39
API CEMBURU
Keira duduk di rerumputan sambil memainkan biolanya. Matahari bersinar cerah di ufuk timur. Jason baru saja datang, setelah berlari-lari mengelilingi kawasan Blenheim Palace Park yang menawan.
"Ada tempat yang indah sekali di pinggir sungai Glyme di sana, tak jauh dari sini'' Kata Jason pada Keira.
"Iya aku tahu tempat ini indah, cottage ini mewah. Tapi aku datang bukan untuk menikmati ini semua.
Aku ingin ketemu dia, orang yang menolongku itu Jason. Sudah dua hari dua malam kita di sini."
"Kalau aku seminggu di sini juga mau."
"Apa kau tidak latihan? Tidak dimarahi club-mu?"
"Aku diizinkan libur seminggu."
Madam Varenka, Nyonya Suzan dan Nyonya Janet datang dengan berlari-lari kecil mereka semua memakai pakaian olah raga. Wajah mereka tampak sumringah semua.
"Kalian sudah sarapan?" Tanya Nyonya Janet.
"Belum. Ayo kita sarapan. Petugas coutage sudah menyiapkan sarapan kita."
Mereka lalu berjalan masuk cottage mewah berwarna putih kecoklatan. Dari jauh cottage itu seperti istana di tengah padang rumput hijau nan mempesona.
"Jadi kapan kita akan berjumpa dia, Nyonya Suzan? Apakah dia akan datang ke sini? Atau bagaimana' "
Tanya Keira sambil mengunyah chilli cheese omelette kesukaannya.
"Dia sangat sibuk. Dia ingin menyambutmu bersama keluarganya. Dua hari ini ternyata dia ada acara sangat penting. Hari ini juga belum bisa bertemu denganmu. Tetapi dia telah siapkan limausin untuk kita semua. Dan makan malam Kings Arms Pub."
"Kings Arms Pub yang sangat terkenal di Oxford itu?" Mata Jason membesar.
"Yess!"
"Aku sudab merasa bosan!" Keira menggerutu.
"Dia berpesan, Jika Keira tidak ada waktu untuk menunggu dan bersabar dipersilakan untuk pulang dan tidak perlu bertemu dan mengetahui siapa dia?"
Keira tersentak. Orang itu memang tidak memerlukan dirinya. Sekalipun ia kini adalah selebritis terkenal, tetapi bagi orang yang menolongnya itu, ia bukanlah siapa-siapa. la kini menyadari, betapa tidak berartinya dirinya. Ia tidak bisa sombong dan merasa besar di hadapan orang lain.
"Aku akan tunggu sampai, dia ada waktu."
*****
Lamborgini Reventon abu-abu dan Jaguar F-Type 5.0 Coupe merah menyala terparkir di halaman rumah mewah dua lantai. Rombongan itu turun dari mobil limousin. Keira dan Nyonya Janet tidak tahu kalau itu rumah Fahri.
"Hebat, itu Lamborgini Reventon, cuma ada dua puluh di dunia. Jaguar merah itu pasti milik anak perempuannya. Itu jenis Jaguar yang agak feminim." Bisik Jason kepada Keira.
''Mobil istrinya mana?" Tanya Keira.
"Mungkin istrinya sudah mati. Sudah tua. Orang sekaya ini pasti usianya di atas lima puluh tahun ke atas. Kalau dia seorang kakek-kakek yang sudah tidak punya istri, apa kau benar-benar mau menikah dengannya?"
"Sudah terlanjur aku ucapkan."
"Aku sangat yakin, kau bukan tipenya. Dia menganggapmu gadis kecil yang bodoh. dan kasihan padamu maka dia menyelamatkanmu. Tak lebih dari itu. Dengan kekayaan yang dia miliki dia sanggup meminang Emma Watson."
"Sebentar lagi aku akan seterkenal Emma Watson."
"Tapi di mata orang yang menolongmu itu, nilai keterhormatannya berbeda. Emma Watson terasa betul aristokratnya. Dia berdarah Perancis dan Inggris. Dari keluarga terhormat. Dan tidak pernah mau menjual dirinya."
"Kau selalu menyindirku."
Seorang lelaki tegap dan gagah berpakaian resmi dengan jas dan dasi kupu-kupu mempersilakan rombongan itu masuk. Ruang tamu rumah itu besar dan luas, nyambung dengan dapur yang mewah. Ada mini teater di situ.
Keira memperhatikan ruang tamu itu dengan saksama. Ia mencari-cari petunjuk tentang pemilik rumah itu. Foto atau vandel, atau penghargaan. Keira kecewa, ia tidak menemukannya.
Ada tiga vandel kenangan. Dari University of Edinburgh, University of Oxford dan University of Glasgow. Tidak ada nama orang di sana. Ruang tamu itu justru dlpenuhi lukisan-lukisan mahal bergaya surealisme.
"Mohon maaf Nona Keira, Nyonya Suzan, Nyonya Janet, Madam Varenka dan Tuan Jason.
Tuan pemilik rumah ini sedikit terlambat. Ada acara sangat penting dengan seorang duta besar. Dan acara dengan duta besar itu mundur satu jam, jadi terpaksa sampai di rumah ini juga mundur satu jam.
Namun demikian Tuan pemilik rumah ini sudah menyiapkan makan siang di taman belakang.
Setelah makan, ada sedikit hiburan yang telah disiapkan untuk ditonton. Mari... "
Lelaki gagah itu sangat ramah mempersilakan Keira dan rombongannya menuju taman belakang.
Taman itu indah. Makanan yang tersaji sangat berkelas. Jason paling semangat melahap makanan itu.
Selesai makan siang, mereka kembali ke ruang tamu dan menghadap layar mini teater. Jendela-jendela ditutup. Ruang gelap. Dalam waktu beberapa detik layar itu menyala. Suara dolby mini sinema itu begitu terasa. Sebuah film dokumenter tersaji. Dibuka dengan hiruk pikuk kota London. Lalu bom meledak.
Laporan berita dan media berseliweran. Semua menyalahkan Muslim. Demonstrasi di
beberapa titik Britania Raya. Beberapa intelektual yang objektif memberikan penilaian dan pembelaan.
Seorang gadis disyuting dari belakang. Gadis itu menangis. Lalu kamera mengambil dari depan. Gadis itu berwajah putus asa. Itu adalah wajah Keira. Sayatan biola kesedihan yang mengharu biru mengiringi mata air yang meleleh di wajah gadis itu.
Scene berganti. Layar laptop zoom in. Sebuah jendela internet dibuka. Inbox email. Email dibuka.
Pesan agar membuka alamat sebuah website. Dibuka. Tampak foto Keira dan iklan menjual
kepererawanannya. Keira membuka angka seratus ribu poundsterling. Keira mengatakan ia melakukan itu demi meraih cita-cita untuk kuliah di sekolah musik terkemuka di Inggris.
Sesaat lamanya iklan itu dibiarkan terpampang dilayar. Suara biola mengalun mengiris perasaan.
Foto Keira kecil memegang piala. Suara Keira kecil ditanya cita-citanya ia menjawab mau jadi pemain biola. Foto Keira bersama mamanya. Keira bersama Jason. Keira bersama teman-temannya. Dan foto-foto kegiatan-kegiatan Keira dari kecil sampai remaja.
Suara biola mengalun. Keira menggesek biola dalam pertandingan musik antar sekolah. Keira juara.
Keira menggesek biola dalam sebuah konser. Keira dinobatkan sebagai lulusan terbaik St. Marys Music School.
Film dokumenter tentang perjalanan hidup Keira itu tampak dibuat dengan sangat profesional.
Editingnya sangat rapi. Latar musiknya selaras dan menjiwai. Keira sampai takjub, dari mana pemilik rumah yang kaya raya ini mendapatkan bahan-bahan yang begitu lengkap dengan dirinya.
Ada banyak foto kegiatan dirinya waktu kecil dan remaja yang bahkan dirinya sendiri tidak punya.
Gambar yang ada dilayar kembali menampilkan wajah Keira yang kusut dan putus asa, lalu iklan Keira menjual keperawanannya di internet.
Sungguh sangat kontras, gadis yang berprestasi lulusan terbaik St. Marys Music School itu menjual dirinya. Gelap. Sayatan biola kesedihan mengalun. terdengar suara orang merintih dan berdoa kepada tuhan
sambil menangis,
"Tuhan tolonglah dia, tuhan tolonglah dia!"
Pelan-pelan tampak wajah orang yang
berdoa itu. Itu adalah wajah Jason.
"Tuhan tolonglah Keira, jangan biarkan dia jatuh dalam jurang kenistaan. Dia satu-satunya saudaraku di atas muka bumi ini. Tolonglah dia."
Gerimis keharuan turun di hati Keira. Ia kini tahu betapa Jason sangat menyayangi dirinya. Jason yang duduk di samping Keira ikut berkaca-kaca melihat wajah dirinya sendiri yang menangis.
Tiba-tiba Keira tersadar, berarti Jason selama ini tahu orang yang menolong dirinya. Keira memandang wajah adiknya, Jason merasa ia dipandangi Keira lalu menoleh memandang wajah Keira. Keduanya saling pandang dengan kedua mata berkaca-kaca. Jason seperti membaca pertanyaan Keira yang tidak terucap.
"Sebentar lagi kau juga akan tahu siapa dia!"
Pelan Keira.
Suara mesin ketik tua menulis kata-kata. Tampaklah sebuah mesin ketik menuIis.
" Kenapa tidak bicara dengan mamamu?"
Lalu mesin ketik itu menulis:
"Tak ada gunanya. Aku sudah memberi tahukan masalah ini, ibu malah bilang, kalau itu jalan yang mau ditempuh Keira biarkan saja! Dia mau jadi pelacur biarkan saja! Dia sudah bukan anak-anak lagi. Dia sudah bisa berpikir Begitu katanya."
Kali ini Nyonya Janet merasa tersindir, ia merasa sangat menyesal pernah mengatakan hal itu. Bagaimana mungkin sebagai seorang ibu ia mengatakan,
'Dia mau jadi pelacur biarkan saja !'
Nyonya Janet menyeka air matanya.
Scene berikutnya, wajah Keira close up menangis bahagia,
"Aku lidak bermimpi kan Nyonya?" Tanya Keira dengan suara bergetar kepada seorang perempuan berambut pirang di hadapannya.
"Kau tidak bermimpi Keira!" Jawab Nyonya Suzan sambil tersenyum,
"Orang yang dermawan itu akan membantumu sampai kamu bisa juara dunia dan meraih cita-citamu. Tapi tiga syarat tadi harus kau ingat baik-baik. Terutama syarat terakhir, yaitu, 'Jika kau sudah jadi orang terkenal kau tidak boleh
sombong, kau harus tetap rendah hati, menolong sesama, dan kau harus mengingat bahwa dibalik suksesmu itu Tuhan mengirimkan kepadamu seorang sahabat setia yang membantumu tanpa pamrih apa-apa.''
Keira ingat betul, itu terjadi di AFO Boutique, Edinburgh. Jadi saat itu, ketika ia teken kontrak kesepakatan, diam-diam ada kamera yang merekamnya?
Tiba- tiba layar mati. Dan lampu di ruang tamu itu menyala.
"Selamat datang di rumah kami yang sederhana Keira dan tamu-tamu semua yang terhormat!"
Keira menengok ke belakangnya, ke asal suara. Begitu tahu siapa yang bicara itu, Keira terhenyak kaget, tenaganya seperti hilang sama sekali, tubuhnya seperti tidak memiliki otot dan tulang.
Fahri berdiri dengan sangat gagah memakai jas cara aristokrat Inggris yang menawan. Di sampingnya, Hulya berdiri dengan anggun, dengan jilbab khas Turki dan abaya Turki yang mempesona.
"Mari kita pindah ke tempat duduk itu dan berbincang-bincang!" Fahri tersenyum.
Keira masih terdiam ditempatnya. Mulutnya seperti terkunci. Ia hampir-hampir tidak percaya akan apa yang dialaminya. Bagaimana mungkin orang yang menyelamatkannya dan membantunya selama ini adalah orang yang ia benci tanpa alasan yang masuk akal.
Semua berdiri dan beranjak ke kursi tamu, kecuali Keira. Ia masih terduduk di tempatnya dengan air mata yang tidak lagi bisa dibendungnya. Hulya mendekati Keira dan tersenyum.
"Ayo Keira, kita pindah ke sana. Aku ingin dengar ceritamu, bagaimana perjalananmu di Los Angeles itu!"
Keira langsung terisak dan hendak menubruk kaki Hulya, tapi Hulya mencegahnya, bahkan
merangkulnya. Keira menangis dalam rangkulan Hulya.
"Maafkan segala kesombonganku Hulya. Aku membohongimu. Saat itu aku tidak di Los Angeles. Aku begitu sombong."
Air mata Keira meleleh. Hulya membiarkan sahabatnya itu menangis sesaat dalam rangkulannya.
"Maafkan aku, Hulya!"
"Sudahlah, ayo kita duduk di sana!"
Hulya melepas rangkulannya dan menuntun Keira berjalan ke kursi di ruang tamu. Keira duduk dengan muka menunduk. Air matanya terus meleleh. Suasana bening sesaat. Hanya isak Keira yang terdengar.
Nyonya Janet, ibu Keira, tak bisa menyembunyikan rasa harunya.
la sendiri juga tidak mengira sama sekali bahwa yang menolong Keira selama ini adalah Fahri. Jadi Fahrilah yang menolong dirinya, Jason dan Keira. Fahri juga yang membantunya melunasi cicilan rumahnya.
Madam Varenka dan Nyonya Suzan
pun ikut terbawa suasana, mereka ikut terharu.
Fahri mengulurkan tissu pada Hulya untuk diberikan kepada Keira.
"Selamat datang di rumah kami yang sederhana ini," Ucap Fahri pelan,
"saya dan keluarga mohon maaf jika penyambutan saya kepada para tamu yang terhormat masih dirasa kurang. Terutama dalam hal memberi sambutan kepada seorang artis terkenal di lnggris raya ini, bahkan terkenal di dunia, seorang violinis juara dunia, saudari Keira. Mohon maafkan kami, kalau dalam menghormati seorang juara dunia, masih terasa ala kadarnya."
Hati Keira semakin merasa ciut. la ingin berkata agar Fahri menghentikan kalimatnya yang begitu menyanjungnya tapi justru membuatnya merasa malu, tetapi lidahnya benar-benar kelu. Ia tidak bisa bicara, hanya tetesan air mata yang mewakilinya berkata-kata.
"Keira saya sungguh-sungguh minta maaf kepadamu, kalau ternyata wajah saya, wajah keluarga saya, wajah teman-teman saya yang Muslim sungguh membuatmu merasa tidak nyaman. Bahkan mungkin membuatmu sangat muak.
Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya kalau rahasia yang selama ini tidak ingin saya ungkap akhirnya terpaksa saya ungkap. Bahwa sayalah yang menolongmu, sayalah yang
meminta Nyonya Suzan dan Madam Varenka untuk mengantarkanmu meraih cita-citamu, saya sediakan dana tidak terbatas asal kamu bisa mencapai cita-cita yang kau impikan sejak kecil.
Sungguh Keira, saya tidak ingin hal ini sampai engkau ketahui, saya hanya ingin melihat kamu bahagia meraih cita-citamu, mencetak prestasi dengan bakat luar biasamu. Berulang-ulang kali adikmu Jason memaksa agar dia membuka jati diri siapa yang menolongmu, tapi saya tidak mau itu terjadi.
Sebab saya tahu, kalau kau tahu pasti kau akan sangat kecewa, ternyata yang menolongmu adalah seorang Muslim. Muslim yang selama ini kau anggap monster, setan, iblis, teroris!
Virus penyakit menjijikkan, dan entah
sebutan apalagi yang semisalnya. Saya sungguh mohon maaf terpaksa rahasia ini saya buka, karena ketika acara di televisi itu Madam Varenka menelepon ke nomor saya, dan Hulya istri saya kaget mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi.
Rahasia ini bahkan saya tutup rapat-rapat dari istri saya, tetapi karena pagi itu dia tahu, maka terpaksa sekalian saya buka apa adanya, agar dia tidak cemburu.
Sekarang inilah kenyataannya. Mungkin ini akan semakin membuatmu benci kepada saya.
Saya tahu sejak saya tinggal bertetangga denganmu, kau begitu membenciku. Awalnya saya tidak tahu alasannya, tetapi akhirnya saya tahu.
Bisa jadi saat ini, ketika kau tahu yang menolongmu, yang mengantarkanmu meraih juara dunia bahkan bisa rekaman di Amerika adalah tetanggamu yang Muslim yang sangat kau benci, mungkin saja kau lebih memilih tidak ditolong oleh dia.
Mungkin kau memilih seandainya waktu
bisa diputar, maka kau memilih untuk tetap menjual dirimu dengan harga belasan atau puluhan ribu pounsterling, kepada lelaki hidung belang yang punya uang.
Dan kau tidak perlu berhutang budi pada
tetanggamu yang Muslim, yang bernama Fahri.
Saya mohon maaf, seandainya kenyataan ini jadi menyakitkan kamu Keira. Sekali lagi saya mohon maaf Keira. Kalau ini menyakitkan kamu dan membuatmu semakin membenci saya, keluarga saya, dan teman-teman saya yang Muslim di atas muka bumi ini.
Anggap saja kejadian ini tidak pernah ada. Bahkan anggap saja kita tidak pernah saling kenal, dan saling ketemu. Anggap saja saya tidak ada. Sebab, mungkin bagi seorang artis terkenal di dunia yang dipuja-puji banyak media, berkenalan dengan seorang Muslim yang ia anggap iblis pastilah menjadi noda hitam dalam sejarab hidupnya."
Keira terisak-isak, air matanya meleleh berderai. la tidak bisa menjawab kata-kata Fahri itu.
Peristiwa-peristiwa yang membuatnya sangat menyesal itu seperti berputar di pelupuk matanya. Perlakuannya yang ketus, kasar dan tidak bersahabat dengan Fahri.
Sore-sore yang hujan ia menunggu bis, dan dihampiri Fahri dengan mobilnya, ia diberi tumpangan sampai ke rumahnya, dan ia sama sekali tidak berterima kasih. Ia tetap memelihara kebencian dan bara dalam dadanya.
Berkali-kali ia melampiaskan kebenciannya kepada Fahri, karena Fahri seorang Muslim, melalui corat-coret di kaca mobil Fahri. Ia
masih ingat betul kata-kata yang ia tulis;
"ISLAM =SATANIC !"
"MUSLIM = TERORIST!"
"MUSLIM =MONSTER''
"MUSLIM = TERORIST! GO HELL''
la sangat tahu Fahri terus bersikap ramah kepadanya, tetapi kebencian dalam dadanya tidak mudah dipadamkan. Ia tahu Fahri baik kepada adiknya, kepada ibunya, kepada semua tetangga.
Fahri bahkan sedemikian telaten merawat Nenek Catarina, tetapi ia menganggap itu adalah perilaku musang berbulu domba. la terus memelihara kebencian itu, sampai peristiwa di dalam kereta dari Edinburgh ke York itu terjadi. Ia marah luar biasa bahkan memaki-maki Fahri karena mengira Fahri sangat lancang ikut memakan kacang almondnya. Kemudian ia tahu, sebungkus kacang almond yang ia beli di stasiun
Waverly Edinburgh masih ada di dalam tasnya.
Berarti justru dia yang sangat lancang mengambil dan memakan kacang almond milik Fahri. Kejadian itu sangat menamparnya.
Itu menyadarkan dirinya bahwa bukan Fahri yang layak dibenci, tapi dirinya sendiri yang lebih layak dibenci. Kenaifannya itu berlanjut dengan tindakan bodoh yang mengakibatkan biola Madam Varenka patah.
Keira terus terisak.
"Fahri, maafkan segala kesalahan anak saya Keira. Maafkan dia." Ucap Nyonya Janet dengan nada parau.
Fahri tersenyum.
"Nyonya Janet, kalau saya tidak memaafkan, mana mungkin saya membela dia, bahkan saya bela dia di hadapan Madam Varenka yang sudah sangat kecewa karena biola yang paling disayanginya dipatahkan oleh Keira.
Saya bujuk-bujuk Madam Varenka agar tetap mau menjadi mentor Keira sampai Keira juara
dunia di London.
Saya tidak menyalahkan Keira yang sakit hatinya karena ayahnya meninggal karena
bom, kalau ayah saya meninggal karena dibunuh orang saya mungkin juga tidak bisa melupakan peristiwa itu begitu saja.
Tetapi apakah adil saya menyalahkan dan membenci orang lain yang bukan pembunuh ayah saya?
Di dalam sejarah ada yang namanya Hitler yang sangat kejam membunuh jutaan orang.
Dan Hitler itu bukan seorang Muslim, ia nasrani. Apakah lantas masuk akal menganggap semua orang nasrani itu sama dengan Hitler? Dan saya lalu menganggap Nyonya Janet, Nyonya Suzan, Madam
Varenka itu sama kejamnya dengan Hitler, pembunuh berdarah dingin, teroris sejati yang tak kenal kasih sayang, sehingga saya harus selaluwaspada dan benci kepada kalian ?
Masuk akalkah?"
"Maaf, Tuan Fahri, selama saya menjadi mentor Keira, saya melihat Keira tidak seperti yang Tuan Fahri persangkakan. Mohon maaf, mungkin saya salah. Tapi mungkin juga Tuan Fahri salah meneliti." Madam Varenka membela Keira.
"Madam Varenka, sungguh demi Tuhan yang menciptakan langit dan bumi. Awalnya saya sama sekali tidak pernah menyangka hal seperti itu kepada Keira. Dia memang bersikap dingin dan kurang ramah kepada saya. Itu saya anggap biasa, namanya juga belum kenal baik.
Atau saya dianggap sebagai orang asing, karena bukan asli bangsa sini. Dan tulisan-tulisan yang sangat menghina saya di kaca mobil saya dan di pintu rumah saya terus berdatangan.
Sungguh, demi Tuhan yang menciptakan manusia, saya tidak pernah berprasangka itu dilakukan oleh Keira, tetangga saya, gadis cantik yang manis.
Sampai, saya ingin tahu kebenarannya dan saya dapatkan ini, silakan dilihat!"
Fahri mengambil remot control dan menyalakan televisi layar besar yang ada di ruang tamu itu. Lalu menyalakan video. Dan tampaklah dilayar itu Keira mendekati kaca mobil Fahri, Keira lalu menuliskan kata-kata dengan spidol whiteboard :
"MUSLIM = TERORIST! GO HELL!"
Video itu memutar, tiga tayangan kamera dari arah yang berbeda. Semuanya menampilkan bagaimana Keira menuliskan kalimat itu di kaca mobil Fahri. Madam Varenka, Nyonya Suzan, dan Nyonya Janet melihat tayangan itu dengan napas tertahan.
Sementara Jason langsung teringat bagaimana ia dulu juga pernah tertangkap basah, tetapi ia sama sekali tidak mengira Keira akan tertangkap basah juga seperti dirinya.
"Kenapa Tuan Fahri tidak menceritakan bagian ini, bagian pelecehan yang dilakukan Keira ini kepada Tuan? Kalau saya tahu sejak awal, mungkin saya tidak akan sudi membantu dia mengatur segala keperluannya agar juara. Sungguh saya tidak mengira." Kata Nyonya Suzan.
"Kalau saya tahu hal ini, saya juga tidak akan sudi menjadi mentornya. Ini sudah keterlaluan! Saya menyesal melahirkan juara dunia yang rasis dan pembenci seperti yang ada di layar kaca itu!" Sahut Madam Varenka.
"Karena itulah saya tidak sampaikan ini kepada kalian. Dan sebenarnya saya ingin hanya saya dan Paman Hulusi saja yang tahu hal ini.
Tetapi ketika jati diri saya sebagai penolong Keira terbongkar, sekalian saja ini saya beritahu. Bagi saya ini bukan masalah besar.
Sungguh. Dihina seperti apa pun seseorang tidak akan serta merta terhina. Yang membuat hina seseorang itu adalah perilakunya yang memang hina. Saya bahkan menyimpan tulisan Keira di sebuah kertas di pintu rumah saya.
Saya simpan, dan saya pigura. Sebentar saya ambil."
Fahri melangkah ke bufet dan membuka laci lalu mengambil pigura seukuran 16 inci dari laci itu. Di dalamnya ada tulisan dengan Spidol merah di atas kertas HVS, bunyinya :
MUSLIM =MONSTER!
Fahri memperlihatkan tulisan itu kepada Keira dan semua yang hadir di ruang tamu itu.
"Tulisan Keira ini saya pigura saya letakkan di ruang kerja saya di rumab Stoneyhill Grove. Saya lepas ketika mau menikah dengan Hulya, agar dia tidak menanyakan siapa yang menulis tulisan ini.
Tulisan Keira ini saya jadikan cambuk untuk diri saya , agar saya menjadi Muslim sejati yang penuh kasih sayang, bukan monster!
Beberapa waktu yang lalu ketika melihat acara di televisi itu dan Keira mengatakan siap menikahi penolongnya jika ia lelaki dewasa, dan Hulya tahu kalau penolongnya itu adalah saya karena Madam Varenka menelepon nomor saya, Hulya sangat cemburu dan bertanya kepada saya, apakah saya akan menikahi Keira? Saya tersenyum, saya katakan kepada Hulya, 'Keira tidak mungkin menikahi monster yang sangat dibencinya!' Bukankah begitu Keira?"
Keira terisak-isak, ia mengusap air matanya yang terus meleleh. Gadis itu tampak berusaha keras menguasai dirinya.
"Meskipun Tuan Fahri telah memaafkan saya ...? " Kata Keira dengan berlinang air mata.
Kini Keira menyebut Fahri dengan kata-kata
"Tuan"
Keira berhenti sesaat, ia masih berusaha menguasai dirinya dari terpaan rasa haru yang menyergapnya.
"... Dan sungguh, saya sangat percaya bahwa Tuan Fahri telah memaafkan saya. Sedikitpun saya tidak meragukannya. Karena besarnya jiwa pemaafnya itulah saya bisa mereguk kebahagiaan yang sekarang saya raih.
Meskipun demikian, meskipun Tuan Fahri telah memaafkan saya, saya dari hati paling dalam,
sunguh-sungguh minta maaf kepada Tuan Fahri dan keluarga, juga seluruh teman-teman Tuan Fahri.
Saya salah, saya khilaf. Saya akui saya melakukan semua itu. Apa yang Tuan Fahri katakan tentang saya semua benar, saya akui memang seperti itulah saya dahulu. Seperti itulah pandangan saya terhadap Muslim, terhadap Islam, termasuk pandangan saya terhadap Fahri.
Bahkan juga terhadap Hulya yang menjadi teman saya berlatih. Itulah saya dulu. Sangat picik, naif, bodoh, dan sombong.
Mungkin sampai saat ini saya masih seperti itu. Tetapi harap Tuan Fahri mengerti, hati manusia bisa berubah. Saya berharap saya masih menjadi manusia yang normal, bukan manusia yang hatinya selalu dipenuhi rasa benci dan dendam.
Sesungguhnya sejak Jason mengatakan ia mau masuk Islam saya marah, dan kaget. Kebencian saya kepada Tuan berlipat ganda.
Maka saya datangi rumah Tuan dan saya marahi Tuan habis-habisan. Tetapi saya melihat Tuan begitu tenang, dan tampaknya Tuan memang jujur tidak mengajak dan
mempengaruhi Jason untuk masuk Islam.
Sampai akhirnya Jason pergi meninggalkan saya setelah tahu tindakan saya. Jujur saya kemudian berpikir, apa yang menyebabkan Jason yang pinter dan bandel itu bisa tertarik pada Islam?
Saya mencoba mencari tahu tentang Islam di internet. Saya mencoba membaca tulisan-tulisan tentang Islam dari pelbagai sisi dan versi. Dan berangsur-angsur saya merasa
harus bersikap objektif. Saya juga membaca tulisan-tulisan Tuan di beberapa jurnal.
Jujur itu sangat membantu saya. Dan ketika peristiwa di kereta itu terjadi, itu menjadi titik insaf saya. Berangsur rasa benci saya kepada Tuan Fahri berubah menjadi rasa malu. Ini saya katakan dengan sejujurnya, saya malu luar biasa sekaligus putus asa luar biasa saat itu.
Untunglah Nyoya Suzan dan Madam Varenka bisa menyemangati saya. Dan baru saja saya tahu di belakang itu ternyata ada Tuan Fahri yang meminta mereka.
Tuan Fahri jujur, kini yang ada dalam diri saya adalah rasa penyesalan yang dalam atas tindakan-tindakan bodoh saya di masa lalu.
Juga rasa malu saya yang luar biasa. Kalau tadi Tuan katakan 'Keira tidak mungkin menikahi monster yang sangat dibencinya!'
Jujur saya katakan, dan saya mohon maaf
kalau kejujuran ini akan membuat Hulya cemburu, saya katakan, 'Monster itu telah lama hilang. Tuan Fahri, seperti yang saya katakan di televisi itu, saya telah jatuh cinta kepada penolong saya sebelum melihatnya.
Dan sesungguhnya di awal kita jumpa, di satu relung hati yang paling dalam saya sedikit
menyimpan rasa kagum pada keramahan dan kebaikan Tuan. Hanya saja, kesombongan saya dan kebencian saya mengingat bom London itu menutupi rasa itu.
Dan kini, sungguh Anda adalah pahlawan saya, Andalah yang menyelamatkan saya dari jurang kehinaan.
Saya tidak bisa membayangkan bagaimana nasib saya kalau saya jadi menjual diri saya. Maka, posisinya sekarang ini bukan lagi apakah saya mau menikahi Anda Tuan Fahri.
Di hadapan Anda, saya merasa sangat kerdil tiada harganya. Di hadapan para penggemar saya di seluruh dunia mungkin saya adalah seorang bintang, tetapi di hadapan Anda saya bukan siapa-siapa.
Kini posisinya, apakah Anda masih mau memandang saya, apakah Anda masih mau menikahi saya, sementara Anda sudah memiliki istri yang jauh lebih baik dan lebih suci dari saya?"
Mendengar kata-kata Keira itu, dada Hulya dibakar cemburu luar biasa. la tahu bahwa Keira mengucapkan itu dengan penuh kejujuran. Dan ia tahu Keira yang hidupnya di selamatkan oleh suaminya itu kini benar-benar jatuh cinta kepada suaminya.
Meskipun sifatnya bertanya kepada Fahri, tetapi pertanyaan itu telah menyulut api kecemburuan yang ia miliki sebagai seorang istri yang sangat mencintai suaminya. Ia tidak gentar menghadapai kecantikan Keira yang khas Inggris, sebab ia merasa memiliki kecantikan khas Turki yang terbukti telah
menaklukkan Fahri.
Tetapi walau bagaimana pun, sebagai seorang istri, ketika ada perempuan lain yang mengungkapkan rasa cinta kepada suaminya, api cemburunya akan menyala begitu saja.
Apalagi yang mengungkapkan adalah gadis cantik yang kini jadi artis terkenal di Inggris, Amerika dan Eropa.
"Bagaimana Tuan Fahri? Tidakkah Tuan Fahri berminat menikahinya? Istri Tuan Fahri sekarang hanyalah perempuan biasa, tak lebih dari ibu rumah tangga. Sementara Keira adalah gadis yang anggun dan cantik, artis terkenal, pemain biola yang memenangi kompetisi tingkat dunia.
Alangkah serasinya cendekiawan kelas dunia yang mengajar di Oxford bersanding dengan gadis anggun pemain biola juara dunia." Ucap Hulya tenang.
Fahri tersenyum mendengar kalimat yang diucapkan istrinya itu. Ia tahu di batik kalimat itu tersembunyi rasa cemburu yang membakar.
Hulya merendah membandingkan dirinya
dengan Keira, seolah-olah memberikan alasan kepada Fahri untuk memilih Keira. Namun sesungguhnya Hulya sedang ingin menguji Fahri sejauh mana cinta Fahri kepada Istrinya.
Ketika istri merendah sesungguhnya ia meminta dukungan suaminya untuk dipuji dan diunggulkan dari perempuan mana pun di atas muka bumi ini.
Bahkan meskipun sesungguhnya perempuan lain itu sesungguhnya lebih cantik dan lebih unggul.
"Sebelum saya memutuskan untuk mengulurkan tangan kepada Keira, perkenankan saya bertanya kepada Madam Varenka, mohon dijawab dengan seobjektif-objektifnya, sejujur-jujurnya, seadil-adilnya."
"Apa pertanyaannya Tuan Fahri?"
"Madam Varenka, Anda adalah pakar musik, pakar biola. Terbukti di tangan Anda, Keira jadi juara dunia. Saya ingin bertanya, seandainya Hulya saya izinkan ikut kompetisi di London bersama Keira. la ikut berlatih di bawah bimbingan Anda, sama dengan Keira. Dan ia berkompetisi menggunakan biola yang sama dengan yang digunakan Keira. Kira-kira di antara mereka berdua, siapakah yang akan jadi juara dunia? Saya mohon jawaban Anda seadil-adilnya?"
Hulya bergetar dadanya mendengar kata-kata suaminya itu. Ia harus mengakui suaminya yang lihai berdebat di Oxford itu lihai juga mengambil tameng atas kata-kata yang ia ucapkan.
Apa pun yang diucapkan Madam Varenka akan menjadi semacam keputusan yang Fahri tidak bisa ia salahkan, jika keputusan itu memihak Keira. Keputusan itu keluar dari seorang musikus yang diakui kepakarannya.
Keira juga bergetar dadanya. Dewan Juri di London memang telah memutuskan ia sebagai juara dunia, namun saat itu Hulya yang mengalahkannya di Cremona tidak ikut kompetisi itu.
Dan ia baru tahu, Hulya tidak ikut kompetisi karena dilarang oleh suaminya, Fahri. Jawaban Madam Varenka sesungguhnya adalah juri yang paling jujur, karena ia tahu kualitas dirinya dan kualitas Hulya.
Jadi siapakan sebenarnya yang layak jadi juara dunia?
Madam Varenka mengambil nafas kemudian menjawab.
"Hulya dan Keira sama-sama pemain biola hebat dan berbakat. Saya senang menjadi mentor mereka berdua. Tuan Fahri Jujur saya katakan, ketika pertama kali melihat mereka berdua tampil di Royal Milles kemampuan Hulya masih dua tingkat di bawah Keira.
Tetapi Hulya memang sangat berbakat dia
dengan cepat menyamai Keira setelah berlatih bersama dalam bimbingan saya. Dan ketika bertanding di Cremona, kemampuan Hulya sudah setingkat lebih baik di atas Keira.
Jadi ketika Tuan Fahri minta saya agar menjadikan Keira juara dunia di London. Jujur saat itu saya khawatir jika Hulya juga ikut
dalam kompetisi itu dan ikut berlatih bersama, maka yang akan menjadi juaranya adalah Hulya dan Keira akan berada pada posisi Runner Up atau Juara Tiga.
Hulya memiliki tiga kelebihan, kecerdasan
musik yang diiringi kecerdasan emosional, kehalusan dan kepekaan, serta bakat alami yang kuat.
Dan saya lega ketika Tuan Fahri memberitahu saya bahwa Hulya tidak akan ikut ke London. Akhirnya Keiralah yang menjadi juara dunia seperti yang tuan inginkan.
Jawaban itu membuat kedua perempuan muda dan cantik itu saling memandang dan berkaca-kaca.
Hulya merasa terharu atas pengakuan Madam Varenka dan Keira juga terharu atas kesungguhan Fahri menginginkan dirinya juara dunia sampai mengorbankan Hulya.
Keira mendekati Hulya dan mengucapkan terima kasih kepada Hulya.
Fahri tersenyum lalu mendekati istrinya.
"Aku sudah tahu kalau kau ikut ke London, kau akan menjadi juara dunia. Kalau kau menjadi juara dunia maka kecantikan dan pesonamu akan dinikmati oleh banyak orang. Dan aku tidak mau itu terjadi.
Aku ingin seorang juara dunia yang hanya aku saja menikmati pesona dan keindahannya.
Kalau aku sudah mendapatkan juara dunia sejati, apakah aku akan melirik runner up atau juara ketiga?!"
****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar