"A DATE ON THE ATLANTIC"
Samudera Atlantik, Desember 2003
“Would you like something to drink, Sir?” tawar sebuah suara merdu beraksen British yang lengket. Aku tergeragap dan mengucek-ngucek mata. Pelan-pelan bagai lensa auto focus, pandanganku menajam. Seorang perempuan berambut merah sebahu berdiri dengan mengibarkan senyum. Tangan kirinya memegang poci kopi dan kanannya poci teh. Kedua ujung poci mengepulkan asap tipis-tipis.
“A cup of tea would be lovely” sahutku. Aku agak memaksa menggunakan gaya orang British yang katanya suka menggunakan kata “lovely”.
“Certainly, Sir.” Dia mencurahkan isi poci putihnya ke cangkirku. Aroma teh camomile yang nyaman meruap, menyentuh hidungku. Aku seruput minuman hangat ini lambat-lambat. Masya Allah, nikmatnya tak terkata.
Kenikmatan ini lengkap dengan pilihan in-flight entertainment yang lengkap. Aku mengambil earphone dan sibuk dengan remote control, mengabsen acara yang menarik hati.
Penerbangan Washington DC – London dengan British Airways sungguh nyaman. Aku tertidur nyenyak hampir 4 jam. Sebuah tidur yang penuh mimpi. Mimpi yang deras dengan
kenangan hidupku masa lalu bersama 5 orang bocah nusantara yang terdampar di sebuah kampung di Jawa dalam misi merebut mimpi mereka. Tiba-tiba layar kecil di depanku berhenti menayangkan Lalu terdengar pengumuman.
“This is the Captain speaking, Ketinggian 35,000 feet, tepat di atas MDPL tiga jam, kita akan mendarat di HeaMSK pengumuman sang kapten mengalir ke (MP3| sumpalkan di kedua daun telinga.
Beberapa jam lagi, aku akan bertemu dengan itu. Sebuah kesempatan yang sangat langkah akan menerima hadiah sayembara besar, tiba-tiba Si rambut merah datang lagi dengan senyuman customer service yang sama.
“Sir, kami punya beberapa pilihan ciejseit afti Apakah Anda tertarik mencoba?”
“What do you have to offer?”
“Kami punya chocolate baklava, qatayef with cheese dan Arabian ice cream with date.”
“Sepertinya yang terakhir enak, boleh minta yang itu”
“Certainly, Sir.”
Dengan rapi dia meletakkan sebuah es krim berwarna krem, ditaburi hazelnut dan dipuncaki sebutir korma yang mengkilat-kilat. Sebuah kartu kecil bercorak gambar kubah menemani pesananku.
Tulisannya: This Ajwa date is imported from a natural farmoff Jeddah. Believed b muslims as the favorite fruit of the Prophet Muhammad. Enjoy your dessert”.
“Hmmm… kurma ajwa, kurma kesukaan Rasulullah”. Ku-kudap sebiji kurma ini. Rasa manisnya yang segar meresap ke saraf lidahku. Rasa ini diproses di otak yang berkelebat mencari simpul koneksi yang sama dalam memoriku. Seketika rasa ini melempar ingatanku kembali ke PM, ketika kami naik
kelas enam, kelas pemuncak di PM.
Bersambung...
______________________________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar