Senin, 22 Maret 2021

LINTANG KEMUKUS DINI HARI BAB 05

Bagian ketiga 01



Ketika laut surut di Segara Anakan. Sebuah perahu motor dengan mesin disel tua merayap terbata-bata menempuh jalur Cilacap-Kalipucang. Pada saat laut seperti itu Segara Anakan mirip sungai di tengah endapan lumpur yang luas. Terbentuk delta-delta yang ditutup rapat oleh pohon bakau. Para penumpang 
dalam perahu motor itu dapat melihat kerajaan burung yang masih tersisa. Di atas amparan lumpur itu terlihat berbagai jenis burung pemakan ikan. Trinil yang tak pernah berhenti membuat gerakan cabul berjalan kian kemari dengan kegesitan yang mengagumkan. Bila perahu motor mendekat, mereka terbang dalam lintasan patah-patah, suaranya hiruk-pikuk. Ada bluwak berkejaran setengah terbang dan setengah berlari di atas lumpur. Sementara kuntul membentuk kelompok: makhluk-makhluk putih, terkadang mereka menyebar kemudian berkumpul lagi dalam gerakan-gerakan lamban. Ada seekor binatang tamu yang besar, berdiri dengan kaki hampir sepenuhnya tenggelam dalam lumpur. Langkahnya amat lamban, mirip langkah-langkah seorang kakek pikun. Dia adalah bangau tongtong. Dia kelihatan merana, tanpa 
teman sejenis.

Manakala hutan-hutan sudah rusak. Manakala sawah-sawah sudah berbau obat penyemprot hama, dan manakala sudah terlalu banyak pemuda menyandang senapan angin. Maka wilayah Segara Anakan serta daerah berawa-rawa di sekitarnya adalah tempat terakhir bagi berjenis-jenis burung untuk mempertahankan keberadaannya. Suaka. Burung dadali yang sudah sulit ditemukan di daerah pedalaman 
ternyata masih banyak di sana. Demikian juga burung-burung pemakan biji-bijian seperti tekukur, balam, dan perkutut. Dan yang menyolok adalah banyaknya burung alap-alap. Tentu saja karena mangsanya, burung-burung kecil seperti berondol, burung madu, atau kutilang seperti sengaja dikumpulkan dalam 
pulau-pulau kecil berambut hutan bakau itu.

Para penumpang yang menyarati kapal motor tua itu tampaknya tak terkesan oleh pesona dunia burung. Boleh jadi mereka terlalu angkuh dalam dunianya sendiri, dunia manusia. Atau hanya karena mereka tidak bisa duduk tenang. Kendaraan yang mereka tumpangi harus meliuk-liuk menuruti air yang dalam agar tidak kandas. Dalam hal ini pengemudi perahu motor itu, yang tak lebih dari seorang pemuda belasan tahun, layak mendapat pujian. Dia memahami betul seluk-beluk pekerjaannya. Dan keahliannya terbukti bila perahunya harus berpapasan dengan perahu lain dalam alur sempit dekat sebuah tikungan.

Pada sebilah tempat pemberhentian tiga orang turun, semuanya laki-laki. Melihat keadaannya dua di antara mereka tentulah tengkulak terasi, yakni hasil utama penduduk di wilayah itu. Yang seorang lagi kelihatan belum terbiasa di sana. Dia berdiri agak ragu. Kemudian berjalan tertatih-tatih di atas titian bambu yang menghubungkan dermaga kapal motor dengan daratan. Di tengah titian dia berhenti dan 
terkejut melihat seekor biawak melintas di bawahnya. Binatang yang lari berkecipak itu meninggalkan alur berkelok-kelok pada lumpur hitam yang berbau terasi.

Di tepi daratan ada warung yang menjual rokok, minuman, dan buah-buahan. Sebetulnya laki-laki itu merasa haus. Tetapi karena tidak terbiasa dengan minuman bersahaja, yakni air asam yang disajikan dalam gelas kotor, maka dia berusaha menahan hausnya. Masalahnya, bagaimana juga dia harus masuk ke warung itu. Dibelinya rokok dan pisang. Sambil makan pisang laki-laki itu mencapai tujuan utama berhenti di warung itu. Kepada pemilik warung dia menanyakan sebuah alamat.

Yang ditanyakan oleh Marsusi adalah alamat yang terlalu sering dicari orang pendatang. Pak Tarim. Banyak tetangga merasa heran mengapa begitu sering Pak Tarim menerima orang pendatang. Tarim, laki-laki tua berkepala Semar, demikian juga perutnya. Setiap hari berleha-leha menghadapi gelas besar dengan 
kue-kue jajan pasar. Penghidupan sehari-hari dipercayakan kepada istri serta anak-anaknya. Anak-anak juga cucunya sudah mempunyai keahlian menangkap udang, kepiting, atau binatang lainnya untuk campuran bahan terasi. Demikian jorok cara pengumpulan bahan terasi itu sehingga orang yang anti terasi sering menuduh bahwa bumbu masakan itu pasti tercampur bekicot dan belatung, bahkan bangkai kadal.

Memang di kampung laut itu nama Tarim sering dihubungkan dengan ngelmu. Tetapi hanya orang-orang tua tertentu yang mengetahui pasti ilmu apakah yang dikuasai orang tua itu. Anehnya justru orang luarlah 
yang mengetahui kekhususan Tarim. Seperti halnya Marsusi. Melalui jalur informasi yang panjang dan berliku-liku sampailah dia kepada Tarim. Menurut seorang teman Tarim-lah orangnya yang bisa membantu Marsusi dalam hal melaksanakan urusan khususnya.

Panas udara mulai reda ketika Marsusi diterima oleh Kakek Tarim. Tuan rumah menerima tamunya tanpa emosi meskipun sang tamu adalah orang yang baru pertama dilihatnya dan kelihatan berasal dari kalangan
priyayi. Ketika Marsusi memperkenalkan diri, Tarim bahkan sama sekali tidak memperhatikan wajahnya. Hanya kepala Semarnya yang mengangguk-angguk. Lalu mempersilakan Marsusi beristirahat di sebuah 
kamar yang tertutup.

"Silakan beristirahat dulu," kata Tarim sambil menunjuk kamar yang dimaksud. "Nanti malam sampean baru bisa berbicara. Selamanya aku tak pernah berembuk dengan siapa pun yang berada dalam keadaan lelah."

Marsusi agak terperangah karena dalam kamar yang tak berkursi dan berlantai tikar pandan itu ada seorang tamu lain. Laki-laki yang tengah telentang itu cepat-cepat bangkit begitu Marsusi masuk. Keduanya berpandangan sejenak lalu bertukar senyum dan mengangguk. Naluri masing-masing 
mengatakan bahwa kedua-duanya sedang menempuh jalan yang sama. Maka antara kedua tamu itu segera tercipta suasana akrab.

"Saya Dilam dari Warubosok. Saya datang kemari hendak minta tolong kepada Kakek Tarim. Bapak juga, kan?" Marsusi hanya tersenyum. Dan menyulut rokok. Teman barunya ditawarinya sebatang. Asap rokok 
membuat keduanya makin akrab seperti telah terjadi persahabatan yang lama sebelumnya.

"Nah, apakah persoalan sampean?" tanya Marsusi sambil menyandarkan diri pada dinding bambu. Dilam kelihatan ragu. Rahasia pribadi yang dibawanya dari Warubosok belum seorang pun tahu, belum juga istrinya. Haruskah dia membocorkannya kepada orang yang baru sekali bertemu? Hati Dilam menolak.
Tetapi suasana senasib-sepenanggungan bersama orang yang baru dikenalnya itu mengubah semuanya. Juga, di mata orang dusun seperti Dilam, Marsusi kelihatan begitu berwibawa. Dan bagaimana juga Dilam merasa telah berutang budi; rokok Marsusi sudah diisapnya.

"Sebenarnya persoalan saya sangat sepele, Pak. Kerbau!"

"Kerbau?"

"Benar. Dua ekor kerbau saya mati di kandang, diracun orang." Marsusi mengangguk, tak ingin menyela cerita Dilam.

"Mula-mula pada suatu malam seekor kerbau saya lepas dari kandang. Malam itu juga saya cari ke mana-mana tetapi saya tidak bisa menemukannya. Baru pagi hari saya berhasil menemukan kerbau itu di ladang orang, sedang menumpas tanaman jagung. Saya mengambil binatang itu kemudian pergi ke rumah pemilik ladang. Permintaan maaf saya ditolaknya. Dia juga menolak tawaran saya tentang ganti rugi. Nah, saya sudah berniat baik, tetapi dua malam berikutnya kerbau saya mati dua ekor. Bukan main sakit hati saya, Pak."

"sampean yakin kerbau-kerbau itu mati termakan racun?"

"Iya, Pak. Sejak kecil saya tidak pernah berpisah dengan kerbau. Saya tahu bahwa kerbau hanya berak di tempat-tempat tertentu. Saya juga tahu kerbau yang ingin kawin, yakni bila binatang itu mulai mengasah pantatnya ke tiang kandang. Apalagi tentang kerbau yang sakit. Nah, kerbauku mati mendadak. Mulutnya berbusa. Setelah dipotong dan isi perutnya dikeluarkan tercium bau racun. Isi perut itu kami buang ke kolam dan ternyata ikan-ikan mati. Jadi apa lagi kalau bukan racun?"

"sampean juga yakin bahwa pemilik ladang itulah yang meracuni kerbau sampean?"

"Kalau bukan dia, siapa lagi?"

Marsusi tersenyum dan mengangguk demi menyenangkan lawan bicaranya. Ganti Dilam yang bertanya tentang persoalan yang dibawa oleh kepala perkebunan karet itu. Tetapi Marsusi menghindar dengan cara melorotkan tubuhnya hingga sampai pada posisi tidur. Mata dipejamkan pura-pura mengantuk. Dan 
kelelahan serta angin laut yang menerobos masuk ke bilik tamu itu membuatnya benar-benar tertidur.

Ketika terbangun beberapa jam kemudian Marsusi mendapati kamar sudah diterangi lampu minyak. "Jam tujuh malam," desisnya setelah melihat jam tangannya. Marsusi bangkit. Kakinya hampir menyentuh gelas.
Ternyata bukan hanya ada gelas-gelas, melainkan juga piring-piring berisi nasi dan lauk-pauknya. Semuanya tidak mampu membangkitkan selera Marsusi. Lidahnya sudah terbiasa dengan makanan yang lebih baik. Gelas Dilam tinggal berisi setengahnya. Tetapi ke manakah orangnya?

Pertanyaan itu terjawab oleh suara dua orang yang sedang bercakap-cakap di dalam rumah. Marsusi dapat memastikan dua orang itu adalah Dilam dan tuan rumah. Tergerak oleh rasa ingin tahu Marsusi keluar dari bilik. Ternyata ruang depan tanpa lampu. Sepi, bahkan tak terdengar suara anak-cucu Tarim maupun istrinya. Marsusi, perlahan-lahan, duduk di kursi yang paling dekat dengan asal suara di balik dinding.

Di ruang dalam Dilam duduk berhadapan dengan Tarim. Kali ini wajah Tarim bersungguh-sungguh. Setiap ucapan tamunya ditanggapi dengan kening berkerut serta kedua alis yang hampir bertemu.

"Sekali lagi, pikirlah dahulu, Nak. Ini persoalan nyawa. Dan saya akan membebankan seluruh tanggung jawab pada diri sampean," kata Tarim sambil memandang tajam ke arah bola mata Dilam.

"Hati saya sudah bulat, Kek. Saya bersedia menerima segala akibatnya."

"Akibat di dunia dan di alam kelanggengan nanti?"

"Ya, Kek."

"sampean mengerti bahwa urusan semacam ini juga akan berakibat buruk kepada anak-cucu sampean?"

Dilam tidak segera memberi tanggapan. Kini wajahnya menunduk, sejenak berhenti bernapas. Saat itu rasa sakit hati karena permintaan maafnya ditolak pemilik ladang menyengat kembali. Dalam rongga matanya terbayang dua ekor kerbau kesayangannya terkapar.

"Saya tidak berpikir jauh ke sana, Kek. Urusan nanti bagaimana nanti saja. Pokoknya begitulah tekad saya."

"Aku tidak biasa tergesa-gesa, Nak. Nah, pikirlah kembali. Keluarlah, siapa tahu udara di luar bisa mengubah pikiran sampean."

Meskipun merasa enggan, namun Dilam bangkit juga. Tidak diketahuinya pada saat yang lebih cepat Marsusi berjingkat kembali ke biliknya.

Udara di luar memang lebih dingin. Dilam memandang langit yang masih merona merah di barat sisa mambang petang. Nyamuk luar biasa banyak sehingga Dilam tak pernah berhasil menenangkan dirinya. Tak mengapa, karena setidaknya Dilam bisa mengingat kembali sepenuhnya kata-kata Tarim. Mestinya semuanya benar. Lepas dari kenyataan bahwa kakek itu menikmati upah dari ilmu hitamnya, toh dia kelihatan bersungguh-sungguh mencegah orang membuat celaka sesamanya. Atau seperti yang pernah didengar oleh Dilam sendiri bahwa Tarim akan menerima dengan ikhlas pengunduran diri seseorang yang semula datang dengan maksud minta bantuan buat membinasakan orang lain.

Masalahnya tinggal pada nurani Dilam untuk menerima sinar terang. Ternyata kesumat yang mengendap dalam hati laki-laki dari Warubosok itu lebih pekat. Kata-kata sendiri yang tadi terucapkan di depan Tarim bergema kembali. "Urusan nanti, bagaimana nanti saja!"

Dilam masuk kembali menghadap Tarim. Wajahnya malah bertambah gelap. Sambil duduk dilepasnya napas banyak-banyak.

"Bagaimana, Nak?"

"Saya tetap pada pendirian semula. Sudahlah, Kek. Pokoknya semua ini atas tanggung jawab saya."

"Baiklah kalau begitu."

Tarim bangkit meninggalkan tamunya. Seperempat jam kemudian dia muncul lagi membawa sebuah cawan berisi air bening dan sehelai kain mori. Setelah terpapar di atas meja Dilam baru melihat ada sebuah jarum berekor benang terselip pada kain mori. Tak urung hati Dilam terkesiap melihat benda-benda yang mendadak berpengaruh magis itu.
Kakek Tarim duduk. Entah mengapa napasnya terengah-engah. Keningnya mengkilat oleh titik keringat. Jarum dipegang pada ekor benangnya, diayun-ayun memutar tepat di atas cawan. Ayunan dihentikan. Jarum yang masih berpusing-pusing itu ditunggunya sampai berhenti. Kemudian dijatuhkan tepat di 
tengah air dalam cawan. Air seperti mendidih dan Tarim cepat menutup cawan itu dengan kain mori. Sesaat kemudian terdengar suara gemercik. Kain mori itu disingkapkan. Airnya masih bening tetapi jarum berekor benang itu telah lenyap.

"Kirimanmu sudah berangkat," kata Tarim.

Ketegangan pada wajahnya mengendur. Dengan ujung baju dilapnya keringat yang mengucur deras. Sementara itu Dilam sendiri belum bisa melepaskan diri dari kebisuan yang sebenar-benarnya. Dan Dilam terperanjat ketika terdengar lagi suara berkecipak dari dalam cawan yang tertutup mori. Tarim 
membukanya.

Mata Dilam membulat melihat air dalam cawan sudah berubah. Jarum berekor benang kelihatan lagi, mengkilat dalam cairan yang lambat-laun menjadi merah. Darah mengental pada ekor benang itu, larut perlahan-lahan merata dalam cairan.

"Hem, selesai," kata Tarim sambil mengemasi perkakasnya. "Sekali lagi, Nak. Semua ini terjadi atas tanggung jawab sampean sepenuhnya. Kalau besok cepat pulang ke Warubosok sampean bisa melihat penguburan mayat seteru sampean itu."

Yang terkesan dari wajah Dilam adalah perasaan puas sekaligus ngeri. Orang Warubosok itu tak mampu berkata-kata. Dirasakannya keringat meleleh di tengkuknya. Melihat Dilam yang pucat dan agak gemetar 
Tarim tersenyum. Kakek itu sudah hapal. Itulah perilaku kebanyakan tamu yang datang kepadanya.

"Agar sampean tidak gemetar seperti itu hanya ada satu cara. Usahakan sekeras-kerasnya rasa benar di hati sampean. Bahwa musuh sampean mendapat celaka akibat ulah sendiri; tanamkan keyakinan itu kuat-kuat pada diri sampean."

Dilam mengundurkan diri dengan kegoncangan hati yang tidak bisa disembunyikan. Dalam bilik tamu didapatinya Marsusi sedang menengadah, tidur di lantai bertikar.

"Sudah?" tanya Marsusi dengan senyum.
Jawaban Dilam adalah air muka yang kosong hambar.

"Masih adakah perahu motor menghilir ke Cilacap? Aku ingin secepatnya pulang," ujar Dilam. Mendengar cakap temannya yang ngelantur Marsusi sekali lagi tersenyum. Sebab sesungguhnya dirinya pun mulai diliputi ketidakpastian. Dia mendengar seluruh percakapan antara Dilam dengan Kakek Tarim; sesuatu yang tidak boleh tidak telah membuat bulu kuduknya meremang. Marsusi merasa yakin temannya, seperti dirinya juga, dihantui oleh perasaan tidak nyaman.

Kedua penghuni bilik tunggu itu berdaulat dalam pikiran masing-masing. Dilam telentang berbantal tangan, matanya menerawang jauh menembus atap, membayangkan seterunya tiba-tiba terbatuk dan muntah darah. Disusul hiruk-pikuk dalam kegawatan yang amat sangat. Jerit istri dan anak-anaknya. Seruan minta tolong kepada tetangga. Tangis yang ramai dan berkepanjangan. Galau suara laki-laki dan perempuan. Dan akhirnya sesosok mayat diam di atas balai-balai tertutup kain dari ujung kaki hingga kepala. 

Orang-orang yang semula tercekam kepanikan mulai duduk. Dilam seakan mulai mendengar mereka berspekulasi tentang sebab malapetaka. Tak ayal lagi, pergunjingan akan sampai kepada masalah kiriman. Dilam gelisah. Kegelisahan itu makin terasa mengusik hati ketika terbayang kembali olehnya pemandangan dalam cawan putih itu. Ada darah kental yang larut perlahan-lahan dalam air bening.

Marsusi duduk berselonjor dengan punggung lekat pada dinding bilik. Rokoknya mengepul. Dia sama sekali tidak memperhatikan Dilam yang kelihatan begitu gelisah. Namun sebenarnya Dilam-lah yang sedang menjadi titik pusat permenungannya.

Tak salah lagi Dilam pastilah seorang petani. Dia berasal dari kaum yang selama ini dianggap sebagai simbol sisa keluguan, kejujuran, bahkan keutuhan kemanusiaan. Tetapi mengapa si tani yang dungu itu 
memiliki keberanian menumpahkan darah meski secara tidak langsung, melalui jalan yang tidak bisa diterangkan dengan akal - petani sesamanya? Kearifan yang segera diperoleh Marsusi dari permenungan sesaat itu adalah sebuah pelajaran sederhana, bahwa rasa dendam mampu membinasakan martabat kemanusiaan. Juga di antara dua orang dusun yang masih terikat pada keserbaluguannya.

Dan Marsusi terkejut ketika sadar dirinya kini berada hanya beberapa jengkal dari Dilam. Dan dia berada dalam bilik itu, terus terang dalam rangka tujuan yang sama. Bila Dilam telah mencelakakan pemilik ladang yang telah meracuni kerbaunya, maka Marsusi akan membuat celaka seorang anak Dukuh Paruk 
yang telah mempermalukannya, menampik hajatnya.

Pandangan mata Marsusi baur. Terbayang olehnya Srintil memegang dada sambil terbatuk mengeluarkan darah segar. Ada beling dan paku-paku berhamburan dari mulutnya. Matanya terbeliak mengerikan. Kemudian terbayang keranda diusung menuju pekuburan diiringi tangis semua warga Dukuh Paruk.

Marsusi menggeleng-gelengkan kepala. Menelan ludah dan membunuh rokoknya di lantai. Seperti halnya Dilam, pada saat itu pun Marsusi ingin segera pulang. Tetapi bayangan Stintil ketika menampiknya kelihatan lagi di depan mata. Urat-urat pipinya menggumpal. Pada saat itu terdengar suara dari dalam. 
Kakek Tarim memanggilnya.

Seperti orang yang kehilangan kepastian Marsusi bangkit. Dilam memandangnya sambil tetap telentang. Ah, mata orang Warubosok itu! Seakan ada sesuatu yang minta diterjemahkannya. Sayang lampu minyak 
itu tidak mempunyai cukup cahaya buat memantulkan kembali makna yang terkandung dalam sinar mata Dilam. Sementara itu suara panggilan terdengar kembali buat kali kedua. Marsusi menyeberang ruang depan dan membuka pintu yang menuju ruang dalam.

"Silakan duduk," sambut Tarim dalam gaya yang paling ayem dan acuh. "Sekarang terangkan maksud kedatangan sampean."

Setelah terbatuk beberapa kali, Marsusi menceritakan kembali pengalamannya di Dukuh Paruk kira-kira dua minggu sebelumnya. Nada suaranya santun, tanpa emosi; satu hal yang menarik perhatian tuan rumah. Tarim sudah terbiasa dengan bicara orang mengadu, mengeluh, dan penuh dendam. Tetapi hal itu 
tak terbersit dalam pembicaraan Marsusi. Tiba-tiba Tarim tersenyum, membuat Marsusi berhenti berbicara.

"Srintil, Nak?"

"Ya, Kek."

"Ah."

"sampean mengenalnya, Kek?"

"Benar. Dia seorang ronggeng yang bisa membuat orang geregetan, bukan? Aku sudah pernah menontonnya. Ah, memang. Dan dia telah mempermalukan, sampean yang gagah begini."

Marsusi tersipu, dibalas oleh Tarim dengan tawa terkekeh.

"Ah, memang tidak enak dibikin malu, apalagi oleh seorang ronggeng cantik. Lalu sampean mau apa?"

"Tentu saja aku ingin membalasnya, bahkan melenyapkannya. Aku tahu betul Srintil menerima semua laki-laki yang datang sebelum saya demi uang yang tak seberapa atau demi satu-dua gram emas, Tetapi dia menampikku, padahal seratus gram kalung emas berbandul berlian yang kusodorkan kepadanya. Mau disebut apa lagi kalau bukan penghinaan yang sebesar-besarnya. Tetapi, Kek..."

"Tetapi?"

"Pikiran saya berubah sekarang."

"Ah, biarlah dia."

Marsusi tersenyum tawar. Tetapi Kakek Tarim terkekeh-kekeh.

"Karena, kalau Srintil melirik sambil pacakgulu, jantungmu rontok, bukan? Karena, kalau Srintil melempar sampur, hatimu terbeset, bukan?"

Tarim menyambung tawanya lebih keras. Perut semarnya bergejolak. Bibirnya yang tumpul pada kedua ujungnya tertarik ke belakang sehingga tak salah lagi; Semar.

"Ah, ya! Mestinya semua orang seperti sampean; tak usah ragu mengubah pikiran bila disadari pikiran yang dimaksud tidak baik. Mengapa masih saja orang datang kemari dengan tujuan mencari pelampiasan dendam, bahkan kadang hanya karena rasa iri terhadap sesama. Mereka mengira dengan melampiaskan dendam maka urusannya selesai. Nah, mereka keliru. Dengan cara itu bahkan mereka memulai urusan baru yang panjang dan lebih genting. Di dunia ini, Nak, tak ada sesuatu yang berdiri sendiri. Maksudku, 
tak suatu upaya apa pun yang bisa bebas dari akibat. Upaya baik berakibat baik, upaya buruk berakibat buruk.

"Lebih aneh lagi, Nak. Orang yang sudah tahu akan akibat buruk tetapi masih juga berani mengambil risiko."

Marsusi mendengarkan khotbah Tarim dengan minat yang penuh. Bukan hanya karena dia menangkap kebenaran dalam khotbah itu, melainkan secara pasti dia merasakan adanya kepura-puraan yang nyata. Seorang tukang sihir berkhotbah tentang nilai-nilai budi luhur! Keganjilan yang terasa di hati Marsusi 
mengambang menjadi garis-garis tanda tanya pada wajahnya, pada sinar matanya. Sasmita ini terekam oleh indra Tarim. Dia tanggap sasmita.

"Nah, saya ini, Nak, bisa diibaratkan sebagai tukang membuat bedil. Dia tahu betul bedil hanya dibuat untuk satu tujuan; memisahkan nyawa dari badan. Mestinya tak perlu ada orang membuat bedil supaya setiap mayat yang dikubur adalah dia yang mati wajar. Dan itu baik.

Nah, ternyata kehidupan ini seperti demikian adanya. Aku hanya Kakek Tarim. Aku tak berdaya mengubah arah kehidupan, bahkan aku tak kuasa menghindar dari garis yang telah ditentukan buat diriku."

"Ya. Dan untunglah, setidaknya aku telah berhasil mengubah niatku," kata Marsusi setelah beberapa kali mengangguk. Tetapi dia kaget karena Tarim menertawakannya, ditambah dengan pandangan mata menyindir.

"sampean memang beruntung. Tetapi yang baru sampean lakukan adalah mengubah niat. Pelaksanaannya tidak gampang, Nak. Betulkah sampean telah berhasil menghapus dendam sehingga hati sampean bersih dan putih seperti daging buah kelapa? Aku tidak yakin, Nak."

Tarim menatap wajah tamunya, lama dan menghunjam. Marsusi merasa tersinggung. Tetapi tak bisa berbuat lain kecuali diam dan mempertanyakan kembali apa yang ada dalam hatinya.

"Coba, Nak. Sekarang sampean mengaku telah memaafkan Srintil, ronggeng Dukuh Paruk itu. Bagaimana masalahnya bila suatu ketika sampean melihat Srintil menjadi buah pujaan ratusan orang dalam suatu pentas? Dan, bagaimana halnya bila suatu saat sampean mendapati Srintil bergendak dengan laki-laki yang pada dasarnya lebih rendah daripada diri sampean? Betulkah dendam sampean kepadanya tidak akan kembali kumat?"

Marsusi tergagap oleh pertanyaan beruntun itu. Dan tatapan mata itu. Tatapan mata yang penuh keyakinan diri. Marsusi dibuatnya merasa kecil.

"Aku ini sudah tua, Nak. Jangan-jangan aku lebih menguasai persoalan sampean dan lebih tahu apa yang sebaiknya sampean lakukan sekarang."

"Boleh jadi begitu, Kek. Maka tidak salah aku sampai ke tempat ini."

"Baiklah. Dalam hal diri sampean yang ternyata belum setua diriku maka balaslah sakit hati sampean. Asal adil. sampean telah dipermalukan, bukan?" Marsusi mengangguk seperti anak kecil.

"Maka balaslah kembali dengan mempermalukannya. Hanya dengan cara itu sampean bisa membebaskan diri dari rasa dendam. Mungkin juga sampean bahkan bisa melupakan Srintil buat selama-lamanya. Sekali 
lagi, membalas dendam yang adil adalah dengan cara sama: mempermalukannya. Bukan menyakiti badan, apalagi membahayakan jiwanya."

"Saya sudah mengerti, Kek. Tetapi bolehkah saya bertanya?"

"Lha, mengapa tidak?"

"Andaikan yang telah mempermalukan diriku bukan Srintil, apakah sampean tetap pada kata-kata yang sama?"

Pertanyaan balik yang dilontarkan Marsusi ini membuat wajah Tarim sedikit menegang. Apabila yang dihadapinya bukan seorang kepala perkebunan tentu kemarahannya meletus. Atau, tentu saja. Karena menyadari derajatnya Marsusi berani bertanya kepada orang pandai itu. Tarim maklum. Bibirnya yang 
tebal dan tumpul merekah senyum.

"Wah, saya harus berkata jujur. Begini, Nak. Srintil dalam kenyataannya bukan hanya milik orang tuanya, sanak saudaranya, bahkan bukan hanya milik Dukuh Paruk bersama kelompok ronggengnya. Dia milik semua orang. sampean juga, aku juga. Maka membuatnya tertalu celaka akan berakibat lebih buruk dari apa yang bisa kita duga. Ini sangat tidak baik, terutama bagi sampean sendiri. Percayalah!"

Marsusi mengakui dirinya kalah. Tetapi lega. Selanjutnya dia lebih banyak Mengangguk-angguk menerima petunjuk Tarim. Ketika pertemuan dua orang itu berakhir, angin darat mulai bertiup. Meski nyamuk luar biasa banyak serta tidur di atas amparan tikar, Marsusi lelap hingga pagi. Sayang, beberapa kali dia 
dikejutkan oleh Dilam yang tidur gelisah dan sering mengigau.




                                 *****




Kegembiraan itu lahir dan berkembang dari Dukuh Paruk. Berita cepat tersiar bahwa pada malam perayaan Agustusan nanti Srintil akan kembali meronggeng. Kurang dua hari lagi, tetapi sudah banyak orang bersiap-siap. Anak-anak mulai bertanya tentang uang jajan kepada orang tua mereka. Para pedagang, dari pedagang soto sampai pedagang pecel bersiap dengan modal tambahan, juga tukang lotre putar yang selalu menggunakan kesempatan ketika banyak orang berhimpun.

Nyai Kartareja segera memperbaiki hubungannya dengan Srintil, pertama-tama dengan berusaha mengaku bersalah dalam peristiwa Marsusi beberapa minggu berselang. Perubahan sikapnya terhadap Srintil sangat 
nyata. Dia tidak berkamu lagi terhadap ronggeng Dukuh Paruk yang telah sekian lama menjadi anak akuannya. Nyai Kartareja kini memanggil Srintil dengan sebutan Jenganten atau setidaknya sampean; suatu pertanda bahwa kedewasaan, tepatnya kemandirian Srintil telah diakuinya.

Srintil seperti hendak menjadi temanten laiknya. Dia dipingit oleh Nyai Kartareja. Badannya dilulur untuk memulihkan keremajaan kulitnya. Sebelum berangkat tidur Nyai Kartareja memintanya mengunyah satu-dua butir merica agar suaranya tetap lantang dan jernih. Pakaian pentasnya dicuci secara istimewa. Sementara itu Nyai Kartareja tidak perlu lagi mencari jelaga dan getah pepaya buat penghitam alis, juga tak perlu lagi menyuruh Srinitil mengunyah sirih sebelum naik pentas. Kios Pak Simbar di pasar Dawuan 
sudah menyediakan gincu, pensil rias, dan sebagainya. 

Selagi istrinya mengurus Srintil, Kartareja menyiapkan perangkat calung. Penabuh-penabuh dihubungi dengan pesan agar nanti menampilkan permainan terbaik. Calung-calung yang sudah lama tidak terpakai 
diperbaiki. Diteliti kalau ada temalinya yang putus. Ada orang datang, entah siapa. Kepada Kartareja orang itu mengaku anggota panitia. Dia menyodorkan kertas berisi catatan lagu. Tetapi karena Kartareja buta huruf orang itu membacakan untuknya. Ternyata lagu-lagu itu semua sudah dihafal oleh dukun ronggeng itu. Hanya di sana-sini ada pergantian kata atau kalimat. Kartareja merasakan keanehan karena dalam lagu-lagu itu diselipkan kata "rakyat" dan "revolusi", kata-kata mana terasa kurang akrab dalam hatinya. Tetapi Kartareja tidak mengajukan pertanyaan apa pun. Baginya menuruti kata priyayi atau orang
yang seperti itu merupakan salah satu kebajikan dalam hidup.

Boleh jadi hanya Sakarya yang tidak sepenuhnya larut dalam kegembiraan. Sikapnya yang hati-hati berasal dari filsafatnya yang sederhana. Baginya segala sesuatu berpasang-pasangan adanya, tak terkecuali sesuatu yang bernama kegembiraan. Pasangannya pastilah kesusahan. Sepanjang lintasan hidupnya yang panjang Sakarya sering menemukan kenyataan bahwa segala sesuatu tak pernah berpisah jauh dari pasangannya. 
Orang selalu memilih pihak yang menguntungkan dan menjauhi pihak yang merugikan. Antara keduanya harus tetap terjaga jarak. Dan dalam pikiran Sakarya menjaga jarak itu berarti harus selalu bersikap 
hati-hati, eling. Kadang juga diartikannya sebagai keseimbangan dan tidak berlebih-lebihan. 

Jadi Sakarya tidak ikut berhura-hura. Persiapannya menyambut kembali pementasan Srintil lebih ditekankan pada segi kejiwaan. Lebih sering memasang sesaji di dekat makam Ki Secamenggala, lebih 
banyak terjaga di malam hari serta mengurangi makan-minum. Srintil diperintahkannya dengan sangat ngasrep pada hari kelahirannya.

Perayaan Agustusan tahun 1964 itu dimulai dengan upacara pagi hari di lapangan kecamatan Dawuan. Pemandangan dikuasai oleh kain rentang dengan tulisan macam-macam. Ada yang direntang di antara 
pohon-pohon, tetapi lebih banyak yang ikut masuk ke lapangan yang padat manusia. Gelombang ribuan kepala memberi gambaran seperti pemandangan di ladang tembakau yang ditiup angin. Acungan seribu tangan yang diiringi pekik gempita hanya dapat diandaikan kepada petir yang terjadi di hutan jati meranggas.

Semua yang berpidato mengerahkan habis-habisan tenaga urat lehernya. Agitasi, propaganda, serta slogan kutukan membakar seluruh lapangan dalam kepalan ribuan tangan serta riuhnya bunyi tambur. Semua orang tegak dalam harga diri yang tertempa seketika oleh retorika para pembicara. Semua orang 
menggenggam semangat meluap yang setidaknya mampu mengalahkan siksaan yang datang dari sinar matahari yang mulai terik.

Gadis-gadis remaja yang biasa malu bersuara keras atau bertingkah seperti laki-laki, larut dalam semangat massa yang meluap. Mereka tidak ketinggalan mengepal tangan dan berteriak. Dan puncak hura-hura itu meledak ketika sebuah patung kelaras jagung yang diberi kopiah serta kaca mata dibakar massa. 

"Gembong musuh rakyat telah jadi abu!" teriak seorang pemuda. Matanya merah berkaca-kaca karena letupan emosi dalam dirinya.

Sakum mendukung anak pada pundaknya.

Dia berdiri di bawah pohon sengon, menjadi titik ironi di tengah galau manusia. Baru sekali ini Sakum mengutuk dirinya yang buta. Baru sekali ini Sakum gagal menerjemahkan suara dan suasana yang terekam oleh sisa indrianya. Padahal Sakum sudah biasa melihat meriahnya pentas ronggeng dengan jiwa, bukan dengan matanya. Sakum juga mampu melihat kepanikan semua orang bila datang angin ribut. Atau kecemasan anak istrinya ketika petir menyambar. Dia juga mampu menangkap ceria wajah anak-anak bila 
gumpalan nasi di depan mereka lebih besar dari kepalan tangan.

Tetapi Sakum tidak berputus asa. Melalui denyut nadi anak yang bertengger di pundaknya Sakum terus mencoba mengikuti dan mencari makna hiruk-pikuk yang sedang terjadi di sekelilingnya. Bila denyut nadi 
anaknya mencepat Sakum mengerahkan kemampuan indrianya yang tersisa. Terkadang juga Sakum menyadap saraf mata anaknya.

"Apa yang kaulihat, Nak?"

"Wah! Merah, merah, Pa. Bapa tidak melihat ya?"

"Apa yang merah?"

"Semua, banyak sekali. Orang-orang bertopi kain merah. Bendera-bendera merah. Tulisan-tulisan merah. Eh, ada juga yang hitam, hijau, dan kuning. Wah, bagus sekali, Pa."

"Siapa yang berpidato?"

"Tidak tahu."

"Mari kita mendekat barisan kuda lumping."

"Wah, panas, Pa. Tetapi tak mengapa, asalkan..."

"Hah?"

"Es, Pa. Haus."

"Tak ada uang lagi, Nak. Habis."

"Wah, jangan bohong. Tadi sebelum berangkat kulihat Srintil memberimu uang. Iya, kan? Kalau bukan es, air asem juga boleh. Haus, Pa."

Sakum mengalah. Anaknya diturunkannya dari pundak. Begitu menginjak tanah, anak itu menyeret ayahnya ke arah pedagang minuman. Sakum juga minum. Setelah membayar dan menerima uang kembali, Sakum jongkok. Anaknya yang tangkas kembali bertengger di atas pundak.

"Ayo, tunjukkan aku jalan ke dekat barisan kuda lumping."

"Punten, punten," seru anak Sakum dari atas pundak ayahnya. Barisan orang yang padat menyisih membuka jalan. Hampir semua orang mengenal siapa laki-laki buta yang mendukung anaknya di pundak itu. Tetapi anak Sakum yang baru berusia enam tahun itu sudah pintar memanfaatkan kebutaan ayahnya. Sakum tidak digiringnya ke arah barisan kuda lumping melainkan ke arah pedagang balon di sudut 
lapangan. Meskipun tak mungkin baginya memiliki permainan yang mengagumkan itu, dia setidaknya berkesempatan melihatnya sepuas hati.



Bersambung... 

______________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...