"Asu buntung! Kaubawa ke mana aku ini?" tanya Sakum sengit.
"Ke dekat barisan kuda lumping."
"Mampus kamu! Ini bukan dekat barisan kuda lumping. Bau busuk ini pasti ulah tukang balon gas, bukan?"
Anak itu tertawa lalu memutar kepala ayahnya.
"Punten, punten."
Upacara diakhiri dengan pawai. Gempita dan kepalan tinju menjalar ke segenap penjuru kota kecamatan itu. Dua-tiga anak sekolah yang jatuh pingsan karena sengatan matahari tidak mengurangi sedikit pun gelora massa.
Menjelang tengah hari segala keramaian surut. Dawuan kembali sepi, bahkan pasarnya lebih sepi dari hari biasa. Bersama orang-orang Dukuh Paruk, Sakum pulang. Anaknya tidak lagi didukung di atas pundak. Kini anak itu menjadi tongkatnya. Dalam dunianya yang gelap Sakum masih mencoba memahami keramaian yang baru saja diikutinya. Semua orang tahu perayaan Agustusan tahun ini luar biasa ramai. Jauh lebih ramai daripada tahun-tahun sebelumnya.
Bagi Sakum hura-hura hari ini tanpa makna betapapun keras dia berusaha menangkapnya. Dia sudah mendengar, bukan mengerti, bahwa perayaan hari ini demi mengagungkan hari kemerdekaan, bukan kemerdekaan itu sendiri. Sementara itu konsep tentang kemerdekaan baginya adalah bagian dari antah-berantah. Baginya hidup ini harus dijalani dengan pasrah, dengan atau tanpa apa yang sering
dikatakan orang kemerdekaan.
Mengapa Sakum tidak tahu bahwa teman-temannya sesama orang Dukuh Paruk tidak lebih beruntung meski mata mereka awas? Mereka juga tidak menangkap makna istimewa yang dibawa hari ini, sejarah hari ini. Mereka tidak mengerti makna pidato, tanda-tanda gambar partai, atau slogan-slogan yang telah
dilihatnya memenuhi lapangan kecamatan Dawuan. Bukan hanya karena mereka sepenuhnya buta huruf. Lebih dari itu. Dalam tradisi hidup mereka ikatan kesetiaan dan kebersamaan nyaris tak pernah menerobos ke luar batas Dukuh Paruk. Politik dalam sisi pandang yang paling bersahaja tak pernah munculdi pedukuhan terpencil itu. Tatanan hidup mereka adalah tradisi yang berdasar pada ikatan darah keturunan. Kesetiaan mereka berpusat pada cungkup di puncak sebuah bukit kecil di tengah Dukuh Paruk,
makam Ki Secamenggala. Dan kedaulatan Dukuh Paruk digembalakan oleh seorang kamitua.
Suatu ketika datang seseorang ke Dukuh Paruk menawarkan gambar-gambar partai. Dikatakannya gambar itu adalah perlambangan rakyat tertindas.
Mula-mula Sakarya tertarik karena orang pendatang itu sering kali dan berulang-ulang menyebut kata "rakyat". Kata itu bagi Sakarya tidak bisa lain kecuali bermakna kaula. Siapa pun di Dukuh Paruk merasa dirinya kaula. Tetapi Sakarya kemudian bangkit menghentikan cakap orang pendatang itu ketika dia mulai berbicara tentang rakyat melarat korban kaum penindas yang jahat.
"Siapakah yang sampean maksud dengan rakyat korban kaum penindas itu?"
"Nah! Misalnya sampean sendiri bersama semua warga Dukuh Paruk ini. Darah kalian diisap habis sehingga hanya tertinggal seperti apa yang kelihatan sekarang; kemelaratan! Ditambah dengan kebodohan dan segala penyakit. Kalian mesti bangkit bersama kami."
"Nanti dulu. Menurut sampean kami adalah rakyat yang tertindas. Apa sampean tidak keliru? Kami sama sekali tidak merasa tertindas, sungguh! Sejak zaman dulu kami hidup tentram di sini."
"Itulah. sampean tidak mengerti bagaimana cara mereka melakukan penindasan terhadap rakyat. Sejak zaman nenek moyang sampean, kaum penindas itu telah melakukan kejahatannya. Cara mereka telah menyejarah. Lihatlah akibat kejahatan mereka di sini. Semua orang kurang makan! Semua orang bodoh dan sakit. Anak-anak cacingan dan kudisan. Anak-anak kalian di sini sungguh-sungguh hidup tanpa harapan."
"Yang sampean maksud dengan kaum penindas?"
"Kaum imperialis, kapitalis, kolonialis, dan para kaki tangannya. Tak salah lagi!"
"Wah, kami bingung, Mas. Kami tak pernah mengenal mereka. Cerita sampean kedengaran lucu. Pokoknya begini, Mas. Sejak dulu beginilah yang bernama Dukuh Paruk. Kami senang hidup di sini, karena itulah kepastian yang kami terima. Kami tak pernah percaya ada sesuatu yang lebih baik daripada kepastian itu. Dan kekeliruan besar bila sampean berharap akan mendengar keluhan kami. Boleh jadi benar kami bodoh, miskin, dan sakit. Tetapi itulah milik kami pribadi. sampean tak usah pusing memikirkannya. Lucu, kan?
Kami sendiri merasa biasa-biasa saja. Kenapa orang lain mesti repot?"
"sampean yang lucu karena tidak tahu dan tidak mau tahu akan sejarah?"
"Wah, sekarang sejarah. Apa pula itu, Mas"
"Sejarah itu sesuatu yang amat perkasa. Kalian tidak bisa menolak apalagi melawannya. Dan sampean akan digilasnya bila tetap diam dalam ketololan. Tunggu saja!"
"Yang paling perkasa itu yang murbeng dumadi, Mas. Yang telah menentukan kami hidup di Dukuh Paruk ini, yang telah memastikan hidup kami seperti ini."
Jadi Dukuh Paruk masih tetap Dukuh Paruk meskipun pada tahun 1964 itu dunia di luarnya sedang berhura-hura. Pidato di mana-mana. Gambar-gambar simbol partai di mana-mana dan pawai di mana-mana. Dukuh Paruk tetap tenang ditunggui oleh cungkup di puncak sebuah bukit kecil di tengahnya.
Atau sekedar Sakarya, kamitua pedukuhan kecil itu yang tak pernah lengah membaca sasmita alam. Dia merasakan datangnya hari-hari beringas. Hari-hari ketika orang-orang meninggalkan pekerjaan buat berhimpun di tanah lapang. Hari-hari ketika jalan penuh manusia mengepal tangan serta teriakan lantang. Semuanya mengingatkan Sakarya akan sebatang pohon kelapa yang ditiup angin. Bila angin bertiup dari utara pohon itu akan meliuk ke selatan. Bila angin reda pohon kelapa itu tidak langsung kembali tegak
melainkan akan berayun lebih dulu ke utara. Bagi Sakarya hura-hura di luar Dukuh Paruk adalah angin kencang yang meniup kehidupan. Seperti pohon kelapa itu: sebelum kehidupan kembali tenang lebih dulu harus terjadi sesuatu.
Tetapi sesuatu itu tak bisa diraba oleh daya pikir siapa pun di Dukuh Paruk, tidak juga Sakarya. Padahal sepanjang hidupnya yang tidak pernah berhenti dari mengikuti irama dan keberimbangan alam, Sakarya telah memperoleh cukup kearifan. Bahwa suatu keluarbiasaan harus dibayar dengan kerusakan keberimbangan. "Jangan tertawa terlalu terbahak-bahak, sebab nanti akan segera menyusul tangis sedih," demikian sering dikatakan Sakarya kepada anak-cucunya di Dukuh Paruk.
Entahlah. Yang terjadi malam itu di Dukuh Paruk adalah kegembiraan yang luar biasa. Hampir semua warganya keluar mengiring Srintil yang hendak meronggeng pada malam perayaan Agustusan di Dawuan. Inilah penampilan pertama ronggeng Dukuh Paruk pada sebuah arena resmi; suatu hal baru yang
membawa kebanggaan istimewa.
Malam itu semangat kota kecil Dawuan berpusat di lapangan sepak bola dekat kantor kecamatan. Sebuah panggung yang lebar, setinggi satu meter didirikan orang pada salah satu sudutnya. Dawuan belum mengenal aliran listrik. Tetapi malam itu banyak sekali lampu neon di sekitar panggung. Suara generator
yang bising, anehnya, mendatangkan kebanggaan orang. Rupanya semua orang melupakan suara bising karena toh dari sanalah tenaga bagi lampu-lampu neon yang mengagumkan itu. Bagi sebagian besar orang
yang menyemut di sekitar lapangan adalah sesuatu yang luar biasa, ada cahaya terang-benderang tetapi tanpa minyak.
Rombongan dari Dukuh Paruk disambut dengan sinar mata serta wajah-wajah berseri. Para penabuh dengan perangkat calungnya diterima panitia. Mereka ditempatkan di belakang panggung. Tetapi Srintil bersama Nyai Kartareja dipersilakan duduk bersama ibu-ibu pejabat kecamatan Dawuan.
Srintil menemukan dirinya kembali utuh sebagai seorang ronggeng yang telah matang. Suasana panggung yang megah menghidupkan seluruh permukaan kulitnya. Dan cahaya matanya. Barangkali pada saat itu
baru kali pertama indang ronggeng benar-benar merasuk sepenuhnya. Dari sosoknya terpancar wibawa dan pesona luar biasa. Dia duduk tenang, setenang kembang soka di depan cungkup makam Ki Secamenggala.
Pandangan matanya adalah cahaya penuh harga diri, mantap, dan dalam ketenangan pandangan mata itu terpancar tenaga yang melumpuhkan.
Srintil sesudah berusia delapan belas adalah Srintil yang telah mengalami perihnya upacara bukak-klambu, juga sudah merasakan getirnya ditampik laki-laki idaman. Pada usia semuda itu Srintil juga sudah menjelajahi dunia perhubungan dengan sekian puluh lelaki. Dan jauh sebelum itu tanah airnya, Dukuh Paruk, telah menempanya dalam kemiskinan yang mengakar. Sejarahnya pahit yang pasti layak
membuatnya kusut, malu, dan tanpa harga diri. Apalagi saat itu Srintil duduk di antara kaum perempuan yang paling bermartabat di kecamatan Dawuan.
Sorot neon pertama di Dawuan menjadi saksi bahwa yang terjadi pada diri Srintil adalah sesuatu yang khas Srintil. Latar sejarahnya yang melarat dan udik ibarat beribil. Tahi kambing itu meski busuk dan menjijikkan namun mampu menyuburkan daun-daun tembakau di tanah gersang, tidak tercabik-cabik oleh sejarahnya. Sebaliknya, Srintil bangkit membentuk dirinya sendiri dengan sejarah keterbelakangannya. Hasilnya mulai terpapar di bawah sorot lampu neon itu. Srintil menjadi pusat suasana, menjadi daya tarik
suasana dan Srintil duduk menguasai suasana.
"Itukah rupanya si Anak Dukuh Paruk itu?" bisik Ibu Camat kepada perempuan di sebelahnya. Ibu Wedana.
"Ya, itulah dia."
"Aku baru melihatnya dengan jelas sekarang."
"Bagaimana? Cantik? Kenes?"
Hati Ibu Camat risau. Tetapi perasaan itu tersembunyi di balik senyumnya yang tawar. Kejujurannya mengakui keunggulan ronggeng Dukuh Paruk itu. Lebih cantik daripada dirinya, bahkan seandainya Ibu Camat masih sebelia Srintil. Dengan gerakan yang amat licik mata Ibu Camat menoleh kepada deretan kursi para lelaki. Hatinya makin kacau ketika melihat kenyataan hampir semua mata laki-laki di sana terarah kepada Srintil. Tak terkecuali mata suaminya. Ibu Wedana tersenyum. Ikhlas senyumnya karena baginya sama saja; ronggeng cantik atau ronggeng bopeng takkan membahayakan kehidupan rumah tangganya. Karena suaminya sudah tua dan impoten.
"Lihat, kondenya terlalu tinggi, kan?"
"Memang," jawab Ibu Wedana tenang saja.
"Tetapi itu sengaja. Nanti Srintil akan pamer tengkuk."
"Kebayanya berantakan kukira. Potongannya acak-acakan."
"Apa pun kebayanya takkan menjadi soal. Toh nanti akan dibukanya. Dan, lihat saja. Di balik kebaya itu masih terlihat bentuk pundaknya yang amat serasi. Apalagi nanti bila pundak itu tampil telanjang."
Ibu Camat merengut. Entah dengan alasan apa dia minta diri dan berpindah ke sebelah Ibu Komandan Polisi. Sekali lagi Ibu Wedana tersenyum. Kali ini senyum kemenangan. "Siapa bilang mempunyai suami impoten sama sekali tidak beruntung?" Di sebelah Ibu Komandan Polisi, kasak-kusuk Ibu Camat berlanjut.
"Meski cantik, tetapi kesan udiknya sangat kentara."
"Ya, memang. Aku sendiri menjadi risi, jadi ingin tahu, siapa, laki-laki mana, yang menempatkan anak udik itu duduk bersama kami."
"Mbakyu benar. Akan kuminta suamiku menyuruh orang..."
"Suruh apa?"
"Memindahkan anak Dukuh Paruk itu ke tempat lain." Ibu Camat hendak bangkit.
Pada saat yang sama Srintil bangkit. Menoleh ke arah dua ibu yang kasak-kusuk, dengan senyum yang paling aneh. Senyum seorang rani dari atas singgasananya. Ibu Camat berhenti pada gerakan yang janggal. Ibu Komandan Polisi berpura-pura membuka tas tangannya. Tetapi dari tempatnya yang agak terpisah Ibu Wedana tertawa terkekeh. Perang dingin itu berlangsung setengah menit, pada saat mana mata Srintil memancarkan cahaya lembut namun mampu membungkam semangat perempuan-perempuan di
sekelilingnya. Kejanggalan itu berakhir ketika Nyai Kartareja menarik Srintil agar duduk kembali.
Dan Srintil duduk kembali. Tersenyum kembali dengan keanehan yang sama. Senyum gadis panggung yang selalu merasa setiap malam hiburan adalah miliknya yang paling sah. Mendung menyaput deretan kursi kaum perempuan. Wajah Ibu Camat merah padam. Rasanya, baru sekali ini dia dilangkahi oleh perempuan lain, dan justru oleh seorang yang di matanya tidak lebih dari sundal. Hatinya bergolak. Tetapi tenaga ajaib mana yang telah melumpuhkannya? Ibu Camat hanya bisa terpaku di kursinya. Terkalahkan oleh senyum dan sinar mata anak udik dari Dukuh Paruk. Senyum kecil serta kerlingan mata bisa membuat sakit jauh lebih hebat dari pukulan tangan: ungkapan ini sedang dirasakan kebenarannya oleh Ibu Camat.
Kegelisahan Ibu Camat serta perempuan-perempuan lain tersisih karena acara hendak dimulai. Seperti ketika pagi hari upacara diawali dengan pidato serta teriakan para pengunjung yang gemuruh. Lebih seribu tangan mengepal di udara. Mereka begitu sengit mengganyang musuh. Musuh itu dilukiskan dalam kata-kata penuh retorika oleh pembicara secara amat pintar sehingga para pengunjung seakan melihat setan yang demikian jahat dan harus segera dilumpuhkan. Pengganyangan berlangsung lancar dan musuh tercabik-cabik, mati oleh semangat massa. Meski hanya berlangsung dalam kata-kata plus kepalan tinju, namun kelihatan memuaskan. Pembicara turun dalam iringan tepuk tangan yang panjang dan riuh. Menang!
Acara hiburan dimulai. Seorang pengantar acara menaiki pentas. Laki-laki dengan mata burung hantu itu mengatakan penuh semangat bahwa revolusi saat ini menuntut pengabdian habis-habisan tak terkecuali dari para seniman. Dan meskipun kebanyakan pengunjung telah maklum laki-laki itu mengatakan, rombongan musik keroncong mewakili kekuatan politik ini, rombongan pencak silat mewakili itu, serta
ronggeng Dukuh Paruk mewakili yang lain lagi. Ketiga-tiganya telah bersatu-padu, seia-sekata ikut mengganyang musuh melalui pengabdian seni.
"Dan ronggeng Dukuh Paruk itu," ujarnya dengan tekanan kata yang istimewa, "mereka adalah seniman-seniman rakyat! Rakyat yang perkasa, rakyat yang demikian tangguh, sehingga mereka masih tetap menyanyi dan menari meskipun telah berabad-abad hidup tertindas. Sebentar lagi Srintil dan kawan-kawannya akan tampil di pentas ini. Tetapi jangan salah. Apa pun yang disajikannya tidak bisa lain daripada sebuah makna tuntutan kebebasan! Bebas dari penindasan kaum imperialis, kapitalis, dan kolonialis bersama antek-antek mereka. Sekali lagi, bebas!"
Dari salah satu sudut lapangan terdengar sorak-sorai yang riuh. Terasa sekali hura-hura itu diatur dengan komando. Terasa sekali ada usaha lebih menonjolkan peran rombongan ronggeng Dukuh Paruk di antara rombongan kesenian lain. Di tempat berkumpul di sisi panggung, Sakarya melirik rekannya Kartareja.
Keduanya tidak paham akan ucapan-ucapan pengantar acara apalagi maknanya. Tetapi setidaknya kedua orang Dukuh Paruk itu merasakan ada kejanggalan. Sepanjang pengetahuaannya ronggeng tak memerlukan
pengantar kata yang macam-macam sebelum mulai berpentas.
"Aku khawatir, Kang," kata Sakarya.
"Bagaimana?"
"Jangan-jangan kita melakukan kesalahan. Pentas kita kali ini dilakukan menyimpang adat. sampean mendengarkan ucapan-ucapan pengantar acara tadi?"
"Ya," jawab Kartareja. "Tetapi bagaimana, ya. Kita di sini menjadi orang yang diatur."
"Aku dilarang mereka membakar dupa, Kang. Juga syarat-syarat lainnya. Wah, hatiku sungguh tidak enak. Bisa terjadi apa-apa nanti."
"Benar, Kang. Mereka tidak tahu bagaimana jerih kita membujuk Srintil agar mau kembali menari. Nah, sekarang Srinfil sudah mau, tetapi mereka kelihatan tidak menghargai tata cara pementasan ronggeng."
"Aku mau pergi, Kang."
"Pergi? Ke mana?"
"Ke luar. Aku percayakan kepada sampean pengaturan atas anak-anak."
Kartareja maklum. Rekannya harus berbuat sesuatu yang berhubungan dengan arwah Ki Secamenggala. Di tempat yang penuh manusia hal-hal semacam itu tak mungkin dilakukannya.
Pergelaran musik keroncong sudah dimulai. Suasana yang tercipta oleh nada-nada klangenan membuat para pengunjung terpilah-pilah. Ketika seorang pemuda necis membawakan lagu Jenang Gula, banyak
orang terkesima; hanyut terbawa ombak melankolik. Srintil menatap lurus ke arah pemuda yang berpakaian bersih dengan dasi kupu-kupu itu. Hatinya ikut bernyanyi. Tetapi dari sudut tertentu mulai terdengar kasak-kusuk. Kemudian sebuah suara mencuat entah dari mana.
"Turun, turun! Kami tidak doyan ngak-ngik-ngok imperialis! Turun!"
Si pemuda yang segera tanggap tidak menuruti ocehan dari sudut lapangan itu. Dia cukup pintar dengan cara mengganti lagunya. Para pemain diaturnya sejenak. Kemudian berkumandanglah Genjer Genjer, sebuah lagu daerah yang entah mengapa menguasai udara tanah air pada tahun 1964 itu. Semangat dan
kegembiraan pengunjung terbakar kembali. Banyak orang bangkit dari tempat duduk agar bisa lebih leluasa bertepuk tangan atau bahkan ikut tarik suara. Suasana sungguh meriah membahana.
Anehnya Srintil makin membeku di tempat duduknya. Bukan karena tidak terbawa suasana. Di dalam hatinya terjadi letupan kegembiraan yang hanya bisa dinikmati dalam diam.
"Namanya Murdo, Tri Murdo, putra penilik sekolah di Dawuan ini," bisik Nyai Kartareja kepada Srintil. Hanya orang yang berbakat mucikari segera menangkap apa yang terjadi dalam hati Srintil. Dia jugalah perempuan yang paling banyak tahu data tentang para lelaki di daerahnya. "Sekolahnya di Yogya. Di mataku Murdo adalah seorang anak muda yang bagus. Entahlah di matamu."
Srintil menepis tangan Nyai Kartareja, memberi isyarat agar perempuan tua itu tidak meneruskan kata-katanya. Srintil malu. Perubahan wajahnya begitu nyata sehingga Nyai Kartareja malah tertawa. Sebelum hiburan musik keroncong berakhir seorang laki-laki menemui Nyai Kartareja. Rombongan
ronggeng dimintanya menyiapkan diri karena waktu baginya hampir tiba. Sebenarnya, sesudah musik keroncong berakhir, tibalah giliran pertunjukan pencak silat. Tetapi tanpa penjelasan apa pun rombongan itu tidak hadir.
Nyai Kartareja membawa Srintil ke sebuah ruang tertutup di kantor kecamatan. Di sana Srintil bertukar pakaian. Tidak seperti beberapa tahun yang lalu, sekarang, tak ada yang kurang pas pada tubuh Srintil. Segala hiasan alami pada tubuhnya sedang berada pada puncak perkembangannya. Ketika kebaya dan kutang dilepas tampillah pesona sang Ratih. Lehernya yang segar menjadi perimbangan kedua pundak yang memiliki kesempurnaan bentuk. Kalung emas, cincin, serta tiga gelang berkilat dan mempertegas
keremajaan kulitnya. Giwangnya besar. Cahaya berjatuhan dari mata faset intan bila Srintil menggerakkan kepala sedikit aja.
Banyak orang menerobos masuk ingin melihat Srintil berdandan. Nyai Kartareja hanya mengusir ke luar mereka yang masih anak-anak. Bagi yang dewasa, istri dukun ronggeng itu hanya berpura-pura merasa keberatan. Tetapi sesungguhnya dia senang memperoleh kesempatan memamerkan kecantikan anak
asuhannya. Srintil melihat dirinya dalam cermin kecil yang dipegangnya. "Ya. Itulah diriku yang sebenarnya, yang demikian seharusnya. Tetap tersenyum dan gembira. Aku seorang ronggeng dan ronggeng!"
Ketika Srintil keluar diiringi Nyai Kartareja dirinya menjadi titik pusat pancaran ratusan pasang mata. Seorang laki-laki berjalan di depan menyibak kerumunan orang. Laki-laki ini langung membawa Srintil menuju panggung. Perangkat musik keroncong telah berganti dengan calung. Dan demi anu orang memberi kaca mata hitam kepada Sakum. Mula-mula Sakum menolak karena kebutaan adalah bagian hidup yang telah diterimanya tanpa rasa malu sedikit pun. Tetapi setelah dikatakan dia bertambah gagah dengan kaca mata itu Sakum menerimanya.
Srintil menapaki tangga panggung dengan iringan tepuk tangan yang riuh. Dari sudut tertentu slogan politik. "Hidup kesenian rakyat!" Tetapi Srintil tenang seperti awan putih bergerak di akhir musim kemarau. Memang, sejenak dia tertegun oleh luas serta benderangnya panggung. Dia hanya terbiasa
dengan arena beralaskan tikar pandan dan lampu pompa sebagai penerang. Kemudian segenap penonton menyaksikan bagaimana Srintil menempatkan dirinya secara mengesankan sebagai pemangku utama
kewibawaan panggung. Dia berdiri memutar badan ke arah semua penonton. Bibirnya sedikit ditarik sehingga terjadi keindahan lekuk di kedua ujungnya. Matanya berkilat seperti kepik emas hinggap di atas daun. Angkuh tetapi teduh. Srintil sedang memberi hormat kepada penonton tanpa harus menekan harga
dirinya.
Kemudian hening. Semua orang melihat Srintil merendahkan badan, duduk di hadapan para penabuh. Rombongan dari Dukuh Paruk sedang menunaikan tata cara mereka sendiri, mengheningkan cipta sebelum pertunjukan dimulai. Dan tak seorang pun mengerti apa yang sedang bergolak di hati Srintil. Dia sadar
betul dirinya sedang menjadi tumpuan pandangan lebih dari seribu pasang mata. Ada mata Ibu Camat, mata bapak ini, bapak itu, dan mata warga Dawuan. Namun Srintil menganggap tak ada beda antara sekian banyak mata itu. Baginya sama saja. Semuanya adalah mata Rasus. Di depan mata Rasus itu Srintil akan menunjukkan betapa dirinya mempunyai sekian banyak kelebihan. Sehingga meski sudah menjadi tentara Rasus sama sekali tidak berhak mengecilkan arti dirinya. "Kamu telah meninggalkan diriku dengan cara menyakitkan. Kamu takkan berbuat seperti itu bila kamu tidak ingin dirundung penyesalan yang mendalam. Lihat saja!"
Tidak diperlukan pengetahuan yang mendalam untuk mengatakan bahwa pada dasarnya tarian ronggeng adalah tiruan kasar tari gambyong, sejenis tari pemanasan berahi di kalangan para ningrat. Dalam perkembangan selanjutnya tari ronggeng meniru juga tari serimpi, tari Bali, dan tari topeng. Bahkan juga
tari Baladewa. Semuanya ditiru secara mentah, gaya jelata. Kadang tari-tari itu digabung tidak karuan sehingga dalam pentas orang bisa mengatakan lenggang-lenggok seorang ronggeng tidak lebih dari gerakan spontan, bermakna dangkal dan lebih ditekankan kepada kesan erotik.
Dan siapa pun yang mengikuti perkembangan Srintil sejak awal tidak akan menemukan
perubahan-perubahan dalam gaya tariannya meski dia hampir enam tahun menjadi ronggeng. Kecuali malam itu yang terbukti lain. Si buta Sakum justru yang pertama merasakannya. Sakum mendengar suara
gesekan kaki Srintil di lantai panggung. Dirasakannya kibasan sampur dan didengarnya getar suara Srintil. Semuanya berubah. Srintil seakan menari dalam keadaan marah. Andaikan mata Sakum awas tentulah dia
dapat melihat betapa Srintil mengangkat kedua lengannya lebih tinggi hingga tampak putih kulit ketiaknya. Goyang pundaknya lebih berani. Bila sedang pacak gulu mata Srintil tidak terarah kepada penonton seperti telah menjadi ciri khasnya. Mata Srintil menantang bintang-bintang. Senyum seorang ronggeng, apalagi bila dia sedang menari, tak pernah mempunyai makna lain kecuali ungunya bunga kecipir bagi kumbang atau merahnya kembang soka bagi kupu-kupu. Rayuan tanpa kata atau pemikat yang bertuah. Tetapi malam itu senyum Srintil tak mungkin diterjemahkan sebagai perayu atau pemikat. Tarikan kedua ujung bibirnya hanya menggambarkan hati penuh martabat. Kekenesan yang pongah meski menggemaskan.
Apabila Srintil telah bertekad hendak menundukkan seribu mata Rasus maka dia terbukti berhasil melakukannya. Selama menari terbayang olehnya Rasus yang runduk tak berdaya dan penuh penyesalan, mengapa dia telah tega membuat Srintil sengsara. "Apalah arti seorang Rasus," demikian pikir Srintil sambil meratui panggung, "bila seribu mata terkesima padaku. Di sana ada camat, ada wedana, ada Tri Murdo, dan entah siapa lagi. Mereka terpaku di tempat masing-masing membiarkan hati mereka menjadi bulan-bulanan, membiarkan perasaan mereka menjadi permainanku."
Srintil terus menari dalam semangat yang mengesankan. Gerakannya tetap penuh tenaga meskipun kulitnya mulai berkilat oleh keringat. Sampai babak kelima, saat yang biasa dia gunakan untuk beristirahat Srintil terus melenggang dan melenggok. Tentulah semua orang mengatakan semangat Srintil dipacu
semata-mata oleh suasana panggung yang luar biasa menurut ukuran seorang ronggeng. Atau oleh kenyataan jumlah penonton yang meluap dan termasuk orang-orang terpenting di Dawuan di antara mereka. Tak seorang pun mengerti Srintil sedang melampiaskan kemurkaan di alam bawah sadarnya. Tak
seorang pun tahu.
Kecuali Sakum. Laki-laki buta itu sudah terbiasa memahami sesuatu dengan intuisinya. Sakum ingin menghentikan Srintil. Dengan sikunya dia menggamit Kartareja yang kebetulan duduk di sisinya. Kartareja cepat mengerti maksud Sakum, tetapi tidak berani mengambil keputusan. Maka Sakum yang bertindak. Sentuhan irama calungnya dibuat sumbang dengan cara menyimpangkan nada tiada tertentu. Itulah cara yang sudah disepakati bila para penabuh ingin berbicara dengan ronggeng. Namun demikian Srintil terus menari. Baru setelah tiga buah lagu berlalu Srintil patuh akan aba-aba yang diberikan Sakum.
Lenyapnya suara calung menciptakan suasana yang mendadak janggal dan hampa. Kekosongan udara kemudian diisi oleh bisik-bisik dari kiri-kanan yang terus mengembang menjadi dengung merata di seputar lapangan. Orang-orang mendapat kesempatan melepas ketegangan setelah sekian lama berdiam diri
memampat kesan yang mendalam. Sesaat kemudian terdengar suara keras. "Terus, terus! Hidup Srintil. Hidup seniman rakyat."
"Sampean harus beristirahat, Jenganten. Jangan terlalu memaksakan diri. Tidak baik," kata Sakum.
Srintil duduk bersimpuh, menutup mukanya dengan ujung sampur. Layaknya dia sedang melap keringat. Tetapi hingga beberapa saat lamanya Srintil tetap dalam keadaan demikian. Dari samping terlihat pipi Srintil yang berubah pucat. Napasnya tersengal-sengal. Nyai Kartareja yang segera menangkap suasana
genting cepat naik ke panggung.
"Kenapa, Jenganten?"
"Pusing, Nyai. Pusing! Oh, hkk. Napasku sesak. Dadaku sesak!"
Nyai Kartareja merangkul Srintil. Dia langsung mengerti masalahnya genting karena Srintil tidak lagi menguasai berat badan sendiri. Dan terkapar di lantai panggung. Pekik Nyai Kartareja mengawali kekusutan di sana. Dalam sekejap arena sudah penuh orang. Kebanyakan hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun setidaknya seorang di antara mereka mengerti apa yang harus dilakukannya setelah menyadari Srintil dalam keadaan pingsan. Segala yang mengikat tubuh Srintil dikendurkannya. Kemudian dia bersiap membuat napas buatan. Namun sebelum Tri Murdo melakukannya Srintil telah siuman. Napasnya megap-megap seperti orang yang habis lama tenggelam. Sejenak dia kelihatan bingung. Matanya bergulir ke kiri dan ke kanan, Kemudian dia cepat bangkit ketika menyadari seorang berdasi kupu-kupu berdiri melangkahi tubuhnya. Wajahnya merah ketika beradu pandang dengan Tri Murdo.
Kekalutan masih berlangsung hingga beberapa lamanya meskipun Srintil sudah dituntun orang turun dari panggung. Tak kurang suatu apa. Orang-orang tidak percaya bahwa tak ada yang kurang beres pada tubuh ronggeng itu. Tetapi Srintil bersikeras bahwa dirinya tidak memerlukan pertolongan apa pun kecuali
sedikit waktu buat membenahi kembali pakaiannya lalu siap lagi naik panggung.
Hanya seorang yang tahu persis apa yang telah terjadi. Marsusi dalam pakaian penyamaran berdiri di balik bayang-bayang sebatang pohon. Tangan kanannya menggenggam sebuah botol kecil sebesar kelingking. Bila mulut botol itu ditutup dengan ibu jarinya maka terjadi heboh di panggung. Srintil tak bisa bernapas. Itu sudah sekali dibuktikannya. Dan sekali heboh belumlah cukup buat membalas kesumatnya terhadap ronggeng Dukuh Paruk itu. Dengan sabar Marsusi menanti kesempatan berikutnya.
Seperempat jam kemudian Srintil kembali menjadi fokus hidup yang mendaulat panggung. Dia menari seperti mengapung di udara; lincah dan bebas lepas. Kadang seperti burung beranjangan, berdiri di atas satu titik meski sayap dan paruhnya terus bergetar. Kadang seperti bangau yang melayang meniti arus angin. Suaranya yang timbul tenggelam dalam pengeras suara bahkan memberikan kesan lebih hidup, seperti sendaren layang-layang yang meliuk-liuk di angkasa.
Perasaan segenap penonton ikut mengapung bersama irama tarian Srintil. Mereka mengikuti setiap gerak ratu panggung itu dengan mata, dengan hati, dan dengan denyut jantung mereka. Ibu Camat dan Ibu Komandan Polisi dengan kebencian mereka. Ibu Wedana malah ceria karena melihat suaminya berjingkrak-jingkrak penuh gairah, persis seperti lelaki perkasa laiknya. Para penonton demikian
terpesona sehingga mereka bingung ketika melihat tiba-tiba Srintil berhenti, berdiri tak bergerak. Kedua lengannya yang merentang tinggi terpancang kaku. Mulutnya yang terbuka tetap dalam keadaan demikian hingga beberapa saat lamanya. Calung serentak berhenti. Kartareja melompat ke depan, menahan tubuh Srintil yang roboh ke belakang.
Gempar lagi. Banyak orang berlompatan ke atas panggung. Juga Pak Camat. Tetapi istrinya menahannya. Tri Murdo yang sejak tadi menonton di deretan kursi paling depan hanya dalam beberapa detik sudah menangani Srintil. "Apa kataku. Mestinya Srintil jangan menari lagi," katanya. Sementara petugas keamanan mengusir penonton yang berlompatan ke atas panggung. Tri Murdo berdua Nyai Kartareja berusaha menyadarkan Srintil. Kutang ketat yang membalut tubuh Srintil dari dada sampai
ke pinggulnya dibuka. Wajah Srintil biru, paru-parunya berhenti. Tetapi Tri Murdo yakin jantungnya masih berdenyut. Dia berdiri mengangkang tepat di atas perut Srintil menggerak-gerakkan kedua tangan ronggeng itu, membuat napas buatan. Tidak lama, karena kemudian Srintil tiba-tiba membusungkan dada menarik napas dalam-dalam. Megap-megap, mulutnya terbuka seperti ikan mujair. Dan terbelalak karena
setagen dan kutangnya sudah terbuka. Di atas perutnya berdiri laki-laki muda berpakaian putih berdasi kupu-kupu.
Srintil cepat duduk. Tri Murdo melangkah ke samping. Orang-orang hendak mengangkat tubuh ronggeng itu. Tetapi Srintil menolak. Nyai Kartareja merangkul dan membimbing Srintil turun dari panggung. Setelah keadaan sedikit reda pengatur acara mengumumkan bahwa pertunjukan kesenian malam itu usai.
Meskipun keadaan sedikit kalut tetapi laki-laki itu menutup acaranya dengan teriakan mengguntur. Penonton menyambutnya dengan teriakan bersama. Dan acungan seribu tangan mengepal. Penonton bubar dengan berbagai kesan pada diri mereka masing-masing. Namun kebanyakan dari mereka tidak menduga macam-macam. Yang terjadi atas diri Srintil adalah sebuah permainan; suatu hal yang tidak terlalu aneh bagi masyarakat Dawuan. Hanya sedikit orang menduga Srintil terkena ayan atau penyakit
lainnya.
Apabila Marsusi menghendaki nama Srintil ternoda oleh peristiwa di atas panggung ini maka dia keliru besar. Boleh jadi Marsusi merasa puas. Juga Ibu Camat atau Ibu Komandan Polisi. Tetapi ratusan lagi lainnya justru merasa bertambah simpati terhadap ronggeng Dukuh Paruk itu. Marsusi telah menyakiti burung perkutut milik umum. Beruntunglah Marsusi karena tak seorang pun tahu akan ulahnya.
Kecuali Kartareja.
Sejenak setelah Srintil sadar dia menyelinap di antara kerumunan pengunjung. Kartareja sudah menduga adanya tangan jail dan ingin segera tahu milik siapakah tangan itu. Tidak gampang mencari satu orang di antara ratusan pengunjung. Namun Kartareja sudah mengetahui cara yang paling gampang. Orang yang dicarinya pasti memiliki ekspresi wajah yang berbeda dan gerak-gerik yang tidak sama dengan semua pengunjung lainnya. Dan Kartareja melihat seorang yang bergegas meninggalkan arena. Pakaiannya hitam dengan ikat kepala wulung. Dikejarnya laki-laki yang kelihatan tegap itu.
"Tunggu sebentar, Mas," panggilnya. Laki-laki itu menoleh. Mata Kartareja membulat untuk lebih memahami wajah laki-laki itu. Mula-mula Kartareja ragu.
"Oh, sampean? Ah, mestinya sampean menonton bersama Pak Camat. Tak pantas di sini, bukan?"
"Yah, terkadang orang ingin menyendiri." Jawab Marsusi tenang. Kartareja tersenyum. Marsusi tersenyum. Dalam kebisuan mereka telah terjadi komunikasi yang intensif. Tetapi kejanggalan tidak bisa dihindari. Marsusi menawarkan rokok yang kemudian diterima oleh Kartareja, dan langsung menyulutnya.
"Pentasmu kali ini sedikit terganggu," ujar Marsusi.
"Yah, saya maklum. Saya mengerti perasaan sampean. Yang penting, sekarang perkara utang-piutang sudah tunai."
"Hm, ya."
"Ya."
"Dan itu..."
"Apa?"
"Asuhan sampean!"
"Srintil?"
Marsusi tidak menjawab. Hanya senyumnya yang mengembang dan segera terbaca oleh Kartareja.
"Ah, itu persoalan mudah. Apalagi bagi sampean. Apabila sampean masih mau, masalahnya tinggal bagaimana sampean bisa bersabar."
"Aku memang masih penasaran. Oh, tidak. Maksudku, ronggengmu memang membuat gemas!"
"He-he."
"He-he-he."
Dan Marsusi membanting hancur botol jimatnya. Tunai sudah. Tak ada lagi siapa mempermalukan siapa. Kartareja dan Marsusi berpisah dengan senyum. Keduanya tahu betul arti senyum mereka masing-masing.
Jam satu tengah malam rombongan dari Dukuh Paruk belum meninggalkan arena. Mereka menikmati kopi panas yang disediakan panitia. Srintil sudah melepaskan pakaian ronggengnya, duduk dikelilingi beberapa orang laki-laki yang merasa beruntung bisa berdekatan dengan ratu panggung.
Mata Srintil mencari laki-laki yang berdasi kupu-kupu. Tri Murdo masih ada tetapi sudah siap berangkat dengan rombongan orkes keroncongnya. Ketika minta diri Tri Murdo bersikap biasa, sangat biasa. Srintil menelan ludah. Bapak Wedana bangkit. Dari mulutnya terdengar tembang pucung, pujian bagi para
ronggeng. Sambil melangkah tangannya bertepuk berirama.
Sengkang ceplik, cunduk jungkat sarwi wungu
Pupur lelamatan
Nganggo rimong plangi kuning
Candanira kaya sekar dhedhompolan
Bergiwang rupa bunga tanjung, bermahkota sisir serba ungu. Bedaknya tipis rona, dengan selendang pelangi kuning. Baunya adalah harum serumpun bunga.
Ibu Wedana bertepuk tangan memberi semangat bagi suaminya. Orang-orang ikut bertepuk dan bertembang melagukan pucung yang setua Dukuh Paruk itu. Srintil tertawa dan tertawa. Keayuannya muncul pada sinar matanya, pada cerah kulitnya, dan pada kesegaran mulutnya. Srintil menoleh kepada
Ibu Wedana ketika Bapak Wedana mencubit pipinya. Ibu Wedana malah bertambah gembira. "Siapa mengira suamiku laki-laki tanpa daya?"
Malam itu Srintil hampir tidak pulang ke Dukuh Paruk. Bapak dan Ibu Wedana memintanya dengan sangat menginap di Dawuan. Sebaliknya, Kartareja amat berkeberatan.
"Maafkan kami, Bapak. Kami orang-orang Dukuh Paruk tidak bisa berbuat sesuatu yang melanggar ketetapan yang kami anut. Ini malam Ahad Pahing: tidak boleh tidak, kami semua harus tidur di rumah kami masing-masing di Dukuh Paruk."
Sebuah obor besar kelihatan dari jauh melintasi pematang panjang yang menuju Dukuh Paruk. Nyala apinya meninggalkan ekor asap hitam yang meliuk di udara. Orang-orang Dukuh Paruk sedang berjalan menuju tanah airnya. Hampir tak ada yang berbicara. Sepi, kecuali suara calung dalam pikulan. Kaki-kaki
mereka basah oleh embun rerumputan. Sinar obor membuat penerangan bagi sebuah pentas tersendiri. Ada burung cabak berebut serangga di angkasa. Ada belalang terbang menabrak nyala api. Dan Sakum berteriak karena kakinya menginjak katak kecil hingga perut binatang itu meledak.
Di hadapan mereka Dukuh Paruk kelihatan remang seperti seekor kerbau besar sedang lelap. Di atasnya lintang waluku. Di atasnya, terkadang, membersit sinar terang bintang beralih. Dan suara burung hantu dari atas pekuburan Dukuh Paruk menggema, seakan menyambut para warga yang sedang pulang di
puncak malam.
Bersambung...
______________________________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar