"PERANG BATIN"
Rasanya hari itu aneh sekali. Rasanya seperti baru selesai cabut gigi geraham. Proses membongkar gigi tidak lama dan tidak terlalu menyakitkan. Barulah setelah beberapa jam
setelah obat kebal hilang, nyeri mulai menghentak-hentak. Lalu, selama beberapa minggu, lidah akan bolak-balik memeriksa rongga yang ditinggal gigi tadi. Rasa-rasanya gigi itu masih ada di sana, tapi ternyata tidak ada. Aku pernah membaca, kalau menurut orang yang bisa membaca aura, setiap barang yang pernah ada di suatu tempat dan kemudian dipindahkan, maka masih ada jejak aura di tempatnya semula.
Itulah yang kami rasakan sehari setelah Baso ruju’ ala dawam. Pulang untuk selamanya. Duduk di bawah menara, kami lebih banyak diam dan termenung. Hanya helaan-helaan
napas berat yang dikeluarkan lewat mulut yang terdengar. Aku merasa kami semua baru sadar betapa sakitnya kehilangan teman. Kami bagai rahang yang kehilangan sebuah gigi geraham. Rasanya Baso masih ada di sini, tapi dia tidak ada. Hanya ada sebuah sudut berlubang di bawah menara ini dan di pedalaman hati kami.
Bagiku, keberanian Baso untuk nekad pulang tidak hanya mengejutkan, tapi juga menginspirasi. Dulu, keinginan keluar dari pondok bagai ide yang jauh dan samar. Kini setelah Baso melakukannya, ide keluar itu terang benderang dan ada di depan mataku.
Selain aku, tidak ada seorang pun di antara Sahibul Menara lain yang merasa goyah dan berpikir-pikir untuk keluar. Kebanyakan mereka senang dan siap menamatkan PM. Apalagi Baso yang selalu rajin belajar.
Kegelisahanku yang naik turun ini karena aku memulai perjalanan ke PM dengan setengah hati. Sejujurnya, tiga tahun di PM membuat aku jatuh hati merasa amat beruntung dikirim ke sini. Berkali-kali aku katakan pada diri sendiri: aku akan menuntaskan sekolah di sini. Tapi aku juga tahu, cita-cita lamaku tidak pernah benar-benar padam. Cita-cita ingin sekolah non agama. Walau sibuk dan senang dengan kegiatan PM, aku kadang-kadang terbangun malam setelah bermimpi keluar dari PM. Apalagi, kawanku, Randai, selalu berkabar dan
menjadi tolok ukur bagiku atas apa yang terjadi di luar sana.
Kepergian Baso kali ini membangkitkan penyakit lamaku itu. Surat Randai menyuburkannya. Aku baru saja menerima
sebuah suratnya lagi. Kali ini datang dari Bandung, dengan amplop bergambar gajah duduk, lambang almamater kebanggaannya, ITB. Dia dengan riang bercerita bagaimana
bangga dan senangnya merantau di Bandung. Bersama beberapa teman orang Minang juga, Randai menyewa kamar kos di sebuah gang sempit di dekat kebun binatang dengan alasan dekat dengan kampus. Yang membuatnya paling bangga adalah ketika disambut di kampus oleh alumni-alumni ITB yang terkenal Indonesia dengan ucapan yang menegakkan bulu roma, “kalian adalah generasi terbaik
Indonesia”.
Gerimis itu datang lagi, dan kali ini menjadi hujan badai di kepalaku. Sebagian hatiku membisikkan bahwa menyelesaikan sekolah di PM adalah hal yang terbaik. Pendidikan di sini salah satu yang terbaik, dan aku telah belajar banyak filosofi hidup dan hikmah dari para guru-guru yang ikhlas. Tapi di sudut hatiku yang lain, yang tidak pernah diam, ada pemberontakan. Apakah pergi ke PM cita-citaku sebenarnya? Apakah keinginanku sendiri atau untuk menyenangkan kedua
orangtuaku?
Malam itu, sebelum tidur, ditemani lampu teplok, aku menulis sepucuk surat kepada Amak dan Ayah. Kali ini aku menyampaikan perasaanku apa adanya. Iya benar, aku pernah berjanji akan menyelesaikan PM, tapi perang batinku terus berkecamuk. Dan perang ini sekarang dimenangkan oleh keinginan drop-out dari PM. Kalau terus di PM, aku tidak akan
bisa melanjutkan sekolah ke jalur umum dengan mulus. Dari awal PM sudah menyatakan tidak memberikan ijazah untuk
masuk sekolah umum. Ijazah PM bahkan tidak diakui di beberapa perguruan tinggi Islam. Walau, ijazah PM malah diakui di Mesir, Arab Saudi, Pakistan dan beberapa negara lainnya.
Selang seminggu kemudian, suratku segera berbalas dengan sebuah telegram. Isinya pendek:
“Amak sedih membaca surat. Jangan pulang dulu. Ayah akan datang segera.”
Ttd
Ayah
Tiga hari kemudian surat kilat khusus sampai. Kali ini ditulis Amak sendiri. Dengan tulisan halus kasarnya yang miring ke kanan di atas kertas surat bergaris-garis.
‘Sejak beberapa tahun terakhir ijazah PM sudah diakui pemerintah.
“….Amak tidak pernah lupa ketika ananda mencium tangan Amak sebelum berangkat masuk sekolah agama di Jawa tiga tahun lalu. Tidak terkatakan bahagianya hati Amak. Inilah cita-cita Amak sejak ananda masih sebulan dalam kandungan Amak. Waktu itu Amak berniat, kalau Amak diberi anak laki-laki, Amak akan mendidiknya menjadi seorang pemimpin
agama. Melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, mengajak orang kepada kebaikan dan meninggalkan kemungkaran.
Amak bermimpi ananda nanti akan bisa menerangi jalan umat Islam, seperti yang telah dilakukan Buya Hamka. Amak sedih melihat kualitas pemimpin agama kita menurun. Amak
ingin memberikan anak yang terbaik untuk kepentingan agama. Ini tugas mulia untuk akhirat.
Sejak itu, tidak lepas-lepasnya doa Amak kirimkan untuk kesuksesan ananda belajar di Jawa.
Tidak terkatakan pula sedihnya Amak menerima surat waang seminggu lalu. Selama ini Amak sudah tenang karena dari membaca surat-surat ananda sebelummya, pondok ini
cocok dan cukup menyenangkan buat ananda. Amak bertanya-tanya kenapa ananda sekarang berubah dari tenang menjadi gelisah? Masuk sekolah agama tidak kalah hebat dibanding sekolah umum. Bahkan belajar agama itu lebih
utama dan lebih mulia.
Maafkan Amak telah menyuruh-nyuruh ananda untuk sekolah agama. Tapi ini untuk kebahagiaan kita semua dunia dan akhirat Karena dengan sepenuh hati, Amak minta ananda bertahan sampai tamat di pondok. Ini permintaan Amak. Tolonglah ananda pertimbangkan matang-matang.
Untuk masalah ijazah SMA dan kuliah nanti, Ayah akan segera datang….”
Aku menarik napas panjang dan berat setelah membaca surat ini. Aku bisa merasakan kalau Amak menulis surat ini dengan airmata. Aku tergugah, tapi sekaligus bingung.
Semangatku masuk kelas tiba-tiba hilang. Dengan suara yang diserak-serakkan aku menghadap ke wali kelasku Ustad Mubarak, untuk minta tashrih, surat sakit. Sungguhnya tidak ada yang sakit dengan badan fisikku. Selama tiga hari aku hanya bergolek-golek saja di kamar. Tamarrad. Pura-pura sakit.
Begitu bel masuk kelas berdentang, tinggallah aku sendiri terbaring malas di kamar. Sunyi. Sambil menatap langit-langit kamar yang dikapur putih, mereka-reka apa yang akan
disampaikan Ayah. Posisiku semakin jelas, aku ingin keluar secepatnya, mengikuti ujian persamaan, dan segera mendaftar tes perguruan tinggi. Kalau Ayah memaksaku
menyelesaikan PM, artinya aku tidak bisa kuliah tahun ini, dan harus sabar menunggu setahun lagi. Tapi aku tidak mau bersabar setahun lagi Aku akan tertinggal dua tahun dari Randai. Mungkin aku bisa memberontak kepada Ayah dan bilang bahwa anaknya juga punya keinginan sendiri.
Para Sahibul Menara beberapa kali datang merubungi aku yang berbaring di kasur tipis. Aku telah menceritakan semua kegundahanku kepada mereka. Kawan-kawanku yang baik ini
mencoba membangkitkan semangatku. Raja dan Dul paling berapi-api mengompori aku tetap menyelesaikan PM. “Sudahlah Lif. Saya tidak ingin melihat dua kawan dekatku hilang dalam sebulan,” kata Raja dengan suara galak agak mengancam. Said dan Atang tidak banyak bicara. Sebagai lulusan SMA, mungkin mereka lebih dewasa dan mengerti yang aku rasakan.
Dan seminggu kemudian, seorang petugas penerima tamu datang melayang dengan sepeda kuningnya. Mendapatkanku di sudut kamar sedang merenung. Dia menyerahkan sebuah memo tamu, tertulis di sana:
Siswa: Alif Fikri
Tamu: Fikri Katik Parpatiah Nan Mudo. Ayah datang!
Aku segera menuju tempat penerimaan tamu. Sudah setahun aku tidak bertemu Ayah. Dalam penglihatanku, wajahnya tidak banyak berubah, tapi ubannya makin banyak menyeruak, khususnya di kedua sisi kepalanya yang berambut tipis. Lebih jauh lagi, bahkan uban sekarang telah menjajah sampai ke kumis dan cambangnya. Wajahnya tampak letih setelah perjalanan lintas Jawa dan Sumatera.
Aku cium tangan beliau dan duduk di sampingnya, agak lesu. Ayah hanya tertawa tanpa bunyi dan berkata,” Di kampung lagi musim durian”. Lalu apa hubungannya dengan kedatangan beliau? Tidak ada. Aku tahu betul, kalau Ayah berbicara di luar konteks, berarti dia sedang gelisah dan mencari cara untuk memulai pembicaraan.
Tapi urusan durian adalah salah satu tali penghubung antara kami berdua. Sejak kecil aku dan Ayah selalu menyambut musim durian dengan seluruh jiwa raga. Kami, dua laki-laki di keluarga, adalah pencinta durian. Berdua saja
kami bisa menghabiskan belasan buah. Bukan cuma membeli durian di pinggir jalan, kami berburu buah nikmat ini ke hutan di Bukit Barisan. Banyak pohon durian yang telah ditanam sejak dulu oleh nenek moyang keluarga ayahku di ladang di pinggir hutan ini. Ayah selalu percaya, durian terbaik datang
dari kampungnya, dan yang terbaik di kampungnya adalah durian dari tanah ladangnya. Dan yang terbaik di ladangnya
adalah durian yang matang di pohon, lalu jatuh dengan sendirinya dan langsung dipungut di bawah pokok pohonnya.
Memakai topi anyaman pandan yang lebar dan menyelipkan parang di pinggang, kami biasanya naik bukit di pagi hari. Ditemani koor sikumboh yang bergaung dan uir-uir hutan yang melengking bersahut-sahutan kami duduk berjam-jam di dangau di tengah ladang durian. Menunggu. Kalau kami beruntung, di tengah keheningan hutan, kami akan mendengar suara seperti tali putus, disusul suara krosak daun-daun dan gedebuk di tanah. Kami segera berlompatan keluar dari dangau dan mencari asal bunyi gedebuk tadi. Begitu menemukan durian yang jatuh itu, Ayah langsung membelah kulit durinya yang keemasan. Bau wangi langsung meruap dari
dagingnya yang kuning dan lembut. Kami memakannya hangat-hangat pakai tangan. Sebuah pengalaman ayah-anak yang tidak akan aku lupakan. Hanya berlangsung beberapa menit saja, tapi sungguh nikmat. Inilah momen “durian runtuh” yang sebenarnya.
Yang tidak kami lakukan adalah menjaga durian runtuh malam hari. Ayah bilang bahwa malam hari berbahaya, karena inilah waktu inyiak, atau sebutan kami buat Harimau
Sumatera, berkeliaran di dekat ladang untuk menunggu durian runtuh.
Awalnya aku merasa dibohongi, masak harimau suka durian. Tapi suatu ketika Ayah memperlihatkan sebuah durian yang terkoyak di bawah pohon dengan bekas kaki-kaki
bercakar besar di sekelilingnya. “Inyiak rupanya baru pesta durian juga,” kata Ayah serius. Aku merinding.
Entah benar entah tidak. Saat aku masih SD, Ayah suka bercerita tentang kakeknya, Datuak Tungkek Ameh, yang dianggap berilmu tinggi dan mampu mengobat berbagai penyakit. Ayah adalah cucu kesayangannya dan sering diajak
ke rumahnya yang terpencil di lereng Bukit Barisan. Pernah suatu malam Datuak Tungkek Ameh mengantar Ayah pulang kembali ke rumahnya di pinggir danau. Malam itu sangat
kelam dan perjalanan cukup jauh menuruni bukit. Sebelum berangkat, kakeknya meminta Ayah untuk duduk tenang-tenang, menutup mata dan tidak bicara, supaya cepat sampai.
Ayah patuh dan menutup mata.
Lalu Ayah merasa digendong Kakek dan didudukkan di atas sebuah badan besar. Kakek duduk di belakangnya. Dengan decakan lidah dari Kakek, badan besar ini mulai melompat-
lompat cepat dengan gerakan empuk. Angin bersiut-siut di kupingnya, badan besar ini berlari makin cepat dengan menggeram-geram halus. Tangan Ayah menyentuh bulu binatang yang terasa kasar tapi bersih. Dalam tempo pendek mereka sampai di tujuan. Ayah bertanya kepada Kakek, “Kita naik apa tadi nambo”. Kata nambo-nya, “kita naik inyiak”.
Menurut legenda, inyiak, atau harimau dianggap adalah peliharaan yang patuh kepada orang-orang sakti di Minang.
“Tanda orang yang punya inyiak adalah, matanya tajam dan tenang, dan mempunyai jenggot yang tumbuh di tengah leher,” kata Ayah. Kata Ayah, kakeknya punya itu semua.
Kami pindah duduk ke kantin. Sambil pelan-pelan menyeruput kopi kental, akhirnya Ayah tidak lagi berbicara tentang durian.
“Kami sudah daftarkan nama waang untuk ikut ujian persamaan delapan bulan lagi. Karena itu, tidak ada salahnya tetap bertahan di sini. Selesaikanlah apa yang sudah dimulai,” kata Ayah sambil menatapku lekat-lekat.
Tanpa kesadaran penuh, kepalaku mengangguk. Berbagai skenario argumentasi yang aku persiapkan menguap.
Aku tidak tahu apa yang membuat perlawananku runtuh dengan mudah. Apakah karena hatiku perang dan tidak ada pemenang yang sesungguhnya antara tetap tinggal di PM atau keluar? Toh di tengah segala galau aku juga menemukan dunia yang menyenangkan di PM? Ataukah kekuatan diplomasi durian Ayah yang membuatku lemah? Atau pengorbanan
beliau melintas Sumatera dan Jawa, hanya untuk memastikan aku tetap tinggal di PM. Atau karena mendengar akan ada ujian persamaan dalam 8 bulan? Atau semuanya? Aku tidak tahu pasti. Yang jelas, mulai detik itu, di meja kantin itu, di depan Ayah, aku berjanji: aku harus menamatkan PM.
Terngiang-ngiang petuah Kiai Rais dulu: keluarlah dari PM dengan fuunul khatimah, akhir yang baik.
Ayah tersenyum lebar melihat aku mengangguk. Mempertontonkan geliginya yang dihiasi jejak-jejak hitam hasil minum kopi puluhan tahun. Ayah lalu menyalamiku, agak
kaku, mungkin untuk memastikan aku siap berkomitmen. Kami kemudian menghabiskan hari untuk kembali bercerita tentang dunia durian yang selama ini secara aneh mengikat hubungan kami anak beranak.
Ayah hanya tinggal tiga hari di PM. Misinya telah berhasil membuat aku berjanji tetap di sini. Dalam tiga bulan ke depan, aku akan menghadapi ujian terberat dalam kehidupan
PM: imtihan nihai, ujian penghabisan. Hanya bebetapa bulan lagi aku mencapai garis finish. Man shabara zhafira. Siapa yang sabar akan memetik hasilnya. Aku harus bisa bertahan.
Sekarang, tinggal bagaimana aku bisa tetap semangat dan termotivasi.
Di PM ada beberapa ustad yang ahli memotivasi dan mampu membuat semangat murid yang sedang loyo mencelat-celat. Para ahli motivasi ini punya “jam praktek”, biasanya sebelum makan malam atau setelah subuh. Durasi acara pembakaran semangat ini mulai dari 15 menit sampai 1 jam. Kami menyebut ustad ini sebagai “ahli setrum”.
Hari ini aku membuat janji dengan Ustad Nawawi, seorang tukang setrum papan atas di PM. Dia adalah mantan wali kelasku tahun lalu. Dia dengan simpatik memulai sesi dengan
bertanya kenapa aku menjadi loyo. Setelah tahu masalahnya, suaranya yang tadi tenang berubah menjadi penuh semangat. Pelan-pelan dia menuntunku untuk bangkit, mandiri dan
menang. Begitu keluar dari ruang Ustad Nawawi aku merasa dunia tiba-tiba terasa berbinar-binar dan lapang. Aku bagai mendapatkan suntikan energi dosis tinggi dan bisa melakukan apa saja. Bahkan ubun-ubunku rasanya berasap saking
bersemangatnya.
Bersambung...
_____________________________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar