak membuat catatan yang berkesan di hati. Dia bukan Rasus, melainkan Bajus. Tak mengapa. Srintil sudah banyak belajar dan tahu bahwa cita tak selamanya sejajar dengan garis pepesthen, suratan takdir.
Dan Srintil tidak bisa menolak kenyataan bahwa Bajus makin lama membuat Rasus
tersisih dari hatinya. Bajus yang sama sekali belum memperlihatkan hal-hal yang tidak
disukainya. Perkenalan selama lima bulan dengan orang proyek itu adalah harapan.
Selama itu Bajus sungguh belum pernah menyentuh kulitnya, belum pernah berbicara
tentang hal-hal erotik baik langsung maupun tersamar. Sopan dan ramah seperti seorang priayi sejati. Ditambah dengan kenyataan Bajus membantu banyak sekali dalam pembangunan rumah Srintil maka mahkota Dukuh Paruk itu hanya bisa menarik satu nalar, Bajus adalah lelaki yang baik dan bersungguh-sungguh. Dia bukan laki-laki dari dunia petualangan, dunia yang Srintil bertekad ingin meninggalkannya.
Tetapi juga, belum sekali pun Bajus membicarakan – meski hanya melalui ungkapan yang tidak langsung – tentang perkawinan. Suatu penantian yang demikian lekat dalam jiwa sebagai benalu mencengkeram dahan kayu. Kadang Srintil merasa tidak sabar menunggu sampai mulut Bajus mengeluarkan kata-kata lamaran atau semacam itu. Lalu setiap kali Srintil membunuh sendiri ketidaksabarannya dengan kesadaran seorang perempuan kampung. Perempuan adalah bubu yang bila sudah dipasang hanya bisa menunggu ikan masuk. Selamanya bubu tak akan mengejar ikan atau memaksanya masuk ke dalamnya.
Hanya nyinyir Nyai Kartareja yang suatu kali menyingkap perasaan Srintil.
"Nah, rumah bagus sudah dibangun. Sir sudah dibangun. Sekarang aku mau bertanya, Jenganten. Kapan kiranya di Dukuh Paruk ini diadakan hajat besar?"
"Jangan bertanya soal itu, Nyai. Aku malu. Dan aku tidak tahu," jawab Srintil gugup. Pipinya merona merah.
"Maafkan aku, Jenganten. Soalnya aku hanya ingin tahu. Semua orang di sini ingin segera melihat sampean bersanding. Wajar, kan? Soalnya, apa lagi yang kurang. Semuanya sudah pantas."
"Entahlah, Nyai."
Srintil tidak meneruskan kata-katanya. Menunduk dan diam. Tiba-tiba saja dia merasa
ada sepotong sejarah yang hilang. Seakan dia adalah perawan suci kemarin sore yang belum mengerti laki-laki, sehingga Srintil merasa amat canggung menghadapinya. Nyai Kartareja menangkap kebimbangan yang tergambar pada wajah Srintil.
Episode 39
"Eh, lha, Jenganten. Mbok sampean jangan membiarkan diri terkatung-katung. Segala
keinginan harus disetiari. Sampean tidak lupa ngasrep pada hari kelahiran?" Srintil diam.
"Sampean tidak lupa berpuasa Senin-Kamis?"
Srintil masih diam. Oh, kamu, Nyai Kartareja. Jangankan ngasrep dan puasa Senin-Kamis. Setiap saat aku memohon kepada Tuhan, kiranya segera datang laki-laki yang suka mengawiniku. Laki-laki kepada siapa aku akan membuktikan diri dengan sepenuh hati bahwa aku sekarang lain dengan aku yang dahulu. Laki-laki yang akan membuat diriku mendapat sebutan yang sangat kudamba: ibu rumah tangga.
"Eh, lha, barangkali begini, Jenganten. Biasa. Dalam urusan semacam ini hampir selalu
diperlukan seorang perantara. Nah, aku akan melaksanakan pekerjaan semacam itu bila Jenganten menghendakinya. Atau, kita ini orang Dukuh Paruk. Kita yakin segala hal yang kita citakan harus diikhtiarkan dengan japa-mantra, dengan srana dan dengan upaya. Soal upaya sampean sendiri bisa melakukannya. Srana berupa susuk masih ada pada tubuh sampean. Tetapi soal japa-mantra, ah. Sampean tidak bisa meninggalkan Nyai Kartareja."
"Nyai!" kata Srintil cepat dan keras. "Jangan lagi bicara soal susuk dan pekasih. Susukmu pasti sudah luruh karena aku sudah melanggar larangan-laranganmu. Dan aku tidak ingin kawin lantaran mantra pekasih. Aku ingin kawin seperti semua orang kawin. Itu saja."
"Eh, lha. Misalkan memang demikian yang sampean kehendaki. Toh sampean tidak bisa
menyepelekan arti peran perantara. Eh, lha, aku ini sudah tua, Jenganten. Ketika sampean merasa sedang terkatung seperti sekarang, sampean pasti memerlukan seorang perantara. Nah, sekarang aku ingin sampean berkata kapan kiranya aku atau suamiku harus menemui Pak Bajus. Beliau akan kami ajak berbincang dengan bijak tentang kemungkinan perkawinan sampean berdua. Bagaimana?"
"Jangan, Nyai," kata Srintil lirih setelah lama terdiam. "Bagaimana juga aku harus sabar menunggu. Barangkali perhatian Mas Bajus sekarang ini sedang tercurah kepada
pekerjaannya. Barangkali. Atau entahlah. Yang jelas aku malu, Nyai."
Nyai Kartareja mengerti apa yang dimaksud oleh Srintil. Malu yang hampir selalu muncul ketika seorang bekas tahanan politik seperti Srintil hendak menampilkan perikeberadaannya. Dan malu sebab takut dikatakan sebagai bubu yang memanggil-manggil ikan.
Februari 1971 adalah mangsa kasanga dalam pranata mangsa yang dianut oleh orang Dukuh Paruk. Sepanjang hari, bahkan kadang juga pada waktu malam, udara terasa sangat, panas. Angin sering bertiup amat kencang merontokkan dedaunan, mematahkan pelepah pisang dan mematahkan batang bambu muda. Di sawah tanaman padi yang sedang berbunga melewati saat kritis. Penyerbukan bisa gagal karena angin yang terlalu kencang. Bila hujan turun curahnya jatuh dalam butiran-butiran besar.
Di Dukuh Paruk angin kencang menyapu pepohonan dan rumpun-rumpun bambu dengan suara mendesau. Batang pohon dan bambu bergesekan menciptakan derit yang
nyaring. Dahan dan ranting kering berjatuhan. Atap-atap ilalang tersingkap. Orang-orang mulai merasakan gatalnya miang bambu yang beterbangan bersama angin. Pukul empat sore angin mereda. Sementara anak-anak Dukuh Paruk bertebaran di pekarangan-pekarangan mencari kayu kering yang jatuh, Srintil bersama Nyai Kartareja siap berangkat ke Dawuan. Kemarin Bajus mengirim pesan bahwa Srintil
diminta menemaninya mengikuti rapat orang-orang proyek pembangunan pengairan di
sebuah tempat peristirahatan dekat kota Eling-eling. Maka Goder diminta jangan dibawa serta. Dan karena waktu yang mendesak Srintil ditunggu Bajus di Dawuan. Nyai Kartareja disuruh menemani Srintil sampai ke kota kecamatan itu.
Srintil berdandan setelah mengingat-ingat dengan saksama bagaimana istri Kapten
Mortir berkain kebaya, merias wajah, dan menata sangggul. Nyai Kartareja membantu.
Perempuan tua itu bukan hanya mengerti bagaimana menyanggul ronggeng. Dia tahu
pula tata cara perempuan priayi. Artinya, sanggul tidak boleh terlalu tinggi, tidak perlu pamer keindahan tengkuk. Perhiasan Srintil tinggal tidak seberapa. Tetapi subang ceplik-nya melekat indah pada lembut daun telinganya yang lebar.
Dulu Nyai Kartareja adalah induk semang Srintil. Dia mendapatkan uang dengan cara
menjual Srintil dalam arti mendekati sebenarnya. Segala kehendak didiktekannya
kepada Srintil dengan gaya seorang majikan kepada kacungnya. Sekarang sepenuhnya
terbalik. Ketika berjalan mengiringkan Srintil, Nyai Kartareja tidak bisa merasa lain kecuali sedang melaksanakan tugas seorang inang. Dia memang tetap mengharapkan uang dari Srintil tetapi tidak bisa menentukan sendiri apalagi memaksanya. Yang diharapkan sekadar belas kasih atau pengertian Srintil.
Dari jauh terlihat sebuah jip berhenti di jalan besar di ujung pematang. Srintil mempercepat langkah. Orang-orang yang berpapasan hanya disapa seperlunya. Dan kepolosan senyum orang-orang itu menandakan mereka bukan sekadar memahami ketergesaan Srintil. Nyai Kartareja benar ketika dia berkata bahwa semua orang Dukuh Paruk memandang dengan penuh harap hubungan antara Srintil dan Bajus. Di ujung pematang Srintil dijemput oleh tatapan mata dan senyum Bajus yang sudah berpakaian rapi. Yang ditatap hanya bisa tersipu.
"Apa Mas tidak malu membawaku ke tempat rapat?" kata Srintil lirih.
"Ah, dengar, Pak Bajus," sela Nyai Kartareja.
"Cucuku ini pantas dibawa ke mana saja.
Iya, kan?"
"Memang, Nyai. Kalau tidak, mengapa aku mau bersusah-susah. Apalagi rapat kali ini akan dihadiri orang-orang penting dari Jakarta."
"Eh, lha. Dengar, Jenganten. Sampean akan berhimpun dengan orang-orang penting. Di
Dukuh Paruk, bahkan di Dawuan hanya sampean yang memiliki keberuntungan seperti
ini."
Srintil tertunduk malu. Dan tetap tidak membuka mulut ketika naik ke dalam mobil
yang sudah dibukakan pintunya oleh Bajus. Mesin hidup dan mobil bergerak
meninggalkan Nyai Kartareja yang termangu seorang diri. "Oh kamu, Srintil. Kamu anak
Santayib yang mati termakan racun tempe bongkrek. Kamu cucu Sakarya. Siapa mengira akan demikian beruntung nasibmu, digandeng laki-laki yang punya mobil."
Di dalam mobil yang sedang melaju beberapa kali Bajus mencuri pandang ke samping. Ya. Semula Bajus bermaksud singgah ke rumah rias di kota Eling-eling untuk memoles Srintil. Kini secara pasti Bajus merasa tidak perlu melaksanakan niat semula. Srintil ternyata sudah pintar mematut dirinya. Bajus malah membalik pikiran. Daripada memoles Srintil dengan sentuhan rias gaya kota maka pastilah Srintil akan kehilangan daya pikatnya yang khas. Bunga sakura memang cantik, bunga tulip juga cantik. Orang-orang kota sudah mengerti. Sekarang mereka harus mengakui bahwa bunga lembayung pun mempunyai kecantikan tersendiri. Kecantikan yang tak ada referensinya pada wajah patung Venus atau Dewi Aphrodite, melainkan pada wajah Pradnya Paramita.
Episode 40
"Kita mampir sebentar ke rumah pondokanku," ujar Bajus menjelang masuk ke kota Eling-eling. "Ada mapku ketinggalan. Aku terlalu tergesa tadi."
Srintil tersenyum. Boleh juga. Aku ingin melihat rumah sewa Mas Bajus.
Bajus tinggal seorang diri dalam rumah gedung yang dikontraknya selama dua tahun. Tidak terlalu besar namun keadaannya membuktikan kemampuan keuangan si penyewa. Srintil duduk di ruang tamu sementara Bajus masuk ke dalam. Entahlah, Srintil merasakan keinginan yang kuat untuk membersihkan lantai yang mungkin sudah dua hari tidak terkena sapu. Dan pot-pot tanaman yang kering sehingga bunganya kelihatan layu. Angan-angan Srintil mengembang tak tertahan. Ya, kelak akan kubereskan semuanya. Mas Bajus akan melihat bukti bahwa bekas ronggeng atau bekas tahanan pun bisa menjadi istri yang baik, dan bisa lebih baik daripada perempuan bukan bekas ronggeng atau perempuan bukan bekas tahanan. Ya. Orang seperti Mas Bajus yang tidak mau berbuat sembrono sebelum ada ikatan perkawinan, yang membantu membuatkan rumah baru, yang sering membawaku bertamasya, dan yang
mengangkat martabatku di mata semua orang, pastilah laki-laki yang amat layak menerima pengabdianku sepenuh hati. Bahkan andaikata Mas Bajus bukan orang proyek dan tidak mempunyai sebuah mobil maka dia tetap berhak mendapat balas budi berupa kesetiaanku sepanjang hayat. Persoalannya sekarang, kapankah aku akan resmi menjadi istri Mas Bajus?
"Eh, melamun? Ayo berangkat," kata Bajus yang sudah beberapa saat lamanya menatap Srintil dari ambang pintu tengah tanpa disadari oleh yang bersangkutan.
Srintil tergagap, lalu bangkit dan berjalan mendahului Bajus. Dia merasa seakan tersentak mendadak dari alam mimpi yang amat mengesankan. Diremasnya kuat-kuat tali tas tangannya. Dikutuki dalam diam dirinya yang telah berangan tinggi.
"Rapat nanti mungkin baru berakhir lepas tengah malam. Sesudah itu ada pesta," kata
Bajus ketika baru mengeluarkan mobil dari halaman rumah. "Dalam rapat itu kukira tak ada perempuan yang hadir. Baru dalam pesta nanti kamu lihat, kamu bukan satu-satunya perempuan."
"Mereka istri para pejabat yang sedang rapat, Mas?"
"Ya dan bukan. Yang masih bujangan seperti saya ini mana mungkin membawa istri,
paling-paling calon istri atau pacar." Srintil tersenyum.
"Lalu pukul berapa kita mau pulang, Mas?"
"Tergantung. Mungkin saja menjelang pagi. Atau kita menginap saja. Kamu mau, kan?
Percayalah, aku tidak akan memasuki kamarmu."
"Ya, aku percaya. Tetapi kita pulang saja. Menjelang pagi pun jadilah."
"Kita lihat bagaimana nanti. Syukur bila semuanya selesai sebelum pagi."
Hanya diperlukan waktu seperempat jam dari kota Eling-eling ke daerah berhawa sejuk di kaki gunung di sebelah utaranya. Bajus membelokkan mobilnya ke halaman sebuah vila mungil yang ternyata kemudian sudah disewanya. Srintil diajaknya masuk. Di ruang istirahat penunggu vila sudah menyiapkan minuman-minuman serta buah-buahan. Srintil diberi tahu di mana dia bisa beristirahat, dan di mana letak kamar mandi. Bajus langsung kelihatan sibuk mengeluarkan map dan buku agenda. Sebuah pemutar pita kaset diambil dari kamar lain. Srintil diajari bagaimana
menghidupkannya. Majalah-majalah disodorkan dan Bajus lupa atau tidak mengerti
bahwa Srintil buta huruf.
"Selama aku mengikuti rapat di hotel seberang jalan itu kamu beristirahat dulu di sini. Bila memerlukan sesuatu panggil saja penunggu vila di kamar belakang."
"Berapa lama, Mas?"
"Pokoknya lama. Tetapi bila sedang beristirahat aku akan kemari. Dan setiap kali ada kesempatan aku akan menengokmu di sini."
Srintil berseri-seri dan tersenyum ketika mengantar Bajus sampai ke teras. Dipandangnya laki-laki yang mulai mengakar di hatinya dengan perasaan lembut yang menyapu hati. Bajus menyeberang jalan, membelok ke kiri kemudian masuk ke halaman sebuah hotel yang besar dan megah. Ada kain rentang terpampang di teras hotel itu, tetapi Srintil tidak mengerti tulisan apa di sana. Dan sosok Bajus menghilang di balik taman bunga di halaman hotel. Pukul tujuh malam Srintil melihat belasan mobil berdatangan. Hatinya mulai ragu dan bertanya apakah benar dirinya berkelayakan muncul di tengah orang-orang penting itu. Di dalam kamar Srintil mencari keyakinan diri pada cermin. Masih biasa seperti yang dilihatnya saban hari. Dia sering mendengar orang berkata dirinya cantik.
Seberapa cantik? Cantik menurut orang kampung apakah juga cantik menurut orang-
orang penting yang sedang menghadiri rapat itu? Kalau ya, tak mengapa. Tetapi kalau tidak, Srintil merasa hanya akan menjadi sasaran cemooh.
Keluar ke kamar istirahat Srintil duduk gelisah. Melihat banyak buah-buahan tetapi dia tidak ingin makan, tidak ingin minum. Ah, tetapi buah duku boleh juga. Srintil mengambilnya beberapa butir. Dilihatnya pesawat pemutar pita kaset dan Srintil tak bernafsu menghidupkannya. Dia belum pernah menyentuh benda semacam itu. Namun
diambilnya sebuah majalah dan dibuka-bukanya. Banyak gambar perempuan
terpampang. Dan Srintil mendapat gambaran umum tentang orang cantik. Lalu hatinya
berbisik, kalau cantik itu seperti perempuan yang tergambar dalam majalah itu, Srintil
merasa tidak perlu terlalu berkecil hati.
Di ruang rapat Bajus menyibukkan dirinya sejak sidang belum dimulai, ikut mengatur tempat duduk serta kelengkapan rapat yang lain. Dia memerlukan citra keakraban dengan para pejabat. Sebagai pemborong kelas dua Bajus sadar betul keakraban semacam itu amat perlu. Dalam rapat yang akan segera diselenggarakan Bajus sesungguhnya tidak mempunyai peran resmi apa pun. Namun selama dia tidak ingin ketinggalan dalam hal jatah pekerjaan, Bajus harus rajin datang pada rapat seperti itu.
Nanti Bajus tidak akan duduk di antara para peserta rapat. Kepentingannya adalah bertemu dengan seorang pemborong kelas satu, seorang laki-laki berahang persegi. Orang inilah yang akan terlibat dalam rapat dan Bajus akan meminta jatah pekerjaan borongan kepadanya. Bajus sudah lama mengenalnya, lama sekali. Maka Bajus sudah merasa setengah berhasil ketika melihat laki-laki yang ditunggunya turun dari mobil. Bajus berlari mendekat, menyapa dengan gaya merendah lalu meminta tas laki-laki itu untuk dibawakan.
"Baru tiba dari Jakarta, Pak?"
"Tidak. Aku datang siang tadi dan sudah beristirahat sebentar di Eling-eling. Sudah
banyak yang hadir?"
"Sudah. Bapak termasuk yang paling akhir."
"Kebetulan, karena aku jadi tidak menunggu-nunggu. Tetapi rapat belum dimulai, bukan?"
"Memang belum, Pak. Baru pukul tujuh lebih sedikit. Saya dengar rapat akan dibuka
pukul setengah delapan."
Episode 41
Bajus mengantarkan si Rahang Persegi sampai ke kursinya, bertanya ini-itu, lalu keluar ruangan dan terus melangkah ke halaman. Teringat olehnya Srintil tentu sudah lapar. Dipanggilnya tukang satai pikul yang mangkal dekat gerbang, disuruhnya ikut ke
seberang jalan. Srintil keluar dari kamar karena mendengar orang datang. Dijemputnya Bajus dengan senyum.
"Selesai, Mas?"
"Selesai? Baru saja hendak dimulai. Aku perlu keluar sebentar karena kamu tentu sudah lapar. Kita makan satai ayam. Sudah kupesan."
Bajus duduk dengan kepala terkulai pada sandaran. Jarinya mengetuk-ngetuk tangan-
tangan kursi, mukanya benderang.
"Nanti, mungkin ada temanku dari Jakarta yang akan datang kemari. Nanti bila rapat
sudah usai."
"Juga orang penting, Mas?"
"Ya. Kaya-raya dan orangnya baik. Kamu bisa membuktikannya sendiri nanti."
"Aku malu, Mas."
"Kamu tidak perlu malu. Sudah kukatakan orangnya baik. Kamu sudah sekian bulan
berkenalan dengan aku dan kini kamu tidak usah merasa malu kepada siapa pun."
"Siapa namanya, Mas?"
"Blengur. Pak Blengur. Mobilnya banyak tetapi kalau kemari sering naik pesawat terbang, turun di Semarang. Ah, satainya datang. Kita makan dulu."
Sementara Bajus makan dengan penuh nafsu Srintil malah kehilangan selera. Perutnya
yang lapar tidak menyebabkan dia bisa menikmati enaknya satai ayam bercampur
lontong yang masih hangat. Hatinya dipenuhi berbagai perasaan yang tidak menentu.
Kadang timbul rasa menyesal mengapa mau diajak Bajus ke tempat yang bersuasana
asing. Tetapi kadang justru merasa senang karena bersama Bajus Srintil merasa
menggenggam harapan. Dan Srintil bukan tidak menyadari betapa mahal harapan yang
sedang mengembang dalam hatinya terhadap Bajus. Mahal, sehingga Srintil tidak bisa lain kecuali memeliharanya dengan hati-hati.
"Kalau bukan karena Pak Blengur tak akan aku pernah beberapa kali naik pesawat terbang. Siapa tahu suatu saat nanti kita berdua diajaknya terbang lagi ke Jakarta. Kamu ingin sesekali naik kapal udara?"
Srintil tidak siap menjawab pertanyaan asing itu. Dia hanya mengangkat muka dan melihat Bajus yang sedang mengembalikan piring kepada tukang satai. Atau Bajus sendiri tidak bersungguh-sungguh. Buktinya dia tidak melanjutkan kata-katanya, bahkan pamit hendak kembali ke tempat rapat.
"Maafkan, kamu kutinggal dulu. Percayalah, aku akan segera datang bila rapat selesai."
Kembali seorang diri Srintil berusaha menyingkirkan pikiran yang macam-macam.
Segalanya disederhanakan menjadi niat membuat Bajus senang. Srintil tidak ingin
membuatnya kecewa dan ingin tampil sebaik-baiknya, baik di depan Pak Blengur atau
siapa saja. Sedapat mungkin akan dijauhkannya perasaan malu dan rendah diri.
Kemudian Srintil masuk kamar karena yakin kini dandanannya telah rusak.
Bajus duduk gelisah di ruang tamu yang paling dekat dengan pintu ruang rapat. Rencananya sudah bulat, secepatnya mendaulat Blengur begitu laki-laki berahang persegi itu keluar. Dia sangar khawatir terdahului oleh orang lain terutama laki-laki yang keluar-masuk kantor hotel. Koran di tangan sudah sekian kali dibuka namun tidak satu baris pun kalimat yang menarik perhatiannya. Kadang dibuka buku agendanya demi meyakinkan usulan yang akan diajukan kepada Blengur masih terselip di sana. Seorang perempuan setengah baya yang sangat ramah mendekat, berbicara macam-
macam sebelum mengutarakan maksud yang sebenarnya; apakah Bajus mengharapkan jasa seorang gadis panggilan. Mula-mula Bajus menolak dengan halus. Namun ketika
perempuan ramaja ini bertahan dengan keuletannya Bajus menyuruhnya menjauh
dengan segera.
Ternyata rapat hanya berlangsung tidak sampai dua jam. Bajus berdiri dan melongok
ke dalam. Dilihatnya Blengur sedang berbincang sambil berdiri dengan seorang pejabat penting yang berkantor di Eling-eling. Tidak sabar, Bajus masuk. Dengan kesopanan
seorang kacung diambilnya tas dari tangan Blengur, lalu berdiri menunggu. Keduanya
kemudian keluar.
"Kok mereka pulang, Pak?" tanya Bajus ketika melihat banyak mobil keluar meninggalkan hotel. "Sudah tak ada acara lagi?"
"Tidak ada. Bupati tidak menghendaki ada pesta. Wah, kebetulan. Aku pun tak menghendaki pesta. Aku hanya ingin beristirahat."
"Kita bisa ngomong-ngomong sebentar di sini, Pak?"
"Soal apa?"
"Biasa, Pak. Kepada siapa lagi kalau bukan kepada Bapak saya minta pekerjaan."
"Ah, ya. Tetapi, jus, kali ini payah. Dalam rapat tadi diputuskan aku hanya mendapat borongan bernilai seratus juta; membangun kantor pendirian pertanian dengan perumahan pegawainya, serta tujuh jembatan jalan kampung yang terputus oleh saluran irigasi."
"Tanpa tender, Pak?"
"Kamu jangan sok tahu. Tendernya ya dalam rapat tadi. Tender dengan cara kekeluargaan, cara gotong-royong. Begitulah."
"Maaf, Pak. Kalau Bapak masih percaya saya mohon pekerjaan itu Bapak serahkan kepada saya."
"Kamu memang begitu."
"Soalnya Bapak tak pantas menangani sendiri proyek sekecil ini. Itu ukuran untuk saya, Pak."
"Ya. Baiklah. Keuntungan resmi sebesar sepuluh persen kita bagi dua. Dan kamu bisa
atur agar orang-orang daerah ikut makan, tetapi tanpa mengurangi jatah kamu. Ingat,
orang-orang di daerah itu penting."
"Saya mengerti, Pak."
"Nah!"
"Lalu Bapak hendak beristirahat di mana malam ini?"
Blengur menatap Bajus demikian rupa sehingga terjadi komunikasi yang hanya mereka berdua mengerti.
"Kamu sudah minta pekerjaan dan akan mendapat uang lima juta. Sekarang kamu
malah bertanya di mana aku akan beristirahat. Dasar tidak tahu diri kamu ini. Mestinya
aku yang bertanya begitu kepadamu!"
"Anu, maaf, Pak," kata Bajus sambil sibuk membuka-buka buku agendanya.
"Nah, ini, Pak. Bagaimana?"
Blengur memperhatikan dua buah foto yang baru diserahkan kepadanya oleh Bajus.
Kepalanya miring ke kiri dan ke kanan seakan lupa benda yang dipegangnya hanya
berdimensi dua. Perempuan dalam foto itu langsung menjebaknya dengan kesan yang
kuat. Tetapi Blengur belum juga tahu dengan pasti di manakah sisi yang paling mengesankan hatinya. Kecantikannya tidak menonjol, tidak juga biasa. Karena
terkesan sisa kecantikan zaman bahari, kecantikan yang diam seperti cantiknya bunga-
bunga liar yang tak pernah mengerti dirinya cantik.
Bersambung...
______________________________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar