Jumat, 05 Maret 2021

SENGSARA MEMBAWA NIKMAT BAB 13

Bab 13: Memperebutkan Pusaka.


"CING, picing, piiiicing," bunyi murai, waktu senjakala di atas sepohon kayu di belakang rumah orang tua Midun. 

Kemudian kedengaran pula bunyi burung serak di dalam parak dekat rumah. Menurut kepercayaan, manakala ada orang sakit kedengaran bunyi demikian, alamat ada yang tidak baik akan datang. Karena Pak Midun masa itu dalam sakit payah, darah anak istrinya tersirap mendengar bunyi itu. 

Juriah memandang kepada ibunya dengan sayu, lalu menyelimuti bapaknya. Ibunya segera meminumkan obat sambil mengusap dahi suaminya. Manjau yang baru saja menutup pintu kandang ayam, melompat ke rumah mendekati ayahnya. Ibu dan kedua anak itu dalam kecemasan amat sangat. 

Tegak resah, duduk gelisah, sedikit pun tidak senang diam. Sebentar-sebentar si istri 
memandang kepada suaminya, si anak melihat kepada bapaknya. Mereka itu percaya 
sungguh kepada tahayul, hanya Manjau yang agak kurang, sebab sudah hersekolah. 

Adapun Pak Midun, sejak menerima surat anaknya dari Padang, selalu dalam bersusah hati. Sungguhpun Maun datang juga kepadanya tiap-tiap hari, tetapi lamun 
anaknya yang sulung itu tidaklah dapat dilupakan orang tua itu. Berbagai ikhtiar Maun, agar kenang kenangan Pak Midun lenyap kepada Midun, tetapi sia-sia belaka. 

Kedatangan Maun jangankan menyenangkan hatinya, bahkan makin menambah dalam susah hatinya. Asal ia menampak Maun, Midun sudah terbayang di matanya. Ia sendiri ada juga berusaha supaya Midun dapat di lupakannya, tetapi sia-sia saja. 

Hancur luluh hati Pak Midun bilamana melihat 
teman Midun di kampung itu. Keadaannya tak ubahnya sebagai orang yang kurang sempurna akal, sejak ditinggalkan anaknya yang sangat dikasihinya itu. 

Pekerjaan Pak Midun pun tidak berketentuan lagi. Kerap kali ia bermenung kemudian menengadah, seakan-akan memasukkan air mata yang hendak jatuh kembali, yang disukainya pergi ke tepi sungai, duduk seorang diri sambil memandangi air hilir. Pikirannya seperti air itu pula, berhanyut-hanyut entah ke mana. 

Tidak seorang-dua yang memberi nasihat, agar Midun dilupakannya, tetapi sia-sia saja. Lebih-lebih Haji Abbas dan Pendekar Sutan, acapkali 
datang menasihati Pak Midun. Mendengar keterangan Haji Abbas, ia berjanji tidak akan 
mengenang-ngenangkan Midun lagi. Dia sendiri ada mengatakan kepada Haji Abbas, 

"Memang anak laki-laki sudah demikian. Anak kita hanya dari umur 13 tahun ke bawah. Lewat daripada itu bukan anak kita lagi. Dan lagi bukankah tidak Midun seorang saja anak saya. Masih ada dua orang lagi yang akan menggantikannya."

Tetapi setelah Haji Abbas pergi, pikirannya kepada Midun timbul pula kembali. 
Rupanya Pak Midun bersedih hati bukan karena Midun meninggalkannya pergi merantau ke negeri orang, melainkan hal yang menyebabkan perceraian itulah yang sangat melukai hatinya. 

Apalagi Kacak musuh Midun, masa itu sudah menjadi Penghulu Kepala. Maka semakin putuslah harapannya akan bertemu dengan Midun. 

Demikianlah hal Pak Midun habis hari berganti pekan, habis pekan berganti bulan. Ia selalu bercintakan Midun, sedikit pun tidak hendak luput dari pikirannya. Badan Pak Midun makin lama makin bertambah kurus. Kesudahannya ia pun jatuh sakit. 

Berbagai-bagai obat yang telah dimakannya, jangankan menyembuhkan, melainkan penyakitnya bertambah dalam. Anak istri Pak Midun berusaha sedapat-dapatnya, mudah-mudahan penyakit itu sembuh, tetapi sia-sia saja. Sungguhpun demikian, ibu dan anak itu belum putus harapannya. Mereka membela dengan sungguh-sungguh hati, karena mereka itu tahu bahwa orang tua itulah tempatnya bergantung. 

Sebulan Pak Midun sakit, datanglah famili Pak Midun menjemput si sakit akan dibawanya ke rumah saudaranya. Didapati mereka mamak Manjau yang menjadi penghulu kaumnya ada pula di situ. Setelah sudah makan minum, maka kemenakan Pak Midun yang bergelar Sutan Menindih berkata kepada mamak Manjau katanya, 

"Mamak! Kedatangan saya kemari, ialah menurut adat kebiasaan yang sudah kita pakaikan jua. Karena mamak saya sakit, kami bermaksud hendak membawa beliau ke rumah kami. Sebab itu saya harap Mamak dan Ibu sudi mengizinkan."

"Memang kedatangan Sutan ini sudah menurut adat," ujar Datuk Paduka Raja. 

"Sungguhpun demikian, karena sakit Pak Midun saya lihat masih berat, tidakkah dapat 
ditangguhkan dulu sampai sakit beliau ringan sedikit?"

"Sudah sebulan beliau sakit di sini, rasanya sudah patut kami jemput. Jika lebih lama lagi beliau di sini, tentu pada pemandangan orang, kami sebagai tidak mengacuhkan mamak kami."

"Benar kata Sutan itu. Bagi saya atau pun ibu Juriah tentu tidak ada alangannya. Kami tidak kuasa menahannya, karena sudah menjadi adat kebiasaan kepada kita begitu. Tetapi cobalah Sutan tanyakan dulu kepada Pak Midun, adakah kurang sakit beliau dan sanggupkah berjalan?"

"Hal itu tidaklah akan menjadi alangan, Mamak. Jika beliau tidak dapat berjalan, biarlah kami tandu bersama-sama dengan kursi."

Maka Sutan Menindih masuk ke bilik tempat Pak Midun sakit, lalu berkata-katanya, 

"Saya datang kemari akan menjemput Mamak. Dapatkah Mamak berjalan atau kami tandu 
bersama-sama?"

Pak Midun yang sudah kurus kering dan pucat itu membuka matanya perlahan-lahan. Ia melihat orang yang berkata kepadanya, lalu berkata

"Engkau Midun, anakku?"

"Bukan Mamak, saya Sutan Menindih," ujar Sutan Menindih. 

"Kami datang kemari akan menjemput Mamak."

"Tidak sampai hati kami melepaskan Mamak Sutan," ujar ibu Juriah dengan sedih. 

"Lihatlah, badannya sudah tinggal kulit pembalut tulang. Rupanya pucat sebagai kain putih. Ia selalu mengigau menyebut Midun saja. Jangankan berjalan, menggerakkan badan ia pun tidak dapat."

"Biarlah kami papah perlahan-lahan ke tandu dan kami pikul lambat-lambat," ujar Sutan Menindih pula.

Pak Midun melihat sekali lagi. Setelah nyata kepadanya bahwa kemenakannya yang 
berkata itu, maka katanya perlahan-lahan, 

"Saya tak dapat berjalan, tak dapat bergerak, 
seluruh tubuh saya sakit. Sebab itu saya jangan dibawa, saya tidak suka."

"Kalau begitu Mamak hendak memberi malu kami," ujar Sutan Menindih. 

"Tentu kami dibodohkan dan dihinakan orang, sebab Mamak kami biarkan sakit di sini."

Pak Midun menutupkan matanya sebagai menahan sakit. Napasnya turun naik amat 
deras, mukanya makin bertambah pucat. Juriah segera merasai kaki ayahnya. Sambil 
meminumkan obat, ia pun berkata, 

"Ibu, ayah pingsan!"

Segala isi rumah itu cemas mendengar perkataan Juriah. Lebih-lebih ibu Juriah, 
sangat terkejut mendengar perkataan anaknya. 

Dengan segera ia mendekati, lalu meraba-raba badan Pak Midun. Orang tua itu tidak berdaya lagi. Jika tidak dirasai dadanya, tak dapat tiada orang menyangka ia sudah mati. Sudah dua kali ia selap dengan itu; tetapi yang sekali ini payah benar. Orang di rumah itu semuanya berdiam diri, seorang pun tak ada yang berani bergerak, apa pula berkata-kata. 

Setengah jam kemudian, Pak Midun membukakan mata pula, lalu berkata, 

"Jika sekiranya akan memberi malu orang 
Tanjung saya di sini, bawalah! Tetapi ibu Juriah mesti mengikut, karena dia perlu membela 
saya."

Maka dibuat oranglah sebuah tandu daripada kursi. Setelah selesai, Pak Midun diangkat bersama-sama ke tandu itu. Maka diusung oranglah ia perlahan-lahan menuju rumah familinya. Ibu Juriah dan Manjau pergi pula mengiringkan tandu itu. 

Yang tinggal di rumah hanya Juriah dengan mamaknya. Tidak lama orang itu pergi, Juriah berkata kepada mamaknya, katanya, 

"Mamak! Apakah sebabnya Sutan Menindih tadi mengatakan 'memberi malu kalau ayah sakit di sini?"

"Kau rupanya belum mengerti," ujar Datuk Paduka Raja

"dengarlah saya terangkan! Adapun ayahmu itu, menurut kata adat, 'abu di atas tunggul' di rumah kita. Artinya, bila ditiup angin ia terbang. Ayahmu adalah orang semenda bagi kaum kita. Jadi ia famili karena perkawinan ibu dan ayahmu. 

Jikalau kita tidak suka kepadanya atau kebalikannya, boleh pergi sembarang waktu. Oleh sebab itu, ayahmu adalah sebagai orang menumpang di rumah ini. Boleh diusir dan dia pun boleh pergi bilamana ia suka. 

Karena itu tentu Sutan Menindih mengatakan 'memberi malu', mamaknya suka di rumah penumpangan."

"Tetapi bukankah ayah sakit di rumah anak kandung beliau? 
Kamilah yang menyelenggarakan beliau dalam sakit. Lain perkara kalau kami orang lain, sudah patut ia berkata begitu."

"Dalam hal ini Juriah tidak disebut-sebut," ujar Datuk Paduka Raja yang agak tersentak oleh pertanyaan kemenakannya. 

"Pertanyaanmu itu memang sulit. Menurut kata adat, 'adat bersendi syara', syara' bersendi adat.' Artinya, syara' dan adat kita sandar 
menyandar atau sejalan. Jika menurut syara', anaklah yang diutamakan, tetapi menurut 
adat, 'kemenakan'. Jadi hal itu nyatalah sudah berlawanan. 

Oleh sebab itu, saya sendiri ragu-ragu, entah mana yang benar kedua perkataan itu. Perasaan saya itu sudah saya perbincangkan dengan beberapa penghulu di sini. Banyak mereka yang mengatakan, bahwa anak dengan bapak, menurut adat, tak ada pertaliannya. 

Sebab orang semenda itu adalah sebagai orang diselang dari suatu kaum kepada kaum yang lain. Sebab itu kemenakan pulang kepada mamaknya, tidak kepada bapaknya. 

Tetapi menurut pikiran saya tidaklah demikian. Pada hemat saya, anak itu pulang kepada bapaknya. Artinya bapaknyalah yang harus menyelenggarakan anaknya. Begitu pula si anak wajib membela bapak bilamana perlu. Anak itulah yang lebih dekat kepada bapak daripada kemenakan. 

Manakala sudah demikian, sudah sesuai dengan kata adat: adat bersendi syara' dan syara' bersendi adat. Banyak lagi hal lain yang bersalah-salahan orang memakainya. 

Mereka melakukan adat itu banyak sesat, agaknya karena salah pengertian jua. Bahkan 
saya sendiri pun banyak yang kurang paham, sebab kurang selidik."

Ketika Datuk Paduka Raja akan meneruskan perkataannya pula, tiba-tiba Manjau berseru di halaman sambil menangis, katanya, 

"Juriah, ayah sudah meninggal!" 

Juriah terkejut, lalu menangis amat sedihnya. Ia melompat hendak pergi melihat ayahnya, tetapi lekas dipegang mamaknya. Datuk Paduka Raja mengucap, katanya, 

"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Tidakkah sampai ayahmu ke rumah? Juriah, jangan menangis juga! Nanti kita sama-sama pergi."

"Tidak," ujar Manjau, 

"Ketika orang memikul tandu naik ke rumah, anak tangga patah. Orang itu terjatuh, ayah pun jatuh pula. Untung lekas saya sambut. Sungguhpun demikian, sampai di rumah ayah pingsan pula. Tidak lama beliau membukakan mata, lalu memanggil ibu dekat kepada beliau. Entah apa yang beliau katakan tidaklah saya tahu, sebab ayah berkata berbisik. Sudah itu ayah menarik napas ... lalu meninggal."

"Jika sekiranya Pak Midun tidak dibawa, boleh jadi ia sembuh kembali," kata Datuk Paduka Raja sendirinya. 

"Sekarang apa jadinya, karena takut malu jadi lebih malu lagi. Tentu pada persangkaan orang Pak Midun tidak mati seajalnya, melainkan mati jatuh. 

Jangan-jangan disangka orang sengaja dijatuhkan. Sungguh kasihan Pak Midun, boleh jadi juga ia mati beragan, karena ditinggalkan anaknya Midun. Tentu mereka itu semua 
menyesali perbuatannya. 

Tetapi apa hendak dikatakan: sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna."

Pada hari itu juga Pak Midun dikuburkan dengan selamatnya. Tujuh hari lamanya 
orang mengaji dan makan minum di rumah famili Pak Midun. Waktu meniga hari dan 
menujuh hari diadakan kenduri besar, mendoakan supaya arwah Pak Midun dilapangkan Allah di dalam kubur. Tidak sedikit uang habis untuk penyelamatkan si mati itu. 

Oleh famili Pak Midun, tak kayu jenjang dikeping, yang tidak ada, diadakan. Dua tumpak sawah tergadai untuk memenuhi keperluan itu. Ibu Juriah dalam tujuh hari itu bekerja keras di rumah iparnya. Tidak sedikit jua ia menghentikan tangan, karena jamu tidak berkeputusan dan selalu makan minum. 

Setelah sudah menujuh hari, barulah ibu Juriah dan anaknya pulang. Sehari sesudah menujuh hari, Sutan Menindih dan beberapa orang saudaranya datang ke rumah Ibu Juriah. 

Setelah sudah makan minum, dan setelah dianjurkannya dengan perkataan yang panjang lebar, Sutan Menindih berkata, 

"Ibu, saya harap Ibu jangan gusar dan jangan pula berkecil hati. Kedatangan kami kemari ini, ialah menurut sepanjang adat, yaitu akan mengambil harta peninggalan mamak kami."

"Benar, Sutan," ujar ibu Juriah, 

"tetapi apalah peninggalan mamak Sutan. Uang tak ada, hanya pakaiannyalah yang ada."

"Ah, rupanya Ibu bersembunyi di balik lalang sehelai. Yang terang saja hak kami, sawah dan huma. Bukankah itu mamak saya yang membeli dan peninggalan beliau?"

Mendengar perkataan itu ibu Juriah sangat terkejut. Lebih-lebih Manjau, merah mukanya karena menahan marah. Maka ibu Juriah berkata pula, katanya, 

"Itu jangan Sutan sebut-sebut, sebab pencaharian kami berdua. Berdikit-dikit kami menyimpan uang; setelah agak banyak kami belikan tanah untuk kami usahakan. 

Pendeknya, yang Sutan sebutkan itu usaha kami berdua, yang sudah kami untukkan bagi anak kami. 

Pak Midun sendiri sudah mengatakan waktu ia hidup, bahwa segala pencahariannya diuntukkannya kepada anak-anaknya."

"Biar bagaimana juapun keterangan Ibu, kami maklum bahwa tanah itu pusaka mamak kami. Kami berhak mengambil bilamana kami sukai. Jadilah, jika benar sudah diuntukkan mamak kami bagi anaknya, mana keterangannya?"

"Keterangan tentu tidak ada," ujar ibu Juriah sebagai kehilangan akal. 

"Sekarang begini saja, Ibu! Kalau kita bertengkar juga, kesudahannya menjadikan perselisihan. Faedahnya tidak ada, melainkan kita beranak bapak putus-putus. Sebab itu Ibu bertanyalah kepada Mamak Datuk Paduka Raja. 

Ibu terangkanlah kepada beliau kedatangan kami kemari. Kami berhak mengambil harta pusaka mamak kami bilamana saja. 

Kalau Ibu berkeras juga, tentu kami terpaksa minta tolong kepada Penghulu Kepala yang 
memerintah kampung ini. Sekianlah, kami hendak pulang dulu."

Baru saja habis Sutan Menindih berkata, kedengaran orang batuk di halaman. Orang 
itu ialah Datuk Paduka Raja. Setelah naik ke rumah, ia pun berkata, katanya, 

"Sudah lama Sutan datang?"

"Lama juga, Mamak," ujar Sutan Menindih. 

"Dari mana Mamak tadi?"

"Dari pasar, sudah rapat dengan Tuan Kemendur."

"O, ya, saya lihat tadi pagi banyak benar penghulu-penghulu ke pasar."

Demikianlah percakapan mereka itu, hingga habis rokok sebatang seorang. Juriah 
meletakkan kopi dan penganan untuk mamaknya dan jamu itu. Sesudah minum kopi, Sutan Menindih pun berkata, katanya, 

"Mamak! Sebenarnya kedatangan kami ini, ada sesuatu hajat yang besar jua. Tadi sudah saya bicarakan juga dengan ibu, tetapi belum lagi putus percakapan kami. Sekarang kebetulan Mamak datang, jadi lebih baik lagi. Biarlah saya ulang sekali lagi, apa maksud saya datang kemari ini."

"Baik, Sutan, katakanlah apa yang terasa di hati, terkalang di mata, supaya sama kita dengar!"

"Kedatangan saya kemari, ialah menurut adat yang sudah dilazimkan jua. Karena mamak saya Pak Midun sudah meninggal dunia, saya sebagai seorang kemenakan dari beliau, tentu menuntut hak kami. Sebab itu haraplah saya, Mamak izinkan dan tunjukkan mana-mana yang harus saya ambil harta peninggalan mamak saya."

"Benar kata Sutan itu. Memang kedatangan Sutan sudah menurut adat sebab pusaka 
turun kepada kemenakan. Tentu saja Sutan kemari ini sudah seizin Datuk Raja Bendahara 
mamak Sutan, akan menuntut hak Sutan itu. Benarkah demikian?"

"Betul, Mamak! Memang sudah sepakat dengan beliau. Jika tidak seizin beliau, tentu saya tidak berani kemari. Mamak Datuk Raja Bendahara sudah menerangkan kepada saya, mana-mana pusaka peninggalan mamak saya. Oleh sebab itu Mamak izinkanlah saya mengambil harta pusaka saya itu."

"Baiklah, Sutan! Hak milik Sutan itu tidak akan ke mana. Tapi saya harap Sutan jangan terburu nafsu benar. Saya minta kepada Sutan, hal ini jangan mendatangkan yang kurang baik antara kedua pihak. Sebab itu baiklah kita bicarakan dengan tenang, supaya selamat kesudahannya."

"Baik Mamak! Tapi saya rasa tentu tidak akan demikian jadinya, sebab yang saya 
ketengahkan ini, menurut adat di Minangkabau ini."

"Benar, benar, Sutan! Jadilah, menurut pemandangan Sutan apa apakah peninggalan 
Mamak Sutan itu?" 

"Hal ini tentu Mamak sudah maklum, yaitu tanah, misalnya huma dan tanah peruntahan ini serta sawah."

"Ini betul, tapi Sutan jangan pula lupa, bahwa menurut yang saya ketahui, segala tanah yang dibeli Pak Midun, ialah pencahariannya dua laki istri. Lagi pula tadi Sutan mengatakan, hendak mengambil rumah ini. Jadi rumahnya bagaimana? Akan Sutan suruh angkatkah kepada kami?" 

ujar Datuk Paduka Raja agak gusar, sebab mendengar perkataan Sutan Menindih itu. 

"Itu pulang maklum kepada Mamak. Bagi saya, mana yang hak saya tentu saya ambil. Mamak mengatakan pencaharian berdua. Itu kata Mamak, kata saya tentu tidak begitu. Bagi kami ada alasan, bahwa segala tanah itu kami yang punya."

"Kalau begitu tentu mendatangkan yang kurang baik, Sutan!" kata Datuk Paduka Raja dengan sabar pula. 

"Saya harap dalam hal ini hendaklah sebagai menghela rambut dalam tepung. Rambut jangan putus, tepung jangan terserak. Artinya Sutan beranak bapak jangan berputus-putus karena itu. 

Jika Sutan sekeras itu benar hendak mengambil hak milik Sutan, bersalah salahan dengan beberapa peribahasa orang kita, yang menunjukkan kasih sayang kaum Sutan kepada anaknya. 

Bukankah ada menurut kata peribahasa, misalnya: 

Ba' lalo' di rumah baki* (Sebagai tidur di rumah saudara ayah yang perempuan, maksudnya enak dan bebas, sehingga tidak sadar hari telah tinggi, karena senangnya tidur. Jadi tak dapat tiada anak di rumah bako itu amat dimanjakan dan disenangkan oleh saudara-saudara ayahnya yang perempuan) dan anak berpisau tajam, 

bako badagieng taba* (Anak berpisau tajam,saudara ayah yang perempuan berdaging tebal. Artinya: anak bebas mengambil apa yang dikehendakinya atas harta benda bakonya. Jadi anak itu sebebas-bebasnya: boleh berbuat semau-maunya asal tidak melanggar tertib sopan santun di dalam pergaulan umum) 

Nah, menilik arti kedua peribahasa itu, sampai hatikah Sutan menyuruh mengangkat rumah ini kepada Juriah dan Maninjau? Akan Sutan usirkah mereka itu berumah tangga di 
tanah ini? Di manakah lagi tinggalnya sifat 'bako' yang pemurah kepada anak, seperti yang ' dinyatakan oleh kedua peribahasa itu? 

Cobalah Sutan renungkan dan pikirkan dalam-dalam hal ini.-Sepatutnya, setelah Pak Midun meninggal, Sutan dengan famili Sutan menaruh belas kasihan sedikit kepada anaknya. Tetapi sekarang demikian, tentu mereka itu: sudah jatuh ditimpa tangga pula."

Mendengar keterangan Datuk Paduka Raja, terbenar pula pada hati Sutan Menindih. 
Lama ia termenung memikirkan perkataan mamak Juriah itu. Tetapi karena ia diasut orang, ia pun berkata, 

"Sungguhpun demikian, saya terpaksa meminta hak saya juga, Mamak!"

"Sekarang beginilah, Sutan! Biarlah hal ini saya bicarakan dengan mamak Sutan, Datuk Raja Bendahara. Sebab itu pulanglah Sutan dahulu! Dalam sepekan ini, tentu akan mendengar bagaimana putusannya." . 

"Jika demikian baiklah, Mamak bicarakanlah dengan mamak saya. Saya mohon pulang dulu, Mamak!"

"Baiklah! Lebih baik kami sama-sama penghulu menyelesaikan perkara ini."

Sepeninggal Sutan Menindih, Datuk Paduka Raja tidak bersenang hati atas kedatangan kemenakan Pak Midun itu. Menurut pikirannya, ibu Juriah dengan anak-anaknya ada berhak juga menerima pusaka itu. Karena pusaka itu tidak sedikit harganya, ia berjanji dengan dirinya akan menyelesaikan perkara itu se lekas-lekas nya. 

Maka Datuk Paduka Raja berkata dalam hatinya, 

"Kalau dilalai-lalaikan boleh mendatangkan 
bahaya. Sekalipun rugi mengadakan rapat adat untuk menimbang hal ini, apa boleh buat. Jika saya tidak bersenang hati mendengar putusan rapat adat, biar saya jadikan perkara. 
Bilamana sudah putusan pemerintah saya kalah, sudah puas hati saya. Di sana nanti tentu hitam putihnya."

Maka ia pun pergi mendapatkan Datuk Raja Bendahara, penghulu; kaum Sutan Menindih, akan memperbincangkan hal itu. Setelah putus mufakat kedua penghulu itu, seminggu kemudian diadakanlah rapat adat. Rapat itu dikepalai oleh Datuk Seri Maharaja, karena dalam hal adat dialah pucuk bulat, urat tunggang di negeri itu. 

Di antara segala penghulu, bangsa kaum Datuk Seri Maharaja itu sama tinggi dengan bangsa kaum Tuanku Laras, di bawahnya baru Datuk Paduka Raja. Ada 30 orang penghulu yang ternama rapat hari itu. Sesudah minum makan, rapat adat pun dimulai. Maka Datuk Maharaja berkata, katanya, 

"Datuk Paduka Raja! Kami sudah hadir semua, ketengahkanlah apa yang terasa di hati, terkalang di mata maka Datuk mengadakan rapat ini, supaya boleh kami per-timbangkan!"

Datuk Paduka Raja lalu menerangkan duduknya pusaka yang ditinggalkan Pak Midun. 

Bagaimana penghidupan Pak Midun laki istri sejak mulai kawin diceritakannya dengan 
panjang lebar. Kemudian diterangkannya pula pendakwaan orang Tanjung hendak merebut 
pusaka itu. 

Setelah berkata pula, katanya, 

"Penghulu seadat, Tuanku ('alim) sekitab. Datuk sendiri sudah maklum, bahwa di Alam Minangkabau ini pusaka turun kepada kemenakan. 

Bukannya dia, melainkan Datuk sendiri rupanya yang mendakwa, padahal Datuk sudah 
mengetahui. Sungguh heran, saya kurang mengerti dalam hal ini. Orang Tanjung itu 
sekali-kali tidak merebut, melainkan mereka berhak mengambil pusaka kaumnya yang telah meninggal."

"Benar kata Datuk itu," ujar Datuk Paduka Raja. 

"Tetapi lupakah Datuk akan kata adat: 
Harta pembawaan pulang, harta tepatan tinggal, harta suarang (pencaharian) dibagi? Dan sebuah lagi menurut kata adat: adat bersendi syara' dan syara' bersendi adat? 

Menilik kedua kata adat itu, nyatalah bahwa anak Pak Midun berhak pula menerima pusaka bapaknya itu. 
Harta itu ialah harta pencahariannya dua laki istri, sebab itu harus dibagi. Saya tahu benar bagaimana penghidupan mereka itu sejak mulai kawin. Menurut pengetahuan saya, sesen pun tak ada Pak Midun membawa harta orang Tanjung. Dan menurut kata adat yang saya sebutkan, kemudian tadi, mesti pusaka itu diberikan kepada anaknya. 

Jika tidak, tentu tidak sendi-menyendi lagi adat dengan syara'. Sekianlah permohonan saya. 

Saya berharap segala perkataan saya itu, moga-moga menjadi pertimbangan hendaknya kepada kerapatan yang hadir."

Kerapatan itu tenang, masing-masing memikirkan masalah itu. Termasuk pada pikiran mereka akan kebenaran perkataan Datuk Paduka Raja. Dalam pada itu berkatalah Datuk Raja Bendahara, katanya, 

"Kata adat menurut yang Datuk katakan itu, memang sebenarnya. Penghulu tidaklah akan lupa sekalian itu, sebab sudah pakaiannya. 

Seseorang penghulu jika lupa atau tidak tahu seluk-beluk adat, tentu sia-sia ia dijadikan penghulu. 

Bagi saya, sebagai seorang famili dari Pak Midun, mengetahui bahwa harta Pak Midun itu masuk harta pembawaan, sekali-kali tidak harta suarang. Keterangan saya itu dikuatkan oleh beberapa orang saksi. Bilamana perlu, boleh saya unjukkan saksi itu, bahwa harta pusaka Pak Midun itu hak milik orang Tanjung."

Maka kerapatan itu pun ramailah membicarakan bagaimana duduk pusaka itu dan ke mana jatuhnya. Ada kira-kira dua jam kerapatan itu menimbang, dan mengeluarkan buah pikiran masing-masing. 

Melihat kepada keadaan rapat itu, nyata ada berudang di balik batu yang datangnya dari seseorang yang berkuasa di kampung itu. 

Begitu pula mengingat penjawaban saksi-saksi yang kurang terang itu untuk mempertahankan keterangan Datuk Raja Bendahara, tampak nyata bahwa Saksi-Saksi itu dicari dan diupah. 

Kesudahannya maka diputuskan bahwa pusaka itu dijatuhkan kepada kemenakan Pak Midun. Setelah itu rapat adat lalu ditutup, dan orang pulang ke rumahnya masing-masing. 

Sungguhpun rapat adat di negeri itu sudah memutuskan demikian, tetapi Datuk Paduka Raja belum lagi bersenang hati. Maka ia pun membawa perkara itu kepada Hakim 
Pemerintah. Dimintanya kepada Tuanku Laras, supaya perkara itu dibawa ke Bukittinggi, baik pihak anak, baik pun kemenakan sama-sama memakai pokrol. 

Beberapa hari perkara itu ditimbang di Landraad, kesudahannya menang juga di 
kemenakan. Tetapi kemenakan itu hanya menerima kurang dari seperempat pusaka itu lagi, sebab sudah habis untuk pembayar ongkos pokrol. 

Ibu Juriah dengan anak-anaknya terpaksa memindahkan rumahnya ke tanah kaumnya 
sendiri. Dua bulan kemudian daripada itu, Ibu Juriah terkenang akan pesan Pak Midun 
waktu akan meninggal dunia. 

Maka disuruhnyalah familinya ke rumah orang tua Maun akan menanyakan kalau-kalau Maun mau beristri. Pesan Pak Midun yang mengatakan bahwa Juriah harus dipersuamikan dengan Maun, dikatakannya pula. Hal itu pun disampaikan ibu Maun kepada anaknya. Maun dengan segala suka hati menerima permintaan ibu Juriah. 

Tidak saja mengingat persahabatannya dengan Midun, tetapi ia sendiri memang sudah lama bercintakan Juriah. Hati Maun sangat tertarik melihat rupa dan tingkah laku Juriah yang hampir bersamaan dengan Midun, sahabatnya yang karib itu. 

Seminggu kemudian, maka perkawinan itu dilangsungkan dengan selamatnya. Maka Maun dan Juriah menjadi suami istri, hidup berkasih-kasihan setiap hari. 

Manjau kerjanya hilir mudik saja di kampung tiap-tiap hari. Akan bekerja, tidak ada 
pekerjaan yang akan dikerjakannya. Hatinya tidak senang lagi tinggal di kampung itu. Amat 
sedih ia memikirkan peninggalan bapaknya diambil orang sama sekali. Usikan Penghulu 
Kepala Kacak pun hampir-hampir tidak tertahan lagi olehnya. 

Maka diputuskannya pikirannya, lalu ia pergi meninggalkan kampung, berjalan ke negeri orang membawa untung nasibnya.






Bersambung... 


______________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...