"Nah, kamu betul. Goder masih terlalu bersih. Maka aku tidak akan mengotorinya. Ssttt, jangan ganggu dia. Dan jangan lagi sebut dia anakmu, melainkan anakku! Nah, iya kan?"
Tampi bersungut-sungut, tetapi senyumnya mekar kemudian. Dia merasa tidak mungkin berbohong bahwa sesungguhnya dia berbangga hati karena anaknya menjadi boneka bagi perempuan yang paling ternama,
Srintil.
"Ah, Tampi. Sesungguhnya kamu tidak usah lagi merisaukan Goder. Cukuplah aku yang menjadi emaknya. Aku bisa menetekinya. Aku bisa membelikan baju yang terbaik di pasar Dawuan baginya. Pokoknya, apa yang bisa kauberikan kepada Goder, aku pun bisa melakukannya secara lebih baik. Dan jangan khawatir, bila sudah besar nanti dia tahu perempuan mana yang melahirkannya. Sekarang biarlah dia menjadi anakku yang sebenar-benarnya. Yang perlu kaulakukan sekarang adalah melayani suami sebaik mungkin. Supaya bayimu yang kelima cepat lahir!"
Seloroh Stintil mencairkan kekakuan. Tampi mencubit lengan temannya. Terasa benar oleh Srintil bahwa selorohnya tepat mengena pada perasaan Tampi yang sebenarnya. Bagi perempuan Dukuh Paruk melayani suami bukan hanya sekedar keharusan hidup. Dia adalah satu-satunya kegiatan lain di luar urusan dapur serta memelihara anak-anak. Dalam kenyataan aspek humaniora bagi perempuan Dukuh Paruk hampir terpusat sepenuhnya di atas pelupuh bambu mereka. Dan ketika Goder sudah menginjak usia sembilan bulan, seloroh Srintil itu sungguh tidak bisa dielakkan oleh Tampi. Artinya, ketidakhadiran Goder di sampingnya memberikan kedaulatan yang lebih bagi suaminya, dan dirinya juga.
Hingga tengah malam Srintil tidak mampu memejamkan mata. Kadang dia duduk termangu di bibir balai-balai. Kadang tidur gelisah di samping Goder yang lelap. Dan sekali waktu Srintil merasa demikian gemas karena mengetahui betis Goder bentol sebesar biji jagung. Seekor kutu busuk yang menggembung penuh darah digilas dengan telunjuknya. Noda darah tercoreng pada tikar pandan, sengak baunya.
Sakum masih terus mengembara dengan irama calung tunggalnya. Sebenarnyalah Sakum tak bisa menjelajah ke mana-mana karena kedua matanya buta sejak lahir. Dia tidak bisa mengembara di alam nyata. Tetapi karena buta, Sakum memiliki kepekaan luar biasa. Pengembaraannya di alam rasa demikian teliti dan memikat sehingga mampu mengajak orang lain mengikutinya. Malam itu pastilah banyak warga Dukuh Paruk setia memicingkan mata agar bisa mengawang bersama-sama Sakum.
Entah berapa tembang telah dibawakan oleh seniman calung itu. Dan Srintil amat terkesan oleh sebuah pupuh sinom yang mengalun berulang-ulang;
Bonggan kang tan mrelokena
Mungguh ugering ngaurip
Uripe lan tri prakara
Wirya karta, tri winasis
Kalamun kongsi sepi
Saka wilayan telelu
Tetas tilasing sujalma
Aji godhong jati aking
Temah papa, papariman ngulandara
Merugilah orang yang mengabaikan tiga perkara teras kehidupan. Yakni trampil, keutamaan, dan kepandaian. Bila triperkara ini ditinggalkan. Punahlah citra keutamaan manusia. Dia tidak lebih utama daripada daun jati kering; melarat, mengemis, dan menggelandang.
Terasa benar tembang sinom itu keluar dari dasar hati Sakum yang sedang papa karena telah lama tidak bekerja mengiringi Srintil dalam pentas. Sakum, yang meski buta tetapi harus memberi makan seorang istri dan empat orang anak. Makin lama Srintil makin merasa digugat oleh Sakum dengan caranya yang
sangat halus; mengapa dia masih menolak naik pentas dengan akibat perut Sakum anak-beranak menjadi lapar.
Gugatan itu menambah beban pikiran Srintil yang telah ditindih oleh pengalamannya dengan Marsusi di awal malam. Dan wajah Sakum bersama anak dan istrinya terus terbayang meski akhirnya penabuh calung
itu jatuh tertidur di belakang alat musiknya.
Boleh jadi hanya Srintil seorang yang tetap jaga ketika embun pertama jatuh sesaat malam melampaui batas dini hari. Perihal melek sepanjang malam bukan perkara asing bagi seorang ronggeng. Biasanya Srintil bergadang dalam suasana gairah dengan ciu, dengan uang, dan dengan berahi. Kali ini lain, sangat lain. Srintil sedang berada dalam haribaan Dukuh Paruk yang tengah tidur lelap selelap-lelapnya, merenung dan merenung. Dan Srintil tidak bisa ingkar bahwa awal segala permenungannya adalah kenangannya bersama Rasus. Rasus yang semasa kanak-kanak bermain bersama di bawah pohon nangka, Rasus yang diserahi keperawanannya, dan Rasus yang kemudian menjadi tentara tetapi kini berada entah di mana. Tetapi Srintil merasa setiap kali permenungannya berakhir pada titik antah berantah. Terutama setelah dia sampai kepada pertanyaan: apa yang bakal terjadi atas dirinya setelah Rasus pergi. Apa pula yang bakal dialaminya setelah - entah mengapa - dia memutuskan menolak laki-laki bernama Marsusi yang bersedia memberinya kalung emas bermata berlian. Dukuh Paruk sepanjang zaman mengajarkan, kehidupan adalah pakem; manusia tinggal menjadi pelaku-pelaku yang bermain atas kehendak dalang.
Maka bagi Srintil kepergian Rasus tidak bisa dipahami secara lain kecuali atas kehendak Sang Dalang juga. Meskipun sebagai akibatnya Srintil harus merasakan kegetiran dalam hatinya. Lain lagi perihal penolakannya atas Marsusi. Srintil khawatir jangan-jangan penolakannya itu berarti penentangan terhadap
pakem hidup. Dan sepanjang yang dipercayainya sikap semacam ini akan membawa akibat buruk. Barangkali Srintil akan tetap dalam kekhawatirannya bila dia tidak sempat teringat hal-hal keseharian yang sering dilihatnya. Misalnya toh tidak semua ayam betina tunduk kepada jago yang mengejar hendak mengawininya. Demikian juga kambing, kucing, dan juga burung-burung. Tentulah hewan-hewan betina itu tidak bisa dikatakan telah melanggar perintah alam. Atau, memang alam jugalah yang mengatur segala
perilaku seluruh warganya. Tak terkecuali Srintil, ketika dia menampik kehadiran Marsusi.
Ketika pada ujung permenungannya Srintil memperoleh sedikit ketenangan, matanya mulai terasa mengantuk. Sementara itu cecet pertama burung sikatan sudah terdengar. Disusul kemudian oleh kokok ayam jantan. Bunyi keresek daun pisang kering yang menerima kedatangan codot yang hendak
menyembunyikan diri. Samar-samar, karena matanya mulai terpejam, Srintil masih sempat melihat seekor bangkong melompat-lompat. kemudian menerobos celah dinding di dekat umpak tiang. Kodok longan itu akan bersembunyi sepanjang hari di kolong balai-balai, tepat di bawah kepala Srintil. Gangsir dan orong-orong menghentikan suaranya, membuat Dukuh Paruk menyambut kedatangan hari baru dalam suasana yang begitu lengang. Demikian lengang sehingga suara tetes embun jelas terdengar ketika jatuh
ke atas daun iles-iles yang tumbuh semarak di belakang rumah.
Srintil menikmati mimpi bercengkerama dengan para anak gembala; berlarian di atas permukaan bunga-bunga ilalang. Langit di atasnya penuh laron dan burung-burung. Srintil membaur bersama semua hewan di Dukuh Paruk. Namun keindahan mimpinya terputus. Sepasang tangan halus meraba-raba dadanya, masuk ke dalam kutang. Goder merengek minta menetek.
Sudah beberapa hari Sakarya kelihatan lebih banyak termenung. Perubahan yang terjadi atas diri Srintil, cucunya, sangat mengganggu pikirannya. Perihal Srintil menampik seorang laki-laki yang ingin memakainya tidak begitu memusingkannya. Masalahnya, bagaimana jadinya bila Srintil tetap menghindar dari panggung pentas. Dukuh Paruk akan kehilangan pamornya. Tanpa seorang ronggeng, Dukuh Paruk akan mati; suatu hal yang tak ingin disaksikan oleh Sakarya yang kini sudah berada pada ujung usia.
Perasaan kakek Srintil itu lebih dirisaukan oleh peristiwa-peristiwa kecil namun baginya penuh makna. Kemarin, seekor burung tlimukan terbang secepat angin menerobos pintu rumahnya yang terbuka, membentur keras cermin lemari kacanya. Burung itu runtuh ke lantai dan mati seketika. Dari paruhnya yang mungil merah menetes darah. Entah mengapa Sakarya sangat terkesan oleh pemandangan itu; seekor burung yang molek dengan bulu hijau mengkilap dan paruh seperti cabai masak, mati di hadapannya dengan gelimang darah. Sehari sebelumnya kamitua Dukuh Paruk itu menyaksikan seekor ayam hutan
hinggap di pohon angsana di samping rumahnya. Sakarya selalu membaca sasmita alam. Sakarya tidak pernah berpikir bahwa suatu perkara sekecil apa pun bisa berdiri sendiri, lepas dari kehendak semesta. Dan semuanya pastilah mengemban makna yang sasmita. Sepanjang menyangkut binatang asing yang mendekat, apalagi sampai masuk ke rumah, siapa pun di Dukuh Paruk akan membacanya sebagai pertanda buruk. Dan pagi ini, selagi duduk membatu di ruang depan, punggung Sakarya tertimpa sesuatu yang
dingin dan lembut: seekor cicak. Dua makhluk sama-sama terkejut. Binatang itu lari setelah menjatuhkan diri ke tanah lalu merayap cepat di dinding. Sakarya tak kalah cepat. Dengan gombal pembersih meja dilecutnya cicak itu, kena! Dilumatnya dengan kaki, "Asu buntung, mampus kamu!"
Sasmita buruk lagi, pikir Sakarya. Apabila sudah yakin demikian maka hanya satu hal yang harus dilakukan oleh kamitua Dukuh Paruk itu; mengetuk pintu makam Eyang Secamenggala di puncak bukit, kemudian
memasang sesaji dan membakar kemenyan. Dia bersiap-siap. Istrinya disuruh mencari kembang di halaman rumah Kartareja. Dia sendiri masuk ke kamar mengambil seikat upet. Bila sekali dibakar ujungnya sayatan kelopak manggar ini akan terus membara sampai habis.
Sakarya keluar rumah dalam pakaian serba hitam. Celananya longgar sampai ke tengah betis. Di lehernya terselempang kain. Iket wulung membelit kepalanya. Di tangan kanannya yang tersilang ke belakang
tergenggam upet yang sudah membara di ujungnya. Sepanjang perjalanannya kakek Srintil itu tak sekali pun mengangkat muka. Langkah-langkahnya pelan dan khidmat. Tetapi sekali dia harus berhenti, menarik napas panjang kemudian menggeleng-gelengkan kepala. Seekor ular koros menyeberang jalan setapak yang hendak dilaluinya. Binatang melata itu berhenti sejenak mengalang jalan. "Lagi-lagi, alangan!" desis Sakarya. "Kalau tidak berada-ada mengapa ular itu berkeliaran mengalang jalan. Toh perutnya menggembung pertanda ada tikus yang telah dimakannya. Dalam keadaan biasa seharusnya dia bergelung tidur di bawah semak."
Tiba-tiba Sakarya tersenyum. Di tengah kebeningan hatinya mendadak muncul kesadaran yang dalam bahwa usianya sudah di atas tujuh puluh tahun. Di Dukuh Paruk dialah laki-laki sang paling lanjut. Apabila pertanda buruk yang dirasakannya adalah peringatan akan datangnya ajal maka pantaslah adanya. Perihal kematian diri, bukan hanya sekali-dua Sakarya merenungkannya. Kadang malah merindukannya. Beberapa tahun yang lalu Sakarya memesan tempat di pekuburan Dukuh Paruk. Dibuatnya pemakaman palsu dengan
tonggak nisan. Bila ajal tiba maka orang akan menanam tubuh Sakarya di tempat itu.
Dalam kesadaran yang mulai akrab dengan kematian Sakarya sampai ke pekuburan Dukuh Paruk. Dia berhenti di kaki tanjakan buat menata pernapasannya. Suasananya temaram karena kerindangan beringin di puncak bukit memayungi sebagian besar tanah pekuburan. Ditambah lagi matahari pagi masih tersaput
awan. Mata Sakarya yang sudah kelabu menatap ke depan. Ketika angin yang lemah berembus pohon-pohon puring bergoyangan. Dan Sakarya diam sempurna. Pohon-pohon yang bergoyang itu tampak olehnya sebagai kelompok manusia dalam tarian aneh. Meski dengan wajah-wajah mengerikan Sakarya
bisa mengenali mereka. Yakni orang-orang yang meninggal keracunan tempe bongkrek tujuh belas tahun yang lalu. Ada wajah Santayib suami-istri di antara wajah-wajah yang menyeramkan itu. Keduanya adalah
anak dan menantunya, tepatnya orang tua kandung Srintil. Ada wajah-wajah ronggeng Dukuh Paruk sebelum Srintil yang meninggal puluhan tahun yang lalu.
Sakarya merasa hawa dingin bertiup di kuduknya. Suara hiruk-pikuk bergalau dalam telinga. Dan tiba-tiba Sakarya terkejut oleh sinar menyilaukan yang menusuk matanya. Matahari pagi muncul dari balik awan. "Ah, boleh jadi benar, kematianku sudah dekat," gumam Sakarya. Aneh, Sakarya merasakan ketentraman dalam hati setelah bergumam demikian. Ketika mulai mendaki pekuburan Dukuh Paruk, Sakarya tidak merasa lain kecuali sedang menapaki jalan menuju rumah. Hatinya damai. Pasrah. Kepasrahannya terucapkan ketika mulutnya komat-kamit menyatakan sesuatu di depan pintu makam Ki Secamenggala. Asap kemenyan mengepul dari ujung upetnya yang membara. Apabila Sakarya masih mengajukan keinginannya sebelum ajal tiba, maka masalahnya menyangkut kepentingan Dukuh Paruk; hendaknya calung dan ronggeng lestari adanya. Setidaknya, Srintil akan kembali menari, meronggeng. Kamitua Dukuh Paruk itu sungguh tidak bisa membayangkan apa jadinya bila Srintil tetap menghindari pentas. Dukuh Paruk tanpa ronggeng; reputasi buruk bagi kakek yang merasa menjadi pemangku anak-cucu Ki
Secamenggala di Dukuh Paruk.
Pulang ke rumah Sakarya mendapati Srintil sedang menerima seorang tamu. Semula Sakarya mengira tamu itu hanya berkepentingan dengan Srintil secara pribadi. Namun setelah jelas siapa dia, Sakarya langsung ikut duduk. Tamu itu adalah Pak Ranu, seorang penggawa kantor kecamatan yang sudah dikenalnya. Sakarya sadar betul seorang seperti Pak Ranu tidak akan berurusan dengan ronggeng secara pribadi.
"Wah, seorang priyayi datang ke Dukuh Paruk; ada apa ini?" kata Sakarya.
"Tentu ada urusan yang saya bawa bagi sampean serta cucu sampean ini."
"Begitu. Nah, katakan, Pak Ranu. Asalkan jangan urusan hukum, karena kami di Dukuh Paruk tak pernah menyalahi hukum."
"Sama sekali bukan itu, Kang. Ini urusan calung."
"Calung?"
"Apabila ada orang luar datang ke Dukuh Paruk, apa lagi maksudnya?"
"Yah, ya. Lalu, apakah sampean sudah berbicara langsung dengan Srintil?"
"Sudah."
Sakarya menoleh kepada cucunya. Wajah Srintil tersaput awan ketidak pastian. Murung dia. Sakarya mengerti, lalu menarik napas panjang sambil bersandar ke belakang.
"Kang Sakarya," ujar Pak Ranu. "Bukan saya yang hendak punya hajat melainkan panitia perayaan Agustusan."
"Agustusan dengan mementaskan ronggeng?"
"Nah, baru kali ini terjadi bukan? Rasanya, ini sebuah kehormatan bagi Dukuh Paruk."
"Ya, tentu."
"Nah. Tetapi saya agak heran mengapa Srintil tidak segera memberi kesanggupan." Lagi, Sakarya menarik napas panjang. Kemudian, dengan tetap menunduk Sakarya bergumam seperti kepada dirinya sendiri.
"Seharusnya Srintil mengerti urusan kali ini bukan sekedar undangan berpentas. Bisa juga dikatakan sebagai perintah karena dia datang dari panitia resmi."
"Nah! sampean betul, Kang Sakarya. Betul. Untung sampean yang mengatakannya, bukan saya."
"Sekarang bagaimana sampean, Jenganten?" kata Pak Ranu kepada Srintil. Setelah lama berdiam-diri Srintil menjawab lirih, "Sudah lama saya tidak menari, Pak."
"Kenapa?" Pertanyaan Pak Ranu berulang sampai tiga kali.
"Tidak apa-apa, Pak."
"Ah, masa. Bila ada ronggeng maka harus ada calung, bukan?"
"Yah, pokoknya saya sedang malas menari, Pak."
"Memang, Jenganten. Terkadang orang bisa merasa malas atau bosan terhadap pekerjaannya. Soalnya, permintaan ini datang dari panitia Agustusan yang diketuai sendiri oleh Camat. Bagaimana?"
"Bila sedang malas, tarianku bisa tidak karuan, Pak. Bagaimana?"
Pak Ranu tersinggung oleh pertanyaan balik ini. Tetapi penggawa kantor kecamatan ini bertahan dalam kesabarannya.
"Nanti dulu, Jenganten. Pada malam kesenian nanti kalian akan tampil berganti-ganti. Ada rombongan orkes keroncong dari kota, ada rombongan lawak dan juga rombongan akrobat. Tetapi saya percaya rombongan ronggeng Dukuh Paruk jugalah yang paling digemari penonton."
Srintil tak bergeming oleh rangsangan yang ditawarkan oleh Pak Ranu. Juga dia tetap bungkam ketika Sakarya ikut mendesaknya. Akhirnya utusan dari kantor kecamatan itu berdiri. Ucapannya terdengar bernada ancaman.
"Pikirlah baik-baik, Wong Dukuh Paruk. Kami tidak rugi bila sampean menampik permintaan ini. Sebaliknya, sampean bisa menghadapi kesulitan karena telah mengecewakan pihak kecamatan!"
Pak Ranu keluar dengan wajah buram. Srintil mengikutinya dengan pandangan bimbang. Sakarya terpaku, tak sepatah kata pun bisa terucapkannya bahkan ketika Pak Ranu berpamitan. Baru setelah Pak Ranu pergi
Sakarya berhasil membuka mulutnya. Kata-kata kecewa bernada menyalahkan ditujukannya kepada Srintil. Dalam kata-kata itu tersirat ketakutan akan datangnya kesulitan seperti diisyaratkan oleh pertanda-pertanda aneh beberapa hari ini.
"Kamu telah mengecewakan seorang priyayi; suatu hal yang tidak layak dilakukan oleh orang dusun seperti kita ini. Oalah, cucuku, kamu tidak menyadari dirimu sebagai seorang kaula."
"Kek..."
"Apa!"
"Bila saya bertahan, apakah saya bisa kena hukum?"
Pertanyaan Srintil adalah bukti sebuah langkah surut. Sakarya melihat pintu mulai terbuka. Tetapi kakek itu menyembunyikan perasaannya.
"Mengapa tidak? Kita ini kaula. Kita wajib tunduk kepada perintah, bahkan keinginan para penggawa itu. Menampiknya, sama saja dengan mengundang hukum. Nah, beranikah kamu melakukannya?"
Sakarya sengaja melebih-lebihkan ucapannya. Dia berharap Srintil akan segera mengubah pendiriannya. Tetapi jawaban Srintil bahkan mengejutkan Sakarya.
"Ya, sudah! Aku rela menerima hukuman. Dibui pun jadi! Bagaimana aku harus menari bila hati tak mau. Kakek tahu bukan, sebuah tarian baru hidup bila hati dan jiwa ikut menari."
Tanpa menunggu tanggapan kakeknya, Srintil bangkit. Di pintu ruang tengah dia berpapasan dengan neneknya. Dari tali sampiran Srintil menarik sehelai kain pengemban, disampirkannya ke pundak, dan keluar. Srintil melangkah cepat ke rumah Tampi. Goder ada di sana sejak pagi hari.
Sebelum sampai ke tujuan Srintil berhenti di depan rumah Sakum. Hatinya terkesan oleh suasana di situ. Penabuh calung yang buta itu sedang menganyam sebuah kukusan. Kedua tangannya trampil, seakan ada mata pada setiap ujung jarinya. Di belakangnya tersusun barang-barang anyaman yang sudah jadi, siap
dijadikan uang bila ada yang membutuhkannya. Ah, semua orang tahu apalah arti jumlah uang yang diterima Sakum dari barang-barang anyamannya. Anaknya empat orang.
Apa yang kelihatan oleh Srintil adalah gambar ke-tidak cukupan yang parah. Rumah Sakum hanya bertiang empat, doyong, ayam dan angin bebas masuk dan keluar dari segala penjuru. Dari dalamnya orang bisa melihat awan di langit, dan bintang-bintang pada waktu malam. Rumah, tepatnya gubuk itu, kelihatan demikian compang-camping.
Ketidak cukupan Sakum lebih jelas kelihatan pada diri keempat orang anaknya. Yang tertua, seorang gadis sembilan tahun. Rambutnya merah bulu jagung. Kedua ujung bibirnya berhiaskan cokop yang seperti lumut kerak. Wajahnya, bahkan kedua matanya kusam tanpa cahaya. Kulitnya mati dengan daki terutama pada tengkuk dan betisnya. Kini dia duduk bersandar dinding menunggui adiknya yang terkecil yang merayap-rayap di tanah. Dua anak Sakum yang lain sedang mencungkil-cungkil tanah di samping rumah.
Keduanya telanjang. Gerigi tulang punggungnya menyembul kulit. Tangan mereka yang lemah tergantung tanpa daya. Mereka sedang menyelusuri alur lubang orong-orong.
"Asu buntung!" kata yang lebih kecil. "Lubang orong-orong ini menghunjam ke dalam tanah. Di bawah batu pula."
"Kamu yang tolol," kata kakaknya. "Setiap lubang orong-orong mempunyai gua. Minggir kamu."
Si kakak jongkok tepat di atas lubang orong-orong, memegang kulupnya dan kencing. Karena kebanjiran air hangat maka orong-orong keluar dari liangnya. Dua pasang tangan berebut menangkapnya. Yang kecil kalah dan terjungkal ke belakang oleh dorongan kakaknya. Dia menangis dan berusaha merebut haknya. Tetapi si kakak telah lenyap masuk ke dapur. Orong-orong dalam genggamannya segera mati dalam abu panas. Semenit kemudian serangga tanah itu lumat dalam mulutnya.
Sakum kelihatan tidak terusik oleh hiruk-pikuk anak-anaknya. Jemarinya terus bekerja: menganyam, menyambung, atau memotong serpih bambu yang kepanjangan. "Bila aku masih mendengar suara anakku, itu pertanda baik. Berarti mereka masih hidup." Ini senda-gurau Sakum yang bukan sekali-dua
diucapkannya.
Dan untuk berhubungan dengan segala sesuatu di luar dirinya Sakum tidak hanya mengandalkan indra pendengaran. Naluri dan perasaannya terkadang justru lebih terpercaya. Misalnya, Sakum tahu istrinya telah atau akan berbuat serong dari nada suaranya. Demikian juga halnya bila terjadi ketidak adilan pada
waktu makan. Untuk mengetahui apakah satu-satunya pelita dalam rumahnya sudah menyala di malam hari Sakum hanya memerlukan tarikan napas panjang-panjang. Hidungnya dapat memastikannya dari udara yang masuk ke paru-parunya. Naluri atau mungkin seluruh permukaan kulitnya sangat peka terhadap
perubahan yang terjadi di sekitarnya. Seperti saat itu; Sakum berhenti mendadak dari kegiatannya ketika Srintil melangkah mendekatinya. Kelopak mata yang menutupi lubang keropok bergerak-gerak. Mulutnya
cengar-cengir. Suara yang kemudian didengarnya adalah suara yang telah diramalkannya, dan jitu.
"Sibuk, Kang Sakum?" kata Srintil sambil duduk di balai-balai hanya beberapa jengkal dari tubuh Sakum.
"Eh, Jenganten? Pantas, sejak pagi kudengar burung prenjak berbunyi ngganter di dekat rumah. Rupanya ada tamu penting hari ini."
"Bukan aku yang penting, Kang. Tetapi aku membawa masalah penting."
"Eh, penting bagaimana? Pak Marsusi datang lagi? Eh, maaf, Jenganten."
"Bukan itu. Ada seorang utusan dari kantor kecamatan datang ke rumahku tadi pagi. Kita dimintanya naik pentas pada malam perayaan Agustusan nanti."
Srintil menunggu tanggapan Sakum. Yang dinantinya adalah ledakan kegembiraan. Naik pentas berarti uang bagi seluruh anggota rombongan ronggeng. Keluarga Sakum yang hidup di atas titik pusat peta kemelaratan Dukuh Paruk harus menyambutnya dengan gembira. Tetapi laki-laki dengan sepasang mata keropos itu diam saja. Hanya alisnya turun-naik. Benar, Sakum sudah lama merindukan pentas. Namun saat itu dia sudah bisa membaca dengan tepat perasaan Srintil yang masih enggan menari.
"Bagaimana, Kang?"
"Eh, bagaimana? sampean sudah mengerti apa jadinya bila aku berlama-lama tidak menabuh calung, jadi akulah yang harus bertanya kepada sampean; bagaimana?"
"Aku mengerti, Kang. Kau berharap aku mau menerima permintaan panitia Agustusan, bukan?"
"Tentu saja begitu, Jenganten."
"Ya..." Srintil menghadapi kebuntuan rasa. Di depan kakeknya dia bersikeras tak mau memenuhi permintaan panitia Agustusan. Dihukum pun dia mau. Tetapi sebenarnya Srintil ingin menarik kata-katanya sesaat setelah terucapkan. Kini Srintil merasa telah menemukan orang yang paling tepat untuk menyatakan perasaannya secara jujur. Tanpa disadari sejak semula ternyata Sakum adalah orang yang dekat dengan dirinya, lebih dekat daripada suami-istri Kartareja, bahkan kakek dan neneknya sekalipun.
"Ya, Kang. Sebaiknya aku menuruti permintaan mereka. Aku mau menari lagi, Kang. Tetapi hatiku, Kang, hatiku!"
"Hati?"
"Ya. Hatiku tak bisa kubawa menari."
"Bisa," Ujar Sakum cepat. "Aku percaya indang ronggeng masih tetap bersemayam pada diri sampean, Hati sampean yang buntu akan terobati bila sampean, melupakan dia."
"Dia?"
"Ya, Rasus."
Berkata demikian wajah Sakum memperlihatkan segala kesungguhannya. Amat jarang Sakum berbuat demikian. Bibirnya merapat, otot-otot pipinya menegang. Dengan cara itu Sakum ingin menyatakan kebenciannya atas hubungan Srintil-Rasus yang telah membawa banyak persoalan bagi rombongan ronggeng, bagi Dukuh Paruk.
Srintil langsung menundukkan kepala, benci melihat wajah Sakum yang mengerikan. Hatinya tersinggung oleh kata-kata Sakum. Tetapi Srintil kemudian sadar kata-kata itu bukan ditujukan kepada Srintil maupun Rasus sebagai pribadi, melainkan kepada sifat hubungan antara keduanya yang ternyata telah membuat suara calung lenyap dari Dukuh Paruk.
"Jenganten," sambung Sakum. Kini dengan nada suara seorang bapak. "Bukan sampean seorang yang menjadi ronggeng dan terpikat oleh laki-laki tertentu. Hal semacam ini sejak dulu sering terjadi. Tetapi tidak segenting pada diri sampean.
Dulu, puluhan tahun yang lalu, ronggeng Trombol mengalami hal seperti ini. Dia kawin dengan seorang wedana. Nah, dasar masih bersemayam indang dalam dirinya, perkawinan mereka hanya berumur selama orang mengunyah sirih. Ronggeng Trombol kembali menjadi milik Dukuh Paruk, artinya kembali
melenggang dan melenggok seperti laiknya seorang ronggeng.
Demikian juga yang terjadi atas diri ronggeng Cepon. Dia tergila-gila kepada anak seorang pedagang batik. Mereka kawin juga akhirnya. Tetapi nasibnya malah lebih buruk. Suami yang dicintai pergi meninggalkannya. Ronggeng Cepon begitu merana. Akhirnya dia mati ketika usianya belum lagi dua puluh.
Nah, sekarang diri sampean. Sudah cukup apa yang sampean dapatkan dari Rasus. Begitulah namanya seorang ronggeng. sampean sudah merasakan kesenangan bersamanya, tidur bersamanya. Hanya itulah yang bisa sampean terima, karena sampean seorang ronggeng. Selagi indang masih tinggal dalam diri,
sampean tidak mungkin mendapatkan lebih dari itu. Tidak mungkin! Jadi sekali lagi, lupakan Rasus demi kebaikan sampean sendiri."
Srintil masih menundukkan kepala. Kini matanya basah. Tadi setiap kali Sakum menyebut nama Rasus, setiap kali pula jantungnya berdenyut keras. Terbayang kembali olehnya suatu ketika di malam hari
menjelang acara bukak-klambu. Rasus menemuinya dengan wajah demikian hampa tetapi penuh ketidakberdayaan. Terngiang kembali ucapan Rasus terakhir yang masih sempat didengarnya, "Aku tak mungkin mengawinimu karena kamu seorang ronggeng. Kamu milik Dukuh Paruk."
"Jadi aku masih seorang ronggeng karena pada diriku masih bersemayam indang?" ucap Srintil pelan.
"Eh, sudah puluhan tahun dan sudah sekian banyak ronggeng yang kukenal. Getar suara sampean adalah getar suara ronggeng. Bau badan sampean adalah bau badan ronggeng. Wibawa sampean juga wibawa ronggeng. Nah, sampean memang masih seorang ronggeng. Kelak pada suatu saat aku akan tahu sampean,
bukan lagi ronggeng. Yakni bila indang telah meninggalkan diri sampean."
Sakum kemudian menarik napas lega. Kedua bahunya turun seakan baru lepas dari beban yang berat. Memang, Sakum telah lama ingin mengungkapkan perasaannya kepada Srintil; mengingatkannya dan mengajarinya tentang bagaimana seharusnya sikap seorang ronggeng. Niatnya demikian tulus sehingga
Sakum tak menghendaki orang menghubungkan niat itu dengan kepentingan pribadinya.
Merasa telah mengungkapkan semua perasaannya Sakum kembali kepada pekerjaannya. Tangannya kembali menganyam serpih-serpih bambu. Tangis anak Sakum masih berkepanjangan. Tangis yang hambar,
tangis seorang anak yang lapar tetapi merasa pasti tak ada nasi yang bisa dituntutnya. Burung kembali ngoceh, bebas, dan lepas. Suaranya meriah dan renyah, kebalikan yang sempurna atas suara tangis anak Sakum.
"Ke mana istrimu, Kang?"
"Eh, dia di rumah Kartareja. Menumbuk padi. Tentu dia hampir pulang. Suara alunya sudah lama tak terdengar."
"Sudah menanak nasi?" tanya Srintil menatap wajah anak-anak Sakum. Pertanyaan itu mengundang harapan bagi mereka.
"Jenganten ini bagaimana? Yang sedang memburuh menumbuk padi belum lagi pulang."
"Ah, begitu. Sekarang matahari hampir tergelincir. Mestinya istrimu sudah pulang."
"Aku tahu matahari sudah tergelincir. Buktinya, bau sengak makin menyengat, pertanda tempat kencing anak-anak di sebelah barat rumah sudah kena panas matahari."
Srintil meneruskan perjalanan ke rumah Tampi hendak mengambil Goder. Masih di dekat rumah Sakum dia melihat sepasang bunglon berkejaran pada ranting pohon dadap. Yang betina lari tunggang-langgang lalu melompat ke dahan lain. Yang jantan mengejar, ragu-ragu, lalu menyusul melompat. Kali ini dia luput dan
terbanting ke tanah. Diam dan seakan-akan mati. Warna kulitnya yang semula hijau terang perlahan-lahan berubah warna tanah. Binatang itu baru bergerak setelah langkah Srintil begitu dekat. "Bila Kang Sakum tidak picek tentu dia akan berkata kepadaku; jangan membabi buta mengejar orang yang lari. Nanti terbanting seperti bunglon itu."
Seperti Sakum, Tampi pun mendorong Srintil menerima permintaan panitia Agustusan itu. Tampi bahkan membumbui kata-katanya dengan hal-hal yang memang belum diketahui oleh Srintil.
"Jenganten mungkin belum tahu. Pada malam perayaan seperti itu akan berkumpul semua priyayi di Dawuan. Ada wedana, ada polisi, dan ada tentara. Mantri ini, mantri itu, semua akan berkumpul. Penonton lain bisa mencapai jumlah seribu orang."
"Seribu orang, Yu?"
"Percayalah, Jenganten. Maka jangan sia-siakan pentas yang istimewa itu. sampean justru harus tampil dalam tarian yang terbagus."
"Kamu juga mau nonton, Yu?"
"Yah, itu pasti. Saya kira semua orang akan kerok-batok pergi semua ke alun-alun kecamatan Dawuan. Jadi mengapa aku harus tinggal di rumah?"
Dalam perjalanan pulang, Srintil telah mendapat kata putus. Dia hendak memenuhi permintaan panitia Agustusan. Tetapi Srintil sendiri tidak bisa memastikan apakah keputusan itu merupakan tekad yang utuh atau hanya karena sebab lain. Pihak pertama yang mendengar keputusan Srintil adalah Goder, bayi yang dipeluknya erat-erat sambil berjalan pulang.
"Bocah bagus, aku mau menari lagi. Boleh, kan? Ah, kau tak usah khawatir. Aku tetap emakmu. Kau tetap anakku yang paling bagus!"
*****
Bersambung...
______________________________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar