Minggu, 28 Maret 2021

JANTERA BIANGLALA 07

                         Episode 32




"Kudengar si Rasus datang. Kaukah itu, Wong Bagus?"

"Ah, ya, Nek. Aku Rasus."

"Mataku tidak awas lagi. Kau baik-baik saja?"

"Beginilah, Nek. Aku sehat sehingga bisa kembali melihat Dukuh Paruk."

"Mestinya kamu sudah gagah sekarang. Sudah punya istri?"

"Ah, Nek. Belum. Aku belum bertemu jodoh rupanya."

"Bukan begitu, Wong Bagus. Kamu hanya tidak nrimo pandum. Sejak kanak-kanak kamu sudah dipertemukan dengan jodohmu. Dukuh Paruk sudah memberikan pertanda Srintil adalah jodohmu. Dan kamu tidak menyukai pepesthen ini?"

"Nek!..."

Srintil bangkit hendak menghentikan ucapan Nyai Sakarya. Namun gerakannya terhenti pada sikap setengah berdiri. Lalu duduk lagi dan tersedu lagi. Rasus pun terkejut
sehingga sukar baginya menanggapi ucapan Nyai Sakarya. Dia hanya tercengang, menatap wajah nenek Srintil itu dengan mata tak berkedip. Rasus merasa seperti seekor laron yang terbang menabrak ramat laba-laba. Tidak. Rasus merasa seperti burung yang hinggap di atas cabang berlumur getah keluwih. Ah, tidak juga. Dia merasa seperti seorang anak yang berjingkat-jingkat membuat jalan pintas melalui kebun orang untuk menghindari jalan memutar yang lebih panjang. Tetapi tiba-tiba si
empunya kebun menegurnya dari belakang dengan senyum sambil menunjukkan jalan
benar yang harus ditempuhnya.

"Eh, Cucuku Wong Bagus dan Wong Ayu. Aku hanya mengutarakan perasaan seorang nenek tua. Rasa, Cucuku. Memang, rasanya kalian sudah diperjodohkan oleh Dukuh Paruk sendiri. Namun hendaknya kalian jangan salah mengerti. Sebab ternyata dalam kehidupan ini banyak orang yang tidak menyukai pandum."

"Nek, sudahlah. Aku malu, Nek," ujar Srintil di antara isaknya. "Lebih baik, Nek, tolong antarkan Goder ini ke rumah Tampi."

Nyai Sakarya menurut lalu mengambil Goder dari tangan Srintil. Wajahnya tenang sempurna, tak terlihat kesan dia baru saja berkata tentang perkara yang dalam sehingga mengguncang dua hati manusia. Rasus masih diam. Mata dan garis-garis wajahnya adalah gambar kebuntuan. Duduknya gelisah.

"Kang, maafkan nenekku, ya," kata Srintil lirih sekali. "Nenekku sudah tua sekali sehingga dia lupa bahwa seorang seperti aku ini harus gedhe rumangsane, harus tahu diri. Berangan yang bukan-bukan sungguh memalukan. Kang, aku malu kepadamu."

Rasus menggeleng-gelengkan kepala tanpa makna yang jelas. Senyumnya sama dengan
gambar keseluruhan wajahnya; kebuntuan. Dan boleh jadi Rasus tidak sadar sepenuhnya ketika dia bergumam,

"Persoalannya hanya karena sampai hari ini aku belum pernah memikirkan tentang kawin, dan tentang siapa yang mungkin akan kukawini. Bahkan tentang dirimu, Srin. Aku baru tahu bahwa kau sudah kembali karena Kang Sakum mengatakannya kepadaku tadi pagi."

"Ya, Kang. Aku pun tidak akan berani berkhayal bahwa diriku bisa menjadi alasan kepulanganmu kemari. Sekarang ini apalah arti diriku, Kang."

"Ah, Srin. Sesungguhnya kau tak perlu terus berkata dengan nada seperti itu. Zaman
memang selalu berubah-ubah. Yang sudah terjadi biarlah berlalu. Lebih baik kita bersyukur. Kita selamat dan kita sudah kembali ke rumah sendiri. Kemudian, Srin, aku
minta diri. Aku belum mandi sejak kemarin sore."

"Kang?"

"Aku masih sehari dan semalam di sini."

"Kang, nanti dulu. Aku punya jeruk dan pepaya."

"Jangan, jangan. Aku sudah tahu engkau punya jeruk dan pepaya. Tetapi aku mau mandi sekarang. Ke pancuran."

'Jeruk dan pepaya' malah membuat Srintil sulit berkata-kata. Dia hanya mampu membuka mulut ketika melihat Rasus melangkahi pintu. Pundaknya yang kokoh amat berkesan di hati Srintil.

"Kapan kau kemari lagi, Kang?"

Rasus tak menjawab. Menoleh pun tidak. Dia sudah didaulat oleh Kartareja dan istrinya. Ada puting beliung berkisar-kisar dalam dada Srintil, runcing dan menukik menusuk jantungnya. Duh, Pangeran, kehidupan ini penuh manusia. Tetapi mengapa aku tinggal seorang diri?

Sementara Srintil masuk dan menelungkupkan diri di kamar, Rasus berjalan sambil menunduk menuju gubuk doyong. Sampai di halaman lagi-lagi Rasus berdiri buat menatap bekas sarangnya di masa kanak-kanak. Lalu masuk. Hanya dengan ketrampilan yang khas maka pintu gubuk itu tidak roboh ketika dibuka. Dikeluarkannya perlengkapan mandi dari dalam ransel kemudian Rasus keluar menuju pancuran.

Keadaannya masih utuh seperti dulu ketika Rasus mandi di pancuran itu sehari sekali,
ketika sebagai anak-anak dia mulai belajar membedakan tubuh lelaki dan tubuh
perempuan. Juga masih seperti dulu bila kemarau pancuran mengecil tetapi lebih
bening. Batu besar dan pipih yang menjadi penumpu air pancuran mungkin tak tergeser semili pun. Air yang jatuh merupakan batang kristal lengkung. Tepat di permukaan batu kristal itu pecah menjadi ribuan percik air yang melompat divergen. Dan sinar matahari yang menembus celah pepohonan jatuh di atas ribuan percik lalu terbias menjadi bianglala.

Sayang jiwa Rasus berada dalam keadaan kurang peka terhadap keindahan di pancuran. Dia hanya ingin membersihkan diri dari daki yang membuat badannya terasa kurang segar. Ketika pulang ke gubuk Rasus melihat Nyai Kartareja sudah di sana. Ada dua piring, satu berisi nasi dan yang lain lauknya.

"Bila pulang ke Dukuh Paruk jangan khawatir soal makan. Sudah ada yang siap olah-olah, ngumbah-umbah, dan melumah. He... he. Ah, maafkan saya. Ini ada kiriman dari Srintil. Hanya dia yang sampai saat ini mampu menanak nasi. Dan jangan takut, karena
tak ada apa-apanya. Aku tidak menaruh pekasih di situ."

"Ada pekasihnya pun akan saya makan, Nyai. Aku memang sudah lapar."

"Nah Srintil akan berhenti menangis bila sampean mau makan. Silakan. Aku mau
mengambil airnya." Rasus tersenyum melihat ulah Nyai Kartareja berjalan cepat dan girang seperti anak kecil. Handuk disampirkannya pada pelepah pisang di halaman.

Baju dan celananya diganti, dan menyisir rambut. Sebuah kain sarung digelar di atas
tanah dekat lincak. Rasus bersembahyang.
Nyai Kartareja datang lagi bukan hanya membawa gelas dan teko, melainkan juga
jeruk dan pepaya yang sudah dikupas.

"Yang ini juga tidak saya guna-gunai, dan Srintil akan menangis lagi bila sampean tak mau memakannya."

"Nasi dan lauknya akan saya makan dengan segala senang hati. Tetapi jeruk dan pepaya akan saya makan dengan sungkan."



                         Episode 33



"Ah, aku tahu. Memang Srintil membeli buah-buahan ini semula bukan untuk sampean. Nah, soalnya dia tidak tahu sampean mau pulang hari ini. Bila tahu bisa jadi Srintil bahkan membeli juga sate dan gulai kambing khusus buat sampean. Siapa pun lainnya tidak lagi penting, tidak juga bakal tamunya orang Jakarta itu."

"Kau memang pintar bicara, Nyai. Baiklah. Sekarang kembalilah ke rumah Srintil. Katakan kepadanya aku sangat berterima kasih."

Anak-anak masih bersuka-ria dengan permainan yang selama hidup baru mereka miliki, layang-layang kertas. Rasus seorang diri jongkok memperhatikan anak-anak Dukuh Paruk yang sedang menikmati kegembiraan. Badannya terasa segar sesudah mandi, apalagi dengan perut berisi sepiring nasi dan buah-buahan. Kegembiraan di tengah
sawah mengimbas ke dalam hati Rasus; dia tersenyum bila melihat anak-anak bertingkah lucu karena riang. Kepala Rasus kadang memiring ke kiri atau ke kanan mengikuti lenggang-lenggok layangan di angkasa. Apabila angin mereda anak-anak tanpa aba-aba serempak berseru, simpe-simpe undangna barat gedhe, tak upahi banyu tape, ora entong nggo mengke. Iramanya tinggi dan datar. Karena anak-anak itu berseru berulang-ulang bibir Rasus komat-kamit mengikuti paduan suara. Ketika tersadar Rasus tersenyum. Lucu, seorang tentara merasa terlalu jauh masuk kembali ke dalam dunia anak-anak.

Rasus bangkit lalu berjalan ke barat tanpa tujuan yang pasti. Matanya menangkap tiga
titik yang bergerak sepanjang pematang yang menuju Dukuh Paruk. Makin lama ketiga titik itu jelas menjadi sosok manusia. Yang terdepan mengenakan topi helm, baju dan
celananya berwarna terang. Dua yang di belakang masing-masing memakai topi
lapangan, berjaket. Sekilas Rasus bisa memastikan mereka adalah orang luar. Dan
sekilas pula Rasus menduga mereka adalah laki-laki yang akan bertamu ke rumah Srintil. Dalam hati Rasus terasa ada garis batas hegemoni yang terlangkahi. Ada batas
keakuan Dukuh Paruk yang terlintasi; suatu dorongan primitif yang mengusik harga diri
seperti seekor binatang yang siap berlaga ketika wilayah pribadinya dijamah binatang
lain. Lama sekali Rasus berdiri tegang, matanya menatap tajam ke depan. Napasnya
makin pendek ketika kepastian makin jelas bahwa ketiga laki-laki itu menuju ke rumah
Srintil. Tubuh Rasus bergoyang ingin bergerak ke depan. Tetapi tiba-tiba Rasus berbalik dan berjalan setengah berlari menuju sawah. Diambilnya tali layang-layang dari tangan seorang anak, lalu memainkannya penuh semangat. Kebimbangannya adalah lenggang-lenggok delapan layang-layang yang meliuk-liuk tinggi di angkasa. Anak-anak bersorai riuh. Rasus tersenyum. Senyum paling sulit yang dia lakukan selama dua puluh enam tahun usianya.

Bajus datang bersama Tamir dan Diding. Dengan datang bertiga Bajus ingin memberi
tekanan kepada kata-katanya sendiri kemarin bahwa dia hanya ingin berkenalan dengan Srintil. Tamir yang mengucap salam dibalas oleh Nyai Sakarya. Dari dalam biliknya Srintil mendengar percakapan di luar. Dan tahu tamunya telah datang. Bantal dipeluknya makin erat dan tubuhnya makin menyatu dengan tikar pandan. Suara Nyai Sakarya terdengar galau di telinganya.

"Wong Ayu, bangun. Tamumu sudah datang." Srintil hanya menggerak-gerakkan kakinya.

"Bangun, Cucuku. Itu lho, mereka sudah duduk di depan."

Terdengar keluh tertahan ketika Srintil menggeliat dan duduk di pinggir balai-balai.
Matanya merah menatap kosong ke depan. Tanpa merapikan rambut yang tergerai ke
depan Srintil berdiri dan melangkah. Geraknya seperti didorong oleh kekuatan di luar dirinya. Di depan ketiga orang tamunya Srintil berusaha tersenyum. Tetapi tiga laki laki itu pertama-tama menyambutnya dengan kernyitan alis. Mereka memperoleh kesan kuat, Srintil tidak siap menerima tamu.

"Selamat datang, Pak Bajus. Juga sampean berdua," suara Srintil parau.

"Terima kasih. Ah, tetapi nanti dulu. Engkau pucat sekali. Sakit?" kata Bajus.

"Hanya kurang enak badan, Pak. Boleh jadi karena kemarin saya berpanasan ketika
pulang dari balai desa."

"Tetapi kamu sakit," kata Bajus sambil menyender ke belakang. Terlihat kesan dia
kecewa"

"Begini, Pak," sela Tamir. "Nanti kita sekalian singgah ke dokter agar Mbakyu ini bisa
berobat."

Diam. Bajus mengangguk-angguk kosong. Srintil kelihatan bingung mendengar ucapan
Tamir. Dia merasa ada sebuah rencana yang melibatkan dirinya telah disusun oleh Bajus dan kedua temannya.

"Sebetulnya, Srin. Kami bertiga ingin mengajakmu berjalan-jalan ke kota Eling-eling.
Mobilku cukup buat kita berempat."

"Ah, Pak..."

"Hanya berjalan-jalan. Atau nonton film bila kamu suka. Kamu percaya akan kata-kataku kemarin, bukan?".

"Yang bagaimana, Pak? Oh ya, aku ingat."

"Ya. Aku tidak bermaksud berbuat yang macam-macam. Bukan seperti Tamir ketika
datang kemari beberapa hari yang lalu. Tengik dia. Tetapi bila bersamaku dia harus jinak."

"Benar, Mbakyu. Maafkan saya yang sembrono kemarin. Sekarang saya sudah jinak."

"Terima kasih, Pak. Tetapi Bapak melihat sendiri saya tidak mungkin pergi."

"Maksudku, bagaimana bila kita sekalian mampir berobat?"

"Maaf, saya tidak biasa minum obat. Saya biasa minum jamu."

"Nah, kita ke depot jamu," ujar Tamir.

"Tidak. Biarlah saya sendiri besok membelinya di pasar Dawuan. Badanku sungguh terasa tidak enak. Bila pergi jauh-jauh saya khawatir akan menjadi sakit sungguh-sungguh."

"Yah, bagaimanapun juga Srintil memang benar," kata Bajus. "Memang dia tidak sehat.
Jadi kita tidak usah pergi ke mana pun. Kita ngobrol saja di sini."

Tamir nyengir, senyumnya pahit. Srintil juga tersenyum namun hanya kedua sudut bibirnya yang meruncing.

"Nanti sajalah bila semuanya baik, kita bisa pergi ke pantai selatan atau nonton. Kamu
mau bukan, Srin?"

"Anu, Pak. Entahlah. Saya takut. Ah, orang seperti saya ini harus tenang di rumah.
Rumangsa!"

"Aku sudah mengerti mengapa demikian perasaanmu. Tetapi rasanya kamu tak perlu
memperturutkan perasaan itu. Apalagi takut. Dan tentang perkenalanku dengan kamu
secara tidak langsung aku sudah memberi tahu kepada camat dan polisi. Sudahlah,
pokoknya aku tidak ingin membuatmu mendapat kesulitan apa pun."

"Setuju, Pak. Nah, sekarang, ketika Mbakyu Srintil ini sedang sakit apakah kita akan
menyulitkan dia dengan cara mengajak ngobrol kosong?" kata Tamir dan tertawa lebar.

"Tentu saja tidak. Karena sudah kenal maka apa salahnya kita bercakap sebentar."



                          Episode 34



Namun ngobrol yang dikehendaki oleh Bajus tidak berjalan lancar. Hampir setengah jam lamanya Srintil hanya menjadi pendengar. Wajahnya lestari pucat dan matanya kuyu. Kegelisahan hatinya tidak bisa disembunyikan. Di mata ketiga tamunya Srintil benar-benar kelihatan sakit. Ketika tamu-tamunya minta diri Srintil mengantar mereka sampai ke pintu, tanpa basa-basi kecuali sebuah senyum tipis. Perilaku sederhana itu adalah ketidaksengajaan yang memperkuat pernyataan Sakum bahwa Srintil bukan lagi
seorang ronggeng yang biasanya menggunakan senjata senyum untuk menundukkan hati laki-laki.

Malam hari Rasus berada di rumah Sakum setelah makan malam seadanya di rumah
Kartareja. Gubuknya yang doyong ditinggalkan. Beruntung Rasus menemukan sebuah pelita tua, mengisinya dengan sedikit minyak di rumah tetangga lalu menyalakannya. Gubuk yang selalu gelap sejak kematian Nenek Rasus beberapa tahun yang lalu kini berisi cahaya kelip-kelip. Sakum hanya tinggal bersama istri dan anaknya yang paling kecil. Tiga orang anaknya yang lebih besar sedang mencari serangga di sawah. Tak ada meja-kursi. Rasus dan Sakum duduk di atas lincak. Kepala Sakum diliputi asap rokoknya yang mengepul tiada henti.

"Bagaimana, Mas Tentara. Sampean sudah pikirkan kata-kata saya kemarin?" tanya
Sakum.

"Kawin?"

"Ya. Kan sampean sudah cukup usia. Dan Srintil itu, lho!"

Rasus mendesah. Pertanyaan Sakum adalah masalah yang tiba-tiba saja menghadang
sejak beberapa jam yang lalu. Rasus merasa tidak mudah menjawabnya atau
menyingkirkannya begitu saja.

"Entahlah, Kang."

Rasus mendesah lagi. Mata Sakum yang keropos berkedip cepat. Dan aneh, Sakum
kelihatan tidak terganggu oleh asap tebal yang mengelilingi wajahnya.

"Tetapi sampean sudah percaya bahwa Srintil bukan ronggeng lagi, bukan?"

Sosok Srintil tiba-tiba muncul demikian jelas di mata Rasus. Srintil sekarang. Tubuh yang matang penuh dan kediriannya yang jelas sudah berubah. Srintil yang menangis karena tidak tahu lagi siapa dirinya dan Srintil yang kelihatan ingin meraih tempat yang paling sempit sekalipun di tengah kehidupan. Dan Srintil yang telah ikut berperan dalam membentuk sejarah Rasus sendiri. Mata Srintil yang telah kehilangan daya tantang; mataharinya telah berubah menjadi bulan yang redup. Senyumnya tidak lagi seperti lambaian berahi; kumbang yang liar telah berubah menjadi kupu-kupu yang jinak memelas.

"Ah, kok diam, Pak Tentara?" tanya Sakum mengetuk hati Rasus.

"Ya, Kang Sakum. Aku tidak bisa bicara apa-apa."

"Tidak bisa berkata apa-apa. Mengapa, Mas Tentara?"

"Anu, Kang. Lusa saya akan berangkat tugas ke Kalimantan. Pokoknya saya tidak bisa apa-apa."

"Tetapi..."

"Tidak ada tetapi. Aku mungkin lama di luar Jawa. Mungkin satu, dua, atau entah berapa tahun. Dengan demikian..."

"Mbok begini saja. Tugas ya tugas. Tetapi sampean harus merasa kasihan terhadap
kami di Dukuh Paruk. Berjanjilah suatu saat nanti sampean akan mengawini Srintil. Yang demikian itu sudah lebih dari cukup buat membesarkan hati bukan hanya Srintil,
melainkan semua orang Dukuh Paruk. Lagi pula apakah perasaanku salah bahwa
sampean masih suka terhadap Srintil?"

Rasus tersentak ke belakang. Pelupuh yang berderit membuat Sakum tersenyum dan
menanti. Namun lama, sekali Rasus hanya mendesah dan mengeluh. Ketika akhirnya
Rasus membuka mulut kata-katanya sudah melompat jauh ke lain persoalan.

"Sudah ya, Kang. Saya mau berkeliling dulu. Banyak rumah saudara yang belum saya
kunjungi."

"Oh, benar. Sampean harus mengunjungi semua orang di sini. Tetapi hari masih sore.
Tinggallah lebih lama bersamaku di sini."

"Terima kasih, Kang."

"Baiklah. Mau ke rumah Srintil juga, kan?"

"Bagaimana nanti sajalah."

"Harus. Soalnya sampean tidak bisa berharap akan terjadi hal seperti dulu lagi. Srintil tidak akan menyusul sampean malam-malam dan menyelinap tidur satu lincak."

Terkilas sebuah senyum di wajah Rasus. Dan lenyap. Kegelapan menelan senyum dan sosok Rasus sekaligus. Ada sosok yang bergerak dalam gulita dan ada jiwa yang merayap-rayap, meraba tanpa pedoman. Rasus hendak masuk ke rumah Darkim tetapi urung. Rumah Kastaliput hendak dimasukinya juga namun tidak jadi. Demikian juga rumah Wiryadasim. Di depan rumah Srintil, Rasus menghentikan langkah. Berdiri diam seperti batang pisang di sampingnya. Di langit hanya ada taburan bintang karena bulan baru akan terbit tengah malam nanti. Tetapi ada kalong samar-samar terbang ke selatan. Burung bence melintas dan menciap. Itu burung maling. Dan tidak peduli
maling atau Rasus yang bergerak dalam kegelapan burung itu akan berteriak-teriak.

"Dengar, Anakku. Ada bence. Maka tidurlah," kata Srintil.

"Bence, Mak?"

"Ya. Bila ada bence suka ada maling."

"Maling, Mak?"

"Ya. Maling itu orang jahat."

"Tamu-tamu tadi sore bukan maling, Mak?"

"Bukan, bukan."

"Tentara itu juga bukan maling?"

"Bukan. Dia orang baik."

"Orang baik. Jadi bagaimana?"

"Baik ya baik Tidak nakal. Suka menolong."

"Suka membelikan layang-layang?"

"Ya, ya."

"Tetapi aku tidak dibelikannya, Mak."

"Kamu masih kecil. Kamu belum bisa bermain layang-layang."

"Emak suka orang yang baik, ya?"

"Tentu. Maka kamu kelak harus jadi orang yang baik."

"Jadi tentara?"

"Wah, hebat. Emak suka sekali bila kamu kelak jadi tentara."

"Emak suka tentara, ya?"

Srintil menelan ludah. Seseorang yang sedang berdiri dalam kegelapan di dekat batang
pisang juga menelan ludah. Ditahannya batuk yang mulai menggelitik tenggorokan.
Sementara Srintil menarik Goder ke dalam pelukannya Rasus bergerak perlahan-lahan
dan menjauh. Burung bence kembali melintas dan berteriak. Dan Rasus mempercepat
langkahnya, pulang.



                       Episode 35



Hingga sinar bulan datang mengusir kegelapan di Dukuh Paruk, Rasus masih tergolek gelisah di atas lincak. Dari tempatnya berbaring Rasus melihat remang pepohonan yang makin jelas, bambu muda menjulang dan kadang melentur oleh angin malam yang kering dan dingin. Sesekali Rasus menyadari dirinya sedang membuktikan kebenaran kata-kata Sakum bahwa Srintil tak mungkin datang menyusulnya; hal yang seharusnya terjadi bila Srintil masih seorang ronggeng. Dan hingga jauh malam memang tak ada orang datang. Rasus lega. Rasus ingin tidur. Rasa kantuk mulai terasa merayapi denyut nadinya, namun serta-merta lenyap kembali ketika dalam telinga Rasus berdenging kembali ucapan Sakum, "Apakah perasaanku salah bahwa sampean masih suka terhadap Srintil?"

Pelita kecil yang tercantel pada tiang kayu lapuk tinggal memiliki tetes terakhir minyaknya. Tetes minyak itu melembabkan sumbu kain, merembes naik menerobos selongsong logam dan sampailah ke batas nyala. Setiap molekul minyak tersambar panas lalu melepas tenaga yang dikandungnya menjadi bunga api. Nyala itu tinggal sebesar gabah. Kelap-kelip makin mengecil, kehilangan runcingnya sedikit demi
sedikit. Wamanya yang kuning kemerahan perlahan-lahan berubah biru, di pusatnya ada titik pijar membara. Lambat-laun segala bentuk di sekeliling pelita mulai kehilangan sosoknya. Nyala yang tinggal titik pijar biru mulai bergetar. Dan padam.

Dari tempat Rasus berbaring terdengar suara desah yang dalam. Gubuk doyong itu mendaulat segumpal kegelapan dari jamahan sinar bulan yang temaram. Rasus
terkurung di dalamnya, gelisah karena selalu gagal mengembalikan perasaan dari
pengembaraannya. Kalau bukan karena kebuntuan maka pengembaraan rasa akan
berkepanjangan. Ketika bulan mulai turun di belahan langit barat Rasus memejamkan mata. Dinginnya udara di malam kemarau. Sepinya dukuh terpencil yang sedang lelap, tanpa sedikit pun terasa pertanda kehidupan manusia. Hanya suara puluhan jangkrik di
rumah Sakum. Dan tikus yang berkejaran di atas atap yang berlapis sampah kering. Rasus tidur tidak sampai dua jam. Mimpi-mimpi buruk yang menyeramkan mendorongnya kembali ke alam jaga. Kepalanya berpusing ketika dia mencoba duduk. Termangu dan memijit-mijit tengkuknya yang terasa panas dan kaku. Melalui dinding bambu yang sudah menerawang Rasus melihat langit di timur mulai benderang. Di barat bulan hampir menyentuh rumpun bambu, pucat seakan takut tertangkap basah oleh matahari. Rasus mengambil perlengkapan mandi lalu keluar menuju pancuran.

Seekor kumbang tahi melintas di depannya dengan dengung yang berat. Masih seperti
dulu ketika Rasus seorang bocah. Ada burung sikatan mencecet di atas pancuran. Ada
kelelawar di mulut lubang kayu sengon lalu merayap masuk. Lebah madu berdengung
mengelilingi kerimbunan pohon bungur yang sedang berbunga. Rasus bertekad melawan udara dingin lalu berjongkok di bawah pancuran. Beberapa kali dia berbangkis setelah air sedingin embun menyiram dahinya yang panas. Pulang ke rumah Rasus mengenakan seragam hijaunya lalu menggelar kain sarung di tanah untuk bersembahyang dan berdoa. Dia ingin memperoleh keyakinan bahwa keputusan yang mendadak diambilnya untuk meninggalkan Dukuh Paruk pagi buta saat itu juga adalah hal yang terbaik terutama bagi dirinya sendiri. Sepatu dikenakan, ikat pinggang dipasang. Topi lapangan disambar dari ujung lincak. Ransel yang sudah tertutup rapi disandangnya di pundak. Dan Rasus keluar dari gubuk doyong tanpa menoleh ke belakang. Langkahnya cepat dan pasti menuju lurus rumah Kartareja. Diketuknya pintu gubuk yang masih sepi itu.

"Kek, keluar sebentar. Aku, Rasus, mau minta diri."

"Eh, Cucuku?"

"Ya, Kek."

"Mau berangkat sekarang?" 

Kartareja membuka pintu tetapi Rasus tidak mau masuk. Dia ingin berbicara di luar dan kelihatan begitu tergesa.

"Kukira sampean masih sehari lagi tinggal di sini. Mengapa tergesa amat? Ada urusan
penting lainnya?"

"Tidak juga, Kek. Aku memerlukan persiapan sebelum berangkat ke luar Jawa. Jadi aku harus berangkat dari sini sepagi mungkin."

"Ah, Cucuku. Sesungguhnya aku ingin berbicara dengan sampean. Tadi malam kutunggu sampean tidak datang. Pembicaraan hanya untuk aku dan sampean."

"Sekarang ini kita hanya berdua Kek."

"Ya. Tetapi ini pembicaraan penting. Yah, tak mengapalah bila sampean menghendakinya. Cucuku, sesungguhnya aku ingin bertanya, bagaimana hubungan sampean dengan Srintil. Maafkan aku, Wong Bagus. Soalnya hal ini perlu kusampaikan kepada sampean."

Rasus menjatuhkan pundak dan menunduk. Dia kelihatan sulit menemukan kata-kata.

"Kek, tadi malam Kang Sakum sudah bertanya demikian kepadaku. Aku tak bisa berkata apa-apa sebab aku akan segera berangkat ke tempat yang jauh dan entah kapan kembali. Maka begini saja, Kek. Bila ada lelaki baik-baik yang berniat mengambil Srintil maka bantulah keduanya. Tetapi bila ada lelaki yang datang hanya untuk bermain-main, tolong katakan kepada Srintil sekarang dia tidak boleh
berperilaku seperti dahulu. Aku yang melarangnya, Kek."

Kartareja mengangguk-angguk, mencoba memahami kata-kata Rasus yang bersayap.
Sesungguhnya dia menghendaki sebuah ketegasan. Tetapi ketika Kartareja hendak
berkata sesuatu Rasus sudah mengulurkan tangan minta bersalaman, lalu berbalik
dengan langkah seorang tentara. Kartareja hanya bisa mengikutinya dengan pandangan. Rasus makin jauh, makin tenggelam, dalam keremangan pagi. Dan lenyap di balik rumpun-rumpun bambu.

Memasuki tahun 1970 kehidupan di wilayah kecamatan Dawuan berubah gemuruh oleh
deru truk-truk besar berwarna kuning serta buldoser dari berbagai jenis dan ukuran.
Truk-truk kuning mengangkut tanah yang dikeruk dari bukit-bukit untuk menimbun
wilayah-wilayah rendah yang akan dilalui jalur pengairan. Buldoser menggali atau meratakan tanah siang malam, kadang tidak berhenti selama dua puluh empat jam. Orang Dawuan dan sekitarnya berkesempatan melihat para pekerja yang kebanyakan berasal dari daerah lain; melihat pakaiannya, ulahnya, keseronokannya. Mereka juga melihat orang Jepang dan Prancis yang selalu menarik perhatian, terutama bagi anak-anak.

Dawuan bergairah. Apalagi para pekerja proyek sering memutar film di lapangan, gratis. Warung-warung yang buka siang dan malam muncul di mana-mana. Persentuhan nilai kota dan desa berlangsung amat intensif terutama di kalangan para pekerja muda serta para remaja setempat. Dan pada kenyataannya nilai kota yang mendesak dan menggurui nilai desa. Anak muda Dawuan mulai meniru gaya, perilaku serta pakaian para pekerja. Mereka mulai berbicara dalam dialek Jakarta.



                             Episode 36



Kegairahan Dawuan merembes juga ke Dukuh Paruk. Kini anak-anak di sana senang bermain teras batang pisang yang dibuat traktor-traktoran, buldoser atau truk pengangkut tanah. Nyai Kartareja membuka warung kecil-kecilan menjual pecel dan kelapa muda. Siang hari banyak pekerja beristirahat di warungnya, demi pecel atau demi seorang perempuan muda yang sudah sering menjadi buah-bibir di antara mereka.

Tidak jarang Srintil dikunjungi oleh orang-orang proyek, baik siang maupun malam hari. Dalam batas tertentu Srintil merasa senang. Melalui pertemuan-pertemuan semacam itu dia memperoleh sarana penyiaran tentang siapa dirinya sekarang. Tetapi sebenarnya Nyai Kartareja-lah yang lebih banyak menerangkan bahwa Srintil sekarang lain. Dia tidak lagi mau melayani petualangan. Dia sudah ada yang menghadapinya dengan sungguh-sungguh, Bajus, orang yang bukan sekadar pekerja rendahan pada proyek pembangunan irigasi.

Pada mulanya Srintil risi dengan celoteh Nyai Kartareja. Seakan Nyai Kartareja ikut
mempercepat punahnya angan-angan Srintil terhadap seorang laki-laki muda yang tak
mungkin begitu saja lenyap dari angannya. Tidak. Srintil tak ingin angan-angan itu mati meski dia juga tidak tahu bagaimana cara menghidupkannya. Biarlah angan-angan itu menjadi umbi gadung yang seakan kering dan mati ketika kemarau. Atau semacam pepenget yang selalu saja membawa kelembutan setiap kali dia mengenangkannya. Srintil juga sudah menerima pesan lewat Kakek Kartareja; dia boleh berhubungan dengan laki-laki yang baik dan sekali-kali jangan berurusan dengan lelaki petualang.

Pesan yang indah bukan hanya karena isinya, melainkan terutama karena dia datang dari Rasus. Indah, namun sekaligus menyembunyikan teka-teki tersamar. Mungkin
Rasus setuju bila Srintil diambil oleh laki-laki yang sungguh membutuhkannya sebagai ibu rumah tangga. Namun apa yang mungkin terjadi bila Rasus kembali dari tugas dan
mendapatkan Srintil masih seorang diri? Mereka-reka jawaban atas pertanyaan itu
selalu membuat Srintil berdebar, kadang tersenyum seorang diri dan kadang mengeluh
karena menahan rasa cemas.

Kemudian, celoteh Nyai Kartareja seperti demikian adanya, berkembang menjadi
kenyataan. Bajus dengan teratur mengunjungi Srintil, tetap dengan warna tanpa petualangan. Kadang Bajus datang bersama teman dan kadang dia mengundang Kartareja ikut duduk-duduk di rumah Srintil. Segalanya menjadi lugas dan terbuka. Pada kunjungannya yang kesekian pada suatu pagi hari Minggu, Bajus sudah bisa mengajak Srintil ke luar Dukuh Paruk tanpa seorang pun memandangnya dengan tanda tanya. Dengan Goder bersama mereka maka Bajus dan Srintil tidak bisa tidak terkesan sedang memperlihatkan sketsa sebuah rumah tangga. Bertemu lurah Pecikalan di dekat balai desa laki-laki tua itu tersenyum ramah. Bertemu dengan priayi-priayi kecamatan di Dawuan mereka mengangguk dan sumeh. Srintil seperti meneguk air dari gayung setelah menempuh perjalanan panjang melintasi sawah yang kerontang. Dia merasa perlahan-lahan muncul ke permukaan setelah sekian lama tenggelam dalam sisi aib sejarah kemanusiaan.

Dalam mobil di sisi Bajus, Srintil duduk diam. Tatapan matanya lurus ke depan. Goder yang dipangkunya juga tak bergeming. Namun sementara Goder tegang karena baru kali pertama naik mobil, Srintil diam karena sedang merasakan adanya arus balik di dalam jiwanya. Matanya merah. Anehnya, senyum Srintil serta-merta merekah manakala Bajus mengajaknya berbicara.

"Kita ke Eling-eling. Sekadar jalan-jalan. Kamu mau, bukan?"

"Terserahlah. Oh, tetapi nanti dulu. Kalau Mas mau, jangan ke Eling-eling."

"Kenapa?"

"Ah, sebenarnya tidak mengapa. Aku hanya belum berani ke sana."

"Teringat masa lalu?"

"Nah, Mas sudah mengerti. Dua tahun tinggal di kota Eling-eling sebagai tahanan, sungguh tidak enak buat dikenang kembali."

"Baik. Kita ke pantai selatan saja. Sudah lama juga aku tidak melihat laut. Bagaimana?"

Srintil mengangguk dan tersenyum. Pantai selatan adalah tempat yang jauh dari Dukuh
Paruk. Boleh jadi satu atau dua orang di sana bisa mengenal Srintil sebagai ronggeng atau bekas tahanan. Namun kemungkinannya jauh lebih kecil daripada di kota Eling-eling Makin jauh dari Dawuan Srintil kelihatan semakin santai. Mula-mula Srintil hanya berbicara kepada Goder, memperkenalkan ini-itu kepadanya. Lalu ketawanya pecah ketika mendengar Goder minta dibelikan kuda penarik andong seperti yang baru dilihatnya. Tertawa lagi setelah Goder bertanya karung yang dibawa orang di pinggir jalan tadi tidak berisi kepala manusia. Bajus tersenyum-senyum dan sesekali ikut menggoda Goder. "Kaleng yang dipikul orang itu berisi ular naga," katanya sambil menunjuk laki-laki pedagang kerupuk yang berjalan di depan. Goder membeliakkan
mata. Srintil dan Bajus tertawa bersama.

Sampai di pantai Bajus memilih tempat yang agak terpencil buat memarkir jipnya. Itu
bukan tempat yang terbaik. Namun itulah pilihannya karena Bajus ingin memperoleh
suasana yang lebih pribadi, tidak terlalu banyak dilihat oleh pengunjung lain. Goder tidak berani melepas rangkulannya terhadap Srintil. Laut adalah kedahsyatan pertama yang pernah dilihatnya.

Mata Srintil lurus ke depan, ke tengah laut yang berbingkai langit. Ombak yang susul-menyusul dan pecah di pantai, perahu nelayan yang timbul-tenggelam diayun gelombang atau binatang-binatang kecil yang merayap-rayap di batas pantai adalah bukan pemandangan biasa bagi Srintil. Atau: kesibukan para anak dan istri nelayan yang sedang memilih-milah ikan menurut jenisnya, ubur-ubur diberi wadah sendiri, semuanya tidak berhasil menyita perhatian Srintil. Matanya masih lurus ke tengah laut. Mata sedang menjadi duta batinnya menerobos ketersempitan dan keterbatasan. Sukmanya lolos dan mengembara dalam sesaat buat membaca laut biru, langit biru, Nusakambangan hijau dan ombak yang bergulung putih. Mendadak nuraninya sendiri bertindak menjadi guru bijak dan memberi tahu bahwa ada selera agung di balik keserasian yang maha dalam dan kini tergelar luas di hadapannya. Selera agung yang
transendental terhadap segala citakarsa manusia dan karena keagungannya manusia
diminta runduk oleh suara bening di dalam jiwa. Runduk dalam cita dan perilaku, runduk dalam karsa dan karya. Dan kemudian Srintil dengan nilai kemanusiaannya sendiri merasa selera agung, meski tanpa sepatah kata jua, membuka pintunya bagi segala manusia dan kepada tiap-tiap jiwa untuk masuk dan menyelaraskan diri kepadanya. Atau membiarkan segala manusia dan tiap-tiap jiwa menempuh jalan lain satu-satunya, jalan keakuan dan keangkuhan manusia yang sesungguhnya terlampau lemah buat menciptakan keselarasan hidup bahkan keselarasan dirinya.





Bersambung...

______________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...