Senin, 15 Maret 2021

NEGERI 5 MENARA BAGIAN 30

"PUNCAK RANTAI"




”Cepat… cepat, kita tidak bisa terlambat!” paksa Atang sambil berjalan seperti berlari menuju dapur umum, baju putih-putih bersih kami—Sahibul Menara berbaris tertib. 
Masing-masing membawa piring dan gelas makanan. Di ujung antrian, petugas dapur menanti tamu penting, dari balik pembatas seperti loket tiket. Giliranku tiba. Mbok Warsi, 
perempuan berwajah senyum ini menggerakkan tangannya seperti sebuah traktor pengangkat pasir, memindahkan 
sebongkah gunung nasi ke piringku ”Ta fadhal’ Mas,” katanya beraksen Jawa medok. 

Aku bergeser ke mbok satu lagi. Setelah menerima kupon makanku hari ini, dia mengail-ngail wajan besar dan mengangkat sebongkah daging semur dan menumpuknya diatas Gelas plastik merah aku sorongkan. Dia mencurahkan susu cokelat encer sampai berlimbak-limbak. Aku bergeser lagi ke kanan. Misbah, kawan sekelasku sendiri yang berada dibalik terali, dia adalah pengurus dapur sekarang. 

“Good moming my friend, kita naik kelas enam, kami menyediakan kurma hari ini untuk pencuci mulut,” katanya tersenyum lebar menyodorkan 3 buah hitam berkilat-kilat. 

”Syukron ya akhi, gitu dong, sering-sering kita dikasih bonus,” sahutku senang hati. Hanya pada hari spesial saja kami dapat Jatah makan mewah dengan daging, susu dan kurma. Misalnya menjelang ujian, hari raya, atau hari kami naik kelas enam.

Hari itu kami pesta kurma. Hari ini juga hari besar bagi kami, karena inilah posisi puncak dari etape terakhir reli panjang kami menjelajah padang ilmu di PM. Hari ini kami 
akan menerima amanat penting dari Kiai Rais. 

Setelah itu kami berbondong-bondong masuk ke aula. Di atas panggung telah terpampang spanduk besar dan indah bertuliskan: Selamat Naik ke Kelas Puncak. Kiai Rais dan guru-guru senior telah menempati kursi mereka masing sambil membagi-bagi senyum dan guyon. Suasana sangat menyenangkan dan membanggakan. 

Naik kelas enam berarti kami telah melejit ke puncak rantai makanan. Kami adalah murid paling senior, paling berkuasa, paling bebas, dan tidak ada lagi keamanan yang memburu. 
Yang berhak menghukum hanyalah para ustad dari Kantor Pengasuhan. Kami adalah survivor dari seleksi alam bertahun-tahun merasai hidup militan di PM. Boleh disebutkan dengan 
bangga, kami manusia pilihan untuk ukuran PM. 

Kekuasaan kami sangat riil dan meliputi semua bidang, mulai dari urusan penyediaan makan buat warga PM, masalah wesel sampai keamanan. Pendeknya, mandat kami adalah 
menjalankan roda kegiatan PM dari hulu ke hilir. Tampuk kekuasaan ini kami dapatkan ketika naik kelas 5, setelah pergantian organisasi pengurus siswa. Kini jabatan ini akan segera kami serahkan ke adik kelas kami dua bulan lagi. Sedangkan kami siswa kelas 6 disuruh fokus semata untuk belajar mempersiapkan ujian akbar. Pelajaran dari kelas 1-6 diujikan dalam ujian maraton 15 hari. 

Kiai Rais tampil di mimbar dengan air muka sejernih telaga. 

“Anak-anakku semua. Mari kita bersyukur kita telah diberi jalan oleh Tuhan untuk bersama melangkah sampai sejauh ini. Selamat atas naik ke kelas enam. Tujuan akhir kalian tidak jauh lagi. Terminal sudah tampak di ujung sana.” Seperti biasa beliau menyapa kami dengan lemah lembut dan intim. 

“Selain itu kalian telah mempraktikkan motto siap memimpin dan siap dipimpin. Kini kalian berada di lantai tertinggi pembangunan jiwa dan raga di PM,” kata beliau membuka kedua tangannya lebar-lebar dan menutup sambutan ini dengan salam. Kami bertepuk riuh menyambut ucapan ini. 

“Padahal sebetulnya kita yang harus bangga punya guru beliau,” bisikku kepada Dulmajid yang selalu terbius oleh kata-kata Kiai Rais. 

“Tapi ada tugas yang penting dan berat. Yaitu pertama meneruskan tugas kalian menjadi pengurus PM beberapa bulan lagi sebelum diserahkan ke kelas V. 

Kedua, menyelenggarakan pertunjukan besar Class Six Show. Ini saatnya kalian memperlihatkan segala kemampuan, seni, organisasi dan kepercayaan diri. Segenap warga PM dan undangan tidak sabar melihat kebolehan kalian. 

Kami bertempik sorak. Said di sebelahku sampai berdiri dan bertepuk-tepuk seperti anak kecil dapat mobii-mobilan, Dulmajid sampai perlu menarik-narik ujung bajunya menyuruh 
duduk. Show ini acara yang kami tunggu-tunggu. Ini kesempatan kami memperlihatkan diri tidak kalah dengan pertunjukan kelas enam tahun lalu. Memang persaingan prestis antara-dua kelas tertinggi, kelas 5 dan kelas 6 selalu 
hangat. 

Ingin merebut hati adik adik kelas dan para guru dan memperlihatkan yang terbaik. Tahun lalu, waktu kami kelas 5, kami punya Class Five Show yang membuat semua orang kagum dan membuat kakak kelas kami tertekan. Kami tidak mau dalam posisi tertekan ini secelah kelas 5 beberapa bulan lalu membuat show yang luar biasa juga. 

Kiai Rais sampai perlu melambai-lambaikan tangan untuk meminta kami tenang. 

“Anak-anak, jangan senang dulu. Ada yang lebih penting dari itu semua. Yaitu imtilum, ujian akhir kelas enam. Semua mata pelajaran yang pemah diajarkan dari kelas satu sampai 
kelas enam akan diujikan. Tidak ada pilihan lain, kalian harus belajar keras, sekeras kalian mempersiapkan Class Six Show!” 

Kali ini, kami semua memasang muka memelas. Suara “ooooo” pun berkumandang. Kami membayangkan perjuangan panjang belajar siang malam menghadapi ujian. Di PM, ujian selalu heboh dan berat. Tapi di antara itu semua, ujian kelas enam dianggap yang paling berat. Kami telah menyaksikan selama ini bagaimana kakak-kakak kelas 6 bertarung sengit untuk menaklukkan ujian penghabisan. Sebuah “ujian di atas ujian.” 

Hanya Baso yang tampak antusias dan bertepuk tangan. Dia memang selalu menjadi minoritas dan melawan arus. 

Kiai Rais tersenyum melihat kami memasang muka rusuh. 

“Anak-anakku. Ini akan jadi tahun tersibuk dan terbaik kalian. Kami yakin kalian mampu menjalankannya. Mulailah dengan bismiliah dan selalu amalkan man jadda wajada” 

Kiai kami tercinta memang selalu tahu bagaimana membujuk dan melambungkan semangat kami. Kami berdiri dan bertepuk tangan menghormati beliau dan mensyukuri 
kenyataan menjadi kelas enam. What a big deal. Naik ke kelas enam membuat kami bisa melihat hidup di PM seperti seekor burung yang melihat daratan dibawahnya.

Berbeda sekali dengan saat kelas satu yang melihat PM besar dari perspektif seekor katak kecil. Terkaget kaget dengan gemuruh PM yang terasa besar sekali. 

Sekarang aku merasa PM adalah dunia yang lebih tentram, besar, lapang dan lebih bebas. Kami tetap harus mempertahankan, tapi kami tidak perlu takut lagi dengan serbuan-serbuan orang semacam Tyson. Kami sendiri kini Tyson bagi junior kami. Kami dipanggil “Kak” oleh ribuan adik kelas. Mereka memandang kami dengan hormat atau iri, atau mungkin Apa pun itu, kami tidak begitu peduli karena kami benar-benar merasa di atas angin. 

Aku membayangkan, kami bagai kafilah besar yang telah berkelana ribuan kilo di tengah padang pasir. Telah banyak gerombolan anjing menyalak yang kami usir, perangi atau kami anggap angin lalu. Kini, ketika kaki mulai letih dan armada onta mulai goyah, samar-samar kami melihat oase nun di ujung horizon. Pucuk-pucuk daun palem yang hijau tampak melambai-lambai. Tinggal sedikit lagi. 

Dalam perjalanan panjang ini kami telah belajar banyak ilmu dan merasa menjadi lebih dewasa dan matang secara mental Dari sisi ilmu, kami semakin percaya diri dengan pengetahuan yang kami dapat. Apalagi kami sekarang cukup nyaman menggunakan secara aktif dua kunci jendela dunia bahasa Arab dan Inggris. 

Malam ini kami merayakan kenaikan kelas dengan acara ngumpul bersama, di atap gedung asrama. Kami berkumpul, ngomong ngalor-ngidul, ditemani seember kopi, seember mie dan seplastik kacang sukro. Pembicaraan paling seru adalah bagaimana kami akan membuat Class Six Show yang terbaik 
sepanjang masa. Sampai jauh malam, kami masih tetap bingung dengan ide awal acaranya. Ini jadi tantangan besar kami beberapa bulan ke depan. Sementara tidak ada satu orang pun yang berani memulai membicarakan ujian di atas ujian tadi. Mungkin Baso mau, tapi kali ini dia tidak berani melawan mayoritas yang sedang bahagia. 

Kehebohan anak kelas enam baru susut menjelang dentang lonceng 12 kali, menandakan tengah malam telah sampai 
Inilah hari yang dibuka dengan korma dan ditutup dengan tawa.




Bersambung... 

______________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...