Jangkrik!
Meski aku menanggapi kata-kata Warta dengan senyum, namun sesungguhnya hatiku dibuatnya perih, sangat perih. Sehingga aku tak bisa berkata-kata lagi. Hanya umpatku dalam hati, “Warta, kamu bangsat! Kau katakan Srintil akan diperkosa nanti malam? Memang betul. Tetapi mengapa kau katakan hal itu kepadaku?”
Kukira Warta memandangku dari belakang ketika aku berjalan meninggalkannya. Aku tak peduli dan terus berjalan sepembawa kakiku. Perjalanan yang tanpa tujuan membawaku sampai ke lorong yang menuju pekuburan Dukuh Paruk. Seharusnya aku terus melangkah bila tidak kulihat seseorang berjalan merunduk-runduk di antara batang-batang puring. Srintil! Aku tak mungkin salah, dialah orangnya.
Tak mengetahui aku membuntutinya, Srintil terus berjalan. Langkahnya berkelok menghindari tonggak-tonggak nisan, atau pohon kemboja yang tumbuh rapat. Setelah berbelok ke kiri, langkah Srintil lurus menuju cungkup makam Ki Secamenggala. Kulihat Srintil jongkok, menaruh sesaji di depan pintu
makam. Ketika bangkit dan berbalik, ronggeng itu terperanjat. Aku berdiri hanya dua langkah di depannya.
“He, kau, Rasus?”
“Aku mengikutimu.”
“Aku disuruh Nyai Kartareja menaruh sesaji itu. Bukankah malam nanti...”
“Cukup! Aku sudah tahu malam nanti kau harus menempuh bukak-klambu,” aku memotong cepat. Habis berkata demikian aku melangkah pergi. Tetapi Srintil menarik bajuku.
“Rasus, hendak ke mana kau?”
“Pulang.”
"Jangan dulu. Jangan merajuk seperti itu. Kita bisa duduk-duduk sebentar di sini.”
Ternyata aku tak menolak ketika Srintil membimbingku duduk di atas akar beringin. Tetapi baik Srintil maupun aku lebih suka membungkam mulut. Mestilah ronggeng kecil itu merasa sedang menghadapi seorang anak laki-laki yang akan mengalami kekecewaan. Srintil pasti tahu aku menyukainya. Jadi dia
tahu pula bahwa malam bukak-klambu baginya menjadi sesuatu yang sangat kubenci. Hanya itu. Atau, apakah aku harus mengatakan secara jujur bahwa Srintil lebih kuhormati daripada seorang kecintaan? Tidak. Aku tak mempunyai keberanian mengatakan hal itu kepadanya. Maka biarlah, Srintil tetap pada
pengertiannya tentang diriku secara tidak lengkap. Seekor serangga kecil akhirnya membuka jalan bagi permulaan percakapan kami. Nyamuk belirik hinggap di pipi Srintil. Perutnya menggantung penuh darah.
“Srin, tepuk pipimu yang kanan. Ada nyamuk.”
“Aku tak dapat melihatnya.”
“Tentu saja. Tetapi tepuklah pipi kananmu agak ke atas pasti kena.”
“Tidak mau. Engkau yang harus menepuknya.”
“Tanganku kotor.”
“Tidak mengapa. Hayo tepuklah!”
Aku patuh. Tangan kuayunkan. Meski dengan gerak gamang, nyamuk yang menjadi lamban karena terlalu banyak mengisap darah itu kena.
Telapak tangan kutekan pada pipi Srintil. Ketika kubuka tergores setitik darah. Ada noda merah pada pipi yang putih.
Sunyi dan sepi. Sepotong ranting kecil runtuh. Bunyi keletik terdengar ketika ranting itu menimpa selembar daun. Seekor bengkarung muncul di hadapanku, dan berlari cepat mengejar capung yang hinggap di tanah. Kelengangan berlanjut karena aku dan Srintil membisu kembali. Angin bertiup lambat. Suara belalang kerik menyambutnya dari lereng sempit di sebelah selatan pekuburan.
Entah Srintil. Tetapi aku dalam kelengangan pekuburan Dukuh Paruk merasa menjadi sekedar seonggok benda alam. Tiada beda dengan batu-batu berlumut di hadapanku, atau dengan berpuluh nisan cadas yang terpaku mati dan terserak memenuhi pekuburan itu. Boleh jadi pada saat itu akal-budiku berhenti.
Kehendak alami menggantikannya.
Aku tak bergerak sedikit pun ketika Srintil merangkulku, menciumiku. Napasnya terdengar cepat. Kurasakan telapak tangannya berkeringat. Ketika menoleh ke samping kulihat wajah Srintil tegang. Ah, sesungguhnya aku tidak menyukai Srintil dengan keadaan seperti itu. Meski aku tidak berpengalaman,
tetapi dapat kuduga Srintil sedang dicekam renjana birahi. Tanpa melepas lingkaran tangannya di pundakku, Srintil menoleh sekeliling. Dia was-was ada orang lain di sekitar tempat itu. Sebenarnya Srintil tak usah terlalu curiga. Pohon-pohon puring dan kemboja yang mengelilingi pekuburan Dukuh Paruk menjadi pagar yang sangat rapat.
Srintil melepaskan rangkulannya. Kemudian aku mengerti perbuatan itu dilakukannya agar Srintil dapat membuka pakaiannya dengan mudah.
Aku sering melihat perempuan mandi telanjang di pancuran. Jadi aku sudah tahu beda tubuh laki-laki dan tubuh perempuan. Tetapi yang kulihat saat itu adalah gambaran perempuan yang utuh. Hanya tidak seperti perempuan dewasa, dada Srintil rata, pinggangnya rata.
Bahwa Srintil mengharap aku juga akan membuka pakaian, sudah kumengerti. Andaikata aku adalah Darsun atau Warta, semuanya sudah kulakukan. Malah aku menjadi pihak pertama yang mengambil
prakarsa. Nah, aku bukan Darsun, bukan pula Warta. Aku Rasus, anak yang merasa paling malang karena Emak lenyap tanpa kepastian. Emak mati oleh racun tempe bongkrek kemudian mayatnya dicincang, atau emak masih hidup dan meninggalkan aku, lari bersama mantri keparat itu. Tidak pasti mana yang benar. Dan ketidakpastian itu selalu membuatku hampir gila.
Rasanya, sebagai anak laki-laki tak ada yang salah pada tubuhku. Melihat Srintil telanjang bulat di hadapanku, aku teringat kambing jantanku bila sedang birahi. Jantung memompa darahku ke segala penjuru. Pada bagian organ tertentu, arteri begitu padat berisi darah hingga menggembung dan menegang.
Kehendak alam terasa begitu perkasa menuntutku bertindak.
Srintil menarik tanganku.
Kupandangi wajahnya yang merona merah. Kupandangi matanya yang berkilat-kilat. Kupandangi pucuk hidungnya dengan bintik-bintik keringat di pucuknya. Kemudian perlahan semua yang tertangkap oleh lensa mataku bergoyang, lalu membaur. Bayangan sosok Srintil melenyap. Yang muncul
menggantikannya adalah halimun.
Aku percaya; hanya aku yang sejak anak-anak mengkhayalkan demikian dalamnya tentang seorang emak karena aku sangat ingin melihatnya. Khayalan demikian yang hampir sepanjang usia, akhirnya mampu mendatangkan ilusi; bahwa yang berdiri telanjang di depanku bukan Srintil, bukan pula ronggeng Dukuh Paruk, melainkan perempuan khayali yang melahirkan diriku sendiri. Disana, di bagian dada kulihat sepasang puting di mana aku menetek hampir selama dua tahun. Disana, di balik pusar, aku pernah bersemayam selama sembilan bulan dalam rahimnya. Dan ketika aku melihat jalan yang kulewati ketika lahir, mataku berkunang-kunang. Badanku basah oleh keringat dingin. Kemudian aku tak bisa berbuat lain kecuali menutup muka dengan dua telapak tangan.
“Rasus, kau tak mau?” tanya Srintil dengan suara hampir tak kudengar. “Takkan ada orang melihat kita di sini.”
“Srin, ini tanah pekuburan. Dekat dengan makam Ki Secamenggala pula. Kita bisa kualat nanti,” jawabku. Dalih yang sangat gemilang mendadak muncul di otakku.
Kulihat Srintil termangu. Napasnya masih memburu. Rona wajahnya berubah. Terkesan rasa kecewa. Ronggeng Dukuh Paruk itu tetap berdiri seperti batu-batu nisan di belakangnya. Tanpa gerak.
“Kita tak bisa berbuat sembrono di tempat ini,” kataku sambil membenahi pakaian Srintil.
“Ya, tetapi kau sungguh bangsat.”
“Maafkan aku, Srin. Sungguh! Aku minta engkau jangan marah kepadaku,” kataku menirukan cara seorang kacung yang minta belas-kasihan kepada majikannya.
Dengan sabar kutunggu sampai Srintil tenang kembali. Mukanya yang tegang perlahan-lahan kembali seperti biasa.
“Ya, Rasus. Aku tidak marah.”
“Begitulah seharusnya. Apalagi bila kita mengingat ceritera itu.”
“Kau benar. Untung kau memperingatkan aku. Kalau tidak, entah apalah jadinya.”
Ceritera yang kumaksud adalah sebagian dongeng yang hanya dimiliki oleh Dukuh Paruk. Konon menurut dongeng tersebut pernah terjadi sepasang manusia mati di pekuburan itu dalam keadaan tidak senonoh. Mereka kena kutuk setelah berjinah di atas makam Ki Secamenggala. Semua orang Dukuh Paruk percaya penuh akan kebenaran ceritera itu. Kecuali aku yang meragukannya dan mencurigainya hanya sebagai salah satu usaha melestarikan keangkeran makam moyang orang Dukuh Paruk itu.
Tak kusadari betul berapa lama aku berdua bersama Srintil berada di dalam kelengangan pekuburan Dukuh Paruk. Dari tempatku duduk aku tak melihat matahari. Kerimbunan beringin menghalanginya. Meski tak tahu hendak berbuat apa, kukira kami masih akan tinggal lama di pekuburan itu. Tetapi aku mendengar
sayup-sayup orang memanggil. Aku tak lupa, itulah suara Nyai Kartareja.
“Aku harus pulang, Rasus. Nyai Kartareja memanggilku. Sudah terlalu lama aku pergi.”
Hanya anggukan kepala yang bisa kuberikan sebagai tanggapan. Srintil bangkit, kemudian berjalan berkelok-kelok menghindari tonggak-tonggak nisan. Rumpun-rumpun puring bergoyang tersibak oleh Srintil yang berjalan cepat. Kupu-kupu berterbangan dari pohon kemboja yang sedang berbunga. Aku berdiri memandang Srintil yang tampak dan hilang terhalang pepohonan. Sampai di tempat terbuka tampaklah ronggeng itu berlari. Rambutnya terburai ke belakang. Ada sesuatu terasa lenyap dari hatiku, dan aku tak tahu benar apakah itu.
Sore hari paling getir yang pernah kualami. Pulang dari pekuburan aku tidak masuk ke rumah. Nenek yang memanggil-manggil karena hidangan bagiku terbengkalai sejak siang tak kuhiraukan. Aku duduk dekat kandang kambing memperhatikan burung-burung bluwak yang pulang ke pucuk-pucuk bambu di
Dukuh Paruk. Atau lengkung bianglala di langit sebelah barat. Pagelaran alam yang damai dan indah. Tetapi aku tidak bisa menikmatinya. Sebuah sisi di hatiku yang mampu menangkap bentuk-bentuk keindahan tertutup oleh rasa gelisah karena beberapa jam mendatang Srintil bukan lagi Srintil.
Aku sadar betul diriku terlalu kecil bagi alam, bahkan bagi Dukuh Paruk yang sempit itu. Maka segalanya berjalan seperti biasa. Kusaksikan matahari tenggelam. Puluhan ekor kampret dan kalong keluar mendaulat langit Dukuh Paruk menggantikan burung layang-layang dan burung-burung lainnya. Pelita-pelita kecil mulai dinyalakan menerangi beranda-beranda yang berbatas dinding bambu. Nyamuk dan agas terbang berputar-putar mengelilingiku. Hari benar-benar telah menjadi gelap, dan aku bergerak masuk ke rumah.
Dukuh Paruk seperti hendak berangkat tidur. Anak-anak tak satu pun kelihatan. Bahkan suara mereka tiada lagi terdengar. Hanya sesekali terdengar keributan kecil di kandang kambing. Mereka gelisah oleh sengatan nyamuk. Atau mereka melihat sepasang mata yang berkilau kebiru-biruan dalam gelap; mata
seekor kucing liar.
Kedua puluh tiga rumah di Dukuh Paruk sudah kelihatan sepi, kecuali rumah Kartareja. Di rumah dukun ronggeng itu sudah beberapa malam lampu besar dinyalakan. Nyai Kartareja telah selesai mendandani Srintil dengan kain dan baju baru. Rambutnya disanggul. Kartareja menyalakan pedupaan, yang diletakkannya di sudut halaman. Sebuah gayung dengan tangkainya yang tertanam di dalam tanah juga
ada di sana. Celana kolor bekas, kutang bekas serta pakaian dalam lainnya dilemparkan ke atas genting. Selesai dengan pekerjaan itu, Kartareja berdiri di tengah halaman dengan wajah menatap langit. Dukun ronggeng itu sedang melakukan ritus penangkal hujan.
Aku sedang duduk di atas lincak di beranda. Gelap, karena aku malas menyalakan lampu. Dari jalan sempit yang menuju rumah Kartareja kudengar lenguh seekor kerbau. Malam hari ada orang menuntun kerbau, adalah hal yang tidak biasa terjadi di Dukuh Paruk. Apalagi di pedukuhan itu tak seorang pun mampu memelihara ternak tersebut. Ketika melewati depan sebuah rumah iring-iringan itu tampak jelas. Kukenali betul siapa penuntun kerbau itu: Dower. Seorang perjaka dari kampung Pecikalan menuntun seekor kerbau menuju rumah Kartareja. Segera kuduga hal ini bersangkut-paut dengan acara bukak-klambu malam ini. Kain sarung kusambar dari sampiran, lalu aku berjalan mengendap ke rumah dukun ronggeng itu dari arah belakang. Sampai di sana kulihat ternak besar itu telah tertambat di samping rumah Kartareja. Seperti malam kemarin, aku ingin mendengarkan percakapan antara Kartareja dan Dower. Maka aku berjingkat ke emper samping. Dari celah dinding bambu aku mengintip ke dalam. Dower dengan bajunya yang baru duduk di hadapan tuan rumah. Srintil tidak kelihatan. Namun aku
mendengar bisik-bisik antara Nyai Kartareja dengan ronggeng itu.
Sambil mengusap wajahnya yang berkeringat, Dower membuka pembicaraan.
“Aku datang lagi, Kek. Meski bukan sekeping ringgit emas yang kubawa, kuharap engkau mau menerimanya.”
“Lho. Bukan sebuah ringgit emas?” tanya Kartareja.
“Bukan, Kek.”
“Apa? Ringgit timah?”
“Seekor kerbau betina yang besar. Binatang itu paling tidak bernilai sama dengan sebuah ringgit emas,” kata Dower menerangkan. Namun Kartareja menyambutnya dengan senyum kecut, bahkan menyepelekan. Dower menjadi gelisah dalam duduknya.
“Tetapi ringgit emas bisa masuk saku celana. Bagus, tidak kotor dan aku takkan disusahkannya dengan urusan kandang, rumput serta bau busuk,” ujar Kartareja sambil membuang muka.
“Kau memang benar, Kek. Tetapi bila dua buah rupiah perak yang kujadikan panjar menjadi milikmu, kukira pemberianku cukup, lebih dari cukup. Bagaimana?”
Kartareja tidak mengubah roman muka meski dalam hati dia merasa menang. Seekor kerbau betina yang besar ditambah dengan dua keping rupiah perak. Dukun ronggeng itu terbahak dalam hati. Hanya karena Kartareja sudah amat berpengalaman maka dia dapat mengendalikan perasaannya.
“Tetapi bagaimana juga kau tak bisa kuanggap telah mencukupi syarat yang kutentukan. Seekor kerbau dan dua buah rupiah perak tidak sama dengan sebuah ringgit emas.”
“Jadi engkau menolak, Kek?” tanya Dower gelisah.
“Ya. Kecuali...”
“Kecuali apa?” potong Dower cepat.
“Kecuali kau mau hanya menjadi cadangan. Bila sampai tengah malam nanti tak ada orang lain membawa ringgit emas kepadaku, maka kaulah pemenangnya. Kalau kau menolak, silakan terima kembali dua rupiah perak ini. Bawalah pula kerbaumu itu.”
Dower tidak menyangka Kartareja akan menolak dengan kata-kata sekeras itu. Perjaka Pecikalan tergagap. Bukan main kecewa hatinya. Dower merasa telah melakukan segala usaha agar bisa memenangkan sayembara bukak-klambu, tidur semalam-malaman di atas tempat tidur empuk bersama ronggeng Dukuh Paruk yang masih perawan. Teringat kembali oleh Dower bagaimana dia mendongkel lemari milik orang tuanya untuk mencuri uang rupiah perak itu. Tentu Dower teringat pula pengalaman siang tadi. Dengan gemilang dia berhasil mengecoh ayahnya. Dari sawah kerbau milik ayahnya yang paling besar dituntun pulang. Bukan dimasukkannya ke dalam kandang, melainkan terus dibawanya ke
Dukuh Paruk. Kini Dower merasa segala akal busuknya belum tentu membuahkan hasil. Bahkan bayangan kegagalan muncul di depan matanya. Dalam hati, Dower mengutuk Kartareja dengan sengit. “Si Tua Bangka ini sungguh-sungguh tengik!”
Dari tempat gelap di balik dinding aku bisa merasakan kekakuan antara Dower dan Kartareja. Di antara keduanya tidak terjadi percakapan lebih lanjut. Dower merasa berat menerima syarat baru yang dikatakan oleh Kartareja. Sebaliknya dukun ronggeng itu tidak hendak mundur dari pendiriannya.
Kebekuan di beranda rumah Kartareja berakhir. Di halaman kelihatan seorang muda datang dengan sepeda berteromol. Dower langsung tahu siapa pemuda itu. Dari suara sepedanya Dower telah memastikan kedatangan Sulam. Hati pemuda Pecikalan resah karena dia tahu seorang saingan tangguh telah datang. Sebaliknya, Kartareja tersenyum. Dia juga kenal siapa Sulam adanya; anak seorang lurah kaya dari seberang kampung. Meski masih sangat muda Sulam dikenal sebagai penjudi dan berandal. Seorang seperti Kartareja tidak merasa perlu mencari orang-orang alim. Dia hanya memerlukan sebuah ringgit emas sebagai nilai keperawanan Srintil.
Sulam melangkahi ambang pintu dengan caranya sendiri. Ucapan salam tak perlu baginya. Kebanggaan menjadi anak seorang lurah dibawanya ke mana-mana. Tetapi Sulam berhenti dan tertegun sejenak ketika dilihatnya seorang pemuda lain sudah duduk di hadapan Kartareja. Saling tatap antara Dower dan Sulam terjadi sejenak. Melalui sorot mata masing-masing mereka saling mengejek.
“Ada anak Pecikalan di sini?” kata Sulam angkuh. Sebelum tuan rumah menjawab, Dower menyahut lebih dahulu.
“Ya! Mengapa? Aku telah menyerahkan seekor kerbau dan dua buah uang rupiah perak. Semua itu bernilai lebih dari pada sebuah ringgit emas,” kata Dower bangga. Keterangan ini membuat Sulam penasaran. Dia tidak percaya.
“Betul kata anak Pecikalan ini, Kek?” tanya Sulam kepada Kartareja. Kakek itu tidak segera memberi jawaban. Tanpa melihat kepada Sulam maupun Dower, kemudian Kartareja berkata.
“Dower tidak berbohong. Tetapi duduklah dulu. Kau belum mengatakan maksud kedatanganmu ke rumah ini.”
“Lho. Kau menyelenggarakan bukak-klambu malam ini, bukan?” tanya Sulam masih dengan caranya yang angkuh.
“Betul.”
“Nah, mengapa kau bertanya maksud kedatanganku. Kaukira aku akan datang kemari bila kau tidak menjamuku dengan ronggeng itu?”
“Baiklah. Bila demikian katamu, pasti kau sudah siap dengan sebuah ringgit emas,” ujar Kartareja.
“Sebuah pertanyaan yang menghina, kecuali engkau belum mengenalku. Tentu saja aku membawa sebuah ringgit emas itu. Bukan rupiah perak, apalagi seekor kerbau seperti anak Pecikalan ini,” ujar Sulam sambil melirik ke arah Dower. Yang dilirik tersengat hatinya lalu membalas keras.
“Sulam! Kau boleh pongah kepada siapa pun tetapi jangan kepadaku. Yang hendak kuserahkan kepada Kartareja lebih mahal daripada sekedar sebuah ringgit emas. Dan kau Kartareja! Alangkah dungu bila kau menolak pemberianku dan menerima pemberian Sulam.”
“Eh? Engkau marah? Kaulah yang dungu! Kartareja hanya meminta ini sebagai syarat, bukan yang lain-lain, apa pun bentuknya,” ujar Sulam sambil membantingkan uang logam kuning ke atas meja. Kemilau cahayanya.
“Berilah lebih banyak bila kau memang kaya,” tantang Dower.
“Bila sejak semula Kartareja menghendaki lebih banyak, dua ringgit emas misalnya, pasti kupenuhi. Kau anak Pecikalan jangan banyak cakap. Pulanglah! Gembalakan kerbaumu di sawah.”
“Sulam. Jangkrik kamu!”
Dua pemuda itu bangkit dan saling pandang dengan sinar mata kemerahan. Baik Sulam maupun Dower sudah mengepalkan tinju. Tetapi Kartareja tetap tenang. Dia hanya melepaskan rokok dari bibir.
“Sabarlah, Anak muda. Duduklah di tempat masing-masing. Kita akan berbicara baik-baik.”
“Aku hanya mau duduk kembali setelah anak Pecikalan ini enyah dari sini,” seru Sulam keras.
“Jangan suruh aku duduk kecuali kau sudah mengakui pemberianku lebih banyak daripada pemberian Sulam. Kartareja, kau jangan bodoh!”
Melihat ketegangan semakin menjadi-jadi, Kartareja bangkit dan berdiri di antara kedua tamunya. Nyai Kartareja keluar. Srintil muncul sebentar di pintu lalu surut kembali. Kedua pemuda yang sedang bersitegang sempat melihatnya. Aneh. Setelah melihat Srintil kemarahan Dower dan Sulam mereda.
“Oh, kalian bocah bagus,” kata Nyai Kartareja.
“Jangan bertengkar di sini. Aku khawatir tetangga nanti datang karena mendengar keributan. Ayo bocah bagus, duduklah. Kalau kalian terus berselisih, pasti Srintil merasa takut. Bagaimana bila nanti dia tidak bersedia menjalani bukak-klambu?”
Oleh caranya yang khas gaya seorang mucikari, Nyai Kartareja dapat menenangkan Sulam dan Dower. Keduanya duduk kembali, masing-masing dengan wajah kecut. Hening. Kartareja duduk termangu. Dahinya berkerut-kerut, membuktikan ada sesuatu yang sedang dipikirkannya. Kemudian kakek itu bangkit berdiri. Kata-katanya terdengar pelan penuh wibawa.
“Kalian datang membawa persoalan ke rumah ini. Kalau kalian tidak ingin aku membatalkan rencana, beri kami kesempatan memecahkan persoalan itu. Hendaknya kalian mau diam sebentar di tempat masing-masing. Jangan mencoba bertengkar kembali. Aku hendak bermusyawarah sebentar di dalam.”
“Ya, kalian harus menurut. Ingat, Srintil masih sangat muda. Dia tidak biasa mendengar keributan,” sambung Nyai Kartareja.
Kakek dan nenek itu masuk ke dalam meninggalkan kedua tamunya yang masih membisu di atas lincak. Antara keduanya sering terjadi saling curi pandang. Tidak lebih. Mereka termakan oleh gertak Kartareja yang mengancam akan membatalkan malam bukak-klambu.
Di ruang dalam suami-istri itu tidak melihat Srintil. Tetapi mereka tidak berpikir jauh. Paling-paling Srintil sedang tertelungkup di dalam biliknya dengan hati berdebar-debar. Bila demikian Nyai Kartareja dapat memahami perasaan gadis itu. Dia masih perawan.
“Ambil dua cangkir,” perintah Kartareja kepada istrinya.
“Kau mau apa?”
“Lihatlah nanti.”
Kartareja mengeluarkan botol-botol dari lemari. Sebuah masih penuh berisi ciu. Sebuah lagi hanya berisi
seperempatnya. Isi botol yang kedua ini ditambah dengan air tempayan hingga penuh. Kepada istrinya yang datang membawa dua buah cangkir, Kartareja memerintahkan menghidangkan minuman keras itu kepada Sulam dan Dower.
“Jangan keliru! Yang asli buat Sulam. Lainnya buat Dower,” kata Kartareja. Istrinya tersenyum.
Walaupun tidak selicik Kartareja, namun perempuan itu sudah dapat menduga ke mana maksud tindakan suaminya.
Bau alkohol tercium oleh Sulam dan Dower. Kegelisahan dan minuman keras. Dua hal yang ditemui menjadi sahabat di mana-mana. Baik Sulam maupun Dower ingin secepatnya mereguk isi botol yang disodorkan oleh Nyai Kartareja. Apalagi setelah perempuan itu berkata menantang. “Bocah bagus yang paling gagah adalah siapa yang lebih dulu menghabiskan minuman keras ini.”
“He, Nyai. Tetapi mengapa kau hanya menyediakan sebotol buatku? Tambah lagi barang dua-tiga botol. Kau jangan harap akan ada sisa minuman di hadapanku nanti.”
Tidak berbeda gairahnya dengan Sulam, Dower menarik cangkir dan botol yang tersedia baginya. Betapapun pemuda Pecikalan ini tak ingin disebut sebagai bocah bagus kedua. Dalam hati Dower berkata, dirinya bukan anak kecil yang akan muntah bila kerongkongan tersiram minuman keras.
Sulam telah mereguk isi cangkir pertama. Tanpa memperdulikan urat-urat tekaknya yang mengerut, dia meneguk pula isi cangkir kedua. Dan seterusnya. Hanya dalam beberapa saat sebotol ciu keras sudah mengendap dalam lambungnya. Mula-mula Sulam merasa kulit wajahnya terjerang. Panas. Telinga berdenging. Badan terasa ringan. Pandangan mata membaur. Lama-kelamaan dunia jungkir-balik di hadapannya. Tetapi Sulam merasa tenaganya bertambah berlipat ganda.
Bersama suami-istri Kartareja, Dower yang sama sekali tidak mabuk ikut menyaksikan Sulam yang mulai mengigau. Dalam dunia khayalnya Sulam melihat beribu bintang jatuh dari langit. Telinganya mendengar suara tembang asmara. Di hadapannya muncul Srintil mengajaknya bertayub. Bau ciu yang
menguap dari mulut sendiri dirasakannya sebagai wewangian yang dikenakan oleh ronggeng Dukuh Paruk itu. Tergugah birahi Sulam. Terhuyung-huyung dia bangkit. Di tengah beranda dia mulai berjoget. Nyai Kartareja yang berdiri di dekatnya tidak tampak oleh Sulam sebagai seorang nenek-nenek.
Perempuan tua itu kelihatan oleh Sulam sebagai Srintil yang sedang mengajaknya bertayub.
Oleh suaminya Nyai Kartareja disuruh melayani Sulam yang sedang hilang ingatan. Soal bertayub tak usah ditanyakan kepada istri dukun ronggeng itu. Dia sangat berpengalaman. Jadilah. Teringat masa mudanya, maka Nyai Kartareja melayani Sulam dengan sepenuh hati. Dia membiarkan dirinya dibawa berjoget, bahkan diciumi oleh Sulam.
Rencana yang menguasai Sulam tidak berlangsung lama. Ciu telah mutlak menguasai semua organ tubuhnya. Gerakannya makin lamban, makin goyah. Ucapan cabul masih sempat keluar dari mulut Sulam sebelum kedua lututnya terlipat, roboh dalam pelukan Nyai Kartareja. Oleh dukun ronggeng yang
dibantu Dower, Sulam diangkat dan dibaringkan di atas lincak. Seekor kambing jantan telah dikalahkan oleh ciu dan tipu daya.
“Beres,” kata Nyai Kartareja dengan napas tersengal-sengal.
“Ya, Nyai. Sekarang sudah beres,” jawab Kartareja.
“Engkau tidak mabuk, bukan?” tanya Nyai Kartareja kepada Dower.
“Tidak, Nek. Tidak.”
“Nah! Tunggu apa pula engkau ini?”
“Ah, apa maksudmu?” tanya Dower bingung.
“Si Dungu dari Pecikalan. Engkau tak mengerti aku bersusah payah membuat Sulam mabuk? Sekarang kau kumenangkan.”
“Jadi? Jadi?”
“Ya. Kau boleh tidur bersama Srintil sekarang. Tetapi waktu terbatas sampai Sulam tersadar. Tahu?”
“Ya, ya. Aku sudah tahu.”
Terdengar suara derit ketika Dower menutup pintu bilik yang berisi tempat tidur berkelambu itu. Sepi. Suami-istri Kartareja masuk ke bilik mereka sendiri. Di sana pasangan tua itu bergurau. Sebuah ringgit emas, dua rupiah perak dan seekor kerbau sudah hampir di tangan.
*****
Bersambung...
______________________________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar