"SURAT DARI SEBERANG PULAU"
Kupanggil dia Randai, padahal namanya Raymond Jeffry. Nama yang keren. Orang Minang selalu sangat percaya diri dan punya semangat global memberi nama anaknya. Mulai dari yang kearab-araban seperti Hamid, Zaki, Ahmad, ala eropa timur seperti Weldinov, Martinov, sampai yang terdengar kebarat-baratan seperti Goodwill, Charlie, Wildemer
dan Kerman. Beberapa nama yang sepertinya serapan luar negeri ternyata sangat lokal sekali. Bahkan banyak yang sebetulnya itu merupakan kata sandi. Seringkah, sandi ini
hanya orang tua dan anak itu saja yang tahu.
Contohnya, seorang pemuka agama di kampungku tidak memberi nama anak perempuannya Fatimah atau Zainab, tapi
malah Suhasti. Ini bukan hanya sekadar nama. Di baliknya tersimpan makna yang dalam dan refleksi nasionalisme yang amat tinggi, sehingga dipatrikan pada nama anaknya. Suhasti kependekan dari Sukarno Hatta Simbol Rakyat Indonesia. Ada juga yang mengawetkan nama orangtua pada anak mereka. Charlie misalnya. Kependekan dari Chakra dan Nelie, bapak dan emaknya anak ini.
Selain kependekan, ada juga yang terang-terangan mengambil nama-nama yang sudah paten. Misalnya kawan SD-ku bernama John Fitzgerald Kennedy—kami panggil dia si Ned. Guruku selalu patah lidah setiap mengabsen namanya di kelas. Sayang setamat SD dia tidak terus sekolah dan ikut bapaknya berjualan pisang raja di Pasar Kamis. Seorang kerabat jauhku bernama Harley Davidson—akrab disebut si Son, karena Bapaknya begitu tergugah dengan potongan majalah yang memuat iklan motor besar itu. Keunikan nama ini menghadirkan spekulasi bahwa bangsa
Minang datang dari sejarah yang sangat tua. Qila waqala, orang minang masih anak cucu dari Alexander Agung. Jadi nama agak keeropa-eropaan mungkin bawaan turun temurun dari zaman moyang Alexander itu. Benar tidaknya, hanya Tuhan yang tahu. Wallahua’lam.
Menurutku, nama unik orang Minang akan bertambah gagah kalau dilekatkan dengan nama suku masing-masing. Berbeda dengan orang Batak, suku orang Minang tidak selalu
dituliskan di belakang nama. Nama suku utama adalah Koto, Piliang, Bodi dan Chaniago. Lalu keempat suku ini beranak-pinak menjadi puluhan nama suku lain yang sangat variatif. Sebut saja misalnya Banuampu, Payobada atau Sungai Napa. Ada yang terinspirasi nama barang seperti Guci dan Salayan ada yang diambil dari nama tumbuhan seperti Pisang, Dalimo dan Jambak. Aku sendiri kalau memasang nama suku akan
berbunyi Alif Fikri Chaniago. Bayangkan bagaimana kerennya John Fitzgerald Kennedy Chaniago terdengar.
Di Minangkabau juga dikenal istilah ketek banamo, gadang bagala. Kecil diberi nama, dewasa diberi gelar. Begitu seorang laki-laki menikah, maka dia mendapat gelar adat. Dan di kampung, gelar inilah yang dipakai untuk memanggil laki-laki yang menikah. Gelar tertinggi adalah datuk, atau kepala suku. Siapa saja yang berani memanggil seorang datuk dengan nama aslinya bisa kena sangsi adat. Ayahku sendiri bernama Fikri Syafnir yang kemudian mendapat gelar Katik Parpatiah Nan Mudo; Sejak itulah kemudian lebih populer dipanggil Katik Parpatiah tidak pernah lagi ada yang memanggilnya Fikri. Randai sebetulnya sebuah budaya Minang berupa seni bercerita yang dicampur dengan dendangan lagu, Minangkabau. Dan Raymond adalah sedikit dari generasi muda yang masih tergila-gila menonton budaya randai yang semakin sepi penggemar. Raymond malah bangga aku panggil dia dengan, julukan Randai, seperti hobinya.
Kawanku yang beralis tebal dan berbadan ramping tinggi ini adalah anak saudagar kaya yang tinggal di kampungku. Walau berlatar pedagang, orang tuanya ingin anaknya bisa mendalami ilmu agama dulu sebelum dipercaya jadi penerus usaha, mulai dari toko sampai perusahaan konveksi dan bordir yang produknya sampai ke Tanah Abang.
Randai pun dikirim masuk sekolah agama di Madrasah Tsanawiyah Negeri dan menjadi teman sekelasku. Kami selalu bersaing ketat dalam merebut ranking satu di kelas. Kalau
semester ini dia juara satu, semester depan biasanya aku yang juara. Aku selalu menyimpan iri dalam hal kepandaian
matematika dan ilmu alam. Aku rasa, dia iri dengan Bahasa Inggris dan kemampuan menulis dan verbalku. Tapi kami tetap bersahabat dekat di tengah persaingan ini. Hobi berkirim surat atau sahabat pena berada di puncak pularitas. Kami berdua termasuk di antara penggemar berkirim kirim surat ini. Bahkan kami saling berkompetisi mendapat sahabat pena yang lebih banyak dan lebih jauh asalnya. Suatu hari, Randai menggebrak persaingan dengan membawa
sebuah surat yang datang dari Hongkong. Dia bangga sekali mengibas-ngibass kan amplop berstempel karakter Cina itu di depan mukaku. Hebat nian, pikirku panas. Demi mencoba
menyamai Randai, aku memutar otak bermalam-malam. Dengan bantuan Pak Etek Gindo yang tinggal di Arab Saudi, sebulan kemudian aku dengan bangga meletakkan sebuah amplop dari Jeddah di meja Randai. Sepanjang minggu itu kami bertengkar mempersoalkan siapa yang lebih hebat. Dalam persahabatan yang kompetitif ini, kami kerap saling bercerita tentang cita-cita kalau nanti sudah besar. Dia bercita-cita ingin jadi insinyur listrik yg bisa membikin pembangkit listrik tenaga air seperti di Danau Maninjau. Tidak
mau kalah, aku pun menyatakan ingin menjadi insinyur yang bisa membangun Waduk Jatiluhur. Dia lalu menimpali akan menjadi insinyur yang membangun Jakarta. Aku membalas ingin menjadi insinyur yang bisa membikin pesawat terbang seperti Habibie. Saat itu aku bahkan lupa kalau aku kesulitan
pelajaran matematika. Begitulah terus berjalan. Kami ingin terus saling membalas supaya terdengar lebih hebat. Tapi kami tetap dua sahabat yang tampaknya saling tahu bahwa
kami membutuhkan satu sama lain .
Kami juga sepakat, setamat MTsN, kami akan meneruskan ke SMA yang sama. Karena menurut kami ilmu dasar agama dari MTsN sudah cukup sebagai dasar untuk memasuki kancah ilmu pengetahuan umum. Beruntungnya Randai, orang tuanya sama sekali tidak keberatan. Dia telah punya pakta baru dengan orang tuanya untuk boleh keluar jalur setelah madrasah. Sayangnya, aku dan Amak tidak punya pakta ini.
Kami kemudian dipisahkan oleh nasib. Dia kini terdaftar sebagai siswa SMA terbaik di Bukittinggi, tepat sesuai rencananya—yang juga dulu rencanaku. Sementara aku memutar arah secara radikal, merantau ke pelosok Jawa Timur untuk menjadi murid di sebuah pondok yang didirikan untuk mendalami agama.
***MB***
Hari ini sepucuk surat diantarkan seorang kakak bersepeda putih dari bagian administrasi. Aku balik surat itu, dan di
belakangnya Tertulis, dari Randai. Konco palangkinku. Teman akrabku. Di bawah namanya dia menuliskan “siswa SMA Terbaik di Bukittinggi”. Aku tersenyum kesal, anak ini tetap menyebalkan.
Di bawah sebatang kelapa yang tumbuh di depan asrama, tulisannya yang 30 derajat miring ke kanan aku baca dengan tidak sabar.
Kepada kawan “sparring partner”-ku Alif Di sebuah desa di Jawa Timur.
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Apa kabar kawan? Bagaimana rasanya jadi pasukan bersarung dan berkopiah? Apakah pekerjaan kamu setiap hari adalah shalat dan mengaji? Ceritakanlah padaku di sini.
Alhamdulillah, sesuai cita-cita, aku diterima di SMA Bukittinggi. Sekarang aku sedang mapras—masa perkenalan siswa.
Kau tahu Lif, ternyata “keindahan” SMA yang kita bayangkan dulu tidak ada apa-apanya dengan yang sebenarnya. SMA benar-benar tempat yang menyenangkan untuk belajar dan ber gaul. Guru-gurunya juga yang paling terkenal di Sumatera Barat.
Kamu ingat kan, buku pegangan fisika kita dulu itu ditulis olek DTS. H.M Lutfhi, Msc? Nah Drs. Luthfi ini akan jadi salah satu guruku di kelas satu nanti. Luar biasa kan? Aku akan minta
tanda tangan dia di buku teks kita MTsN dulu.
Di acara mapras ini kita diperkenalkan dengan berbagai macam ekskul yang hebat-hebat.
Kamu belum pernah lihat komputer kan? Nah disini semua murid ikut belajar komputer
karena sekolahku baru membuat lab komputer yang paling modem di kota kita. Senangnya. Ternyata komputer tidak hanya di film saja, ternyata di sekolahku pun ada. Kawan-kawan pun datang dari berbagai tempat. Ada yang dari Agam, Padang Panjang, 50 Kota, Payakumbuh dan lainnya. Pokoknya, banyak kawan baru Lif.
Dan yang paling asyik, di akhir mapras nanti kita akan berdarmawisata ke pantai Muaro di Padang dan kampus universitas tertua di Sumatera, Universitas Andalas. Kata guru kami, supaya kami mulai bisa melihat apa prospek kami kuliah nanti.
Luar biasa kawan. Semoga keputusan kau ke Jawa itu benar. Kalau tidak, cepatlah kembali, mungkin kamu masih bisa dipertimbangkan diterima di SMA ini.
Aku tunggu jawaban surat ini
Kawanmu selalu Randai
Aku baca suratnya sekali lagi. Senang mendapat surat dari kawan lama dan melihat kebahagiannya masuk sekolah baru. Tapi juga iri dan bercampur sedih. Rencana masuk SMA-nya juga rencanaku dulu. Ketika Randai senang dengan maprasnya, aku malah kalut dijewer dan menjadi jasus. Dia bebas di jam sekolah, aku di sini didikte oleh bunyi lonceng. Dia akan mengejar mimpinya menjadi insinyur yang
membangun pesawat atau proyek seperti PLTA Maninjau. Sementara aku di sini, mungkin menjadi ustad dan guru mengaji.
Aku menghela napas dan menatap kosong ke puncak pohon kelapa. Awan hitam bergumpal-gumpal siap mencurahkan hujan. Lonceng besar bertalu-talu mengabarkan waktu ke
masjid telah tiba. Aku tidak boleh terlambat lagi. Aku kapok jadi jasus. Aku jera menjadi drakula. Tyson pasti telah siap menyergap lagi.
Bersambung...
______________________________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar