Rabu, 24 Maret 2021

LINTANG KEMUKUS DINI HARI BAB 08

Bagian keempat 02



Senja di Alaswangkal terasa datang lebih cepat. Perbukitan di sebelah barat membuat sinar matahari redup sebelum waktunya. Suara ratusan burung manyar bertambah riuh sebelum surut perlahan-lahan, kemudian senyap. Ayam yang berpuluh ekor jumlahnya mencari tempat tidur masing-masing di atas 
pepohonan serta bubungan gubuk tempat menyimpan kayu bakar. Kadang terjadi keributan di antara mereka karena perebutan tempat yang nyaman. Dengung lebah madu tak terdengar lagi. Ada seekor gagak berteriak-teriak karena diserbu sepasang burung keket. Kemudian lengang. Langit yang menghitam mulai berhiaskan kelap-kelip bintang. Tidak seperti di Dukuh Paruk, langit senja di Alaswangkal penuh dengan kalong yang terbang dalam satu arah menuju daerah perburuan. Mereka akan menyerbu pohon beringin atau pohon salam yang sedang berbuah. Atau yang pasti: kalong-kalong itu akan mencuri nira dari tabung-tabung bambu yang dipasang oleh para penyadap kelapa.

Rumah Sentika terang benderang oleh tiga buah lampu pompa. Berandanya yang luas dan berlantai ubin batu telah disiapkan sebagai arena ronggeng. Meja-meja ditata di bagian tepi. Bagian tengah kira-kira dua puluh meter persegi dibiarkan kosong. Tikar pandan yang halus digelar di sana.

Penonton yang pertama datang adalah kaum perempuan bersama anak-anak mereka. Sentika sudah sering menggelar pentas ronggeng. Bahkan bisa dikatakan setiap punya hajat orang paling kaya di Alaswangkal itu nanggap ronggeng. Tetapi baru sekali inilah ronggeng yang datang bernama Srintil dari Dukuh Paruk; sebuah nama yang ketenarannya jauh menembus batas wilayah Dawuan.

Hari makin gelap dan makin banyak sinar obor dari gerumbul-gerumbul di Alaswangkal yang bergerak menujur rumah Sentika. Mereka datang membawa hati yang meriah. Yang masih anak-anak akan terpuaskan rasa ingin tahunya. Yang laki-laki dengan berahi atau nostalgia mereka. Yang perempuan dengan kebanggaan aneh; mereka akan puas melihat seorang perempuan, Srintil, menunjukkan kekuatan fitrahnya terhadap bangsa laki-laki. Bagi perempuan-perempuan kampung hanya dalam tontonan ronggenglah mereka bisa menyaksikan kaum laki-laki dipermainkan oleh lawan jenisnya. Bukan sebaliknya seperti yang mereka alami sehari-hari. 

Halaman rumah Sentika sudah dipenuhi penonton. Pandangan ke dalam beranda tidak terhalang apa pun karena dinding depan sudah disingkirkan. Di tengah halaman, pada titik di mana langit tidak terhalang dedaunan, ada pedupaan yang mengepul. Dekat pedupaan tertancap gayung. Meski kemarau jelas sudah 
datang tetapi Kartareja tidak berani mengambil risiko. Maka dia selalu berupaya mencegah turunnya hujan.

Sangat berbeda dengan keramaian di luar adalah sebuah sudut di dalam rumah Sentika. Di sana Srintil dipertemukan dengan Waras. Sentika yang mempertemukan keduanya setelah mendengar kesediaan Srintil menjadi gowok. Pada mulanya pertemuan itu disaksikan juga oleh hampir semua keluarga besar Sentika. Srintil menerima keramahan yang begitu tulus. Seakan dia sudah benar-benar menjadi anggota keluarga itu. Kemudian tanpa canggung Srintil meminta agar dia di tinggal hanya berdua dengan Waras. Tak 
seorang pun tersinggung oleh permintaan Srintil itu. Malah sebaliknya. Sentika dan anak-anaknya boleh berbesar hati karena melihat pertanda Srintil ingin lebih akrah dengan Waras.

Sudut yang sengaja dipisahkan itu lengang.

"Aku akan menyebutmu Kakang, meski aku yang lebih tua," kata Srintil mengawali pembicaraannya. Waras yang kelihatan bingung semenjak ditinggal sendiri kelihatan bertambah bimbang. Tetapi kemudian Waras tersenyum. Senyum seorang anak. Srintil juga tersenyum.

"Nah, jadi kau tidak berkeberatan kupanggil Kang, bukan?"

"Kok begitu, ya?"

"Memang harus begitu."

"Lalu aku harus menyebut apa kepadamu?"

"Srintil. Namaku Srintil. Itu saja."

"Ya. Gampang sekali."

"Memang gampang. Dan, Kang, kau senang bertayub, kan?"

"Nonton tayuban, begitu?"

"Bukan. Kau menari bersamaku."

"Aku tidak bisa menari. Tetapi Ayah pandai. Nah, menarilah bersama ayahku. Aku yang menonton. Hore..."

"Ah, bukan begitu. Kakang yang harus menari. Gampang sekali, Kang."

"Yang bisa menari itu ayahku. Kok aku yang harus menari. Bagaimana?"

"Begini, Kang. Kalau kau mau menari, nanti ada upah buatmu."

"Upah?"

"Ya. Aka akan memberimu upah; nanti, sehabis pertunjukan, kau akan kutemani."

"Kautemani? Aku sudah punya teman. Banyak sekali. Mereka membantu mencari belalang untuk makan burungku."

"Ah, itu kan teman kecil-kecil. Maksudku, nanti kalau Kakang tidur, aku akan menemanimu."

"Kalau begitu di mana Emak tidur? Dipan itu tidak muat untuk tidur bertiga. Eh, tetapi kita bisa menggelar tikar di lantai. Kita tidur bertiga. Aku di tengah. Emak dan kamu di pinggir. Nah, hebat, kan?"

Srintil tidak tertawa meski hatinya tergelitik bukan main. Ada malapetaka tertentu yang telah menghimpit hidup Waras. Boleh jadi malapetaka itu berlangsung sejak lama. Srintil dapat melihat dan merasakan tapak kaki bencana itu pada postur tubuh dan perilaku Waras. Dia tidak mungkin tertawa. Bahkan dia 
menelan ludah karena iba. Dipegangnya tangan Waras yang kurus seperti buluh. Rasanya Srintil sedang memegang tangan seorang anak kecil: lembut tanpa otot.

"Tidak, Kang. Nanti malam kita hanya akan tidur berdua. Aku dan Kakang. Aku akan bernyanyi rengeng-rengeng agar tidurmu pulas. Emakmu tidak bisa bernyanyi, bukan?"

"Tetapi Emak bisa mengelus-elus."

"Aku juga bisa."

"Emak bisa mengipas-ipas."

"Aku juga bisa. Pintar."

"Kamu. Anu, kamu juga mau menemani bila malam hari aku ingin kencing di belakang?"

"Ya, tentu."

"Bila sebelum tidur aku ingin bermain-main, bagaimana?"

"Wah, itu bagus."

"Hore! Kalau begitu kamu sangat baik. Aku suka padamu."

Waras bangkit memeluk Srintil, mendekapnya dan menciuminya. Srintil pasrah saja. Atau geli. Tak ada rangsangan berahi.

Tetapi dari tempatnya yang terlindung suami-istri Sentika memperhatikan ulah anaknya dengan harapan melambung. Mata keduanya berkaca-kaca karena rasa haru. Apa yang selama ini mereka harapkan sudah terjadi. Waras menciumi perempuan. Waras mendekap seorang ronggeng: sesuatu yang bisa dikatakan sebagai pertanda bahwa Waras mempunyai minat terhadap lawan jenis. Memang baru merupakan pertanda, belum mengenai langsung keadaan Waras yang sebenarnya. Namun bagi Sentika dan istrinya hal itu untuk sementara sudah cukup. Kegembiraan Nyai Sentika meluap. Dipanggilnya anak-anak yang semuanya sudah menjadi istri orang.

"He, kemari kamu! Riwed, Darkem, Blokeng, Trombol! Lihat itu adik kalian. Lihat, Waras sedang menciumi ronggeng!"

Jam delapan malam Sakum dan teman-temannya siap menghadapi alat musik masing-masing. Oleh pelayanan luar biasa yang diberikan oleh tuan rumah seluruh anggota rombongan ronggeng kelihatan penuh semangat. Srintil sedang berdandan, ditemani oleh Nyai Kartareja. Anak-anak Sentika 
memperhatikan si Ronggeng dengan penuh kekaguman. Di luar penonton mulai riuh. Teriakan mulai terdengar agar mereka yang di depan mengambil posisi jongkok atau duduk. Anak kecil dan kaum perempuan berdesakan.

Sentika tampil ke bagian tengah beranda yang kosong. Kepada para penonton Sentika menyatakan hajatnya. Mereka diminta menjadi saksi bahwa pada malam itu, dengan tontonan ronggeng, maka kaul Sentika sudah tunai. Kaul demi anak lelaki satu-satunya yang kini duduk di kursi dengan wajah gembira dan saku baju menggembung penuh uang. Waras kelihatan sangat ceria, keceriaan sehari-hari yang 
diperlihatkan oleh Waras bila dia sedang bermain-main dengan anak burung kepodangnya.

Kegembiraan penonton tercetus ketika tangan-tangan terlatih mulai menggarap irama calung dalam lagu Sekar Gadung. Sakum yang kelihatan berada dalam kondisi terbaiknya langsung menjadi titik perhatian semua penonton. Matanya yang keropos, tangannya yang cekatan dan senggakannya yang kocak dan konyol. Penonton bertepuk riuh. Sebungkus rokok terbang ke arah para penabuh datang dari arah kepadatan orang. Bungkus pertama disusul oleh yang lain dan beberapa di antaranya melayang dari 
gerombolan penonton perempuan.

Namun semua orang diam ketika Srintil muncul penonton berdesakan kemudian tenang penuh penantian. Di sana Srintil berdiri anggun. Pribadi dan sosoknya yang sedang berada dalam puncak kemekaran segera 
menyita perhatian semua orang. Buat sementara saat lamanya Srintil tetap berdiri di tempatnya. Kedua sudut bibirnya sedikit tertarik ke dalam, matanya memancarkan cahaya bening embun pagi. Keseluruhan 
wajahnya adalah citra wibawa dan pesona yang muncul bersamaan. Dalam waktu yang sekejap itu Srintil telah berhasil membuktikan kepada khalayak bahwa yang empunya malam pertunjukan bukan Sentika, bukan pula Waras anaknya, melainkan Srintil pribadi tanpa seorang pun bisa menggugatnya.

Kemudian Srintil melangkah maju dan duduk dengan anggun di hadapan para penabuh yang sejak tadi terus mengalunkan Sekar Gadung. Srintil mengangkat muka, seakan sedang meyakinkan kepada penonton akan kecantikan wajahnya. Lalu suaranya yang bening masuk, mengalir, dan menjadi irama calung. Sedetik kemudian pecah tepuk tangan ratusan penonton di halaman rumah Sentika. Kegembiraan yang mencekam jiwa semua orang pun mulai.

Ketika memutuskan menerima menjadi gowok bagi Waras maka timbul kesadaran baru di hati Srintil. Bahwa dirinya adalah perempuan dalam falsafah yang amat dalam. Perempuan yang harus mampu berperan banyak di hadapan seorang laki-laki muda yang nyaris tersingkir dari identitas kelelakiannya, seorang perjaka yang tumbuh dalam malapetaka kejiwaan. Kesadaran yang tulus dari naluri seorang 
ronggeng sejati. Dan kesadaran itu muncul amat besar sebagai warna suatu gerak tari yang hanya bisa dibaca oleh jiwa yang peka terhadap gelombang batin.

Ada ratusan pasang mata menonton Srintil meronggeng. Orang-orang terpenting desa Alaswangkal ada di sekitar arena, tak terkecuali lurahnya. Tetapi Srintil merasa sedang menari di hadapan satu orang: 
seorang anak muda yang mengharuskan Srintil merasa sebagai ibunya, kadang adiknya, dan kadang teman sepermainannya. Suatu masa warna suara Srintil begitu lembut dan dalam penampilan wajah teduh sebagai gambaran seorang ibu yang sedang mendekap dan mengelus anaknya. Kadang suara Srintil penuh semangat, geraknya cekatan, seperti seorang ibu yang sedang mengajari anaknya berjalan. Dan kadang Srintil melirik dan tersenyum kepada Waras, gerakannya menantang seakan Srintil sedang menggugah 
naluri kelelakian perjaka Alaswangkal itu.

Dalam keterbelakangannya Waras bisa merasakan sentuhan yang membangkitkan semangat. Dari tempat duduknya di tepi arena kelihatan wajah Waras berseri-seri. Matanya bercahaya. Tetapi ketika Srintil menari dan mendekat sambil mencondongkan wajah, Waras tidak berbuat sesuatu yang sangat diharapkan oleh penonton, terutama ayah dan ibunya. Waras tidak mencium Srintil melainkan hanya meletakkan kedua telapak tangan masing-masing di pipi kiri dan kanan ronggeng itu. Toh adegan yang kurang memuaskan itu tak luput dari kepekaan naluri Sakum yang buta. Tepat ketika tangan Waras menempel di 
pipi Srintil mulut Sakum meruncing: "ciusssss". Dan penonton pun bersorak-sorai. Waras bertepuk tangan berjingkrak seperti anak kambing selesai menguras tetek induknya. 

Babak demi babak terus berlanjut. Alaswangkal yang biasa sepi tersembunyi di belakang hutan jati dan ladang singkong jadi semarak oleh irama calung. Dan sorak-sorai warganya yang malam ini berkumpul di 
halaman rumah Sentika menonton Srintil berjoget. Tuan rumah sudah menyuruh orang-orangnya mengeluarkan guci-guci berisi ciu. Setengah jam kemudian mulai terdengar suara-suara yang tidak terkendali. Beberapa peminum mulai mabuk. Lurah Alaswangkal kelihatan gelisah karena syarafnya mulai dikacau oleh ciu. Kemudian laki-laki yang sudah kempot pipi itu bangkit, terhuyung-huyung melangkah ke tengah arena. Dengan mengangkangkan kaki dan membuka kedua tangannya lebar-lebar lurah Alaswungkal
mulai bertandak, mengajak Srintil bertayub. Dari mulutnya terdengar tembang yang kacau. Tetapi wajahnya merah terbakar oleh berahi dan minuman keras.

Mula-mula Srintil mengira kedatangan lurah Alaswangkal akan membuat Waras kecewa. Ternyata dugaannya jauh meleset. Waras malah bertepuk tangan memberi semangat kepada lurahnya. Dia berteriak-teriak kegirangan ketika melihat Pak Lurah memasukkan tangan ke dada Srintil buat menaruh uang dan beraksi di sana. Dan pada akhirnya Waras bangkit. Dengan genggaman tangan penuh uang Waras meniru lurahnya. Pada saat yang tak pernah luput mulut Sakum meruncing; "cesssss".

Kemeriahan di rumah Sentika usai sesudah ayam jantan berkokok. Selama tujuh jam Srintil berjoget dan bertembang. Selama itu Srintil melayani sekian banyak laki-laki yang membawanya bertayub dan sekian banyak laki-laki baru puas bila Srintil duduk di atas pangkuannya. Dua-tiga kali Srintil harus masuk ke kamar buat memperbaiki busananya terutama di bagian dada. Sebanyak itu pula dia harus kembali mengoles bedak di pipi karena pada bagian yang jernih itu paling sering bersentuhan dengan kulit lelaki.

Ketika sinar matahari mulai menyentuh punggung-punggung bukit di Alaswangkal dan mengusir halimun dari sana, Srintil masih lelap di kamarnya di rumah Sentika. Sementara rumah saudagar singkong itu sudah ramai oleh pembantu laki-laki dan perempuan yang banyak jumlahnya. Anak-anak Sentika masih di sana menikmati suasana baru karena di rumah orang tua mereka tinggal seorang ronggeng. Bukan sembarang tinggal. Mulai hari ini Srintil menjadi gowok. Bagaimana sikap Waras terhadap gowoknya itulah yang menjadi daya tarik saudara-saudaranya.

Waras bangun seperti biasa, tepat ketika anak burung piaraannya mulai mencecet. Tetapi kali ini Waras tidak berminat melayani anak burung podang itu. Turun dari tempat tidur Waras mencari emaknya yang sudah sibuk mengatur urusan dapur.

"Di mana dia, Mak?"

"Dia siapa?"

"Yang tadi malam menari. Yang tadi malam kumasuki uang ke dadanya. Di mana dia? Dia tidak pulang, kan?"

Nyai Sentika menjatuhkan pundaknya. Ada rasa lega menyapu hatinya. Lega. Perempuan itu yakin anak lelaki satu-satunya itu benar-benar lelaki. Waras memang waras, buktinya dia menanyakan Srintil. Mata Nyai Sentika berkaca-kaca.

"Dia masih tidur, Nak. Kau senang pada Srintil, Nak?"

"Senang. Dia cantik ya, Mak?"

"Kau mengerti orang cantik?"

"Ya. Karena matanya tidak seperti matamu. Kulitnya halus dan mulutnya merah seperti mulut anak burung podang. Jadi dia cantik ya, Mak?"

"Ya."

"Aku akan membangunkannya. Akan kuajak dia bermain-main."

"Eh, jangan. Tunggu sampai dia bangun."

Waras kelihatan kecewa. Merengut dia.

"Lebih baik kau pergi mandi sekarang. Srintil tidak akan mau bermain dengan siapa pun yang belum mandi dan berpakaian rapi."

"Begitu, Mak?"

"Memang begitu. Nah, ayolah ke sumur."

Waras berlari melompat-lompat. Orang-orang mengikutinya dengan pandangan mata dan senyum. Ada kelucuan yang tragis. Dan hanya Nyai Sentika yang menyimpan harapan besar di balik senyumnya yang samar dan tertahan.

Jam delapan pagi ketika Srintil membuka mata didapatinya seorang perempuan duduk tenang di dekatnya. Nyai Sentika. Tanpa kikuk sedikit pun Srintil bangkit lalu membenahi pakaiannya yang poranda. Rambutnya yang terurai, disanggul sekenanya. Segala gerak-gerik itu berada langsung di bawah tatapan mata Nyai Sentika yang tak kunjung puas mengagumi kesegaran tubuh ronggeng Dukuh Paruk itu.

"Ah, sudah bangun, Jenganten?"

"Ya, Nyai. Sudah siang?"

"Belum begitu. Jam delapan kira-kira. Ah, ya. Nyai Kartareja bersama rombongannya sudah berangkat pulang. Semuanya sudah beres."

Srintil hanya tersenyum ringan. Nyai Sentika tersenyum puas. Ada masalah yang hendak disampaikan oleh Nyai Sentika kepada Srintil. Bahwa dia dan suaminya hendak segera meninggalkan rumah. Sentika sungguh-sungguh pergi ke kota untuk beherapa hari lamanya. Nyai Sentika hendak menyingkir, 
bersembunyi di salah satu rumah tetangga. Dan semua anak-anak Sentika siang ini akan pulang ke rumah masing-masing.

"Seharusnya kami menyediakan sebuah rumah khusus untuk sampean dan Waras. Tetapi rasanya lebih baik kami mengalah buat sementara demi anakku si Waras. Untuk tidur pilihlah kamar mana yang kalian suka, selain kamar pribadi kami tentu saja. Dan dengan ini saya serahkan anak saya kepada sampean. Ah, dia memang demikian keadaannya. Sesungguhnya saya merasa malu. Tetapi, sudahlah. Pokoknya saya percayakan kepada sampean."

"Nah! Dia sudah bangun!" ujar Waras yang tiba-tiba muncul di pintu kamar. Bajunya baru dan sakunya penuh uang. Sepasang kaki yang panjang dan lurus muncul di bawah celana hitam sepanjang lutut.

"Apa katanya, Mak? Dia mau bermain-main bersamaku, bukan?"

"Tentu saja, Kang," jawab Srintil mendahului Nyai Sentika. "Nanti kita bermain-main sepuas hati. Tetapi sekarang aku mau mandi dulu. Kakang menunggu di sini."

"Jangan lama-lama."

"Ya."

"Nanti kamu berdandan seperti tadi malam."

"Ya."

Tetapi Waras tidak mau menunggu. Dia mengikuti Srintil ke sumur dengan langkah-langkah gembira. Sumur itu berada di lembah di belakang rumah Sentika. Waras sendiri yang menimba dan mengisi jolang. Bak mandi yang terbuat dari kayu itu segera luber.

"Nah, mandilah. Saya di sini."

"Kakang di situ?"

"Ya."

"Jangan. Kakang pergi dulu."

"Tidak. Soalnya saya juga selalu di sini bila emak mandi."

"Begitu?"

"Ya. He! Tadi malam aku menaruh uang di dadamu. Coba lihat, masih ada?"

"Sudah saya simpan, Kang. Sekarang tidak lagi di sini."

"Betul? Nah, tapi aku ingin lihat."

"Jangan, Kang, jangan."

"Kamu sudah berkata, kita berteman. Kamu mau menipu, ya."

"Tentu saja tidak, Kang."

"Lalu mengapa aku tak boleh melihat dadamu?" 

Srintil hampir gagal menahan tawanya. Sambil berjongkok menghadap Waras dibukalah pinjungnya. Dadanya terbuka penuh.

"Nah, tak ada uang, bukan?"

"Ya. Aku percaya sekarang. Tetapi tetek emakku gepeng, mengapa punyamu tidak?"

Sekali ini Srintil tidak bisa menemukan jawaban. Maka diciduknya air dengan tangannya lalu dicipratkannya ke arah Waras. Perjaka Alaswangkal itu berteriak girang. Tak ada pengertian lain baginya kecuali bahwa permainan yang menyenangkan sudah dimulai. Waras kembali menimba air untuk langsung 
menyiram tubuh Srintil. Permainan berubah menjadi hiruk-pikuk. Dan di tempat-tempat yang tersembunyi beberapa pasang mata mengawasi segalanya. Ada yang tersenyum karena merasa geli. Tetapi kebanyakan orang tersenyum karena rasa kasihan.

Hari ini rumah Sentika menjadi belantara dalam dongeng. Sepasang anak binatang bermain, bersuka-ria dalam keceriaan yang hanya bisa dimiliki oleh anak rusa atau anak kucing. Srintil yang mengambil semua 
prakarsa. Mula-mula dia mengajak Waras bermain penganten-pengantenan. Srintil berdandan. Cantiknya bukan main-main. Waras diberi blangkon ayahnya. Mereka duduk bersanding.

"Dalam dongeng, Kakang adalah suamiku. Aku istrimu," kata Srintil, "Nah, karena aku sudah menjadi istrimu, maka aku minta uang buat berbelanja."

Dan seterusnya. Kali lain Srintil meminta Waras membelah kayu bakar buat memasak. Waras bekerja di samping rumah dengan semangat yang tidak bisa dikatakan sebagai main-main. Keringatnya membasahi badan. Telapak tangannya lecet oleh gagang kapak. Tetapi hasilnya hanya berupa serpihan-serpihan kayu 
dalam jumlah yang memalukan. Sementara itu Srintil keluar ke belakang rumah membawa bakul kecil. Dipetiknya pucuk singkong dan daun kecipir. Siapa mengira perempuan yang kelihatan tahu betul tentang urusan dapur itu adalah seorang ronggeng. Semua orang dusun tahu seni memetik sayur-mayur dan seni 
membawa bakul. Srintil melakukan kedua-duanya dengan jitu, kewes, dan pantes. Keluwesan seorang istri sejati yang hanya mungkin tampil karena Srintil menghayati sepenuhnya peran sebagai gowok.

Atau lebih dari itu. Kesadarannya untuk mewakili dunia perempuan menumbuhkan rasa tanggung jawab ketika menghadapi seseorang yang mempunyai masalah kelelakian. Tanggungjawab itu secara naluri 
berlanjut menjadi kesadaran yang muncul dalam citra yang sempurna. Lihat, betapa luwes gaya Srintil memetik daun singkong muda. Pohon itu hampir tak tergerak. Betapa cantik gaya Srintil membawa bakul. Keterpaduan antara keluwesan bentuk tangan dan liku-liku pinggul. Amat pas dan menawan, lentur dan indah.

Hampir tengah hari permainan masak-masakan sudah selesai. Srintil memanggil Waras yang masih giat membelah kayu di samping rumah. Nasi dengan lauk tempe goreng, sambal, dan lalaban sudah ditata di 
meja makan. Srintil tidak lupa menyediakan sejumput tembakau yang diambilnya dari lemari. Waras masuk. Wajahnya mengkilat oleh keringat. Tangannya kotor. Srintil mengambil air dari tempayan dengan gayung. Waras dimintanya mencuci tangan.

"Habis penganten-pengantenan lalu masak?masakan. Nanti apa lagi?" tanya Waras. Mulutnya penuh nasi. Srintil berpikir sejenak. Suara anak burung podang mencecet di kurungan.

"Nanti tinggal bermain tidur-tiduran. Kakang lelah karena habis bekerja membelah kayu. Aku pun lelah karena bekerja di dapur. Jadi kita tinggal tidur. Senang ya, Kang?"

"Ya. Tetapi nanti dulu. Aku harus mencari belalang buat burungku."

"Jangan, Kang. Kakang jangan ke mana-mana. Aku sudah ingin tidur. Aku ingin tidur bersamamu."

Waras hanya sejenak mengangkat wajah. Kemudian kembali menyuap nasi.

"Jadi kamu suka bermain tidur-tiduran? Itu kesukaanmu, ya?"

Srintil menjawab dengan tarikan ujung bibir yang dipadu dengan pandangan mata redup. Suatu pancaran sugesti yang terarah langsung kepada sisi paling primitif pada diri seorang lelaki. Pancaran yang selayaknya bisa menggetarkan syaraf, mengusik jantung agar berdenyut lebih kuat dan lebih cepat. Apalagi yang mengirimkan rangsangan itu adalah Srintil; duta dunia perempuan yang secara naluriah sadar betul akan fungsi keberadaannya.

Tetapi Waras hanya tertegun sesaat. Karena setidaknya secara samar dia bisa membaca. Bahwa senyum Srintil tidak sama dengan senyum emaknya. Bahwa pandangan mata Srintil terasakan aneh; terasa menggoyang halus naluri dasar yang selama ini tak pernah disadari oleh Waras. Dalam keterbatasannya 
Waras melihat ada sesuatu pada sinar mata Srintil.

"Aku pernah menangkap burung perkutut di malam hari," kata Waras tiba-tiba. "Pakai obor."

"Burung?"

"Kamu belum pernah melihat burung perkutut tidur? Burung itu tidur berdua-dua, berdempetan."

"Mungkin begitu."

"Siang hari kadang-kadang mereka bergendongan. Kawin. Aku sering melihatnya. Temanku pernah menangkap sepasang burung jalak yang kawin dan nguwil dari atas pohon dan jatuh ke tanah. Jadi burung-burung suka kawin, ya?"

"Mungkin begitu."

"Kambing juga suka kawin. Ayam juga suka kawin. Nah, kamu pernah melihat monyet kawin?"

"Belum pernah."

"Wah, hebat. Aku senang sekali melihatnya."

Waras terus bercerita tentang kekawinan binatang-binatang yang pernah dilihatnya. Lancar, tanpa emosi apa pun. Srintil mendengarkannya dengan penuh minat, dengan penuh penantian. Bahwa pada gilirannya Waras akan bercerita juga tentang kekawinan yang lain. Tetapi cerita demikian tak kunjung keluar dari mulut anak perjaka Sentika itu. Waras merasa bercerita tentang aspek kehidupan yang baginya tak mungkin terjadi pada manusia, tentang dunia yang hampa dari keberadaannya.Tetapi Srintil berhasil membawa Waras masuk ke kamar, mengajaknya bermain tidur-tiduran. Konsep 
tentang tidur bagi Waras terlalu sederhana. Yakin merebahkan diri di samping emak, miring-meringkuk. Tangan kanan bersembunyi di pangkal ketiak emak dan tangan kiri bermain kain kutangnya. Atau memijit-mijit puting teteknya. Dan demikian jugalah yang dilakukannya terhadap Srintil.

Mula-mula Srintil merasa yang biasa terjadi, terjadilah. Dia menunggu dalam kesadaran seorang ronggeng yang sebenarnya, dengan kerelaan yang hampir mutlak, tanpa sedikit pun menyelipkan kepentingan pribadi di sana. Tetapi penantian itu tawar bahkan kosong. Waras hanya berhenti pada bermain kain 
kutangnya sambil merengek pelan seperti bayi. Makin lama geraknya makin lemah. Matanya tertutup kemudian terdengar dengkurnya yang teratur dan panjang. Waras lelap dalam mimpi seorang bocah.

Srintil bangkit. Gerakannya lembut agar Waras tidak terjaga. Kemudian dipandanginya perjaka itu. Srintil merasa yakin ada sesuatu yang harus dikutuk; sesuatu yang telah membuat Waras tinggal antara ada dan tiada dalam dunianya. Bahkan Srintil takkan mau mengerti meskipun sesuatu ini misalnya bernama kersane sing akarya jagat, kehendak Sang Mahasutradara. Karena dalam kesadarannya sebagai ronggeng Srintil merasa menjadi malam yang harus berpasangan dengan siang. Atau sejuknya air yang harus menjadipenawar panasnya api. Srintil adalah keperempuanan. Maka dia merasa amat dirugikan ketika menghadapi tiadanya kelelakian.

Segala sesuatu di dunia ini ada berpasang-pasangan, demikian pengetahuan dasar Srintil. Pengetahuan yang telah mengakar menjadi keyakinan yang sulit tergeser. Maka selama yakin dirinya perempuan, dia yakin pula bahwa Waras adalah laki-laki dengan kelelakiannya. Menjadi gowok ialah menjadi seniman 
pemangku naluri kelelakian. Dan menemukannya kembali bila kelelakian itu hilang. Srintil tidak lupa untuk itulah dia didatangkan ke Alaswangkal. Tetapi lebih dari itu, tanpa mendapat sebutan gowok pun 
Srintil akan melakukannya dengan kesadaran milik pribadi yang tak bisa diperbandingkan dengan perempuan mana pun, tidak juga dengan Nyai Sentika, perempuan yang telah melahirkan Waras.

Maka malam hari ketika riuh burung manyar yang bersarang pada pohon nyiur telah lama sepi. Dan kegaduhannya digantikan oleh kalong-kalong yang berebut buah salam. Dan di sana bulan menyembul di atas punggung bukit, permainan tidur-tiduran diulang. Srintil berperan lebih berani; menggiring dan 
menuntun hingga sampai ke titik yang tak mungkin berlanjut. Yakni ketika Srintil meminta Waras memperagakan pengetahuannya tentang sepasang monyet dengan diri mereka berdua sebagai pelaku. Waras kelihatan demikian bingung kemudian menampik.

"Itu kan monyet. Kita tak boleh melakukannya. Saru. Kata emak, itu saru dan sembrono. Ora ilok. Dan aku tidak pernah melihat orang berbuat seperti monyet itu. Apa kamu pernah melihatnya?"

Dengan pertimbangan yang dalam Srintil menjawab dengan anggukan kepala. Waras terpesona. Dipandangnya Srintil dengan tatapan mata penuh rasa heran, sungguh-sungguh heran. Melalui anggukan kepala itu sesungguhnya Srintil sedang melakukan upaya kali terakhir. Penjajagan. Tetapi yang terbaca 
dari wajah Waras adalah sikap memustahilkan hubungan ragawi antara dua manusia lelaki dan perempuan, apa pun namanya. Srintil harus mendan ludah berkali-kaii karena harus meyakini keadaan Waras: dia benar-benar hilang dari dunia kelelakian dan Srintil pasti tak sanggup lagi menemukannya kembali. Srintil 
menyerah dalam kekecewaan yang amat sangat. Bukan karena tak terpenuhinya kebutuhan pribadi, melainkan karena kenyataan bahwa pada suatu ketika keperempuanannya sama sekali tidak berarti, hal mana belum pernah sekali pun terbayangkan.

Malam itu Srintil hanya menyediakan diri sebagai perbandingan oleh Waras. Teteknya penuh, tidak gepeng seperti tetek Nyai Sentika. Pipinya kencang, lengannya padat, dan tubuhnya lebih hangat. Mulutnya seperti bayi, harum. Malam itu Waras tidur lebih awal dan lebih lelap. Tidak sekali pun dia bertanya 
mengapa mereka hanya tinggal berdua dalam rumah yang besar itu. Dia lupa akan emaknya dengan siapa selama ini dia bergantung.

Tiga malam berikutnya adalah pengulangan malam yang pertama. Tetapi Srintil merasa ada sesuatu di luar kamarnya. Dia mencium bau sirih. Dalam kelengangan yang hampir sempuma itu Srintil juga mendengar suara tarikan napas di luar kamar. Dan Srintil sadar, sesuatu harus diperbuatnya. Maka kakinya membuat gerakan-gerakan teratur sehingga menimbulkan suara tertentu. Kemudian dipijitnya hidung Waras yang sedang lelap. Waras melenguh dan Srintil mengeluh secara profesional.

Andaikata Srintil tahu bahwa dua orang yang berada di luar kamar saling berpegangan dengan kepuasan hati yang luar biasa. Andaikan Srintil tahu bahwa kemudian Nyai Sentika dan suaminya berjingkat pergi dengan keyakinan penuh bahwa Waras adalah lelaki yang tidak kurang secuil pun. Dan andaikan Srintil mengerti bahwa gerakan-gerakan kakinya telah membuat orang-orang tua semacam Sentika dan istrinya terkenang akan semangat masa muda, lalu mereka mencari tempat yang baik buat bernostalgia.

Pada hari keempat semuanya selesai. Pagi-pagi sekali Srintil minta diri kepada suami-istri Sentika. Waras tidak tahu karena dia belum bangun. Terjadilah perpisahan yang penuh emosi. Nyai Sentika, bahkan juga anak-anaknya yang perempuan menangis. Srintil ikut menangis. Nyai Sentika memeluk dan mengelus Srintil dengan rasa sayang melebihi rasa terhadap anak kandungnya.

Bersama kabut tipis yang mulai lenyap oleh cahaya matahari Srintil berjalan menuruni bukit, meninggalkan Alaswangkal. Di belakangnya berjalan Mertanakim yang disuruh majikannya mengawal Srintil sampai ke Dukuh Paruk. Sebuah sapu tangan dalam genggaman Srintil penuh uang. Tetapi hanya 
Srintil pribadi yang tahu bahwa uang yang banyak itu tidak bisa mengusir rasa perih dalam hatinya. Perih karena sesungguhnya Srintil pulang membawa kegagalan yang tidak kepalang. Waras tidak mungkin dilupakannya sepanjang masa; simpati bagi seorang manusia dalam kemalangan abadi. Atau, haruskah Srintil tahu bahwa Waras menangis sejadi-jadinya, melolong, dan berguling-guling ketika dia tahu bahwa Srintil telah meninggalkannya, kembali ke dunia yang kecil terpencil; Dukuh Paruk?

Tidak seorang pun di Dukuh Paruk mempunyai kalender. Bila pun ada tak seorang pun di sana bisa membaca bahwa waktu telah berjalan sampai pada tahun 1964. Dukuh Paruk tetap tegak dan makin gagah dengan ronggeng cantik berusia delapan belas tahun. Dukuh Paruk meraih masa ketenaran yang belum 
pernah terjadi sebelumnya.

Bila rombongan ronggeng Dukuh Paruk naik pentas bukan lagi puluhan melainkan ratusan orang yang berkerumun menontonnya. Boleh jadi musik calung dengan tembang Banyumasan adalah hal yang sudah terlalu biasa bagi mereka. Tetapi tentang diri Srintil masalahnya menjadi terlalu istimewa. Dia adalah kesegaran dan gairah hidup. Memandangnya, bahkan hanya sekedar mengenangnya, menjadikan orang sejenak terlepas dari perkara keseharian, suatu hal yang diakui atau tidak menjadi kebutuhan setiap orang. Dan bagi tiap lelaki Srintil adalah angan-angan, kupu yang melambung dan membuat banyak lelaki ingin menangkapnya.

Tidak sedikit rumah tangga yang kisruh karena suami benar-benar berusaha memiliki Srintil dan mengambilnya sebagai istri. Banyak anak muda yang memaksa menjual tanah karena ingin tampil pantas dan berkelayakan menggandeng Srintil. Dan semuanya tidak peduli apakah Srintil sungguh-sungguh cantik 
atau hanya kelihatan cantik berkat susuk yang tersembunyi di balik alis, bibir, atau pinggulnya.

Tetapi di Dukuh Paruk sungguh tidak ada masalah kerumahtanggaan. Tak ada seorang istri pun yang merasa rugi oleh kecantikan Srintil. Boleh jadi karena semua orang di sana masih terikat dalam pertalian darah. Atau karena terikat dalam tatanan nilai yang tersendiri. Sudah biasa di sana seorang istri yang sedang hamil tua atau baru melahirkan menyuruh suaminya meminta jasa kepada Srintil. Nasihat dukun bayi kepada para suami juga bernada sama. "Awas, jangan dulu menjamah istrimu sebelum seratus hari. 
Mintalah kepada Srintil bila tak bisa menahan diri."

Atas kesadaran primordial biasanya Srintil rela memberikan jasa. Namun dalam perkembangannya tak ada lelaki Dukuh Paruk yang memiliki cukup keberanian untuk mendekati Srintil. Bukan hanya karena Srintil 
sudah demikian kaya menurut ukuran Dukuh Paruk. Atau karena penampilan lahirnya yang sudah jauh berbeda dengan rata-rata orang di pedukuhan itu. Tetapi terutama karena kepribadian Srintil yang bermartabat. Srintil tidak sama dengan ronggeng-ronggeng sebelumnya yang menjadikan uang satu-satunya nilai tukar. Semua orang sudah mencatat bahwa Srintil hanya akan melayani laki-laki yang dia sukai. Atau catatan lain yang istimewa; Srintil senang menerima lelaki yang beristri cantik. Entahlah. Dan apabila laki-laki itu termasuk ke dalam jenisnya yang tidak suka berpetualang maka Srintil yang mengambil prakarsa. Srintil mulai menggodanya.




Bersambung... 

______________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...