Rabu, 17 Maret 2021

RONGGENG DUKUH PARUK BAGIAN 01

BAGIAN PERTAMA JILID 01
 
 
 Sepasang burung bangau melayang meniti angin berputar-putar tinggi di langit. Tanpa sekali pun mengepak sayap, mereka mengapung berjam-jam lamanya. Suaranya melengking seperti keluhan panjang. Air. Kedua unggas itu telah melayang beratus-ratus kilometer mencari genangan air. Telah lama
mereka merindukan amparan lumpur tempat mereka mencari mangsa; katak, ikan, udang atau serangga air lainnya.
 
 Namun kemarau belum usai. Ribuan hektar sawah yang mengelilingi Dukuh Paruk telah tujuh bulan kerontang. Sepasang burung bangau itu takkan menemukan genangan air meski hanya selebar telapak kaki. Sawah berubah menjadi padang kering berwarna kelabu. Segala jenis rumput, mati. Yang menjadi bercak-bercak hijau di sana-sini adalah kerokot, sajian alam bagi berbagai jenis belalang dan jangkrik. Tumbuhan jenis kaktus ini justru hanya muncul di sawah sewaktu kemarau berjaya.
 
 Di bagian langit lain, seekor burung pipit sedang berusaha mempertahankan nyawanya. Dia terbangbagai batu lepas dari katapel sambil menjerit sejadi-jadinya. Di belakangnya, seekor alap-alap mengejar dengan kecepatan berlebih. Udara yang ditempuh kedua binatang ini membuat suara desau. Jerit pipit kecil itu terdengar ketika paruh alap-alap menggigit kepalanya. Bulu-bulu halus beterbangan.
Pembunuhan terjadi di udara yang lengang, di atas Dukuh Paruk.
 
 Angin tenggara bertiup. Kering. Pucuk-pucuk pohon di pedukuhan sempit itu bergoyang. Daun kuningserta ranting kering jatuh. Gemersik rumpun bambu. Berderit baling-baling bambu yang dipasang anak gembala di tepian Dukuh Paruk. Layang-layang yang terbuat dari daun gadung meluncur naik. Kicau
beranjangan mendaulat kelengangan langit di atas Dukuh Paruk.
 
 Udara panas berbulan-bulan mengeringkan berjenis biji-bijian. Buah randu telah menghitam kulitnya, pecah menjadi tiga juring. Bersama tiupan angin terburai gumpalan-gumpalan kapuk. Setiap gumpal kapuk mengandung biji masak yang siap tumbuh pada tempat ia hinggap di bumi. Demikian kearifan alam mengatur agar pohon randu baru tidak tumbuh berdekatan dengan biangnya.
 
 Pohon dadap memilih cara yang hampir sama bagi penyebaran jenisnya. Biji dadap yang telah tua menggunakan kulit polongnya untuk terbang sebagai baling-baling. Bila angin berembus, tampak seperti ratusan kupu terbang menuruti arah angin meninggalkan pohon dadap. Kalau tidak terganggu oleh
anak-anak Dukuh Paruk, biji dadap itu akan tumbuh di tempat yang jauh dari induknya. Begitu perintah alam.
 
 Dari tempatnya yang tinggi kedua burung bangau itu melihat Dukuh Paruk sebagai sebuah gerumbul kecil di Tengah padang yang amat luas. Dengan daerah pemukiman terdekat, Dukuh Paruk hanya dihubungkan
oleh jaringan pematang sawah, hampir dua kilometer panjangnya. Dukuh Paruk, kecil dan menyendiri. Dukuh Paruk yang menciptakan kehidupannya sendiri.
 
 Dua puluh tiga rumah berada di pedukuhan itu, dihuni oleh orang-orang seketurunan. Konon, moyang semua orang Dukuh Paruk adalah Ki Secamenggala, seorang bromocorah yang sengaja mencari daerah paling sunyi sebagai tempat menghabiskan riwayat keberandalannya. Di Dukuh Paruk inilah akhirnya Ki Secamenggala menitipkan darah dagingnya.
 
 Semua orang Dukuh Paruk tahu Ki Secamenggala, moyang mereka, dahulu menjadi musuh kehidupan masyarakat. Tetapi mereka memujanya. Kubur Ki Secamenggala yang terletak di punggung bukit kecil di tengah Dukuh Paruk menjadi kiblat kehidupan kebatinan mereka. Gumpalan abu kemenyan pada nisan kubur Ki Secamenggala membuktikan polah-tingkah kebatinan orang Dukuh Paruk berpusat disana .
 
 Di tepi kampung, tiga orang anak laki-laki sedang bersusah-payah mencabut sebatang singkong. Namun ketiganya masih terlampau lemah untuk mengalahkan cengkeraman akar ketela yang terpendam dalam tanah kapur. Kering dan membatu. Mereka terengah-engah, namun batang singkong itu tetap tegak di
tempatnya. Ketiganya hampir berputus asa seandainya salah seorang anak di antara mereka tidak menemukan akal.
 
 “Cari sebatang cungkil,” kata Rasus kepada dua temannya. “ Tanpa cungkil mustahil kita dapat mencabut singkong sialan ini.”
 
 “Percuma. Hanya sebatang linggis dapat menembus tanah sekeras ini,” ujar Warta. “Atau lebih baik kita mencari air. Kita siram pangkal batang singkong kurang ajar ini. Pasti nanti kita mudah mencabutnya.”
 
 “Air?” ejek Darsun, anak yang ketiga. “Di mana kau dapat menemukan air?”
 
 “Sudah, sudah. Kalian tolol,” ujar Rasus tak sabar. “Kita kencingi beramai-ramai pangkal batang singkong ini. Kalau gagal juga, sungguh bajingan.”
 
 Tiga ujung kulup terarah pada titik yang sama. Currrr. Kemudian Rasus, Warta dan Darsun
berpandangan. Ketiganya mengusap telapak tangan masing-masing. Dengan tekad terakhir mereka mencoba mencabut batang singkong itu kembali.
 
 Urat-urat kecil di tangan dan di punggung menegang. Ditolaknya bumi dengan hentakan kaki sekuat mungkin. Serabut-serabut halus terputus. Perlahan tanah merekah. Ketika akar terakhir putus ketiga anak Dukuh Paruk itu jatuh terduduk. Tetapi sorak-sorai segera terhambur. Singkong dengan umbi-umbinya yang hanya sebesar jari tercabut.
 
 Adat Dukuh Paruk mengajarkan, kerja sama antara ketiga anak laki-laki itu harus berhenti di sini. Rasus, Warta dan Darsun kini harus saling adu tenaga memperebutkan umbi singkong yang baru mereka cabut. Rasus dan Warta mendapat dua buah, Darsun hanya satu. Tak ada protes. Ketiganya kemudian sibuk mengupasi bagiannya dengan gigi masing-masing, dan langsung mengunyahnya. Asinnya tanah. Sengaknya kencing sendiri.

Sambil membersihkan mulutnya dengan punggung lengan, Rasus mengajak kedua temannya melihat kambing-kambing yang sedang mereka gembalakan. Yakin bahwa binatang gembalaan mereka tidak merusak tanaman orang, ketiganya berjalan ke sebuah tempat di mana mereka sering bermain. Di bawah pohon nangka itu mereka melihat Srintil sedang asyik bermain seorang diri. Perawan kecil itu sedang merangkai daun nangka dengan sebatang lidi untuk dijadikan sebuah mahkota.
 
 Duduk bersimpuh di tanah sambil meneruskan pekerjaannya, Srintil berdendang. Siapa pun di Dukuh Paruk, hanya mengenal dua irama. Orang-orang tua bertembang kidung, dan anak-anak menyanyikan lagu-lagu ronggeng. Dengan suara kekanak-kanakannya, Srintil mendendangkan lagu kebanggaan para ronggeng: Senggot timbane rante, tiwas ngegot ning ora suwe.
 
 Lagu erotik. Srintil, perawan yang baru sebelas tahun, menyanyikannya dengan sungguh-sungguh. Boleh jadi Srintil belum faham benar makna lirik lagu itu. Namun sama saja. Dukuh Paruk tidak akan bersusah hati bila ada anak kecil menyanyikan lagu yang paling cabul sekalipun.
 
 Betapa asyik Srintil dengan dendangnya, terbukti dia tidak menyadari ada tiga anak laki-laki sudah berdiri di belakangnya. Srintil baru sadar ketika sedang mencoba memasang mahkota daun nangka ke atas kepalanya.
 
 “Terlalu besar,” ujar Rasus mengejutkan Srintil. Perawan kecil itu mengangkat muka.
 
 “Aku bersedia membuatkan badongan untukmu,” sambung Rasus menawarkan jasa.
 
 “Tak usah. Kalau mau, ambilkan aku daun bacang. Nanti badongan ini lebih baik,” jawab Srintil.
 
 Rasus tersenyum. Baginya, memenuhi permintaan Srintil selalu menyenangkan. Maka dia berbalik, menoleh kiri-kanan mencari sebatang pohon bacang. Setelah didapat, Rasus memanjat. Cepat seperti seekor monyet. Dipetiknya beberapa lembar daun bacang yang lebar. Pikir Rasus, dengan daun itu mahkota di kepala Srintil akan bertambah manis.
 
 Dengan bantuan ketiga anak laki-laki itu Srintil dapat menyelesaikan mahkota daunnya. Ukurannya tepat.

“Bagus sekali,” kata Rasus setelah melihat badongan daun nangka itu menghias kepala Srintil.
 
 “Sungguh?” balas Srintil meyakinkan.
 
 “Aku tidak bohong. Bukankah begitu, Warta ? Darsun?”
 
 “Ya, benar. Engkau cantik sekali sekarang,” ujarWarta .
 
 “Seperti seorang ronggeng?” tanya Srintil lagi. Gayanya manja.
 
 “Betul.”
 
 “Ah, tidak,” potong Darsun. “Kecuali engkau mau menari seperti ronggeng.”
 
 Srintil diam. Dipandangnya ketiga anak laki-laki di hadapannya. Dalam hati Srintil merasa penasaran. Apakah kalian menyangka aku tak bisa menari seperti seorang ronggeng? tanya Srintil.
 
 “Baik, aku akan menari. Kalian harus mengiringi tarianku. Bagaimana?” tantang Srintil.
 
 “Wah, jadi kalau begitu,” jawab Rasus cepat.

 “Aku akan menirukan bunyi gendang.Warta menirukan calung dan Darsun menirukan gong tiup. Hayo!”
 
 Di pelataran yang membatu di bawah pohon nangka. Ketika angin tenggara bertiup dingin menyapu harum bunga kopi yang selalu mekar di musim kemarau. Ketika sinar matahari mulai meredup di langit barat. Srintil menari dan bertembang. Gendang, gong dan calung mulut mengiringinya. Rasus bersila, menepak-nepak lutut menirukan gaya seorang penggendang. Warta mengayunkan tangan ke kiri-kanan,
seakan ada perangkat calung di hadapannya. Darsun membusungkan kedua pipinya. Suaranya berat menirukan bunyi gong.

Siapa yang akan percaya, tak seorang pun pernah mengajari Srintil menari dan bertembang. Siapa yang akan percaya belum sekali pun Srintil pernah melihat pentas ronggeng. Ronggeng terakhir di Dukuh Paruk mati ketika Srintil masih bayi. Tetapi di depan Rasus, Warta dan Darsun, Srintil menari dengan baiknya.
 
 Mimik penagih birahi yang selalu ditampilkan oleh seorang ronggeng yang sebenarnya, juga diperbuat oleh Srintil saat itu. Lenggok lehernya, lirik matanya, bahkan cara Srintil menggoyangkan pundak akan memukau laki-laki dewasa manapun yang melihatnya. Seorang gadis kencur seperti Srintil telah mampu menirukan dengan baiknya gaya seorang ronggeng. Dan orang Dukuh Paruk tidak bakal heran.
 
 Di pedukuhan itu ada kepercayaan kuat, seorang ronggeng sejati bukan hasil pengajaran. Bagaimanapun diajari, seorang perawan tak bisa menjadi ronggeng kecuali roh indang telah merasuk tubuhnya. indang adalah semacam wangsit yang dimuliakan di dunia peronggengan.
 
 Demikian, sore itu Srintil menari dengan mata setengah tertutup, jari tangannya melentik kenes. Ketiga anak laki-laki yang mengiringinya menyaksikan betapa Srintil telah mampu menyanyikan banyak lagu-lagu ronggeng.
 
 Mulut Rasus dan kedua temannya pegal sudah. Namun terus melenggang dan melenggok. Alunan tembangnya terus mengalir seperti pancuran di musim hujan.
 
 Betapapun, akhirnya Srintil berhenti karena mulut ketiga pengiringnya bungkam. Tidak tampak tanda Srintil lelah. Bahkan kepada ketiga kawannya, Srintil masih menuntut.
 
 “Wah, lagi, ya!” desaknya.
 
 “Mengaso dulu. Mulutku pegal,” jawab Rasus.
 
 “Ya, kita berhenti dulu. Kita hanya akan bermain lagi kalau Srintil berjanji akan memberi kami upah,” kata warta .

“Baik, baik. Kalian minta upah apa?”
 
 Warta diam. Rasus tersenyum sambil memandang Darsun.
 
 “Kalian minta upah apa?” ulang Srintil. Berkata demikian Srintil melangkah ke arah Rasus. Dekat sekali. Tanpa bisa mengelak, Rasus menerima cium di pipi. Warta dan Darsun masing-masing mendapat giliran kemudian. Sebelum ketiga anak laki-laki itu sempat berbuat sesuatu, Srintil menagih janji.
 
 “Nah. Kalian telah menerima upah. Sekarang aku menari. Kalian harus mengiringi lagi.”
 
 Ketiganya patuh. Ceria di bawah pohon nangka itu berlanjut sampai matahari menyentuh garis cakrawala. Sesungguhnya Srintil belum hendak berhenti menari. Namun Rasus berkeberatan karena ia harus menggiring tiga ekor kambingnya pulang ke kandang. Pada akhir permainan, Rasus, Warta dan Darsun minta upah. Kali ini mereka yang berebut menciumi pipi Srintil. Perawan kecil itu melayani bagaimana laiknya seorang ronggeng. Sebelum berlari pulang, Srintil minta jaminan besok hari Rasus dan dua temannya akan bersedia kembali bermain bersama.
 
 Karena letak Dukuh Paruk di tengah amparan sawah yang sangat luas, tenggelamnya matahari tampak dengan jelas dari sana. Angin bertiup ringan. Namun cukup meluruhkan dedaunan dari tangkainya. Gumpalan rumput kering menggelinding dan berhenti karena terhalang pematang.
 
 Hilangnya cahaya matahari telah dinanti oleh kelelawar dan kalong. Satu-satu mereka keluar dari sarang, di lubang-lubang kayu, ketiak daun kelapa atau kuncup daun pisang yang masih menggulung. Kemarau tidak disukai oleh bangsa binatang mengirap itu. Buah-buahan tidak mereka temukan. Serangga pun seperti lenyap dari udara. Pada saat demikian kampret harus mau melalap daun waru agar kehidupan
jenisnya lestari.
 
 Pelita-pelita kecil dinyalakan. Kelap-kelip di kejauhan membuktikan di Dukuh Paruk yang sunyi ada kehidupan manusia. Bulan yang lonjong hampir mencapai puncak langit. Cahayanya membuat bayangan temaram di atas tanah kapur Dukuh Paruk. Kehadirannya di angkasa tidak terhalang awan. Langit bening. Udara kemarau makin malam makin dingin.
 
 Pagelaran alam yang ramah bagi anak-anak. Halaman yang kering sangat menyenangkan untuk arena bermain. Cahaya bulan mencipta keakraban antara manusia dengan lingkup fitriyahnya. Anak-anak, makhluk kecil yang masih lugu, layak hadir di halaman yang berhias cahaya bulan. Mereka pantas berkejaran, bermain dan bertembang. Mereka sebaiknya tahu masa kanak-kanak adalah surga yang hanya sekali datang.
 
 Tidak, tidak. Awal malam yang ceria itu tidak berbias lengking anak-anak Dukuh Paruk. Kemarau terlampau panjang tahun ini. Dua bulan terakhir tiada lagi padi tersimpan di rumah orang Dukuh Paruk. Mereka makan gaplek. Anak-anak makan nasi gaplek. Karbohidrat yang terkandung dalam singkong
kering itu banyak rusak. Anak-anak tidak berbekal cukup kalori untuk bermain siang malam.
 
 Jadi pada malam yang bening itu, tak ada anak Dukuh Paruk keluar halaman. Setelah menghabiskan sepiring nasi gaplek mereka lebih senang bergulung dalam kain sarung, tidur di atas balai-balai bambu. Mereka akan bangun besok pagi bila sinar matahari menerobos celah dinding dan menyengat kulit
mereka.
 
 Orang-orang dewasa telah bekerja keras di siang hari. Tanaman musim kemarau berupa sayuran, tembakau dan palawija harus disiram dengan air sumur yang khusus mereka gali. Bila malam tiba, keinginan mereka tidak berlebihan; duduk beristirahat sambil menggulung tembakau dengan daun pisang
atau kulit jagung kering. Sedikit tengah malam mereka akan naik tidur. Pada saat kemarau panjang seperti itu mustahil ada perempuan Dukuh Paruk hamil.
 
 Menjelang tengah malam barangkali hanya Sakarya yang masih termangu di bawah lampu minyak yang bersinar redup. Sakarya, kami tua di pedukuhan terpencil itu masih merenungi ulah cucunya sore tadi. Dengan diam-diam Sakarya mengikuti gerak-gerik Srintil ketika cucunya itu menari di bawah pohon nangka. Sedikit pun Sakarya tidak ragu, Srintil telah kerasukan indang ronggeng.
 
 Sakarya tersenyum. Sudah lama pemangku keturunan Ki Secamenggala itu merasakan hambarnya Dukuh Paruk karena tidak terlahirnya seorang ronggeng disana. “Dukuh Paruk tanpa ronggeng, bukanlah Dukuh Paruk. Srintil, cucuku sendiri, akan mengembalikan citra sebenarnya pedukuhan ini,” kata Sakarya kepada dirinya sendiri. Sakarya percaya, arwah Ki Secamenggala akan terbahak di kuburnya bila kelak tahu ada ronggeng di Dukuh Paruk.
 
 Tak seorang pun menyalahkan pikiran Sakarya. Dukuh Paruk hanya lengkap bila disana ada keramat Ki Secamenggala, ada seloroh cabul, ada sumpah-serapah dan ada ronggeng bersama perangkat calungnya.
Gambaran tentang Dukuh Paruk dilengkapi oleh ucapan orang luar yang senang berkata misalnya, “Jangan mengabadikan kemelaratan seperti orang Dukuh Paruk.” Atau, “Hai, anak-anak, pergilah mandi. Kalau tidak nanti kupingmu mengalir nanah, kakimu kena kudis seperti anak-anak Dukuh Paruk!”
 
 Keesokan harinya Sakarya menemui Kartareja. Laki-laki yang hampir sebaya ini secara turun-temurun menjadi dukun ronggeng di Dukuh Paruk. Pagi itu Kartareja mendapat kabar gembira. Dia pun sudah bertahun-tahun menunggu kedatangan seorang calon ronggeng untuk diasuhnya. Belasan tahun sudah perangkat calungnya tersimpan di para-para di atas dapur. Dengan laporan Sakarya tentang Srintil, dukun ronggeng itu berharap bunyi calung akan kembali terdengar semarak di Dukuh Paruk.
 
 “Kalau benar tuturmu, Kang, kita akan tetap betah tinggal di pedukuhan ini,” kata Kartareja menanggapi laporan Sakarya.
 
 “Eh, sampean lihat sendiri nanti,” jawab Sakarya. “Srintil akan langsung menari dengan kenesnya bila mendengar suara calungmu.”
 
 Kartareja mengangguk-angguk. Bibirnya yang merah kehitaman oleh kapur sirih bergoyang ke kiri-kanan. Lalu disemprotkannya sisa tembakau yang tertinggal di mulutnya.
 
 “Ah, Kang Sakarya. Aku tak lagi diperlukan kalau begitu. Bukankah Srintil sudah menjadi ronggeng sejak lahir?” kata Kartareja tawar. Dia sedikit tersinggung. Keahliannya mengasuh ronggeng merasa disepelekan.
 
 “Eh, sampean salah tangkap. Maksudku, Srintil benar-benar telah mendapat indang. Masakan sampean tidak menangkap maksudku ini.”
 
 “Oh, begitu.”
 
 “Ya. Dan tentu sampean perlu memperhalus tarian Srintil. Cucuku tampaknya belum pintar melempar sampur. Nah, ada lagi yang penting; masalah 'rangkap' tentu saja. Itu urusanmu, bukan?”
 
 Kartareja terkekeh. Dia merasa tidak perlu berkata apa-apa. “Rangkap” yang dimaksud oleh Sakarya tentulah soal guna-guna, pekasih, susuk dan tetek-bengek lainnya yang akan membuat seorang ronggeng laris. Kartareja dan istrinya sangat ahli dalam urusan ini.
 
 “Pokoknya Dukuh Paruk akan kembali mempunyai ronggeng. Bukankah begitu, Kang?”

“Eh, ya. Memang begitu. Kita yang tua-tua di pedukuhan ini tak ingin mati sebelum melihat Dukuh Paruk kembali seperti aslinya dulu. Bahkan aku takut arwah Ki Secamenggala akan menolakku di kubur bila aku tidak melestarikan ronggeng di pedukuhan ini.”
 
 “Bukan hanya itu, Kang. Bukankah ronggeng bisa membuat kita betah hidup?”
 
 Kedua kakek itu tertawa bersama. Di antara gelaknya Sakarya mengeluh mengapa dia tidak bisa mengundurkan usianya dari tujuh puluh menjadi dua puluh tahun.
 
 Beberapa hari kemudian Sakarya dan Kartareja selalu mengintip Srintil menari di bawah pohon nangka. Kedua laki-laki tua itu sengaja membiarkan Srintil menari sepuas hatinya diiringi calung mulut oleh Rasus dan kedua kawannya. Kartareja percaya akan ceritera Sakarya. Srintil telah kemasukan indang ronggeng.
 
 Pada hari baik, Srintil diserahkan oleh kakeknya, Sakarya kepada Kartareja. Itu hukum Dukuh Paruk yang mengatur perihal seorang calon ronggeng. Keluarga calon harus menyerahkannya kepada dukun ronggeng, menjadi anak akuan.
 
 Dua belas tahun sejak kematian ronggeng Dukuh Paruk yang terakhir. Selama itu Dukuh Paruk tanpa suara calung. Perangkat gamelan bambu itu telah tertutup lapisan debu campur jelaga di para-para dapur keluarga Kartareja. Tali ijuk yang merenteng tiap mata calung telah putus oleh gigitan tikus atau ngengat.
 
 Untung.
 
 Serangga bubuk dan anai-anai tak merapuhkan gamelan bambu itu. Untung pula, Kyai Comblang, gendang pusaka milik keluarga Kartareja tetap disimpan dengan perawatan istimewa. Perkakas itu siap pakai meski telah istirahat dalam waktu lama.
 
 Kesulitan pertama yang dihadapi Kartareja bukan masalah bagaimana memperbaiki alat musiknya, melainkan bagaimana dia mendapat para penabuh. Penabuh gendang yang disayanginya meninggal pada malapetaka paceklik dua tahun lalu. Seorang lagi yang biasa melayani calung penerus, lenyap entah ke mana. Tetapi bagaimanapun Kartareja beruntung. Dia berhasil menemukan kembali Sakum, laki-laki dengan sepasang mata keropos namun punya keahlian istimewa dalam memukul calung besar.

Sakum, dengan mata buta mampu mengikuti secara seksama pagelaran ronggeng. Seperti seorang awas, Sakum dapat mengeluarkan seruan cabul tepat pada saat ronggeng menggerakkan pinggul ke depan dan ke belakang. Pada detik ronggeng membuat gerak birahi, mulut Sakum meruncing, lalu keluar suaranya yang terkenal; Cessss! Orang mengatakan, tanpa Sakum setiap pentas ronggeng tawar rasanya.
 
 Kemarau masih mengulur waktu. Kartareja menemukan hari dan malam cerah buat mulai mengasuh Srintil.
 
 Senja yang telah ditunggu semua warga Dukuh Paruk. Kartareja menyuruh orang membersihkan halamannya. Empat helai tikar pandan digelar di tengah tanah kering berpasir itu. Setelah hari gelap, sebuah lampu minyak besar dinyalakan. Terang, sebab pada sumbu-lampu minyak itu dipasang sebuah cincin penerang. Suasana demikian mengundang anak-anak. Mereka bergerombol memperhatikan orang-orang bekerja. Semuanya telah tahu, malam itu Srintil akan menari.
 
 Di dalam rumah, Nyai Kartareja sedang merias Srintil. Tubuhnya yang kecil dan masih lurus tertutup kain sampai ke dada. Angkinnya kuning. Di pinggang kiri kanan ada sampur berwarna merah saga. Srintil didandani seperti laiknya seorang ronggeng dewasa. Kulitnya terang karena Nyai Kartareja telah melumurinya dengan tepung bercampur air kunyit. Istri dukun ronggeng itu juga telah menyuruh Srintil mengunyah sirih. Bibir yang masih sangat muda itu merah.
 
 Banyak perempuan dan anak-anak memenuhi rumah Kartareja. Mereka ingin melihat Srintil dirias. Sepanjang usianya yang sebelas tahun, baru pertama kali Srintil menjadi perhatian orang. Dia tersipu. Terkadang tertawa kecil bila dia mendengar orang berbisik memuji kecantikannya. Mulutnya mungil. Cambang tipis di pipinya menjadi nyata setelah Srintil dibedaki. Alis yang diperjelas dengan jelaga
bercampur getah pepaya membuatnya kelihatan seperti boneka.
 
 Satu hal disembunyikan oleh Nyai Kartareja terhadap siapa pun. Itu, ketika dia meniupkan mantra pekasih ke ubun-ubun Srintil. Mantra yang di Dukuh Paruk dipercaya akan membuat siapa saja tampak lebih cantik dari yang sebenarnya;
 
 uluk-uluk perkutut manggung
 teka saka ngendi,
 teka saka tanah sabrang
 pakanmu apa,
pakanku madu tawon
 manis madu tawon,
 ora manis kaya putuku, Srintil.
 
 Konon bukan hanya itu.
 
 Beberapa susuk emas dipasang oleh Nyai Sakarya di tubuh Srintil.
 
 Orang-orang yang sudah berkumpul hendak melihat Srintil menari mulai gelisah. Mereka sudah begitu rindu akan suara calung. Belasan tahun lamanya mereka tidak melihat pagelaran ronggeng. Maka bukan main senang hati mereka ketika mendengar Kartareja bersuara; pertunjukan akan dimulai.
 
 Lingkaran yang terdiri atas warga Dukuh Paruk segera terbentuk. Tiga penabuh duduk bersila
menghadapi perangkat pengiring; sebuah gendang, dua calung dan sebuah gong tiup yang terbuat dari seruas bambu besar. Sehelai tikar tersedia bagi tempat Srintil menari. Sakum yang menghadapi calung besar cepat menjadi perhatian orang. Tampaknya dia tidak mengutuk matanya yang buta. Sakum hanya
tersenyum. Cengar-cengir. Kedua tangannya memegang pemukul calung, siap menunggu aba-aba gendang.
 
 Ketika Srintil muncul dituntun Nyai Kartareja, semua mata terarah kepadanya. Rasus yang berdiri di lapisan penonton paling depan ternganga. Dia tak percaya dirinya telah mencium Srintil beberapa hari yang lalu. Srintil didudukkan di tengah tikar. Tidak bergerak, bahkan dia tidak menggulirkan bola matanya. Kartareja muncul dengan pedupaan yang dibawanya berkeliling arena. Tungku kecil yang
mengepulkan asap kemenyan itu kemudian diletakannya dekat gendang.
 
 Hening.
 
 Tanggapan hanya berupa bisik-bisik lirih. Seorang perempuan menggamit lengan teman di sebelahnya, memuji kecantikan Srintil. Rasus Warta dan Darsun memandang boneka di tengah tikar itu tanpa kedipan mata. Srintil, yang sering menari di bawah pohon nangka kini tampil di tengah pentas.
 
 Kepada tukang gendang, Kartareja memberi isyarat. Detik berikutnya bergemalah irama calung yang  dikembari tepuk tangan hampir semua warga Dukuh Paruk. Sakum mulai bertingkah. Dengan lenggang-lenggok jenaka ia memainkan calungnya. Satu-dua seruan cabul mulai meluncur dari mulutnya. Setiap kali berseru, Sakum mendapat tepuk tangan yang riuh.
 
 Penonton menunda kedipan mata ketika Srintil bangkit. Hanya dituntun oleh nalurinya, Srintil mulai menari. Matanya setengah terpejam. Sakarya yang berdiri di samping Kartareja memperhatikan ulah cucunya dengan seksama. Dia ingin membuktikan kata-katanya, bahwa dalam tubuh Srintil telah bersemayam indang ronggeng. Dan Kartareja, sang dukun ronggeng mendapat kenyataan seperti itu.
 
 Ketika Srintil menyanyikan lagu yang sulit-sulit, yang pasti dia belum pernah mempelajarinya, bulatlah hati Kartareja. Dia harus percaya bahwa Srintil mendapat indang. Kartareja percaya penuh, Srintil dilahirkan di Dukuh Paruk atas restu arwah Ki Secamenegala dengan tugas menjadi ronggeng. Penampilan Srintil yang pertama, membuat Kartareja mengangguk dan mengangguk. “Sakarya tidak berlebihan dengan kata-katanya beberapa hari yang lalu,” pikir Kartareja.
 
 Selama menari wajah Srintil dingin. Pesonanya mencekam setiap penonton. Banyak orang terharu dan kagum melihat bagaimana Srintil melempar sampur. Bahkan Srintil mampu melentikkan jari-jari tangan,
sebuah gerakan yang paling sulit dilakukan oleh seorang ronggeng. Penampilan Srintil masih dibumbui dengan ulah Sakum lestari kocak dan cabul. Suara “cesss” tak pernah luput pada saat Srintil menggoyang pinggul.
 
 Satu babak telah usai. Calung berhenti, dan Srintil kembali duduk. Gumam penonton terdengar. Seorang perempuan mengisak. Rasa harunya setelah melihat Srintil menari menyebabkan air matanya menetes.
 
 “Tak kusangka Srintil bisa menari sebagus itu,” katanya. “Kalau boleh aku ingin menggendongnya, membuainya sampai dia lelap di pangkuanku.”
 
 “Yah, aku pun ingin mencuci pakaiannya. Aku akan memandikannya besok pagi,” kata perempuan lainnya.
 
 “Eh, kalian dengar. Srintil bukan milik orang per orang. Bukan hanya kalian yang ingin memanjakan Srintil. Sehabis pertunjukan nanti aku mau minta ijin kepada Nyai Kartareja.”
 
 “Engkau mau apa?”

“Memijat Srintil. Bocah ayu itu pasti lelah nanti. Dia akan kubelai sebelum tidur.”
 
 “Yah, Srintil. Bocah kenes, bocah kewes. Andaikata dia lahir dari perutku!” kata perempuan lainnya lagi. Berkata demikian, perempuan itu mengusap matanya sendiri. Kemudian membersihkan air mata yang menetes dari hidung.
 
 Rasus yang sejak semula berdiri tak bergerak di tempatnya mendengar segala pergunjingan itu. Anak laki-laki berusia tiga belas tahun itu merasa ada sesuatu yang terlangkahi di hatinya. Ia merasa Srintil telah menjadi milik semua orang Dukuh Paruk. Rasus cemas tidak bisa lagi bermain sepuasnya dengan Srintil
di bawah pohon nangka. Tetapi Rasus tak berkata apa pun. Dia tetap terpaku di tempatnya sampai pentas itu berakhir hampir tengah malam.
 
 Orang-orang Dukuh Paruk pulang ke rumah masing-masing. Mereka, baik lelaki maupun perempuan, membawa kenangan yang dalam. Malam itu kenangan atas Srintil meliputi semua orang Dukuh Paruk. Penampilan Srintil malam itu mengingatkan kembali bencana yang menimpa Dukuh Paruk sebelas tahun
yang lalu.
 
 Srintil adalah seorang yatim piatu-sisa sebuah malapetaka, yang membuat banyak anak Dukuh Paruk kehilangan ayah-ibu.
 
 Sebelas tahun yang lalu ketika Srintil masih bayi. Dukuh Paruk yang kecil basah kuyup tersiram hujan lebat. Dalam kegelapan yang pekat, pemukiman terpencil itu lengang, amat lengang.
 
 Hanya tangis bayi dan lampu kecil berkelip menandakan pedukuhan itu berpenghuni. Tak ada suara kecuali suara kodok. Bangsa reptil itu berpesta pora, bertunggangan dan kawin. Besok pagi, hasil pesta mereka akan tampak. Kodok betina meninggalkan untaian telur yang panjang. Katak hijau menghimpun telurnya dalam kelompok yang terapung di permukaan air. Katak daun menyimpan telurnya pada gumpalan busa yang melekat pada ranting semak-semak.
 
 Seandainya ada seorang di Dukuh Paruk yang pernah bersekolah, dia dapat mengira-ngira saat itu hampir pukul dua belas tengah malam, tahun 1946. Semua penghuni pedukuhan itu telah tidur pulas, kecuali Santayib, ayah Srintil. Dia sedang mengakhiri pekerjaannya malam ini. Bungkil ampas minyak kelapa yang telah ditumbuk halus dibilas dalam air. Setelah dituntas kemudian dikukus. Turun dari tungku, bahan ini diratakan dalam sebuah tampah besar dan ditaburi ragi bila sudah dingin. Besok hari pada bungkil ampas minyak kelapa itu akan tumbuh jamur-jamur halus. Jadilah tempe bongkrek. Sudah sejak lama Santayib memenuhi kebutuhan orang Dukuh Paruk akan tempe itu.




Bersambung... 

______________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...