Episode 27
"Masih menjual jangkrik di pasar Dawuan, Kang?" tanya Srintil kepada Sakum yang
sedang menata ruas-ruas bambu berisi dagangan, jangkrik.
"Lha iya. Mau apa lagi, Jenganten. Untung ada jangkrik!"
"Ya. Aku mau minta tolong, Kang. Belikan gula dan bubuk kopi yang bagus. Juga pepaya dan jeruk. Mau, Kang?"
Sakum diam sejenak. Kedua matanya yang keropos bergerak-gerak. Sakum yang memiliki kepekaan luar biasa menangkap kelainan suasana. Memang bukan sekali-dua Srintil minta tolong dibelikan sesuatu tetapi biasanya kelepon atau ondol-ondol buat Goder. Kadang juga ketupat. Kali ini adalah gula, kopi, dan buah-buahan. Lebih dari itu Sakum merasa suara Srintil keluar dari jiwa yang dalam.
"Mau, Kang? Ini uangnya."
"Tentu saja mau, Jenganten," jawab Sakum yang cengar-cengir. "Ada tamu ya! Siapa?"
"Kok kamu tahu, Kang?"
"Ya! Sampean sudah kenal sejak bocah siapa Kang Sakum."
"Benar, Kang. Ada orang mau bertamu ke rumahku."
"He... he. Marsusi, ya?"
"Salah. Orang Jakarta, Kang."
"Orang Jakarta? Ah, ya, di pasar Dawuan orang berkata sekarang ini banyak priayi Jakarta berdatangan. Nah, Jenganten, andaikan sampean masih meronggeng. Bukan
main!"
"Aku tidak akan meronggeng lagi, Kang. Aku sudah tua."
"Iya! Si Sakum tahu sampean bukan lagi seorang ronggeng. Bukan karena sudah tua.
Sampean masih muda. Tetapi si Sakum setiap hari mendengar suara sampean, bukan lagi suara ronggeng. Tidak bisa tidak sekarang Dukuh Paruk tanpa ronggeng."
Ada tekanan yang khas dan pasti pada kata-kata Sakum. Sekarang Dukuh Paruk tanpa
ronggeng. Mula-mula Srintil agak terkejut mendengarnya. Matanya membulat dan kedua alisnya naik pertanda Srintil sedang berusaha keras memahami kata-kata si mata keropos. Memahami apa yang terucap dan apa yang tersembunyi di baliknya. Lalu Srintil maju selangkah dan berbisik di dekat telinga Sakum.
"Betulkah aku bukan lagi seorang ronggeng, Kang?"
"Betul! Andaikan dipaksa meronggeng pun sampean bakal tidak laku. Burung indang telah terbang dari kurungan. Indang ronggeng kini tidak ada pada tubuh sampean."
Kedua pundak Srintil jatuh. Napas lega berembus dengan bebas dan lepas. Kata-kata
Sakum terdengar sebagai mantra sakti yang telah membebaskan Srintil dari beban moral yang teramat berat dan Srintil tak kuasa menahan air matanya.
"Lho, sampean menangis?"
"Aku tidak menangis, Kang. Tidak."
"Jangan bohong. Aku mendengar napas orang menangis. Percuma, Jenganten. Jangan menangis. Ditangisi pun indang ronggeng takkan kembali."
"Jangan salah duga, Kang. Aku menangis bukan karena sedih tetapi karena senang."
"He... he. Lha iya. Lebih baik nrimo pandum saja. Dan bergembira karena akan ada tamu orang Jakarta."
"Kang?"
"Eh, mana uangnya. Aku mau berangkat, nanti kesiangan."
Srintil menyerahkan uangnya. Lalu diperhatikannya Sakum yang berangkat menuju pasar Dawuan. Meski buta kedua matanya Sakum dapat mengenali jalan yang akan dilaluinya seperti dia mengenal setiap benda di ujung jari. Kemudian Srintil meneruskan maksudnya mandi di pancuran. Selama melangkah ke sana Srintil tidak mendengar suara anak-anak Sakum yang sudah heboh dengan ayunan bambunya. Tidak
didengarnya suara burung-burung. Di dalam telinga Srintil hanya terdengar suara kecapi Wirsiter dan Ciplak, penjaja musik yang selalu membawakan asmara dahana.
Ketika sedang mandi kata-kata Sakum terus mengiang di telinga Srintil; dia bukan lagi
ronggeng. Duh, Pengeran, alangkah enak didengar. Sekarang baru Sakum seorang yang
mengatakan aku bukan ronggeng. Aku akan membuktikan diri sehingga nanti semua orang berkata sama seperti Sakum.
Dan masih di pancuran itu Srintil mulai membuktikan diri siapa dia sekarang. Ketika
masih meronggeng Srintil selalu mandi telanjang dan tenang saja bila ada mata laki-
laki mengintipnya, pura-pura tidak merasa sedang diintip atau bahkan sengaja demi
mempermainkan jantung laki-laki. Itu dulu. Kini Srintil mandi dengan kain petelesan sehingga hanya dari dada ke atas yang terbuka. Dulu Srintil sering mandi sambil greyengan, sekarang dia mandi dengan tertib dan khidmat.
Citra seorang perempuan kebanyakan, itulah yang ingin digapai oleh Srintil sampai kepada hal yang sekecil-kecilnya. Srintil sudah lama memikirkannya, lama sekali. Tetapi baru di pancuran itulah dia melaksanakan dalam tindakan setelah Sakum mengatakan dengan sungguh-sungguh bahwa Srintil sudah ditinggal indang ronggeng.
Atau bahkan sebenarnya sudah lama Srintil mempertanyakan kembali konsep
keperempuanannya yang sekian lama diyakini sebagai bagian dari kebenaran. Bahwa
keperempuanan berada pada piring timbangan yang satu dan piring timbangan yang lain berisi kelelakian. Itu yang utama. Dan bahwa seorang perempuan tertentu adalah istri lelaki tertentu adalah nomor dua. Dalam pengertian ini Srintil merasa bangga menjadi ronggeng karena seorang ronggeng adalah dinginnya air bagi panasnya api kelelakian. Dia adalah pemangku naluri kelelakian, bukan hanya pemangku naluri
seorang laki-laki. Urusan kelelakian seperti demikian adanya jauh lebih luas daripada
urusan seorang lelaki. Maka dulu Srintil berpendapat tugas seorang ronggeng dalam
kehidupan lebih mulia daripada tugas seorang istri.
Kemudian Srintil sendiri yang merasakan kepahitan sejarah hidup yang ditempuhnya
sebagai perempuan milik umum. Dia ingin membalik pengertian semula; menjadi istri
laki-laki tertentu adalah inti keberimbangan antara keperempuanan dan kelelakian. Maka tugas seorang istri lebih mulia daripada tugas seorang ronggeng. Dan pagi ini Srintil mendengar Sakum berkata bahwa dia bukan lagi ronggeng.
Pulang dari pancuran Srintil menengok Goder, ternyata masih tidur. Kemudian ke dapur. Mulai pagi ini Srintil akan mengambil- alih segala urusan dapur yang semula diserahkan kepada neneknya, Nyai Sakarya. Seorang perempuan somahan adalah perempuan yang mengerti dan mau mengurusi keperluan dapur. Srintil akan melakukannya dengan segala senang hati.
Di pasar Dawuan Sakum menarik perhatian orang karena berbelanja buah-buahan dalam jumlah yang banyak. Orang tidak percaya dari uang penjualan jangkrik Sakum bisa berbelanja sebanyak itu. Biasanya Sakum hanya membeli sedikit minyak kelapa, setengah botol minyak tanah, singkong, dan kelapa. Kali ini ada jeruk dan pepaya.
"Hayah, Kang Sakum," ujar Babah Gemuk dari tempat dagangannya, "kamu belanja-belanja. Kamu banyak duit sekalang. Dapat nomel buntut, ya?"
"Buntut jangkrik, Bah?" Sakum balik bertanya dengan seloroh
Episode 28
"Nomel buntut. Apa olang Dukuh Paluk tidak doyan buntutan?"
"Tidak, Bah. Orang Dukuh Paruk tidak punya uang."
"Nah, itu kamu belanja-belanja? Uang dali mana?"
"Ini Srintil yang titip, Bah. Kalau aku, mana punya uang."
"E, iya. Hayah. Slintil sudah lama tidak kelihatan di pasal. Pagimana dia?"
"Apa tidak tahu Srintil baru pulang dari tahanan?"
"Saya tahu, saya tahu. Tetapi sekalang dia di lumah. Suluh kemali dia. Hayah. Saya ada
balang bagus-bagus. Ada pupul dali Palis, ada gincu dali Hong Kong, ada tas dali Singapula. Hayah, banyak balang bagus."
"Ada jangklik dali Amelika!" jawab Sakum dengan tawa. Orang-orang yang mendengar
ikut tertawa. "Aku tidak main-main. Suluh Slintil datang kemali. Dia masih cantik, kan?"
"Cantik memang miliknya, Bah."
"Naaa. Apa aku kata. Katakan sama dia. Bila datang kemali ada hadiah dali Babah Gemuk. He... he... he..."
"Tidak bisa, Bah. Srintil akan menerima tamu orang Jakarta. Yang kubawa ini jeruk dan
pepaya, akan digunakan Srintil untuk menyuguh tamunya." Sakum berlalu menjinjing
bawaannya yang berat.
Babah Gemuk sudah lupa apa yang terjadi beberapa detik berselang. Dia mulai sibuk
melayani pembeli. Tetapi para perempuan mulai berceloteh.
"Memang untung jadi orang cantik. Biar habis ditahan, biar tinggal dalam gubuk terpencil di Dukuh Paruk, masih ada saja lelaki yang mencarinya. Tamu Srintil kali ini malah orang Jakarta."
"Memang. Dan salahmu sendiri, Mbakyu, kenapa mau jadi orang tidak cantik. Bibir
bergantungan dan hidung seperti buah salak."
"Iya. Untung suamiku bodoh sehingga aku sempat melahirkan anak-anak."
"Suamimu tidak bodoh, Mbakyu. Dia hanya melarat. Coba kalau dia punya uang. Pasti
dia tidak sudi punya istri sampean."
"Lalu suamimu?"
"Dia suamiku bila di rumah. Bila di luar saya tidak tahu."
"Iya. Aku sebenarnya juga tidak tahu apa yang dilakukan suami di rumah selagi aku di pasar begini. Tetapi aku tak pernah berpikir macam-macam. Aku tak mau sakit menahun."
"Dalam kehidupan ini, Mbakyu, ada perempuan-perempuan semacam Srintil. Entah mengapa."
"Iya, Boleh jadi enak jadi perempuan macam dia. Tidak pernah susah-susah bekerja tetapi dapat uang."
"Mbakyu iri, ya!"
"Kadang ya, kadang tidak. Iri bila sedang menghadapi kerepotan macam-macam dan
suami banyak tingkah. Tetapi tidak iri bila aku sedang sadar awak ini buruk. Punya suami sudah untung!"
"Tetapi, Mbakyu, coba lihat tetangga kita penjual kain batik itu. Di pasar Dawuan ini
pasti dialah yang paling kewes, anak orang kaya pula. Suaminya, Mbakyu. Sudah jelek,
kerjanya cuma memikat burung perkutut. Kadang malah mengambil uang istrinya buat
berjudi. Mbakyu, sampean mau berkata apa tentang perempuan seperti tetangga kita itu?"
"Gampang. Tentu saja dia perempuan bodoh. Karena dia tidak menyadari dirinya yang bisa bersanding dengan laki-laki yang lebih pantas. Misalnya aku..."
"Mbakyu, kok keluarga mereka tenang saja?"
"Bila demikian maka yang diperlukan perempuan seperti itu hanya seorang lelaki yang menjadi ayah anak-anaknya. Itu saja. Tetapi bagaimanapun juga suaminya adalah
lelaki asu buntung, mau enaknya saja!"
"Nah, Mbakyu. Bagaimana tentang seorang suami yang gagah, punya duit, tetapi istrinya royal?"
"Itu perempuannya yang asu buntung!"
"Wah! Jadi yang benar mana?"
"Yang benar? Ya kita ini. Kita memang buruk tetapi punya suami dan anak-anak. Dan suami kita tidak nyeleweng karena mereka melarat. Lho iya! Kita beruntung karena kita nrimo pandum."
"Jadi sampean tidak iri dengan Srintil?"
"Yah, tidak."
"Tidak mengeluh karena sampean punya hidung seperti buah salak?"
"Hus!"
Cekikikan yang renyah terdengar dari sudut pasar. Renyahnya kehidupan bersahaja dan
penuh kerelaan. Hidup ini dihayati seperti apa adanya.
***
Rasus bimbang ketika mendapat cuti tiga hari sebelum dia bersama batalionnya
diterbangkan ke Kalimantan Barat untuk bertugas di sana. Hampir semua temannya
pulang kampung; yang sudah kawin pulang berpamitan kepada anak-istri, yang masih
bujangan pulang hendak minta restu kepada orang tua. Rasus sudah tidak punya siapa-
siapa lagi. Kedua orang tuanya mati termakan racun bongkrek ketika Rasus masih sangat bocah. Nenek yang terpaksa berperan sebagai satu-satunya orang tua sudah meninggal lebih dari dua tahun yang lalu.
Dalam suasana biasa sebetulnya Rasus sudah berhasil membangun simbol pengganti orang tua. Untuk menentramkan hati kadang Rasus meyakinkan diri bahwa orang tuanya adalah kehidupan di mana dia menjadi salah seorang warganya. Kadang dia meyakini bahwa ayahnya bernama Divisi ke-7 Diponegoro dan ibunya adalah Batalion PQR. Saudara-saudaranya adalah seragam hijau dan bedil bersama amunisinya. Namun ketika melihat teman-temannya bertebaran pulang ke rumah masing-masing, simbol yang dibangun sedikit demi sedikit mendadak mandul. Divisi ke-7 Diponegoro dan batalionnya adalah orang tua yang baru dikenal sejak Rasus masuk tentara. Dia tidak menyimpan kenangan masa lalu, masa kanak-kanak yang penuh tawa dan tangis. Divisi dan batalion tidak menyediakan daun gadung buat bermain layang-layang, tidak
memberikan tanah teduh di bawah pohon nangka sebagai arena bermain.
Dukuh Paruk dan hanya Dukuh Paruk. Meski sudah tidak ada orang tua atau kakek-nenek di sana, namun Dukuh Paruk masih mengundang kerinduan. Dulu, demi kesetiaan kepada Dukuh Paruk, Rasus rela dipukul komandan hingga pingsan. Demi Dukuh Paruk, Rasus pernah menempuh risiko besar dengan menerobos masuk rumah tahanan guna menemui seorang warga Dukuh Paruk yang sedang menjalani pengucilan. Bahwa dia yang dikucil bernama Srintil tidaklah utama. Tanah airnya yang kecil
terpencil sudah diketahui Rasus dalam keadaan yang lebih merana. Bila dia kembali ke
sana Rasus bukan hanya akan bertemu kumbang tahi yang beterbangan di pagi hari dan perut anak-anak yang cacingan. Rasus bukan hanya akan bertemu dengan wajah-wajah yang pucat serta serapah cabul. Kini Dukuh Paruk akan menyambutnya pula dengan
atap-atap ilalang
Episode 29
Tetapi Rasus merasa tak mampu ingkar bahwa Dukuh Paruk adalah ibunya yang paling sah. Dukuh Paruk adalah sejarahnya sendiri yang paling pantas dibaca kembali ketika dia mendapat cuti tiga hari. Ke sanalah Rasus sedang melangkah setelah turun dari bus di Dawuan untuk berkangen-kangenan dengan pertiwinya yang kecil. Rasus ingin melihat rahim yang telah melahirkannya sebelum berangkat ke Kalimantan Barat entah untuk berapa lamanya.
Mencapai pematang panjang yang lurus menuju Dukuh Paruk, Rasus melihat seorang
laki-laki berjalan jauh di depan. Dalam jarak beberapa puluh meter Rasus tidak bisa
mengenali siapa laki-laki itu. Tetapi makin dekat makin kelihatan langkah kaki laki-laki
itu meraba-raba.
"Kang Sakum, tunggu!"
Sakum serta-merta menghentikan langkah. Ingatannya bekerja untuk mengenali siapa
pemilik suara yang memanggilnya. Laki-laki buta itu kelihatan ragu karena sudah lama
tidak mendengar getar suara seperti yang baru didengarnya.
"Kang Sakum! Dari mana kau?"
"Eh? Rasus, Mas Rasus?"
"Iya, Kang."
"Waduh, Pak Tentara. Sampean masih mau kembali ke Dukuh Paruk? Saya kira sudah
lupa karena sampean sudah jadi tentara."
"Ah, masa begitu. Kucing saja tak pernah lupa di mana dia dilahirkan, apalagi saya."
"Syukur, kalau begitu, Mas. Sejuk hati orang Dukuh Paruk bila sampean pulang. Apalagi
sekarang, Kang Sakarya sudah meninggal."
"Meninggal? Innalillahi. Kapan?"
"Hampir seratus hari."
Rasus menggelengkan kepala dan sejenak tak bisa meneruskan bicaranya. Dukuh Paruk yang merana kini bahkan ditinggal oleh tetuanya.
"Dan sampean mendengar Srintil sudah kembali?" sambung Sakum.
"Oh, jadi begitu? Syukurlah. Bagaimana dia sekarang?"
"Bagaimana? Dulu sekali saya sudah bilang pada sampean. Ambillah dia menjadi istri
sampean. Nah, hari ini rupanya Srintil mau punya tamu. Katanya orang Jakarta. Ini jeruk dan pepaya adalah titipan Srintil, saya kira untuk menjamu tamunya nanti."
"Oh, jadi begitu. Masih sering menerima tamu dia?"
"Tidak pernah, Mas. Kemarin dulu saya dengar ada tamu, juga orang dari Jakarta. Tetapi Srintil tidak melayaninya. Kali ini entahlah. Pokoknya, ambil saja dia, Mas!"
Rasus tersenyum karena tak bisa menanggapi kata-kata Sakum. Digelengkan kepalanya buat mengusir pikiran macam-macam. Lalu dipandangnya ruas-ruas bambu yang dibawa Sakum. Ada jalan keluar untuk mengalihkan pembicaraan.
"Kamu berjualan jangkrik di pasar, Kang?"
"Lha iya. Untung anak-anak saya sudah pintar mencari jangkrik. Kalau tidak entah apa jadinya. Calung tak ada lagi. Ronggeng juga tidak ada lagi. Srintil kini bukan ronggeng.
Dia sudah tidak mungkin kembali meronggeng. Indangnya sudah terbang. Itu pasti. Sampean lihat sendiri nanti, suara Srintil bukan suara ronggeng seperti dulu. Mungkin juga perilakunya. Aku kan tidak bisa melihatnya. Sekarang ini aku tak pernah mendengar Srintil tertawa. Apalagi tembang ronggeng. Oh, kini tak ada orang Dukuh Paruk yang berani bertembang lagu-lagu ronggeng."
Sakum terus berbicara seakan ingin mengatakan segalanya tentang Dukuh Paruk,
tentang Srintil. Tentang keris Kiai Jaran Guyang yang sudah lenyap. Keris itu yang
suatu ketika diserahkan oleh Rasus kepada Srintil ternyata adalah pusaka para ronggeng Dukuh Paruk dari kurun ke kurun.
Ketika pembicaraan Sakum sampai kepada masalah Kiai Jaran Guyang ada kenangan
menyentak masuk ke dalam hati Rasus. Dulu, keris itu diberikan Rasus kepada Srintil
sebagai pernyataan kedekatan antara dua bocah Dukuh Paruk. Ketika itu Srintil yang baru menapaki pintu dunia ronggeng adalah segalanya bagi Rasus. Dia bukan hanya teman bermain. Pada diri Srintil, Rasus melihat bayang-bayang Emak yang tidak pernah dilihatnya sepanjang hidup. Emak yang lenyap entah ke mana sesudah dirawat di sebuah klinik setelah termakan racun tempe bongkrek. Emak yang mati kemudian mayatnya dicincang-cincang dalam suatu upaya penyelidikan racun bongkrek, atau Emak yang sembuh dan hidup tetapi kemudian dibawa lari oleh mantri yang merawatnya entah ke mana. Kedua versi cerita sama baurnya. Kedua-duanya dahulu membuat kekacauan luar biasa dalam jiwa Rasus muda; mala petaka jiwa yang hanya tawar oleh sosok dan perilaku Srintil. Kemudian jiwa Rasus mendapat bencana buat
kali kedua setelah Dukuh Paruk menobatkan Srintil menjadi ronggeng, perempuan milik semua laki-laki. Rasus tak mungkin bisa melihat bayang-bayang emaknya pada diri seorang ronggeng. Rasus yang hancur minggat meninggalkan Dukuh Paruk karena dia merasa tak punya dunia lagi di sana. Srintil yang menjadi ronggeng adalah Srintil yang berdaulat atas dunianya sendiri dan terhalang oleh jarak psikologis yang Rasus amat sulit menembusnya.
"Eh. Sampean diam saja, Pak Tentara?"
"Ah, tidak, Kang. Ayolah kita terus. Aku sudah ingin segera sampai ke Dukuh Paruk." Di rumahnya yang bertiang delapan potong bambu Srintil sudah kehabisan pekerjaan.
Dapur sudah beres namun dia sungguh tidak ingin makan. Halaman sekitar rumah sudah disapu. Meja kursi bersahaja yang di sana-sini tersisa bekas terbakar sudah dilap. Neneknya sedang pergi ke rumah Tampi, menitipkan Goder.
Seorang diri dirumah, Srintil berjalan hilir-mudik tak menentu. Kadang duduk sebentar lalu bangkit lagi. Beberapa kali Srintil menatap wajah sendiri dalam sebuah cermin kecil. Dia ingin selalu yakin bahwa bedak dan gincunya tidak berlebihan agar tidak dikatakan mirip
ronggeng. Sanggulnya ditata meniru sanggul istri Kapten Mortir yang telah beberapa kali dilihatnya. Istri perwira itu cantik sekali, amat serasi bila sedang berjalan berdampingan dengan suaminya. Cara memakai kain pun meniru istri Kapten Mortir, tidak menyolok dalam hal pamer bentuk tubuh. Rapi. Srintil meninggalkan cara lama, memakai kain tinggi-tinggi agar betisnya berperan sebagai pemikat mata lelaki.
Setiap kali mata Srintil menatap lorong yang akan dilalui Sakum pulang dari pasar. Ketinggian matahari makin menggelisahkan hatinya. Dan Sakum tidak kunjung pulang. Apakah si buta itu terperosok ke dalam selokan? Atau celaka terlindas andong? Akhirnya Srintil duduk, pasrah dan rela menunggu apa saja yang paling pertama akan terjadi. Tetapi baru sejenak duduk Srintil mendengar heboh anak-anak Sakum yang
menyambut ayah mereka pulang. Srintil bangkit. Dan duh, Pengeran, siapa tentara
yang berjalan di samping Sakum. Darah Srintil lenyap dari permukaan kulit. Matanya berkunang-kunang. Kesadaran pertama yang memercik dalam hati Srintil adalah dirinya akan kembali ditahan. Tentara itu datang untuk mengambilnya.
Episode 30
Tetapi mata Srintil terbuka lebar ketika melihat tentara itu berlaku amat santun terhadap anak-anak Sakum. Duh, Pengeran, Rasus. Tidak bisa salah anak kambing yang liar itu datang. Srintil berhenti bernapas, berdiri tanpa gerak. Wajahnya tegang. Matanya tak berkedip dan kedua tungkainya bergetar. Kemudian Srintil duduk kembali. Lemas. Pipinya bernoda garis basah dan turun sejajar.
Duh, Gusti. Srintil melihat tanpa daya Rasus yang berjalan gagah tetapi hanya menoleh
sejenak ke arah gubuknya. Jeruji bambu menghalang pandangan Rasus atas seorang
perempuan muda yang sedang duduk lemas. Atau Rasus sengaja tidak ingin melihatku?
Duh, Gusti.
Tidak jauh dari rumah Srintil, Rasus disergap oleh suami-istri Kartareja. Oh, mereka
kangen-kangenan dengan mesra. Nyai Kartareja menepuk-nepuk pundak Rasus.
"Eh, lha, Cucuku Wong Bagus. Tambah gagah saja sampean ini. Mari singgah dulu."
"Ya," sambung Kartareja. "Lagi pula mau ke mana lagi. Nenekmu sudah mati. Malah
gubuknya hampir roboh."
Rasus tercengang. Tetapi sesaat kemudian dia tersenyum, tawar. Langkahnya tidak gagah lagi ketika Rasus meneruskan perjalanan.
"Nanti aku akan kemari lagi. Sekarang aku mau melihat gubuk Nenek, gubukku."
Semua mata di Dukuh Paruk menatap ke sana ketika Rasus berjalan makin lambat dan
kemudian berhenti di depan gubuk neneknya. Dia tidak segera masuk. Ditatapnya gubuk itu sambil termangu. Atapnya sudah tertutup daun-daun bambu yang jatuh dan mengering lalu melapuk. Ada beringin kecil mulai tumbuh di pinggir atap, akarnya seakan siap meremas keseluruhan gubuk yang sudah condong itu. Galur rumah rayap naik dari tanah sampai ke bubungan. Dinding bambunya yang sudah bolong di sana-sini tersaput hijau lumut.
Pintu dorongan berderak patah ketika Rasus menyorongnya agar terbuka. Rumah rayap
berhamburan jatuh. Rasus harus menyipitkan mata agar tanah dan serpih-serpih kecil tidak melumpuhkan pandangannya. Lantai rumah hijau oleh lumut serta berlubang-lubang oleh gangsir yang bersarang. Seekor si kaki seribu berjalan lambat di dekat tiang kayu yang mulai ringsek. Rasus membersihkan muka yang terjaring ramat ketika melangkah masuk.
Sebuah dunia kecil telah lama berakhir dan kini tinggal remahnya. Sebuah lincak yang dulu menjadi tempat tidur Rasus pun kini telah menjadi remah. Di atas pelupuhnya bertaburan segala tahi, dari tahi ngengat, tahi cicak sampai tahi tikus. Rasus mencoba membersihkannya dengan topi lapangan yang bertengger di kepala. Tidak bisa bersih sempurna, namun Rasus menurunkan ransel untuk diletakkan di atas lincak itu yang
berderik hebat ketika Rasus menindih dengan tubuhnya.
Berbantal ransel Rasus berbaring menengadah. Matanya tertutup seakan tak kuasa lebih lama menatap sarang tua yang lebih lima belas tahun dihuninya, rahim yang
telah menetaskannya menjadi warga kehidupan. Ada keresek kadal lari di atas atap
yang penuh sampah kering. Sesaat kemudian terdengar kegaduban di kayu bubungan.
Seekor tikus mencicit dan sia-sia membebaskan diri dari gigitan ular ubi yang mulai menggulungnya.
Rasus terus memejamkan mata. Boleh jadi demi menahan tetes air matanya. Atau demi seribu kenangan yang hidup kembali dengan jelasnya. Mungkin juga demi ingatannya kepada Srintil yang mendadak muncul di depan mata. Kemarin ketika berangkat dari tempat tugasnya Rasus tidak menduga akan bertemu Srintil di Dukuh Paruk karena menyangka dia masih dalam tahanan.
Anak-anak merasa heran ada tentara masuk bahkan tiduran di dalam gubuk suwung. Mereka datang dan berdiri berkeliling di halaman, berbisik-bisik dan ada yang
mengintip ke dalam. Tetapi anak Sakum, yang terbesar di antara belasan anak itu dengan bangga menerangkan kepada teman-temannya siapa tentara yang berada di dalam itu. Semua tercengang hampir tak percaya bahwa Rasus sama seperti mereka, anak Dukuh Paruk yang sebenar-benarnya.
"Jadi Pak Tentara itu saudara kita juga. Dulu, inilah rumahnya," kata anak Sakum. Wajah semua anak berseri-seri.
Beruntung Rasus mendengar cakap anak-anak itu sehingga pikiran yang sedang mengawang perlahan-lahan mengendap kembali. Ya, anak-anak. Kasihan mereka tidak mengenal siapa aku, pikir Rasus. Dia bangun lalu berjalan ke luar dengan senyum. Tetapi semua anak hendak berlari dan baru berhenti ketika Rasus memanggil mereka berulang-ulang. "Kemarilah, Anak-anak. Aku ingin bicara dengan kalian."
Anak-anak berhimpun kembali. Dengan canggung mereka berbalik berjalan mendekati
Rasus. Namun Rasus sendiri bimbang hendak berbicara tentang apa dengan anak-anak yang bertelanjang badan itu.
"Ah, begini, Anak-anak. Sekarang sedang musim permainan apa?"
Tak ada yang menjawab. Tetapi seorang anak yang memegang layang-layang daun gadung menggerakkan tangannya.
"Ya, sekarang kemarau. Kalian suka main layang-layang?"
"Ya, Pak."
Rasus menghitung anak-anak itu. Lelaki ada delapan, perempuan tiga. Anak lelaki yang
paling besar disuruh maju.
"Kamu lari ke Dawuan membeli delapan layang-layang dengan benangnya. Ini uang.
Kalian yang perempuan suka main apa?"
Tak ada jawaban.
"Baik. Kalian boleh bermain bola karet. Belilah tiga buah, ini uangnya."
Ada kegembiraan luar biasa di halaman gubuk kosong itu. Anak-anak perempuan lari
berlompatan setelah menerima uang dari tangan Rasus. Yang laki-laki berjingkrakan
karena sebentar lagi mereka akan memiliki sebuah layang-layang kertas, bukan layang-
layang daun gadung yang bertali rami batang pisang. Rasus masuk ke gubuk dan mengambil pisau tentara dari dalam ransel.
"Mari, Anak-anak, aku pun masih suka bermain. Lihatlah."
Mata Rasus berkeliling mencari bahan sasaran. Sebuah batang pisang kepok. Pisaunya dilempar ke sana, menghunjam masuk sampai ke gagangnya. Mata anak-anak
terbeliak. Mulut mereka membentuk bulatan. Sedetik kemudian sorak-sorai mereka
meledak. Rasus mengulang permainannya beberapa kali lagi. Kadang dia melemparkan
pisaunya setelah lebih dulu membuat gerakan jungkir balik di udara. Anak-anak kelihatan menahan napas. Mereka sulit percaya balawa tentara yang tangkas itu benar-benar orang Dukuh Paruk. Terakhir Rasus memegang pisau pada ujungnya lalu menjatuhkannya lurus ke tanah. Pada saat terakhir kakinya mengayun menendang gagang pisau itu dengan sepatunya. Sekali lagi batang pisang kepok di sana merasakan tusukan yang keras dan jitu. Kali ini anak-anak membisu. Mulut mereka terkunci oleh rasa kagum. Anak-anak meminta Rasus meneruskan permainannya. Namun dengan halus Rasus menolak. Tiba-tiba saja semangatnya jatuh. Rasus teringat seorang teman yang pernah bermain pisau seperti itu. Bedanya bukan batang pisang yang dijadikan
sasaran, melainkan seorang manusia yang terikat kedua tangannya. Rasus memejamkan mata tanpa dimengerti oleh anak-anak yang mengelilinginya.
Episode 31
Anak Sakum yang berlari ke pasar Dawuan untuk membeli layang-layang telah kembali.
Delapan layangan lengkap dengan benangnya diserahkan kepada Rasus.
"Bagi saja, seorang satu."
Rasus melepas sepatu dan bajunya lalu menggiring anak-anak ke sawah di utara
pedukuhan. Angin kemarau bertiup dari tenggara, mengapungkan delapan layang-
layang aneka warna tinggi di udara. Kegembiraan siang itu adalah ceria yang sudah
sekian lama tidak terjadi di Dukuh Paruk. Rasus sendiri tidak ikut turun ke sawah. Dia berdiri bersilang tangan di tepi dukuh, menatap anak-anak dengan wajah berseri,
menatap bagian masa lalunya yang paling mengesankan.
Satu-satu orang dewasa berdatangan, berdiri mengelilingi Rasus. Mereka terlarut dalam kekangenan dan keakraban yang menyatu ditambah dengan ceria anak-anak yang sedang bermain layang-layang di tengah sawah. Lama-kelamaan hampir semua orang Dukuh Paruk muncul di tepi pedukuhan itu. Dalam diam dan dengan pandangan mata mereka menyatakan bangga mempunyai Rasus yang masih tetap berhati Dukuh Paruk, terbukti dengan keakrabannya yang tanpa cela terhadap anak-anak itu.
Rasus memutar tubuh membelakangi sawah agar bisa melayani percakapan orang-orang sepuaknya. Dan dia tidak melihat Srintil. Hati ingin bertanya di mana dia, tetapi bibirnya tak mau bicara. Rasus hanya bisa menduga-duga, Srintil sedang menerima tamunya, orang Jakarta. Siapa tahu.
Tidak. Srintil masih duduk seorang diri. Dia sedang merasakan perihnya hati yang
terbelah, ditarik oleh dua kekuatan yang saling berlawanan arah. Dari balik dinding berjeruji bambu Srintil melihat orang-orang yang berjalan hendak menemui Rasus. Bahkan sesudah menggeser kursinya Srintil dapat melihat Rasus sedang dikerumuni oleh orang-orang Dukuh Paruk. Di antara semua warga Dukuh Paruk akulah yang mempunyai catatan paling pribadi tentang Rasus. Dan mudah-mudahan dia pun tidak menghapus catatan itu di hatinya. Tetapi mengapa aku tetap di sini?
Sudah beberapa kali Srintil mencoba melepaskan diri dari kungkungan khayali agar
dapat segera lari menjelang Rasus. Namun setiap kali hendak bangkit rasa takut
menghenyakkannya kembali ke kursi. Diketahuinya Sakum telah mengatakan banyak
hal kepada Rasus. Dan dia sudah tahu bahwa hari ini atau besok akan datang seseorang
dari Jakarta ke rumah Srintil. Dalam kebimbangan hati Srintil sadar bahwa tanpa
sengaja telah tercipta jarak tertentu antara dirinya dengan Rasus justru ketika keduanya sangat berdekatan.
Mengapa dalam kehidupan ini sering terjadi letupan di luar kendali kesadaran ketika suatu ketegangan telah mencapai titik kritisnya. Seperti letupan polong orok-orok kering menyebar biji, begitu mendadak sehingga sulit diterka waktunya secara tepat.
Tiba-tiba sebuah motivasi praktis menggugah Srintil bangkit. Entah kapan lagi aku dapat melihat anak liar itu kembali ke Dukuh Paruk. Aku harus menemuinya, sekarang! Srintil berdiri diam sejenak. Matanya mengambang dan bibirnya lurus rapat. Kemudian dia bergerak setengah berlari menuju orang-orang yang sedang mengerumuni Rasus. Beberapa pasang mata melihat kedatangannya. Beberapa mulut siap berkata sesuatu namun semuanya hanya berhenti sampai pada niat. Tentang sejarah hubungan antara Srintil dan Rasus, Dukuh Paruk sudah mengetahuinya. Bukan hanya tahu sosok lahir serta sifat hubungan itu, melainkan sampai pada rohnya. Dulu sebagian nilai Dukuh Paruk tidak menghendaki hubungan terjadi lebih lanjut antara Srintil dan Rasus karena perkawinan antara keduanya akan membahayakan sendi utama kehidupan pedukuhan itu: ronggeng.
Kini zaman telah membawa perubahan besar. Dukuh Paruk baru saja dihukum oleh sejarah sehingga kini dalam keadaan yang paling kocar-kacir. Dukuh Paruk telah kehilangan harga dirinya, kebanggaannya dan kamituanya. Dalam keguncangan seperti ini Dukuh Paruk hanya mempunyai sisa harapan pada Rasus. Dia tentara, dengan demikian sangat dekat dengan kekuasaan. Atau dalam wawasan Dukuh Paruk tentara adalah kekuasaan itu sendiri. Maka Rasus yang tentara adalah harapan perlindungan, dan panutan. Dan Rasus hanya bisa memenuhi harapan itu bila dia tetap tinggal di Dukuh Paruk. Kunci utamanya terletak pada kesetiaan Rasus kepada tanah airnya yang kecil itu.
Semua orang diam menunggu adakah pertanda kesetiaan Rasus terhadap Dukuh Paruk. Sikapnya terhadap Srintil adalah sasmita yang paling sah untuk mengukur sampai di mana rasa senasib-sepenanggungan Rasus terhadap puaknya yang sedang berada dalam puncak kesengsaraan. Karena Srintil adalah titik yang paling layak untuk menambat
agar Rasus tetap berada di Dukuh Paruk untuk dijadikan pelindung dan pengayoman.
Jelas sekali Rasus tidak siap berhadapan dengan Srintil. Dia kelihatan gugup melihat
Srintil yang melangkah makin dekat dengan mata sayu dan mulut sedikit terbuka. Tetapi tiba-tiba Srintil mengubah arah jalannya. Dia membelok menyerbu Tampi. Goder yang sedang berada di punggung Tampi didaulat kemudian dipeluknya erat-erat. Tangisnya tertahan-tahan.
Rasus tahu, Srintil tahu, semua orang tahu makna bahasa suasana. Tanpa sepotong
kata pun semua mengerti siapa mengharap, siapa diharap, dan buat apa harapan. Mereka juga menyadari Srintil adalah duta Dukuh Paruk yang memikul tugas mempertahankan putra terbaiknya agar sebisa-bisa tidak pergi lagi meninggalkan puak. Dukuh Paruk sangat berharap kedua anak kesayangannya bermanis-manis lagi seperti ketika keduanya masih amat belia. Dan Dukuh Paruk sangat yakin Srintil lebih dari berkelayakan menjadi istri Rasus.
Sebuah rapat akbar yang penuh makna tetapi berlangsung bisu. Hanya ada pundak-pundak kaum lelaki yang jatuh, serta kaum perempuan yang mengusap mata. Rasus yang berdiri beku dan Srintil yang terus mengisak sambil merapatkan Goder ke dadanya. Dukuh Paruk diam menanti peruntungan. Orangnya satu per satu pergi meninggalkan Srintil dan Rasus. Mereka ingin membantu proses lahirnya sebuah harapan dengan menciptakan suasana pribadi bagi dua anak manusia yang didamba
mampu dan mau memangku kelestarian Dukuh Paruk. Orang Dukuh Paruk kemudian melihat dengan perhatian penuh ketika akhirnya Rasus bergerak. Srintil dibimbing pada pundaknya. Keduanya berjalan lambat-lambat menuju rumah Srintil. Mulut mereka lestari rapat.
Sampai di rumah Rasus mendudukkan Srintil di atas lincak. Dia sendiri mengambil kursi lalu menjatuhkan diri tanpa semangat. Diperhatikannya Srintil yang masih sibuk
dengan air matanya. Sosoknya yang sudah matang sempurna, cambang halus yang
menghias kedua tepi pipinya, masih seperti delapan tahun yang lalu ketika Srintil baru
enam belas tahun. Ketika itu beberapa malam Srintil dan Rasus tidur bersama di rumah Nenek yang kini sudah menjadi gubuk doyong. Srintil juga masih ingat betul waktu itu suatu pagi dia mendapati Rasus telah lenyap tanpa pamit.
Serpih-serpih kenangan yang melintas bersama dalam hati Srintil dan Rasus malah
membuat keduanya makin tenggelam dalam diam. Boleh jadi kebisuan makin
berkepanjangan bila Nyai Sakarya tidak muncul dari dalam.
Bersambung...
______________________________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar