Senin, 08 Maret 2021

NEGERI 5 MENARA BAGIAN 9

"SARUNG DAN KURBAN"



“Akhi, lima menit lagi kamar harus kosong, waktunya ke Masjid.” seru Kak Is. 

Pintu kayu kamar kami bergetar getar digedornya. Kami semua tergopoh-gopoh, tidak ada yang berani berleha-leha. Tyson dan pasukan “The magnificent Seven” -nya pasti telah berjaga-jaga, Aku segera menarik sarung dari lemari. Seperti yang telah diajarkan Kak ls, dengan cepat aku langkahkan kaki ke tengah bulatan sarung, dan aku angkat ujung sarung 
Setinggi dada. Bagian yang bergaris-garis lebih gelap aku atur supaya berada di bagian belakang badan. Bagian atas dilipat sedikit ke dalam untuk menyesuaikan dengan tinggi badan. .Wt… wrt.. hap . Sambil melentingkan badan sedikit ke belakang aku ayunkan kedua tangan bergantian dengan cepat untuk melipat ujung sarung, pas di depan dada. Beberapa saat aku gunakan untuk memadatkan lipatannya dan memastikan ujung bawah rapi rata kiri kanan dan ujung baju masuk ke dalam sarung. 

Begitu semua terasa pas, mulai aku gulung ujung sarung dari atas sampai setinggi pusar. Sejenak, aku cek lagi kalau semuanya telah rapi dan licin, tidak ada gombak dan kusut. 
Prosesi ini aku rutup dengan melingkarkan ikat pinggang di atas gulungan tadi. Rapi jali. Ujungnya simetris, kuat, tidak ada riak dan lembang yang berarti. Benar-benar sarung yang gagah.

Semua kulakukan dalam hitungi detik. Dengan teknik ini, sarung menempel dibadan seperti dilem. Diajak lari dan ditarik-tarikpun, sarung akan tetap utuh dan kokoh. 

Seandainya ada lomba memakai sarung, aku yakin pasti menjadi juara dunia. 

Waktu berangkat ke PM, Amak memuat empat sarung ke tasku. Beliau percaya anak pondok identik dengan sarung. Tapi ternyata empat sarung yang Amak masukan ke tas itu tidak terpakai sesering yang aku dan Amak bayangkan Pada kenyataannya sarung dipakai selama beberapa jam saja, ketika shalat berjamaah. Sisanya harus bercelana panjang 
atau bercelana olahraga. Bahkan ada jam larang pakai sarung, yaitu selama jam tidur. Tidur harus bercelana panjang. 

Belakangan aku menyadari bahwa sarung sangat multi fungsi. Di waktu malam, menjadi penambah selimut di atas celana panjang, bisa menjadi karung pakaian kotor dengan mengikat satu ujungnya, dan bahkan bisa menjadi spanduk darurat. Tinggal menempelkan huruf huruf dari karton warna-
warni; Jadilah spanduk bercorak kotak-kotak. 

Setelah sarung, giliran kopiah yang aku songkokkan ke kepala. Di PM, kopiah harus berlapis bahan bludru hitam, tidak boleh warna lain. Sedangkan model bisa saja betmacam-
macam. Ada yang lurus sederhana, bergombak di atasnya, ada yang bisa dilipat dan yang keras seperti helm. Umumnya kopiah keras dan bergombak ini karya pengrajin kopiah 
terkenal di Sumatera Barat, H. Sjarbaini. Sedangkan buatan Jawa umumnya bisa dilipat dan lebih ringkas. 

Ada juga desain yang sudah lebih maju, kopiah hitam ini punya lubang angin di ujung depan dan belakang, sehingga kepala lebih berangin dan kulit kepala tidak bau. Yang membedakan mahal dan murah adalah ketebalan dan 
kehalusan beludru seberapa tahan terhadap percikan air. 

Kopiah ini juga sangat berguna sebagai kipas tangan kalau kepanasan. Aku juga biasa menyelipkan uang ribuan terakhirku di lipitan kopiah. Di masa menyambut ujian, aku 
menaruh catatan kecil untuk hapalan juga di lipitan kopiah ini. Tentu tidak bisa untuk contekan, karena kopiah dilarang di ruang ujian. Kopiah lipat ternyata juga cukup empuk untuk dijadikan bantal darurat. 

Aku sampirkan sajadah yang sudah dilipat di bahu kanan. Sebagai pengganti sajadah, ada kawan lain yang memakai sorban. Kelengkapan lain yang harus dibawa ke masjid 
tentunya Al Quran. Kami punya kebebasan luas untuk menggunakan Al-Quran, mulai dari yang sebesar dompet sampai sebesar map. Dari terjemahan sampai terbitan Arab, yang sebagian hurufnya pasti gundul. Asal kitab ini kami pegang dengan tangan kanan dan dibawa dengan mendekapkan ke dada. 

Dan barang kecil yang tidak boleh lupa, adalah papan namayang disematkan dengan peniti di dada sebelah kiri atas. Baso —di tengah kecerdasannya—paling sering lupa memakainya sehingga dia menjadi langganan mahkamah. Warna papan nama berbeda untuk setiap kelas dan harus dipakai kapan saja 
dan dimana saja. 

Mungkin di balik begitu pentingnya kedudukan papan nama ini untuk memastikan ribuan orang yang ada di PM saling tahu masing-masing. Sedangkan keuntungan buat jasus, MPP tidak perlu bertanya nama korbannya. Tinggal lirik sekejap dan catat di karcis jasus. Tidak heran, baju kami di dada kiri pasti 
berlubang-lubang kehitaman.

Dengan aksesoris lengkap ini, barulah aku melangkah ke masjid. Memakai semua ini cukup lima menit saja. Sret… srettt… sarungku berdesau-desau seiring langkah cepat supaya tidak ditangkap Tyson. 

Suatu ketika Baso bercerita kepada kami, dia pernah lupa di mana menjemur sarungnya yang hanya ada satu, sementara sebentar lagi bel ke masjid. Mau meminjam, sudah tidak ada lagi orang di kamar. Dia mencoba mencari-cari sarung yang tidak terpakai di sudut-sudut kamar, tapi yang ada cuma selimut tipis batang padi yang bergaris-garis. Merasa tertekan 
dengan lonceng yang sudah bertalu-talu menandakan waktu ke masjid, Baso langsung merenggut selimut dan melilitkan ke pinggangnya, seperti memakai sarung. Di detik-detik terakhir dia akhirnya berangkat ke masjid. Tergesa-gesa lewat di depan Tyson yang keheranan melihat ada orang memakai sarung yang mirip selimut. 

Bicara tentang sarung, ingatanku melayang ke pengalaman pertama mengenal manfaat sehelai sarung. 

Ketika itu aku duduk di bangku SD dan sedang libur catur wulan pertama. Ayah mengajakku pergi ke pasar di Matur, sebuah daerah di puncak bukit nun di atas kampung kami. Aku 
dan teman-teman SD selalu senang melihat dari kejauhan sebuah menara pemancar TVRI tinggi menjulang di sebuah titik di gugusan bukit yang melingkungi Danau Maninjau. Kata 
Ayah, Matur ada di belakang menara itu. 

Ah alangkah menyenangkan bisa jalan-jalan ke Matur. Selain ke pasar, Ayah berjanji membawa aku melihat menara yang gagah itu dari dekat. Selama seminggu aku tidak sabar menunggu hari bertukar jadi Kamis satu-satunya hari pasar di Matur. Di malam Kamis aku bergolek-golek resah, menunggu subuh datang. Akhirnya hari yang dijanjikan datang jua. Aku cepat-cepat memakai baju lebaran tahun lalu, yang telah aku lipat di sebelah dipan sejak kemarin. Baju ini menyerupai setelan tentara berwarna hijau. Saku di dada dan perut serta 
cantolan di kedua bahu. 

Ayah sendiri tampil dengan kemeja biru pupus polos, menyampirkan sarung bugis merah yang terlipat di bahu kanannya dan sebuah kopiah hitam menyongkok kepalanya. Inilah standar gaya ninikik mamak pemuka adat. Ayahku 
bergelar Katik Parpatiah Nan Mudo dan suku Chaniago. Setelah menyantap sarapan goreng pisang raja dan "katan Jo karambia” sajian Amak, kami menuju jalan aspal satu-satunya 
yang melintas di daerah Meninjau. “Ayo bergegas, pagi ini hanya ada satu bus ke ateh, ateh adalah sebutan untuk semua daerah di atas bukit dan di sekitar Gunung Merapi dan Gunung Singgalang. 

Hari masih terang terang tanah, ketika kami menumpang bus PO Harmonis yang bermesin diesel, berukuran sedang, berkerangka kayu dan punya jendela yang berumbai-rumbai merah kuning oranye, mirip hiasan pelaminan minang. Tidak lama kemudian, bus sampai di kaki Kelok Ampek Puluh Ampek, sebuah jalan mendaki tajam dan mengular dengan 44 belokan patah-patah. Terkenal sebagai pengocok perut yang ganas bagi penumpang yang berbakat mabuk darat. 
Bus yang berkapasitas penuh ini menggerung-gerung ketika dipakaa mendaki tanpa henti selama setengah jam lebih. Asap hitam mesin diesel bus berukuran sedang ini meletup-letup 
dan knalpotnya. 

Waktu itu, belum banyak bus yang punya tape untuk memutar kaset Elly Kasim. Pengganti hiburan di perjalanan adalah klakson yang bisa bernyanyi. Di sebelah supir ada tut-tut yang terhubung dengan slang ke badan mesin. Setiap tut membunyikan nada berbeda mirip campuran suara klakson dan akordeon. Sepanjang jalan, mataku tak lepas memperhatikan tingkah supir kami, seorang laki-laki muda berkaos merah ketat dengan celana cut bray dan berambut sebahu bergombak-gombak. Sambil meneleng-nelengkan kepalanya berirama, supir kami menghibur penumpang dengan memainkan instrumental lagu-lagu pop minang memakai klakson ini. StoJuzr, atau kenek, meliuk-liuk 
mengikuti alunan lagu sambil menggantungkan badannya di luar badan bus yang berlari kencang. Bus kami penuh sesak, 
kenek harus di luar. Lagu klakson inilah yang membantuku melupakan mual yang mendesak-desak. 

Kami melewati Ambun Pagi, sebuah nagari di puncak kelok 44. Melihat ke bawah, tampak Danau Maninjau bagai cerukan kawah purba, mirip kuali raksasa, dengan dinding sekelilingnya bukit hijau berbaris-baris. Air biru telaga yang hening memantulkan awan pagi yang menggantung di ujung-ujung bukit. Betul- betul kombinasi yang permai. Air menghampar luas dan bukit menjulang. Biru dan hijau perawan. Kami sampai di Matur ketika matahari masih belum sepeng-galahan. Matur yang berada di pucuk bukit, masih dikepung kabut pagi yang tebal dan angin yang datang dan pergi. Pori-poriku bintil-bintil menahan dingin. 

Pasar yang kami tuju terletak di tanah lapang yang berujung karena kabut yang hilang timbul disapu angin. Hanya tampak bayangan sapi, kerbau, kuda dan kambing serta bayang bayang manusia tanpa rupa keluar masuk berlapis-lapis kabut Tidak ada los pasar. Kadang-kadang terdengar bisik-bisik manusia, selebihnya embekan dan lenguhan hewan 
ternak. 

Ayah membimbingku mendekat kepada salah satu bayang-bayang tanpa wajah. Semakin dekat semakin jelas orang itu laki-laki berkelumun sarung sampai leher dan memakai tutup muka, penahan dingin dari jalinan wol yang menutupi seluruh kepala kecuali mata. Tangan kirinya memegang tali yang ujungnya dicucukkan ke hidung seekor sapi yang melenguh malas, dan telunjuk dan jempolnya menjepit sebatang rokok yang berpijar-pijar di tengah kabut. Setelah aku perhatikan lebih saksama, lebih dan setengah orang yang datang ke pasar ini bersarung dan ber-sebo. 

Sejenak ayah berbicara dengan lelaki ini dengan suara rendah. Si Tanpa Wajah menjawab dengan suara parau dan sesekali terbatuk. Tidak lama kemudian Ayah menyodorkan tanpa bersalaman. Laki-laki misterius ini menangkap telapak tangan Ayah dan cepat-cepat menariknya ke dalam sarung. 
Lama sekali mereka bersalaman, tangan keduanya bergoyang-goyang di balik sarung. Muka saling menatap, tapi tidak ada kata yang tetuang Hanya angguk dan gelengan ringan. Aku mencengkram lengan kiri Ayah, terheran-heran dengan apa yang mereka lakukan. 

Aku terus mengekor Ayah berjalan ke arah lain dan melakukan hal yang sama dengan tiga laki-laki lagi. Bersalaman lama di bawah sarung, saling menatap. Pada orang terakhir ayah menyodorkan sebungkus uang, dan 
seekor sapi gemuk ke luar lapangan. Sapi lalu dinaikkan ke oto prah. Mobil truk. Dikirim langsung ke nagari kami di Maninjau. Amanat dari jamaah surau kami untuk membeli seekor sapi untuk kurban Idul Adha minggu depan telah ditunaikan Ayah. Dari balik kabut yang telah menipis. Ayah tersenyum melihat aku bagai si bisu bermimpi. Bingung. 

“Budaya marosok. Meraba di bawah sarung. Tawar menawar harga dengan memakai isyarat tangan.” 

“Kenapa harus pakai isyarat, Yah?”

“Peninggalan turun temurun nenek moyang kita kalau berjualan ternak. Harga dan tawaran hanya untuk diketahui pembeli dan penjual.” 

“Yah, boleh ambo minta diajar marosok?” 

Ayah tersenyum. Sepanjang perjalanan naik bendi ke menara pemancar TVRI di Puncak Lawang, aku sibuk menghapalkan isyarat jari-jemari yang diajarkan Ayah. Di bawah sarung. 
Itulah pertama kali aku insyaf dengan manfaat sarung dalam kehidupan bermasyarakat. Untuk membeli sapi kurban!



Bersambung.... 

______________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...