"KEAJAIBAN ITU DATANG PAGI-PAGI"
“Kaifa arabiyatuka ya akhi. Khalas lancar?”
“Aadi faqad. Sedikit-sedikit, astathi.”
Itulah broken Arabic yang sering muncul di antara anak tahun pertama. Kami saling bertanya bagaimana kemampuan bahasa Arab. Dengan seadanya, kami jawab, ya sudah sedikit-sedikit. Walau belum menguasai grammar dengan tepat, kami berusaha menggunakan kosakata Arab.
Tantangan terbesar buat para murid PM tahun pertama adalah bagaimana caranya mengubah diri agar bisa menguasai bahasa resmi di PM, Arab dan Inggris, secepatnya. Mampu memakainya sebagai bahasa pergaulan 24 jam, tanpa ada bahasa Indonesia sepotong pun.
Untuk membantu menumbuhkan refleks bahasa itu, kami dibombardir dengan kosakata baru. Setiap selesai shalat Subuh, seorang kakak penggerak bahasa masuk ke setiap
kamar dan berdiri di depan, tepat di sebelah imam shalat kami tadi. Di tangannya ada papan tulis kecil. Tapi kami tidak tahu
apa yang tertulis di sana, karena dihadapkan ke arah dia. Lalu dia akan meneriakkan sebuah kata baru beberapa kali dengan lantang dan jelas. Kami diminta mengulangi bersama-sama, dan sepersatu, juga dengan lantang. Setelah semua orang merasakan bagaimana melafalkan kata baru ini dengan baik dia memberikan contoh kata ini di dalam kalimat sempurna. Tanpa pertolongan bahasa Indonesia, dia menerangkan apa arti kata ini. Lalu giliran kami untuk mencoba membuat
kalimat dengan menggunakan kosakata ini.
Sebelum ditutup, kami kembali disuruh meneriakkan kata ini bersama dengan kuat. Setelah di-drill meneriakkan, meletakkan dalam kalimat, kakak ini untuk pertama kali membalik papan tulis kecilnya dan memperlihatkan kepada kami bagaimana tulisan dan salah satu contohnya dalam kalimat. Papan tulis kecil itu akan ditinggalkan di kamar sampai pagi berikutnya. Tugas kami selanjutnya adalah
menyalin kosa kata baru ini dan membuat 3 contoh penggunaannya kalimat.
Bayangkan, ini benar-benar proses belajar yang menggunakan semua indera. Meneriakkan kosa kata baru di subuh buta, memaksakan diri untuk memahami dan
memasukkan ke kalimat, lalu melihat tulisannya dan terakhir mengikat ilmu baru ini ke dalam memori terdalam kami dengan menuliskannya. lakukan setiap hari, 7 kali seminggu. Sebuah metode sederhana yang sangat kuat dan mampu melekatkan bahasa baru ke dalam alam bawah sadar untuk
tidak lepas lagi selamanya.
Sementara 2 kali seminggu, setiap selesai Subuh dalam suasana temaram, terang-terang tanah, kami membuat dua barisan panjang di lapangan, dan diharuskan melakukan
percakapan ngan teman di depan kami menggunakan suara sekeras-kerasnya sampai serak. Kembali para kakak penggerak bahasa in action. Mereka akan mondar-mandir, mendengarkan, mengoreksi, memberi kalimat yang baik.
Bagi yang menolak ikut ke dalam suasana belajar yang spartan ini, mereka akan melawan arus deras. Bagi yang tidak berusaha dan seenaknya masih berbahasa Indonesia setelah beberapa bulan, maka artinya mereka telah melamar jadi jasus bahasa. Konsep jasus yang bergentayangan di mana-mana sangat efektif untuk menjaga kesadaran setiap orang
untuk selalu ber-bahasa resmi.
Bagai sebuah konspirasi besar untuk mencuci otak, metode totol immenion bahasa ini cocok dengan lingkungan yang sangat mendukung. Apa yang kami dengar, kami lihat, kami tulis dan kami rasakan, semua dalam bahasa resmi, Arab dan Inggris. Mulai dari public announcement di masjid, berita radio yang selalu memutar BBC, VOA dan radio Timur Tengah, papan peng-umuman, bahkan sampai komunikasi dengan mbok-mbok yang mengurusi nasi di dapur. Para mbok yang
sudah separo baya ini telah dikursuskan sehingga kalau memberi sepiring nasi kepada kami bukannya bilang “monggo” tapi akan bilang “tafadhal ya bunayya”, walau dengan aksen jawa timuran yang medok.
Tidak cukup dengan itu, entah siapa yang menyuruh, banyak di antara kami ke mana-mana membawa kamus. Kalau bukan kamus cetak, kami pasti membawa buku mufradhat,
buku tulis biasa yang dipotong kecil sehingga lebih tipis dan gampang dibawa ke mana-mana karena tinggal diselipkan di kantong celana atau baju. Murid dengan buku mufradhat di
tangan gampang ditemukan sedang antri mandi, antri makan, berjalan, bahkan di antara kegiatan olahraga sekalipun. Kami sedang gila memperkaya kosa kata.
Lambat laun, dengan cara ini, kami mulai bisa berbicara Arab dan Inggris sepotong-sepotong. Tapi di saat yang sama kami juga agak frustrasi. Sudah habis-habisan belajar, tapi
rasanya hasilnya masih belum maksimal. Kami masih terbata-bata atmt gado-gado, separuh Arab separuh Indonesia. Bahkan khusus buat Atang, dia mencampurnya dengan potongan bahasa Sunda. Tidak gampang menyambungkan apa yang dibaca dan diucapkan.
Rasanya mudah frustrasi kalau kami tidak selalu mendapatkan encouragement dari guru, teman, dan kakak kelas. Mereka pendukung fanatik setiap orang yang ingin belajar dan mempraktikan kemampuan bahasa. Kami
diajarkan untuk berani mencoba dan tidak takut salah. Kalau salah, kami tidak ditertawakan sama sekali. Tapi malah
ditunjuki dan dibenarkan. Semua dibuat berkonspirasi untuk membuat kami mempraktekkan bahasa Arab dan Inggris
dengan nyaman.
**MB**
Sampai pada suatu Jumat, jam 4 subuh. Seperti biasa, bagi yang sulit bangun, Kak Is akan menggelitikkan ujung bulu-bulu sajadahnya ke hidung kami. Geli membuat kami bangun atau bersin. Biasanya, aku dalam proses mengumpulkan kesadaran dan nyawa, akan mengulet dan menguap lagi.,
Tapi pagi ini lain. Memang aku masih mengulet dan menepis-nepis bulu-bulu sajadah di depan hidungku, tapi yang keluar secara otomatis ucapan: “Maathtu an’as kak, ayyatu saa’atin haaza?” Ini kalimat Arab yang sempurna yang berarti, “masih ngantuk banget, jam berapa sih?”
Ajaib! Dalam posisi setengah sadar, aku bisa menggunakan kalimat lengkap berbahasa Arab. Bahkan samar-samar aku ingat, mimpi semalam pun campuran bahasa Arab dan bahasa Inggris. Inikah tanda-tanda sebagian kepalaku sudah berpikir dalam bahasa Arab? Aku benar-benar takjub.
Pagi itu, aku tidak henti-henti berbicara kepada kawan-kawanku—tidak peduli mereka menanggapi atau tidak, kepada lemariku, kepada kopiah hitam Sjarbaini, kepada piring,
kepada pohon, kepada sandal, kepada apa yang ada di depanku, dalam bahasa Arab. Kalau aku ada di komik, maka semua bubble kataku pasti bertuliskan Arab.
Sejak hari itu, aku merasa semakin fasih mengungkapkan diri dengan Arab, tidak lagi bercampur-campur bahasa Indonesia. Tidak sia-sia aku memaksakan diri dan berpura-
pura bisa berbahasa Arab. Rasanya luar biasa dan kepalaku berdendang-den-dang. Mungkin ini salah satu keajaiban yang paling penting dalam hidupku di PM selama ini.Alhamdulillah
ya rabbi.
Ternyata kawan-kawanku anak baru lainnya juga lambat laun merasakan perubahan yang sama. Aku perhatikan hampir semua anggota asrama Al-Barq telah berceloteh dengan bahasa Arab. Dulu aku pernah menyangsikan Kiai Rais yang mengatakan dalam beberapa bulan saja kami bisa bercakap dengan bahasa asing. Aku tidak sangsi lagi.
Suara Kiai Rais yang penuh semangat terngiang-ngiang di telingaku: “Pasang niat kuat, berusaha keras dan berdoa
khusyuk, lambat laun, apa yang kalian perjuangkan akan berhasil. Ini sunnattullah-hukum Tuhan.”
Bersambung....
______________________________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar