Selasa, 02 Maret 2021

AYAT-AYAT CINTA 2 JILID 41

41


TANDA LAHIR


Dalam kesedihan kesadaran tetap harus menyala. Fahri teringat wasiat-wasiat istrinya. Dan wasiat harus ditunaikan sebaik- baiknya. Fahri merasa tidak berat untuk melaksanakan wasiat-wasiat itu, kecuali wasiat nomer tiga. Hulya minta agar wajahnya didonorkan dan dipindahkan ke wajah Sabina.

Itu bukan perkara yang mudah. Fahri meminta pertimbangan ayah dan ibu Hulya, keduanya menyetujui melaksanakan wasiat putri sulungnya itu jika secara hukum agama Islam tidak ada masalah. 

Dengan cepat Fahri berkonsultasi dengan  beberapa pakar fiqh untuk meminta pendapat, meskipun di Al Azhar dulu ia pernah mempelajari hukum transplantasi organ dalam hukum Islam.

Syaikh Yunus Abdul Manan, seorang pakar fiqh dan filsafat hukum Islam dari Pakistan yang sedang menjadi fellow di Oxford Centre for Islamic Studies ikut pendapat yang tidak membolebkan. 

"Kehormatan mayat harus dijaga. Pencangkokan wajah itu akan merusak wajah mayat. Haditsnya jelas, 

"Memecah tulang mayat sama seperti memecahnya ketika masih hidup.''

Tulang di sini diqiyaskan seluruh bagian dan organ tubuh. Karena hukumnya transplantasi itu haram, maka wasiat itu tidak perlu 
dilaksanakan. " Jelas Syaikh Yunus Abdul Manan lewat telepon.

Fahri tidak mau berdebat Fiqh, sebab waktunya sangat mepet. Sementara ia berkonsultasi dengan beberapa orang. Ozan dan Paman Akbar Ali telah bergerak menyiapkan tim medis. 

Fahri menelepon Syaikh Utsman, guru yang sangat dihormatinya. Saat itu Syaikh Utsman sudah bangun untuk shalat tahajud.

Dengan suara sedikit serak namun jelas, Syaikh Utsman menjawab permasalahan yang ditanyakan Fahri, 

"Ya memang ada yang mengharamkan. Tetapi saya ikut pendapat yang membolehkan. Ada tulisan sahabat baik saya Syaikh Athiyyah Saqr yang bagus sekali di kitab kumpulan fatwanya. Jika yang diambil organ tubuhnya itu sudah mati, dan dia telah berwasiat atau mengizinkan transplantasi itu, maka transplantasi itu boleh. 

Tidak ada dalil qath'i yang mengharamkannya. Kemuliaan organ tubuh mayat tidak menjadikan sebab yang melarang orang yang hidup mendapatkan manfaat dengannya. Jika wajah orang yang diberi donor wajah itu benar-benar rusak, maka ia boleh mendapatkan donor wajah agar bisa hidup lebih layak. 

Kemuliaan yang masih hidup didahulukan dari yang sudah mati.

Dan ini bagian dari ad dharuratu tubihul mahdhurat. Yang penting untuk digaris bawahi, tidak ada akad jual beli organ dan transplantasi itu tidak untuk berbuat maksiat. 

Saya berpendapat wasiat itu boleh dilaksanakan, semoga Hulya mendapat pahala amal jariyah. Aamiin."

Mendengar fatwa gurunya, Fahri mantab melaksanakan wasiat Hulya. la langsung menjumpai Sabina dan menceritakan semuanya. Sabina kaget dan awalnya ia merasa keberatan. Ia tidak tega Hulya akan dikubur tanpa wajahnya yang cantik.

"Ini wasiat. Hulya, demi Allah, tolonglah Sabina, agar Umar masih bisa melihat wajah ibunya. Agar Hulya masih bisa mendapat pahala sujud dan rukuk ketika kau shalat. Saya sudah bicara dengan Syaikh Utsman dan menurut beliau wasiat itu boleh dilaksanakan. 

Saya akan merasa berdosa seumur hidup jika 
tidak melaksanakan wasiat Hulya. Tolonglah, waktunya mepet. Jika terlambat dan jaringan wajah Hulya telah mati secara selular maka transplantasi tidak bisa dilakukan."

Dengan mata berkaca-kaca dan tubuh menggigil gemetar Sabina menjawab, 

"Ba .. baiklah, saya setuju."

Dini hari itu juga operasi pemindahan wajah itu dilaksanakan. Beruntung bahwa ada kesesuaian antara tubuh Sabina dengan Hulya secara Human Leukocyte Antigen (HLA). 

Sehingga tubuh Sabina akan menerima organ baru itu tanpa penolakan. Kondisi itu menjadi syarat penting tranplantasi organ tubuh itu sukses. Selain itu, stuktur tulang wajah Sabina ternyata mirip Hulya, sehingga tidak ada tulang wajah Hulya yang harus diambil untuk penyesuaian bentuk wajah Sabina.

Pemindahan wajah Hulya ke Sabina bukanlah yang pertama terjadi di atas muka bumi ini. Sebelumnya sudah ada beberapa operasi tranplantasi wajah di lakukan di dunia dan sukses. 

Di antaranya tranplantasi wajah yang terjadi pada Isabelle Dinoire. Perempuan dari Valenciennes itu wajahnya rusak tak berbentuk setelah dimutilasi anjing Labrador peliharaannya. Ia kehilangan hidung, bibir dan bentuk muka aslinya. Ia menjadi wanita pertama yang sukses melakukan operasi tranplantasi separo wajah.

Selain Isabelle Dinoire ada Connie Culp yang melakukan transplantasi wajah. Namun transplantasi wajah secara total dan sukses dalam sejarah dunia medis terjadi pada Richard Norris. Setelah hidup selama lima tahun memakai topeng karena wajahnya hancur diterjang peluru senjata api, akhirnya ia 
mendapatkan donor wajah dari Joshua Aversano yang meninggal karena kecelakaan. 

Wajah Joshua Aversano dipindah ke wajah Richard Norris yang rusak. Kini Richard Norris hidup dengan wajah Joshua Aversano. Operasi memindah wajah yang sebelumnya dianggap fiksi kini telah menjadi kenyataan yang 
ditulis oleh sejarah.

Dan Sabina kini sedang menjalani operasi langka itu. Sementara jasad Hulya yang telah diambil mukanya diproses untuk disemayamkan secara Islami. 

Berita meninggalnya Hulya menyebar dengan 
cepat di kalangan komunitas Muslim. Ribuan orang datang ke Central Oxford Mosque, Manzil Way, tempat di mana jenazah Hulya dishalati. Itu juga tempat di mana akad nikah Hulya dengan Fahri berlangsung.

Masjid itu sesak oleh orang - orang yang ingin menshalati Hulya. Selain itu, dikarenakan hari itu hari Jumat sehingga jamaah penuh, ribuan umat Muslim dari London, Birmingham, Manchester, Edinburgh dan kota-kota lain datang untuk menshalati Hulya yang kepahlawanannya menolong orang lain menjadi kisah yang mengharukan.

Di ruang operasi Sabina meneteskan air mata, karena ia tidak bisa ikut menshalati Hulya. Dalam hati ia terus mendoakan Hulya, 

"Allahummaghfir laha warhamha wa 'afiha wa'fu 'anha." 

Sore itu, di hari Jumat, dalam musim semi yang indah, Hulya dikubur di Garden of Peace Muslim Cemetery, ilford, London. 

Sebuah pemakaman Muslim yang luas dan indah di pinggir kota London.

Ketika para pengantar dan keluarga sudah meninggalkan pemakaman, Fahri tetap duduk di samping pusara Hulya. Fahri teringat wasiat sahabat Nabi SAW yang bernama Amr bin Ash ra. kepada putranya, agar jika ia meninggal dan dikubur putranya itu tetap duduk di kuburnya ketika para pengantar pulang. Amr bin Ash ra. meminta putranya membacakan ayat-ayat suci Al Qur'an, berharap dengan barakah ayat-ayat suci Al Qur'an itu ia bisa menjawab pertanyaan malaikat di kubur.

Ketika matahari tenggelam, barulah Fahri beranjak meninggalkan kubur Hulya dengan terlebih dahulu kembali mendoakan Hulya dengan air mata berlinang-linang.

Wexham Park Hospital adalah rumah sakit ternama dan salah satu yang terbesar di kawasan Buckinghamshire, Inggris. Beberapa fakultas kedokteran dari universitas-universitas terkenal, termasuk Oxford menjalin kerjasama dengan universitas ini. Reputasi dan kualitasnya tidak diragukan. 

Di tangan dokter bedah kelas dunia, operasi pemindahan wajah Hulya ke wajah Sabina berjalan sukses, dengan hasil nyaris sempurna.

Sabina masih diisolasi di The Paragon Suite, Wexham Park Hospital. Sudah tiga bulan Sabina di situ sejak ia dioperasi. Masa-masa penyembuhannya dari operasi hampir selesai. 

Nyeri dan sakit di sekujur wajahnya sering ia rasakan kini berangsur hilang. Setiap kali melihat wajahnya ke cermin, ia sering tidak percaya bahwa yang ia lihat adalah wajah Hulya. Ia lalu tidak kuasa menahan tangisnya. 

Tangis haru, bahagia, sekaligus sedih. Haru dan bahagia karena ia kembali memiliki wajah yang normal. Tidak hanya normal, tapi juga cantik. Meskipun sebelum wajahnya rusak, ia juga memiliki wajah yang tidak kalah cantik dengan wajahnya sekarang. 

Sedih karena teringat segala kebaikan Hulya dan ia tidak mampu untuk membalasnya selain doa dan doa. Sedih mengingat wajah yang dimilikinya itu adalah sebuah amanah untuk beribadah. Amanah agar Umar tetap bisa melihat wajah ibunya.

Oh Umar Al Faruq, anak Hulya itu yang juga adaIah anak angkatnya itu, ia begitu merindukannya. 

Sudah tiga bulan ia terisolasi di kamar mewah itu. Pekerjaannya setiap hari hanya shalat, dzikir, membaca Al Qur'an, membaca koran, membaca buku, dan olah raga ringan di kawasan rumah sakit. 

Ia tidak berani nekad pergi meninggalkan rumah sakit tanpa izin seperti dulu ia pernah pergi dari rumah Fahri, sebab kini ia menanggung amanah. 

Kebaikan Hulya, juga Fahri, yang membiayai semua operasi transplantasi wajah itu tidak boleh ia khianati sedikitpun. Semua peraturan dari pihak rumah sakit dan Fahri ia taati sepenuh hati.

Fahri mencukupi dan mengirimi semua keperluannya, tapi beIum sekalipun lelaki yang kini menjadi majikannya itu menengok dan melihat wajahnya. Ia tidak berani bertanya, kapankah suami Hulya itu akan menemuinya? 

Tiba-tiba hatinya berdesir, apa yang akan dirasakan Fahri ketika melihat wajah istrinya itu kini melekat di wajahnya? Apa yang akan dilakukan Fahri ketika itu, apakah Fahri akan 
menyentuh wajah Hulya yang kini hidup kembali? Apakah Fahri akan menciumi wajah istrinya, seperti sering ia lihat Fahri selalu mencium kening istrinya setiap mau pergi dan menciumi wajah bahkan bibir istrinya setiap kali pulang kerja?

Sekujur tubuh Sabina tiba – tiba gemetar, dadanya berdesir - desir.

Tubuh Fahri tampak kurus. Ia telah beraktifitas normal seperti biasanya, namun kesedihan hatinya belum benar-benar hilang. 

Jika Rasulullah saja sedih ditinggal wafat paman dan istrinya, sehingga tahun itu disebut 'ammul huzni, maka apakah Fahri tidak boleh bersedih istrinya wafat dalam kondisi yang tragis dan bayi yang dikandungnya otomatis ikut wafat. Itu adalah tahun kesedihan kedua setelah dulu ia bersedih atas hilangnya Aisha.

Si kecil Umar Al Faruq untuk sementara tinggal bersama Claire dan Ozan. Dan untuk sementara Bibi Melike, ibu Ozan, yang berarti adalah nenek si kecil Umar tinggal di sana membantu mengasuh cucu-cucunya.

Fahri mendapat telepon dari dokter yang menangani Sabina bahwa masa penyembuhan Sabina dari operasi tranplantasi wajah sudah bisa dianggap selesai. 

Bekas-bekas Iuka sayatan dan jahitan sudah 
nyaris tidak kelihatan. Dengan demikian, telah tiba saatnya jika Fahri ingin melihat wajah baru Sabina dalam kondisi yang sudah benar-benar baik. 

Fahri memberi tahu pihak rumah sakit besok ia dan keluarganya akan menjenguk Sabina. Dan ia minta hal itu dikabarkan kepada Sabina agar tidak terkejut.

Sore itu Fahri menata ruang perpustakaan pribadi yang sekaligus adalah ruang kerjanya. 

Sejak Hulya mulai kuliah di Oxford Brookes, ia juga menjadikan ruang perpustakaan itu sebagai tempat kerjanya. 

Perpustakaan itu tidak ditata dan dirapikan kira-kira sejak sepekan sebelum peristiwa penusukan Hulya. Ketika itu Hulya sedang sibuk-sibuknya mengerjakan beberapa paper tugas kuliahnya. 

Fahri menata buku-bukunya, juga buku-buku Hulya tentang pendidikan. Ada satu buku milik 
perpustakaan Oxford Brookes yang belum dikembalikan oleh istrinya. Fahri memisahkan buku itu untuk segera dikembalikan. Fahri kembali menata buku-buku Hulya, tiba-tiba matanya melihat buku kumpulan puisi Paul Eluard berjudul Love, Poetry yang diterjemahkan dari bahasa Perancis oleh Stuard Kendall.

Fahri jadi ingat puisi yang biasa dibacakan oleh Aisha setiap kali hendak beribadah memadu cinta. Puisi yang biasa dibaca itu karya Paul Eluard. Dan ia sempat kaget ketika Hulya juga membacakan puisi yang biasa dibaca Aisha itu di waktu yang sangat istimewa. Ketika ia tanya darimana dapat puisi itu Hulya hanya tersenyum dan tidak mau menjawab. 

Apakah hanya kebetulan belaka Hulya membaca antologi puisi Paul Eluard lalu menghafalkan salah satu puisinya dan kebetulan puisi yang dipilih Hulya sama 
dengan yang biasa dibaca Aisha?

Fahri memungut buku kumpulan puisi itu dan memeriksanya. Ada satu halaman yang dilipat. Ia buka. Itu adalah puisi yang dibaca Aisha dan Hulya. Ada catatan Hulya. Ia hafal betul itu tulisan tangan Hulya. 

"Sabina menyarankan untuk membacakan puisi ini di saat paling intim. Akan saya coba, apa benar puisi ini bisa menambah kualitas kemesraan?" Tubuh Fahri gemetar, dadanya berdebar-debar.

"Jadi yang memberi tahu tentang puisi itu adalah Sabina? Apakah hanya kebetulan belaka Sabina memberi saran seperti itu kepada Hulya? Atau ada sebuah rahasia tentang Sabina?" 

Fahri didera penasaran luar biasa. Jantungnya berdegup kencang. Ia langsung keluar meninggalkan ruang kerjanya dan turun menuju kamar yang biasa ditempati oleh Sabina.

Selama ini, setelah Sabina menempati kamar itu, ia sama sekali tidak pernah menginjakkan kakinya memasuki kamar itu. Tetapi sore itu ia didera penasaran luar biasa yang memaksanya untuk mencari-cari petunjuk siapa sebenarnya Sabina. Mungkin di kamar itu ia bisa mendapatkan setitik cahaya terang.

Fahri memeriksa isi kamar itu dengan saksama. Barang – barang yang ada di meja. Laci - laci. Tulisan-tulisan di kertas. Tetapi ia belum menemukan petunjuk yang ia cari. Ia membuka almari tempat pakaian Sabina, ia teliti pelan-pelan. Tetapi tidak juga ia temukan sebuah isyarat yang meyakinkan.

Terakhir ia melihat laci di dalam almari pakaian. Terpaksa ia membuka laci itu. Di dalamnya ada tas tangan berbentuk dompet. Ia tahu itu harganya agak mahal, sebab yang membelikan tas ituadalab Hulya sebagai hadiah Idul Fitri untuk Sabina. Fahri mengambil tas itu dan membuka isinya.

Ada cincin emas putih bertahtakan intan biru muda. Fahri terkesiap, itu mirip sekali dengan cincin Milik Aisha, istrinya. Itu sangat mahal harganya. Dari mana Sabina dapat cincin itu? 

Di situ juga ada selembar foto. Ia memungut foto itu. Ia merasakan seperti ada aliran listrik menyengat tubuhnya dengan halus melihat foto itu. Itu adalah foto Aisha bersama dirinya berlatar keindahan panorama Candi Borobudur. Di balik foto itu ada tulisan, 

"Diriku bersama suami tercinta, dulu ketika mukaku belum hilang. Lahir batin aku mencintainya karena Allah." 

Tiba-tiba tulang-tulang Fahri seperti lumpuh di lolosi dari tubuhnya. Ia terduduk di depan almari itu sambil memegangi foto itu. 

"Jadi, Sabina itu sebenarnya adalah Aisha !? Oh, bagaimana ini bisa terjadi? '' 

Ia didera rasa percaya dan tidak percaya. Namun kepercayaannya sebenarnya lebih besar, hanya saja ia perlu bukti yang lebih kuat lagi. Bukankah foto itu mudah didapat di mana saja, sebab seingat dirinya Aisha pernah mengunggah fototo itu di akun Facebooknya.

Tak terasa kedua mata Fahri berkaca-kaca. Jika benar Sabina adalah Aisha, oh alangkah menderitanya Aisha selama ini. Dan wajah buruk bekas luka itu, apakah dia dapatkan ketika beradadi Palestina ?!

Fabri dibakar penasaran luar biasa. la berpikir mencari cara untuk mendapatkan kebenaran sosok Sabina sesungguhnya. Ia teringat, Aisha punya tanda lahir di pundak kanannya. Tanda lahir itu berupa warna hitam sebesar biji salak. 

Selama ini Sabina menutup rapat tubuhnya jadi tidak mungkin ada orang yang tahu tanda lahir itu, jika itu ada di pundak kanan Sabina. Fahri ingin melihat dengan mata dan kepalanya sendiri tanda lahir itu untuk membuktikan bahwa Sabinasesungguhnya adalah Aisha.

Fahri bangkit mengambil ponselnya dan menghubungi dokter yang menangani Sabina. Ia menanyakan apakah memungkinkan untuk operasi pita suara. Suara Sabina terdengar rusak, mungkin karena kecelakaan. Ia ingin suara aslinya dikembalikan atau didekatkan dengan suara aslinya. Dokter itu menjawab bisa sekali.

"Kapan man dieksekusi?"

"Bagaimana kalau besok?"

"Bisa."

"Tolong pakai bius total."

"Cukup bius lokal."

"Tolong bius total, segala resiko saya yang menanggungnya." 

"Baik."

"Dan ketika dia sudah dibius saya ingin lihat kondisinya."

"Tidak bisa, hanya dokter yang terlibat di ruang operasi."

"Saya hanya perlu waktu tidak lebih dari satu menit. Tolong!"

"Baik."

Malam itu Sang Dokter menginstruksikan Sabina agar berpuasa sebab besok pagi ia akan menjalani operasi pita suara. Sabina kaget. Tetapi ketika dokter menjelaskan itu permintaan Tuan Fahri, maka Sabina pasrah saja. 

Keesokan harinya Fahri telah berada di Wexham Park Hospital ketika Sabina digeledek memasuki ruang operasi. Dari jauh, tanpa sepengetahuan Sabina Fahri mengawasi. 

Ketika Sabina telah dibius total, Fahri memasuki ruang operasi. Hati Fahri bergetar hebat melihat wajah Hulya terbaring di situ. Itu 
adalah wajah istrinya yang kini melekat pada Sabina.

Fahri mendekati Sabina, ia membuka sedikit pakaian Sabina untuk membuka pundak kanannya. Dan seketika keharuan luar biasa mengiringi takbir lirihnya tatkala ia melihat tanda lahir di pundak itu. 

Jadi sosok yang ia pegang pundaknya itu adalah Aisha, istrinya yang dulu hilang di Palestina.

Keharuan luar biasa seketika mendekap Fahri, tangisnya nyaris pecah seketika itu, tetapi ia tahan, sebab operasi harus dimulai.

"Silakan dilanjutkan." Suara Fahri parau dengan air mata berlinang.

Fahri cepat-cepat keluar.

Begitu sampai di luar ruang operasi itu, di lorong yang sepi tangis Fahri meledak.

"Aishaaa! Ya Allaaah!"

Seperti ada yang meremas - remas jiwa Fahri sehingga ia tergugu sesaat lamanya.



                              *****



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...