Bab 3: Dimusuhi
SUDAH umum pada orang kampung itu, manakala ada pekerjaan berat, suka bertolong-tolongan. Pekerjaan yang dilakukan dengan upah hampir tak ada. Apalagi di dalam bahaya, misalnya kebakaran, mereka itu tidak sayang kepada dirinya untuk menolong orang sekampung.
Tidak di kampung itu saja, melainkan di seluruh tanah Minangkabau, boleh disebutkan sudah turun-temurun pada anak negeri, suka bertolong-tolongan itu.
Misalnya di dalam hal ke sawah, mendirikan rumah, dan lain-lain pekerjaan yang berat.
Musim menyabit sudah hampir datang. Ketika itu tidak lama lagi hari akan puasa. Setiap hari tidak putus-putusnya bendi membawa orang dari Bukittinggi, berhenti di pasar kampung itu.
Mereka itu baru pulang, karena sudah beberapa tahun lamanya berdagang mencari penghidupan di negeri orang. Karena itu hampir setiap hari orang ramai di pasar.
Banyak orang menanti kaum keluarganya yang baru datang. Tiap-tiap bendi kelihatan dari
jauh, hati mereka itu harap-harap cemas, kalau-kalau di atas bendi itu sanak, mamak, adiknya, dan lain-lain.
Dalam beberapa hari saja kampung itu sudah ramai, karena orang yang pulang merantau itu. Lain tidak yang dipercakapkan orang, hal orang yang baru pulang saja. Begitu pula yang datang, menceritakan penanggungannya masing-masing, selama bercerai dengan kaum keluarganya. Bahkan menceritakan keadaan negeri tempatnya berdagang itu, tidak pula dilupakannya.
Tidak lama kemudian kedengaranlah si A yang pulang dari negeri Anu, sudah membeli sawah untuk adik dan ibunya. Si B yang pulang dari negeri Anu pula, sudah membuatkan rumah untuk familinya dan lain-lain. Bermacam-macam kedengaran, banyak di antara mereka itu yang melekatkan uang pencahariannya kepada barang yang baik bakal hari tuanya kelak. Hal itu sangat menarik hati kepada orang yang tinggal di kampung, ingin hendak pergi merantau pula. Tetapi ada pula yang miskin dan melarat pulang masa itu. Malahan ada yang membawa penyakit dari negeri orang.
Mereka yang demikian itu, tentu saja karena ceroboh dan boros di negeri orang. Tidak hendak memikirkan hari tua, hidup boros dan banyak pelesir memuaskan hawa nafsunya.
Pada suatu malam Pak Midun berkata kepada anaknya,
"Midun! beritahukanlah kepada kawan-kawanmu, bahwa hari Ahad yang akan datang ini kita akan mengirik padi di sawah. Begitu pula kepada Pendekar Sutan dengan murid-muridnya. Orang lain yang engkau rasa patut dipanggil, panggillah! Sekali ini biarlah kita memotong kambing untuk penjamu orang yang datang mengirik ke sawah kita. Saya rasa takkan berapa bedanya menyembelih kambing dengan membeli daging di pasar."
"Engkau pula, Polam," kata Pak Midun sambil berpaling kepada istrinya,
"katakanlah kepada kaum keluarga, bahwa kita akan mengirik padi hari Ahad itu. Ipar besan yang patut diberi tahu, orang sekampung yang akan dipanggil untuk mengirai dan mengangin padi dan orang-orang yang akan menolong kerja dapur. Hal itu semuanya pekerjaanmu."
Ibu dan anak itu menganggukkan kepala, membenarkan perkataan suami dan bapaknya. Kemudian Midun berkata,
"Karena kita akan memotong kambing, tidak baikkah jika kita ramaikan kerja itu dengan puput, salung, dan pencak sekadarnya, Ayah?"
"Hal itu lebih baik engkau mufakati dengan mamakmu, Datuk Paduka Raja. Saya telah
memberitahukan kepadanya, hanya akan mengirik padi hari Ahad saja. Jika sepakat dengan mamakmu, apa salahnya, lebih baik lagi."
"Baiklah, Ayah! Sekarang juga saya cari beliau. Sudah itu saya pergi kepada Bapak Pendekar Sutan."
Hari Ahad pagi-pagi, Midun sudah memikul tongkat pengirik padi ke sawah. Sampai di
sawah iapun menebas tunggul batang padi untuk orang mengirik. Setelah itu dibuatnya pula sebuah dataran untuk orang bermain pencak, berpuput-salung, dan sebagainya.
Maka dikembangkannyalah tikar tempat orang mengirik. Sudah itu diturunkannya seonggok demi seonggok padi itu daripada timbunannya.
Tidak lama antaranya kelihatanlah orang datang ke sawah orang tua Midun. Berduyun-duyun, sebondong-sebondong amat banyaknya. Segala orang itu dengan tertib
sopan diterima oleh Midun beserta bapaknya, lalu dipersilakannya duduk dahulu ke tikar
yang telah disediakan untuk penerima tamu.
Dengan hormat, Midun meletakkan cerana
tempat sirih di muka orang banyak. Rokok yang sudah disediakannya untuk itu, tidak pula
dilupakannya.
Setelah beberapa lama mereka itu bercakap-cakap ini dan itu, maka dimulailah mengirik padi. Midun kerjanya hanyalah mengambil padi yang sudah diirik orang.
Perempuan-perempuan sibuk mengirai jerami yang sudah diirik. Amat ramai orang di sawah
Midun. Sorak dan senda gurau orang-orang muda tidak ketinggalan. Tertawa dan cumbu
tidak kurang. Suka dan bersenang hati benar rupanya orang mengirik padi di sawah Midun
yang baik hati itu. Bunyi hentam orang mengirik akan menyatakan, bahwa padi yang
diiriknya sudah habis, sebagai orang menumbuk padi.
Belum tinggi matahari naik, selesailah diirik padi setimbunan besar itu. Sesudah itu maka segala orang itu dipersilakan oleh Midun duduk menghentikan lelah ke medan tempat orang memencak. Sudah makan minum, lalu dimulai pula membunyikan salung dan puput yang disertai dengan nyanyi. Amat merdu bunyinya.
Kemudian orang berandai, bermencak, menari piring, dan sebagainya. Sementara itu, orang-orang perempuan mengangin padi jua, sambil menonton. Demikianlah halnya, hingga padi itu
selesai diirik dan diangin orang. Setelah padi itu dimasukkan ke sumpit, permainan berhenti.
Peralatan kecil itu pindah ke rumah. Waktu mereka itu akan pulang ke rumah Pak Midun,
pada bahunya masing-masing terletak sesumpit padi yang akan dibawa ke lumbung.
Sepanjang jalan, mereka itu bersalung dan berpuput jua, sambil bersenda gurau dengan
riuhnya.
Tidak jauh dari sawah orang tua Midun, ada pula, sawah istri Kacak. Luas kedua sawah itu hampir sama. Kebetulan pada sawah istri Kacak, hari itu pula orang mengirik padi.
Tetapi ke sawah istrinya tidak berapa orang datang. Yang datang itu pun kebanyakan
masuk bilangan keluarganya juga. Kendatipun ada beberapa orang lain, nyata pada muka
orang itu, bahwa mereka hanya memandang karena sawah istri kemenakan Tuanku Laras
saja. Mengirik ke sawah istri Kacak itu adalah pada pikirnya sebagai menjalankan rodi. Di
sawahnya tidak kedengaran orang bersorak, apalagi bersuka-sukaan. Mereka itu bekerja
dengan muka muram saja kelihatannya. Oleh orang bekerja kurang bersenang hati dan tidak seberapa pula, tidak dapat disudahkan mengirik pada hari itu. Terpaksa harus
disambung pula pada keesokan harinya.
Melihat orang ramai di sawah Midun, Kacak sangat iri hati. Bencinya kepada Midun
semakin berkobar. Apalagi mendengar sorak dan senda gurau orang di sawah Midun, amat
sakit hati Kacak. Hatinya sangat panas, hingga menimbulkan maksud jahat. Maka Kacak
berkata dalam hatinya,
"Jika dibiarkan, akhirnya Midun mau menjadi raja di kampung ini. Kian sehari kian bertambah juga temannya dan orang pun makin banyak yang suka kepadanya. Orang kampung tua muda, laki-laki perempuan kasih sayang kepadanya.
Malahan dia dihormati dan dimalui orang pula. Hampir sama hormat orang kepada mamakku Tuanku Laras dengan kepada Midun. Padahal ia adalah seorang anak peladang biasa saja.
Saya seorang kemenakan Tuanku Laras lagi bangsawan di kampung ini, tidak demikian dihormati orang. Kenalan saya tidak seberapa. Orang kampung hampir tak ada yang suka kepada saya. Hal itu nyata, kalau orang bertemu di jalan dengan saya. Seakan-akan dicarinya akal supaya ia dapat menghindarkan diri.
Sekarang nyatalah kepadaku bahwa Midunlah rupanya yang menyebabkan hal itu. Karena dialah maka orang kampung benci kepadaku. Lihatlah buktinya, ke sawahnya amat banyak orang datang, tetapi ke sawah istriku tidak seberapa. Mulai dari sekarang ia kupandang musuhku.
Sayang saya tidak dapat mengenainya dalam perkelahian tempo hari, karena orang banyak. Jika dapat, sebelum muntah darah, tidaklah saya hentikan. Saya tanggung, kalau hanya macam si Midun itu, sekali saja saya masuki dengan starlakku, membuih air liurnya ke luar.
Pedih hatiku tidak dapat saya mengenainya jika tidak tewas ia olehku, saya berguru
starlak sekali lagi.
Biarlah! Tidak akan terlampau waktunya. Pada suatu masa, tentu akan dapat juga saya membalasnya sakit hati saya kepadanya.
Ingat-ingat engkau, Midun Tak dapat tiada
engkau rasai juga bekas tanganku ini, biarpun engkau sudah mendapat pelajaran dari Haji
Abbas. Kita adu nanti silatmu itu dengan starlakku. Lagi pula tidakkah engkau ketahui
bahwa di sini kemenakan Tuanku Laras, boleh bersutan di mata, berada di hati? Tidakkah
engkau insaf, bahwa di sini kemenakan raja di kampung ini, boleh merajalela berbuat
sekehendak hati? Aha, rupanya dia mau tahu siapa saya."
Sejak hari itu Kacak sangat benci kepada Midun. la sudah berjanji dengan dirinya, akan mengajar Midun pada suatu waktu. Makin sehari makin bertambah bencinya.
Bila bertemu dengan Midun di jalan, meskipun ditegurnya tidak disahuti Kacak. Adakalanya ia
meludah-ludah, akan menunjukkan benci dan jijiknya kepada Midun. Kacak selalu mencari-cari jalan, supaya ia dapat berkelahi dengan Midun. Dengan kiasan itu Midun maklum atas kebencian Kacak kepadanya. Tetapi ia amat heran, apa sebabnya Kacak jadi begitu kepadanya.
Padahal ia merasa belum bersalah kepada kemenakan Tuanku Laras itu. Dalam perkelahian waktu bermain sepak raga pun, ia tidak ada mengenai Kacak. Dan lagi hal itu bukan karenanya, melainkan tersebab oleh Kadirun. Kemudian timbul pula pikiran Midun, boleh jadi Kacak meludah-ludah itu tidak disengajanya. Oleh sebab itu tidak dihiraukan amat oleh Midun. Tidak sedikit jua masuk pada pikirannya, bahwa Kacak akan memusuhinya.
Bersambung...
______________________________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar