Rabu, 17 Maret 2021

RONGGENG DUKUH PARUK BAGIAN 03

RONGGENG DUKUH PARUK JILID 03




Malapetaka itu masih diingat benar oleh semua orang Dukuh Paruk. Seorang nenek telah belasan kali menceriterakannya kepada Rasus, cucunya, Tentu saja nenek itu adalah nenekku sendiri karena di Dukuh Paruk hanya ada seorang bernama Rasus yaitu diriku.
 
 Sayang.
 
 Dukuh Paruk dengan segala isinya termasuk ceritera Nenek itu hanya bisa kurekam setelah aku dewasa. Apa yang kualami sejak kanak-kanak kusimpan dalam ingatan yang serba sederhana. Dengan kemampuan seorang anak pula, kurangkaikan ceritera sepotong-sepotong yang kudengar dari kiri-kanan. Baru setelah aku menginjak usia dua puluh tahun, aku mampu menyusunnya menjadi sebuah catatan. Memang menyedihkan. Catatan ini tidak lebih daripada sebuah evaluasi perjalanan hidup seorang anak Dukuh Paruk. Bahkan hal itu pun mustahil kulaksanakan sebelum aku melewati liku-liku
panjang sampai aku menemukan diriku sendiri. Ibarat meniti sebuah titian panjang dan berbahaya, aku hanya bisa menceriterakannya kembali, mengulas serta merekamnya setelah aku sampai di seberang.
 
 Sebagian ceritera Nenek kupercayai sebagai kebenaran. Sebagian lagi kuanggap sebagai bagian legenda khas Dukuh Paruk. Lainnya lagi menjadi kisah yang malah membuatku selalu tidak puas. Legenda khas Dukuh Paruk misalnya kisah Nenek tentang fenomena di pekuburan Dukuh Paruk malam hari ketika
terjadi bencana itu. Nenek mengatakan banyak obor terlihat di atas kerimbunan pohon beringin di atas makam Ki Secamenggala. Dari pekuburan itu terdengar suara tangis bersahutan. Nenek juga mengatakan bayangan Ki Secamenggala keluar, mendatangi setiap mayat yang malam itu belum satu pun sempat
dikubur.
 
 Bahkan Sakarya mendengar Ki Secamenggala mengatakan kematian delapan belas warga Dukuh Paruk adalah kehendaknya. Selama hidupnya menjadi bromocorah, Ki Secamenggala berutang nyawa sebanyak itu, maka nyawa keturunannya dipakai sebagai tebusan.
 
 Beberapa hari sebelum terjadi malapetaka itu telah terlihat berbagai pertanda. Pancuran di Dukuh Paruk mengeluarkan air berbau busuk. Pohon-pohon puring di pekuburan melayu, tetapi pohon semboja malah berbunga. Meskipun belum waktunya, anjing-anjing berdatangan ke Dukuh Paruk. Anjing-anjing jantan berebut betina dalam kegaduhan yang mengerikan. Burung kedasih berbunyi sejak malam tiba sampai terbit fajar.
 
 Itu kisah tetek-bengek yang begitu diyakini oleh setiap orang Dukuh Paruk. Siapa pun takkan berhasil mengubah keyakinan itu. Juga orang tak perlu mengutuk warga Dukuh Paruk yang percaya penuh bahwa asam tembaga adalah satu-satunya penyebab bencana. Di kemudian hari aku diberi tahu asam tembaga
benar racun. Namun sepanjang menyangkut malapetaka tempe bongkrek, asam tembaga tak terbukti berperan. Kesalahan harus ditimpakan kepada bakteria jenis pseudomonas coccovenenans yang ikut
tumbuh pada bongkrek dalam peragian. Bakteria itu menghasilkan racun kuat yang menjadi cikal-bakal kematian orang yang makan tempe bongkrek.
 
 Tetapi orang akan sia-sia menyampaikan pengetahuan ini ke Dukuh Paruk. Disana orang begitu yakin asam tembaga adalah satu-satunya penyebab racun bongkrek. Demikian, dengan menghindarkan perkakas tembaga orang Dukuh Paruk masih membuat tempe bongkrek. Jadi petaka yang terjadi ketika Srintil bayi (kata Nenek aku berusia tiga tahun saat itu) bukan musibah pertama, bukan pula yang terakhir.
 
 Aku sendiri, kata Nenek, selamat secara kebetulan. Selagi Ayah dan Emak baru merasa pusing di kepala, aku sudah jatuh pingsan. Tanpa ada yang memberi petunjuk, Nenek menggali tanah berpasir di samping rumah. Aku ditanamnya dalam posisi berdiri, hanya dengan kepala berada di atas permukaan
tanah. Sebenarnya, inilah cara orang Dukuh Paruk mengobati orang keracunan jengkol. Aneh, dengan cara ini pula aku selamat dari racun tempe bongkrek.
 
 Setelah dewasa, sekali aku pernah mencoba memikirkan hal ini. Boleh jadi dengan cara ditanam seperti itu keringatku yang pasti mengandung racun cepat terserap oleh tanah dari semua pori di kulit tubuhku. Dengan demikian kekuatan racun cepat berkurang. Ah, tetapi teori demikian sangat tidak patut dan
hanya akan mengundang tawa orang-orang pandai. Maka lebih baik kuikuti keyakinan Nenek, bahwa aku selamat karena roh Ki Secamenggala belum menghendaki kematianku.
 
 Ceritera Nenek yang paling membuatku penasaran adalah yang menyangkut Emak. Bersama Ayah, Emak juga termakan racun. Bila Ayah langsung meninggal pada hari pertama, tidak demikian halnya dengan Emak. Dia masih hidup sampai seorang mantri datang pada hari ketiga. Mantri yang berkumis dan bertopi gabus itu menolong para korban yang masih bernyawa dengan cara menghardik; mengapa
mereka makan tempe bongkrek, makanan yang bahkan tidak pantas untuk anjing.

Oleh Pak Mantri, Emak bersama lima orang lainnya dibawa ke poliklinik di sebuah kota kawedanan. Beberapa hari kemudian seorang kembali ke Dukuh Paruk dalam keadaan hidup, dan tiga lainnya sudah menjadi mayat. Emak tidak ada di antara mereka.
 
 Nenek selalu menghentikan ceriteranya di sini. Aku merasa pasti. Nenek mengetahui betul apa yang terjadi pada Emak selanjutnya. Namun seperti semua orang Dukuh Paruk, Nenek selalu berusaha menutupi kenyataan yang berlaku atas diri Emak.
 
 Sampai usia empat belas tahun, ketika Srintil mulai menjadi ronggeng itu, aku berhasil mendapat sedikit keterangan tentang diri Emak. Ada orang yang secara tak sengaja mengatakan Emak memang meninggal di polikiinikkota kawedanan itu. Namun mayatnya dibawa kekota kabupaten, disana mayat Emak
diiris-iris oleh para dokter. Mereka ingin tahu lebih banyak mengenai racun tempe bongkrek. Dengan demikian mayat Emak tidak pernah sampai kembali ke Dukuh Paruk. Di mana Emak dikubur tak seorang Dukuh Paruk pun yang mengetahuinya.
 
 Adapula orang mengatakan Emak bisa diselamatkan. Namun sampai beherapa hari Emak tidak boleh meninggalkan poliklinik. Kata orang itu, setelah Emak sehat benar dia pergi dari poliklinik itu. Bukan pulang ke Dukuh Paruk, melainkan entah ke mana bersama mantri yang merawatnya.
 
 Jadi ada dua versi kisah tentang Emak. Mana yang layak kupercaya aku sendiri selalu ragu. Namun setidaknya aku berharap, versi pertamalah yang benar. Artinya memang Emak meninggal. Mayatnya lalu dicincang untuk kepentingan penyelidikan. Pikiran durhaka semacam ini sengaja kudatangkan ke kepalaku. Kuharap orang akan mengerti andaikata versi itu benar, hakekatnya lebih baik daripada kebenaran versi kedua. Sayang, kedua-duanya tinggal menjadi ketidak pastian yang membuatku lebih merana dari pada seorang yatim-piatu.
 
 Selama bertahun-tahun aku hanya bisa berandai-andai tentang Emak. Andaikan benar Emak dijadikan bahan penyelidikan racun tempe bongkrek; maka mayat Emak dibedah. Organ pencernaannya dikeluarkan. Juga jantung, bahkan pasti juga otaknya. Orang-orang pandai tentu ingin tahu pengaruh racun bongkrek terhadap jaringan otot jantung, sel-sel otak serta bagaimana racun membunuh butir-butir sel darah merah.
 
 Darah Emak diperiksa untuk mengetahui sampai kadar berapa racun bongkrek yang terkandung cukup mematikan. Kubayangkan hampir semua bagian organ tubuh Emak dicincang-cincang. Lalu ditaruh di bawah lensa mikroskop atau diperiksa dalam berbagai perkakas laboratorium yang rumit. Terakhir,
mayat Emak yang sudah berantakan dan berbau formalin ditanam. Entah di mana, entah di mana.

Orang-orang pandai itu, siapa pun dia, merasa berhak menyembunyikan kubur Emak. Aku yang pernah sembilan bulan bersemayam dalam rahim Emak tidak perlu mengetahuinya.
 
 Dalam membayangkan pencincangan terhadap mayat Emak, aku tidak merasakan kengerian. Ini pengakuanku yang jujur. Sebab bayangan demikian masih lebih baik bagiku daripada bayangan lain yang juga mengusik angan-anganku. Itu andaikan Emak tidak meninggal melainkan pergi bersama si Mantri
entah ke mana.
 
 Boleh jadi Emak hidup senang. Di luar Dukuh Paruk kehidupan selalu lebih baik; demikian keyakinanku sepanjang usia. Mantri yang selalu bertopi gabus, berpakaian putih-putih dengan kumis panjang itu mengawini Emak. Mereka beranak-pinak. Tentulah anak mereka berkulit bersih dengan betis montok dan selalu beralas kaki pula. Setiap hari mereka makan nasi putih dengan lauk yang enak. Anak-anak itu, yang hanya hidup dalam angan-anganku, pasti menganggap aneh kehidupan di Dukuh Paruk. Emak sendiri mungkin merasa malu menceriterakan perihal kampung halamannya kepada anaknya yang baru.
 
 Suatu saat kubayangkan Emak ingin pulang ke Dukuh Paruk, karena aku yakin dia perempuan yang baik. Namun aku yakin pula mantriku itu pasti melarangnya. Atau Emak tak mungkin bisa kembali karena bersama mantri itu mereka telah pergi ke Deli, tempat paling jauh yang pernah diceriterakan Nenek kepadaku.
 
 Ah, entahlah. Akhirnya kubiarkan Emak hidup abadi dalam alam angan-anganku. Terkadang Emak datang sebagai angan-angan getir. Terkadang pula dia hadir memberi kesejukan padaku: Rasus, anak Dukuh Paruk sejati. Bagaimanapun aku tak meragukan keberadaan Emak, seorang perempuan yang mengandung, melahirkan kemudian menyusuiku. Itu sudah cukup.
 
 Lebih baik sekarang kuhadapi hal yang lebih nyata. Srintil sudah menjadi ronggeng di dukuhku, Dukuh Paruk. Usianya sebelas tahun. Aku empat belas tahun. Kini Srintil menjadi boneka. Semua orang ingin menimangnya, ingin memanjakannya. Aka tahu sendiri perempuan Dukuh Paruk berganti-ganti
mencucikan pakaian Srintil. Mereka memandikannya dan menyediakan arang gagang padi buat keramas.
 
 Siapa yang menebang pisang akan menyediakan sesisir yang terbaik buat Srintil. Kalau ada ayam dipotong karena sakit (orang Dukuh Paruk takkan pernah sengaja memotong ayam), Srintil selalu mendapat bagian. Teman-temanku sebaya, Warta dan Darsun, rela menempuh sarang semut burangrang di atas pohon asalkan mereka dapat mencuri mangga atau jambu. Dengan buah-buahan itu Warta dan Darsun ikut memanjakan Srintil.
 
 Semua itu tak mengapa. Yang merisaukanku adalah ulah suami-istri Sakarya. Mereka melarang Srintil keluar bermain-main di tepi kampung atau di bawah pohon nangka. Bila ingin melihatnya, aku harus datang ke rumah Sakarya. Atau mengintip Srintil selagi dia mandi di pancuran. Aku mengerti maksud
Sakarya memingit cucunya. Dalam waktu sebulan telah terlihat perubahan pada diri Srintil. Rambutnya yang tidak lagi terjerang terik matahari menjadi hitam pekat dan lebat. Kulitnya bersih dan hidup. Sisik-sisik halus telah hilang. Pipinya bening sehingga aku dapat melihat jaringan halus urat-urat berwarna kebiruan. Debu yang mengendap, menjadi daki, lenyap dari betis Srintil. Dan yang kuanggap luar biasa; Nyai Sakarya berhasil mengusir bau busuk yang dulu sering menguap dari lubang telinga Srintil.
 
 Pokoknya, pada usia empat belas tahun aku berani mengatakan Srintil cantik. Boleh jadi ukuran yang kupakai buat menilai Srintil hanya patut bagi selera Dukuh Paruk. Namun setidaknya pengakuanku itu sebuah kejujuran. Maka pengakuan ini berkelanjutan dan aku tidak merasa bersalah telah bersikap semacam itu. Artinya, aku mulai merasa benci terhadap siapa saja yang menganggap Srintil adalah wewenangnya, terutama suami-istri Sakarya. Terutama pula kepada pemuda-pemuda yang memasukkan
uang ke dada Srintil bila ronggeng itu menari tole-tole.
 
 Perempuan-perempuan Dukuh Paruk begitu memanjakan Srintil sehingga dia seakan tidak lagi memerlukan teman bermain. Tampaknya Srintil tidak merasa perlu memberi perhatian kepadaku atau kepada siapa pun karena semua orang telah memperhatikannya. Ah. Perhatian Srintil itulah yang terasa hilang di hatiku.
 
 Sekali aku menemukan cara licik untuk memperoleh kembali perhatian ronggeng Dukuh Paruk itu. Sebuah pepaya kucuri dari ladang orang. Pada saat yang baik, ketika Srintil seorang diri di pancuran, buah curian itu kuberikan kepadanya. Tak kukira aku akan memperoleh ucapan terima kasih yang
menyakitkan.
 
 “Sesungguhnya saya menginginkan jeruk keprok,” kata Srintil dingin. “Tetapi buah pepaya pun tak mengapa.”
 
 Aku diam karena kecewa, dan sedikit malu. Namun aku mendapat akal untuk menolong keadaan. Pikiran itu mendadak muncul setelah kulihat gigi Srintil telah berubah.
 
 “Aku tahu engkau ingin jeruk keprok. Namun buah itu tak baik buat gigimu yang habis dipangur. Engkau akan dibuatnya merasa sangat ngilu.”
 
 “Wah, kau benar, Rasus. Seharusnya aku tidak melupakan hal itu. Untung kau mengingatkan aku,” jawab Srintil. Matanya menatapku dengan sungguh-sungguh. Ketika kemudian Srintil tersenyum, sinar lembut memancar dari gigi taringnya yang telah berlapis emas. Siapa pun yang berselera Dukuh Paruk akan terpacu jantungnya bila menerima senyum dengan kilatan cahaya emas semacam itu.
 
 Aku tak bisa berkata-kata. Bahkan dalam beradu pandang dengan Srintil, aku kalah. Kurang ajar. Dasar ronggeng, pandangan matanya tak dapat kutantang. Anehnya cara Srintil memandang membuatku senang. Namun seperti sudah kukatakan, Srintil sudah tidak membutuhkan lagi teman sebaya. Maka
tanpa canggung sedikit pun kemudian dia berkata,
 
 “Aku mau mandi sekarang, Rasus. Sebaiknya engkau pulang. Kalau mau kau bisa menonton nanti malam. Aku akan menari lagi.”
 
 “Oh, jadi kau mau menari lagi nanti malam?” tanyaku demi menutupi kejengkelan.
 
 “Ya, benar. Sekarang pulanglah!”
 
 Pulanglah!
 
 Kata itu berulang-ulang terdengar di telingaku. Karena diusir dengan halus aku pun pulang. Dalam hati aku mengumpat; bajingan! Ah, sesaat kemudian aku sadar, sebenarnya aku tidak mengutuk Srintil, melainkan diriku sendiri. Soalnya aku lahir menjadi orang yang layak diusir oleh ronggeng Dukuh Paruk itu.
 
 Betapapun aku tidak suka menerima perlakuan Srintil, tetapi aku berlalu. Bukan pulang. Aku hanya menyingkir tidak berapa jauh. Di atas sebuah tonggak kayu aku duduk. Dari tempat itu pandanganku ke arah pancuran itu hanya terhalang perdu kenanga.
 
 Jadi, Srintil yang sedang membuka pakaiannya dapat kulihat dengan nyata. Kemudian datang tiga orang perempuan. Seorang di antaranya membawa arang batang padi untuk mengeramasi cucu Sakarya itu.
Perkara mandi, Srintil sungguh tidak usah repot. Ketiga perempuan itu berebut melayaninya. Srintil hanya perlu tertawa atau memekik manja bila ada tangan yang mencubit bagian dadanya.
 
 Perempuan-perempuan Dukuh Paruk itu! Kelak, sesudah aku tahu tentang perempuan luar kampung, aku bisa mengatakan perempuan Dukuh Paruk memang hebat. Dalam urusan ini aku bersyukur karena Emak telah lama lenyap dari pedukuhan itu. Kalau tidak, kukira Emak juga berbuat seperti semua perempuan Dukuh Paruk. Mereka bersaing dengan sesamanya melalui cara yang aneh.
 
 Ketika menonton Srintil menari aku pernah mendengar percakapan perempuan-perempuan yang berdiri di tepi arena. Percakapan mereka akan membuat para suami merasa tidak menyesal telah hidup dalam
kungkungan rumah tangga.
 
 “Nanti kalau Srintil sudah dibenarkan bertayub, suamiku menjadi laki-laki pertama yang menjamahnya,” kata seorang perempuan.
 
 “Jangan besar cakap,” kata yang lain. “Pilihan seorang ronggeng akan jatuh pertama pada lelaki yang memberinya uang paling banyak. Dalam hal ini suamiku tak bakal dikalahkan.”
 
 “Tetapi suamimu sudah pikun. Baru satu babak menari pinggangnya akan terkena encok.”
 
 “Aku yang lebih tahu tenaga suamiku, tahu?”
 
 “Tetapi jangan sombong dulu. Aku bisa menjual kambing agar suamiku mempunyai cukup uang. Aku tetap yakin, suamiku akan menjadi lelaki pertama yang mencium Srintil.”
 
 “Tunggulah sampai saatnya tiba. Suami siapa yang bakal menang. Suamiku atau suamimu.”
 
 Demikian. Seorang ronggeng di lingkungan pentas tidak akan menjadi bahan percemburuan bagi perempuan Dukuh Paruk. Malah sebaliknya. Makin lama seorang suami bertayub dengan ronggeng, makin bangga pula istrinya. Perempuan semacam itu puas karena diketahui umum bahwa suaminya seorang lelaki jantan, baik dalam arti uangnya maupun birahinya.
 
 Sejak peristiwa pemberian pepaya itu, aku merasa Srintil makin menjauh. Sering kusumpahi diriku mengapa aku jadi merasa tersiksa karenanya. Kuajari diriku; kecantikan Srintil bukan milikku, melainkan miliknya. Cambang halus di pipinya yang makin enak dipandang bukan milikku, melainkan miliknya juga. Kalau Srintil tersenyum sambil menari aku dibuatnya gemetar. Tetapi Srintil tersenyum bukan untukku, melainkan untuk semua orang. Meskipun demikian pengajaran demikian tidak menolongku. Aku tetap kecewa karena aku tidak lagi bisa bermain bersama Srintil.

Boleh jadi karena merasa begitu tersiksa maka kutemukan jalan untuk memperoleh kembali perhatian Srintil. Acap kali kudengar orang berceloteh bila Srintil habis menarikan tari Baladewa. Kata mereka, tubuh Srintil masih terlampau kecil bagi kerisnya yang terselip di punggung. Celoteh semacam ini membuka jalan karena di rumahku ada sebuah keris kecil tinggalan ayah.
 
 Lama aku berfikir tentang keris itu. Ada keraguan untuk menyerahkannya kepada Srintil. Aku tahu Nenek pasti akan menentang kehendakku. Untung, roh-roh jahat mengajariku bagaimana menipu nenekku yang pikun. Suatu hari kukatakan kepada Nenek,
 
 "Nek, tadi malam aku bermimpi bertemu Ayah. Dalam mimpiku itu Ayah berpesan yang wanti-wanti harus kulaksanakan,” kataku dengan hati-hati.
 
 “Apa pesan ayahmu?” jawab Nenek yang mulai terpancing kebohonganku.
 
 “Soal keris itu, Nek. Kata Ayah keris itu harus kuberikan kepada siapa saja yang menjadi ronggeng di pedukuhan ini. Demikian wangsit Ayah, Nek.”
 
 Wajah Nertek makin berkerut-kerut. Buruk bukan main. Aku berharap meski perempuan tua itu yang melahirkan Emak, kejelekan wajahnya tidak diturunkan. Namun pikiran durhaka tidak lama berada di benakku. Segera kusadari, Neneklah yang dengan sabar membesarkanku dengan susah payah. Bila
Nenek memburuh menumbuk padi, nasi yang dicatukan baginya tidak dimakan, agar di rumah aku tidak kelaparan.
 
 “Apakah karena kita kurang rajin merawatnya maka keris itu harus diserahkan kepada orang lain?” tanya Nenek.
 
 “Boleh jadi demikian, Nek,” jawabku mantap.
 
 Aku percaya tipuanku mengena. Orang Dukuh Paruk, siapa pun dia, menganggap wangsit sebagai bagian dari hukum yang pantang dilanggar. Maka dengan menyebut kata wangsit itu aku berhasil menipu Nenek secara sempurnasempurna. 


Keris bekas milik ayah tidak lebih dari dua jengkal tanganku. Sarungnya berlapis kuningan atau suasa. Tangkainya terbuat dari kayu walikukun, berbentuk aneh. Bila diperhatikan benar, tangkai keris itu mirip kemaluan laki-laki. Meskipun aku bernama Rasus yang lahir di Dukuh Paruk, aku tidak tahu-menahu tentang keris. Aku tidak tahu kegunaannya. Maka tidak sedikit pun aku merasa sayang menyerahkannya kepada Srintil. Yang kuperlukan sekarang adalah waktu yang baik untuk melakukan penyerahan itu.
 
 Setiap hari bila matahari sudah naik, suami-istri Sakarya pergi ke ladang mereka. Pada saat seperti itu Srintil seorang diri di rumah. Mencari kutu dengan perempuan-perempuan dewasa, atau tidur pulas bila malam sebelumnya Srintil habis menari. Yang kupilih adalah saat demikian. Aku masuk dari pintu
belakang, mengendap-endap sampai ke bilik Srintil. Rumah Sakarya amat lengang. Srintil tergeletak di atas balai-balai, pulas. Di dekat bantalnya tercecer banyak uang logam. Menjengkelkan bila mengingat bagaimana uang logam itu dimasukkan ke dada Srintil oleh para perjaka. Aku tahu pasti, tangan para
perjaka itu bukan sekedar memasukkan uang. Dada Srintil yang masih sangat muda itu pasti
diperlakukan secara tidak senonoh.
 
 Aku tetap berdiri memperhatikan Srintil yang tertidur nyenyak. Sudah kukatakan usiaku tiga belas atau hampir empat belas tahun saat itu. Pengetahuanku tentang perempuan, baik sebagai pribadi maupun sebagai lembaga, sungguh tak berarti. Namun dengan daya tangkap yang masih sederhana aku dapat
mengatakan ada perbedaan kesan antara perempuan terjaga dan perempuan tertidur.
 
 Lebih damai. Lebih teduh. Sepasang mata yang tertutup, lenyapnya garis-garis ekspresi membuat wajah Srintil makin enak dipandang. Bibir yang tampil dengan segala kejujurannya serta tarikan nafas yang lambat dan teratur, membuat aku merasa berhadapan dengan citra seorang perempuan yang sebenarnya.
Kelak aku mengetahui banyak orang berusaha melukiskan citra sejati seorang perempuan. Mereka menggunakan sarana seni lukis, seni patung atau seni sastra. Aku percaya para seniman itu keliru. Bila mereka menghendaki lukisan seorang perempuan dengan segala keasliannya, seharusnya mereka melukiskan perempuan yang sedang tidur nyenyak.
 
 Jadi aku tidak ingin membangunkan Srintil. Memang aku gagal mencegah tanganku untuk tidak mengelus cambang halus di tepian pipi ronggeng itu. Dan memegang dengan hati-hati pucuk hidungnya. Pada saat itu aku teringat ulah kambing-kambingku sebelum mereka birahi. Teringat juga akan burung tekukur yang
saling gigit paruh sebelum mereka kawin. Aku ingin menirukan binatang-binatang itu. Namun batal, khawatir Srintil akan terbangun atau aku sebenarnya tak rela dipersamakan dengan kambing atau burung.
 
 Keris yang kubawa dari rumah masih kuselipkan di ketiakku, rapi tergulung dalam baju. Aku merasa lebih baik menyerahkan benda itu kepada Srintil selagi dia tertidur. Ternyata kesan penyerahan semacam itu, dalam. Sangat dalam. Aku sama sekali tidak merasa menyerahkan sebilah keris kepada seorang ronggeng kecil. Tidak. Yang kuserahi keris itu adalah perempuan sejati, perempuan yang hanya hidup dalam alam angan-angan yang terwujud dalam diri Srintil yang sedang tidur. Tentu saja perempuan yang kumaksud adalah lembaga yang juga mewakili Emak, walau aku tidak pernah tahu di mana dia berada.

Tangan Srintil kutata supaya keris yang kuletakkan dekat bantal berada dalam pelukannya. Bajuku masih membungkus benda itu. Nanti bila Srintil terbangun dia akan tahu siapa yang telah meletakkan keris itu di dekatnya. Sebelum berlalu sekali lagi aku menatap Srintil. Aku ingin lebih yakin, dalam
tidurnya ronggeng itu malah lebih cantik.
 
 Kambing-kambing tidak lagi menarik perhatianku. Mereka boleh berkeliaran sesuka hati. Mereka boleh memasuki ladang orang, dan aku rela binatang gembalaanku itu dibantai oleh petani yang marah. Aku ingin duduk sepuas hati di bawah pohon nangka. Tempat itu masih memberi keteduhan meski aku sudah lama tidak bermain bersama Srintil disana . Di tempat ini aku duduk seorang diri; merenung.
 
 Di sebelah kiriku, agak jauh ke barat, tampak pekuburan Dukuh Paruk. Tonggak-tonggak nisan kelihatan dari tempatku duduk. Hal yang mengecewakan, makam Emak tidak ada disana. Aku heran mengapa orang Dukuh Paruk tidak membuat kesepakatan, dan bersama-sama menipuku. Kalau mereka
mengatakan makam Emak ada di antara makam-makam di pekuburan Dukuh Paruk, pasti aku percaya. Itu lebih baik daripada aku harus mengkhayal antara percaya dan tidak kisah tentang diri Emak. Apakah Emak masih hidup dan lari bersama mantri yang merawatnya, atau sudah mati dan mayatnya
dipotong-potong oleh para dokter.
 
 Ah, sebaiknya kukhayalkan Emak sudah mati. Ketika hidup dia secantik Srintil. Bila sedang tidur, tampillah Emak sebagai citra perempuan sejati. Ayu, teduh, dan menjadi sumber segala kesalehan, seperti Srintil yang saat itu masih telap memeluk keris kecil yang kuletakkan di sampingnya.
 
 Atau, Srintil sudah terjaga. Dia heran ketika menemukan sebilah keris ada di dekatnya. Namun Srintil harus mengenal baju yang menjadi bungkus keris itu. Srintil harus mengenal bajuku. Jadi ronggeng itu harus tahu siapa yang telah meletakkan keris itu di sampingnya. Perhitunganku bukan khayalan kosong. Bukti kebenarannya terbukti kemudian.
 
 Sepasang tangan menutup mataku dari belakang. Sejenak aku tidak bisa menebak siapa yang datang. Namun ketika tercium bau bunga kenanga, serta kuraba kulit tangan yang halus, aku segera memastikan Srintil-lah orangnya.
 
 “Kau melamun di sini, Rasus?” tanya Srintil sambil duduk di sampingku.
 
 “Ah, tidak...”

“Katakan, ya!”
 
 “Aku sedang...”
 
 “Sudahlah. Jangan mencari alasan yang bukan-bukan. Aku tahu kau sedang melamun karena kehilangan sehelai baju. Nah, ini dia. Pakailah!”
 
 Srintil bukan hanya menyerahkan baju bekas pembungkus keris itu kepadaku. Dia langsung
memasangkannya pada tubuhku, serta mengancingnya sekalian. Punggung tangan itu putih. Ujung jarinya merah karena Srintil mulai mengunyah sirih. Jantungku berdenyut lebih cepat.
 
 “Rasus, coba katakan padaku tentang keris itu. Dan mengapa engkau meletakkannya di sampingku ketika aku sedang tidur,” kata Srintil dekat sekali dengan telingaku.
 
 Aku tidak bisa segera menjawab.
 
 Aku juga tidak berani mengangkat muka menatap wajah Srintil.
 
 “Katakan, Rasus. Katakan.”
 
 “Keris itu untukmu, Srin,” jawabku lirih, tanpa melihat lawan bicaraku.
 
 “Ya, Rasus. Tetapi mengapa hal itu kaulakukan? Engkau senang padaku?”
 
 Lagi, aku tak bisa menjawab. Namun ketika beberapa kali didesak, aku menjawab, “Keris itu kecil, jadi cocok untukmu. Keris yang selama ini kaupakai terlalu besar. Dengan keris
pemberianku itu, kau akan bertambah cantik bila sedang menari Baladewa.”
 
 “Jadi engkau senang bila aku kelihatan bertambah cantik?”
 
 Aku mengangguk. 

“Tetapi apakah kau mengerti tentang keris yang kauberikan padaku itu?”
 
 “Tidak. Aku tak tahu-menahu tentang keris,” jawabku.
 
 “Oh, dengar. Kakek dan Kartareja telah tahu tentang keris itu.”
 
 “Apa? Kau juga mengatakan aku yang telah membawanya ke dalam bilikmu?”
 
 “Tidak begitu. Mereka tidak kuberi tahu siapa yang membawa keris itu kepadaku. Aku merahasiakan hal itu kepada mereka.”
 
 “Lalu?”
 
 “Mereka mengatakan keris itu bernama Kyai Jaran Guyang, pusaka Dukuh Paruk yang telah lama lenyap. Itu keris pekasih yang dulu selalu menjadi jimat para ronggeng. Mereka juga mengatakan hanya karena keberuntunganku maka keris itu sampai ke tanganku. Rasus, dengan keris itu aku akan menjadi ronggeng tenar. Itu kata Kakek dan juga kata Kartareja.”
 
 “Dengan keris pemberianku itu kau akan menjadi ronggeng tenar?” kataku mengulang.
 
 “Begitu kata mereka.”

“Jadi kau senang dengan pemberianku itu?”
 
 “Oh tentu, Rasus.”
 
 Kemudian Srintil merangkulku. Aku tahu dia sedang mengucapkan terima kasih. Ulahnya tidak kucegah. Juga aku tetap diam ketika Srintil mulai menciumi pipiku. Tak kuduga sama sekali dalam melakukan tindakan itu Srintil tak sedikit pun merasa canggung. Tampaknya dia sudah terbiasa. Dalam hati aku
bertanya kapankah Srintil belajar cium-mencium? Atau begitukah seharusnya seorang ronggeng? Meski dia baru berusia sebelas tahun?
 


 
                              *****


Bersambung.. 

______________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...