Jumat, 26 Maret 2021

JANTERA BIANGLALA 02

                            Episode 7



Srintil hampir kehabisan napas. Ketika langkah pertamanya menginjak tanah Dukuh Paruk ambruklah dia. Tas kecil yang berisi pakaian satu atau dua lembar, terlempar ke samping. Srintil tertelungkup mencium tanah. Jeritnya serta-merta menghentikan semua gerakan anak-anak yang sedang berkeliaran. Mereka terpaku memandang seorang perempuan yang sedang berusaha merangkul tanah sambil menangis. Sekejap kemudian muncul beberapa orang lelaki dan perempuan. Nyai Sakarya yang paling pertama sadar akan apa yang dilihatnya. Dia berlari kemudian menubruk Srintil yang masih terkulai di tanah.

"Oalah, Gusti Pengeran! Gusti, Gusti. Srintil pulang. Srintil, Cucuku Wong Ayu! Engkau
masih hidup? Eman, eman, Cucuku. Engkau masih hidup?"

Srintil yang lunglai digeluti oteh tiga orang perempuan sambil menangis. Dia kemudian
dipapah karena tak mampu lagi berjalan sendiri. Namun Srintil kembali menjerit ketika dari balik genangan air matanya dia melihat Dukuh Paruk sudah sangat berubah. Dan tangisnya makin menjadi-jadi manakala Srintil membenamkan wajahnya ke pangkuan neneknya, Nyai Sakarya. 

Dukuh Paruk kembali menjatuhkan pundak-pundak yang berat, kembali bersimbah air
mata. Srintil sudah kembali setelah sekian tahun menjadi sumber ketidakpastian yang
memanggang semua orang Dukuh Paruk. Srintil sudah kembali. Sebuah jimat telah berada kembali ke pangkuan ibunya. Dukuh Paruk lega. Dan sekaligus berduka karena kepulangan Srintil tidak bisa tidak telah membuka kembali nestapa lama ketika ujung
pedang menuding Dukuh Paruk bersangkut-paut dengan penyebab mala petaka 1965.
Nestapa apa namanya ketika Dukuh Paruk merasa seakan tidak boleh lagi ikut merasa
memiliki matahari, bumi, dan langit? Nestapa apa namanya ketika Dukuh Paruk merasa
segala cicak dan tokek ikut mencibir dan menertawakannya? Dan nestapa apa namanya
ketika Dukuh Paruk hanya merasa sebagai tinja kehidupan? Tinja yang harus ada pada diri orang paling bermartabat sekalipun, namun tinja sendiri jauh dari segala martabat.

Semua warga puak berkumpul di rumah Sakarya. Semua ingin melihat dan meyakinkan
diri dengan pasti bahwa kerabat yang paling mereka hargakan sudah datang dari antah-berantah. Namun tumpahan segala perasaan hanyalah kebisuan. Dan sedu-sedan perempuan, kebingungan anak-anak. Selebihnya, diam. Hanya Sakarya yang berjalan
berputar-putar sambil menggendong tangan. Baginya kepulangan Srintil mempunyai nilai khas; kekhawatirannya akan mati tanpa ditunggui oleh seorang cucu kesayangan kini lenyap.

Srintil duduk rapat dengan tubuh neneknya. Dengan mata sembab dipandangnya seluruh kerabat seorang demi seorang. Ketika melihat Goder berdiri bergayutan pada tangan Tampi, wajah Stintil berubah. Matanya bersinar, mata seorang ibu sejati yang telah sekian lama terpaksa berpisah dengan anaknya dan kini keduanya berhadap-hadapan. Tetapi Goder tak mampu membaca makna sinar mata seorang yang sudah lama tidak dilihatnya. Goder menyembunyikan diri di balik tubuh Tampi. Bahkan dia menangis keras-keras ketika Srintil membopongnya, mendekapnya kuat-kuat dan
menciuminya. Beberapa orang perempuan menundukkan kepala, tidak tega melihat
kerinduan Srintil ditampik oleh Goder. 

Sejak hari pertama kemunculan Srintil di tengah kaum kerabat Dukuh Paruk, banyak
orang ingin tahu pengalamannya selama dua tahun lebih dia lenyap dari tengah pergaulan umum. Tidak sedikit orang yang ingin mengerti pengalaman Srintil dari hari ke hari, bahkan dari jam ke jam atau dari detik ke detik. Orang ingin tahu barangkali ada sesuatu yang luar biasa dalam pengalaman Srintil itu. Hasrat yang tidak aneh karena pada setiap diri terkandung kadar kecenderungan menyukai hal-hal sensasi. Atau demi tujuan yang lebih nyata, keobyektifan sebuah biografi misalnya, orang menginginkan catatan lengkap dan jujur tentang pengalaman Srintil.

Kemudian, mungkinkah kiranya seorang penyusun riwayat hidup yang paling unggul
sekalipun mampu menyelesaikan pekerjaannya bila yang harus dia susun adalah biografi Srintil? Karena pertama, tak seorang pun bersedia memberi keterangan di mana dan bagaimana Srintil selama masa dua tahun lebih itu. Kedua, Srintil sudah mengunci dirinya pada satu tekad bulat bahwa dia tidak akan berkata apa pun dan kepada siapa pun tentang pengalamannya. Ketiga, sebenarnya orang bisa berharap pada suatu ketika kelak Srintil menerbitkan sebuah memoar. Namun harapan ini pasti sia-sia karena Srintil sama sekali buta huruf.

Maka orang akhirnya harus percaya akan keperkasaan sang waktu, akan kecanggihan isi
perutnya yang mampu menyimpan segala rahasia sejarah. Tetapi akan ada orang
mengatakan, menyerah kepada kunci waktu adalah kelemahan dan keputusasaan yang
harus dibuang jauh. Orang-orang semacam ini tetap tidak puas apabila rekaman sejarah Srintil sepanjang dua tahun terhapus percuma dan hanya direlakan menjadi bagian rahasia sejarah. Sejarah adalah sejarah. Kedudukan sejarah sebagai guru kehidupan tak mungkin disingkirkan. Kedewasaan dan kearifan hidup bisa dibina, baik dengan sejarah tentang kepahlawanan dan budi luhur maupun dengan sejarah tentang pengkhianatan dan kebejatan manusia.

Atau sejarah sesungguhnya tak pernah berhenti membuat catatan. Apabila sejarah
tidak membuat catatan dalam prasasti atau lembaran kertas maka dia membuatnya di
tempat lain. Tentang riwayat hidup seorang manusia misalnya, maka sejarah pertama-
tama mencatatnya pada kepribadian si manusia itu sendiri. Pengalaman-pengalaman
yang lembut dan santai mungkin tidak tercatat dalam garis-garis kehidupan secara nyata. Namun pengalaman-pengalaman yang keras dan getir tentu akan tergores dalam-dalam pada jiwa, pada sikap dan perilaku, dan tak mustahil akan mengubah sama sekali kepribadian seseorang.

Misalnya, mengapa Srintil segera lari kocar-kacir sesaat dia diturunkan dari sebuah jip
di mulut pematang yang menuju Dukuh Paruk. Tanpa sekali pun menoleh ke belakang Srintil terus berlari seperti pipit dikejar alap-alap, jatuh-bangun, jatuh dan bangun lagi. Dan Srintil ambruk tertiarap ketika kakinya menginjak kembali bumi Dukuh Paruk.

Dan mengapa Srintil pada hari-hari pertama kepulangannya hanya bisa diam dan diam.
Mengapa pula Srintil kelihatan amat lelah dan wajahnya kelihatan jauh lebih tua dari usianya yang baru dua puluh tiga tahun. Demikian. Namun pada pekan kedua Srintil kelihatan keluar rumah. Masih lesu. Jalannya lambat dan selalu menatap bumi. Srintil bergerak ke arah rumah Tampi. Sesudah perasaannya mengendap tiba-tiba berkecamuk rasa rindu kepada Goder. Tidak sekali pun Srintil pernah berpikir bahwa Goder bukan anaknya meski bocah yang sudah berusia empat tahun itu lahir dari rahim Tampi.

Tetapi Goder sudah pangling akan Srintil. Dia menyuruk ke selangkangan Tampi ketika Srintil hendak menyentuh badannya. Srintil tidak berputus asa, terus merayu dan mengajuk. Dan Goder tetap menghindar. Akhirnya Srintil bangkit mengusap air mata.

"Tampi, apakah kamu mengajari Goder membenciku?" kata Srintil sambil mengisak



                         Episode 8



"Oalah, Jenganten. Tidak, sekali-kali tidak," ujar Tampi dengan rasa pekewuh yang sangat.

Dan Srintil terus menangis, menutup muka dengan kedua tangannya. Isaknya tertahan-
tahan. Adalah Srintil sendiri atau boleh jadi orang-orang seperti dia yang merasakan betapa nelangsa manakala uluran tangan dan kasih sayangnya ditampik oleh seorang bocah. Kelakuan Goder membuat Srintil amat mudah bertanya, "Betulkah aku telah menjadi orang yang demikian tak berharga hingga seorang bocah pun tak mau
menerima uluran tanganku?"

"Mak, kenapa dia menangis, Mak?" kata Goder tiba-tiba.

"Karena kamu nakal. Kamu tak mau dibopongnya," jawab Tampi.

"Siapa dia, Mak?"

"Oalah, Anakku! Dia juga emakmu. Emakmu ada dua, aku dan dia."

Mata Goder membulat. Bening dan tanpa berkedip ditatapnya Srintil yang masih
menangis.

"Betul dia emakku juga?"

"Betul."

"Mengapa tidak pernah datang kemari?"

"Dia baru pulang dari bepergian."

"Jauh?"

"Jauh sekali."

"Sekarang dia membawa oleh-oleh?"

"Oh, aku lupa, Nak," ujar Srintil. Suaranya parau. "Tetapi aku punya uang. Engkau ingin
apa, Nak?"

Goder kelihatan ragu. Sekali lagi matanya yang bening menatap Srintil. Dua pasang mata, satu bening dan satu letih serta kuyu saling tatap mencari makna. Dengan kebeningannya mata Goder menangkap kesejatian, satu hal yang amat peka dalam jiwa seorang bocah. Atau karena tetes-tetes air susu yang pernah dicecap Goder dari dada perempuan di hadapannya maka tali jiwa antara keduanya segera tersambung kembali. Batas keterasingan terkikis sedikit demi sedikit sampai akhirnya Goder tidak merasa ada kejanggalan lagi bahwa perempuan yang baru pulang dari jauh adalah emaknya juga.

Sementara Srintil melihat dalam kedua bola mata Goder sebuah dunia yang putih-bersih, jauh lebih putih dan bersih daripada dunianya sendiri, dunia orang dewasa di mana dia mewujud. Srintil merasa telah menempuh perjalanan hidup yang amat meletihkan jiwa dan raganya dan buntu pada sebuah tanda tanya besar. Srintil ingin mengundurkan diri dari kenyataan, dan mata Goder itu. Ada dunia jernih dan teduh di sana. Dengan penuh kecewa dan rasa iri Srintil mengakui dunia yang kelihatan pada mata Goder bukan miliknya. Namun bukankah tiada alangan baginya numpang berteduh barang sejenak, numpang mengaso dari keletihan yang amat sangat? Tiada alangan, karena mata Goder akhirnya bersinar memancarkan keramahan. Pintu dunianya terbuka bagi seorang perempuan yang pernah menyusuinya dan kini amat mendambakan tempat secuil buat bernaung.

"Kamu minta apa, Nak?" ulang Srintil sambil tersenyum, senyum yang pertama sejak
kepulangannya dari keterasingan. Didekatinya Goder, kemudian Srintil jongkok hingga wajahnya sangat dekat dengan wajah bocah itu.

"Aku ingin anu. Apa ya, Mak?" Goder menoleh kepada Tampi.

"Nah, terserah. Kamu mau apa?"

"Aku ingin ondol-ondol."

"Hanya itu? Bagaimana dengan gembus?"

"Ya, gembus juga. Apa uangmu banyak?"

"Banyak," jawab Srintil pasti.

"Kalau begitu aku ingin beli balon."

"Baik, Nak. Sekarang mari kita pulang. Uangku di rumah."

Srintil mengembangkan kedua tangannya. Dua atau tiga detik Srintil merasa benar-benar hidup kembali ketika dia melihat Goder bangkit dan berlari ke dalam pelukannya. Oh, betapa sejuk rasanya; sebuah dunia kecil namun penuh makna kemanusiaan. Dan dunia kecil itu sungguh berada dalam rangkulan Srintil. Dipeluk, dibopong kemudian dibawa pulang dalam langkah-langkah yang mantap. Ketika Srintil melintas ada bunga waru lepas dari tangkai, menggulir jatuh tanpa bunyi. Serba
kuning, kecuali pangkal kelopaknya yang merah tua. Ada ayam betina mengiring anak-
anaknya, ada celeret melesat dari pohon ke pohon. Dan Srintil terus berjalan. Goder lekat di dadanya.

Seorang yang sedang hanyut dalam gelombang badai dan terapung-apung dalam situasi yang tidak dapat dikenalinya, telah berhasil meraih sehelai papan buat sekadar
mengapung. Srintil sudah berhasil meraih harapan bahwa dirinya akan bisa bertahan dari tarikan kenisbian zaman yang akan membuatnya menjadi kerak kehidupan. Hari-
hari dalam dunia seorang bocah berusia empat tahun adalah saat pertama buat Srintil menikmati ceria kecambah manusia. Srintil menjual sebuah gelang emas buat
keperluan sehari-hari dan buat Goder. Banyak orang bertanya, mengapa Srintil sangat
memanjakan anak Tampi itu. Dan Srintil tidak peduli. Sebaliknya Srintil bertanya dalam hati, mengapa orang-orang tidak tahu bahwa dirinya harus rela kehilangan apa saja demi tempat berteduh yang amat dia dambakan. Dan mengapa orang-orang tidak tahu bahwa tempat yang teduh itu hanya bisa dia temui pada cahaya mata seorang anak yang tertawa riang. Hanya tawa riang Goder yang mampu membuat Srintil lupa akan penggal sejarah amat getir yang baru dilaluinya.

Berita kepulangan Srintil sudah merambat sampai ke pasar Dawuan melalui celoteh Nyai Kartareja. Orang-orang di pasar itu kemudian melihat buktinya ketika suatu pagi Srintil muncul di sana sambil membopong Goder. Seperti sedang menghadapi sesuatu yang luar biasa orang-orang pasar menyambut kedatangan Srintil dengan perhatian penuh. Tetapi mereka diam. Pertingkahan zaman kala itu memberi norma baru; penampilan yang antusias ketika berhadapan dengan seorang yang baru pulang dari keterasingan adalah tidak sesuai dengan selera suasana. Dan Srintil-lah yang peka terhadap selera suasana di sekitarnya. Maka dia sesungguhnya tidak sekali-kali hendak masuk ke pasar Dawuan bila bukan karena Goder merajuk minta jajan. 

Bahkan Srintil tidak sekali-kali hendak keluar dari Dukuh Paruk kalau bukan kewajiban melapor ke Dawuan sekali seminggu.

Lalu mengapa tak ada orang yang cukup awas terhadap bibir Srintil yang bergetar, tungkai yang bergetar, ketika dia berada di tengah pasar? Mungkin pula tak ada orang mengerti bahwa Srintil merasa tatapan mata orang-orang sekelilingnya seperti serpih bambu yang menusuk jantungnya. Dan apakah Babah Gemuk itu bisa merasakan nestapa dalam jiwa Srintil ketika dia membuka seloroh?

"E, kamu longgeng Dukuh Paluk, bukan? E, kamu lama sekali tidak kelihatan. Kamu tetap cantik. Na, aku ada banyak balang bagus. Mau tas, sandal atau hailnet?"

"Tidak, Bah. Terimakasih," jawab Srintil sedingin keringat di kuduknya.




                          Episode 9



"Na, kamu tidak pupulan, ya! Haya, olang cantik tidak pupulan. Nanti cantikya ilang. Na, aku ada pupul olang Hong Kong punya. Ada gincu olang Jepang punya. Haya. Mulah-mulah. Nanti aku mau tidul di Dukuh Paluk. He-he-he."

Babah Gemuk bergerak hendak menggamit pundak Srintil. Namun tidak jadi karena dia
melihat Srintil mendadak berdiri menjadi patung. Matanya menatap dingin, kemudian
berlalu menuju arah yang dituntut Goder.

Orang-orang pasar, terutama para perempuan, memperhatikan perubahan pada
penampilan Srintil. Sanggulnya rendah, sanggul perempuan kebanyakan, sehingga
tengkuknya tersembunyi. Dulu Srintil selalu menyanggul rambutnya tinggi-tinggi sehingga tengkuknya, salah satu hiasan kecantikannya, seakan ditawarkan kepada siapa saja yang melihatnya. Kebayanya menutup jauh di bawah pinggul dan kainnya kombor gaya perempuan petani. Tidak ketat dan ketika melangkah betis Srintil tetap tersembunyi di balik kainnya. Dan perubahan yang paling mengesankan orang-orang pasar Dawuan adalah perilaku Srintil. Matanya selalu menghindar dari tatapan orang
yang melihatnya. Wajahnya kaku, sungguh-sungguh tanpa senyum.

Srintil berada dalam pasar Dawuan hanya sepanjang waktu yang diperlukan untuk membeli jajanan buat Goder. Sekian pasang mata terus mengikutinya ketika Srintil
berjalan meninggalkan pasar. Seorang perempuan penjual sirih mendesah, seakan ada beban berat di hatinya.

"Tadi, aku ingin memberi dia sirih dan pinang," kata penjual sirih tadi kepada perempuan lain di sebelihnya, "kulihat bibir Srintil sangat pucat. Sehelai daun sirih akan membuat bibirnya semringah, dan itu pantas baginya."

"Lho. Lalu mengapa sampean tidak melakukannya?"

"Entahlah, Mbakyu. Padahal dulu aku selalu melakukannya bila Srintil datang ke sini.
Sekarang aku jadi takut salah."

"Bila itu alasan sampean, aku pun sama. Sebenarnya aku ingin juga bertanya sekadar
tentang keselamatannya. Tetapi ya itu, entah mengapa aku tidak berani. Bibirku terasa berat. Ah, entahlah."

"Dan, Mbakyu. Kita lihat orang-orang lelaki juga tak ada yang bersuara kecuali Babah Gemuk. Mereka tidak seperti biasa, banyak seloroh dan celoteh bila Srintil datang. Kok jadi begini, ya?"

"Anu, jadi sampean merasa kasihan kepada Srintil?"

Yang ditanya mengerutkan kening. Jawaban yang kemudian diucapkannya adalah suara
lirih dan tertahan di rongga mulut.

"Bagaimana ya, Mbakyu? Apa tidak salah bila kita merasa kasihan kepada orang seperti
Srintil?"

"Wah, aku tidak tahu. Ya, barangkali begini. Bagi perempuan yang suaminya pernah
menggendak Srintil maka masalahnya menjadi bersahaja; perempuan semacam itu pasti merasa tidak perlu bersikap kasihan terhadap Srintil. Itu layak. Lalu... Ah, sudahlah."

Tiba-tiba kedua perempuan itu menjadi sibuk dengan dagangan masing-masing. Mantri pasar lewat mengedarkan karcis kontribusi. Perempuan pedagang sirih buru-buru membuka kocek, lalu menyerahkan sehelai uang kepada mantri dan menerima karcis berwarna kuning. Pasar Dawuan kembali sibuk. Tetapi orang-orang di sana mencatat pagi itu telah datang seseorang yang dulu selalu membawa suasana bergairah dan kini muncul kembali dengan kecompang-campingan jiwa yang tergambar jelas dari segala perilakunya. Demikian compang-camping citra diri Srintil sehingga orang pasar Dawuan atau siapa saja tidak mampu mengambil sikap yang jujur dan wajar terhadap dia yang baru pulang dari keterasingan itu.



                                *****



Dukuh Paruk pada tahun 1969 adalah Dukuh Paruk yang tetap miskin dan bodoh. Dan Dukuh Paruk tiga tahun sesudah dilanda kobaran api adalah tempat terpencil yang
kehilangan banyak ciri utamanya. Tak ada lagi suara calung dan tembang ronggeng. Makam Ki Secamenggala yang secara turun-temurun menjadi anutan kehidupan batin orang Dukuh Paruk kelihatan tak terawat. Suara calung, tembang ronggeng serta pemujaan terhadap makam Ki Secamenggala adalah urusan-urusan yang sedang tidak cocok dengan selera kenisbian sejarah. Dukuh Paruk hanya diam menerima perlakuan sejarah. Dan boleh jadi hanya Sakarya yang diam-diam berani mengunjungi cungkup makam di puncak bukit pekuburan Dukuh Paruk itu.

Tetapi Sakarya telah merasakan kekalahan hidup yang pasti. Dia merasa peran hidupnya sudah mandul, tanpa arti. Apalah arti perwujudannya apabila Dukuh Paruk tidak lagi memukul calung, tidak lagi menyanyikan lagu-lagu ronggeng karena kedua-duanya akan mengungkit kebencian terhadap Dukuh Paruk. Kedua-duanya tidak sesuai dengan tuntutan kehidupan yang sedang menghendaki Dukuh Paruk mengaku bersalah karena dianggap ikut berperan dalam keonaran sejarah. Sebagai pihak yang dianggap mempunyai kesalahan historis yang tidak kepalang maka Dukuh Paruk tidak boleh tertawa. Dukuh Paruk mesti diam dan merunduk.

Dukuh Paruk tak lagi memerlukan seorang kamitua dalam arti yang sudah mentradisi,
demikian pikir Sakarya setiap kali dia termenung di bawah beringin dekat cungkup
makam Ki Secamenggala. Makin sering termenung makin kuat keyakinan demikian. Dan tanpa terasa keyakinan itu menggerogoti semangat hidupnya. Suatu hari Sakarya
meletakkan sebuah batu di samping cungkup. Kemudian kepada Kartareja dikatakan bahwa di bawah batu itulah nanti dia harus dikubur. Sakarya telah mengundang sugesti bagi kematiannya sendiri. Maut menjemputnya tidak lama kemudian. Sakarya meninggal dalam kekalahan. Dan hanya satu hal yang mungkin dapat membesarkan hati orang tua itu, yakni kenyataan Srintil berada di dekatnya ketika dia meregang nyawa.

Kematian Sakarya membuat Dukuh Paruk makin lusuh dan ringkih. Dan Srintil
kehilangan payung yang meski telah cabik-cabik tetapi dialah satu-satunya tempat
bernaung. Dalam ketiadaan tempat bernaung itu maka kehadiran Goder dalam hidup Srintil menjadi jauh lebih bermakna. Karena Goder menawarkan dunia lain, dunia anak-anak yang teduh dan sejati; jernih, tanpa pamrih, tanpa keserakahan nafsu dan berahi. Dalam mata Goder Srintil tak melihat sedikit pun sisa keonaran sejarah 1965, tak ada tuduhan atau tuntutan apa pun yang ditujukan kepadanya. Goder tidak pernah menghina Srintil dengan lirikan mata atau cibiran bibir. Bagi Srintil, Goder adalah dunia yang mau menerimanya secara utuh dan jujur, maka Srintil amat kerasan tinggal di sana.

Lihatlah Srintil yang mulai tertawa karena melihat Goder gagal menangkap capung, dan wajah Srintil yang berseri-seri karena melihat Goder berani menghadapi ayam betina yang galak. Jiwa yang sudah mampu tersenyum dan tertawa adalah jiwa yang mulai menangkap makna kebetahan hidup. Lambat-laun Srintil mulai menangkap kembali bobot kehidupan yang bisa menjadi benih nilai-diri. Lima atau enam bulan sejak kepulangannya dari keterasingan mata Srintil mulai hidup, kulitnya mulai hidup, dan wajahnya mulai hidup. Satu demi satu kepahitan pengalaman sejarahnya terdesak ke alam bawah sadar. Dan meski kegetiran itu tetap menjadi cacat potensial, namun ternyata citra kesegaran raganya mulai bangkit seperti kerakap terkena hujan.



                         Episode 10



Usianya hampir genap dua puluh tiga tahun. Watak alam terlalu perkasa sehingga betapapun hebat tragedi yang baru dialami Srintil, citra kemudaannya masih banyak tersisa. Lalu mengapa ada satu sisi dalam kehidupan ini yang tidak peduli terhadap
nestapa seseorang? Bahkan mengapa Srintil sendiri tidak merasa, kesegaran dirinya
sedang dinanti seseorang.

Suatu pagi Nyai Kartareja berangkat meninggalkan Dukuh Paruk dengan tujuan yang hanya dia sendiri tahu. Di pasar Dawuan Nyai Kartareja naik andong yang akan berangkat ke Wanakeling. Ketika matahari tergelincir, Nyai Kartareja sampai di rumah yang dituju. Tuan rumah baru pulang dari tempat kerja dan sedang berbicara dengan
anak gadisnya. Melihat kedatangan Nyai Kartareja, laki-laki setengah baya itu menyuruh anak gadisnya menyingkir.

"Oh, orang Dukuh Paruk," sambut Marsusi dengan wajah gembira. "Mari masuk."

"Terima kasih. Ah, sampean sudah kelihatan senang begitu. Belum tentu aku membawa
kabar baik, bukan?"

"Kalau bukan kabar baik, mengapa jauh-jauh sampean datang kemari?"

"Wah, aku mengaku kalah."

"Begitulah seharusnya. Nah, sekarang katakan. Tetapi lirih saja."

"Apa yang harus kukatakan bila sampean sudah mengerti arti kedatanganku?"

"Jadi Srintil sudah kelihatan seperti biasa," ujar Marsusi entah untuk siapa.

"Masalahnya kukira, tinggal kapan sampean pergi ke sana."

"Ke sana? Apakah sampean mengira aku akan pergi ke Dukuh Paruk?"

"Apa salahnya, Pak. Sekarang sampean sudah jadi duda. Kukira tidak aneh, seorang duda pergi menemui seorang perempuan yang masih hidup sendiri."

"Ya. Tetapi zaman apakah sekarang ini? Tidak, Nyai. Aku ingin bertemu Srintil di luar Dukuh Paruk. Dan kuminta Nyailah yang mengaturnya. Terserah di mana, asal tidak di
Dukuh Paruk."

"Wah, berat. Berat, Pak."

"Tetapi aku percaya sampean bisa. Dan lihat di sana, Nyai."

Marsusi menunjuk ke halaman. Ada sepeda motor, bukan sebuah Harley Davidson sisa
zaman perang, melainkan sebuah Vespa baru.

"Katakan kepada Srintil, bila dia mau motor itu akan menjadi miliknya. Dan aku tidak main-main."

Nyai Kartareja mengerutkan kening, kagum mendengar ucapan Marsusi. Pantas, sejak
mendengar kepulangan Srintil laki-laki dari perkebunan Wanakeling ini secara teratur
meminta keterangan tentang keadaan Srintil, pikir Nyai Kartareja.

"Pak Marsusi, sampean sendiri sudah berkata zaman apakah sekarang ini. Aku tidak bisa sebebas dulu lagi. Aku merasa tidak sanggup membawa Srintil keluar dari Dukuh Paruk."

"Lho! Jadi dari jauh datang kemari sampean hanya ingin melapor bahwa Srintil sudah bisa tertawa dan badannya sudah segar kembali?"

"Oh, tidak hanya itu. Aku juga akan berusaha membujuk Srintil agar dia mau menuruti
kemauan sampean. Pokoknya aku bersedia membantu apa saja asal bukan membawa
Srintil ke luar Dukuh Paruk. Aku tidak sanggup."

"Tetapi aku tak mungkin pergi ke dukuhmu, Nyai. Tak mungkin."

"Ah, ya. Aku ingat. Tiap-tiap tanggal satu dan tanggal lima belas Srintil pergi lapor-diri ke Dawuan. Kukira itulah satu-satunya kesempatan bagi sampean menjumpai Srintil di luar Dukuh Paruk. Bagaimana?"

Marsusi tidak menjawab. Namun dari wajahnya terlihat pertanda bahwa kebuntuan di hatinya mulai mencair. Dan tangannya kelihatan ringan saja ketika dia memberikan
sejumlah uang kepada Nyai Kartareja yang kemudian minta diri.

Ketika terjadi kebakaran besar di Dukuh Paruk banyak pepohonan terjerang kobaran api, lalu meranggas dan mati. Ada sebatang pohon pinang di belakang rumah Srintil yang mampu bertahan hidup setelah merana beberapa bulan lamanya. Pelepah-pelepah yang merah terbakar sudah luruh diganti dengan pelepah baru yang hijau dan segar. Kelopak baru merekah menumpahkan mayang seperti pamor putih terurai. Mayang yang lebih tua telah berubah menjadi tandan yang runduk penuh buah pinang. Dari balik kelebatan tandan pinang itu terdengar keresek dua burung kecil yang sedang membangun sarang. Lembar demi lembar daun ilalang yang dicuri dari atap gubuk orang Dukuh Paruk disusun menjadi sebuah dunia kecil yang bersembunyi di ketinggian pohon pinang.

Kesibukan sepasang burung kecil itu kadang diselingi oleh sedikit heboh di antara keduanya. Mereka berkejaran dan kawin. Kadang keduanya terbang jauh melintasi sawah amat luas yang mengelilingi Dukuh Paruk buat mencari biji padi-padian. Pulang kembali dengan tembolok penuh tenaga untuk melanjutkan kegiatan mereka hingga datang mambang petang.

Tingkah sepasang burung kecil itu sudah beberapa hari menjadi perhatian Srintil. Sambil mengawal Goder bermain Srintil terlalu sering menatap ke atas pohon pinang, memperhatikan sebuah dunia kecil yang damai dan berdaulat; dunia tanpa
pengalaman pahit, tanpa ketakutan dan kekhawatiran. Oh, tidak. Sore itu Srintil melihat seekor burung gagak hinggap di atas pohon pinangnya. Burung yang hitam dan besar itu mengobrak-abrik sarang burung kecil karena ingin menjarah telur atau anaknya. Si burung kecil menghindar dan hanya bisa melihat dari jauh dunianya dihancurleburkan. Srintil tergagap dan bangkit hendak menyusul Goder. Tetapi di sampingnya telah berdiri Nyai Kartareja.

"E, lha. Ada apa, Jenganten? Kok terkejut?"

"Ah, anu. Tidak ada apa-apa, Nyai. Aku mau menyusul Goder."

"Dia sedang asyik bermain baling-baling. Biarlah dia. Aku ingin bicara. Penting." Srintil menatap Nyai Kartareja dengan mata membulat. Rasa was-was tergambar jelas
di wajahnya.

"Penting?"

"Ya. Penting."

"Tetapi tanggal satu yang lalu aku pergi melapor ke Dawuan. Tanggal lima belas nanti
pasti aku akan pergi lagi. Yang itu takkan kulupakan. Pasti, Nyai."

"E, lha. Yang hendak kusampaikan kepada sampean ini bukan masalah wajib lapor."

"Jadi aku tidak salah? Bukan tentang kesalahanku?"

"Bukan. Bukan!"

Nyai Kartareja memberi kesempatan kepada Srintil menata kembali napasnya yang terengah-engah. Perempuan tua itu cukup bersabar menanti sampai darah yang mendadak lenyap kembali mengisi kulit wajah Srintil. Dan rasa trenyuh tidak
terhindarkan karena Nyai Kartareja menyadari betapa ringkih keadaan jiwa Srintil; dia menjadi demikian gugup hanya karena akan disampaikan kepadanya sesuatu yang penting.

"Anu, Jenganten. Wong aku mau bercerita tentang nasib sendiri. Sejak dulu aku memang sengsara. Tetapi tidak seperti sekarang ini. Dulu, terus terang, aku bisa nunut sampean. Sekarang, Jenganten, bagiku soal makan saja adalah perkara yang tidak pasti. Maka aku mempunyai usul, bagaimana bila sampean memberi kesempatan kembali kepadaku, kesempatan numpang penghidupan."


                           Episode 11


"Numpang?" kata Srintil setelah menatap Nyai Kartareja lama dan dalam. "Numpang
penghidupan? Bagaimana mungkin karena aku sendiri tidak mempunyai penghasilan apa pun?"

"Ah, Jenganten, bagaimana juga sampean tidak sama dengan aku. Sampean masih muda. Dan siapa bilang sampean tidak cantik? Di mana saja, pada zaman apa saja,
perempuan cantik tidak sama dengan perempuan yang buruk, bukan?"

"Nanti dulu, Nyai. Sampean mau berkata apa sebenarnya?"

"Begini, Jenganten. Tadi sampean berkata bahwa sampean tidak mempunyai penghasilan apa pun. Maka bagaimana bila sampean berbuat sesuatu agar sampean kembali mempunyai penghasilan seperti dulu. Persoalannya mudah bagi sampean, tinggal mau atau tidak."

"Nyai, katakan dengan jelas."

"Baiklah. Kemarin aku bertemu dengan seseorang yang sangat berharap bisa sekadar
melepaskan kepusingan hidup bersama sampean. Marsusi, Jenganten. Sampean masih ingat Marsusi, bukan?"

Ada segumpal kabut yang tiba-tiba membuat pandangan mata Srintil baur. Ada orong-
orong yang masuk ke dalam telinganya lalu berbunyi sekeras-kerasnya. Darah kembali
lenyap dari wajah anak Dukuh Paruk itu. Bibirnya yang pucat bergetar. Bintik keringat
serta-merta muncul di permukaan kulitnya. Dada Srintil turun-naik menahan pergulatan rasa di dalamnya, antara murka dan penyesalan yang dalam, antara pilu dan kemarahan. Wajah Srintil berubah cepat antara pucat-pasi dan rona kemerahan.

"Oalah, Gusti Pengeran," tangis Srintil dalam ratap tertahan. "Nyai, kamu ini kebangeten! Kamu menyuruh aku kembali seperti dulu? Kamu tidak membaca zaman? Kamu tidak membaca betapa keadaanku sekarang? Oalah, Gusti..."

"Eh, sabar dulu, Jenganten. Dengar dulu kata-kataku! Siapa bilang ada orang yang tidak mengerti keadaan sampean. Tetapi apakah sampean hanya mau mementingkan diri sendiri dan tidak mau mengerti urusan perut orang Dukuh Paruk yang hanya bisa nunut sampean?"

"Aku memang tidak mau tahu. Orang Dukuh Paruk bisa hidup tanpa bergantung kepadaku. Orang Dukuh Paruk biasa makan iles-iles, bahkan bonggol pisang. Lakukan itu dan jangan meminta aku kembali berbuat kesalahan. Oalah, Nyai. Kamu hanya mengalami dua minggu di tahanan. Sedangkan aku dua tahun. Cukup, Nyai. Cukup!"

"Nanti dulu, Jenganten. Marsusi sekarang sudah menjadi duda. Dan dia bersedia
memberimu sebuah Vespa bila sampean mau. Siapa tahu Marsusi bermaksud mengambil sampean menjadi istrinya. Pikirlah dengan tenang, Jenganten."

"Tidak, Nyai. Kamu tahu. Aku juga tahu siapa Marsusi. Dan kamu masih percaya ada laki-laki yang mau mengawini perempuan bekas tahanan?"

"E, lha, baiklah kalau begitu. Tetapi renungkan, Jenganten. Marsusi atau laki-laki mana saja tidak salah bila dia bermaksud mengawini sampean atau sekadar bersenang-senang. Semua orang tahu siapa sampean, bukan?"

"Oalah, Nyai, mereka tidak salah. Semua orang tidak salah. Akulah tempat segala kesalahan hidup. Jadi akulah yang harus tahu diri. Semua orang menuntut aku tidak banyak tingkah karena hal itu tidak mereka sukai. Berbuat sesuatu yang tidak mereka sukai samalah artinya dengan melakukan kesalahan. Nyai tahu apa yang akan kutanggung bila aku dianggap kembali berbuat salah?"

Nyai Kartareja diam, menutup bibirnya rapat-rapat lalu berjalan meninggalkan Srintil yang masih sibuk mengusap air mata. Ada erosi yang terasa menggerus kesuburan yang mulai bersemi di hati Srintil. Pupus hijau hendak dipatahkan oleh tangan orang Dukuh Paruk sendiri. Srintil memperhatikan Nyai Kartareja dengan pandangan mata masygul dan kecewa, amat kecewa.

Oh, Nyai Kartareja. Ketika muda kamu pun pernah menjadi ronggeng seperti diriku, konon. Bedanya dulu engkau seorang ronggeng bobor, tidak laku. Namun mestinya kamu seperti aku, mengenal kelelakian telanjang sejak kita baru mendapat haid yang pertama. Dan aku sudah mengerti laki-laki Dukuh Paruk, laki-laki luar Dukuh Paruk, bahkan laki-laki di tempat keterasingan. Kita sudah sama-sama tahu apa dan bagaimana kelelakian itu. Kini aku dan jiwaku sedang bertanya, apakah kepahitan hidup yang harus kutanggung bukan karena justru aku mengenal terlalu banyak segi
kelelakian? Apakah bukan karena aku merasa menjadi duta keperempuanan sehingga
aku merasa harus melayani segala kepentingan kelelakian sampai kepada arti yang paling primitif sekalipun? Bukankah karena diriku yang ronggeng, maka sejarah telah membawaku ke puncak ketiadaan makna hidup di tempat terasing?

Oh, Nyai Kartareja. Rupanya kamu tidak sedikitpun terusik oleh sekian banyak pertanyaan itu. Kamu bebal. Atau kamu memang tidak peduli akan keperihanku sehingga kamu tega mendatangkan perkara kelelakian telanjang ke hadapanku? Nyai Kartareja, kamu kebangeten. Oalah, Gusti...

"Mak menangis? Mengapa Emak menangis?"
Suara jernih itu datang dari arah samping belakang. Srintil menoleh setelah berupaya
menghapus sisa tangisnya. Kemudian dilihatnya wajah Goder yang mengandung
segudang pertanyaan.

"Emak menangis? Ada yang nakal, ya?"

"Oh, tidak, Nak. Emak tidak menangis."

"Tetapi Emak menangis. Siapa yang nakal?"

Oh, sepasang bola mata yang bening! Mestikah aku berkata kepadamu, mestikah kukotori kejernihanmu dengan pengakuan bahwa bagiku kehidupan ini penuh kenakalan? Tidak. Duniamu terlalu bersih dan aku tidak akan memperkenalkan kenakalan-kenakalan hidup kepadamu karena aku sangat berkepentingan dengan kesejatianmu agar aku boleh berlindung di dalamnya.

Srintil berusaha keras menahan tangisnya lalu mengangkat Goder ke dalam dekapannya. Pintu bambu berderit, Srintil dan Goder lenyap di baliknya. Gubuk ilalang itu kemudian senyap, senyap sekali meski di dalamnya ada dua dunia yang sangat berbeda.


                               *****


Bila sawah amat luas yang mengelilingi Dukuh Paruk sedang memberi harapan panenan yang baik maka siapa mengira di tengah lautan padi menguning itu tersimpan ironi yang sudah turun-temurun. Dukuh Paruk tak pernah ikut panen karena hanya satu-dua orang di sana yang mempunyai sawah, itu pun tak seberapa luas. Setiap musim panen Dukuh Paruk hanya ikut embret, memburuh menuai padi. Dan anak-anak Dukuh Paruk tidak tahu bahwa seharusnya mereka bertanya mengapa orang tua mereka melarat seumur-umur, tidak mempunyai sawah barang secuil. Anak-anak tidak mengerti apa-apa. Mereka hanya tahu musim panen selalu membawa suasana semringah. Adalah kesemringahan yang khas ketika anak-anak perempuan Dukuh Paruk pergi ke sawah mengambil batang padi yang tidak bernas lalu membuat puput. Seruling batang padi yang diberi sistem megafon dari daun kelapa mampu menciptakan kemerduan yang unik. Nadanya bergelombang demikian rupa sehingga amat mudah berbaur dalam
desau angin ketika menyapu pepohonan. Iramanya yang tidak mengenal keteraturan
tangga nada justru mudah menyatukannya dengan ombak lautan padi yang menggelar
hamparan warna dari kuning tua, kuning keemasan dan hijau lembut.


                         Bersambung... 

______________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...