Minggu, 07 Maret 2021

NEGERI 5 MENARA BAGIAN 5

"MAN JADDA WAJADA"



“MAN JADDA WAJADAH!” 


Teriak laki-laki muda bertubuh kurus itu lantang. Telunjuknya lurus teracung tinggi ke udara, suaranya menggelegar, sorot matanya berkilat-kilat menikam kami satu persatu. Wajah serius, alisnya hampir bertemu dan otot 
gerahamnya bertonjolan, seakan mengerahkan segenap tenaga dalamnya untuk menaklukkan jiwa kami. Sungguh mengingatkan aku kepada karakter tokoh sakti mandraguna di film layar tancap keliling di kampungku, persembahan dari Departemen Penerangan. 

Man jadda wajada: sepotong kata asing ini bak mantera ajaib yang ampuh bekerja. Dalam hitungan beberapa helaan napas saja, kami bagai tersengat ribuan tawon. Kami, tiga puluh anak tanggung, menjerit balik, tidak mau kalah 
kencang. 

“Man jadda wajada!” 

Berkali-kali, berulang-ulang, sampai tenggorokanku panas dan suara serak. Ingar bingar ini berdesibel tinggi. Telingaku panas dan berdenging-denging sementara wajah kami merah padam memforsir tenaga. Kaca jendela yang tipis sampai bergetar-getar di sebelahku. Bahkan, meja kayuku pun berkilat-kilat basah, kuyup oleh air liur yang ikut berloncatan setiap berteriak lantang. 

Tapi kami tahu, mata laki-laki kurus yang enerjik ini tidak dimuati aura jahat. Dia dengan royal membagi energi positif yang sangat besar dan meletup-letup. Kami tersengat 
menikmatinya. Seperti sumbu kecil terpercik api, mulai terbakar, membesar, dan terang! 

Dengan wajah berseri-seri dan senyum sepuluh senti menyilang di wajahnya, laki-laki ini hilir mudik di antara bangku-bang-ku murid baru, mengulang-ulang mantera ajaib ini di depan kami bertiga puluh. Setiap dia berteriak, kami 
menyalak balik dengan kata yang sama, man jadda wajada. Mantera ajaib berbahasa Arab ini bermakna tegas: “Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil!” 

Laki-laki ramping ini adalah Ustad Salman, wali kelasku. Wajahnya lonjong kurus, sebagian besar dikuasai keningnya yang lebar. Bola matanya yang lincah memancarkan sinar 
kecerdasan. Pas sekali dengan gerak kaki dan tangannya yang gesit ke setiap sudut kelas. Sebuah dasi berwarna merah tua terikat rapi di leher kemeja putihnya yang licin. Lipatan celana hitamnya berujung tajam seperti baru saja disetrika. Sepatu hitamnya bersol tebal dan berdekak-dekak setiap dia berjalan di ubin kelas kami. 

Selain kelas kami, puluhan kelas lain juga demikian. Masing-masing dikomandoi seorang kondaktur yang energik, menyalakkan “man jadda wajada”. Hampir satu jam non stop, 
kalimat ini bersahut-sahutan dan bertalu-talu. Koor ini bergelombang seperti guruh di musim hujan, menyesaki udara pagi di sebuah desa terpencil di udik Ponorogo. 

Inilah pelajaran hari pertama kami di PM. Kata mutiara sederhana tapi kuat. Yang menjadi kompas kehidupan kami kelak. 
              



                                 **MB** 



Sejam yang lalu, kami berkerumun dengan tidak sabar di depan sebuah pintu kelas. Di daun pintu itu selembar kertas putih bertuliskan Kelas 1 A tertempel rapi. Di antara 
kerumunan ini, hanya Raja dan Dul yang aku kenal. Lamat-lamat, bunyi ketukan sepatu cepat dan penuh semangat terdengar dari balik ruang kelas kami. Makin lama makin dekat. Tiba-tiba dari balik tembok, muncul laki-laki muda berwajah ramah menyapa dengan nyaring, 

“Shabahul khair. Selamat pagi. Silakan masuk!” 

Tangan kanannya mengibas-ngibas mengisyaratkan kami masuk. Setiap kami disodori senyum sepuluh sentiyang membentang di wajahnya. Laki-laki periang ini adalah Ustad Salman. 

“Ijlisuu, silakan pilih tempat duduk yang paling nyaman buat kalian.” 

Aku bergegas memilih dua baris dari depan ke arah belakang. Ini posisi aman menurutku. Tidak terlalu menantang tatapan guru di kursi depan, tapi juga tidak tersuruk di bagian 
terbelakang. 

Di sebelahku duduk seorang anak jangkung berambut pendek tegak. Tadi dia datang paling pagi. Sebuah kacamata tebal membebani batang hidungnya. Wajahnya yang putih 
tampak serius dan agak tegang. Beberapa helai janggut kasar mencuat di dagunya. Dia mengangguk, sambil menyorongkan tangannya. 

“Eh, kenalkan nama saya Atang,” katanya singkat. Kacamata-nya melorot turun ketika mengangguk. Secepat itu pula tangannya mengembalikan ke posisi semula. 

Buru-buru kemudian dia menambahkan, “Saya dari Bandung. Urang sunda″ katanya kali ini nyengir. Aku terpesona dengan irama Atang berbicara. Setiap akhir kalimatnya diberi ayunan yang asing di kupingku. 

Aku genggam jemari tangannya yang panjang kurus-kurus. 

“Saya Alif Fikri dari Maninjau, Bukittinggi, Sumatera Barat. Untuk pertama kalinya dalam hidup aku berjabat tangan dengan orang non Minangkabau. Nun di kampungku, mulai 
dari pegawai kecamatan, guru, tukang pos, penjual martabak, supir bus, sampai kenek adalah urang awak, orang Minang asli. Dulu, sebetulnya aku nyaris menjabat tangan seorang Jawa. Ketika duduk di SD, guruku menyuruh kami sekelas mengibarkan bendera merah putih dari kertas minyak di 
pinggir jalan kampungku. Balasan kibasan benderaku adalah lambaian tangan yang menyembul dari jendela mobil hitam 
setengah terbuka. Ingin aku jabat tangan itu, tapi mobilnya terlalu cepat berlalu. Yang punya tangan adalah Presiden Soeharto yang datang meresmikan PLTA Maninjau tahun 1983. 

Sengaja aku tambahkan Sumatera Barat kalau-kalau dia tidak tahu Bukittinggi di mana. Menyebutkan Bukittinggi juga sebetulnya kurang tepat, bahkan Maninjau pun sebuah 
kebohongan kecil. Sebenarnya, aku lahir dan berasal dari kampung liliput di pinggir Danau Maninjau, Bayur namanya. Maninjau lebih dikenal orang luar karena lumayan populer sebagai kota asal Buya Hamka, ulama sastrawan karismatik yang tersohor itu. 

Setelah memperkenalkan diri, Ustad Salman meminta setiap orang maju ke depan kelas dan memperkenalkan nama, asal, alasan ke pondok dan cita-cita. Raja Lubis yang duduk di meja paling depan maju dengan penuh percaya diri. 

Sejenak dia menarik napas dalam, dagunya sedikit terangkat, kepalanya berputar setengah lingkaran menyapu kelas. Setelah mendehem, dia memperkenalkan diri dengan suara lantang dan berat. Iramanya lebih mirip pidato daripada perkenalan. Raja yang berasal dari pinggir Kota Medan ini tahun lalu gagal masuk PM karena terlambat mendaftar. Sambil menunggu tahun ajaran baru, dia menghabiskan satu tahun belajar di sebuah pondok tidak jauh dari sini. 

“Kenapa sampai mau dua kali mencoba ikut tes masuk PM?” tanya Ustad Salman. 

Dengan gagah dia berkata, “Aku ingin menjadi ulama yang intelek, Ustad. Dari sepuluh orang bersaudara, aku sendirilah yang diberi amanat Ibu dan Bapak untuk belajar agama.” 

Sebetulnya dari tadi aku sangat heran melihat kelakuannya. Ketika kami sekelas membawa beberapa buku tulis dan Al Quran, dia malah membawa beberapa buku tebal sekaligus. 
Salah satunya buku paling tebal yang pernah aku lihat. 

“Buku apa ini?” tanyaku polos. 

“Cak kau lihat ini bos, judulnya Advanced Learners Oxford Dictionary, kamus Bahasa Inggris yang hebat. Cocok buat kita yang belajar bahasa Inggris. Kalau ingin pandai seperti Habibie, macam buku inilah yang harus kau baca,” ujarnya serius sambil mengangkat kitab tebal ini pas di mukaku.

“Mulai hari ini aku akan membaca kamus ini halaman per halaman,” kata Raja sambil mengepalkan tangan. Hobi utamanya membaca buku, atau tepatnya kamus tebal ini. Di kemudian hari, hobi ini terbayar tunai. Dia paling lancar menjawab pertanyaan-pertanyaan guru Bahasa Inggris. Kalau 
bicara Inggris, suaranya sengau-sengau seperti orang selesma. 

Makhluk paling raksasa di kelas adalah Said Jufri yang berasal dari Surabaya. Lengannya yang legam sebesar tiang telepon dan berbuku-buku oleh otot keras serta ditumbuhi 
bulu-bulu panjang keriting. Bajunya yang berbahan jatuh mencetak dada dan bahunya yang kekar. Rambut hitam ikal, alis tebal, kumis melintang, fitur hidung dan tulang pipinya tegas melengkapi wajah Arabnya. Dia memang keturunan kelima dari saudagar Arab yang mendarat dan menetap di kawasan Ampel, Surabaya. Walau berwajah Arab, tapi medok suroboyoan. Walau umurnya baru 19 tahun, wajahnya seperti bapak-bapak berumur 40 tahun. 

“Waktu SMA, aku anak nakal, sekarang aku insyaf dan ingin belajar agama,” katanya sambil tersenyum lebar. Matanya yang dilingkupi bulu yang lentik berkejap-kejap. Wah, ini dia yang disebut Pak Sutan yang ada di bus kemarin. Anak nakal di sekolahkan di pondok, batinku. 

“Mari kita dekap penderitaan dan berjuang keras menuntut ilmu, supaya kita semakin kuat lahir dan batin,” katanya memberi motivasi di depan kelas tanpa ada yang meminta. Antara mengerti dan tidak kami mengangguk-angguk takzim. Dia mantan anak nakal yang aneh.

Tidak salah kalau dia yang paling dewasa di antara kami. Karena itu kami secara aklamasi memilihnya jadi ketua kelas. Selama setahun ke depan, dia selalu menjawab keluh kesah kami dengan senyum dan cerita yang mengobarkan semangat. 

“Saya berasal dari Sulawesi,” kata Baso Salahuddin yang berlayar dari Gowa. Wajahnya seperti nenek moyangnya yang pelaut ulung, rambut landak, kulit gelap, kalau berjalan seperti terombang-ambing di atas perahu, mengambang dan kurang lurus. Bajunya adalah seragam pramuka yang sudah luntur 
cokelatnya. Emblem-emblemnya sudah dilucuti, menyisakan warna yang lebih gelap di saku dan lengan. 

Sambil mengerlingkan matanya ke kiri atas, dia bicara di depan kelas. “Alasan saya… alasan saya ke sini apa ya? O iya, saya ingin mendalami agama Islam dan menjadi hafiz-penghapal Al-Quran.” 

Kawanku yang lain adalah Dulmajid dari Madura. Dia juga satu bus denganku ketika sampai di PM. Kulitnya gelap dan wajahnya keras tidak menjanjikan. Untunglah dia berkacamata frame tebal sehingga tampak terpelajar. Animo belajarnya memang maut. Di kemudian hari, aku menyadari dia orang 
paling jujur, paling keras, tapi juga paling setia kawan yang aku kenal. 

Kawan yang duduk di belakangku adalah Teuku. Anak yang berkulit keling ini berasal dari Banda Aceh. Ketika Ustad Teguh 
membaca namanya, serta merta dia berdiri tegap dengan setengah berteriak menjawab “Teuku hadir, Ustad”. Seisi kelas, tidak terkecuali ustad kaget dengan gerakan berdiri 
tiba-tiba dan teriakan nyaring anak Aceh ini. Dia suka berbicara dengan suara keras dan tergesa-gesa, sehingga bahasa Indonesianya terdengar lucu. 

Tapi di antara semua teman baru ini yang membuatku paling kagum adalah Saleh. Dia tinggi kurus, atletis, dan buku-bukunya banyak stiker bertuliskan Lakers, Bulls, dan gambar orang-orang hitam berkepala botak, bercelana pendek goyor-goyor. 

“Gue dari Jakarte, anak Betawi asli. Tahu Monas, kan? Nah, rumah gue gak jauh dari sana, di Karbela,” katanya dengan bangga. 
Beruntung sekali dia tinggal di ibukota, pikirku iri. Di umurku yang ke-15 ini, belum sekalipun aku menjejakkan kaki di ibukota negara sendiri. Dalam perjalananku dari Padang ke 
Jawa Timur, aku sempat sekilas melewati Jakarta jam tiga dini hari. Bus hanya berhenti untuk menurunkan Pak Sutan yang akan ke Tanah Abang. Dari jendela bus kulihat gedung-
gedung tinggi, jalan-jalan silang gemilang yang semuanya bermandikan cahaya. Modern. Makanya, Jakarta adalah kota yang paling ingin aku kunjungi, setelah Mekkah. 




Bersambung.... 

______________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...