"PENDEKAR PEMBELA SAPI"
”Yang terpilih malam ini adalah kamar sembilan!” seru Kak Is. Kami sukacita menyambut pengumuman ini. Beberapa
orang bahkan bertepuk tangan girang.
Akhirnya, apa yang kami nanti-nantikan setengah tahun ini jadi kenyataan juga. Malam ini untuk pertama kalinya kami sekamar mendapat penugasan menjadi bulis lail atau pasukan ronda malam. Inilah kesempatan yang dinantikan semua murid baru dan juga murid yang lebih senior.
Kasur segera kami gelar dan lampu kamar dipudurkan. Sebagai bulis lail, kami dapat keringanan untuk tidur lebih awal jam tujuh malam. Ketika semua orang masih belajar dan
tidak boleh masuk kamar, kami malah diwajibkan tidur untuk persiapan begadang. Setelah tidur 3 jam, Kak Is membangunkan kami untuk memulai tugas mulia ini.
“Qum ya akhi. Ayo bangun. Waktunya bertugas. Cepat berkumpul di kantor keamanan pusat untuk untuk briefing dan pembagian lokasi kalian,” katanya di depan kami yang masih
menguap dan mengucek-ngucek mata.
PM Madani berdiri di atas kawasan belasan hektar di daerah terpencil di pedalaman Ponorogo. Pondok dan dunia luar hanya dibatasi pohon-pohon rindang dan pohon kelapa yang julang-menjulang, yang berfungsi sebagai pagar alami sekolah kami. Sementara di dalam PM, banyak sekali barang berharga
mulai dari komputer sampai ternak sapi pedaging dan sapi perah kepunyaan PM.
Bagaimana agar sekolah kami aman dari pencuri di malam hari? Kiai Rais mengembangkan solusi praktis: bulis lail. Ronda dari jam 10 malam sampai subuh ini melibatkan sekitar seratus murid setiap malamnya untuk menjaga keamanan PM. Tidak seperti ronda malam di kampungku yang harus keliling, di PM, sepasang peronda ditempatkan di puluhan sudut sekolah yang dianggap rawan untuk ditembus oleh pencuri
atau orang yang bermaksud jahat lainnya.
Di kantor Keamanan Pusat yang sempit ini kami duduk ber-desakkan di lantai. Beberapa orang kembali meneruskan tidur yang terganggu sambil duduk. Tapi begitu melihat Tyson yang membagi penugasan, rasa kantuk kami langsung menguap. Aku mengguncang-guncang Atang yang tertidur duduk dengan
gugup sambil membisikkan ke kupingnya, “Tyson”. Tidak ampun lagi, leher layu Atang jadi tegak dan mata yang 5 watt menjadi 100 watt. Mengerjap-ngerjap.
Dengan gaya otoritatif dan suara tegas seperti perwira brimob, Tyson mengingatkan bahwa malam ini keamanan PM ada di bahu kita, karena itu tidak seorang pun boleh tidur sepiring pun. Bagi yang tidur akan dipastikan masuk mahkamah keamanan pusat.
“Adik-adik, malam ini kalian harus lebih waspada. Menurut laporan kepolisian, sekarang musim pencurian. Dan pencurinya bersenjata,” kata Tyson lantang. Wajah kami
menjadi tegang.
“Kampung sebelah kita sudah beberapa kali kecurian mulai dari motor sampai sapi. Dan seminggu yang lalu beberapa sapi pondok hilang dari kandang yang terletak di pinggir sungai. Melihat kami memasang wajah jeri, Tyson mencoba menghibur. “Tapi jangan takut, kami sudah menyiapkan pasukan patroli khusus dari ustad dan murid Silat Tapak Madani. Mereka akan berkeliling dari satu pos ke pos lain. Tugas kalian adalah menjaga pos masing-masing. Kalau ada apa-apa, beri isyarat dengan peluit. Siapa yang mendengar peluit harus meniup peluitnya sendiri, sehingga nanti menjadi pesan berantai buat semua orang,” katanya lugas sambil
membagikan peluit berwarna merah kepada setiap orang.
Said, yang merupakan tim inti Tapak Madani memang sudah beberapa hari ini sibuk dengan latihan khusus. Bahkan malam ini pun dia tidak ikut bersama kami di pos, karena dia bagian dari pasukan patroli khusus tadi.
Briefing selesai. Aku dan Dulmajid mendapat pos di pinggir Sungai Bambu, di pojok terujung PM. Begitu bubar dari briefing, kami menyerbu kantin untuk mempersiapkan perbekalan untuk menemani ronda malam ini. Atang yang baru menerima wesel memborong aneka makanan, mulai dari kacang sukro, mie instant, minuman energi, roti, sampai kerupuk. Sayang, aku tidak berpasangan dengan Atang. Aku yang selalu punya wesel mepet merasa cukup dengan
setangkup roti mentega saja. Dulmajid yang mungkin lebih parah situasi ekonominya, cukup senang dengan 2 buah plastik kecil kacang telur. Aku tidak lupa membawa gelas
kosong untuk jatah kopi dan air panas yang akan diantar oleh dua petugas.
Untunglah aku tidak kebagian tugas sebagai petugas air. Kedua orang ini harus memasak air panas dan menyeduh kopi di sebuah tong besar. Tong besar ini kemudian ditaruh di atas
gerobak kayu yang didorong berkeliling ke setiap pos jaga malam. Bayangkan tugas beratnya, ketika seisi PM tidur nyenyak, dua orang malang yang terpilih ini harus mendorong gerobak yang berat ke 50 pos di kawasan seluas lima belas hektar.
Tepat jam 10 malam, aku dan Dulmajid sampai di lokasi kami, sebuah tempat gelap di ujung barat PM.
Sesuai namanya, Sungai Bambu dikawal oleh rumpun bambu yang menyeruak ke sana-sini. Lokasinya jauh dari keramaian PM, pohon bambunya rapat dan besar-besar. Menurut cerita dari mulut ke mulut, sungai ini terkenal angker. Dulu katanya tempat pembuangan korban PKI. Ingat cerita itu, aku melihat ke sekeliling pos dengan takut-takut. Aku merasa sejurus angin dingin berhembus dan menggetar-getarkan pucuk-pucuk bambu. Memperdengarkan gesekan daun yang menyerupai rintihan risau dan resah. Dalam
imajinasiku, inilah rintihan para korban PKI puluhan tahun silam. Bulu romaku serempak tegak.
“Dul, kenapa bunyi bambunya seperti itu?” tanyaku kepada Dulmajid, untuk memecah sepi. Tidak berjawab. Dia mengangkat satu tangan memintaku jangan mengganggu.
Dulmajid, si anak Madura yang tidak pernah
memperlihatkan rasa takutnya, kali ini tampak serius. Matanya menatap Al-Quran kecilnya. Dia mungkin mengadakan perlawanan atas ketakutan ini dengan membaca Ayat Kursi dan Surat Yasin dari kitab Quran kecilnya, lamat-lamat.
Pos penjagaan kami adalah dua kursi dan sebuah meja kayu. Sebuah bola lampu yang redup-terang seperti kunang-kunang raksasa tergantung di sebuah tiang bambu di sebelah
meja. Menurut instruksi Tyson, kursi dan meja kami harus dihadapkan ke sungai untuk memantau daerah ini. Sungai ini tenang dan kelam. Bunyi alirannya halus seperti dengkuran kucing.
Belum lagi hatiku tenang, aku ingat rumor lain yang pernah diceritakan teman lain. Dari kegelapan sungai inilah kerap bahaya kriminal mengintai. Inilah salah satu jalur bagi para
pencuri untuk masuk ke PM. Biasanya para pencuri ini pelan-pelan menyeberangi Sungai Bambu yang dangkal, kira-kira tingginya sepinggang orang dewasa. Lalu mereka
membongkar paksa kelas-kelas, mengambil bangku dan meja kayu dan kembali menyeberang sungai sambil menjunjung
tinggi-tinggi hasil jarahannya.
Barulah setelah menamatkan surat Yasin, mengecup Quran, dan meletakkan ke dadanya sebelum diletakkan dengan takzim di meja, Dul mau aku ajak ngobrol.
“Oke kawan, aku siap melawan dedemit Sungai Bambu sekarang,” katanya penuh dengan percaya diri.
Inilah momen yang menyenangkan dalam pengalaman bulis lail. Bisa bicara ngalor ngidul, semalam suntuk, tidak ada jadwal lonceng yang mengganggu, dan satu lagi, tidak perlu takut dicatat jasus kalau memakai bahasa Indonesia. Besoknya bisa pula tidur sampai siang. Dulmajid yang 3 tahun lebih tua dariku berkisah tentang kenangannya di SMA yang menyenangkan. Tapi dia selalu merasa beruntung bisa masuk PM karena merasa banyak belajar ilmu dunia dan akhirat.
Profesi bapaknya petani garam di Sumenep. Dengan pendapatan orangtua yang tidak besar, mengirim Dulmajid sampai SMA dan sekarang ke PM adalah sebuah perjuangan. Dulmajid
bertekad untuk belajar keras, kalau bisa juga meningkatkan taraf hidup keluarganya yang telah beberapa generasi menjadi petani garam.
“Nasib kami para petani garam masih tetap asin, belum manis. Penghasilan kami naik turun tergantung harga garam nasional. Ekonomi kami lemah dan pendidikan kurang baik,” katanya menerawang, mengingat dulu dia ikut membantu orang-tuanya bertani garam. Padahal untuk membuat garam perlu banyak tenaga.
“Sebelum diisi air laut, tambak garam harus kering dan tanahnya padat. Ini saja butuh waktu minimal 10 hari, tergantung teriknya matahari. Setelah seminggu kami baru
bisa memanen garam di tambak yang telah mengering. Sebuah kehidupan yang berat,” katanya.
Nanti, setamat di PM, dia ingin pulang kampung, memerdekakan kampungnya dari keterbelakangan dengan membangun sekolah. Untuk menambah nafkah, dia ingin menjadi guru di berbagai sekolah agama yang butuh seorang lulusan pondok.
Satu jam pertama kami menggebu-gebu bercerita, dipenuhi ke-tawa khas Dul yang selalu berderai. Semua makanan perbekalan kami tamat dengan cepat. Roti tangkup, dua
plastik kecil kacang sukro, dan sebungkus mie yang kami bagi rata berdua. Makanan habis, kantuk mengancam.
Aku bercerita tentang permainya kampungku di pinggir Danau Maninjau, sebuah danau dari kawah gunung api purba yang maha besar. Aku telah menggebu-gebu, tapi tidak ada reaksi dari sebelahku. Aku lirik, Dul sedang berjuang melawan jajahan kantuknya yang keji. Kepalanya pelan-pelan jatuh ke dadanya, lalu diangkat lagi dan jatuh lagi dan diangkat lagi.
Matanya terpejam di balik kacamata tebalnya.
”Qum ya akhi, kok sudah tidur, belum habis ceritaku,” aku goyang-goyang bahunya.
Dia menggeleng-geleng untuk meraih kembali
kesadarannya.
Giliran dia bercerita tentang karapan sapi, aku merasa makin lama suaranya makin halus dan sayup dan hilang sama sekali. Sampai tiba-tiba aku terbangun mendengar bunyi berisik dari rumpun bambu di depanku. Dua ekor tikus besar mencericit berlari melintasi bawah meja kami.
Untunglah lomba mengantuk kami dilerai dengan kedatangan petugas kopi. Ali dan Sabrun, dua kawan sekamarku mendorong gerobak besar berisi kopi dengan susah payah ke arah kami.
“Hoi, la tan’as daiman, ini kopi datang!” kata Ali melihat kami yang berwajah tidur. Sabrun menuangkan cairan hitam ke gelas kami dengan gayung plastik.
Ransum kopi panas mengepul-ngepul ini cukup manjur. Setelah beberapa hirup, kantuk berkurang dan kami kembali mengobrol seru tentang cita-cita masa depan. Aku ingin menjadi Habibie atau wartawan, dan Dul ingin menjadi dosen. Aku ingin kuliah di Bandung, Dul ingin ke Surabaya, supaya
dekat ke Madura, katanya.
Waktu terus bergulir. Sekitar jam dua pagi, aku
menghabiskan tegukan terakhir kopi yang tersisa. Dan perlahan tapi pasti, kantuk datang lagi.
Takut tertangkap basah oleh Tyson yang sering terus melakukan razia, kami membuat
pakta untuk tidur bergantian setiap 30 menit. Seingatku, pakta ini hanya berjalan satu putaran, dan setelah itu aku tidak ingat ada giliran lagi. Kami berdua benar-benar terjerumus dalam tidur yang pulas.
Sekonyong-konyong, butir-butir dingin dan basah menerpa mukaku berulang-ulang. Aku gelagapan dan memaksa mengungkit kelopak mata yang terasa seberat batu. Pandanganku kabur dan rasanya masih melayang-layang.
Samar-samar sebuah telapak tangan yang kukuh mendekat ke mukaku. Jari-jarinya tiba-tiba menjentik. Aku tergeragap. Dan mukaku sekali lagi basah oleh air.
“Qiyaman ya akhi” yang punya tangan itu menggeram. Geraman yang kukenal. Geraman Tyson. Ya Tuhan. Tangan kirinya memegang botol air yang digunakan untuk membasahi mukaku. Melihat aku bangun, sekarang dia menjentikkan air ke muka Dul yang segera mencelat dan terjengkang dari
kursinya karena kaget.
Tangannya bergerak cepat memilin kuping kami. “Amanah menjaga PM kalian sia-siakan. Sampai ketemu di mahkamah besok!” katanya dengan desis murka sambil berlalu dengan
sepeda hitamnya ke dalam gelap malam. Ah, alamat aku menjadi jasus lagi. Kantukku tiba-tiba punah.
Satu jam lagi azan Subuh akan berkumandang dan selesailah tugas kami. Tugas yang tidak kami lakukan dengan baik. Menurut Tyson, satu jam terakhir ini adalah masa kritis.
Biasanya kondisi mengantuk, capek dan merasa sebentar lagi selesai sehingga lengah. Padahal di masa satu jam ini sering terjadi pencurian. Para pencuri datang berkelompok dan bersenjata tajam.
Situasi inilah yang membuat Said beberapa hari ini sibuk dengan latihan dan rapat koordinasi. Dia termasuk tim elit Tapak Madani untuk pengamanan yang dipimpin Ustad Khaidir, mantan atlet silat nasional. Ustad yang berasal dari Lintau, Sumatera Barat ini berperawakan sedang tapi liat. Kalau berjalan seperti kucing, ringan dan lincah. Konon dia
menguasai berbagai ilmu beladiri klasik dan modern. Mulai dari silek tuo yang sudah langka di Minang, silat Lintau, sampai kung fu dan tentunya silat Tapak Madani. Dialah idola Said
setelah Arnold Schwarzenegger.
Aku sedang berdiri meregangkan badanku yang kesemutan ketika tiba-tiba dari arah hulu sungai kami mendengar suara orang berteriak-teriak dan bunyi kaki berlari mendekat ke arah
kami. Tapi sungai benar-benar gulita, kami tidak melihat apa-apa yang terjadi. Lampu kecil ini hanya menerangi beberapa meter ke depan. Aku dan Dul saling berpandangan dan bersiaga. Apakah ini pencuri? Kapan kami harus meniup peluit Lalu bunyi lengkingan peluit bersahutan merobek gulita. Kami segera membalas, meniup peluit kami kencang-kencang. Tidak salah lagi, PM sudah dimasuki pencuri!
Derap kaki yang heboh tadi kini berhenti. Sekarang yang terdengar adalah bak-buk-bak!
Lalu terdengar teriakan, “awas! satu orang lari, kejar!!!”
Aku tegang. Derap kaki terdengar makin mendekat ke arah pos kami. Tidak tahu apa yang harus dilakukan, secara refleks kami berdua mengangkat kursi masing-masing, siap menggunakannya sebagai senjata kalau ada serangan.
Dan gerombolan semak di dekat akar bambu tiba-tiba tersibak. Sebuah bayangan hitam melompat cepat, langsung menuju ke arah kami. Dengan gugup aku memicingkan mata,
membaca zikir, sambil menyorongkan kaki kursi ke arah depan. Aku lihat Dul juga melakukan hal yang sama.
Krak… duk… bruk… Ahhh! Kursi yang aku pegang bergetar seperti dihantam karung goni dan terpental ke samping. Aku membuka mata takut-takut. Sosok hitam yang besar tadi
terjengkang dan mengerang kesakitan sambil memegang kakinya, tepat di depan kami berdua, di atas onggokan daun bambu kering. Bajunya hitam, tutup kepalanya hitam. Dengan
refleks tanganku kembali meraih kursi, siap-siap dengan semua kemungkinan.
Kaki kursi yang kami sorongkan dengan asal-asalan ke depan rupanya menggaet kaki si hitam ini dan membuatnya tersungkur. Tapi sosok hitam-hitam ini tidak menyerah. Dia
bangkit berdiri, memperlihatkan badannya yang tinggi besar. Kresak… kresek… daun-daun kering dilindas telapak kakinya yang bergeser ke kanan dan kiri. Tiba-tiba, dengan gerakan
cepat, tangannya merogoh pinggangnya. Sebuah benda mengkilat diangkatnya setinggi dada. Memantulkan sinar lampu. Sebuah parang berkilat-kilat
Aku dan Dul serentak surut. Darahku berdesir. Kami ciut. Jelas kami kalah besar dan tidak punya senjata sepadan melawan parang ini. Sementara lengkingan peluit terus bersahut-sahutan dari kejauhan. Seisi PM sudah tahu ada pencuri. Aku berharap bantuan segera datang. Sadar nasibnya tersudut, si hitam gelagapan dan mengambil ancang-ancang
lari sambil mengayunkan parangnya ke depan. Mengarah kepadaku. Ayunan pertama ini melibas kaki kursi kayu dan mementalkannya dari tanganku. Parangnya kembali terangkat,
siap melancarkan ayunan kedua.
Tiba-tiba, semak kembali terkuak. Bagai kijang, lima orang berlompatan dengan lincah dan mengurung sosok hitam tadi. Tiga di antaranya aku kenal: Tyson, Said dan Ustad Khaidir.
Mereka menenteng tongkat, ruyung, dan tali. Tim elit Tapak Madani!
“CEPAT MENYERAH!!! Kau sudah kami kepung!” hardik Ustad Khaidir. Tangannya mengibas ke arahku, menyuruh menjauh.
Sosok hitam ini membisu dan tidak melihatkan tanda-tanda menyerah. Posisi kuda-kudanya merendah dan dia mengedarkan pandangan liar kepada pengepungnya. Lalu tiba-tiba kakinya melenting seperti per, badannya mencelat dan menyabetkan parang ke depan. Langsung menuju ulu hati Ustad Khaidir. Sebuah gerakan yang salah besar.
Dengan kecepatan yang sulit aku ikuti, aku melihat, tangan dan kaki Ustad Khaidir berkelebat ringan dan pendek-pendek. Tahu-tahu, kakinya menghajar lutut dan tangannya menetak per-gelangan tangan si hitam. Detik selanjutnya, aku melihat sosok hitam ambruk di tanah berdebum dan mengerang kesakitan. Parangnya telah berpindah tangan ke Ustad Khaidir yang berdiri kembali dalam posisi sempurna, posisi awal silek tuo. Posisi alif.
Dengan langkah cepat, Tyson mendatangi kami setelah si hitam diringkus.
“Syukran ya akhi, telah menahan dia untuk lari. Kalian bebas dari mahkamah, kesalahan tidur dimaafkan,” katanya. Kali ini dengan nada bersahabat. Dia mengulurkan tangan. Mungkin untuk menghargai usaha kami. Aku jabat dengan ragu-ragu. Cincin kuningannya terasa dingin di telapakku.
Di malam yang menegangkan ini dua orang pencuri berhasil diringkus. Mereka ditemukan membuka paksa pintu kandang sapi. Tim elit berhasil melumpuhkan yang satu di dekat
kandang, dan yang satu lagi di depan mataku sendiri. Kedua lututku masih gemetar ketika melihat kedua orang digelandang ke arah PM untuk diserahkan ke polisi. Gemetar tapi juga senang. Senang karena bisa ikut menangkap pencuri dan lebih senang lagi lepas dari kewajiban jadi jasus.
Bersambung...
______________________________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar