Sabtu, 13 Maret 2021

NEGERI 5 MENARA BAGIAN 21

"LIMA NEGARA EMPAT BENUA"



Ujian hari terakhir adalah dua pelajaran favoritku: kaligrafi Arab dan Bahasa Inggris. Walau bukan pelajaran utama, untuk 
kaligrafi, aku mempersiapkan diri lebih dari para Sahibul Menara. Kaligrafi tidak dihapalkan, tapi dipraktekkan. Dengan 
tekun, aku menulis berlembar-lembar kertas dengan menggunakan beragam gaya kaligrafi yang diajarkan dan yang belum diajarkan. Aku bahkan meminjam beberapa buku referensi kaligrafi terbitan Mesir dan lokal. Kalam—pena 
khusus kaligrafi pun aku siapkan dengan berbagai ukuran. Semua aku lakukan dengan penuh antusiasme. Dengan gembira dan percaya diri aku mengerjakan soal ujian kaligrafi dan Bahasa Inggris. Inilah hari tersuksesku dalam ujian kali ini.

Dan dari kejauhan, bunyi lonceng besar kembali berdentang keras. Menandakan 15 hari ujian telah berakhir. Alhamdulillah. 
Setelah meregang otak habis-habisan dan kurang tidur, semua proses ini berakhir juga. Melelahkan, tapi puas karena aku merasa telah berjuang sehabis tenaga. 

Kini, untuk satu minggu, kami akan bebas menggunakan waktu yang selama ini begitu mahal. Tidak ada belajar, yang ada hanya rileks, bersantai, olahraga, membaca, jalan-jalan, dan tidur. Aku tidak terlalu peduli dengan hasil yang akan dibagikan sebelum libur pulang kampung. Toh aku telah menyempurnakan usaha dan memanjatkan doa terbaik. Seperti air bah, ribuan orang serentak keluar dari ruang-ruang 
ujian. Kami pulang ke asrama dengan muka berseri-seri. Setelah shalat Dzuhur dan makan siang, aku bergabung dengan gerombolan teman-teman yang duduk berangin-angin 
di koridor asrama. Ceracau, ketawa, dan obrolan bercampur aduk di udara. Kami menikmati kebebasan dan bercerita 
tentang apa rencana kami selama liburan. Tiba-tiba sebuah sepeda putih berkelebat cepat dan merem mencicit di depan kami. Inilah sepeda Kak Mualim dari bagian sekretaris. Kerjanya membagikan wesel dan mengantar surat ke asrama-asrama setiap siang. Selalu ngebut Semua mata dengan 
penuh minat berharap menerima surat kali ini. Dari tas kain di bahunya, dia menarik 3 lembar surat. 

“Yang beruntung hari ini menerima surat: Andang Hamzah, Zainal Nur, dan… Alif Fiktif serunya lantang tanpa turun dari sepedanya. “Saya Alif Kak… saya Alif…,” kataku terburu-buru dan segera menyambar surat dari tangannya. 

Sepucuk surat datang dari Randai. Ini surat ketiganya. Janji kami memang saling menulis surat paling tidak setiap dua bulan. Surat pertamanya tentang masuk SMA membuatku iri. Surat keduanya bercerita tentang pelajaran-pelajaran SMA yang asyik. Tampaknya tidak banyak hapalan seperti di PM. 

Tapi surat ketiga ini kembali menggoyang perasaanku. Kali ini Randai tidak hanya menulis surat, tapi juga melampirkan foto dan sebuah potongan koran. Fotonya adalah gambar dia dan teman sekelasnya berjalan-jalan ke Sitinjau Laut, di dataran tinggi dekat Kota Padang. Randai dan teman sekelasnya duduk di sebuah bukit berhutan lebat dan nun jauh di belakangnya laut biru berkilat-kilat. Semuanya bahagia. Beberapa orang duduk berpasang-pasangan. Tulisan di belakang foto itu: “libur setelah ujian”. Tahun ajarannya 
memang lebih dulu sebulan. 

Sementara potongan koran Haluan yang dikirimkannya berisi berita kemenangan Randai dalam lomba deklamasi antar SMA. Dia menyabet juara dua dan menerima trofi dari 
Walikota Bukittinggi. Bibirku tersenyum. Sebersit hawa panas menjalar di dadaku. 

Aku tidak tahu bagaimana sebaiknya. Setiap aku membaca suratnya, aku hampir selalu merasa iri mendengar dia mendapatkan semua yang dia mau. Padahal ustadku jelas mengajarkan tidak boleh iri. Tapi kalau aku tidak membaca suratnya, aku tahu aku sangat penasaran mengetahui kabarnya. Mungkin jauh di lubuk hatiku, aku selalu berharap bisa mengungguli dia. Aku mungkin selalu berharap PM akan lebih baik dari SMA-nya. 

Minggu ini aku juga menerima surat dari Pak Etek Gindo. Dia sangat senang aku ternyata mengikuti sarannya masuk PM. Di dalam amplop suratnya aku menemukan lipatan kertas karbon hitam. Di dalam lipatan ini lembar dolar Amerika pecahan 20 dolar. “Terimalah sedikit hadiah masuk PM. Sengaja diselubungi kertas karbon hitam supaya tidak diganggu tikus-tikus pos. Dolar ini bisa ditukar ke rupiah di bank besar terdekat,” tulisnya. Aku melakukan sujud syukur setelah menerima hadiah tidak terduga ini. Ini mungkin yang dimaksud Ustad Faris, “Tuhan itu bisa mendatangkan rezeki kepada manusia dari jalan yang tidak pernah kita sangka-sangka.” 

Sore, setelah bermain voli di depan aula, kami berselonjor santai di bawah menara favorit. Wajah basah dengan peluh, tapi rileks dan lepas. Kami benar-benar menikmati menghirup udara yang segar dan penuh kebebasan. Kecuali Baso. Dia tidak ikut olahraga. Dan sekarang dia masih saja memelototi beberapa kertas soal ujian, sambil sibuk bolak-balik melihat buku pelajaran. Berkali-kali dia mengangguk-angguk sambil 
tersenyum sendiri. Aku tidak habis pikir, dengan kemampuan photographic memorinya, dia tidak perlu cemas dengan hasil ujian, apalagi harus mencek seperti ini.

“Baso, bosan aku melihat buku-buku. Coba jauh-jauh dari sini,” keluh Said sambil memalingkan mukanya. Dia memang tidak terlalu pede dengan hasil ujiannya kali ini. Dan mengaku merasa sakit perut setiap melihat soal ujian. Atang dan Dulmajid mengangguk-angguk mendukung Said. 

“Iya, sekali-sekali kita libur belajar. Kini waktunya santai dan memikirkan libur,” timpal Raja. Raja jelas optimis dengan ujiannya, tapi dia bukan tipe yang harus mencek ulang hasilnya lagi. Aku sendiri berpikir netral, aku tahu sebagian ujianku kurang bagus, tapi sebagian lagi cukup menggembirakan. 

Baso cuma mengangkat mukanya sejenak ke arah kami, melempar senyum malas sekilas, dan kembali sibuk dengan soal-soalnya.

Angin sore bertiup menggetar-getarkan bilah daun pohon kelapa yang banyak tumbuh di sudut-sudut PM. Sejuk. Matahari lindap tertutup awan putih yang berarak-arak di 
langit. Aku membaringkan diri di pelataran menara sambil menatap awan-awan yang bergulung-gulung. 

Dulu di kampungku, setelah puas berenang di Danau Maninjau, kami anak-anak SD Bayur duduk berbaris di batu-batu hitam di pinggir danau sambil mengeringkan badan. Rambut 
kami kibas-kibaskan untuk menjatuhkan titik-titik air. Sedangkan celana yang kuyup kami jemur di atas batu. Kalau angin sedang tenang, permukaan air danau yang luas itu laksana cermin. Memantulkan dengan jelas bayangan bukit, langit, awan dan perahu nelayan yang sedang menjala rinuak, ikan teri khas Maninjau. Sambil menunggu celana kering, kami punya permainan favorit. Yaitu tebak-tebakan bentuk awan yang sedang menggantung di langit, di atas danau. 

Kami berlomba menggambarkan awan-awan itu mirip binatang atau wajah orang dan saling menyalahkan gambaran anak lain. Akhirnya memang bukan tebak-tebakan, tapi lomba 
membenarkan pendapat sendiri. Jarang kami punya kata sepakat apa bentuk awan itu karena semua tergantung imajinasi dan perhatian setiap orang. Ada yang melihat awan seperti naga, gajah, harimau, bahkan wajah Bung Karno, Pak Harto, Pak Mul kepala sekolah kami, atau angku Datuak Rajo Basa, guru mengaji kami. Aku sendiri jarang melihat awan menjadi bentuk makhluk hidup apalagi manusia. Aku lebih sering melihat awan-awan seperti pulau, benua atau peta. 

Kini di bawah menara PM, imajinasiku kembali melihat awan-awan ini menjelma menjadi peta dunia. Tepatnya menjadi daratan yang didatangi Columbus sekitar 500 tahun silam: Benua Amerika. Mungkin aku terpengaruh Ustad Salman yang bercerita panjang lebar bagaimana orang kulit putih Amerika sebagai sebuah bangsa berhasil meloloskan diri dari kekhilafan sejarah Eropa dan membuat dunia yang baru. Yang lebih baik dari bangsa asal mereka sendiri. 

Mungkin juga aku terpengaruh oleh siaran radio VOA yang diasuh oleh penyiar Abdul Nur Adnan yang berjudul “Islam di Amerika”. Bagian Penerangan selalu mengudarakan acara Pak Nur yang selalu melaporkan perkembangan Islam di Amerika Serikat Misalnya, dia mengabarkan di Washington DC, ibukota negara superpower ini, telah berdiri sebuah masjid raya yang besar di daerah elit pula. Di kampus-kampus Amerika semakin 
banyak jurusan tentang kajian Islam dan mahasiswa datang dari berbagai negara Islam untuk belajar ilmu dan teknologi terkini. Negara ini juga memberi banyak beasiswa kepada 
negara berkembang seperti Indonesia. 

Awan putih ini semakin berarak-arak ke ufuk yang lembayung. Aku berbisik dalam hati, “Tuhan, mungkinkah aku bisa menjejakkan kaki di benua hebat itu kelak?” 

“Hoi, apa yang kau lamunkan?” tanya Raja menggerak-gerakkan telapak tangannya di depan mataku. Aku tersadar dari lamunanku. 

“Aku melihat dunia di awan-awan itu,” kataku sok puitis. Aku gerakkan telunjukku menunjukkan garis-garis imajiner di awan kepada Raja yang duduk di sampingku. Kami sama-sama menengadah. “Benua Amerika,” kataku. Keningnya mengernyit. Dia tidak melihat apa yang aku lihat 

“Aku sama sekali tidak melihat Amerika. Malah menurutku lebih mirip benua Eropa. Tuh, kan…,” tukas Raja sambil menjalankan jarinya di udara, menunjuk ke gerumbul awan yang agak gelap.


“Kalau aku, suatu ketika nanti ingin menjalani jejak langkah Thariq bin Ziyad, menapaki perjalanan Ibnu Batutah dan jejak ilmu Ibnu Rusyd di Spanyol. Lalu aku ingin melihat kehebatan kerajaan Inggris yang pernah mengangkangi dunia. 

Aku penasaran dengan cerita dalam buku reading kita, ada Big Ben yang cantik dan bagian rute jalan kaki dari Buckingham 
Palace ke Trafalgar Square,” kata Raja menggebu-gebu kepada kami. Dia memang pencinta buku pelajaran Bahasa Inggris dan hapal isinya dari depan sampai belakang. 

Atang, Baso, Said dan Dulmajid ikut mendongak ke langit karena penasaran melihat kami bertengkar tentang awan. Dan 
tidak ada satu pun dari mereka yang setuju dengan bentuk awan yang kami bayangkan. Masing-masing punya tafsir sendiri. 

Atang dan Baso merasa awan-awan itu bergerumbul membentuk kontinen Asia dan Afrika. Sejak membaca buku tentang peradaban Mesir dan Timur Tengah, keduanya tergila-gila kepada budaya wilayah ini. Kerap mereka terlibat diskusi seru membahas soal seperti Firaun ke berapakah yang disebut di Al-Quran atau di manakah letak geografis Nabi Adam pertama turun ke bumi. 

“Menurutku, tempat yang perlu didatangi itu Timur Tengah dan Afrika, karena sering disebut dalam kitab suci agama samawi. Pasti tempat ini menarik untuk didatangi. Apalagi Mesir yang disebut ibu peradaban dunia. Ada Laut Merah, Kairo, Piramid, dan sampai kampus Al Azhar. Siapa tahu nanti aku bisa kuliah ke sana,” tekad Atang. 

Jangan lupa dengan Iran, Iraq, India, dan negara lainnya. Semua punya keunikan yang mengejutkan. Bagiku, wilayah Asia dan Afrika lebih menarik untuk diselami,” kata Baso 
mendukung Atang.


Sementara Said dan Dulmajid tetap menggeleng-gelengkan kepala tidak mengerti. Walau sudah ikut menengadah bersama kami, mereka berdua tetap tidak melihat relevansi 
awan di ujung pucuk menara kami dengan peta dunia. Mereka menganggap, awan ini ada di langit Indonesia, karena itu apa pun imajinasi orang, itu tetaplah Indonesia. Berbicara tentang cita-cita, mereka juga sepakat bahwa negara inilah tempat berjuang dan tempat yang paling tepat untuk berbuat baik.

“Ah, aku tidak muluk-muluk. Aku akan mencoba kuliah dan lalu kembali ke kampung dan membuka madrasah di kampungku,” kata Dulmajid. Said mengangguk-angguk setuju, 
dan menambahkan, “Aku juga. Setelah sekolah, aku balik ke Kampung Ampel, dan memperbaiki mutu sekolah dan madrasah yang ada,” kata Said. 

“Mungkin kita bisa kerjasama Dul?” tanya Said sambil melirik lucu. Bulu matanya yang panjang dan lentik mengerjap-ngerjap. Dul mengangguk dan mereka berjabat tangan sambil tertawa. Aku berpikir, jangan-jangan jalan Said dan Dulmajid lah yang paling benar dan mulia di antara kami. Kami terlalu bermimpi tinggi akan berkelana dan 
menggenggam dunia, tanpa tahu bagaimana caranya. Sedangkan Said dan Dul sudah tahu akan melakukan apa. 

Baso melihat kepada Said dan Dul. “Bagus saja kembali ke kampung, tapi kalian harus mencoba merantau dulu. Ingat kan apa yang kita pelajari minggu lalu, tentang nasehat Imam Syafi'i tentang keutamaan merantau?” 

Tanpa menunggu jawaban kami, dia melantunkan syair berbahasa Arab dari Imam Syafii: Orang pandai dan beradab tidak akan diam di kampung halaman Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan Berlelah-lelahlah, 
manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang. 

Kami termenung-menung meresapi pesan yang menggugah ini. Awan-awan sumber khayal kami sekarang berganti warna menjadi merah terang, seiring dengan merapatnya matahari 
ke peraduannya. Lonceng berdentang, waktunya kami ke masjid menunaikan Maghrib. 

Ustad Faris dalam kelas Al-Quran selalu mengingatkan bahwa Allah itu dekat dan Maha Mendengar. Dia bahkan lebih dekat dari urat leher kami. Dia pasti tahu apa yang kami 
pikirkan dan mimpikan. Semoga Tuhan berkenan mengabulkan mimpi-mimpi kami. Siapa tahu, senda gurau kami di bawah menara, mencoba melukis langit dengan 
imajinasi kami untuk menjelajah dunia dan mencicipi khazanah ilmu, akan didengar dan dengan ajaib diperlakukan Allah kelak. 

Malam itu, menjelang tidur, aku tulis di halaman diari tentang mimpi-mimpi kami di bawah menara tadi sore. Apakah aku benar ingin menjenguk Islam dan peradaban di negeri Paman Sam itu? Apakah ini impian yang masuk akal? Kenyataannya sekarang aku ada di jalur pendidikan agama, berada di pondok dan dikaderkan untuk menjadi guru dan ustad. Bagaimana aku bisa mencari jalan? Apa kata Amak? Apakah ini dibolehkan agama? Apa kata Randai dan orang lain mendengar mimpiku ini? Tertawa, mengejek, mendoakan, 
atau tidak percaya? 

Di kepalaku berkecamuk badai mimpi. Tekad sudah aku bulatkan: kelak aku ingin menuntut ilmu keluar negeri, kalau perlu sampai ke Amerika. Dengan sepenuh hati, aku torehkan 
tekad ini dengan huruf besar-besar. Ujung penaku sampai tembus ke halaman sebelahnya. Meninggalkan jejak yang dalam. “Man jadda wajadda. Bismillah”. Aku yakin Tuhan Maha Mendengar.





Bersambung... 

______________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...