Jumat, 12 Maret 2021

NEGERI 5 MENARA BAGIAN 18

"MARADONA HAPAL OURAN"



“Selamat dan jaga etika menulis dan patuhi deadline kata Ustad Salman. Tapak tangan kurusnya menjepit tanganku erat. Lalu bagai mengalungkan medali emas olimpiade, dengan hikmat dia menyampirkan tanda pengenal dengan foto diriku dan tulisan berhuruf tebal di atas kertas seukuran KTP: Wartawan. Wow, perasaanku melayang dan senang bukan 
main. Rasanya saat itu aku siap menjelma menjadi Goenawan Muhammad, bos TEMPO, majalah yang selalu menjadi referensi kami. Aku baru saja menyelesaikan pelatihan 3 hari 
untuk menjadi wartawan majalah kampus kami, Syams, matahari. 

Untuk kegiatan luar kelas, aku memilih bergabung dengan majalah kampus karena aku sangat tertarik belajar menulis dan memotret. Untuk urusan tulis-menulis ini, sebelumnya beberapa kali aku menjadi finalis lomba menulis di PM. Ini yang membakar semangat, selalu menjadi finalis, tidak pernah 
Padahal aku merasa cukup baik di bidang ini. Untuk memperkuat skill menulis inilah kemudian aku melamar dan ikut tes menjadi wartawan Syams. 

Setelah tercatat sebagai kuli tinta majalah kampus, aku banyak belajar dari mentor-mentor menulisku, salah satunya Ustad Salman. Bahkan aku berani menulis puisi dan cerpen untuk di-kirim ke majalah dan koran yang terbit di Jawa dan Sumatera. Hasilnya? Berkali-kali aku mendapatkan amplop tebal koran-koran ini, berisi naskahku sendiri dan surat permintaan maaf belum bisa memuat tulisanku dengan beraneka alasan. Tapi sesuai kata sakti yang aku percayai itu, man jadda wajada, aku berusaha tidak kendor. Mungkin memang tulisanku belum cukup bagus. Satu-satu-nya tulisan kirimanku yang dimuat oleh surat kabar Jawa Pos adalah sebuah tulisan 3 paragraf: sebuah surat pembaca. Walau hanya surat pembaca, aku tetap senang. Rasanya 
hebat sekali opini kita—walau dalam bentuk surat pembaca—dimuat di koran besar dan dibaca banyak orang. Kliping surat pembaca ini bahkan aku abadikan di dalam diariku, sebagai 
bukti tulisanku juga bisa dicetak di luar PM. 

Privilege yang aku punya sebagai wartawan kampus adalah izin untuk memegang kamera dan menggunakannya. Tanpa menjadi anggota klub fotografi dan kru majalah, tidak ada yang boleh menggunakan kamera di PM. Selain mengirimkan naskah tulisan, aku juga pernah mengirimkan foto-foto kegiatan PM ke majalah-majalah Islam. Tapi tidak pernah 
dimuat. 

Untuk urusan potret-memotret, aku sudah belajar sejak kelas lima SD. Pada suatu Idul Fitri, Ayah menerima hadiah kamera Yashica bekas dari Pak Etek Gindo yang pulang berlibur dari Cairo. Ayahku senang bukan kepalang. Ke mana saja dia membawa kamera ini dan memotret apa saja. Waktu itu jarang sekali orang punya kamera pribadi. Lama-lama dia 
menjadi fotografer tidak resmi di acara-acara kampung kami. Dia dengan senang hati memotret tanpa memungut bayaran. Sedangkan orang sekampung juga senang ada tukang potret gratisan. Sedikit-sedikit Ayah mengajariku memotret dan mulai 
memberiku kepercayaan untuk memotret acara seperti perpisahan kelas enam di SD, khatam Al-Quran di madrasah, sampai ke adikku. 

Sedangkan untuk bidang olahraga, aku memilih silat dan sepakbola. Aku antusias sekali bergabung dengan perguruan silat Tapak Madani. Apalagi dulu waktu kecil belajar silek 
kumango, salah satu aliran silat Minangkabau dari lingkungan surau dan dikembangkan oleh Alam Basifat Syekh Abdurahman Al Khalidi di Surau Kumango, Tanah Datar. Yang menarik perhatianku adalah langkah sfefciraaF simbolkan sebagai langkah Alif, Lam, Lam, Ha dan Mim, Ha, Mim, Dai, yang merupakan huruf Arab dari kalimat Allah dan Muhammad 

Sayang, jadwal latihan silat tidak cocok dengan jadwal latihan menulis di Syams. Akhirnya aku memilih sepakbola saja. Kata Kiai Rais, “pilihlah kegiatan berdasarkan minat dan 
bakatmu sehingga bisa mengerjakannya dengan penuh kesenangan dan hasil bagus.” Memang kalau sudah main bola dan menulis, rasanya tidak ada capeknya. 

Untuk sepakbola aku bergabung dengan tim asrama Al-Barq Banyak piala yang diperebutkan setiap tahun di PM, mulai dari 
lomba drama, pertunjukan musik, kesenian, majalah dinding, pidato, sampai lomba menghias asrama. Tapi tidak ada yang 
mengalahkan kepopuleran Liga Madani, kompetisi antar delapan asrama yang berjalan sepanjang tahun dan berakhir dengan final di setiap akhir tahun. Juaranya menggondol Piala Madani, lambang supremasi sebuah asrama di PM. Walau ikut latihan bersama tim asrama, aku bukan tim inti dalam kompetisi ini. Kata Kak Is, postur tubuhku yang kurus 
kurang pas untuk bertarung keras dengan tim lain. Alhasil, aku menjadi anggota tim penggembira untuk melayani latihan tim 
utama saja. Tapi itu saja sudah membuatku senang. Apalagi tim kami sekarang berpeluang masuk babak selanjutnya setelah menang dua kali melawan asrama lain dengan Said sebagai top scoret dengan tiga gol. 

Di Maninjau dulu, tidak ada lapangan bola yang bagus untuk latihan. Aku dan teman masa kecilku belajar main bola di atas tanah sawah yang habis disabit. Setelah akar padi dibersihkan, tanah di sawah itu berlubang-lubang, basah, dan liat. Ketika mengejar bola, sering kami terjerembab karena kaki kami melesak ke dalam tanah yang gembur. Keadaan semakin parah ketika hujan turun. Sawah yang gembur berlinang-linang dengan lumpur yang tebal. Risikonya semakin gampang terpeleset dan berguling-guling di lumpur. Yang terjatuh jadi bahan ejekan dan sorakan kami. 

Setelah lelah bermain, kami tidak ubahnya seperti kerbau keluar dari kubangan. Supaya tidak dimarahi orangtua karena berlepotan tanah, kami mencebur dan berenang dulu di Danau Maninjau. Badan boleh bersih, tapi sayang bau lumpur tidak bisa hilang. Amak tetap tahu dan memarahiku sampai di rumah 

Sebaliknya, Said dengan semangat memilih hampir semua cabang olahraga yang ada, mulai silat, sepakbola dan terakhir body building. Aku tidak habis pikir bagaimana dia membagi waktu latihan. “Kalau diniatkan, semuanya bisa diatur akhi,” jawabnya sambil bergegas memakai sepatu bola. Belakangan 
dia menyerah juga dan hanya memilih 4 cabang olahraga. 

Atang yang memakai kacamata bergagang tebal seperti Clark Kent, sesuai bakatnya, langsung larut dengan latihan latihan teater yang menurutku terlalu dibuat-buat. Kalau 
bukan melolong-lolong tanpa sebab dengan memasang muka masam dan serius, maka pemain teater ini bisa tertawa-tawa sambil bergulingan. Sungguh tidak bisa aku mengerti. “Inilah namanya penjiwaan, dasar ente tidak mengerti seni,” begitu jawab sinis mendengar hujatanku. Tangannya membetulkan kacamatanya yang tidak melorot. 

Selain teater, Atang mengaku punya sebuah keinginan terpendam, yaitu menjelma menjadi Teuku yang membaca Al-Quran dengan suara bak gelombang lautan yang bergelora. Walau tahu modal suaranya yang pas-pasan, Atang tetap membulatkan tekad untuk menjadi anggota Jammiatul Qura, sebuah grup mengasah suara dan kefasihan melantunkan ayat Tuhan. 

Namun, di antara kami berlima yang paling tahu apa mau adalah Raja. Bahkan sejak kami pertama menjejakkan, kaki di PM dia telah pernah bergumam akan belajar menjadi singa 
podium, yang mampu membakar semangat pendengar, dalam berbagai bahasa dunia pula, seperti Bung Karno. Untuk itu dia langsung bergabung dengan English Club yang mengajarkan bagaimana berpidato, berdiskusi, dan berdebat dengan baik. 

Baso si pemilik photographic memory ini telah bertekad bulat untuk bisa menghapal tiga puluh juz Al-Quran selama di PM segera bergabung dengan kelompok Thahfidzul Quran. Sejauh ini, dia telah berhasil menghapal juz Amma yang punya surat pendek-pendek. Selain itu dia juga terdaftar sebagai anggota kelompok Kajian Islam, kelompok diskusi yang 
membahas tentang, ilmu-ilmu Al-Quran. Uniknya, pengganti olahraga, dia memilih ikut kursus pijit refleksi telapak tangan dan kaki untuk pengobatan.

Sedangkan Dulmajid, tidak lain dan tidak bukan, memuaskan nafsu membacanya dengan bergabung sebagai tim perpustakaan. Dengan menjadi bagian tim ini dia bisa setiap hari dikelilingi buku. Sesekali dia ikut membantu majalah Syams. Dan dalam rangka ingin menjadi seperti Icuk Sugiarto, Dulmajid juga mendaftar sebagai anggota klub bulutangkis. 

Dua kali seminggu aku mengikuti lari pagi bersama yang mirip karnaval kepagian. Tepat setelah Subuh, ribuan murid dengan seragam olahraga asrama masing-masing berbaris 
rapi, dikomandoi seorang petugas olahraga yang memakai peluit. Lari pagi hukumnya wajib, setiap tindakan tidak lari pagi adalah kunjungan ke mahkamah. 

Prit… prit. prit.. begitu irama peluit mereka agar langkah pasukannya teratur. Selama setengah jam lebih kami lari pagi melintas jalan-jalan desa yang masih disaput kabut, melewati 
peternakan, rumah-rumah sederhana, sawah, dan kali. 

Kalau lari dilakukan bersama karena wajib, maka sepakbola kami wajibkan sendiri karena permainannya yang heboh. Apalagi khusus masalah si kulit bundar ini, PM punya sebuah 
kompetisi antar asrama yang riuh. Setiap pertandingan dipenuhi suporter kedua belah pihak. Selain itu, juga ada pertandingan persahabatan PM Selection dengan para tim 
tamu yang datang dari kota-kota lain. Tidak ketinggalan pula turnamen sepakbola yang lebih kecil untuk para ustad dan pegawai E almukanam, pimpinan PM, Kiai Rais sendiri 
kabarnya akan main. 

“Kapan ya kita bisa lihat beliau main bola?” kepada siapa-siapa ketika kami berkumpul di bawah menara.

“Mana mungkin Kiai Rais main bola. Beliau itu kiai dan hapal Quran pula,” sergah Baso dengan wajah paling hakul yakin yang dia punya. 

“Main bola bukan barang haram, mungkin saja,” sangkal Said agak kesal. 

Kiai Rais adalah sosok yang bisa menjelma menjadi apa saja. Setiap Jumat sore, di depan ribuan muridnya, sambil mengelus-elus jenggotnya yang rapi, dia dengan telaten 
membimbing kami menafsirkan ayat-ayat Al-Quran dengan cara yang sangat memikat. Pada kesempatan ini dia memakai pakaian jubah putih panjang, kopiah haji dan sorban tersampir di bahu, layaknya seorang syaikh pengajar di Masjid Nabawi. Tidak salah, dulu dia menuntut ilmu di Madinah University. Selain menggondol gelar MA di bidang tafsir, dia juga menggondol pengakuan sebagai seorang haafiz, penghapal Al-Quran. 

Setiap awal musim ujian, dia kembali tampil di podium aula dengan gaya motivator yang membakar semangat kami. Kali ini tanpa sorban, dia memakai kemeja putih, berdasi, 
bercelana hitam, sepatu mengkilat dan memakai kopiah hitam. Penampilannya pas sekali sebagai seorang administrator pendidikan yang terpandang. Matanya mendelik-delik lincah, mengingatkan aku pada salah satu cita-cita profesiku dulu, 
menjadi Habibie. Setelah mendengar dia bicara, rasanya apa saja bisa kami terjang dan pelajari. 

Bagi Baso, Kiai Rais adalah kiai yang cocok jadi guru, bukan pemain bola. 

Sampai pada suatu hari, TOA pengumuman yang terpasang di ujung koridor asrama kami berbunyi nyaring:

“Ayuhal ikhwan, saksikan besok sore, sebuah pertandingan bergengsi antara Klub Guru dan Kelas 6 Selection. Menghadirkan pemain-pemain tangguh yang ada di PM, bahkan Kiai Rais sendiri akan ikut turun, jangan ketinggalan… saksikan….. 

“Kiai Rais main bola? Kok bisa ya?” kata Baso tergagap bingung. Dia yang selama ini begitu mengidolakan kehebatan Kiai Rais menghapal Al-Quran rupanya gagal menyambungkan 
penghafal Quran dan sepakbola. Baginya itu dua dunia yang benar-benar berbeda. 

“Nah apa kubilang. Ya bisa lah, boleh kan, seorang kiai pun 
main bola!” bela Said bersemangat. Tangannya digosok-gosok’ 
kan, seperti seorang kelaparan akan menyambar hidangan 
lezat. Matanya berkilat-kilat, tidak sabar menonton 
pertandingan ini. 

“Kenapa bingung kamu Baso? Rugi kalau kita tidak nonton,” 
katanya lagi. 

Aku, Said, Raja, Atang dan Dulmajid sepakat kami harus 
ada di lapangan. Kami sepakat tidak ada jadwal kumpul di 
bawah menara besok. Kami akan langsung ke lapangan 
sepakbola lengkap dengan sarung dan kopiah, supaya nanti 
tidak perlu lagi pulang ke asrama begitu bel ke masjid 
berbunyi. Baso masih menerawang, matanya tidak yakin. 
Baginya, kaitan antara penghapal Al-Quran dan pemain 
sepakbola tetap sebuah misteri. 

Said seperti mendidih melihat kawannya yang satu ini tidak 
mengerti juga. 

“Eh Baso, anta kan hapal banyak hadist. Nah, ingat gak ha-
dist yang bilang bahwa Nabi itu ingin umatnya sehat dan kuat. 
Makanya dianjurkan kita bisa berbagai keterampilan fisik, mulai dari memanah, berkuda dan berenang. Itu artinya olah 
raga, Nabi saja olahraga, masak Kiai Rais tidak. Apalagi kamu 
…,” katanya menyorongkan telunjuknya ke muka Baso sampai 
Baso terlonjak kaget menghindari telunjuk Said yang hampir 
mengenai hidungnya. Baso tampak berpikir keras sebelum 
akhirnya setuju untuk ikut ke lapangan besok. 

Tepat setelah Ashar, kami setengah berlari menuju 
kelapangan karena tidak mau kehabisan tempat. Sarung kami 
pakai agak tinggi supaya bisa melangkah lebih lebar. Benar 
saja pinggir lapangan telah dijejali oleh banyak murid, ustad 
juga orang-orang dari luar PM. Sejumlah kursi yang terbatas 
Mulai terisi, yang tinggal hanya daerah untuk berdiri. Delapan 
corong TOA besar yang dipasang melingkari lapangan 
kemerosok sebentar sebelum kemudian mengeluarkan suara 
gegap gempita komentator bola PM yang paling terkenal, 
bernama Amir Tsani. Dengan suara berat dia mulai 
memperkenalkan kedua tim kepada penonton. 

“Ayyuhal ikhwan. Saudara-saudara semua. Selamat datang 
dalam pertandingan penting ini. Saya akan perkenalkan para 
pemain dari kedua tim, yaitu…” Dia menyampaikan semua 
komentar dalam Bahasa Arab, karena minggu ini minggu wajib 
berbahasa Arab. 

Sebagai kelas paling senior, kelas 6 menurunkan pemain 
terbaik yang muda dan sigap. Di antaranya adalah Rajab Sujai, 
yang dianggap sebagai bek terbaik PM karena kecepatan dan 
postur tubuhnya yang liat menghadang penyerang mana pun. 
Kak Rajab ini tidak lain adalah Tyson yang menjabat bagian 
keamanan. Sementara, kelompok guru yang relatif lebih tua 
juga tidak mau kalah, mereka punya playmaker Ustad Torik 
yang selama ini dikenal sebagai sang don dalam masalah 
keamanan PM. Para siswa kelas 6 ini sangat paham reputasi si 
don ini. Kata-katanya adalah hukum. Mendengar namanya saja, siswa kelas satu bisa pucat pasi. Tim guru juga diperkuat 
oleh pemain bertahan Ustad Abu Razi, dedengkot mabikori, 
badan tertinggi pramuka di PM. Badannya bongsor, 
bercambang, gempal, kira-kira seperti Hulk, tapi edisi warna 
hitam. Dengan tongkrongan raksasa ini, penyerang mana pun 
akan jeri untuk menusuk pertahanan lawan. 

Nah, yang paling dapat sambutan meriah adalah ketika 
Amir Tsani berteriak, “Dan sebagai striker utama tim guru, 
fahuwa alkiram Kiai Rais…!” Suara Amir hilang tertelan tepuk 
dan sorak-sorai seisi lapangan. 

Kiai Rais masuk ke lapangan dengan takzim dan melambai 
sekilas ke arah penonton. Yang paling membuat aku 
terperanjat adalah penampilannya. Surban berganti topi 
baseball, sarung berganti celana training panjang berwarna 
hitam, jubah berganti kaos sepakbola bernomor sepuluh, 
bertuliskan Maradona, pahlawan Argentina di Piala Dunia 
1986. Yang masih sama adalah jenggotnya yang panjang 
terayun-ayun setiap dia menyepak bola. Konon, ketika dia 
masih menjadi murid seperti kami, Kiai Rais adalah striker 
andalan PM, dan sering merobek gawang lawan dengan 
tendangan kanonnya yang melengkung-lengkung. 

Pertandingan berjalan seru. Awalnya tim kelas 6 tampak 
masih malu-malu berhadapan dengan guru mereka, apalagi 
dengan Kiai Rais. Di paruh pertama, Kiai Rais memperlihatkan 
kemampuannya mengolah bola lengkung dan beberapa kali 
mengancam pertahanan lawan. Barulah menjelang turun 
minum Kiai Rais dengan lincah mampu meliuk-liuk melewati 
bertahan lawan dan dengan gaya yang efisien, mencungkil 
bola ke atas kepala kiper yang terlanjut maju. 

…yarmi kurrah ila wasat, ilal yusra, wa gooool.’ Teriak Amir 
sang komentator heboh.

1-0 untuk para guru. Penonton bergemuruh. Said berteriak 
ke telinga Baso, “Tuh, ini namanya Maradona”. Baso sama 
sekali tidak merasa tersindir karena terpana dengan kehebatan 
idolanya. 

Masuk babak kedua, barulah umur yang berbicara. Kiai Rais 
digantikan guru yang lebih muda. Tim guru seperti kehabisan 
gas, lemas, dan mudah terbawa angin permainan kelas 6. 
Dengan fisik lebih muda, mereka merajalela dan menutup 
pertandingan dengan skor 3-1. Walau tim guru kalah, kami 
tetap senang karena berhasil melihat Kiai Rais junjungan kami 
membuat gol dengan indah. 

“Ayyuha ikhwan, Terima kasih atas kehadiran semua, dan 
sebuah pengumuman dari keamanan pusat agar semua otang 
segera ke masjid karena waktunya telah tiba,” tutup Amir dek 
ngan penuh otoritas, masih dengan bahasa Arab yang fasih, 
kefasihannya ini sempat membawa sengsara bulan lalu, ketika 
orang wali murid yang berkunjung protes karena mendengar 
ada ayat-ayat suci diteriakkan di lapangan dengan cara 
serampangan, di tengah pertandingan bola lagi. Untung ada 
Kak Burhan, sang pemandu tamu yang selalu punya jawaban, 
bahwa ini bukan mengaji, tapi komentator sepakbola. Wali 
murid ini dengan muka merah mengangguk-angguk malu.




Bersambung.... 

______________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...