40
WASIAT YANG BERAT
Waktu terus berjalan. Musim panas, musim gugur, musim dingin dan musim semi datang bergantian.
Umur Umar Al Farouq sudah tiga tahun. Berarti usia pernikahan Fahri dengan Hulya sudah empat tahun.
Suka dan duka telah direguk bersama cinta dan kasih sayang semakin kuat mengokohkan jiwa mereka.
Cinta Fahri kepada Hulya nyaris menyamai bahkan melebihi cintanya kepada Aisha. Penyebabnya adalah karena Umar anak hasil percintaan mereka itu benar-benar mampu menjadi pengokoh ikatan lahir batin Fahri dan Hulya. Wajah Fahri dan Hulya seperti tercetak pada wajah anak yang imut itu.
Dalam usia tiga tahun Umar sudah hafal setengah Juz dari surat Ad Dhuha sampai An Nas. Selain darah Fahri yang hafal Al Qur‘an mengalir dalam diri Umar, hal penting yang sangat disadari Fahri dan Hulya adalah keberadaan Sabina yang begitu sabar mengemong Umar. Hafalan umar itu adalah hasil didikan Sabina.
Hulya sudah tidak menganggap Sabina sebagai orang lain. Ia menganggap Sabina seperti kakaknya sendiri. Sabina sendiri menganggap Umar layaknya anak kandungnya sendiri. Ketika umar sakit ia bahkan lebih cemas dibandingkan Hulya dan Fahri.
Hari-hari terberat Sabina adalah ketika ia diminta menunggu rumah sementara Umar dibawa oleh Fahri dan Hulya pergi ke luar kota.
Tidak bertemu satu hari saja dengan Umar, ia merasakan kerinduan luar biasa. Umar juga merasakan apa yang dirasakan Sabina.
Seringkali jika ia dibawa keluar kota berpisah dengan Sabina, pada hari kedua ia akan terus
rewel minta pulang. Dari mulutnya tersebutlah nama Sabina.
Hulya tengah melanjutkan kuliahnya yang tertunda. Ia melanjutkan kuliah S2-nya di Oxford Brookes University. Fahri memang meminta agar Hulya kuliah lagi setelah Umar sudah berumur tiga tahun. Itu berarti Hulya sudah memenuhi kewajibannya menyusui Umar selama dua tahun penuh, bahkan sampai tiga tahun.
Ketika Hulya mulai sibuk kuliah, Umar semakin lengket dengan Sabina.
Bisnis-bisnis Fahri semakin berkembang. Kabar-kabar baik terus berdatangan. Misbah sudah diangkat menjadi direktur pasca sarjana di tempatnya mengajar di Lampung. Paman Hulusi dikaruniai dua anak kembar dari Madam Barbara.
"Ini mukjizat Hoca, istriku Barbara sudah hampir lima puluh tahun umurnya, kini melahirkan anak kembar hasil pernikahan kami. Subhanallah, Allahu akbar!'' Kata Paman Hulusi sambil menangis.
"Siapa namanya Paman?"
"Saya minta Hoca yang memberi nama. Dia perempuan Hoca."
"Ya namai saja rauhun dan raihan. Nama itu ada dalam Al Qur'an."
"Iya Hoca. Si kembar itu aku namai rauhun dan raihan."
Memasuki bulan ketujuh dari kuliahnya, suatu sore Hulya mendatangi Fahri di ruang kerjanya di Wadham College, University of Oxford dengan wajah berseri-seri.
"Aku bawa kabar baik, Sayang."
"Apa itu?"
"Umar Al Faruq insya Allah akan punya adik. Baca ini, positif."
Wajah Hulya manis menyodorkan selembar kertas. Fahri membaca hasil laboratorium itu, seketika kedua matanya berkaca-kaca karena bahagia. la lalu menghadap kiblat dan sujud syukur kepada Allah 'Azza wa Jalla.
Selesai sujud Fahri lalu menghadiahi istrinya itu dengan ciuman yang hangat, sebuah
ciuman yang membuat Hulya merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia.
Keira belum juga menikah, ia masih ingin mengukir prestasi dan karir setinggi-tingginya. Tiga album telah ia rilis. Keira juga menjuarai kompetisi tingkat dunia di Praha. Kini ia bersama Jason dan ibunya tinggal di sebuah rumah mewah di London utara.
Jika ada waktu luang, Keira lebih memilih mengunjungi Hulya dan bercengkerama dengan Umar dan Sabina.
Keira bahkan tidak segan untuk sesekali menginap di rumah Hulya. Kini, perbedaan agama sama sekali tidak menjadi penghalang bagi Keira untuk bersahabat dengan Hulya dan keluarganya.
Keira benar-benar Berubah, kini ia menjadi orang yang perhatian pada sesama dan rendah hati. Ia menjadi duta UNICEF untuk membantu anak-anak terlantar.
Jason telah menjadi pemain yang dipuja-puja di daratan Inggris Raya, pada musim pertamanya tampil di Liga Premier, ia langsung membuktikan debutnya sebagai gelandang penyerang yang tajam. Lima belas gol telah ia torehkan. Dan seketika itu bintang kemujuran bertahta dikepalanya, ia menjadi rebutan klub-klub besar dunia. Jason minta saran kepada Fahri, dengan santai Fahri menjawab,
"tanyakan kepada mamamu, mana yang paling disukai mamamu, maka pilihlah." Akhirnya Jason memilih berlabuh ke Chelsea dengan nilai transfer yang besar dan gaji yang tinggi.
Itu semua karena ibunya ingin tetap tinggal di London dan tidak mau berpisah dengan Jason.
Fahri sendiri semakin sibuk dan memikul banyak amanah dan tanggung jawab. Selain menjadi pengajar tetap di Faculties of History and Oriental Sutdies dan di tempatkan di Wadham College sebagai pakar Oriental Studies, Fahri juga duduk dalam jajaran fellows di OXClS atau Oxford Centre for Islamic Studies.
Fahri membuka pengajian kitab Risalatul Mustarsyidin karya Al Imam Al Muhasibi di masjid OXCIS sepekan sekali, tiap Sabtu sore. Selain itu Fahri juga mengajar qira'ah sab'ah di East London Mosque, Central Mosque London dan Cambridge Muslim College.
Media-media di Indonesia mulai ramai membicarakan Fahri. Ada koran yang memuat profil Fahri sebagai orang Indonesia pertama yang menjadi dosen tetap di Oxford. Bahkan ada stasiun televisi yang meminta Fahri mengisi program kajian Islam kontemporer untuk ditayangkan menjelang buka di bulan suci Ramadhan.
Tidak hanya televisi Indonesia, sebuah stasiun televisi Turki dan Arab juga minta program rutin kepada Fahri. Kemampuan Fahri berbahasa Arab, Inggris, Jerman, dan Turki menjadikannya berdiri bersama para cendekiawan Muslim terkemuka tingkat dunia.
Meskipun sedemikian sibuk, tetapi perhatian Fahri kepada keluarga dan segenap karyawannya tidak kurang. Bagi Fahri mereka adalah orang-orang terdekatnya yang harus ia cintai dan ia curahi kasih sayang sepenuh hati.
Keluarga ibarat jantung dan hatinya, sementara para karyawan dan para pembantu setianya ibarat tangan dan kakinya. Dengan adanya merekalah, hidupnya terasa lengkap.
******
Matahari musim semi bersinar lembut. Pepohonan hijau segar. Bunga-bunga mekar. Rerantingpohon Ek di pinggir George Street bergoyang lemah gemulai dicumbu angin yang berhembus sepoi-sepoi basah. Sepasang burung gereja menari di atas kubah masjid Oxford Centre for Islamic Studies.
Di dalam masjid ratusan orang menyimak dengan khusyuk kalimat-kalimat hikmah Al Haris Al Muhasibi yang diurai dengan fasih oleh Fahri.
"Wa'lam annahu laa thariqa aqrabu minash shidqi, wa laa daliila anjahu minal 'ilmi, wa laa zaada ablaghu minat taqwa.[1]
Dan ketahuilah, tidak ada jalan yang lebih dekat dari kejujuran, tidak ada dalil yang lebih berhasildari ilmu, dan tidak ada bekal yang lebih sampai daripada takwa."
Fahri lalu mengurai satu persatu, apa maksud shidq atau jujur di situ, apa maksud 'ilm atau ilmu di situ, juga apa maksud taqwa?
Fahri memberi penjelasan yang lebih luas mengenai takwa sebagai bekal.
"Perjalanan kita hidup di dunia ini dan perjalanan kita selelah mati untuk hidup yang sejati di akhirat memerlukan bekal yang cukup.
Semua bekal selain takwa kepada Allah tidak akan mencukupi keperluan kita untuk sampai kepada tujuan kita, yaitu sampai pada surga Allah SWT dan mencapai ridha-Nya. Hanya takwa, bekal yang mampu menyampaikan kita ke sana.
Di dalam Al Qur'an, Allah memerintahkan
kita agar mengambil perbekalan untuk perjalanan panjang kita itu. Dan Allah menegaskan,
fainna khaira zaadit taqwa wattaquuni ya ulil albab! Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepadaku wahai orang yang punya akal!"
Ratusan orang itu menyimak uraian Fahri dengan penuh perhatian. Kalimat-kalimat hikmah yang ditulis sufi besar Al Haris Al Muhasibi itu seumpama gerimis yang bersih dan sejuk yang menetes ke dalam jiwa.
Di barisan jamaah laki- laki tampak beberapa mahasiswa dari Asia Tenggara, juga dibarisan jamaah perempuan. Hulya dan Sabina yang memangku Umar Al Faruq tampak khusyuk menyimak.
Matahari belum tinggi ketika Fahri menyudahi pengajiannya lalu mengendarai Rolls-Royce Wraith- nya meninggalkan pelataran masjid menuju rumahnya.
Di sepanjang jalan, mobiI mewahnya menjadi pusat perhatian. Ia bertambab-tambah rasa syukurnya kepada Allah bisa mengendarai mobil mewah dengan istri berjilbab rapat yang cantik duduk disampingnya, dan anak yang sehat duduk di belakang bersama
pengasuhnya.
Fa biayyi aalai Rabbikuma tukadzdzibaan? Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Fahri tiba di halaman rumahnya beriringan dengan kedatangan Keira yang mengendarai Maserati GranCabrio hitamnya sendirian. Keira langsung memeluk Hulya dengan penuh keakraban.
"Saya mau minta tolong kepadamu, Hulya."
Kata Keira setelah duduk di ruang tamu.
"Minta tolong apa ?"
"Malam nanti saya ada konser amal untuk anak- anak miskin Afrika. Saya semestinya duel dengan Rachel Woulzcting, violinis muda berbakat dari Kanada. Tetapi tiba-tiba tadi malam ia memberi kabar tidak bisa terbang ke London karena ibunya sakit. Saya tidak ada bayangan nama pengganti dia kecuali kamu Hulya."
"Jangan saya, carilah nama lain. Saya sudah jarang memegang biola kecuali sesekali saja di rumah untuk menghibur suami."
"Tolonglah Hulya, please!"
Keira terus mendesak. Hulya menyerahkan keputusan kepada Fahri.
"Kalau suami mengizinkan saya bisa, kalau tidak mengizinkan mohon maaf."
Fahri akhirnya mengizinkan, dengan dua syarat, pertama dalam konser itu pakaian Keira benar-benar terjaga auratnya agar selaras dengan pakaian Hulya yang memakai jilbab.
Kedua, selesai konser tidak ada wartawan yang mewawancarai Hulya, semua wawancara hanya kepada Keira.
Siang itu setelah shalat Dhuhur, Hulya berangkat ke London bersama Keira. Sabina dan Umar Al Faruq diajak serta. Hulya sempat minta didampingi Fahri, tetapi Fahri tidak bisa menggeser jadwal kegiatannya. Pukul 19.00 malam ia telah terjadwal memberi ceramah ilmiah tentang peradaban Islam di St. Antony's College.
"Abul Faruq, ayolah, aku ingin sekali kau ada di sampingku. Apakah ceramah itu tidak bisa
didelegasikan kepada pakar lain?" Hulya agak memaksa.
"Mohon maaf, tidak bisa Ummul Faruq. Nanti minta saja salinan rekaman penampilannya, aku akan menontonnya."
Hulya pun berangkat ke London tanpa di dampingi Fahri. Hulya membawa biola Aisha yang ia pakai saat memenangi kompetisi di Cremona, Italia. Dan malam itu Keira dan Hulya tampil dengan kualitas violinis kelas dunia.
Sangat memukau. Ketika mereka masing-masing tampil solo ataupun duet sama-sama
dahsyatnya. Hulya yang agak lama tidak memegang biola mampu mengimbangi gesekan biola Keira.
Setelah Hulya tampil solo, pembawa acara malam itu langsung memuji,
"setelah mendengar gesekan biolanya yang menyesap sampai relung-relung jiwa, saya kini percaya bahwa surga itu ada, dan rasanya yang tadi saya dengar itu adalah alunan angin dari surga!"
Seketika seluruh isi gedung pertunjukan itu memberikan tepuk tangan yang meriah, kedua mata Hulya berlinang mendapatkan penghormatan itu.
Selesai acara, belasan wartawan berebutan hendak mewawancarai Hulya, tetapi dengan sigap pihak keamanan menjaga Hulya. Mereka beralasan bahwa Hulya punya anak kecil yang memerlukan perhatiannya,
"Mohon maaf, konser ini untuk menunjukkan
perhatian kita semua kepada anak-anak, dan Hulya tidak mau menelantarkan anaknya hanya demi sebuah wawancara. Ia harus membersamai anaknya."
Hampir tengah malam ketika Keira, Hulya dan Sabina serta Umar memasuki mobil Maserati Gran Cabrio hitam. Keira menawarkan untuk menginap di hotel, tetapi Hulya tidak mau. Ia tidak tega meninggalkan Fahri bermalam sendirian di Oxford.
"Kalau kau lelah, biarlah saya naik taksi Keira. Atau kau bisa menyuruh siapa saja untuk mengantarkan kami ke Oxford. Kau tidak usah repot-repot!"
"Tidak Hulya, aku yang menjemputmu, maka aku juga yang harus mengantarmu. Ayo kita jalan!"
"Bismillah!"
Keira menyalakan mesin Maseratinya dan pelan-pelan meluncur di jalanan London yang sudah tidak sepadat sore hari. Keira memacu mobilnya ke arah barat daya, menuju KM 40. Keira begitu lincah mengendarai mobilnya, ia seperti telah menyatu dengan mobil mewah kesayangannya itu.
Di tengah perjalanan Keira tiba-tiba memperlambat laju mobilnya.
"Kita singgah sebentar di Beaconsfield Service Area, saya perlu ke toilet, dan mobil ini perlu isi bensin." Gumam Keira.
"Ya, saya juga perlu ke toilet. Kau nanti menginap saja di rumahku, terlalu malam kalau kamu balik ke London. Sendirian lagi, saya tidak tega."
"Kita lihat saja nanti."
Keira keluar dari jalur jalan besar M 40 dan memasuki daerah Beacons Field. Keira mengarahkan mobilnya ke Services Area yang telah sepi. Masih ada beberapa mobil yang terparkir di situ. Beberapa kafe dan toko masih buka karena memang memberikan layanan 24 jam.
Setelah mengisi bensin, dengan lincah dan gesit Keira memarkir mobilnya lalu keluar diikuti Hulya. Sabina tetap di mobil menjaga si
kecil Umar Al Faruq yang pulas di car seat.
Toilet itu sepi. Hulya lebih cepat keluar dari toilet, ia berniat menuju minimarket yang masih buka.
Keira masih menuntaskan hajatnya. Di jalan depan toilet Hulya berpapasan dengan pria kekar beranbut pirang setengah mabuk. Hidung Hulya mencium bau minuman keras dari pria itu. Hulya agak bergidik ketika lelaki itu melihatnya seperti serigala hendak menerkam mangsanya. Hulya membaca
ayat Kursi dan mempercepat langkahnya. Pria itu berjalan masuk ke toilet lelaki.
Hulya lega ia melangkah ke minimarket. la berniat membeli bahan-bahan membuat roti bakar untuk sarapan esok pagi.
Selesai belanja Hulya menunggu Keira di lorong menuju toilet. Malam terasa hening. Hulya melihat jam tangannya. Pukul 00.50 dini hari. Keira belum juga muncul tiba-tiba sayup-sayup ia mendengar jeritan perempuan minta tolong. Itu jeritan Keira.
Bulu kuduk Hulya berdiri, jantungnya berdegap kencang. Ia teringat lelaki kekar bermata serigala tadi. Ada rasa takut dan khawatir menyergapnya. Tetapi jeritan Keira itu memanggil nurani dan keberaniannya. Hulya berlari ke toilet perempuan.
Ia melihat pemandangan yang sangat membuatnya marah. Kemarahannya mengalahkan segala khawatir dan takut yang menghinggapinya. Keira tampak tergeletak dilantai berjuang mati-matian melawan
pelecehan yang dilalukan lelaki bermata serigala. Keira sudah terkunci tidak berdaya.
Lelaki itu berkali- kali menampar wajah Keira dan siap melampiaskan kebejatannya. Hulya bergerak cepat dengan kemarahan meluap. la menendang kepala lelaki bermata serigala itu
sekeras- kerasnya. Tendangan itu tepat mengenai rahang pria itu sehingga terjengkang kesakitan. Pria itu seperti tidak berdaya sesaat.
Serangan pada tulang rahang itu telak sekali. Tulang rahang adalah tuas yang dapat mengalirkan pengaruh ke bagian belakang otak di mana mekanisme jantung dan pernapasan dikendalikan. Serangan pada tulang rahang adalah serangan pada otak belakang.
Kemarahan Hulya belum hilang. Perempuan berjilbab itu meletakkan belanjaannya, lalu mengambil keranjang tempat sampah yang terbuat dari monel dan memukulkannya ke kepala pria itu sekuat tenaga.
Pukulan itu mengena dengan telak pada bagian belakang telinganya hingga berdarah. Sesaat pria itu mengerang kesakitan.
Hulya langsung menarik Keira. Lelaki itu menyeringai sambil memegangi kepalanya yang sakit. Keira menangis. Hulya menuntun dan menariknya cepat-cepat pergi meninggalkan tempat itu sebelum lelaki
itu sadar sepenuhnya.
Hulya dan Keira merasa lega ketika mereka sampai di parkiran mobil. Keira masih menangis meratapi apa yang nyaris menimpanya. Kalau tidak ditolong Hulya, entah apa yang akan terjadi pada dirinya.
Sabina yang menunggu di dalam mobil merasa bingung, kenapa Keira menangis. Hulya memin ta Keira segera masuk mobil dan meninggalkan tempat itu.
"Aku masih shock, aku seperti tidak memiliki tenaga. Bisakah kau yang membawa mobilnya Hulya?"
"Baiklah. Ayo kamu masuklah."
Keira membuka pintu dan perlahan masuk mobil dan bersiap duduk di kursi yang sebelumnya diduduki Hulya. Sementara Hulya berjalan menuju pintu satunya.
Pada saat itu lelaki kekar bermata serigala sekonyong- konyong datang dengan setengah berlari menghampiri Hulya. Keira yang awalnya menunduk melihat kelebatan lelaki itu. Hulya tidak menyadari bahaya mengancamnya. Keira berteriak histeris
mengingatkan Hulya, hingga si kecil Umar terbangun kaget. Tetapi Hulya terlambat bergerak.
Lelaki itu menusukkan pisau ke punggung Hulya beberapa kali lalu lari. Sabina kaget luar biasa. Ia langsung keluar mengejar lelaki itu Sambil berteriak minta tolong. Keira berteriak-teriak histeris minta tolong.
Hulya ambruk bersimbab darah. Si kecil Umar menangis kaget, ia tidak tahu apa yang terjadi pada ibunya.
Beberapa orang berlarian menghampiri Hulya yang terluka parah. Di kejauhan terdengar suara tembakan. Sejurus kemudian Sabina datang dan menangis melihat kondisi Hulya. Ambulan datang.
Keira menemani Hulya diangkut ambulan ke rumah sakit. Sementara Sabina mengabari Fahri dan menggendong Umar yang terus menangis melihat ibunya dimasukkan ke ambulan.
Dua puluh menit kemudian Fahri datang menjemput Sabina dan Umar, langsung meluncur ke tempat Hulya mendapatkan perawatan medis. Sabina hanya bisa menangis ketika ditanya oleh Fahri apa yang sebenamya terjadi.
Tiba-tiba Fahri merasakan kecemasan yang luar biasa, kecemasan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Dulu ia pernah merasakan kecemasan yang sangat mengintimidasi dirinya ketika ia
dipenjara di Cairo dan terancam hukuman gantung. Tetapi kecemasan yang menyusup di dalam dadanya kali ini jauh lebih mengiris batinnya. la juga didera penyesalan yang menyesakkan dada, kenapa ia tidak memilih menemani Hulya?
Istrinya begitu memaksanya agar mendampinginya, tetapi ia memilih tetap disiplin pada jadwal acaranya. Jika ia mendelegasikan cendekiawan lain untuk mengisi acaranya di St. Antony's College dan ia menemani Hulya, mungkin kemalangan itu tidak menimpa istri yang sangat dicintainya itu.
Hulya dirawat di Wexham Park Hospital. Keira melarikannya ke rumah sakit terbaik paling dekat dengan tempat musibah terjadi. Pertolongan terbaik telah diusahakan, namun Iuka Hulya benar- benar parah.
Lima tusukan mengenainya. Tiga di punggung, satu di leher sebelah kanan dan satu di kepala.
Sudah empat hari Hulya koma. Dokter menjelaskan bahwa tusukan di kepala yang paling mematikan.
"Dengan luka seperti ini, hanya satu dari sepuluh ribu yang selamat!"
Penjelasan dokter yang berterus terang apa adanya itu membuat dada Fahri bagai ditikam pisau tajam. Ia ingin sabar, tetapi bersabar
seketika itu juga tatkala mendapat kabar buruk sungguh tidak mudah. Air matanya meleleh begitu saja, mulut dan batinya berulang-ulang mengucapkan,
" inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un."
Tetapi ia tidak boleh putus asa. la akan usahakan yang terbaik untuk menolong dan menyembuhkan istrinya. Apa pun yang dimilikinya akan ia korbankan asal Hulya bisa selamat dan hidup bersamanya lagi.
Seluruh keluarga besar Hulya telah sampai di London. Paman Akbar Ali dan istrinya, Paman Eqbal dan istrinya, dan seluruh kakak dan ipar Hulya telah tiba di London.
Semuanya merasakan kesedihan yang
mendalam dan meminta Fahri untuk bersabar.
Semuanya mendoakan Hulya dalam sujud mereka. Fahri menangis kepada Allah agar Hulya bisa sembuh, kalau pun Hulya memang harus meninggal, ia minta agar diberi kesempatan berbicara kepada Hulya untuk terakhir kalinya, dan membimbing Hulya mengucapkan kalimat thayyibah di akhir
hayatnya.
Keira, Nyonya Janet, Nyonya Suzan, Madam Varenka, dan Brenda menangis di gereja mendoakan Hulya agar selamat dan hidup sehat seperti sedia kala.
Media-media Inggris dan Eropa menurunkan berita kepahlawanan seorang Muslimah bernama Hulya yang menyelamatkan Keira dari pelecehan seksual, dan karena keberaniannya itu harus menebusnya dengan Iuka parah ditusuk sang penjahat.
Sementara sang penjahat yang ternyata seorang residivis asli Inggris telah di tembak mati oleh petugas keamanan karena nyaris menyerang Sabina yang mengejarnya.
Setiap hari Keira datang menjenguk Hulya dengan mata berlinang. Ia kini benar- benar malu luar biasa pada dirinya sendiri. Dulu ia pernah begitu membenci Muslim, dan ia menganggap semua Muslim itu monster. Kini ia melihat kenyataan yang sungguh berbeda.
Fahri yang Muslim itu mengentaskannya dari
jurang kehinaan bahkan mengangkatnya hingga menjadi orang yang sangat terkenal dan terhormat.
Dan Hulya, istri Fahri, sampai mempertaruhkan nyawanya untuk menolongnya. Dan di antara orang paling sedih adalah Sabina. Perempuan yang dipercaya menjadi ibu angkat Umar Al
Faruq, anak Hulya itu sampai berpuasa demi mendoakan kesembuhan Hulya.
Karena doa orang berpuasa termasuk yang mustajab, maka ia berpuasa dan tiada henti mendoakan kesembuhan Hulya.
Hati Sabina seperti teriris sembilu setiap kali Umar Al Faruq yang ia asuh menangis menanyakan ibunya yang kini masih terbaring koma di Wexham Park Hospital.
Pada malam hari ke lima, Hulya siuman dari komanya. Ketika itu yang ada di sampingnya adalah Sabina. Fahri sedang istirahat bersama anaknya di penginapan itu. Dengan suara sangat lemah dan lirih Hulya menyebut nama Fahri.
Sabina bergegas memberi tahu Fahri. Lalu Fahri memberitahu ayah dan ibu Hulya. Mereka bertiga menuju kamar Sabina dirawat, sementara Sabina menunggui Umar yang tertidur pulas.
"Jangan sedih suamiku ! " Kata Hulya pelan, bibir dan mukanya tampak pucat.
Fahri mengangguk dengan air mata berlinang. Sementara Paman Akbar Ali dan Bibi Melike tampak menahan tangisnya melihat kondisi putri bungsu mereka.
"Ayah, ibu, maafkan segala kesalahan Hulya."
Bibi Melike seketika itu terisak,
"Kau tidak memiliki kesalahan apa-apa anakku. Kami menyayangi kamu. Kau akan sembuh insya Allah."
"Suamiku, ridhailah istrimu ini ... " Air mata Hulya merembes mengaIir di pipinya.
"Aku meridhaimu Hulya, kau istri yang shalihah, kau akan sembuh biidznillah[2]' kau akan melahirkan adiknya Umar dan kita akan didik mereka bersama."
"Suamiku, aku merasa hidupku tidak akan lama lagi. Aku ada permintaan, aku ingin berwasiat."
Fahri memejamkan kedua matanya mendengar kata-kata istrinya itu. la menyeka air matanya dan berkata,
" Katakan kau akan sembuh insya Allah, kau bisa melewati ujian ini istriku."
"Jika ajal datang ia tidak bisa dipercepat atau ditunda. Suamiku aku mau kau berjanji melaksanakan wasiatku."
Fahri mengangguk sambil menahan tangis.
"Jika aku meninggal kau jangan sedih seperti saat kehilangan Aisha. Kau boleh menikah lagi dan pilihlah ibu yang shalihah untuk mendidik Umar, ibu yang lebih baik dari aku."
"Tidak ada ibu yang lebih baik darimu untuk Umar, istriku. Kaulah yang dipilih Allah untuk menjadi ibunya."
"Kedua, semua barang milikku juallah, hasilnya dirikanlah masjid dan madrasah untuk mengajarkan Al Qur'an, agar terus bisa mengalirkan pahala bagiku. Jangan sampai ada yang tersisa. Yang tidak layak dijual, sumbangkanlah kepada yang membutuhkan."
Fahri mengangguk sambil terisak.
"Ketiga, Sabina itu adalah ibu angkat anak kita dan dia baik sekali, dia mengajari anak kita sampai hafal surat-surat pendek. Suamiku, aku ingin Umar masih terus melihat wajahku, wajah ibunya, kalau aku sudah tidak bernyawa lagi, tolong pindahkanlah wajahku ke wajah Sabina, carilah dokter terbaik yang bisa melakukannya. Dan mintalah Sabina agar berkenan menerima wasiatku ini." Fahri kaget mendengar
permintaan istrinya itu.
"Tapi Hulya?"
"Tolonglah suamiku! Dan terakhir, jangan ke mana-mana bacakanlah Al Qur'an di sampingku! Aku ingin yang terakhir aku dengar adalah ayat-ayat suci Al Qur'an, dan doakan aku husnul khatimah."
Fahri terisak-isak,sambil menciumi tangan istrinya.
"Oh ya satu lagi suamiku, mintakan maaf kepada semua orang yang mengenalku. Dan kelak di akhirat saya, jika engkau suamiku, juga ayah dan ibu, jika kalian sudah masuk surga lalu kalian tidak menemukan aku di surga maka carilah aku, carilah aku ke neraka, aku khawatir sekali kalau terpeleset ke sana, lalu mintalah kepada Allah agar memasukkan aku ke dalam Surga. Kalian jadilah saksi bahwa
aku pernah shalat bareng bersama kalian, aku pernah baca Al Qur'an bareng bersama kalian, aku pernah menyebut nama Allah bersama kalian. Bersaksilah kalian kelak bahwa kalian pernah mendengar aku mengucapkan kalimat syahadat; asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah!"
Seketika itu Fahri, Paman Akbar Ali, dan Bibi Melike tidak bisa menahan suara tangis mereka.
Perpisahan dengan Hulya seperti diambang mata.
"Ayah, ibu, istirahatlah, sudah malam! Hulya mau istirahat. Suamiku duduklah di sini. Bacalah surat Ar Rahman berulang-ulang dan pandangilah wajahku, aku mau istirahat! "
"Ya istirahatlah istriku, besok kau akan lebih segar dan kau akan sembuh bi idznillah!"
Hulya membaca doa tidur lalu memejamkan kedua matanya. Paman Akbar Ali dan Bibi Melikeberingsut keluar meninggalkan ruangan itu dengan air mata berderai.
Fahri mulai membaca surat Ar Rahman sambil memandangi istrinya. Fahri membaca dengan penuh penghayatan. Surat pengantin itu ia baca dengan perasaan penuh cinta dan kasih sayang.
Dengan kedua mata terpejam, Hulya menyungging senyum. Wajahnya yang pucat pelan-pelan menjadi cerah.
Ketika sampai di akhir surat, Fahri kembali membaca basmalah dan membaca surat Ar Rahman dari depan lagi. Jika yang pertama Fahri membaca dengan qira'ah riwayat Imam Warasy dari Imam Nafi', kali ini Fahri membaca dengan qira'ah riwayat Imam Hals dari Imam 'Ashim.
" ... Fii hinna khairaatun hisaan. Fabi ayyi aalaai Rabbikuma tukadzdzibaan. Hurun maqshurotun fil khiyaam. "[3]
Tiba-tiba Hulya menggerakkan kedua matanya dan bangun.
"Bahagia benar bidadari-bidadari di Surga itu. Semoga aku kelak bahagia seperti mereka."
Lirih Hulya.
"Aamiin." Sahut Fahri.
"Yang menjemput sudah datang suamiku. Tuntun aku baca kalimat thayyibah."
Fahri kaget. Ia langsung sadar apa yang terjadi.
"Laa ilaaha. illallaah, laa ilaaha illallaah!" Ucap Fahri di telinga Hulya sambil mendekap
Hulya.
"Laa ilaaha illallaah." Lirih Hulya lalu menghembuskan napasnya yang terakhir dengan bibir menyungging senyum.
Meskipun Hulya telah berwasiat agar ia tidak sedih, tetapi Fahri tidak bisa membendung rasa kesedihan yang begitu mendalam yang dan tiba-tiba begitu menyesap masuk ke ulu jiwanya. Ia teringat bahwa Nabi Muhammad juga meneteskan air mata karena sedih ketika putranya Ibrahim meninggal dunia.
Apalagi sesungguhnya yang meninggal tidak hanya Hulya, tetapi juga calon anak yang sedang dikandung Hulya meskipun usia kandungan itu masih muda.
Fahri mencium wajah Hulya. Air matanya menetes di wajah istrinya.
"Allahummaghfir laha warhamha wa 'afiha wa'fu 'anha, ya Allah dia istri yang baik dan tidak pernah melukai hati suaminya, aku meridhainya ya Allah, ya Allah aku bersaksi dia ahli baca Al Qur'an, dia ahli puasa, dia ahli shalat, ya Allah terangi kuburnya dengan cahaya rahmat-Mu, jauhkan darinya segala
bentuk siksa kubur, kumpulkan dia dengan hamba-hamba-Mu yang shaleh, kumpulkan dia dengan Maryam ibunda Nabi Isa, dengan Asiyah yang mulia, dengan Khadijah, dengan Fatimah, kumpulkan dengan mereka di surga-Mu ya Allah."
Doa Fahri dengan berlinang air mata.
Di luar angin musim semi mendesau perlahan. Menggoyang reranting pepohonan.
Bunga-bunga berguguran.
Rerumputan bertasbih bergoyang-goyang. Rembulan mengintip seperti menangis di sela-
sela awan.
****
______________________________________________
[1] Risalah al Mustarsyidin, Al Haris AI Muhasabi, hal. 224 - 225 .
[2] Dengan izin Allah.
[3] Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik dan jelita. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan. Bidadari-Bidadari yang dipelihara di dalam kemah-kemah .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar