"KILAS 70"
Selain Sahibul Menara, kawan karibku adalah diari-diariku. Aku sudah menulis diari sejak berumur 12 tahun. Selama satu tahun, aku bisa menamatkan satu sampai dua buku diari.
Awalnya aku melihat Amak rajin menulisi sebuah buku tebal yang kemudian aku lihat judulnya “Agenda 1984″. Menurut Amak, isinya gado-gado: rekaman catatan penting kehidupan, batas pelajaran kelas yang diajarnya, catatan pengeluaran penting, catatan belanja di pakan dan potongan-potongan petuah religius yang didengarnya di pengajian induak-induak setelah subuh di Surau Payuang, sebuah mushola kecil di
Nagari Bayur, Maninjau.
Entah kenapa kemudian aku juga tertarik dengan ide untuk menuliskan macam-macam hal dalam sebuah buku yang bisa diisi setiap hari. Lalu aku mulai mencoba membuat diari
dengan sebuah buku tulis isi 100 halaman. Isi awalnya: kesan-kesan tentang guru dan teman, potongan kliping koran khususnya tentang sepakbola dan film, jadwal main bola, ringkasan pelajaran di sekolah, dan karikatur-karikatur seadanya rekaan tanganku.
Aku ingat suatu hari ketika masih sekolah di Maninjau. Setelah pulang sekolah sore hari, aku dengan tidak sabar mengambil diari dan siap menuliskan sebuah pengalaman pelajaran hari ini: ada murid baru perempuan di kelasku, dia pindahan Padang, sebuah kota besar menurut ukuranku anak kampung” Tapi diariku penuh, bahkan sampai ke balik halaman belakang. Sedangkan waktu itu sudah mulai gelap dan hujan lebat. berpikir panjang, aku keluar rumah menembus hujan dan naik
angkutan antar desa malam-malam hanya untuk membeli buku baru di desa sebelah yang punya toko alat sekolah. Aku ketagihan menulis diari.
PM kemudian memperkenalkan untuk pertama kalinya daku dimensi lain menulis. Menulis bukan hanya di diari dan buat diri sendiri, menulis juga buat orang lain dan ada medianya. Hal baru ini sangat menarik perhatianku: dunia penulis dan wartawan. Inilah yang mendorongku kemudian bergabung dengan majalah kampus Syams dan mengikuti pelatihan wartawannya. Dan sekarang bahkan aku dipercaya menjadi
redaktur: Syams, majalah dwi bulanan kampus PM.
Aku sangat terkesan dengan kerja wartawan, seperti yang digambarkan di buku-buku yang kubaca. Wartawan melihat dunia seperti rata dan bisa berada di mana saja untuk menuliskan kalimat buat masyarakat luas. Aku juga semakin tertarik dengan dunia fotografi yang memungkinkan seorang
fotografer mengambil gambar dan kemudian menunjukkan kepada khalayak sebuah kenyataan hidup dari tempat dan negeri yang jauh.
”Kita akan bikin gebrakan. Kalian siap-siap untuk langsung start” kata Ustad Salman kepada kami dengan semangat meluap-luapnya seperti biasa. Dia mengumpulkan kami para redaktur Syams di ruang perpustakaan guru selepas Maghrib. Menurut Ustad Salman, PM akan mengadakan syukuran akbar dengan menggelar berbagai acara mulai dari seminar nasional sampai bazaar, mengundang tokoh nasional mulai dari presiden, cendekia sampai konglomerat, dan mengadakan pertandingan mulai dari sepakbola antar pondok sampai antar asrama. Semua kegiatan ini dikemas dengan judul “Milad 70 tahun PM”. Semua acara ini berlangsung selama lebih dari satu bulan.
“Bisa kalian bayangkan, betapa sibuk, ramai dan meriahnya PM mulai minggu depan. Kita punya pilihan untuk membuat acara ini semakin sukses
Kita perlu bikin koran harian supaya semua orang tahu apa yang terjadi. Syams terbit setiap dua bulan. Tidak cukup cepat menuliskan hard news,” usulnya. Acara kolosal ini patut diketahui semua orang, karena itu perlu ada sarana membagi menulis dan informasi harian kepada ribuan murid yang tidak bisa terlibat langsung dengan berbagai susunan acara ini. Karena dana dan tenaga, bentuknya koran dinding dan ditempatkan di beberapa sudut penting PM, sehingga semua
orang tahu apa yang terjadi.
“Kapan kita tahu ini jadi Tad,” tanyaku penasaran. Aku begitu bersemangat dengan tantangan ini.
“Sabar, malam ini saya akan menghadap Kiai Rais untuk minta izin. Besok pagi kita bisa berkumpul lagi di sini jam 6 pagi?” tanyanya. Kami semua mengangguk antusias. Siapa
yang tidak mau membuat sebuah gebrakan baru sekaligus belajar jadi wartawan harian dan kenal dengan orang-orang besar?
Aku sangat mau.
“It’s official, we are good to go” seru Ustad Salman sambil melempar kepalannya ke udara. “Kiai Rais setuju kita punya Kilas 70 ‘
“Alhamdulillah,” kataku sambil bertepuk-tepuk. Yang lain juga berteriak senang.
Sejak hari itu, kami adalah wartawan harian Kilas 70. kantor kami di ruangan kecil sebelah kamar Ustad Salman. Perlengkapan redaksi kami tiga mesin ketik tua, dua tape recorder kecil, satu kamera dan semangat yang mendesak-desak.
Edisi pertama kami kacau balau. Dua mesin ketik menghasilkan tulisan dengan huruf a yang selalu meloncat ke atas setengah centi. Dul lupa menekan tombol record di tape nya sehingga wawancara dengan gubernur Jawa Timur hilang. Tulisanku tidak lengkap karena steno ciptaanku sendiri tidak bisa aku baca lagi. Dan Taufan tidak bisa mencuci foto acara
hari ini dengan cepat, sehingga edisi hari ini terlambat satu hari. Edisi kedua baru kami selesaikan jam 5 subuh. Padahal targetnya kami harus sudah terbit jam 12 malam. Isinya 5 berita di atas kertas HVS putih dan 3 foto. Kertas ini kami tempel di papan tripleks yang lay out-nya telah didesain seperti koran. Di ujung atasnya label besar “Kilas 70″. Tripleks
ini kami pampangkan tidak jauh dari panel wesel, salah satu tempat paling populer di PM. Walau edisi pertama ini tidak rapi, tapi sungguh menyenang kan melihat murid-murid
berebutan membaca foto yang kami bikin. Melihat ini semua, jerih payah semalam rasanya punah, informasi yang kami kumpulkan ternyata punya pembaca.
Aku yakin, Ustad Salman yang merencanakan ini semua tidak membayangkan betapa beratnya membuat berita setiap hari. Kami bukan wartawan profesional, apalagi masih ada kelas dan pelajaran yang harus kami hapal, masih ada kelas yang harus diajar Ustad Salman. Waktu kami benar-benar habis. Dan memakan energi besar. Capek sekali.
Hidup kami hampir berpusat di ruang kecil di kompleks guru ini. Tidur, makan dan istirahat selalu di sini. Beberapa hari kami tidak terbit karena tidak berhasil mengejar deadline sampai hari berikutnya. Beberapa kelas terpaksa kami tinggalkan. Sebagian dengan gembira dan sukacita. Untung Ustad Salman selalu bisa mengurus izinnya.
Barulah setelah dua minggu, kami berenam mulai mendapatkan ritme yang tepat. Membuat berita lebih cepat dan bersih karena mesin tik telah diganti. Kami bahkan sekarang sudah kenal dengan beberapa wartawan luar yang khusus ditugaskan meliput Milad 70 ini. Setiap hari ada saja wartawan koran nasional dan lokal datang berkunjung untuk meliput rangkaian acara. Aku sangat menyukai gaya para wartawan ini. Santai, sebuah note kecil di tangan, sebuah tape kecil. Aroma percaya diri, dan sedikit keangkuhan, terpancar dari muka mereka. Sebuah kartu tersisip di dada mereka.
Tertulis di sana besar-besar: PERS. Gagah sekali.
Kartu pers ini hanya disediakan PM bagi wartawan luar yang datang. Tapi Ustad Salman berhasil melobi panitia harian Milad 70 yang diketuai oleh Ustad Torik. Ustad Salman bersikeras timnya juga punya hak yang sama dengan wartawan dari luar. Walau hanya tim partikelir, paruh waktu, tapi kerjanya juga
mencari berita dan melaporkan. Karena itu layak dapat akses sama dan mendapat tanda pengenal yang sama pula. Panitia takluk dan memberi kami kartu yang sama. Aku dengan
bangga memakai kartu pers yang dicetak di karton biru ini. PERS Harian Kilas 70. Lalu di bawahnya tertulis namaku dan foto. Ketika kartu ini digantung di leher, dadaku terasa
membusung lebih besar. Rasanya setiap orang melihatku iri. Pegal dan capek rasanya telah dicabut dari badanku.
Aku merasakan semangat dan energi yang besar terlibat dalam kegiatan ini. Rubrik favorit pembaca kami ada tiga:
head-line tentang acara besar apa hari ini, profil alumni sukses yang sedang berkunjungan ke PM dan cerita dan foto lucu
seputar peringatan ini. Setiap hari kami bergantian meliput dan menulis acara besar hari ini.
Hari ini aku dapat tugas penting, meliput dan
mewawancarai Panglima ABRI Jenderal Subono yang akan hadir dalam seminar pendidikan agama dan stabilitas nasional.
Jenderal ini amat ditunggu-tunggu, apalagi dia sosok yang sedang naik daun dengan komentarnya yang tegas tentang dwi fungsi ABRI. Ustad Salman bilang “do your best”. Aku
sendiri belum punya strategi untuk melakukan tugas ini.
Aku lalu berdiri di pinggir aula bersama belasan wartawan media nasional yang tampak sangat antusias. Pak Panglima
yang bertubuh tinggi besar dan berbalut pakaian militer penuh emblem dan bintang berkilat-kilat ini keluar dari jip berwarna hijau tua khas tentara. Wajahnya yang tegas dan penuh otoritas menjadi lebih rileks ketika disambut kiai dan guru di tangga aula. Lalu mereka bersama memeriksa barisan murid.
membawa plang nama asal daerahnya, mulai dari Aceh sampai Papua. Dia terus dirubung oleh rombongan pengantarnya dan para guru. Aku gelisah kapan bisa melempar pertanyaan kepadanya. Telapak tanganku yang mencengkram tape kuat-kuat terasa licin oleh keringat dingin.
Tiba-tiba saja belasan wartawan yang berdiri bersamaku bagai kawanan singa gurun bergerak ligat mengepung Panglima. Aku si bocah hijau ini tersaruk-saruk mengekor di
belakang gerombolan mereka. Tapi aku melihat celah. Tubuh kecilku meliuk dan menyelinap menembus pagar manusia dan
segera berada tepat di depan Pak Panglima yang sibuk menjawab pertanyaan wartawan lain yang bertubi-tubi. Pertanyaan mereka adalah problem dwifungsi ABRI. Padahal
aku tidak tertarik isu dwifungsi!
Sementara wajah Panglima berlipat-lipat menjawab lemparan pertanyaan dari kiri kanan. Suaranya tegas menekan. Para wartawan terus mencecar bawel. Sedangkan
aku terjebak di tengah hiruk pikuk ini—hopeless. Tapi hati kecilku berkata, kalau aku tidak berbuat sesuatu, aku hanya akan menjadi kambing congek. Aku tahu harus membuat
impresi yang berbeda kalau mau didengarnya.
“ASSALAMUALAIKUM PAK PANGLIMA!”
Kaget dengan teriakanku, dia menunduk melihat ke arahku dengan takjub. Para wartawan yang hiruk mendadak diam dengan mulut melongo. Mungkin heran melihat ada seorang anak kecil, kurus, berkacamata, berwajah tegang, memberi salam dengan teriakan. Dengan wajah bingung Pak Panglima
menjawab, “Alaikum salam, tapi siapa kamu?” Nadanya menuntut.
Aku mencoba menguasai diri dan memberikan jawaban terbaik, “Pak Panglima yang diberkati Allah. Saya Alif dari Harian Kilas 70, Pondok Madani,” Tanganku yang menegang teracung ke atas. Tanpa jeda, aku langsung menyambung,! saya punya pertanyaan penting. Banyak murid di PM ini mengagumi sosok pimpinan seperti Bapak. Kami ingin tahu,
siapakah tokoh muslim idola Bapak?”
Mukanya sekilas kaget tidak mengira mendapat pertanyaan ini. Tapi dengan tangkas dia menjawab, kali ini dengan senyumnya yang lebar, gigi-gigi besarnya tersibak jelas.
“Wah saya tidak menyangka ada wartawan cilik disini Hmmmm, pertanyaan bagus…. Saya sangat terinspirasi olehmu Lalu dengan mengumpulkan semua keberanian, aku
menengadah ke panglima tinggi besar ini dan berteriak kencang.
kepemimpinan Tharik bin Ziad yang kemudian namanya menjadi Selat Gibraltar. Dia seorang pemimpin militer hebat, penuh strategi dan disiplin, Dik.”
Tangannya yang sebesar gada ditumpangkan di bahuku. Aku telah menaklukkan panglimaku. Hanya dua pertanyaan yang sempat aku ajukan sebelum para wartawan lain kembali
mengambil alih sang Panglima. Pertanyaanku, “Apa yang mengesankan di PM? dan Apakah siswa PM bisa masuk ABRI?” Para wartawan ini melirikku kesal karena membelokkan
pertanyaan tentang dwifungsi. Tapi aku ikhlas seikhlas-ikhlasnya dilirik begitu. Tiga pertanyaan pentingku telah dijawab tuntas oleh seorang Panglima sesuai harapan. Duh,
senangnya bisa menyelesaikan tugas jurnalistik pentingku dengan sukses. Sambil bersiul aku ketik judul headline beritaku: “Panglima ABRI: Thariq bin Ziad Idolaku.”
Di penghujung peringatan Milad PM, reputasi kami berada di titik tertinggi. Animo pembaca demikian besar sampai setiap hari terjadi himpit-himpitan di depan koran dinding kami. Akhirnya kami merasa perlu membuat dua duplikat Harian Kilas 70 di tempat yang berbeda.
Konsistensi terbit harian ini membuat kami sekarang mendapat kantor baru di dekat masjid. Kantor ini bahkan dilengkapi komputer dan printer yang memudahkan kami bekerja lebih ligat lagi.
Kami berenam juga dikagumi karena berfoto dan mewawancarai langsung rupa-rupa tokoh terkenal. Kami semua lelah, tapi puas. Ustad Salman sangat senang dengan perkembangan kami yang sekarang bisa memproduksi Kilas 70 dengan lebih cepat.
“RI Satu akan datang. Kita akan bikin gebrakan lagi,” proklamir Ustad Salman suatu sore. Untuk acara penutupan acara milad maraton ini, Presiden sendiri telah setuju untuk hadir.
“Kejutan apa lagi Tad?” tanyaku. Kawan-kawan lain juga ber-tanya-tanya.
“Yang memperlihatkan kesigapan dan penghargaan. Kita bikin Kilas 70 instant!”
“Maksudnya Tad?”
“Kita berburu dengan waktu. Kita bikin Presiden bisa menerima dan membaca liputan kunjungan dan fotonya, bahkan sebelum dia turun panggung.”
Wajah kami melongo. Sekarang saja kami harus berjuang supaya bahan selesai sebelum jam 12 malam. Sekarang kira mau membuat yang instant?
“Tapi bagaimana caranya?” tanya Dul dengan muka putus asa. “Can it be done? Sure. Ini agak mission imposible, man jadda wajada ya akhi. Insya Allah kita bisa.”
Kami manggut-manggut.
“Ini rencana saya. Taufan bertugas mengambil foto Presiden begitu menginjakkan kaki di PM. Lalu langsung ngebut naik motor ke Ponorogo untuk mencuci foto. Alif membuatkan liputan sampai pidato sambutan pertama dan langsung mengetik laporannya. Dalam setengah jam laporan dan foto sudah Wajib Harus disetor ke sini. Kita tinggal jilid dan
serahkan kepada Presiden dan Pak Kiai. Seharusnya, dalam hitungan 30-40 menit, kita sudah bisa menyerahkan harian Kilas 70 kepada mereka.”
Selama satu jam kemudian kami sibuk mematangkan rencana operasi ini. Rasa sangsi dan optimis bercampur aduk di dadaku.
Sejak kemarin PM di-sweeping oleh pasukan intel untuk memastikan semua aman menyambut Presiden. Mereka melongok longok, mulai dari dapur, kamar mandi, asrama dan ruang kelas. Hari ini, hampir seluruh penduduk PM berkumpul di lapangan sepakbola, menyaksikan helikopter Presiden
mengapung sebentar sebelum hinggap ringan di ujung lapangan tempat kami biasa latihan tendangan penalti.
Setelah mendapat sambutan meriah dengan berbagai tarian, parade, dan marching band, Presiden, Kiai Rais, Pak Gubernur dan segenap rombongan pejabat menaiki panggung
berdesak-desakkan dengan rombongan wartawan bersiaga di bawah panggung. Dia segera menjepret.
Presiden sedang berjalan berdampingan. Segera dia bergegas menyeberang lapangan dan meloncat ke sebuah motor yang sudah dihidupkan mesinnya. Dalam sekejap, motor ini melaju kencang. Dia harus kembali dalam 30 menit kalau ingin kami tetap bisa membuat kejutan.
Sementara aku tekun mendengarkan sambutan kedua pimpinan ini. Selain merekam dengan tape, aku juga mencatat di note kecil. Terlalu banyak risiko kalau hanya mengharapkan tape. Setelah mendapatkan pesan inti dari keduanya, aku bergegas naik sepeda ke kantor kami di dekat masjid. Dengan segenap kecepatan yang aku punya, aku gedor keyboard untuk segera menghasilkan laporan hangat. Ujung kursor
berkedip-kedip menunggu perintah Ctrl-S untuk men-save di program Wordstar ini. Tulisan berjudul, “Presiden Nyatakan PM sebagai Cenrer of Excellence” kemudian aku print ke
printer dotmatrix. Naskah utama sudah selesai. Rubrik-rubrik lain seperti “Yang Alumni Yang Terkenal”, “Jadwal Kegiatan Penting”, “Mimpi Murid Madani” sudah kami siapkan sejak malam. Yang kurang hanya foto presiden. Semoga Taufan tidak terlambat.
Deruman motor dan rem yang mencicit di luar membuat kami lega. Taufan menghambur masuk dengan wajah seperti disapu angin ribut.
“Aku sampai bilang ini urusan Negara supaya bisa memotong antri cetak foto yang panjang. Untunglah yang difoto memang Kepala Negara,” katanya terengah-engah.
Foto segera aku tempel di atas tulisan tadi. Sebanyak lima berita hari ini kami satukan. Hhhh…. selesai sudah Kilas 70 instant kami. Tapi ini sebetulnya baru awal dari babak yang
menurutku lumayan heroik. Ustad Salman akan menyerahkan langsung kepada Presiden dan Kiai Rais. Dia ingin memperlihatkan; orang PM bisa bergerak cepat dan berani. Kami berlari-lari lapangan lagi, supaya tidak kehilangan
momen melihat peristiwa ini terjadi.
Aku kembali ke lapangan, bergabung dengan Dul dan kawan-kawan lain. “Ini lembar pidatonya yang kesepuluh,” bisik DuL Dia dari tadi menghitung ada 10 lembar kertas yang
dipegang Presiden. Akhirnya sampai juga di lembar terakhir dan Presiden tampak bersiap-siap menutup pidatonya. Kami merapat ke dinding panggung bagian samping. Begitu
Presiden mengucapkan salam, Ustad Salman langsung berkelebat dan berlari kecil melintasi lapangan hijau yang luas, langsung menuju panggung kehormatan. Di tangannya
tergenggam dua bundel Kilas 70 edisi instant kami.
Tepuk tangan buat Presiden masih membahana ketika Ustad Salman dengan penuh keyakinan terus mendekati daerah podium kehormatan. Presiden tampak menyerahkan kertas pidatonya ke ajudannya yang sigap. Kiai Rais, Pak Gubernur, Pak Bupati, Pak Camat dan bapak-bapak berpakaian safari dan militer lainnya serentak berdiri menyambut Presiden yang kembali berjalan ke tempat duduknya.
Beberapa detik itu terasa lambat sekali, slow motion. Ribuan hadirin sempat terdiam dan tidak mengerti kenapa ada orang kurus berlari-lari melintas lapangan menuju panggung.
Sedangkan pasukan paspampres yang penuh siaga tidak menyangka ada penyelusup seperti ini. Mereka terlambat beraksi. Sebelum sibuk dengan radio, dan yang lain merogoh ke balik baju yang menyembulkan pistol. Tapi terlambat sudah, Ustad Salman sudah mendaki tangga panggung. Dengan terbungkuk-bungkuk, dia menyalami Presiden yang berjalan dari podium ke kursinya. Presiden tampak kaget dan ragu-ragu. Ustad Salman segera menyerahkan Kilas 70 kami
langsung ke tangan penguasa negeri ini. Terlihat mereka beberapa saat bicara dan tersenyum. Ustad Salman juga menyerahkan satu laporan lagi ke Kiai Rais yang tidak kalah
terperangahnya.
Ustad Salman lalu berlalu dengan senyum terlebarnya yang pernah ada. Tangannya melambai-lambai kepada kami yang bersorak-sorak penuh kemenangan. Kerja mission impossible kami sampai ke tangan Presiden. Beliau sekarang tampak mengangguk-angguk tersenyum ketika membolak balik Kilas 70 kami. Kiai Rais tampak ikut senang sambil menunjuk-nunjuk ke arah kami.
Malam itu kami merayakan kemenangan misi ini dengan pesta makrunah dan kacang sukro.
Bersambung...
______________________________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar