Senin, 15 Maret 2021

NEGERI 5 MENARA BAGIAN 35

"IT’S SHOW TIME"



Pokoknya terserah kalian. Yang penting, buktikan kalian pantas jadi murid paling senior. Dan tidak kalah dengan kelas enam tahun lalu,” kata Ustad Torik bombastis. Dia mengedar 
pandang, menantang mata 400 murid kelas enam sejenak, memastikan kami meresapi tantangannya. Setelah uluk salam dia meninggalkan ruangan, membiarkan kami mengutuki diri sendiri. 

Kami terdiam dan agak tertekan. 

Said menggigit-gigit bibir atasnya. Atang yang merasa punya pengalaman dalam dunia pertunjukan mulai mencoret-coret buku tulisnya tak tentu arah. Entah gugup entah 
mencari ide. Aku yang selama ini kurang berbakat dalam pentas seni seperti ini hanya bisa menyumbangkan dan memperlihatkan rasa prihatin dengan mengetuk-ngetuk meja 
kayu dengan jariku. 

Tradisi turun temurun di PM, kelas enam harus 
mempersembahkan pagelaran multi seni terhebat yang bisa mereka produksi kepada almamater tercinta. Acara megah ini sangat dinanti-nantikan oleh ribuan penonton, mulai dari mbok sampai ustad, kiai dan adik kelas. Bahkan pamong desa dan aparat pemda kabupaten selalu menagih diundang. 

Sebetulnya banyak sekali ajang pertunjukan seperti Poettry reading, lomba drama, festival band, sampai Semuanya heboh dan menghibur kami. Tapi tak ada yang mengalahkan 
kemasyhuran Class Six Show. Inilah pertunjukan di atas pertunjukan. 

Masih segar dalam ingatanku bagaimana senior kelas enam tahun lalu membuat gempar dengan show mereka. Di tengah gelapnya aula, tahu-tahu sesosok tubuh terbang! Benar-benar 
terbang di atas kepala penonton. Lebih hebat lagi, badannya diliputi api yang menyala-nyala. Ini adegan yang mempersonifikasikan iblis yang melayang-layang siap membakar nafsu manusia. Rahasia efek itu adalah membaluri 
baju pemadam kebakaran dengan spiritus untuk menyulut api, dan mencantolkan baju berisi pemberat ini ke kabel berjalan. Untuk keamanan, tentu saja tidak ada orang di dalam baju ini. Selama berbulan-bulan, kami tidak bosan membahasnya. Kelas enam tahun lalu bahkan disebut “The Fire Maker”.

Gara -gara keunikan show tahun lalu itulah kami tersudut untuk membuat lebih bagus lagi dari tahun lalu. Ini adalah masalah harga diri sebagai kelas tertinggi, puncak rantai makanan. 

Besoknya rapat pertama semua kelas enam untuk membicarakan konsep acara show Kami kembali berkumpul di aula. 

“Akhi, tugas berat kita adalah bagaimana membuat panggung yang lain dari sebelumnya dan tidak terlupakan seumur hidup,” kata Said yang maju ke depan tanpa diminta. Sejak dia menjadi bagian dari “The Magnificent Seven”, dia sekarang sudah dianggap pemimpin informal kami kelas enam. Karena itu juga kemarin kami telah memilihnya sebagai ketua 
show dan dia berhak memilih dan memerintahkan siapa pun untuk membantu. 

Said segera membagi-bagi tugas. Karena punya reputasi sebagai pujangga dan kepala grup teater, Atang diangkat menjadi direktur pertunjukan. Sementara aku kebagian sebagai bendahara. Nasib orang Minang, selalu dianggap hitungan dan hemat sehingga cocok menjadi bendahara. 

Hampir 3 jam kami gunakan untuk urun pendapat, merumuskan bentuk acara apa yang akan kami buat. Papan tulis besar di dinding telah penuh corat-coret ide dan sketsa. Tidak gampang mengakomodasi suara ratusan orang, tapi akhirnya kami sepakat dengan beberapa mata acara penting dan penanggung jawabnya. Kami juga telah menyepakati jadwal latihan, desain panggung dan kostum yang gebyar, sampai detail acara pada hari H. Tugas kami yang harus membuat para penonton senang selama empat jam pertunjukan, sungguh akan menjadi proyek yang melelahkan. 

Sudah sebulan penuh kami berlatih. Hari H tinggal 2 minggu. Beberapa kali terjadi bongkar pasang mata acara. Ada pembukaan yang gebyar, nyanyi, tari, musik, lawak, pantomim 
sampai akrobat. Kini kami cukup puas dengan versi terakhir. 

Cuma ada satu yang masih belum tuntas dan membuat Atang semakin sering membetulkan letak kacamatanya karena resah. Dia belum menemukan teknik yang benar-benar baru 
untuk mementaskan inti acaranya, yaitu drama kolosal kisah perjalanan keliling dunia Ibnu Batutah selama 30 tahun. Dia salah seorang world traveler pertama di dunia. Bahkan dia 
berpetualang lebih jauh dari Marco Polo. 

Kisah perjalanan Ibnu Batutah ini disadur oleh Atang dari buku Tuhfah Al-Nusra fi Ghara’ib Al Amsar wa Ajaib Al-Asfar, Persembahan Seorang Pengamat tentang Kota-kota Asing 
Jalanan yang Mengagumkan, yang ditulis Ibnu jauzi. Atang ingin menggambarkan bagaimana pengembara muslim ini menapaki bumi dari Maroko, Timur Tengah, India, Cina, bahkan pernah singgah di Kerajaan Samudera Pasai, Aceh pada abad ke 14. Dia telah punya berbagai macam gambar latar belakang yang 
dilukis di atas tripleks untuk menggambarkan berbagai lansekap dunia, mulai dari padang pasir, Mekkah dan Madinah, Cina, India dan sebagainya. Musik juga telah direkam di kaset 
dan disesuaikan dengan setiap latar budaya. Tapi dia masih ingin memasukkan unsur yang lebih unik lagi ke dalam dramanya.

“Aku punya ide,” kata Atang menggebu-gebu, seminggu sebelum hari H. “Jadi kawan-kawan, aku ingin kita membuat teater yang panggungnya tidak terbatas di panggung di 
depan, tapi panggungnya juga adalah tempat duduk penonton. Kalau Ibnu Batutah sedang berjalan menembus topan badai, maka penonton akan ikut diterpa angin kencang, 
kalau dia sedang kena hujan tropis, penonton ikut basah oleh percikan air, kalau dia sedang menembus kabut Himalaya, penonton juga harus ikut tersesat bersamanya.” 

Ide cemerlang ini dia dapat dari sebuah buku tentang Walt Disney. Menurut buku itu, Disneyland modern sekarang telah mengembangkan teater yang melebihi sekadar hiburan buat indera visual. Untuk membuat penonton benar-benar merasakan ada di dalam sebuah scene, Disney menciptakan impresi lain yang bisa ditangkap oleh indera penciuman, rasa, pendengaran. 

Kami semua memasang telinga baik-baik mendengar ide brilian ini. 

“Enak didengar, bagaimana caranya?” tanya Dulmajid sangsi. 

“Ana sudah pikirkan. Kita buat semuanya manual. Kita sebar siswa kelas enam di tengah ribuan penonton. Mereka nanti pakai baju hitam-hitam supaya tidak gampang terlihat.” 

Atang menghela napasnya yang habis karena terlalu bersemangat. 

“Nah, nanti setiap orang akan dipersenjatai dengan semprotan air, pompa angin, dan asap. Tugas mereka adalah menyemprotkan asap, air, dan angin kepada penonton, sesuai dengan adegan yang ada di panggung.”

Kami suka dengan ide ini tapi juga terbengong-bengong bagaimana pelaksanaannya. Bagaimana kami bisa ada di tengah penonton dan menyiram mereka dengan air? Jelas kami juga tidak ingin penonton merasa terganggu karena kami ada di sekitar mereka dengan alat-alat ini. 

Abdil, kawan dari Jakarta yang menjadi penanggung jawab panggung memberi usul. “Supaya tidak mengganggu penonton. Aku usulkan pembagian posisi yang membuat 
mereka tersembunyi. Posisinya ada yang meringkuk di bawah kursi, ada yang merapat ke dinding, bahkan ada yang menggelantung dari langit-langit. Aku bisa mendesain pulau-
pulau kecil dari tripleks dan karton di beberapa sudut aula. Pulau ini akan ditutupi kain hitam, sehingga menyerupai batu karang di tengah ruangan.” 

Kami mengikuti skenario dari Abdil dengan penuh perhatian. 

“Di dalam pulau ini kita tempatkan orang. Lalu dari sela-sela karton dan kain hitam ini akan aku lobangi untuk berfungsi menyemburkan air, angin, dan asap ke sekelilingnya. Kalau 
kita menyebar banyak pulau di lantai penonton, maka semua penonton sudah bisa merasakan efek-efek ini,” katanya sambil mengedarkan pandangan kepada kami yang merubungnya. 
Kami bertepuk tangan dan merasa ini ide yang menarik. Suasana hati kami sudah lebih rileks. Pembagian tugas lebih spesifik. Raja dan Dulmajid mengajukan diri menjadi pasukan 
pembuat asap. Sementara Baso yang ogah-ogahan akhirnya bisa menjadi ceria setelah kami serahi tugas mengoreksi dan memeriksa semua teks drama, pidato dan MC.
 
Rencana Atang dan rancangan Abdil tampaknya akan membuat terobosan baru dalam sejarah pagelaran seni di PM.

Akan susah bagi kelas 5 sekarang untuk membuat pertunjukan yang lebih baik lagi tahun depan. Kami sangat optimis. 

Seperti kata orang luar negeri yang aku baca, the devils is in detail. Apa yang kami setujui di rapat kemarin ternyata tidak gampang untuk dilaksanakan. Semprotan air bisa dicari di Ponorogo, pompa juga, yang tidak ada adalah bahan pembuat asap. 

“Setahuku ada alatnya. Tapi kalau mau bikin sendiri kita butuh karbon dioksida kering,” kata Atang dengan wajah sok tahu. Dia selalu bangga sebagai lulusan SMA jurusan fisika. 
“Apa itu karbon kering″ tanyaku. 

“Es padat dan kering atau dry ice. Jadi berupa karbon dioksida bersuhu rendah yang dipadatkan sehingga apabila terkena udara sedikit saja, dia akan mengeluarkan asap 
mengepul-ngepul. Istilahnya ada kondensasi yang kemudian kita lihat seperti kabut atau asap.” Tampang Atang berbinar-binar bisa mendapat kesempatan menerangkan sesuatu yang ilmiah. 

Aku mengangguk-angguk saja, walau bingung. Aku percaya saja. 

Pagi-pagi hari Jumat, kami bertiga, aku, Said dan Atang minta izin ke Ponorogo untuk membeli es kering. Ustad Torik segera meneken tashrih, surat izin keluar sambil hanya bilang, “Begitu dapat, cepat kembali.” Urusan perizinan jadi gampang, kalau menyangkut show ini. 

Sialnya, telah tiga apotik besar kami datangi, semua apotekernya selalu menggeleng, “kami tidak menjual karbon dioksida padat”. Mereka menyuruh kami ke Surabaya untuk membeli barang ini. Kami berpandang-pandangan. 
Persoalannya kami hanya diberi izin pergi sebentar hanya untuk tujuan ke Ponorogo. Sementara kalau pulang lagi ke PM hanya untuk memperbarui izin, akan memakan waktu lama. Kalau mau hemat waktu dan tidak bertele-tele, kami harus segera ke Surabaya. 

Kami berunding. Setelah beberapa argumen, akhirnya kami sepakat dengan pertimbangan Said: kita langsung ke Surabaya. Toh pertimbangan ini datang dari seorang ketua 
keamanan pusat. Toh ini juga buat kepentingan bersama kelas enam. Apalagi Ustad Torik sudah mengizinkan kami keluar. Selama kami bisa kembali malam ini, seharusnya tidak apa-
apa. Kami yakin Ustad Torik akan memaklumi. Bismillah. 

Dengan menumpang bus umum yang berhenti di banyak tempat, kami sampai juga di Surabaya dalam waktu lima jam. Untunglah tidak sulit mendapatkan es kering di apotik kota besar ini. Jam tiga sore dengan tergesa-gesa kami naik bus ke Ponorogo. Baru jam delapan malam kami sampai ke PM dan 
menyerahkan kembali surat izin keluar ke kantor KP. Kami sebelumnya sudah sepakat kalau ditanya Ustad Torik, kami akan beralasan bahwa barang susah dicari sehingga butuh 
waktu yang lama. Untunglah tidak perlu berargumentasi. Ustad Torik tidak di tempat dan lembaran izin kami diterima tanpa pertanyaan oleh Ustad Suny yang bertugas piket malam ini. 

Sejak dua hari lalu kami telah memagari sekeliling aula dengan tripleks. Pagar setinggi dua meter ini untuk membuat kami bisa bekerja dengan tenang mempersiapkan dekor dan printilan lain. Selain itu kami juga ingin kejutan-kejutan interior tetap terjaga sampai pertunjukan malam ini. Dari antara kisi-kisi tripleks, adik-adik kelas mengintip kami bekerja, sampai kemudian mereka lari begitu melihat “The Magnificent Seven” berpatroli.


Karena konsep acara kami adalah “Perjalanan Mengelilingi Dunia dalam Semalam”, desain interior kami sungguh internasional. Interior kami penuhi dengan pernak-pernik dari berbagai Negara, baik Barat dan Timur. Bahkan ada miniatur bangunan terkenal seperti Piramida Giza, Taj Mahal, Temple of 
Heaven di Cina yang dibuat dari tripleks, karton, dan gabus. 

Sehabis shalat Isya malam Jumat, rombongan demi rombongan membanjiri aula. Dalam sekejap kursi penonton di aula segera terisi penuh. Suara penonton riuh rendah menunggu aksi kami. Karena ruangan dalam aula tidak cukup menampung ribuan siswa dan tamu, kursi kayu juga dipasang di pinggir dan belakang aula. Di barisan depan, aku melihat 
Pak Kiai dan para guru senior telah duduk. Tepat di sebelah mereka, duduk rombongan laki-laki bersafari dan ibu-ibu berkebaya warna terang dan bersasak tinggi-tinggi. Mereka 
bercakap-cakap dengan muka penasaran sambil menunjuk-nunjuk ke panggung. Aku yakin itulah rombongan pemda yang selalu senang kalau diundang menonton acara kami. Pak Kiai dengan sabar menanggapi pembicaraan mereka. Agak ke belakang ada rombongan keluarga para kiai dan ustad. Jantungku sempat menyentak sekejap begitu aku temukan wajah Sarah menyeruak di antara mereka. Berkerudung hijau, manis seperti biasa, dan dia duduk berdekatan dengan ibunya. Bukankah sekolahnya berjarak 
ratusan kilo meter dari sini? Apakah dia benar-benar penasaran dengan acaraku—maksudku acara kami, sehingga harus datang jauh-jauh? 

Hah, pikiran ge-er-ku datang. 

Sebagai bendahara pertunjukan, aku tidak banyak terlibat di panggung. Jadi aku menyibukkan diri untuk membuat laporan behind the scene untuk majalah Syams saja. Karena itu aku sibuk botak- balik dari belakang layar sampai ke kursi penonton untuk membuat reportase. Memang, aku dan juga 
Dul merasa tidak berbakat tampil di depan umum untuk acara pertunjukan yang menghibur. Tapi Atang tampaknya kasihan 
melihat kami yang tidak punya masa depan dalam dunia panggung. Dia lalu memberi kami berdua kesempatan untuk punya peran kecil di drama komedi pendek sebelum show utama. Tugas aku dan Dul menjadi wartawan yang 
mewawancarai aktor utama. Acting-nya cuma menyorong-nyorongkan tape kecil ke depan wajah tokoh utama sambil bertanya bla-bla-bla. Itu pun cuma sekitar 15 detik saja. Peran 
kecil yang sekilas dan tidak penting. Tapi aku bersedia saja, karena paling tidak aku nanti bisa cerita pernah ikut tampil di panggung show ini. 

Akhirnya datang juga waktunya. Tepat jam 7.30 malam: It’s show time. Sebuah gong besar dipukul oleh Said di belakang panggung. Bunyinya yang jumawa dan bergaung ke setiap sudut ruangan bagai menyedot semua bunyi-bunyi lain. Suara penonton yang tadi riuh, hilang pelan-pelan. Semua kini hening. Semua mata menatap panggung. Lampu redup pelan-
pelan. 

Atang memberi aba-aba ke belakang panggung, dan perlahan-lahan layar dikerek ke atas. Panggung yang gelap, sedikit-sedikit menjadi terang. Memperlihatkan panggung 
berlatar belakang padang pasir dan gunung-gunung pasir yang terbuat dari karung-karung berisi kapas. Beberapa pohon palem dalam pot di tempatkan di pinggir, untuk mewakili pohon-pohon kurma. 

Tiga orang berdiri mematung di tengah setting ini. Raja memakai jas panjang hitam dan dasi, sementara rambutnya berminyak berkilat-kilat disibak ke belakang. Kurdi dengan baju teluk belanga, kopiah hitam, dan sarung yang dilipat setengah membelit pinggang. Teguh di dalam balutan jubah putih terusan yang gombrong dan surban yang diikat bulatan 
hitam di kepala. Mereka mengantarkan acara malam ini dengan bahasa Inggris, Indonesia dan Arab. 

Setelah koor yang membawakan lagu Father and Son dari Cat Stevens, dan drama komedi singkat yang aku terlibat sekilas, layar diturunkan. Semua lampu kami matikan. Inilah 
acara puncak malam ini. Drama dengan judul “The Great Adventure of Ibnu Batutah”. 

Pelan-pelan layar disingkap diiringi bunyi angin bersiut-siut keluar dari kaset. Tepat di tengah panggung tampak siluet seorang yang termenung duduk di pelana seekor kuda. Badan Malik, pemeran Ibnu Batutah, yang semampai dibalut baju putih panjang yang gombrong. Dia memakai tutup kepala mirip Pangeran Diponegoro. Ujung kain tutup kepalanya menjuntai sampai ke punggung dan berkibar-kibar diterjang angin. Gagah sekali. Cerita dibuka dengan sang tokoh mengikuti sebuah kafilah, untuk memulai perjalanannya dari Maroko ke tanah Hijaz, wilayah di pesisir barat Semenanjung Arab, tempat Mekkah dan Madinah berada. Tujuannya untuk naik haji. Angin ribut dan topan padang pasir sedang 
berkecamuk. Angin datang dari kipas besar di samping panggung. Ada pun kuda adalah pinjaman dari Pak Simin, tukang andong yang biasa mangkal di gerbang PM. 

Masuk setengah jalan pertunjukan, Abdil mengangkat tangan. Seketika, lampu besar di atas panggung berkerjap-kerjap seperti blitz raksasa. Ini artinya aba-aba untuk memulai 
efek empat dimensi yang sudah dirancang Abdil. Lalu, seiring dengan kipas-kipas besar dari panggung mengibarkan baju-baju pemeran, kawan-kawan yang sudah kami tempatkan di setiap pulau mengeluarkan kipas listrik dan mengarahkan ke orang-orang di sekitarnya. Penonton yang tidak siap dengan efek ini berteriak kaget. Mereka terkesiap, terkesima, tiba-tiba merasa seperti tertiup angin gurun padang pasir. Ustad Torik 
sampai harus memegangi sorban arafatnya supaya tidak diterbangkan hembusan angin buatan ini. Sound effect bunyi angin gurun terus berbunyi, memperkuat efek inderawi. Kini seakan-akan topan angin padang pasir melanda seluruh aula, panggung dan tempat penonton. Layar turun pelan-pelan. Tepuk tangan bergemuruh mengapresiasi pendekatan teater kami yang unik ini. Kami telah menggenggam hati para penonton. 

Setelah intermezo, layar kembali dikerek. Berlangsung adegan ketika Ibnu Batutah menghadapi badai hujan tropis ketika sampai di Samudera Pasai. Abdil kembali mengangkat 
tangan. Dan hujan turun di mana-mana. Lampu tembak diarahkan ke segala penjuru, menghasilkan kilatan-kilatan laksana petir. Penonton pun menerima semburan percikan air dari pulau-pulau yang sudah kami siapkan. Tidak sampai membikin basah kuyup, tapi cukup membuat penonton ikut merasa dalam adegan Batutah berjalan-jalan di tanah Gayo 
selama beberapa hari. 

Penonton semakin mencintai kami. Aku yakin itu. 

Dan sebagai penutup, kami memperlihatkan perjalanan Ibnu Batutah memasuki daratan Cina melalui sungai yang lebar dengan latar belakang gunung berlapis-lapis yang indah. 
Sebuah lukisan besar memperlihatkan sungai meliuk-liuk di antara punggung gunung dan memasuki daerah yang penuh kabut. Inilah saatnya kami beraksi dengan es kering. Tiba-tiba lantai penonton dialiri oleh kabut yang awalnya seperti permadani, menyelimuti lantai, lalu semakin tebal dan membuat penonton merasa ikut hilang dalam pengembaraan ini.

Pertunjukan ditutup dengan Batutah kembali pulang ke kampungnya di Maroko setelah mengelilingi dunia selama 30 tahun. Kiai Rais dan para guru bertepuk tangan dengan 
semangat sambil berdiri. Para aparat pemda dan istrinya tidak mau ketinggalan, sambil berdecak kagum dan menggeleng-gelengkan kepala. Para adik kelas kami bersuit-suit tiada henti. Hanya kelompok kelas lima yang bertepuk ragu-ragu. Mereka mungkin mulai bingung bagaimana membuat lebih hebat lagi 
tahun depan. 

Kiai Rais langsung maju ke panggung dan memuji semua penampilan kami. 

“Sebuah hasil dari upaya kerja keras dan kreatifitas tinggi. Terima kasih telah menghibur kami dan saya memberi nilai 9 untuk semua ini,” kata beliau sambil bertepuk tangan. Sudah menjadi tradisi, setiap akhir acara, Kiai akan memberi nilai lisan kepada pertunjukan. Kami yang berkumpul di belakang layar melonjak-lonjak gembira sambil berpelukan. Kerja keras kami hampir 2 bulan rasanya terbayar berlipat ganda mendengar pujian Kiai Rais. 

Di antara kabut buatan yang mulai turun, aku melihat Sarah bersama ibunya beranjak pulang dengan wajah puas. Entah Sarah melihatku atau tidak, tapi aku cukup senang dia ada di 
sini.



Bersambung... 

______________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...