Selasa, 16 Maret 2021

NEGERI 5 MENARA BAGIAN 40

"KAMP KONSENTRASI"




Langit malam ini berisi bulan sabit dan gugusan bintang Olip berkelap-kelip. Angin semilir bulan September mengalir sejuk 
sampai ke hati. Setelah kedatangan Ayah yang menjanjikan ujian persamaan SMA, aku menjadi sangat bersemangat menghabiskan bulan-bulan terakhirku di PM. Tidak terkecuali 
menyambut malam bersejarah ini. 

Kami, semua kelas enam, berkumpul di aula untuk mendengar petuah penting Kiai Rais. Suara ocehan kami yang seperti sepasukan lebah madu tiba-tiba senyap seperti dihalau 
angin. Seorang maju ke podium. 

“Kalau PM adalah seorang ibu, maka PM sekarang sedang hamil tua. Mari kita rawat kehamilan bersama sampai melahirkan,” buka Kiai Rais dengan air muka berbinar. 

“Anak-anakku, kalianlah jabang bayi yang sedang dikandung PM. Kalau lulus, kalian lahir dari rahim PM untuk berjuang dan membawa kebaikan untuk masyakat. Dan proses 
persalinan yang menentukan adalah imtihan nihai—ujian pamungkas. Inilah ujian yang paling berat yang anak-anak temui di PM, dan bahkan mungkin sepanjang hidup kalian.” 

Setelah berdiam diri sebentar, Kiai Rais melanjutkan. 

“Untuk mendukung persiapan ujian ini, membuat suasana belajar dan saling membantu, kita akan mengadakan sebuah 
pusat persiapan ujian. Mulai malam ini, semua murid kelas enam, harus pindah ke aula ini. Anggap ini adalah ruang belajar, ruang diskusi, ruang kelas, bahkan kamar tidur kalian. Selama sebulan, setiap hari kalian berkumpul di aula ini sambil dibimbing para guru senior. Selama sebulan ke depan, tidak akan ada kelas…”

Kata-kata Kiai Rais tenggelam oleh riuh tepuk tangan kami semua. Tidak ada kelas selama sebulan adalah kenikmatan luar biasa. 

Kiai Rais kemudian menutup sambutannya dengan memimpin doa bersama untuk kami semua. “Allahumma afta'na ilman warzukna fahman… Tuhan tambahkan ilmu kami dan 
anugerahkan pemahaman kepada kami…” 

Koor amin yang panjang dan khusyuk kami lantunkan dengan penuh perasaan dan harapan. 

Sejak malam itu, kami bolak-balik membawa berbagai barang mulai buku sampai kasur ke rumah baru kami yang luas: aula. Gedung ini telah memainkan peran penting dalam 
kehidupan kami. Mulai dari menjadi tempat acara pekan perkenalan PM tiga tahun lalu, panggung lomba pidato, saksi kekalahan Icuk Sugiarto, tempat kami menerima tamu-tamu 
penting sampai menjadi saksi sejarah kehebatan aksi panggung kami di Class Six Show. Kali ini, aula mendapat julukan baru: Kamp Konsentrasi. 

Aku mendapat kelompok belajar dengan lima orang teman dari kelas lain. Kami diberi kavling tempat di sudut barat aula. Di kavling inilah kami akan menghabiskan waktu sebulan ke 
depan. Buku-buku sampai kasur lipat kami boyong ke kavling yang ditandai dengan meja-meja belajar yang disusun membentuk segi empat. Lantai kosong di tengah segi empat 
itu menjadi ruang tidur kami. Setiap kelompok didampingi oleh seorang ustad pembimbing yang selalu menyediakan waktu jika kami bertanya tentang pelajaran apa saja yang belum kami mengerti. Dan ustad ini juga memastikan kami hadir di kamp ini dan memberikan motivasi kalau diperlukan. 
Pembimbing kelompokku ternyata Ustad Nawawi, sang tukang setrum.

Aula ini terus berdengung dengan suara ratusan orang yang belajar untuk menghadapi ujian akhir. Semarak dan riuh rendah. Sekilas menyerupai kamp pengungsian para ilmuwan. 
Ke mana mata aku edarkan, yang tampak adalah meja yang dipenuhi tumpukan buku, gelas kopi dan baju-baju yang digantung dan anak-anak muda yang sibuk berdiskusi 
bersama atau khusyuk membaca buku pelajaran. Untuk lebih menyemarakkan suasana, kami juga menempelkan spanduk 
berbagai kata motivasional di dinding aula. Misalnya: “man thalabal ula sahiral loyalis″, “buku yang tebal dimulai dari huruf pertama di halaman pertama”, dan tentu saja “man jadda wajada”. 

Detak kehidupan di aula ini benar-benar 24 jam. Ada yang belajar siang dan malam tidur, tapi ada juga yang kebalikannya lebih suka belajar malam dan siang tidur. Yang jelas, kami dipaksa untuk fokus belajar. Tidak ada kegiatan lain yang dibolehkan buat kami selain belajar dan olahraga menjelang Maghrib. Kalau capek belajar, kami boleh tidur-tiduran sebentar, asal tetap berada di dalam aula. 

Kalau sudah semakin banyak kepala Siapa yang ingin mendapatkan kemuliaan, akan bekerja sampai jauh malam yang layu karena mengantuk, Ustad Torik memutar musik dengan beat kencang untuk menyegarkan 
semangat kami. 

Di kiri meja belajarku, tiga tumpukan buku menggunung tinggi. Inilah semua buku pelajaran dari kelas satu yang harus aku baca ulang untuk menghadapi ujian akhir. Sementara di sebelah kanan, suplai energi untuk belajar keras. Ada kotak kopi, gula, multi vitamin dan madu. Di bawah meja ada satu 
kardus mie, kalau perut lapar setelah siang malam belajar.

Selama masa persiapan ujian yang melelahkan secara fisik dan mental, aku memang cukup terobsesi dengan vitamin dan makanan tambahan. Sudah beberapa hari ini aku mengikuti resep Said untuk menjaga stamina belajar. Yaitu setiap setelah sarapan pagi melahap kuning telur yang sudah dicampur 
madu. Amis telur dinetralisir manisnya madu. 

Masih terbawa rasa senang dengan kunjungan Ayah kemarin, aku menghadapi kamp konsentrasi ini dengan optimis. Tapi setelah beberapa hari berkutat terus dengan buku dan melihat tumpukan buku yang wajib aku baca masih tinggi, semangat ini berganti dengan cemas. Aku merasa cukup cemas tidak punya waktu untuk mempersiapkan ujian terakhir yang terkenal berat ini. 

Selama ini pengalaman menunjukkan kalau kemampuan hapalanku sangat lemah. Padahal beberapa pelajaran penting sangat erat berhubungan dengan hapalan. Untuk Anjuran, 
Hadist, dan beberapa mata pelajaran, mau tidak mau hapalan harus bagus. Apakah aku sanggup menghadapi ujian yang akan mengujikan pelajaran dari kelas satu? Semakin cemas, semakin tidak bisa aku konsentrasi dengan pelajaran. Bahkan, satu-satu sariawanku tumbuh. Kecil-kecil tapi perih. Pertanda aku mulai stres. 

Sambil makan malam di dapur umum, aku diskusikan kecemasanku kepada Sahibul Menara. Kecuali Raja, tampaknya kami semua merasakan hal yang sama. Kami meringis tegang membayangkan ujian maraton sebulan 
penuh. 

Atang mencoba menghibur menyemangati dirinya sendiri dan kami semua.

“Seperti kata Kiai Rais, mari kita kerahkan semua kemampuan kita. Setelah itu kita bertawakal.”

“Kita perbanyak juga ibadah, karena ilmu yang sedang kita pelajari itu kan nur. Cahaya. Dan nur hanya bisa ada di tempat yang bersih dan terang,” timpal Dulmajid. 

“Seandainya Baso masih ada, aku cukup percaya diri menghadapi ujian ini,” kataku dengan mulut miring ke kiri. Sariawanku yang membesar di sebelah kanan membuat mulutku tidak bisa lurus. 

Kawan-kawan mengangguk-angguk ikut prihatin. Baso selama ini adalah referensi terhebat kami untuk masalah pelajaran selain Bahasa Inggris. Tidak itu saja, dia pintar untuk menerangkan pelajaran dengan bahasa sederhana dan menyemangati kita untuk memahami dan menghapalkan. 

Said yang dari tadi diam dengan muka serius, tampak hanyut dalam pikirannya sendiri. Aku menepuk bahunya, “Oiiii, kaifa ya akhi?” 

“Aku sedang berpikir-pikir. Semakin lama di PM, aku semakin sadar bahwa inti hidup itu adalah kombinasi niat ikhlas, kerja keras, doa dan tawakkaL Ingat kan kata Kiai Rais, ikhlaskan semuanya, sehingga tidak ada kepentingan apa-apa selain ibadah. Kalau tidak ada kepentingan, kan seharusnya kita tidak tegang dan kaget,” katanya mulai dengan gaya 
dewasanya. Umurnya memang sudah 23 tahun. Walau sok bergaya dewasa, sebetulnya aku selalu berusaha mendengar Said. Aku menganggap dengan usia 4 tahun lebih tua, dia lebih dewasa dan aku pantas belajar kepadanya. 

“Jadi maksud anta…?” tanyaku. 

“Iya, rugi kalau stress, mending kita bekerja keras. Wali kelasku pernah memberi motivasi yang sangat mengena di hati. Katanya, kalau ingin sukses dan berprestasi dalam bidang 
apa pun, maka lakukanlah dengan prinsip “saajtahidu fauqa mustawa air akhar”. Bahwa aku akan berjuang dengan usaha di atas rata-rata yang dilakukan orang lain. Fahimta. Ngerti, kan?” 

“Iya, tapi itu kan biasa saja, semua kita tahu.” 

“Aku sangat terkesan dengan prinsip ini. Coba renungkan lebih dalam untuk merasakan kekuatan prinsip sederhana ini. Ingatlah, sang juara dan orang sukses itu kan jauh lebih 
sedikit daripada yang tidak sukses. Apa sih yang membedakan sukses dan tidak? Belum tentu faktor pembeda itu otak yang lebih cemerlang, hapalan yang lebih kuat, badan yang lebih besar, dan orang tua yang lebih kaya.” 

Dia menarik napas. Menggeser duduknya lebih dekat ke kami. Suaranya lebih bersemangat dari tadi. 

Tapi yang membedakan adalah usaha kita. Selama kita berusaha dan bekerja keras di atas orang kebanyakan, maka otomatis kita akan menjadi juara!” 

“Lihatlah, berapa perbedaan antara juara satu lari 100 meter dunia? Cuma 0, 00 sekian detik dibanding saingannya. Berapa beda jarak juara renang dengan saingannya? Mungkin hanya satu ruas jari! Untuk juara hanya butuh sedikit lebih baik dari orang kebanyakan! Sudah lebih terasa kekuatannya.″

Kepala kami mengangguk-angguk sambil menatap Said. Dia semakin dewasa saja. 

“Maksudku, kalau kita berusaha sedikiiiiiiiiiiiit saja lebih baik dari orang kebanyakan, maka kita jadi juara. Ingat, filosofinya: sedikit saja lebih baik dari orang lain. Itu artinya perbedaan se-persekian detik, satu ruas jari tadi. Kita bisa dan kita mampu jadi juara kalau mau!” kata Said menggebu-gebu. Dia sekarang bahkan sudah berdiri sambil mengayun-ayun tangannya. Kepalanya yang belum kembali berambut sampai berkeringat. 

“Kalau begitu, kalau kita mau berhasil ujian ini, kita belajar sedikit lebih lama dari kebanyakan teman-teman di kamp konsentrasi,” simpulku. 

“Persis. Kita perlu bertekad belajar lebih banyak dari orang kebanyakan. Kalau umumnya orang belajar pagi, siang dan malam, maka aku akan menambah dengan bangun lagi dini hari untuk mengurangi ketinggalan dan menutupi kelemahanku dalam hapalan. Di atas semua itu, ketika semua usaha telah kita sempurnakan, kita berdoa dengan khusyuk 
kepada Allah. Dan hanya setelah usaha dan doa inilah kita bertawakal, menyerahkan semuanya kepada Allah,” tandas Said. 

Pidato Said ini menyalakan semangat kami. Rasanya beban menghadapi ujian menjadi ringan, pikiran jadi lebih jernih, dan rencana apa yang harus dilakukan semakin jelas. Yang jelas aku akan memperpanjang waktu belajarku dibanding orang lain. Selain itu aku juga telah sepakat dengan Atang, untuk 
melakukan shalat Tahajud setiap jam 2 malam, sebelum kami memulai sesi malam. Selama ini Atang adalah sosok yang paling bisa dipercaya untuk bisa bangun malam. Sedangkan kami termasuk kelompok abu naum, atau orang yang suka tidur. 

Tantanganku, selain hapalan yang banyak, juga bagaimana mengerti dengan baik buku pelajaran yang kebanyakan berbahasa Arab dan Inggris. Kami memang tidak dibolehkan 
membaca buku terjemahan, karena intinya adalah mempelajari sebuah konsep dalam bahasa aslinya. Karena itu, selama di aula, kami wajib didampingi dua benda.

Yang pertama kamus alMunjid karangan Louis Ma’luf dan Bernard Tottel yang terbit di Mesir. Buku ini setebal bantal yang beratnya seperti tumbukan batu bata. Buku ini adalah ensiklopedia dan kamus bahasa Arab yang menguraikan arti kosakata bahasa Arab dalam bahasa Arab juga. Untuk melengkapi keterangan, kamus ini dilengkapi banyak ilustrasi warna-warni. Karena sangat komprehensif, kamus inilah salah satu referensi utama para penerjemah dari bahasa Arab ke berbagai bahasa dunia. Beberapa kali aku melihat kamus ini benar-benar menjadi bantal teman-teman yang begadang belajar dan tidak kuat menahan kantuk. 

Sedangkan buku yang kedua adalah padanan kamus alMunjid dalam bahasa Inggris. Judulnya Chcford Advanced Leamers Dictio-nary of Current English karangan AS Hornby. 
Inilah kamus yang menjadi obsesi Raja dari kelas satu. Kamus ini juga menjelaskan kosakata dalam bahasa Inggris pula. Tapi 
ketebalannya kalah dengan alMunjid dan tidak punya banyak ilustrasi. Kalau kedua buku ini ditumpuk, beratnya minta ampun. Tapi kami selalu lupa dengan beratnya, karena kedua 
kamus ini juga lambang status telah berada di kelas tinggi yang berhubungan dengan kosakata tingkat tinggi pula. Bangga rasanya menenteng kamus-kamus melewati 
rombongan adik-adik kelas yang memandang kami dengan wajah terkagum-kagum. 

Akhirnya hari pertama imtihan nihai itu datang juga. Warga PM menyebutnya “ujian di atas ujian”. Sariawanku masih terus mekar dan berdenyut-denyut perih. Sangat mengganggu 
kenikmatan makan dan konsentrasi belajar. Kami terus tinggal di kamp konsentrasi untuk bisa memusatkan perhatian menghadapi ujian. Tidak gampang memaksakan diri terus belajar siang dan malam.

Berbeda dengan ujian selama ini, untuk ujian kelas enam kami harus berpakaian rapi layaknya seorang penguji. PM ingin kami melihat ujian ini sebagai sebuah kesempatan untuk mendiskusikan semua ilmu yang sudah dipelajari dengan para penguji. Bukan semata-mata kami menjawab pertanyaan saja. Hari ini aku berkemeja putih rapi, yang dimasukkan ke dalam celana katun, dililit ikat pinggang kulit imitasi. Dan tentu saja mengenakan seutas dasi. 

Ujian pertama adalah ujian lisan untuk Arabiyah, yaitu kumpulan berbagai subyek pelajaran bahasa Arab yang pernah kami dapat dari kelas satu sampai sekarang. Bahan bacaannya bertumpuk-tumpuk di mejaku, dan sudah berhari-hari aku cicil untuk membacanya. Aku menjalani ujian pertama dengan setengah percaya diri dan setengah lagi pening. Yang membuat pening adalah terlalu banyak yang harus aku pahami dan hapal dalam kurun beberapa hari. 

"Tafadhal ya akhi,” undang Ustad Ahsan ketika aku mengetok ruang ujian lisan. Di luar dugaanku, suasananya sangat cair, seperti diskusi antara dua orang kawan lama tentang perjalanan keilmuan mereka. Tidak ada pertanyaan menyudutkan untuk menjawab iya dan tidak. Pertanyaan lebih menggiring aku untuk memperlihatkan pemahaman besarku 
terhadap sebuah ilmu. Misalnya, “coba sebutkan sebuah kalimat lengkap berbahasa Arab dan uraikan fungsi dan tata bahasa kalimat itu sejelas mungkin”. Secara global aku bisa menjawab, tapi begitu masuk ke detail dan contoh konkrit, aku harus berjuang memaksa mesin ingatanku bekerja keras. 

Keluar dari ruangan ujian lisan ini, aku berkali-kali membisikkan alhamdulillah. Sebuah tantangan besar telah aku lewati dengan lumayan meyakinkan.

Sepuluh hari ujian lisan aku selesaikan juga dengan terengah-engah. Kami punya waktu istirahat sebelum ujian tulis. Kesimpulanku setelah ujian lisan: aku perlu membaca ulang beberapa buku khususnya yang berhubungan dengan Arabiyah, supaya lebih siap untuk ujian tulis. 

Selang beberapa hari kemudian, kami masuk ke babak akhir dari perjuangan thalabul ilmi kami di PM: ujian tulis. Aku merasa jauh lebih tenang menyambut ujian tulis, dibanding ujian lisan. Walau semua pertanyaan nanti berbentuk esai, tapi bagiku, menulis adalah proses yang baik untuk merekonstruksi semua materi yang pernah aku baca. Dan ada cukup waktu untuk berpikir tanpa harus ditatap dengan mata tidak sabar oleh penguji ujian lisan. 

Minggu pertama ujian tulis aku lewati dengan cukup baik. Paruh keduanya mulai terseok-seok karena stamina sudah terkuras dan bosan sudah datang. Benar adanya istilah “ujian diatas ujian”. Imtihan nihai bukan hanya sekadar membuktikan seberapa banyak ilmu yang telah diserap otak, tapi seberapa kuat seorang siswa melawan tekanan waktu, 
kebosanan, psikologis dan fisik. Siapa yang bisa mengatasi semua faktor itu, maka dia adalah pemenang. 

Setelah sebulan yang melelahkan, ujian kelulusan ini ditutup dengan ujian Peradaban Islam, sebuah pelajaran yang sangat aku sukai. Para ustad pengawas mengedarkan kertas soal dalam posisi terbalik di meja, tepat di depan kami masing-masing. Begitu lonceng berdentang, terdengar suara kresekan kertas ketika semua orang membalik kertas soal dengan harap-harap cemas. Apakah hapalan semalam akan ditanya, apakah soal pernah dibahas dengan teman-teman sebelumnya?

Aku telah merasa belajar banyak untuk ujian ini, bahkan membaca berbagai referensi tambahan di perpustakaan. Aku membalik kertas soal dengan percaya diri. Walau begitu, tidak urung aku kaget juga melihat apa yang ada di kertas soal ini. Di tengah kertas soal yang putih, hanya ada sebuah tanda tanya besar. Dan sebuah pertanyaan: “Apa kisah sejarah Islam yang paling menginspirasimu? Beri kritik.” 

Seperti gaya mengajarnya yang inventif, Ustad Surur juga memberikan soal ujian yang tidak lazim. Hanya satu soalnya itu saja dan tidak ada petunjuk lain. Kami bebas menulis selama 1 jam untuk menjawab soal ini. 

Aku termenung sejenak. Pertanyaan yang menantang dan menggairahkan. Begitu banyak yang menginspirasi, begitu banyak buku yang telah aku baca beberapa bulan ini, begitu 
banyak cerita Ustad Surur yang inspiratif. Tapi yang manakah yang akan aku pilih? 

Akhirnya aku memutuskan untuk bercerita tentang topik yang selalu membuatku terpukau. Yaitu tentang masa keemasan Islam di ranah Eropa pada abad ke-8 sampai ke-I5. 
Waktu itu kota-kota penting Islam di Spanyol seperti Toledo, Valencia, Granada, Cordoba, Malaga dan Seville mencapai puncak peradaban dan Universitas Cordoba dan Palacio de la Madraza di Granada menjadi tujuan orang Eropa untuk belajar ilmu mulai kedokteran sampai ilmu falak. 

Aku juga menuliskan sosok Ibnu Rusyd yang sungguh keterlaluan pintarnya. Dia lahir di Spanyol pada abad ke-I2 dan ikut berperan mempengaruhi filosofi pemikiran Thomas 
Aquinas dan Albert the Great. Dikenal di Eropa dengan nama Averrous, dia dianggap tokoh yang mampu mempertemukan agama dengan filosofi. Dia sosok ilmuwan super dan multi 
talenta: selain ahli hukum, dia juga dikenal menguasai ahli aritmatika dan kedokteran. Untuk bidang kedokteran, Ibnu Rusyd menulis 16 jilid buku Kulliyah fi Thibb yang lalu 
diterjemahkan ke bahasa Inggris dengan judul General Rules of Medicine dan dipakai di sekolah-sekolah Eropa. Total buku karangannya 78 buah yang melingkupi bidang ilmu falak, matematika, astronomi, filsafat, logika, fiqh, dan sastra. Seseorang yang sungguh ajaib! Bahkan salah satu bukunya, Bidayatul Mujtahid yang membahas perbandingan berbagai mazhab kami pakai sehari-hari di kelas. Bayangkan! Aku berguru kepada seorang jenius Muslim dari abad ke-12. 

Nah, sekarang untuk bagian kritik, aku meminjam pendapat orang pintar yang “keterlaluan” lainnya, Ibnu Khaldun. Lahir di 
Spanyol abad ke-13, dia adalah ahli hukum, sejarah, sosiologi, sekaligus filsuf. Dalam buku terkenalnya, Mukaddimah dia menerangkan pasang surut suatu dinasti mengikuti sebuah 
hukum universal. 

Menurut hukum itu, suatu budaya baru selalu dimulai dari semangat solidaritas kelompok yang sangat kuat. Kelompok ini lalu menjadi penguasa dan membangun budaya dan 
peradaban yang kokoh. Tapi begitu kekuasaan terbentuk, mereka menjadi lengah, muncul kecemburuan dan satu sama lain berebut kekuasaan. Fase berikutnya, mereka menjadi 
lemah dan gampang ditaklukkan oleh sebuah kelompok yang baru. Yang punya semangat solidaritas kelompok yang lebih baru lagi, seperti yang pernah mereka punyai dulu. Dan siklus ini terjadi berkali-kali. Ambruknya peradaban Islam di Spanyol juga terjadi karena kesalahan yang sama. 

Aku menuliskan di lembar jawaban esaiku, bahwa sungguh mengasyikkan mempelajari kejayaan Islam zaman dulu mulai dari masa Dinasti Nasrid di Spanyol, Safavid di Iran, Mogul di India, Ottoman di Anatolia, Syria, Afrika dan Timur Tengah. Tapi juga menyedihkan karena semua ini berkesudahan dengan kemunduran. Dan lebih menyedihkan lagi adalah kebiasaan umat Islam bernostalgia dengan kejayaan tua yang 
mangkrak itu. 

Sebagai penutup, aku menuliskan bahwa sudah saatnya romantisme ini dilihat dari sisi yang lain. Bukan untuk dikenang dan dibangga-banggakan, tapi untuk mengambil hikmah dari masa lalu dan berjuang untuk membangun 
peradaban yang lebih kokoh lagi. 

Berlembar-lembar kertas lancar kuhabiskan. 

Semoga Ustad Surur terkesan dengan jawaban dan kritikku ini. 

Kalau beberapa ujian sebelumnya aku lewati dengan mengecewakan, ujian yang terakhir ini memberi optimisme bahwa aku memang telah belajar dengan baik. Begitu bel berdentang menandakan waktu habis, kami semua bersorak dan berdiri merayakan keberhasilan menyelesaikan ujian maraton sebulan penuh ini. Ujian Peradaban Islam ini sungguh telah mengobati hatiku. 

Lembar jawaban aku serahkan kepada ustad pengawas dengan senyum lega. Rasanya hari ini adalah hari pembebasan dan kemerdekaan. Rasanya seperti melunasi hutang besar dengan tunai. Selesai sudah perjalanan 
panjangku empat tahun di PM, selesai sudah ujian maraton yang melelahkan jiwa dan raga. 

Yang jelas hatiku puas dan tentram karena merasa telah melakukan yang terbaik, berusaha berbuat di atas rata-rata orang dan telah berdoa dan bertawakkal. Hanya Allah yang Maha Mengatur segala hal. 

Kini saatnya aku melihat hari ini dan esok. Ke mana aku setelah PM?

Suasana di bawah menara sore itu meriah. Dari tadi kami tidak henti-henti tersenyum dan tertawa terpingkal-pingkal mendengar cerita Said dan Atang yang mengaku pernah tertidur di ruang ujian. Raja, Dul dan aku bercerita bagaimana kami telah mengurangi mandi selama ujian karena tidak mau kehilangan waktu antri panjang di depan kamar mandi. Tapi tidak seorang pun yang mau membicarakan soal ujian lagi. 

“Kalau begini, aku kangen mendengar Baso ribut membolak-balik buku untuk memastikan jawaban ujiannya benar,” kata Raja tersenyum tanpa suara. Dia merogoh saku bajunya dan mengeluarkan secarik kertas putih. Dia 
mengangsurkan ke tangan kami. “Nih, baru sampai. Surat buat kita” 

Sebuah surat bertuliskan Arab gundul yang rapi. Dari Baso. Aku membacakan buat kawan-kawan. 

“…..Saudara-saudaraku. Kalau ingatanku tidak salah, kalian tentu sekarang sudah hampir menyelesaikan “pesta” ujian akhir. Aku doakan kalian lulus semua. Sayang sekali aku tidak 
bisa ikut pesta ini. Sejujurnya, aku kangen dengan ujian di PM.

Nenekku masih sakit, tapi kedatanganku untuk merawatnya membuat dia tampak lebih kuat. Hari-hariku juga cukup sibuk. Setiap pagi aku berjalan ke desa sebelah untuk mengajar Bahasa Arab dan mendalami hapalan Al-Quran dengan Tuanku Haji Gutu Mukhlas Lamaming. Menjelang zuhur aku kembali pulang untuk menyuapi nenek. Malam harinya aku habiskan untuk membaca buku untuk persiapan ujian persamaan dan tentunya menghapal Al-Quran. Alhamdulillah, kemajuan hapalanku luar biasa, sekarang sudah hampir 20 juz. 

Aku yakin, Tuhan akan mempertemukan kita lagi suatu hari kelak…..”

Aku melipat surat Baso sambil tersenyum. Kawan-kawanku yang lain mengangguk-angguk kecil mengulum senyum. Rupanya rahang yang kehilangan gigi geraham sudah mulai sembuh. 

Malam itu, kami kembali berkumpul di aula, yang kali ini sudah dirombak dari kavling kelompok belajar menjadi kursi dan meja yang berjejer-jejer. Muka belajar kami yang tegang 
kini berganti gelak dan tawa yang pecah di sana-sini. Kiai Rais dan para guru duduk di panggung, menghadap kami. Kebiasaan di PM, sebuah ujian dibuka dan ditutup dengan 
pertemuan yang dipimpin Kiai Rais. Inilah Malam Syukuran Ujian Akhir. 

Dengan wajah bercahaya, Kiai Rais mengangkat kedua tangan seakan menyambut pahlawan dari medan perang. “Selamat datang para pejuangku. Yang telah sukses berjuang menaklukkan ujian akhir yang panjang… Anak-
anakku semua adalah pemenang…” Kami bertempik sorak, melepaskan segala sisa-sisa 
ketegangan ujian. 

“Dengan bahagia, selaku pimpinan pondok, saya laporkan bahwa sama sekali tidak ada korban jiwa dalam ujian kali ini,” candanya. Kami tertawa terbahak-bahak. 

“Dan kalian lebih baik daripada Napoleon Bonaparte, yang tidak pernah mau ikut ujian.” 

Sekali lagi kami tertawa. 

Pepatah andalan Kiai Rais yang selalu mengundang geerr dan terus muncul di setiap acara syukuran habis ujian dan menjelang libur adalah, “Dulu menjual mengkudu sekarang 
menjual durian, dulu tidak laku sekarang jadi rebutan. Dengan bertambahnya ilmu kalian di sini, kalian akan semakin dibutuhkan di masyarakat.”



Bersambung... 

______________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...