Selasa, 16 Maret 2021

NEGERI 5 MENARA BAGIAN 37

"RAHASIA BASO"




Setelah Class Six Show, kami menyerahkan semua pengurus dan organisasi di PM ke murid kelas lima. Tugas kami kini hanya satu: belajar untuk menyambut ujian terberat yang pernah ada, ujian kelulusan PM. Ujian akan berlangsung maraton dua pekan yang akan mengujikan semua pelajaran dari kelas satu sampai kelas enam. Bentuknya dua, ujian esai 
dan ujian lisan. 

Di antara kami berenam, kalau ada pemilihan gelar juara rajin dan juara pintar, maka kemenangan mutlak untuk kedua gelar itu akan direbut oleh Baso. Khusus untuk kategori 
kerajinan, juara dua, tiga, dan seterusnya adalah aku, Raja, Dulmajid, Atang dan Said. Beda kami tipis-tipis saja. Sementara untuk kategori kepintaran, dengan sedikit otoriter, 
juara duanya aku boleh bilang: Raja dan aku, sementara Atang, Said dan Dulmajid bolehlah berbagi juara ketiga. 

Hampir setiap waktu kami melihat Baso membaca buku pelajaran dan Al-Quran dengan sungguh-sungguh. Itulah yang membuat kami heran. Dengan kesaktian photographic 
memorinya kami tahu pasti bahwa tanpa belajar habis-habisan seperti ini dia akan tetap mudah menaklukkan ujian. Tapi dia tetap saja menghabiskan waktu untuk belajar-mengaji-shalat, lalu belajar-mengaji-shalat. 

Baru akhir-akhir ini saja dia mulai berolahraga, itu pun bukan olahraga permainan. Tapi cuma lari. Dan sambil membawa buku. Dia bilang karena inilah olahraga paling praktis, dan bisa dia lakukan kapan saja, bahkan ketika pakai 
sarung sekali pun. Dan bisa sambil membawa buku. Logika yang menurutku agak aneh.

Sampai pada suatu hari, aku melihatnya dengan baju olahraga duduk di pinggir lapangan basket tempat kami sedang bermain. Tidak ada tanda-tanda buku di tangannya. 
Baso tanpa buku! Baso tanpa belajar! Di saat menyambut ujian kelas enam ini! Aneh. Wajahnya memelas dan dia menumpukan dagunya di kedua telapak tangan sambil duduk di bangku kayu penonton. Dia memandang tanpa minat ke lapangan basket. 

Dia tidak peduli dengan kehebatan Said yang menjebloskan bola berkali-kali. Atau menertawakan kebodohanku yang selalu kena serobot sebelum berhasil menembakkan bola ke keranjang. Aku melambaikan tangan dan berteriak mengajaknya ikut main. Baso melihat ke arahku sejurus, lalu tersenyum hambar sambil menggeleng. Ada apa dengan Baso? 
Aku mengambil kesimpulan sekenanya dengan cepat: mungkin gusinya bengkak. Apalagi? Selama ini hanya sakit gigilah yang bisa membunuh animo belajarnya. Selesai main basket, aku menghampirinya dan menawarkan 
diri untuk menemaninya ke klinik PM yang berada di sebelah kompleks olahraga. 

“Kurang sehat? Sakit gigi? Yuk kita ke klinik,” ajakku. 

Dia menggeleng. Matanya masih diliputi kabut. 

“Jangan takut kawan, dokter ini tidak suka main suntik. Dia paling kasih pil anti sakit.” 

Pelan-pelan kepalanya berputar ke arahku. “Aku tidak sakit”, jawabnya pendek. Agak kesal dan risau. 

“Kalau begitu, kenapa tidak ikut main dengan kita tadi,” tanya Said yang baru bergabung, sambil menyeka peluh di kepalanya yang masih gundul dengan lengan kaosnya.

“Ana khair, terima kasih, aku tidak apa-apa,” katanya sambil berlalu gontai menuju asrama. Kami berpandang-pandangan dengan muka bingung. Selama ini memang Baso lah kawan kami yang paling pendiam, pemalu dan tertutup. Kami berjalan mengikutinya pulang ke asrama. Setelah lepas dari berbagai jabatan, kini kami tinggal di asrama Cordoba, di kamar yang sama. 

Sampai di kamar, Baso mendekati kami dengan muka menyesal. 

“Afwan ya akhi, maafkan tadi aku kesal. Aku pusing karena benar-benar sedang muflis, bangkrut, gak punya uang.” 

“Sudah dua bulan aku tidak bayar uang makan.” Ini bukan hal baru, 3 tahun di sini, berkali-kali dia dalam kondisi defisit.

“Aku bisa pinjamkan,” Said segera menyambut. 

“Tapi bukan uang yang aku risaukan. Tanpa uang pun tidak apa,” katanya dengan nada keras. Harga dirinya selalu tinggi kalau masalah pinjam meminjam. Dia selalu percaya tangan di atas selalu yang terbaik. Walau sesusah apa pun, tidak sekalipun dia mau meminjam. 

PM selama ini tidak pernah mengeluarkan murid hanya karena tidak bayar uang sekolah. Memang, walau PM tidak menggembar-gemborkan ada beasiswa, sesungguhnya 
sekolah kami banyak memberikan beasiswa tanpa kami sadari. Begitu seorang murid diterima, maka selama dia mau, dia bisa terus belajar di sini. Bahkan dengan gratis. Tidak kuat bayar uang sekolah dan uang makan? Tidak akan pernah disuruh keluar atau berhenti. Yang penting sekolah terus, duit soal 
belakang. 

PM punya mekanisme subsidi silang antara anak yang mampu dan yang kurang mampu. Selain itu mesin ekonomi PM juga lumayan besar. Beras tidak pernah beli, karena berhektar-hektar sawah milik PM mengirim padi yang kemudian digiling di huller sendiri. Semuanya self sufficient. Mandiri. 

“Anta perlu beli buku lebih banyak?” tanyaku setengah bercanda. Muka Baso malah keruh. Aku segera menyesal karena ini mungkin bukan waktu yang tepat untuk guyon. 

Baso mengajak kami duduk di sudut kamar yang sepi, di sebelah lemari kayu kecilnya. Mukanya menghadap kami satu-satu. Suaranya rendah dan sendu. 

“Aku tidak pernah ceritakan hal ini kepada orang lain. Hanya keluarga dekat yang tahu. Dan kalian adalah keluargaku di sini,” katanya memandang kami lagi. 

Aku merinding disebut keluarga dekat Baso. Memang kami selama ini sering bersama, tapi dengan gayanya yang sibuk belajar dan dingin, aku tidak pernah mengira dia menganggap 
kami keluarga. Said malah membuang muka ke jendela sambil mengusap-usap kepala botaknya. Dia memang kesulitan bereaksi dengan hal-hal yang berbau emosional seperti ini. 

“Ibuku meninggal waktu aku lahir dan ayahku meninggal karena sakit ketika aku berumur empat tahun. Tinggal aku sendiri sebatang kara,” katanya. Di ujung kelopak matanya 
aku menangkap kilau air yang siap luruh. Suaranya kini bergetar. 

“Aku hanya punya foto ini….” 

Dia menguakkan pintu lemari kecilnya. Di pintu bagian dalam, sehelai foto hitam putih yang sudut-sudutnya telah menguning menempel dengan paku payung. Seorang laki-laki muda dan seorang perempuan muda tampak tersenyum bahagia dengan pakaian jas dan kebaya rapi. Mereka duduk di kursi yang penuh rumbai dan hiasan. Puluhan orang mengelilingi mereka, sama-sama tersenyum ke arah kamera. 

“Foto mereka ketika menikah. Inilah satu-satunya yang mengingatkanku kalau aku pernah punya orangtua. Aku tidak akan pernah sempat berbakti langsung kepada mereka.” 

Aku menumpangkan telapak tangan di bahunya, mencoba berbagi simpati. Begitu juga kawan-kawanku yang lain. 

“Alhamdulillah, aku masih punya seorang nenek yang menampungku. Dia punya warung nasi kecil di halaman rumah dan hanya cukup untuk makan sehari-hari. Dengan kondisi itu, 
aku bahkan tidak berani membayangkan sekolah lebih tinggi dari SMP, apalagi bisa berlayar jauh ke Jawa untuk sekolah. Kalau aku sekarang bisa di PM ini karena dibantu oleh Pak Latimbang, seorang nelayan tetangga kami yang menyisihkan beberapa sebagian tangkapannya untuk membantu kami. Karena itulah aku belajar keras tanpa istirahat, karena aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini…” 

Kami semua diam dan tertunduk. Sibuk mencerna cerita Baso dan bingung bagaimana harus menyikapinya. Aku bisa merasakan apa yang Baso rasakan. Dengan kondisi ekonomi 
orangtuaku, kadang-kadang wesel terlambat datang. Tapi aku masih punya kedua orangtua. Aku masih punya kepastian wesel datang dari orangtua. Sedangkan Baso tidak punya siapa pun. Hanya seorang tetangga dermawan yang juga tidak berkelebihan banyak. Aku bersyukur untuk diriku sendiri dan berdoa untuk Baso. 

Baso memecah kesunyian yang tidak mengenakkan hati ini. 

“Yang sekarang merisaukan hatiku, keluarga satu-satuku nenekku sendiri, yang aku anggap seperti bapak dan ibuku, sekarang sedang sakit tua. Dia tidak punya anak lagi, orang terdekatnya adakah aku. Dia tidak bisa lagi berjualan dan hanya beristirahat di dalam rumah. Makannya saja diurus oleh keluarga Pak Latimbang. Mungkin sudah saatnya aku 
membalas jasanya..,.” 

Pandangannya jauh menembus jendela kamar, dan lalu jatuh terpekur ke foto tadi. 

“Aku sedang berpikir-pikir kapan aku harus mengambil keputusan untuk merawat Nenek dan pulang, mungkin selamanya….” 

Pulang? Dia menyebut-nyebut akan pulang selamanya. Aku pernah berpikir pulang hanya karena surat Randai. Dia ingin pulang karena ingin berbakti kepada neneknya. Hatiku tidak 
enak dan malu sendiri. 

“Kalian tahu aku sudah habis-habisan mencoba menghapal Al-Quran. Sudah selama ini, aku baru hapal 10 juz, atau sekitar 2000 ayat. Aku ingin semuanya, lebih dari 6000 ayat. Tahukah kalian, ada sebuah hadist yang mengajarkan bahwa kalau seorang anak menghapal Al-Quran, maka kedua orangtuanya akan mendapat jubah kemuliaan di akhirat nanti. Keselamatan akhirat buat kedua orangtuaku…” Dia berhenti. Kilau tadi akhirnya luruh. Menyisakan jejak basah di pipinya. 

“Hanya hapalan… hanya hapalan Quran inilah yang bisa aku berikan untuk membalas kebaikan mereka kepadaku. Aku ingin mereka punya jubah kemuliaan di depan Allah nanti,” 
katanya sambil mematut-matut foto itu, seakan baru pertama kali melihatnya. 

Perasaanku tergetar. Untuk pertama kalinya aku sadari bahwa motivasi besar Baso menghapal Al-Quran adalah pengabdian kepada orangtua. Aku yakin teman-temanku yang lain juga baru tahu.

“Selain itu, aku mendengar, orang yang hapal Al-Quran bisa mendapatkan beasiswa penuh untuk kuliah di Madinah dan Mekkah, tempat yang aku mimpikan untuk belajar nanti. Siapa 
tahu memang ada jalan…,” katanya sekali lagi menerawang. Baso terus memegang teguh niatnya untuk sekolah ke Arab, seperti yang kami mimpikan di bawah menara menjelang 
Maghrib. 

“Tapi sudah beberapa tahun ini berpikir, aku tidak punya cukup waktu dan ketenangan untuk menghapal seluruh Al-Quran di sini. Jadi aku bingung.” 

“Itulah ceritaku. Dan aku diam karena aku sedang sedih. Banyak yang aku pikirkan, duit, ya pelajaran, ya hapalan Al-Quran dan sekarang nenekku yang sakit. Sedangkan aku jauh di sini,” gumamnya lirih. Dia memeluk lututnya yang dilipat ke dada. 

“Syukran ya akhi, telah mau mendengarkan keluh kesah ini,” katanya lirih. Kilau lainnya kembali luruh dari sudut matanya. Basah.

Kawanku yang hebat ini, berwajah tangguh khas pelaut Sulawesi ini, kini tampak lebih tenang. Mungkin karena persoalan beratnya telah dibagi kepada kami, yang sudah 
dianggapnya keluarga terdekatnya. 

Kami mendekat dan merangkul bahunya. Dalam hati aku berjanji akan membantunya sekuat mungkin. Baso mengangguk-angguk berterima kasih sambil meniup-niup hidungnya yang tersumbat duka. Tiba-tiba hidungku juga ikut berair seperti orang pilek.



Bersambung... 

______________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...