Sabtu, 20 Maret 2021

LINTANG KEMUKUS DINI HARI BAB 01

Bagian Pertama 01




Dukuh Paruk masih diam meskipun beberapa jenis satwanya sudah terjaga oleh pertanda datangnya pagi. Kambing-kambing mulai gelisah dalam kandangnya. Kokok ayam jantan terdengar satu-satu, makin lama makin sering. Burung sikatan mencecet-cecet dari tempat persembunyiannya. Dia siap melesat bila 
terlihat serangga pertama melintas dalam sudut pandangnya. Dari sarangnya di pohon aren keluar seekor bajing karena tercium bau lawan jenisnya. Mereka berkejaran. Dahan-dahan bergoyangan. Tetes-tetes embun jatuh menimbulkan suara serempak. Seekor codot melintas di atas pohon pisang. Tepat di atas 
daun yang masih kuncup, binatang mengirap itu mendadak menghentikan kecepatannya. Tubuh yang ringan jatuh begitu saja ke dalam lubang kuncup daun pisang itu.

Jangkrik, gangsir, dan walang kerik sudah lama bungkam. Gangsir menyembunyikan diri dalam liang di tanah yang disumbat dari dalam. Walang kerik membaurkan diri dengan warna hijau dedaunan. Dia hanya bisa diketahui bila ada embusan angin. Pada saat itulah naluri memerintahkannya menggesekkan sayap 
sehingga terjadi suara yang khas.

Ada sebatang pohon jambu air di salah satu sudut Dukuh Paruk. Dalam kerimbunan daun-daunnya sedang dipagelarkan harmoni alam; beratus-ratus lebah madu dengan ketekunan yang menakjubkan sedang menghimpun serbuk sari. Sayap-sayapnya mendengungkan aneka nada halus dan datar, mengisi kelengangan pagi yang masih temaram. Tanah di bawah pohon jambu itu memutih oleh hamparan beribu-ribu tangkai sari. Bau wangi tanah, suara lembut sayap-sayap lebah madu dan pendar embun yang 
mulai menangkap cahaya dari timur.

Pucuk-pucuk nyiur dan rumpun bambu menerima kehangatan pertama pagi hari. Pancaran cahaya matahari adalah tenaga yang setiap kali membangunkan Dukuh Paruk dengan menyingkap kabut yang menyelimutinya. Dua puluh tiga rumah di pedukuhan kecil itu mulai hidup. Terdengar rengek anak-anak yang terjaga dan langsung merasa lapar. Seorang perempuan keluar menjemur kain yang basah kena ompol bayinya. Suaminya juga keluar halaman dengan tujuan berbeda. Laki-laki itu menjambret daun pisang kering untuk menggulung tembakau. Ada orang jongkok di balik semak. Tangannya mengibas mengusir agas yang merubung kepalanya. Dukuh Paruk sudah terjaga.

Hanya sebuah rumah yang masih sepi. Rumah itu mempunyai ukuran yang paling kecil di Dukuh Paruk. Penghuninya tunggal, seorang nenek yang sudah linglung. Meskipun sudah bangun, perempuan tua itu belum hendak beranjak dari tempat tidurnya, termangu-mangu dengan matanya yang kelabu. Dalam 
genggamannya ada beberapa keping uang logam. Dia tidak tahu siapakah yang telah menaruh uang itu di bawah bantalnya. Nenek Rasus itu memang linglung, sudah lama linglung.

Tidak seperti biasa, beberapa hari lamanya nenek Rasus tidak tinggal seorang diri di rumahnya. Pagi itu pun dia tidak seorang diri. Seorang perempuan muda yang paling berharga di Dukuh Paruk masih tergolek di atas balai-balai dalam bilik sebelah. Srintil masih menyambung mimpi setelah menempuh malam yang paling berkesan bersama Rasus.

Seberkas sinar matahari menembus dinding bambu, lurus seperti kristal maya jatuh di pipi Srintil. Lingkaran terang yang hanya seluas uang logam mampu menyingkap rona hidup di pipi ronggeng Dukuh Paruk itu. Rambutnya yang hitam, meskipun begitu kusut, memantulkan kilau yang lembut. Ketika rona 
terang itu akhirnya bergerak ke arah mata, Srintil berada dalam batas jaga. Irama napasnya mulai tak teratur, bulu matanya bergerak-gerak. Akhirnya terdengar desah panjang ketika Srintil menggeliat perlahan-lahan.

Peralihan dari alam tidur ke alam jaga berlangsung sementara kelopak mata Srintil belum terbuka. Bola mata bergulir-gulir di dalam pelupuknya. Kemudian tercipta sebuah lekuk yang bagus di kedua sudut bibir Srintil. Kesadaran telah merayapinya, kesadaran bahwa lintasan hidupnya sedang memasuki batas waktu di mana Srintil merasa dirinya larut dan menyatu dengan Rasus.

Karena Srintil tidur dalam posisi miring ke arah tepi balai-balai, maka ia tetap percaya masih ada seseorang di sampingnya. Tangan kanannya digerakkan ke arah belakang dengan keyakinan yang bulat bahwa jemarinya akan jatuh ke atas sebidang dada laki-laki. Tetapi yang kemudian terasa di ujung jarinya adalah dinginnya tikar pandan. Dicobanya meraba lebih jauh. Dan kosong.

Srintil cepat bangkit dan menoleh ke belakang Didapatinya dirinya tak berteman dalam bilik yang lengang itu. Mula-mula Srintil menduga, atau berharap, Rasus masih berada di sekitar rumah sedang berhajat di belakang misalnya, Namun perasaan buntu tiba-tiba menguasai dirinya setelah Srintil melihat tak ada satu
pun barang milik Rasus yang tertinggal.

Dalam bilik sebelah Srintil mendapati nenek Rasus duduk hampir tanpa gerak kecuali kembang-kempis dadanya yang tak kentara. Atau sepasang mata kelabu yang bergulir ketika melihat Srintil datang.

"Di mana Rasus, Nek?"

"Apa?"

"Rasus, cucumu! Di manakah dia sekarang?"

"Si Rasus di mana?"

"Iya."

"Rasus? Jadi Si Rasus sudah pulang?"

"Oh, Nenek pikun. Nenek linglung. Nenek tidak melihat ke manakah Rasus pergi?"

Sesaat lamanya perempuan itu kembali dalam sikap tanpa gerak. Kemudian menjulurkan tangan ke arah Srintil. Telapak tangan dibuka. Beberapa keping uang logam ada di sana. Srintil menatapnya tidak mengerti. Dan putus asa. Berbalik, menarik daun pintu dengan kasar, lalu keluar. Dicarinya tempat dari 
mana dia bisa memandang dengan sempurna ke arah pancuran. Rasus tidak kelihatan. Dilongoknya pekarangan kosong tempat orang-orang Dukuh Paruk biasa jongkok di balik semak. Hampa. Yang kelihatan oleh Srintil adalah sepasang burung sikatan yang sedang sibuk menyambar-nyambar lalat hijau.

Akhirnya Srintil menatap jauh ke seberang sawah yang sangat luas. Di sana Dawuan mulai memperlihatkan sosoknya. Kabut tipis yang menyelimuti Dawuan mengambang naik karena hangatnya sinar matahari. Dawuan dengan pasarnya. Dawuan dengan markas tentaranya di bawah pimpinan Sersan Slamet, kepada siapa Rasus pergi menggabungkan diri. Bagi Srintil, Dawuan kini berubah menjadi sosok yang angkuh.

"Oh, jadi begitu," pikir Srintil yang ingin menolak kenyataan bahwa Rasus telah meninggalkannya bahkan tanpa pamit. Dalam perkiraan ronggeng Dukuh Paruk itu semua laki-laki adalah dari jenis yang sama, yang bisa demikian gila hanya karena ingin hidup bersamanya barang satu-dua malam, tak peduli apa pun yang menjadi nilai tukarnya. Sulam, Lurah Pecikalan atau bahkan Bapak Siten Wedana adalah sebagian kecil deretan nama laki-laki yang runduk di bawah kibasan sampur Srintil. Dan ronggeng itu merasa heran 
mengapa ada seorang lelaki dari jenis lainnya. Dengan keakuan yang tegar laki-laki itu lari menghindar. Boleh jadi Srintil takkan bersedih hati bila laki-laki itu bukan Rasus.

Hingga beberapa saat lamanya Srintil tetap berdiri diam. Dibiarkannya nyamuk-nyamuk belirik yang beterbangan mengelilingi tubuhnya. Beberapa ekor hinggap menghisap darah di kaki Srintil. Seekor lainnya hinggap di belakang telinga dengan perut yang makin lama makin menggantung penuh darah. Rambut di atas dahinya basah oleh kabut pagi yang mengembun. Matanya mengambang.

Dua orang anak dengan tubuh telanjang menatap Srintil dengan heran. Mata kedua anak itu adalah mata sekalian orang Dukuh Paruk yang tidak pernah berharap melihat seorang ronggeng menangis. Ronggeng bagi dunia Dukuh Paruk adalah citra sekaligus lambang gairah dan sukacita. Keakuannya adalah tembang dan joget. Perhiasannya adalah senyum dan lirikan mata yang memancarkan semangat hidup alami, semangat yang sama yang telah menerbangkan burung-burung dan memekarkan bunga-bunga. Jadi, ronggeng adalah dunia sukaria dan gelak-tawa.

Kedua anak yang bertelanjang badan itu mengundurkan diri. Mereka membawa pertanyaan yang muskil: mengapa seorang ronggeng bisa menangis?

Tentu saja hanya Srintil sendiri yang bisa merasakan dirinya sedang ditarik ke luar dari keakuannya. Ada yang menelanjanginya, entah siapa dia, sehingga Srintil sedikit demi sedikit mengenal dirinya dari sisi lain. Bukan sebagai perempuan milik bersama sebuah tatapan melainkan seorang perempuan dalam arti yang paling bersahaja. Dia yang merasa tidak utuh tanpa kepastian seorang laki-laki berada dalam hidupnya; dalam hatinya dan dalam kamar tidurnya. Atau bila benar bahwa dunia yang besar ini berisi berjuta-juta dunia kecil dan dalam setiap dunia kecil itu berisi seorang laki-laki dan seorang perempuan. Srintil hanya merindukan yang kecil itu. Sebuah dunia kecil tanpa Rasus sungguh tak bisa dibayangkan oleh ronggeng Dukuh Paruk itu.

Dukuh Paruk tidak memerlukan waktu lama buat menyadari apa yang sedang terjadi atas diri Srintil. Hari berikutnya, pedukuhan kecil itu sudah hangat oleh celoteh orang-orang perempuan. Perhatian mereka tertuju kepada Srintil yang kini lebih suka diam merenung dan menyendiri. Semuanya tahu bahwa keadaan
Srintil tidak bisa dipisahkan dengan Rasus yang telah meninggalkan Dukuh Paruk dan bergabung kembali dengan kelompok tentara pimpinan Sersan Slamet.

"Eh, dengar! Pernahkah terjadi seorang ronggeng mabuk kepayang terhadap seorang lelaki?" kata seorang perempuan yang bersama dua temannya sedang mencari kutu di bawah pohon nangka.

"Sepanjang yang kudengar tak ada cerita demikian," jawab perempuan kedua. "Yang baku, seorang laki-laki tergila-gila kepada ronggeng karena ronggeng memang dibuat untuk menarik hati laki-laki. Dia tidak boleh terikat kepada seorang pun. Lha, bagaimana kalau dia sendiri dimabuk cinta demikian?"

"Ya, Srintil memang aneh. Nah, kalau sudah terjadi demikian maka Nyai Kartareja yang bersalah."

"Nyai Kartareja?"

"Iya. Kalau Nyai Kartareja berhati-hati dalam mendampingi Srintil, takkan terjadi begini. Dia mengabaikan kewajiban karena terlalu bernapsu. Srintil disuruhnya melayani sebanyak mungkin laki-laki tanpa menghiraukan adanya hari-hari pantangan, terutama pada hari kelahiran Srintil sendiri. Memang Nyai Kartareja ikut menjadi kaya. Nah, namun begini jadinya."

"Sebetulnya aku bisa mengerti mengapa Srintil senang terhadap Rasus. Pokoknya tak ada yang salah. Persoalannya bila Srintil terus murung dan menolak kembali naik pentas, Dukuh Paruk jadi sepi. Itu saja yang kusayangkan."

"Tetapi aku masih percaya kepada suami-istri Kartareja. Kalau mereka bisa memasang guna-guna sehingga banyak laki-laki gandrung terhadap Srintil, mengapa mereka tidak mampu memutus tali asmara antara 
ronggeng itu dengan Rasus?" 

Ucapan yang terakhir ini memang tidak berlebihan. Kalau ada orang yang paling khawatir tentang keadaan Srintil, tentulah dia Nyai Kartareja bersama suaminya. Mereka sungguh tidak rela anak asuhannya jatuh hati kepada Rasus atau kepada laki-laki lain mana pun. Lebih-lebih lagi bila Srintil sampai berpikir tentang sebuah rumah tangga yang hendak dibangunnya. Martabat mereka sebagai dukun ronggeng berada dalam taruhan, dan, sumber penghasilan mereka yang subur terancam bahaya.

Maka Nyai Kartareja harus berbuat sesuatu. Tali asmara yang mengikat Srintil kepada Rasus harus diputuskan. Mula-mula Nyai Kartareja mencari sebutir telur wukan. Telur ayam yang tertinggal dalam petarangan karena tidak bisa menetas itu diam-diam ditanamnya di salah satu sudut kamar tidur Srintil. Mantera pemutus asmara dibacakan.

Niyatingsun matak aji pamurung
Hadi aing tampean aing cikaruntung nantung
Ditarbuan boeh sana, manci rasa marang
Srintil marang Rasus 
Kene wurung kana wurung, pes mimpes dening 
Eyang Secamenggala 
Pentil alum cucuk layu, angen sira bungker
Si Srintil Si Rasus
Ker bungker, ker bungker kersane Eyang Secamanggala
Ker bungker, ker bungker kersane Sing Murbeng
Dumadi

Adalah matera; susunan kata-kata yang menyalurkan sugesti dan kekuatan alam melalui jalur nonfisika dan bebas dari hukum-hukum tentang energi maupun mekanika yang biasa. Kekuatan itu tak terelakkan kecuali oleh kekuatan lain yang segaris namun berlawanan arah. Dan, mantera yang dipasang oleh Nyai 
Kertareja secara tak sengaja telah mendapat tandingannya. Yaitu ketika suatu malam Srintil ingin kencing. Karena malas keluar kamar Srintil memilih salah satu sudut kamar tidurnya sebagai tempat melepas hajat. Di sana ada bagian lantai yang gembur bekas cungkilan baru. Adalah layak bila Srintil menganggap bagian tanah tersebut bisa dikencingi karena cepat meresap air, tak peduli di tempat itulah 
Nyai Kartareja menanam telur wukan yang telah dimanterainya. Tanpa disadarinya Srintil melumpuhkan mantera yang ditujukan kepadanya.

Sudah dua kali Srintil menolak naik pentas. Perbuatan yang sangat mengecewakan suami-istri Kartareja dan terutama orang yang mengundangnya, oleh Srintil hanya diberi dalih enteng: malas!

Tetapi Srintil tidak malas melakukan perbuatan yang lucu di mata orang-orang Dukuh Paruk; 
bercengkerama dengan anak-anak gembala yang kebanyakan masih bertelanjang badan. Tanpa canggung Srintil ikut berlari-lari menghalau kambing. Atau duduk di bawah pohon dan membantu anak-anak gembala membuat layang-layang dari daun gadung. Srintil bisa menyatu dengan kegembiraan anak-anak yang menjadi lebih ceria karena mendapat teman bermain istimewa. Mula-mula anak-anak gembala itu merasa rikuh namun akhirnya mereka cepat akrab.

"Dulu saya juga seperti kalian, senang bermain-main di tegalan sambil menggembala kambing," kata Srintil. Tangannya sibuk membuat mainan baling-balik dari daun kelapa.

"Kakak juga pintar menangkap capung dengan getah nangka?" tanya seorang anak.

"Ah, itu gampang. Kalau mau dengan getah nangka malah bisa menangkap burung kedasih," jawab Srintil dengan gaya seorang ibu yang bijak.

"Pernah seperti ini?" kata seorang anak lainnya yang membawa tahi sapi kering yang membara sebagian. Di atas bara itu ada seekor jangkrik yang sedang dibakar. Srintil tersenyum.

"Oh, tentu saja. Aduh, gurih nian jangkrik bakar itu, bukan?"

"Kakak mau? Silakan ambil."

"Boleh?"

"Ambillah!"

Anak-anak memperhatikan dengan minat yang penuh ketika Srintil mengunyah jangkrik yang dibakar dalam bara tahi sapi kering itu. Semacam lambang keakraban, dan anak-anak gembala itu bersorak-sorai. Seorang yang paling besar di antara mereka maju mendekati Srintil. Di tangannya ada bambu seruas.

"Benar juga, Kakak rupanya dulu suka bermain-main seperti kami. Tetapi apakah Kakak bisa menebak isi tabung ini?"

"Gangsir," jawab Srintil setelah mencoba berpikir.

"Bukan."

"Buah salam."

"Bukan."

"Kepik hijau."

"Bukan."

"Nah, aku menyerah."

"Betul?"

"Ya."

Anak gembala itu membalikkan tabung hingga isinya jatuh ke tanah. Srintil menjerit dan melompat, tepat seperti gadis kecil yang ketakutan. Seekor ular angon merayap bebas setelah sekian lama terkurung dalam tabung bambu. Sekali lagi terdengar sorak-sorai anak-anak gembala. Srintil mengejar si Nakal, mencubit pahanya. Anak itu meringis, namun kelihatannya dia tidak menyesal bila Srintil terus mencubitnya.

Suatu ketika Srintil merasa benar-benar ingin menyendiri. Jenuh mendekam dalam kamarnya ronggeng itu keluar menuju tepian dukuh. Di sana, di bawah pohon nangka Srintil dahulu menghabiskan sebagian besar waktu bermainnya. Dipungutnya selembar daun yang jatuh lalu diremasnya. Aneh, Srintil merasa ada sesuatu yang terlampiaskan ketika daun yang tak bersalah itu remuk dalam genggamannya.

Tidak jauh dari tempat itu dua ekor anak kambing melompat-lompat dalam gerakan yang amat lucu. Kemudian mereka berlomba mencari selangkangan induknya buat menetek. Ulah kedua kambing itu kelihatan kasar. Tetapi induk mereka membiarkan tetek yang menggembung penuh daya hidup itu diperah
dan disodok-sodok. Srintil memperhatikan perilaku induk dan anak itu tanpa kedipan mata. Srintil tersenyum. Kali ini senyumnya disertai oleh kontraksi kelenjar teteknya sendiri serta rangsangan aneh pada urat-urat sekitar rahim. Tiba-tiba hasrat hendak memeluk seorang bayi mendesaknya demikian kuat. 
Hampir pada saat yang sama rasa cemas karena mungkin Nyai Kartareja dengan caranya sendiri telah mematikan indung telur dalam perut Srintil membuat ronggeng itu sesak napas. Perang yang seru terjadi dalam dadanya yang ditandai dengan sepasang garis basah yang turun dari mata ke pipi Srintil. Ada sebuah pertanyaan yang buat kali pertama muncul di hatinya; mengapa diriku seorang ronggeng? Pertanyaan itu datang dari perkiraan Srintil; kalau dia bukan seorang ronggeng Rasus takkan meninggalkannya dengan cara begitu saja.

Khayalan Srintil terkacau oleh deru sepeda motor yang memasuki Dukuh Paruk. Di kecamatan Dawuan dan sekitarnya hanya ada dua kendaraan seperti itu. Yang satu milik siten wedana, lainnya milik Marsusi, seorang kepala perkebunan karet Wanakeling. Siapa pun di antara keduanya yang bersusah payah datang ke Dukuh Paruk, rasanya hanya untuk satu tujuan. Srintil tertegun sejenak lalu bangkit dan berjalan mengendap-endap menjauhi rumahnya. Pelarian kecil itu berakhir di puncak bukit pekuburan Dukuh Paruk yang menerimanya dalam kesunyian.

Ada celeret melayang dari satu pohon ke pohon tanpa suara. Ada kucica betina sibuk membawa kapuk bunga gelagah untuk bantalan sarangnya. Di dekat sebuah batu nisan seekor tabuan sedang menarik-narik 
ulat besar yang sudah dilumpuhkannya. Dan Srintil terkejut ketika terdengar suara tokek dari bubungan cungkup makam Ki Secamenggala.

Kelengangan pekuburan Dukuh Paruk menjadi ibu bagi seorang anak yang ingin memahami apa yang sedang melintas dalam hidupnya. Srintil mengadukan kebuntuan rasanya kepada berjenis-jenis anggrek liar yang menempel pada tubuh batang beringin besar, kepada relung-relung pakis yang berjumbai-jumbai di lereng curam atau kepada terotok kayu mati yang dipatuk burung pelatuk. Santunan mereka yang demikian ramah membuat Srintil merasa betah tinggal di tempat yang tersembunyi itu hingga matahari terbenam nanti atau bisa lebih lama lagi. Dalam kelengangan di pekuburan itu alam mengajaknya bicara banyak-banyak melalui bau tanah dan wanginya bunga kemboja. Melalui denging agas yang mengitari 
kepalanya atau melalui kelembutan lumut yang menutupi batu-batu lembab. Srintil larut dalam haribaan ibunya, merasa dimengerti dan dimanjakan. Khayalannya bebas mengawang dan akan terus melayang-layang apabila tidak datang seseorang yang mengusiknya.

"Srin, pulang. Ada tamu."

Srintil terkejut sebelum kesadarannya pulih. Tanpa menoleh ke arah sumber suara dia tahu siapa yang datang.

"Pulang, Srin. Kau ditunggu," ulang Nyai Kartareja dengan suara tanpa tekanan memerintah. "Kau harus tahu siapa tamumu kali ini; Pak Marsusi, kepala perkebunan karet itu." Srintil mengerdip tanda mengerti.

"Nah, ayo pulang."

"Aku belum ingin pulang," jawab Srintil tanpa emosi.

"Eh, jangan begitu, Wong Ayu," kata Nyai Kartareja sambil mengatur dirinya duduk di samping Srintil. 

"Kamu tak boleh menyepelekan tamu. Apalagi tamu kali ini bukan sembarang orang."

"Ya, tetapi aku tidak ingin pulang."

"Kalau aku menjadi kamu, Srin, aku takkan menyia-nyiakan kesempatan ini. Menggonceng motor ubluk bersama Pak Marsusi ke kota. Pelesir ke mana-mana, nonton bioskop misalnya. Kau belum pernah melihat tontonan itu, bukan? Kepada Pak Marsusi kau bisa minta dibelikan barang-barang. Nah, bagaimana kalau kau minta kalung seperti yang dipakai istri lurah Pecikalan?"

"Sudahlah, Nyai. Pulanglah dulu. Aku akan menyusul kemudian. Aku mau mandi dulu."

"Bagus. Wong Ayu. Tetapi betul, ya. Kamu kami tunggu." Srintil mengangguk ringan.

Diperhatikan induk semangnya yang sedang berjalan menuruni bukit pekuburan Dukuh Paruk. Tak lama kemudian Srintil pun ikut turun. Bukan mengikuti jalan Nyai Kartareja, melainkan jalan lain yang tidak menuju pancuran atau menuju rumahnya. Srintil melangkah cepat ke arah jalan yang membawanya keluar dari Dukuh Paruk. Langkahnya cepat dan panjang-panjang. Kepada orang-orang yang kebetulan 
berpapasan Srintil hanya tersenyum atau mengangguk ringan. Sampai di pematang yang menuju Dawuan, Srintil mempercepat jalannya. Matahari yang sudah melewati titik kulminasinya menyiram ronggeng itu dengan pancaran terik yang menyakitkan kepala. Srintil terus berjalan, terkadang sambil mengangkat 
tangan kirinya untuk mengurangi terik matahari ke arah wajahnya.



                                   *****


Bersambung... 

______________________________________________


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...