Kiram diam, menunduk dan kecut.
“Terus terang lagi, aku sudah jenuh. Aku sudah lelah karena sudah hampir sepuluh tahun aku hidup selalu diburu seperti ini, bahkan sebenarnya boleh dibilang kita sudah kehilangan harapan. Maka tolonglah dimengerti bila aku mulai berpikir tentang hidup normal, hidup biasa di desa, menjadi petani atau pedagang. Istriku dan anak yang sedang dikandungnya tentu lebih menyukai hidup yang wajar, hidup yang biasa saja.”
“Istri dan anak memang sering membuat hati lelaki lemah,”
Potong Kiram. Terasa ada nada sindiran dalam kata-katanya, tetapi aku tak peduli karena aku sedang sibuk dengan istriku, yang bayangannya tiba-tiba hadir. Istriku memang sedang hamil enam bulan. Kini ia kusembunyikan dalam keluarga seorang kerabat di Dayeuh Luhur, jauh dari tempat aku berada. Kasihan dia. Sejak menjadi istriku dua tahun lalu, belum sekali pun ia mengalami suasana tenang. Ia hampir selalu ikut pon-
tang-panting lari dan lari, pindah dan pindah. Bahkan dalam kenyataannya kini, istriku menempati sebuah gubuk mirip kandang kambing yang terpuruk di belakang rumah kerabatnya, di lereng jurang.
“Kiram, kamu akan membocorkan omonganku ini?”
Kulihat Kiram menarik napas dalam-dalam.
“Begini, Mid. Aku bukan tidak memahami hal-hal yang kamu katakan tadi. Tetapi masalahnya tidak gampang. Bahkan seandainya kamu menyerahkan diri dengan cara baik-baik pun, masalahnya tetap tidak gampang. Kamu lupa cerita tentang teman-teman yang tertangkap? Mereka dibunuh. Bahkan yang menyerahkan diri pun tidak lebih baik nasibnya. Aku akan bersikap lain andaikan ada jaminan bahwa kita dapat meletakkan senjata dan boleh turun gunung tanpa kesulitan apa pun. Nah, belum pernah kamu dengar ada jaminan seperti itu, bukan?”
Kiram tak melanjutkan kata-katanya. Tetapi bagiku cukup-lah aku sudah tahu apa yang ada dalam hati temanku itu. Dan benar dugaanku, Kiram pun tetap seorang manusia yang kenal
rasa bosan dan rasa jenuh.
Lamunanku terputus karena aku dan Kiram sudah sampai di tujuan: sebuah pos rahasia kelompok kami. Pos itu berada dalam gua batu kapur yang tersembunyi pada sebuah lereng
terjal. Sesungguhnya gua itu terletak tidak jauh dari lintasan jalan tikus yang biasa dilalui oleh para pencuri kayu, namun tidak mudah tampak karena terlindung di balik akar-akaran yang menggantung serta segerumbul gelagah. Dari gua itu ada jalan setapak turun ke jurang, tersembunyi oleh semak. Pada dasar jurang ada sumur sederhana, tetapi jernih airnya.
Tanpa istirahat lebih dulu, Kiram menyiapkan api untuk merebus air dan menanak nasi. Karena merasa sangat letih, aku ingin merebahkan diri pada satu-satunya balai-balai bambu yang ada di dalam pos itu. Sekelilingku remang, maka aku tidak bisa melihat dengan jelas: ternyata Jun sudah tergeletak di sana. Pahanya diperban. Aku tak tahu siapa yang merawatnya. Mungkin Jun mengobati lukanya sendiri. Akhirnya aku merebahkan diri di lantai gua, beralaskan dedaunan. Aku sungguh letih. Anehnya, mataku tetap terbuka. Bahkan lamunanku melayang, mula-mula pada kematian Kang Suyud, kematian orang-orang Cigobang, lalu melompat jauh ke belakang, ketika aku masih remaja dan hidup biasa bersama orangtua.
Maret 1946. Ketika itu usiaku 18 atau 19, sudah empat tahun tamat Vervolk School. Bersama beberapa teman, satu di antaranya Kiram, saat itu aku sedang menjadi murid Kiai
Ngumar, belajar silat. Suatu malam Kiai Ngumar memanggil aku dan Kiram. Hatiku berdebar karena mengira kiai itu akan
memberi kami rahasia-rahasia ilmu silat.
“Duduklah. Aku punya cerita penting dan kukira kamu berdua sangat perlu mendengarnya. Kalian tahu kemarin ada rapat besar di alun-alun Purwokerto?”
Aku dan Kiram berpandangan.
“Tidak, Kiai,” jawabku jujur.
“Sungguh sebuah rapat yang besar dan sangat penting. Banyak sekali ulama dan kiai hadir. Tetapi bukan itu yang perlu kalian ketahui, melainkan adanya fatwa yang hebat.”
“Fatwa?”
“Ya. Dalam rapat itu Hadratus Syekh dari Jawa Timur mengeluarkan fatwanya. Beliau bilang, berperang melawan tentara Belanda untuk mempertahankan negeri sendiri yang baru
merdeka, wajib hukumnya bagi semua orang Islam. Dan siapa yang mati dalam peperangan melawan tentara Belanda yang kafir, dialah syahid.”
Aku kembali berpandang-pandangan dengan Kiram. Ya, kukira aku sudah mendengar bahwa di Surabaya terjadi perang besar. Sebelumnya kudengar bahwa Indonesia sudah merdeka
dan Bung Karno jadi presiden. Tetapi terus terang aku tak sepenuhnya paham karena di desaku belum terjadi perubahan yang nyata, kecuali waktu itu kulihat orang-orang Jepang
tiba-tiba pergi dari kota kecamatan kami. Hal itu pun aku tak melihatnya sendiri.
Bahkan tentang perang pun aku sangat sulit membayangkannya. Aku hanya bisa meraba-raba, perang adalah perkelahian yang melibatkan orang banyak dan menggunakan berbagai senjata. Nah, bila perang memang seperti berkelahi, aku merasa siap karena kami sudah belajar silat. Anehnya, aku merasa ngeri ketika membayangkan bedil yang dulu pernah
kulihat disandang para tentara Jepang.
“Jadi, begini,” lanjut Kiai Ngumar membuyarkan angan anganku. “Karena sudah difatwakan wajib, aku minta kamu yang masih muda-muda sebaiknya bersiap.”
“Siap berperang, Kiai?”
“Ya.”
“Apa perang akan sampai ke desa kita?”
“Hampir bisa dipastikan, ya. Bagaimana?”
Kiram menyodok igaku dengan sikunya.
“Kiai, tetapi soal perang urusan tentara, bukan?”
“Benar. Tetapi soal melawan tentara Belanda bisa dilakukan oleh siapa saja. Dan fatwa yang diucapkan Hadratus Syekh jelas berlaku untuk semua orang yang sehat, bukan khusus untuk para tentara. Nah, bagaimana?”
“Ya, Kiai. Kami sami’na waatha’na, asal Kiai memberi kami restu.”
“Ah, jangan khawatir. Aku sudah tua, maka justru aku hanya bisa memberi kalian doa dan restu.”
Sejak Kiai Ngumar meminta kami bersiap melaksanakan fatwa jihad, tak terjadi perkembangan apa-apa hingga tiga bu-
lan sesudahnya. Aku dan Kiram mulai berpikir bahwa Kiai Ngumar hanya main-main. Namun pada suatu hari Kiai Ngumar kembali memanggil aku dan Kiram, bahkan langsung menyuruh kami untuk segera bersiap dan berangkat karena ada panggilan mendadak dari Purwokerto. Tanpa bekal yang berarti, aku dan Kiram berangkat, berjalan menempuh jarak 30 kilometer ke Purwokerto. Dalam perjalanan kami bertemu beberapa teman sebaya dengan tujuan sama. Kami berjalan seperti petani pergi ke sawah: satu-satu dan sama sekali tidak teratur.
Sampai di Purwokerto kami dihimpun di sebuah gedung madrasah milik Al Irsyad. Kulihat kira-kira ada dua ratus pemuda berkumpul di sana. Kami beristirahat sejenak dan ketika magrib aku mendengar berita bahwa besok pagi kami akan mulai mendapat latihan ketentaraan. Namun selepas isya berita itu berubah cepat: kami harus segera berangkat untuk membantu pasukan Brotosewoyo yang sedang berusaha merintangi laju tentara Belanda di daerah Bumiayu. Dalam suasana kacau, kami siap berangkat ke Bumiayu yang berjarak 43 kilometer dari Purwokerto. Anehnya, kami bisa tertawa-tawa sepanjang jalan, apalagi karena dalam rombongan kami ada pembawa
perbekalan makanan dan minuman. Mungkin hanya Kiram yang murung.
“Mid, kita mau perang, bukan?”
“Ya. Mencegat iring-iringan tentara Belanda yang hendak masuk ke Purwokerto dari arah Tegal.”
“Jadi betul kita mau perang?”
“Kok kamu tanya begitu?”
“Perang pakai apa? Kita hanya membawa tangan kosong dan kain sarung?”
Aku tak bisa menjawab pertanyaan Kiram karena aku pun punya pertanyaan yang sama. Perang kok seperti main-main; tak seorang pun membawa senjata, misalnya pedang, apalagi
bedil. Anehnya, semua orang terus berjalan sambil tertawa-tawa.
Jam delapan pagi kami sampai ke tujuan, suatu wilayah perbukitan di sebelah utara kota kecil Bumiayu. Kulihat ratusan tentara bersiaga di atas bukit di kiri-kanan jalan. Ada juga yang berjaga-jaga di dekat jembatan di lembah. Wilayah pertahanan merentang dua atau tiga ratus meter sepanjang tepi jalan. Dan tidak seperti semua anak muda yang baru datang,
para tentara tampak benar-benar siap berperang dan semuanya menyandang senjata.
“Mid, kita mau nonton perang.”
“Nonton?”
“Lho, mau apa kalau bukan nonton?”
“Tadi malam kamu tidak dengar apa-apa?”
“Apa?”
“Di sini kita hanya mem-ban-tu. Dengar?”
“Sama dengan nonton, bukan?"
Kiram tersenyum kecut. Ia kelihatan tak begitu bersemangat. Ia bahkan kelihatan kecewa. Kukira Kiram masih akan terus menyindir-nyindir, tetapi tiba-tiba ada suara keras terde-
ngar dari belakang kami.
“Hei, kamu berdua! Cari kapak dan tebang pohon trembesi di sana.” Seseorang berseragam dril dan menyandang pistol
memberi perintah kepada kami. Tentara itu memakai peci hitam yang dipasang agak miring. Aku dan Kiram kebingungan.
“Kalian dengar? Cari kapak! Itu di sana ada kampung. Pinjam kapak di sana dan tebang pohon trembesi itu. Rintangan dekat jembatan masih terlalu tipis. Hayo! Hayo!”
Baru sekali itu aku mendapat perintah dengan cara demikian keras. Cara tentara? Entahlah. Pokoknya aku dan Kiram jadi limbung, lalu lari ke kampung yang ditunjuk agak jauh di lembah. Kapak yang kami cari sangat mudah kami dapat, barangkali karena aku dan Kiram mengatasnamakan tentara.
“Mid, dalam perang juga ada acara menebang pohon? Bila hanya mengayun kapak seperti ini, di rumah sendiri pun aku biasa melakukannya.”
“Kamu jangan berisik.”
“Mid, aku ingin menyandang senjata seperti mereka.”
“Jangan berisik. Mungkin kamu akan mereka beri senjata bila kamu sudah bisa menggunakannya.”
“Mid, kapan kita mendapat latihan?”
“Kubilang: jangan berisik!”
Kiram tampak kesal, tetapi ia terus menemani aku bekerja. Setelah roboh, batang trembesi besar itu kami jadikan rintangan jalan. Tentara yang tadi memberi perintah datang lagi, dan
syukurlah, ia kelihatan puas. Berdua dengan Kiram, aku minta izin untuk beristirahat dan mencari minum. Di mataku, para tentara itu semua tampak gagah, meskipun pakaian mereka bermacam-macam. Ada yang pakai topi baja. Ada yang pakai topi kain seperti kopiah. Ada juga yang mengenakan seragam
mirip prajurit Jepang. Mata Kiram hampir tak pernah lepas dari senjata yang disandang setiap tentara yang lewat di dekatnya.
Makin siang terasa ketegangan makin memuncak. Beredar kabar dari kalangan kami bahwa jumlah pasukan Belanda yang
diperkirakan lewat sangat besar. Perang pasti seru. Aku sendiri sulit membayangkan sesuatu. Seru, ramai, atau dahsyat, entahlah. Aku belum pernah menyaksikan sebuah peperangan.
Malah aku juga belum pernah melihat mobil lapis baja. Oh ya, aku pernah melihat bekas pemboman. Dulu, di tahun 1942, kota kecil Wangon dibom Jepang dari udara. Sebuah rumah kena, tetapi akibatnya tidak begitu mengerikan. Namun siang ini aku terbawa arus ketegangan yang kian mencekam. Orang-orang tak putus-putusnya memandang ke sebuah bukit kecil agak jauh di utara. Di sana ada dua pengintai yang menancapkan bendera kuning. Bila bendera berganti merah, itulah aba-aba siaga, tanda iring-iringan tentara lawan sudah masuk.
Semua orang terlihat kesal karena sampai saat matahari tergelincir bendera di atas bukit itu masih tetap kuning. Banyak anggota pasukan uring-uringan dan mulai mengendorkan kesiagaan. Ada yang mengumpat dengan kata-kata kotor. Menjelang sore kudengar berita, tentara lawan telah mengubah lintasan perjalanan mereka. Menurut berita yang begitu cepat beredar itu, tentara Belanda mengambil jalan memutar. Dari Slawi mereka bergerak ke timur dan akan masuk Purwokerto melalui Purbalingga setelah menempuh perjalanan mengitari Gunung Slamet.
Suara orang mengumpat makin sering kudengar. Semua orang melepaskan kesiagaan. Komandan pasukan berteriak-teriak meminta anak buahnya berkumpul. Dua buah truk datang dan tentara naik. Tetapi lebih dari separonya tak bisa terbawa. Kudengar mereka harus cepat berbalik dan masuk kembali ke Purwokerto untuk mempertahankan kota yang
akan mendapat serangan dari arah timur. Kami, para pemuda yang diperbantukan, bergerak hilir mudik karena kehilangan acara. Lesu, merasa tak berguna, dan lapar bukan main. Untung ada orang bicara, entah siapa, bahwa kami boleh pulang. Tetapi, kata orang itu, kami harus selalu siap memberi bantuan apa saja kepada tentara Republik bila mereka beroperasi di desa kami masing-masing. Bubar. Kiram memungut sebongkah batu cadas dan membantingnya dengan keras. Pecah.
“Mid, kita tidak jadi perang?” tanya Kiram sambil bersungut. Ia kelihatan sangat lesu dan kecewa. Aku merasa tak perlu menjawab pertanyaan Kiram. Mungkin karena aku sangat lelah. Demikian lelah sehingga malam itu aku tertidur nyenyak di sebuah masjid, meskipun sebenarnya perutku terasa lapar. Pagi-pagi aku dan Kiram pulang, naik andong sambung-
menyambung, dan sampai di rumah menjelang senja.
Tak kusangka, perintah untuk siap membantu tentara di desa masing-masing ada kelanjutannya. Setengah bulan kemudian aku dan Kiram menerima surat dari seseorang. Kami diminta datang ke desa seberang bukit. Kami berangkat. Kiram tampak kurang bersemangat. Mungkin ia khawatir akan dikecewakan lagi seperti pengalaman kami di Bumiayu waktu itu. Di seberang bukit kami bertemu dengan empat tentara. Lagi, kami diminta membantu mereka, kali ini pun untuk mencegat tentara Belanda. Pencegatan kali ini, kata mereka, harus berhasil dan yang mereka harapkan terjadi adalah pertempuran kecil dan singkat. Kami mendapat penjelasan mengenai taktik mereka. Sebuah kota kecamatan di arah timur akan diserbu oleh sejumlah gerilya. Namun serbuan ini sekadar siasat untuk
memancing pasukan bantuan yang diperhitungkan akan datang dari kota lain di arah barat. Pasukan bantuan inilah yang
akan kami cegat.
Kiram tampak lesu ketika mengetahui tugasnya dan tugasku juga, yaitu minta ransum kepada para penduduk dan ikut mengangkat beberapa peralatan tentara. “Pokoknya, dalam keadaan gawat kami selalu kurang tenaga,” kata salah seorang dari mereka. Anehnya, kelesuan Kiram terlihat sirna bila matanya memandang senjata yang disandang keempat tentara itu.
Pagi sekali kami bergerak meninggalkan desa di seberang bukit, menuju jalan besar di sebelah selatan. Keempat tentara bersembunyi di balik rumpun pandan yang tumbuh di
sepanjang tepi jalan. Komandan mereka sering melihat jam tangannya. Ketegangan mulai terasa. Aku merasa ingin kencing. Kira-kira jam sepuluh, mulai terdengar suara tembakan
dari arah timur. Menurut perhitungan, dalam waktu lima belas sampai dua puluh menit, akan datang pasukan bantuan Belanda dari arah barat. Kulihat keempat tentara itu makin siaga.
Mereka memantapkan posisi masing-masing. Yang di tengah mengarahkan senjatanya yang agak berat, aku tak tahu apa namanya.
Kiram berbisik dari samping, “Mid, kamu percaya sekali ini akan benar-benar terjadi perang?”
Aku melenguh. “Jangan berisik.”
Lalu terdengar deru kendaraan dari arah barat. Aku benar-benar takut. Kiram menekan punggungku agar aku lebih rendah bertiarap, namun tindakannya malah membuatku makin takut. Mataku berkunang-kunang. Terasa ada air hangat mengucur di selangkanganku. Samar, karena mataku makin berkunang-kunang, dari balik semak-semak aku melihat dua truk mendekat. Dengan muatan orang-orang berseragam loreng, kedua kendaraan itu terlihat sangat berwibawa. Aku juga masih bisa melihat tentara Republik di depan sana bangkit dari tempat persembunyiannya lalu melemparkan sesuatu ke arah truk yang kedua. Ledakan yang sangat kuat menggema. Baru
sekali itu aku mendengar ledakan yang demikian keras. Asap membubung. Kukira aku kehilangan sebagian besar kesadaranku untuk menyaksikan apa yang kemudian terjadi. Tetapi setidaknya aku mendengar truk pertama kabur. Kemudian kulihat truk kedua berusaha menyusul, tetapi terhuyung dan membentur pohon johar di tepi jalan.
Apabila benar kemudian terjadi perang singkat, sebenarnya aku tak bisa menjadi saksi yang baik. Semuanya terjadi dalam ruang yang penuh kunang-kunang serta kesadaran yang kurang penuh. Ah, tapi aku melihat Kiram melompat di atas tubuhku, melesat ke tengah jalan. Ya Tuhan. Kiram menyambar sebuah
bedil yang tergeletak di sisi mayat pemiliknya, seorang serdadu Belanda. Kemudian semuanya baur kembali. Aku hanya mendengar perintah lari. Lari!
Sudah menjadi kesepakatan sebelumnya bahwa kami akan lari ke arah utara. Namun gerakan itu merupakan tipuan untuk mengecoh para pengejar. Setelah mencapai jarak aman kami memutar kembali ke selatan, bahkan menyeberang jalan raya agak ke barat, lalu lari ke arah yang berlawanan dengan perkiraan orang.
Aku, Kiram, dan keempat tentara itu beristirahat di belakang rumah Kiai Ngumar. Kiai memotong ayam. Dari pencegatan hari itu tentara mendapat tambahan tiga senjata, satu
di antaranya masih berada di tangan Kiram. Juga beberapa granat. Seorang tentara meminta Kiram menyerahkan senjata rampasan yang dipegangnya. Tentara bilang, Kiram hanya seorang pemuda yang diperbantukan, jadi Kiram tidak dibenarkan
memegang senjata. Aku terkejut ketika melihat Kiram bersikukuh hendak memiliki senjata itu. Kukira ketegangan akan segera terjadi apabila Kiai Ngumar tidak turun tangan.
Bersambung...
______________________________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar