"MAA HAAZA"
Pelajaran wajib yang selalu ada setiap hari, enam kali seminggu adalah Lughah Arabiah. Bahasa Arab. Pelajaran ini bagai obat ajaib yang bila kami telan setiap hari selama tiga
bulan. Khasiat yang dijanjikan: lidah kami fasih berbicara Arab.
Aku masih ingat pelajaran pertama dimulai dengan kalimat sangat sederhana.
“Maa haaza?” tanpa ba-bi-bu, di hari pertama Ustad Salman langsung berteriak nyaring di depan kelas. Intonasinya bertanya, tangan kirinya memegang buku, jari kanannya
menunjuk ke tangan kiri. Sedangkan kami cuma terbengong-bengong kaget.
“Haaza kitaabun”. Telunjuk kanannya menunjuk buku yang dipegang tangan kiri. Kami celingukan dan diam. Ustad Salman terus mengulang monolog singkatnya beberapa kali
dengan terus memamerkan senyum sepuluh sentinya.
Lalu dengan gerakan tangan, dia mengisyarakatkan untuk bersama-sama mengulang apa yang disebutkannya tadi
dengan keras. “Quuluu jamaaatan…. Maa haaza? Haaza kitaabun.”
Kami koor mengikut kalimat ini. Berulang-ulang. Walau belum yakin benar artinya.
Setelah yakin semua orang terlibat, Ustad Salman menuliskan kalimat ini di papan tulis. Lalu secara acak dia mengulangi pertanyaan kepada beberapa murid, dan siapa yang ditanya menjawab dengan jawaban nyaring, terang dan jelas.
Begitulah selanjutnya. Bahasa Arab diajarkan dengan sederhana, menggunakan metode “dengar, ikuti, teriakk ulangi lagi”. Tidak ada terjemahan bahasa Indonesia sama sekalii Belakangan aku tahu bahwa pengulangan dan teriakan tadi adalah metode ampuh untuk menginternalisasi bahasa baru ke dalam sel otak dan membangun refleks bahasa yang
bertahan lama. Inilah sistem bahasa yang membuat PM terkenal dengan kemampuan muridnya berbicara aktif. Mereka menyebut “direct method”.
Bagiku dan banyak teman lain, pelajaran yang paling ditunggu adalah Taarikh, sejarah dunia, khususnya yang berhubungan dengan kebangkitan dan kebangkrutan dunia Islam. Guru kami adalah Ustad Surur, laki-laki bertubuh tambun, bermuka bundar dan dagunya ditumbuhi jenggot lebat Dia selalu mengenakan dasi krem dengan baju putih dan
celana khaki.
Dilengkapi intonasi suara dramatis, dia menyampaikan lembar-lembar sejarah dengan gambar dan cerita yang membuat kami tidak berkedip. Dengan piawainya dia membawa kami ke masa tahun gajah untuk memahami
bagaimana seorang laki-laki sederhana, dengan izin Tuhan, membuat perubahan besar didunia dari sebuah tempat di tengah padang pasir Arab.
Dia bercerita tentang negeri-negeri yang jauh. Mendaras berbagai topik mulai Tashkent, Bani Safavid, Turki Ustmaniah, Cordoba, Thariq bin Ziyad, Aljabar, Al Khuraizimi, sampai Palestina. Ustad Surur suka dengan alat peraga. Ketika
tentang Mesir dan piramida, dia membawa beberapa potong kerikil yang dipungutnya sendiri di dekat piramida besar di Kairo. Kerikil kesat berwarna kuning ini diedarkan ke setiap
tangan kami untuk merasakan kedekatan dengan kisah Mesir yang sedang kami diskusikan.
“Sejarah bukan seni bernostalgia, tapi sejarah adalah ibrah, pelajaran, yang bisa kita tarik ke masa sekarang, untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik,” jelasnya.
Dia juga bercerita tentang daerah yang dekat, mulai dari Sa-mudera Pasai, Kutai, Demak, dan Mataram. Bola dunia dan peta tua versi VOC dikembangkan di meja ketika dia menerangkan eksistensi Mataram Islam. Kami dibawa bertualang kelililing dunia dari sebuah kelas kecil di sebuah kampung di udik Jawa Timur. Tak jarang tokoh dan tempat bersejarah yang digambarkannya di kelas menghiasi mimpi dan obrolan kami selama berhari-hari. Sungguh mengasyikkan.
Mata pelajaran Al-Quran dan Hadist juga dibawakan dengan amat menarik oleh Ustad Faris yang berasal dari Kalimantan. Sekilas, ustad berusia 40 tahun ini mirip dengan tauke barang elektronik di Pasar Atas Bukittinggi. Kulitnya putih bersih, rambut hitam pendek dan berdiri, sementara matanya sipit. Yang berbeda, ustad ini tidak pernah lepas dari kopiah dan sehelai sur-ban kecil. Di usia muda dia telah merantau ke Madinah untuk menuntut ilmu hadis dan Al-Quran, di Madinah University. Dan kembali ke PM dengan gelar ad-Duktur.
Kami belajar dari Ustad Faris bagaimana menyerap saripati ilmu, pengetahuan, kearifan dan makna dari kalam Ilahi dan sabda Nabi. Bagaimana melihatnya secara luas, saling
berkaitan, tidak terpaku hanya pada satu kalimat saja.
“juragan“ Doktor (Arab) Sementara khusus untuk hadist, kami diajari mendeteksi hadist yang otentik. Hadits adalah rekaman perkataan dan perbuatan Nabi Muhammad yang dilaporkan oleh umat islam generasi pertama yang hidup dekat dan sezaman dengan nabi. Mereka disebut sahabat rasul.
Tantangan mempelajari hadits adalah bagaimana memastikan bahwa laporan lisan tentang kehidupan Nabi itu otentik, sesuai
dengan kejadian yang sebenarnya. Untuk itu sebuah hadist dilengkapi dengan sanadt jalur para pelapor cerita tentang nabi ini. Begitu ada keraguan atas kejujuran dan biografi seorang yang ada dalam sariad, maka hadist itu juga
diragukan.
“Bacalah Al-Quran dan hadist dengan mata hati kalian. Resapi dan lihatlah mereka secara menyeluruh, saling berkait menjadi pelita bagi kehidupan kita,” katanya dengan suara bariton yang sangat terjaga vibranya. Kalau dia sudah
berbicara begini, seisi kelas senyap, diam dan tafakur.
Dan jangan tanya kalau dia kemudian membaca Al-Quran. Lantunan suaranya mendinginkan udara kelas kami yang panasi di musim kemarau. Ketika tiba giliran kami membaca Al-quran sambil disimaknya, aku merasa tidak ada apa-apanya. Aku yang bersuara cempreng dan bernapas pendek.
Suatu hari, Ustad Faris, membaca buku absen kami yang berbentuk buku kecil panjang untuk mencari siapa yang behim pernah dapat giliran baca Al-Quran.
“Coba sekarang ananda Teuku yang baca surat Annisa,” kata- ‘ nya dari balik meja guru.
Beberapa ketawa kecil pecah dari sudut kelas, mengingat gaya bicara Teuku yang keras dan selalu seperti marah-marah.
Teuku dengan sikap sempurna memulai membaca ayat pertama Annisa dengan lagu bayyati, sebuah qiraah—irama mem-baca Al-Quran klasik menggunakan suara rendah,
lembut, tenang, dan hanya dihiasi dua-tiga cengkok suara di bagian paruh pertama dan terakhir. Lalu Teuku mendemonstrasikan kemampuannya memakai beraneka tfiraah yang sulit dengan napas panjang seperti kuda pacu. Berturut-turut dia bacakan kalam ilahi dengan gaya jiharkah, shaba, dan banyak lagi. Gulung-meng-gulung seperti gelombang samudera Atlantik. Kami terpesona dan tidak
menyangka Teuku bersuara emas.
Suaranya melantun-lantun di udara menyentuh oktaf terendah, sebentar kemudian membumbung memanjat ke oktaf tertinggi. Kombinasi indah antara suara mengharukan
dan mengobarkan. Kami merinding khusyuk. Kami tahu kami akan punya calon kuat juara dunia kompetisi mengaji Al-Quran dalam beberapa tahun lagi. Sejauh ini Mushabaqah Tilawatil Quran tingkat dunia cukup dikuasai Indonesia. Aku kira Teuku bisa jadi penerus dominasi H. Muammar ZA dan H. Nanang
Qosim, Qari asli Indonesia, yang menjadi juara dunia mengaji dengan mengalahkan orang-orang Arab ketika perlombaan ini diadakan di Timur Tengah.
Aku sendiri sangat suka pelajaran khatul arabi atau kaligrafi Arab. Anggapanku selama ini salah, ternyata kaligrafi tidak hanya bagaimana menuliskan abjad Arab dengan benar, tapi juga bagaimana menorehkannya dengan sabar, indah dan konsisten. Dengan semangat tinggi aku selalu mengikuti Ustad Jamil yang dengan ringan mengelok-ngelokkan kalamnya membuat lekukan-lekukan indah kalimat Arab. Aku juga sangat senang mendengar suara kapurnya berdecit-decit ketika dia mempraktekkan cara penulisan di papan tulis.
Dan lebih menarik lagi, ternyata tidak hanya ada satu cara untuk menuliskan kalimat Arab. Paling tidak ada tujuh gaya kaligrafi yang cara penulisannya sangat berbeda satu dengan yang lain. Misalnya, huruf alif dalam gaya righ’i condong ke kiri dan sangat bersahaja, minimalis, bahkan sebagai ditempatkan tidak paralel dengan huruf lain. Sementara huruf alif dalam gaya diiwani jali bergaya lekukan gemulai yang dimulai dari
perut alif sebelah kiri, naik ke atas dengan sentuhan lembut dan turun melengkung melewati perut alif sebelah kanan. Jadinya kira-kira hasilnya seperti setengah lingkaran lonjong dengan variasi halus kasar yang terjaga.
“Ingat, kepala alif seperti ini harus ditarik lurus dengan tangan yang rileks, untuk mendapatkan ujung lancip yang indah,” kata Ustad Jamil sambil memperagakan di papan tulis. Dalam sekejap, terciptalah alif jenis tsulutsi yang halus tapi gagah, membungkuk sekilas ke kiri dengan kepala lancip ke atah kanan. Hanya huruf alif, tapi dibuat dengan penghayatan
yang dalam dan penuh cinta.
“Nah, sekarang giliran kalian. Ingat, perlakukan kalam kalian seperti kuas, ayunkan dengan perasaan, dan kelokkan dengan hati,” ujarnya ketika ia selesai membuat contoh di papan tulis.
Untuk beberapa saat yang terdengar hanya gesekan kalam bertemu dengan kertas putih buku latihan kaligrafi kami. Bau tinta hitam Quint meruap ke udara. Kasihan Dulmajid.
Kebiasaan tangan berkeringatnya membuat buku latihannya kotor. Di kemudian hari, persoalan ini bisa teratasi setelah mengikuti saran Ustad Jamil untuk melapisi sarung tangan dari tas kresek. Aku sendiri kuat belajar menulis kaligrafi “Bismillahirrahinanirrahim” dalam berbagai gaya tadi. Ustad Jamil mengganjar kerja kerasku ini dengan nilai tinggi. Pelajaran yang aku suka tapi selalu berkeringat dingin meng-hadapinya adalah mahfudzhat yang diajar seorang ustad kurus tinggi bernama Ustad Badil. Bagiku, pelajaran ini mengasyikkan karena berisi kutipan kata mutiara yang bergizi tinggi dari berbagai buku dan khazanah Islam dan peradaban Arab.
Entah chip apa yang kurang di kepalaku, begitu berhadapan dengan hapalan, otakku langsung hang. Bagiku, menghapal letterleks adalah cobaan pedih. Yang membuatku berkeringat
adalah keharusan menghafal di luar kepala setiap bait kata mutiara ini secepatnya. Secepatnya artinya ya dihapal saat itu juga ketika diajarkan.
Metode pengajarannya: Ustad Badil membacakan sebait kata mutiara dalam bahasa Arab lalu dia menerangkan maknanya dalam bahasa Arab dan Indonesia. Setelah kami cukup paham, dia akan menuliskan bait ini di papan tulis untuk kami salin. Setelah disalin, dia akan menghapus beberapa bagian tulisan. Sambil terus menyuruh kami membacanya dengan keras. Semakin sering kami membaca, semakin banyak yang dihapusnya, sehingga, lama-lama papan tulis bersih, dan bait ini telah pindah ke ingatan kami masing-masing.
Di pertemuan selanjutnya, secara acak kami dipilih untuk membacakan hapalan minggu lalu. Kalau ternyata belum ha-pai, apa boleh buat kami harus berdiri di depan kelas sambil
memegang buku untuk menghapal. Sungguh memalukan, aku cukup sering tampil berdiri di depan kelas gara-gara hapalanku yang melantur.
Nasibku sangat berbeda dengan Baso. Di mataku, dia penghapal paling sakti yang pernah ada. Beri dia satu syair Arab, dalam hitungan helaan napas, langsung diserap
memorinya. Beri dia satu halaman penuh bertuliskan Arab, dalam hitungan menit-dia hapal di luar kepala. Kalau penasaran menguji hapalannya silakan bait dibolak-balik, dipotong sana-sini, sama saja, dia pasti bisa meneruskan. Semua tercetak paten di otaknya. Mungkin ini yang disebut photographic memory, Dia bagai mutiara kampung di Gowa.
Tapi dari semua pelajaran, Bahasa Inggris adalah favorite Guru kami, Ustad Karim, yang tinggi semampai selalu tampil kelimis dan simpatik. Rambutnya yang sebagian memutih
berombak-ombak di bagian depan. Dia suka mengenakan jas wol dipadu dengan dasi sewarna. Kelas pertama dimulai dengan monolog nonstop selama 5 menit dalam bahasa Inggris yang cepat dan aksen yang susah aku pahami. Kami sangat takjub dengan cara bicaranya yang sudah seperti bule. “Ini adalah aksefie yang biasa terdengar di London,” katanya. Ustad Karim sendiri pernah menuntut ilmu di Cambridge, kota pelajar tua di dekat London.
Buku pelajaran kami adalah sebuah buku bacaan yang menggambarkan kehidupan sehari-hari di Inggris. Ceritanya antara lain tentang seorang yang berjalan-jalan ke jantung
Kota London yang klasik, mengagumi Big Ben, melintasi lapangan Trafalgar Square, bolak balik masuk museum-museum terbaik dan kemudian menyeberang ke Perancis melalui laut. Selain pelajaran ini, kepala kami disesaki gambar Eropa yang sangat antik, tapi juga modern. Apalagi, sebagai seorang yang pernah tinggal di Inggris, Ustad Karim bercerita dengan tatif, seperti menceritakan kampung halamannya sendiri ternganga-nganga dengan cerita ini. Raja begitu terinspirasi pelajaran ini sampai dia menghapal luar kepala halaman demi halaman buku bacaan ini.
Baso terus memperlihatkan kehebatannya di semua pelajaran, kecuali mata pelajaran Reading. Dia mati kutu dan harus sesak napas sampai bermandikan keringat untuk mengulang ejaan dengan benar.
“Wai ari guingg backd tho Tirafalghaar Siquarri tudayyy,” bacanya tegang, sementara butir-butir peluh mengucur deras dari jidatnya yang lebar. Tulisan yang dibacanya: “we are going back to Trafalgar Square today”.
“Waath thaimi izzz ith naung”. Maksudnya “what time is it now”. Time dibaca dengan thaim dengan menggunakan huruf tha tebal yang sempurna sekali. Now, dibaca dengan
berdengung panjang, persis seperti dia membaca mad panjang tiga harakat dalam ilmu tajwid.
Tersingkap sudah cacat utama Baso: bahasa Inggris. Dia membaca bahasa Inggris seperti membaca Al Quran, lengkap dengan tajwid, dengung dan qalqalah. Mungkin ini berawal
dari betapa cintanya dia dengan Al-Quran.
Sadar dengan kelemahan masing-masing, aku dan Baso membuat pakta untuk melakukan simbiosis mutualisme. Dia memastikan hapalanku benar, sementara aku memastikan
bahasa Inggrisnya bebas dari tajwid. Setiap malam Senin dan malam Kamis, kami memastikan kasur lipat kami saling berdekatan. Aku mulai mengeja hapalan mahfudzhat untuk besok. Dalam gelap-gelap itu dia berbisik berkali-kali mengoreksi hapalanku. Kalau besok ada Bahasa Inggris,
giliranku yang menyimak reading-nya. Begitu berulang-ulang sampai salah satu dari kami mulai mendengkur. Ajaib, cara ini cukup ampuh membantuku menghapal, walau dalam beberapa hari kemudian luntur lagi.
Selain kelas dari pagi sampai siang 6 hari seminggu, kami juga mengikuti tambahan kelas sore untuk untuk mendalami mata pelajaran pokok, khususnya untuk bahasa Arab dan Inggris.. Belum lagi sesi belajar malam yang diadakan di kelas oleh Ustad Salman. Sementara Kamis sore tidak ada pelajaran, tapi diisi dengan latihan Pramuka. Tapi dari semua hari, hari yang paling mulia bagi kami adalah Jumat.
Bersambung...
______________________________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar