"RENDANG KAPAU"
Bentuknya sederhana saja. Hanya sebuah panel kayu yang diberi 2 kaki yang ditanam ke tanah, tepat di sebelah gedung sekretaris PM. Di atasnya ada atap seng mungil untuk
memayungi panel ini dari hujan. Panel kayu ini dilapisi kaca, dan di bagian dalamnya terpampang beberapa lembar kertas ketikan, yang di beberapa tempat berlepotan tip-ex.
Ditempelkan pakai paku payung warna-warni. Kalau malam hari, sebuah neon kecil yang redup mengintip dari bawah atap seng.
Walau sederhana, panel kayu ini menjadi salah satu pusat perhatian kami seantero PM. Selain masjid, pusat gravitasi kami adalah panel ini. Selalu dikerubungi oleh murid PM, pagi, siang, dan malam. Tulisan kecil di atas panel ini: Money order of the day—wesel hari ini. Nama-nama yang tertulis di kertas-kertas yang ditempel adalah para penerima wesel kiriman
orang tua. Manusia paling beruntung hari itu.
Terhitung hari ini, sudah dua minggu wesel yang kurindu belum juga datang. Aku sudah berhutang sana-sini. Jajan telah dihentikan. Sudah dua minggu ini, setiap hari aku rajin
berdesak-desakkan di depan panel wesel tadi. Bahkan bisa beberapa kali sehari, walau aku tahu, daftar itu tidak akan berubah sampai besok. Tapi demi ketentraman batin dan
kedamaian kantong, mataku tidak bosan mengadakan ritual membaca ulang daftar naik, turun, naik lagi, sampai hapal. Tetap saja namaku tidak ada.
Mengikuti gaya Said, tadi sehabis Maghrib aku melapor kepada Tuhan kalau telah jatuh muflis. Bangkrut. Dan doaku cuma satu: ya Tuhan, datangkanlah wesel buatku hari ini,
setelah selesai shalat Maghrib di masjid, aku ke panel ini. Petugas wesel selalu memasang daftar penerima hari ini ketika kami masih shalat Maghrib di masjid.
Ketika sampai di panel, suasana sudah penuh telah beberapa menit berdesakkan, aku pas di depan panel. Aku pun segera membaca untuk ke sekian kalinya. Said juga bersamaku, yang tinggi, dia tidak perlu berdesakkan sampai maju kedepan. Tidak lama kemudian Said menemukan namainya sebagai penerima
paket, bukan wesel. Namaku tetap tidak ada dengan menundukkan kepala diam dan keluar dari kerumunan untuk kembali ke asrama. Paling tidak sehari lagi aku harus bertahan tanpa duit. Semoga hari esok membawa wesel.
Tiba-tiba Said berteriak, “Lif, nama anta ada” Darahku tersirap.
“Mana, mana mungkin, tadi sudah aku baca tiga kali”
“Ini… ini… bukan wesel, tapi di bawah daftar paket.” Hah, berdoa wesel dapat paket? Daripada tidak sama sekali, paket juga tidak apa, pikirku. Apapun yang Engkau beri, aku terima dengan ikhlas ya Rabbi.
Kami berdua bergegas masuk ke ruangan yang mengurus penyerahan wesel dan kepada kakak petugas administrasi yang mengurus penyerahan wesel dan paket. ”Alif Padang”. Laporku kepada kakak petugas Administrasi. Dia segera menghilang kebawah
loket untuk mengambil paketku yang berserakan di lantai. Kepalanya muncul lagi, kali ini tangannya memegang sebuah kardus besar. Aku terima paket yang dibungkus kertas batang padi ini dengan berbinar-binar. Sebuah tulisan kecil di sudut kiri atas. Sip: Amak.
Said sendiri menerima kardus yang lebih besar.
Seperti memenangkan piala dunia, masing-masing kardus kami arak ke kamar. Di bawah kerubutan kawan-kawan, aku meletakkan paket di tengah kamar. Semua penasaran dan menahan napas. Siapa pun penerima paket di kamar kami, berarti membawa kebahagiaan buat semua.
Sret… sret…, bungkus aku robek dengan terburu-buru. Di dalam bungkus ini ada sebuah kardus. Begitu kardus aku buka, aroma harum makanan khas Minang langsung meruap. Jakunku naik turun. Bau yang aku sangat akrab dan sering aku kangeni. Satu plastik besar rendang padang berwarna hitam kecokelatan aku angkat Bongkol-bongkol daging yang menghitam bercampur dengan kentang-kentang seukuran kelereng bercampur dengan serbuk rendang yang telah mengering. Ini dia rendang kapau asli. Dengan tidak sabar,
aku benamkan telunjuk ke dalam plastik itu dan menjilatnya. Hmmmmm….. amboi, rasa yang menerbangkan aku kembali ke masa kecilku di Maninjau setiap kali Amak memasak rendang buat kami sekeluarga.
Teman sekamarku berteriak girang, dan mereka segera merubung dengan piring kosong terulur ke arahku. Satu potong rendang buat satu orang. Sudah tradisi kami, siapa pun yang menerima rezeki paket dari rumah, maka dia harus berbagi dengan kami semua sebagai lauk tambahan di dapur umum nanti. Sama rasa sama rata, seperti gaya sosialis.
Selain rasa rendang yang membuat aku melayang, yang juga menyenangkan hatiku adalah ada sebuah amplop di dalam paket
ini. Secarik surat dari Amak. Isinya singkat saja:
Ananda Alif
Amak bikinkan randang kariang jo kantang. Sudah dua hari dipanaskan, semoga cukup kering dan menghitam, seperti selera ananda.
Selamat menikmati rendang. Bagilah dengan kawan-kawan. Maaf atas keterlambatan wesel Amak dan Ayah kesulitan sekarang karena adik-adik ananda baru lulus banyak kebutuhan. Insya Allah, wesel akan dikirim besok. : Teriring doa
Amak, ayah dan adik-adik
Alhamdulillah, sudah dapat rendang, akan dapat wesel juga. Akhirnya aku bisa bayar hutang.
Giliran Said yang membuka paketnya. Sekarang aku ikut berkerumunan di sekitarnya. Begitu kardus terbuka, yang tampak adalah sepasang sepatu bola. Kami semua maklum.
Tim Al-Barq masuk final Piala Madani, dan sebagai penyerang utama Said membutuhkan tuh sepatu baru. Di bawah sepatu, ada setumpuk celana dalam baru berwarna biru, putih dan merah tua. ”Yaahh…..; suara koor kecewa bergema. “Mau jualan atau bagi bagi celana dalam nih?” kata temanku dari belakang. Gelak tawa menyambut komentar ini.
Setelah mengeluarkan sekitar selusin celana dalam, Said akhirnya mengangkat tinggi-tinggi beberapa plastik kripik ceker, biskuit dan kopi. Cukup untuk stok cemilan kami sekamar beberapa hari ke depan. Rupanya, kebahagiaan hari ini lengkap di pihak kami.
Beberapa hari kemudian, setelah menerima wesel, aku mengajak Sahibul Menara jajan ke kantin. Aku mengedarkan kopiah untuk mengumpulkan duit dan membeli menu favorit
kami: sepiring besar mahunah goreng dan sepiring tempe goreng dengan cabe rawit. Untuk minum, kami memilih es dawet. Enak sekali rasanya makan dari satu piring bersama
sambil bersenda gurau seperti ini. Aku sendiri tidak bisa sering-sering ke kantin karena tidak selalu punya uang jajan. Untung ada Said yang rajin mentraktir kami.
Jumat ini kami tidak ke mana-mana. Hanya tinggal di PM menikmati hari libur. Setelah kerja bakti menyapu dan mengepel kamar bersama, Said mengeluarkan kopi dan plastik
biskuitnya sambil berteriak, “Kayaknya enak kalau minum kopi bersama sambil makan biskuit. Ada yang mau bergabung?” Tawarannya disambut riuh dan seisi kamar duduk melingkar di tengah kamar yang baru dipel. Aku menyumbang gula.
Sedangkan Kurdi bergerak sigap mengambil air panas dengan sebuah ember yang biasa dia pakai untuk mencuci baju. Tidak ada yang protes untuk masalah ember ini. Tujuannya praktis saja, supaya seduhan kopi cukup untuk 30 orang. Kurdi menuang satu plastik kopi dan gula ke ember berisi air panas dan mengaduknya dengan penggaris. Setelah mencicipi sesendok adukannya dan berteriak, “Manisnya pas, tapi akan lebih enak dicampur susu. Ada yang punya?” tanya Kurdi.
Misbah, kawanku dari Kalimantan membuka lemarinya mengeluarkan sekaleng susu kental manis Cap Nona, Kurdi menuangkan susu kental manis ini sebagai sentuhan terakhir
untuk sajian kopinya. “Silakan akhi, siap dinikmati,” katanya puas sambil meletakkan ember kopi yang mengepul-ngepul di tengah kamar, tepat di tengah kami yang duduk melingkar.
Dengan gelas masing-masing kami menyauk kopi dari ember dan menyeruput minuman hangat sambil mengobrol; bersenda gurau santai. Minum kopi bersama ini kerap kami
lakukan dengan rasa kopi bermacam-macam, mulai dari kopi aceh; kopi medan, kopi lampung, sampai kopi toraja. Tergantung siapa yang menerima paket dan dari mana kiriman
kopi.
Bersambung...
______________________________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar