Sabtu, 27 Maret 2021

JANTERA BIANGLALA 04

                     Episode 17



Marsusi tertegun. Ombak yang bergelora telah berubah menjadi riak-riak kecil namun tetap tidak bisa tenang. Kemudian Marsusi melihat sekeliling, mungkin karena tak ingin
kegagapannya disaksikan orang. Lengang. Kecuali seekor burung tlimukan yang melintas cepat menyeberang udara terbuka lalu lenyap di tebing jurang. Suara angin dan suara burung prenjak yang sedang berkejaran. Wajah Marsusi kusut dan kendur. Darah itu. Marsusi mengeluarkan sapu tangan. Dia sangat ingin memberikan jasa membersihkan luka di kaki Srintil. Tetapi Srintil beringsut menjauh lalu membersihkan sendiri darahnya dengan ujung kain.

"Srintil, mari. Kamu kuantar pulang ke Dukuh Paruk," kata Marsusi dengan suara tenggorokan. Setengah menit menunggu jawaban Srintil terasa amat lama.

"Tidak. Aku akan tetap duduk di sini. Berbuatlah sesuatu kepadaku di sini mumpung
langit dan matahari menyaksikan sampean, Pak Marsusi..."

Srintil melihat seseorang mengendarai sepeda datang dari barat, dan Marsusi pasti tidak melihat karena membelakangi.

"Pak Marsusi, sampean lihat sendiri kakiku luka. Dan seluruh badanku terasa sakit. Aku
sudah tidak bisa berbuat sesuatu meskipun misalnya sampean sangat menghendakinya."

"Ya, ya. Maka mari pulang. Kamu tidak mungkin berjalan sendiri."

"Pak Marsusi, aku minta sampean membiarkan aku pulang sendiri."

Laki-laki pengendara sepeda yang membawa dua gulung daun jati pada bagasinya terheran-heran melihat adegan di hadapannya. Lebih heran lagi karena seorang perempuan yang sedang bersimpuh di tengah jalan memintanya berhenti.

"Kang, sampean mau ke mana?"

"Lha, aku ya mau pulang."

"Ke mana?"

"Lha, ya ke Pecikalan. Aku kan orang Pecikalan. Sampean orang Dukuh Paruk, kan?"

"Sampean mengenal aku?"

"Lha, siapa yang tidak mengerti sampean?"

"Kebetulan, Kang. Aku minta dengan sangat sampean mau menolongku. Mau?"

"Menolong bagaimana?"

"Antarkan aku pulang ke Dukuh Paruk. Sampean tidak malu menggoncengkan aku?"

"Lha, aku kan Partadasim. Aku orang Pecikalan."

"Iya. Aku kan Srintil, orang Dukuh Paruk. Kita satu kelurahan. Maka aku minta tolong
kepada sampean. Mau, kan?"

"Ya mau saja. Lalu apa tidak salah, karena sampean kan... kan... kan..."

"Tidak! Tidak salah," potong Marsusi yang sejak tadi merasa terkunci mulutnya. "Orang
Pecikalan harus mau menolong orang Dukuh Paruk."

"Ya, ya. Tetapi mengapa harus aku? Bapak sendiri bagaimana? Dan apa sebenarnya
yang telah terjadi?"

"Ah, begini, Kang Parta," ujar Srintil. "Tadi aku sedang berjalan di sini. Tiba-tiba ada seekor kerbau lari. Aku takut dan lari ke pinggir. Kemudian aku jatuh. Bapak ini sudah cukup menolongku dengan menemani aku sampai kamu datang."

"Ya, ya."

"Nah, bawalah Mbakyu Srintil ini ke Dukuh Paruk. ini, kamu saya beri upah," kata Marsusi sambil menyodorkan lembar-lembar ribuan. Partadasim terperangah.

"Lho, Bapak ini bagaimana? Aku kan Partadasim orang Pecikalan."

"Aku sudah tahu. Mengapa?"

"Aku tidak minta upah. Aku sudah cukup senang berkesempatan menggoncengkan
ronggeng Dukuh Paruk karena aku sudah lama memimpikannya. Tetapi, betul, kan? Aku tidak salah? Kalau aku ditangkap karena menggoncengkan orang yang ter... ter...
terlibat, Bapak yang bertanggung jawab, kan?"

"Tentu. Kamu boleh mengatakan kepada siapa saja, akulah yang menyuruh kamu
menggoncengkan Srintil."

Dengan susah-payah Srintil berhasil duduk di bagasi sepeda Partadasim. Kedua kakinya
setengah berselonjor di atas gulungan daun jati. Meski kelihatan janggal namun Srintil
malah senang karena posisi demikian sedikit mengurangi rasa sakit pada lukanya.

Burung brondol sudah beberapa kali menetaskan telur di dalam sarangnya. Setiap kali hendak menetaskan telur yang baru, dicurinya lembar-lembar atap ilalang rumah
Sakum untuk menambal-sulam sarang yang lama. Mereka tak bosan-bosannya kawin dan bertelur. Entah siapa yang mengajari bahwa hanya dengan cara itu maka kelangsungan hidup jenisnya akan bertahan. Sebab alap-alap siap menyambar burung-burung kecil itu kapan dan di mana saja. Gagak dan bengkarung hijau gemar mencuri telur mereka. Dari sepasang brondol ketika kali pertama mereka membuat sarang dari atap ilalang rumah Sakum kini telah berbiak menjadi empat pasang. Andaikan alam tidak menyediakan pemangsa burung brondol maka jumlah mereka pasti sudah jauh
lebih banyak.

Waktu kemarau kelompok burung brondol itu mencari makan jauh meninggalkan Dukuh
Paruk ke tempat-tempat di mana rumput atau padi-padian masih bisa tumbuh. Mereka pergi menempuh bahaya menjadi mangsa alap-alap kala melintasi hamparan sawah kering yang sangat luas, karena pada saat seperti itu tak ada lagi makanan di sekitar sarang mereka. Pagi-pagi sekali mereka berangkat dan pulang ketika matahari sepenggalan. Sore mereka terbang kembali ke tempat yang sama, pulang ketika matahari hampir terbenam. Ketika pergi-pulang itulah mereka melintasi serombongan
manusia yang sedang mondar-mandir di tengah sawah di sebelah barat Dukuh Paruk.
Mobil mereka kelihatan jauh di tepi jalan besar.
Seorang anak Dukuh Paruk melihat rombongan itu. Dari tepi pedukuhan anak itu memperhatikan mereka dengan mata curiga. Lalu dia lari terbirit sambil berseru
berulang-ulang,

"Ada tentara! Ada tentara! Mereka sudah sampai di sawah. Ada tentara!"

"He! Kamu bilang apa?" tanya Kartareja gugup.

"Ada tentara, Kek. Banyak. Lihat sendiri, Kek. Mereka sudah sampai di sawah!"

Kartareja berdiri beku dan kakinya gemetar. Wajahnya pasi seketika. Mungkinkah Rasus yang datang? Kalau benar mengapa banyak sekali temannya? Kartareja tidak percaya Rasus yang datang. Kemudian dia berjalan limbung ke sana kemari. "Kamu tidak habis berbuat sesuatu? Kalian tidak habis berbuat kesalahan?" tanya Kartareja kepada setiap orang yang dijumpainya. Di depan pintu rumah Srintil, Kartareja berseru keras,

"Srintil! Kamu tidak lupa lapor ke markas?"

"Apa, Kek? Lapor?" jawab Srintil ketika muncul di pintu. "Aku sudah bebas lapor. Ada
apa?"

"Ada tentara datang! Ingat baik-baik, kamu habis berbuat apa?" Wajah Srintil langsung pucat. Bibirnya gemetar.

"Ti... dak, Kek! Aku tidak berbuat apa-apa. Kemarin aku pergi ke pasar Dawuan membeli baju buat Goder."



                       Episode 18



"Nah! Boleh jadi mulutmu bocor di pasar."

"Oh, tidak, Kek. Untuk urusan semacam itu akulah yang paling berhati-hati."

Kartareja termenung. Dia bingung karena semua orang berkata tidak. Dukuh Paruk
lengang. Semua orang bersembunyi di dalam gubuk masing-masing. Sakum yang sedang
berada di luar, ditarik-tarik masuk oleh anaknya. Dukuh Paruk sungguh-sungguh hening sehingga desau angin ringan terdengar mendaulat suasana.

Akhirnya Kartareja pasrah. Dan dia tidak merasa perlu ikut bersembunyi. Muncul
kesadarannya bahwa setelah Sakarya meninggal maka dialah orang yang dituakan di
Dukuh Paruk. Dia merasa jadi anutan. Maka sambil bersedakap Kartareja berjalan ke tepi pedukuhan untuk meyakinkan diri siapakah tentara yang datang. Matanya menatap jauh. Dia dapat melihat jelas orang-orang yang hilir-mudik itu. Ada yang mengintip-intip melalui perkakas berkaki tiga. Ada yang memegang tongkat panjang yang ditegakkan dan ada pula yang mencatat-catat. Dan apa pun yang mereka lakukanbKartareja kemudian yakin bahwa mereka tidak sedang berjalan menuju Dukuh Paruk. Lalu Kartareja teringat suatu ketika di zaman Belanda. Kala itu ada priayi yang melakukan kegiatan seperti yang sedang diperhatikannya: pengukuran tanah!

"Anak itu bangsat! Anak itu asu buntung!" desis Kartareja seorang diri. "Mereka bukan tentara. Mereka priayi yang sedang mengukur tanah."

"He, Anak-anak. Kemarilah. Tidak ada apa-apa. Mereka bukan tentara. Mereka bukan sedang menuju kemari. Keluarlah kalian!"

Sepi, tak seorang pun berani muncul dari persembunyian. Baru beberapa menit
kemudian satu-dua orang datang memenuhi panggilan Kartareja. Dan ternyata yang
lain-lain muncul berbondong ke tepi pedukuhan. Anak-anak masih bergayut pada ujung kain emak masing-masing. Srintil datang dengan Goder di punggungnya.

"Lihat, mereka bukan tentara. Mereka sedang mengukur tanah. Kudengar sawah itu akan dilalui saluran pengairan. Bendungannya sedang dibangun di bukit sana."

Kartareja merasa mendapat kesempatan yang baik untuk menunjukkan kelebihan pengalamannya di depan sesama warga Dukuh Paruk. Dia menerangkan bahwa
perkakas berkaki tiga itu bernama keker. Orang yang mengeker bernama mantri ukur. Tetapi Kartareja tidak tahu mengapa keker harus selalu dipayungi. "Entahlah, mungkin perkakas itu semacam jimat yang tidak boleh kena panas matahari," katanya.

"Dulu kita mengatakan mereka sedang klasiring ya, Kang?" kata Sakum. Bangga dia,
karena bisa ikut menerangkan sesuatu kepada teman-temannya.

"Ya. Klasiring itu dilakukan untuk menentukan kelas dan sekaligus batas-batas tanah. Eh, mana anak yang tadi melolong-lolong ada tentara datang?"

Mata Kartareja menatap berkeliling. Tetapi anak yang dicarinya berdiri agak menjauh
dan tidak tahu dirinya sedang dicari. Dia sedang asyik memperhatikan orang-orang
yang sedang sibuk dengan alat-alat pengukur tanah.

Di tengah sawah, seratus meter di sebelah barat Dukuh Paruk, Bajus memimpin teman-
temannya mengukur dan membuat pancang-pancang. Tamir pada teodolit, Kusen memegang payung serta Diding pada tongkat skala. Beberapa lainnya adalah pembantu yang mengurus pematokan-pematokan. Mereka bekerja mengikuti alur parit besar; bekas rencana saluran irigasi tersier yang pernah dibuat pada masa pendudukan Jepang namun gagal diselesaikan. Bajus dan teman-temannya dikirim langsung dari Jakarta untuk mengawali pembangunan sebuah bendungan yang akan mengairi dua ribu lima ratus hektar sawah yang sebagian besar terletak di kecamatan Dawuan.

Pukul sepuluh tiga puluh. Di tengah pedusunan mungkin sinar matahari belum terlampau terik. Tetapi di tengah sawah panas sudah demikian memanggang. Panas yang langsung jatuh dari atas dan panas yang memantul dari bumi. Dari jauh udara dipermukaan tanah kelihatan berbinar seperti riak-riak panas pada telaga yang mendidih. Bajus melihat wajah para anak buahnya sudah memerah dan punggung
mereka sudah basah. Kemudian dia menyuruh semuanya beristirahat.

"Mari kita kembali ke mobil. Kita mencari minuman di Dawuan," ajak Bajus. Kusen, Diding dan yang lain mengikuti perintah. Tetapi Tamir masih asyik meneropong dengan teodolitnya. Demikian asyik sehingga Tamir tak peduli bahwa teodolitnya sudah tak berpayung lagi.

"Tamir!" seru Bajus. "Kamu tak mendengar kataku?"

"Nanti dulu, Pak. Ke sinilah kalau Pak Bajus mau lihat. Bukan main! Pak Bajus tidak akan percaya di daerah seperti ini ada barang bagus."

"Kamu ngomong apa, Tam?"

"Lihatlah sendiri, Pak. Nanti dibilang aku ngecap."

Tamir surut ke belakang dan tempatnya digantikan oleh Bajus. Mandor ini memejamkan mata kirinya. Mata kanan tepat di belakang lensa teodolit. Titik fokus
yang sudah dikunci oleh Tamir jatuh pada wajah seorang ibu muda yang sedang
menggendong anak.

"Bagaimana, Pak. Hebat, kan?"

"Iya, ya," jawab Bajus tanpa sedikit pun mengubah posisinya.

"Nah, aku bilang juga apa!"

"Periksa di peta, apa nama kampung itu."

"Aku sudah tahu," ujar Kusen dari belakang
 "Dukuh Paruk."

"Dukuh Paruk?"

"Ya, kenapa, Pak Bajus?"

Bajus tidak sempat menjawab karena perhatiannya sedang terpusat pada sebentuk
wajah di tengah lensa teodolit. Dia melihat pesona klasik Jawa yang sudah jarang ditemui di kota-kota besar. Keseimbangan antara bahu dan leher serta kesempurnaan bentuk rahang. Dan rambut lebat yang sinomnya sedang diburai angin. Semuanya terbingkai keremajaan yang sedang berangkat menuju kematangan. Sesekali mata itu tertuju lurus ke pusat lensa. Tetapi tentu saja subyek di sana tidak merasa dirinya sedang menjadi pusat perhatian. Bajus melihat mata di sana lain. Mata yang dibekali daya tarik luar biasa, mata dunia perempuan. Tetapi pada saat yang sama Bajus merasakan sesuatu sedang menyaput pesona mata itu. Mata yang kehilangan harga diri, mata indah yang seperti menyimpan ketakutan.

"Pak Bajus!" seru Tamir cengar-cengir. "Mau istirahat, kan?"

"Yaaah. Mari kita beristirahat."

"Bagaimana? Iya, kan?"

Bajus hanya tersenyum. Dan dalam benaknya masih terbias wajah klasik yang menerobos masuk menembus lensa teodolit. Adakalanya lelaki terkesan oleh perempuan lantaran dia sedang berada di luar lingkungan kesehariannya seperti yang terjadi pada para pekerja pengukur tanah itu. Adakalanya lelaki tunduk kepada naluri pemberian alam; kecenderungan berpetualang. Adakalanya pula seorang perempuan memang dibekali kelebihan-kelebihan tertentu sehingga kehidupan memberinya tempat pada wilayah perhatian lawan jenis. Dalam ukuran ini Srintil belum tergeser oleh siapa pun, setidaknya untuk wilayah kecamatan Dawuan atau sekitarnya.



                         Episode 19



Maka serta-merta Srintil menjadi urusan pertama dalam setiap pembicaraan di antara
para pekerja di bawah Bajus. Sering kali teodolit bukan mengarah pada tongkat skala
melainkan ke barisan manusia yang berjajar di tepi Dukuh Paruk. Fokusnya selalu saja jatuh ke wajah Srintil meski sedemikian jauh anak Dukuh Paruk itu belum tahu dirinya selalu menjadi pusat pengamatan. Tak kurang Bajus sendiri tidak bisa berbuat banyak bila bawahannya memainkan teodolit untuk tujuan yang bukan semestinya.

Pada hari ketiga ketika Bajus dan teman-temannya sedang berada di sebuah warung
minuman di Dawuan, Tamir membuat pengakuan yang segar.

"Siapa yang percaya kepadaku ketika kemarin aku pergi ke Dukuh Paruk hendak buang hajat?"

"Bajingan. Jadi apa perlumu ke sana? Menemui perempuan itu?" tanya Bajus.

"Jangan marah dulu, Pak. Pokoknya aku memperoleh info penting. Aku tahu namanya:
Srintil."

"Srintil? Nama yang aneh."

"Tak apa, kan? Yang penting bagaimana orangnya."

"Lalu?"

"Dia tidak punya suami. Ini!"

Semua diam seakan berita yang keluar dari mulut Tamir memerlukan kekhususan buat
memahaminya. Dan Tamir cengar-cengir.

"Ya, andaikan benar dia tidak bersuami. Lalu kamu mau apa?" sela Diding.

"Ah berita apa pun memang tak penting bagimu kecuali berita pembayaran gaji.
Namun siapa tahu Pak Bajus menyukai keteranganku. Siapa tahu, Pak."

"Hus! Aku memang perjaka lapuk. Aku memang yang tertua di antara kalian. Namun
mestinya aku tidak harus menjadi sasaran untuk celoteh semacam ini." Anehnya wajah Bajus memberi kesan yang berlawanan dengan makna kata-katanya. Senyumnya tersungging dan matanya berkilat.

"Nanti dulu, Mir. Mulutmu bisa nyinyir seperti itu, dari mana kamu mendapat keterangan?" tanya Kusen.

"Itu memang keahlianku yang boleh kamu cemburui. Tetapi baiklah. Ketika aku berpura-pura minta api, aku dilayani oleh seorang perempuan tua. Ramah sekali dia. Barangkali dia menangkap perasaanku karena aku sering melirik Srintil. Nah, kalau kamu tahu, perempuan itu langsung bocor mulutnya."

Tamir, Diding, Kusen dan yang lain tertawa. Hanya Bajus yang tetap diam karena dalam benaknya sedang terbias wajah Srintil.

"Eh, kedengarannya kalian semua sedang menggunjingkan Srintil?" kata pemilik warung
sambil tersenyum. 

"Cantik, ya?"

"Lho. Ibu mengenal dia?"

"Di sini, siapa orangnya yang tidak mengenal Srintil. Bukan hanya karena cantiknya
melainkan juga karena dia seorang ronggeng."

"Benar dia tidak bersuami?"

"Benar."

"Nah, aku heran. Orang seperti itu belum punya suami."

"Karena dia ronggeng," jawab pemilik warung datar.

"Bagaimana kalau aku..."

"Mengapa tidak. Dia ronggeng, kan? Sampean semua mengerti ronggeng, kan?"

Semua tertawa lagi dan hanya Bajus pula yang tinggal diam. Dia hanya tersenyum ringan, tangannya menggaruk-garuk kepala. Bajus juga tetap bungkam ketika melihat Tamir bangkit melangkah ke ruang kosong dan mulai berjoget. Rupanya dia memang mengerti ronggeng. Anak-anak bertepuk tangan dan Tamir makin bersemangat. Kembali ke tempat duduk, Tamir mendekati Bajus.

"Pak, malam ini aku tidak ikut pulang ke penginapan. Aku dan Diding."

"He? Mengapa aku?" sela Diding.

"Sudahlah, nanti uang makanku buat kamu."

"Kamu tidak ikut kembali ke Eling-eling?"

"Satu malam saja, Pak. Ah, malah saya bisa bekerja gasik besok pagi. Percayalah, Pak."

"Mau ke Dukuh Paruk, kan? Bajul cilik kamu!"

"He... he... he."

Malam hari, bulan yang hampir bulat berlatar langit kemarau. Biru kelam. Langit seperti akan menelan segalanya kecuali apa-apa yang bercahaya. Bintang berkelip-kelip seakan selalu berusaha membebaskan diri dari cengkeraman gelap. Hanya bulan yang tenang mengambang. Bulan yang makin anggun dan berseri karena kelam tak mampu mendaulatnya.

Langit di atas pesawahan Dukuh Paruk dalam tatapan biasa adalah contoh wujud kekosongan. Awang-uwung, hampa. Namun dengan tatapan yang sungguh langit dalam kegelapan malam sama seperti keadaan siang hari, penuh kehidupan. Matra dinamika ekosistem sedang berlangsung dalam sunyi dan kekelaman. Berjuta serangga dari berbagai jenis terbang mengulang-ulang daur kehidupan kaumnya. Mereka akan menang atau akan kalah. Menang kalau mereka selamat bisa bertemu makanan dan
kawin, kalah bila mereka bertemu pemangsa. Kelelawar beterbangan dengan lintasan yang berkelok-kelok tajam menangkap segala jenis serangga yang dijumpainya. Binatang mengirap ini bersaing dengan burung cabak yang terbang tidak kalah gesitnya. Rentang sayapnya yang membulat dan condong ke depan akan kelihatan sosoknya bila cabak terbang melintas garis pandang bulan.

Di bawah-sana tiga orang anak laki-laki merangkak-rangkak di tengah sawah diterangi
sebuah obor. Anak-anak Sakum ini sedang mencari serangga. Belalang segala macam
ditampung dengan bambu seruas. Juga jangkrik. Tetapi jangkrik sungu diistimewakan.
Jantan jenis ini deriknya nyaring dan biasa dipelihara anak-anak. Siapa yang ingin
memiliki jangkrik sungu tanpa harus kelayapan di malam hari boleh membelinya kepada Sakum besok pagi di pasar Dawuan. Dan belalang dalam ruas bambu itu besok akan disangrai dengan minyak jelantah dan garam. Pagi-pagi sarapan nasi thiwul dengan lauk sangrai belalang. Dukuh Paruk yang tidak pernah mengerti ilmu gizi mencukupi kebutuhan protein dengan belalang. Beri-beri dicegah dengan serangga.

Bagi anak-anak pada umumnya pekerjaan mencari jangkrik dan belalang adalah bagian
dunia bocah semata, dunia permainan. Tidak demikian halnya bagi anak-anak Sakum.
Ketiganya berada dalam kesadaran penuh bahwa jangkrik dan belalang adalah urusan
perut bagi seisi rumah. Maka mereka bekerja, bukan bermain. Tekun dan bersungguh-sungguh. Mereka tak tertarik akan cantiknya bulan di atas kepala. Bahkan mereka tidak melihat dua orang yang melintas menuju Dukuh Paruk.



                      Episode 20



Tamir dan Diding melangkah makin dekat ke Dukuh Paruk. Dalam angan-angan Tamir, Dukuh Paruk pastilah semringah di malam hari, kesemringahan dan kemelaratan
lokalisasi. Yang demikian ini Tamir sudah hafal, sangat hafal. Maka Tamir merasa tawar hati ketika memasuki Dukuh Paruk yang sepi, dan kering seperti sepah. Hanya derik puluhan jangkrik di gubuk Sakum. Lainnya, senyap. Biasanya di pemukiman yang melarat malam hari terdengar anak kecil menangis. Tetapi Dukuh Paruk tidak mempunyai anak kecil yang lahir sesudah geger 1965. Dukuh Paruk kehabisan daya semi.

"Mir! Ini kampung jin apa kampung orang? Kok seperti kuburan?"

"Mau ramai? Nanti di Planet Senen atau Bongkaran Tanah Abang."

"Ah, susahnya ikut anak muda mata perempuan." 

"Sudah kubilang, uang makanku buat kamu."

"Bajingan!"

"Hah?"

"Aku yang bajingan, Mir. Aku selalu takut gaji tidak utuh bila pulang ke rumah. Jadinya aku rela menjadi anjingmu asal aku bisa memperoleh uang prei."

Kedua pekerja dari Jakarta itu langsung menuju rumah Nyai Kartareja; perempuan tua
yang ramah, yang tanpa diminta telah memberikan keterangan banyak tentang Srintil
kepada Tamir. Rumah itu tidak beda dengan gubuk-gubuk lain, sepi. Sebuah lampu minyak tergantung dengan nyala sekecil mungkin. Kulo nuwun Tamir lama tidak berbalas. Tetapi dari dalam terdengar suara berbisik-bisik. Nyai Kartareja sedang meyakinkan diri siapa yang datang. Setelah mengenal suara di luar perempuan itu membuka pintu gubuknya. Kemudian nyala lampu dibesarkan.

"E, lha sampean. Mari, mari masuk. Wah ada priayi mau berkunjung ke gubuk di Dukuh
Paruk."

"Ah, kedatangan kami tidak mengganggu, Nyai?"

"E, lha tidak. Dan ini teman sampean?"

"Ya, Nyai."

"Nah, masuk dan duduklah."

Nyai Kartareja masuk menemui suaminya. Berbicara kecil, kemudian keluar seorang
diri. Tamir menyalakan rokok dan Diding diam karena tidak merokok, dia harus bersikap sehemat mungkin agar aman bila pulang ke rumah.

"Malam-malam begini datang ke Dukuh Paruk yang gelap dan terpencil. Aku jadi ingin tahu apa kiranya hajat sampean berdua," ujar Nyai Kartareja dengan keramahannya yang khas. Tamir tidak menjawab dengan suaranya melainkan dengan senyumnya. Komunikasi dengan isyarat senyum berlangsung demikian efektif sehingga sungguh tak lagi diperlukan kata-kata. Apalagi yang menjadi nyonya rumah adalah Nyai Kartareja yang tetap seorang seniman mucikari.

Dan Nyai Kartareja teringat pengalaman beberapa waktu yang lalu ketika menyampaikan maksud Marsusi kepada Srintil. Maka dia merasa kecil hati. Tetapi
masalahnya siapa tahu. Tamunya kali ini adalah orang Jakarta, muda-muda dan lumayan tampan. Siapa tahu. Persoalannya tinggal mencari cara mempertemukan Srintil dengan kedua pemuda itu. Memanggilnya hampir tidak mungkin karena Srintil sangat mungkin akan menolak datang. Memberitahunya lebih dulu lalu membawa pemuda-pemuda itu ke rumah Srintil memberi kemungkinan gagal karena Srintil bisa menghindar. Yang paling jitu adalah cara pendadakan.

"Jadi aku sudah tahu maksud kalian. Yah, Anak muda! Maka marilah kita bersama ke rumah Srintil."

"Jauh, Nyai?"

"Hanya dua rumah dari sini."

Ah, rumah ilalang lagi. Tamir makin percaya diri. Tetapi pada saat yang sama pertanyaan itu berulang, mengapa seorang penghuni salah satu gubuk di Dukuh Paruk bernama Srintil. Bahkan Tamir percaya dirinya mampu menyediakan tempat yang lebih layak bagi perempuan yang berkepatutan itu. Lalu pikiran Tamir melambung, hatinya bernyanyi-nyanyi.

Nyai Kartareja masuk dan memanggil Srintil. Ada jawaban dari dalam bilik. Srintil sedang ngeloni Goder. Mulutnya masih berdesis untuk mengantar Goder ke alam tidur. Kemudian bangkit dengan lembut. Disanggulnya rambut yang tergerai.

"Ada apa, Nyai?" tanya Srintil. Nyai Kartareja kelihatan menata diri.

"Ada tamu, Jenganten. Dua orang. Mereka sudah ada di luar. Mereka adalah priayi-priayi yang sedang mengukur tanah itu."

Hening, dan Srintil mendengar seekor nyamuk yang terbang di dekat telinganya. Suara jangkrik dari rumah Sakum terdengar jelas. Goder menggeliat tetapi matanya tetap
tertutup. Srintil mengendurkan pundak dan menunduk.

"Mengapa Nyai membawa mereka kemari?"

"Jenganten, aku tidak mengundang mereka datang. Tidak. Lalu mereka sekarang di sini. Apakah aku harus menyuruhnya pergi?"

"Duh, Pengeran... Suruhlah mereka pulang, Nyai. Katakan..."

"E, lha jangan begitu, Jenganten. Tidak layak mengusir tamu sebelum kita berbicara kepada mereka. Ingat, Jenganten. Mereka adalah priayi dari Jakarta. Apa tidak salah bila kita tidak menghormati mereka?"

Menyadari posisinya yang sudah menguntungkan Nyai Kartareja keluar meninggalkan Srintil yang terduduk dan mulai mengusap mata. Dengan suara yang sengaja
ditinggikan agar Srintil bisa mendengar Nyai Kartareja menyilakan Tamir dan Diding masuk. Sementara di dalam biliknya sendiri Srintil masih mengusap air mata meski tanpa isak tangis.

Tidak sekali-dua Srintil menyesal mengapa dirinya bereksis sebagai perempuan. Perempuan yang demikian adanya sehingga sulit mendaulat dirinya sendiri. Perempuan yang demikian adanya sehingga mau tidak mau dirinya banyak bergantung kepada kelelakian. Dan kelelakian itu, ketelanjangannya sudah dikenal Srintil melalui kedirianbRasus yang liar dan kenyal seperti anak kambing. Melalui Marsusi atau puluhan lelaki lain. Bahkan dalam kelelakian, Srintil mengenal sisi kemandulan Waras dari
Alaswangkal. Atau kesejatian Kapten Mortir yang utuh dalam kepribadiannya. Di mata
Srintil hanya ada satu kelemahan Kapten Mortir. Mengapa perwira komandan rumah
tahanan itu tak mampu mencegah laki-laki lain yang sering mengambil Srintil dari tahanan lain membawanya ke tempat pelesiran? Ya, di tempat pelesiran itu Srintil bertambah kaya akan wawasan kelelakian. Bahwa dalam ketelanjangannya laki-laki, umumnya, adalah manusia biasa dengan naluri kambing jantannya, dengan naluri bayi yang merengek, dengan keblingsatannya yang kadang cuma sebagai pelampiasan rasa tak percaya diri. Ingin disebut kuasa hanya karena rasa kurang yakin akan guna keberadaannya.



                             Episode 21



Kini kelelakian muncul lagi dalam diri dua orang pemuda dari Jakarta. Duh, Pengeran!
Aku belum tahu harus bagaimana menghadapi laki-laki meski dulu bertahun-tahun aku merasa bangga menjadi pemangku nalurinya.

Seperti tak terkendali oleh kesadarannya, Srintil bangkit perlahan. Ditatapnya wajah
Goder yang lelap dan damai. Lalu diambilnya kebaya yang baik untuk menutup badan atasnya yang hanya terbungkus kutang. Kainnya juga diganti dengan yang masih baru.
Termangu sejenak, kemudian Srintil jongkok. Pada titik yang amat dirahasiakan Srintil
mencungkil tanah. Sebuah kantung kecil dikeluarkan. Dari kantung itu Srintil mengambil kalung, gelang, giwang, dan cincin. Hampir dua ratus gram emas serta-merta menghias badannya.

Tetapi Srintil kelihatan ragu. Dengan memamerkan hartanya Srintil ingin berkata
bahwa sebenarnya dia tidak melarat. Bukan kemelaratan yang berada di bawah atap
ilalang gubuknya. Atau Srintil ingin mencari sesuatu untuk membentuk keberanian
menghadapi kelelakian. Emas itu. Namun apakah tindakannya tidak mengundang bahaya? Bukankah laki-laki di luar itu belum dikenalnya? Entahlah, dan Srintil merasa tak kuasa berpikir lebih panjang lagi. Maka setelah mengusap mata Srintil melangkah ke luar. Dua wajah mendongak serempak. Yang satu tertunduk kembali, tetapi Tamir bertahan.

Mata Tamir lurus ke depan. Garis-garis wajahnya baur antara gairah berahi dan kegagapan. Mulutnya terbuka antara tertawa dan melongo. Sementara kepalanya yang masih menyimpan pertanyaan: mengapa ada kemolekan di tengah kemelaratan, kini
Tamir menghadapi pertanyaan baru: mengapa ada kegemerlapan di bawah atap ilalang. Hati Tamir berdesir tak menentu. Dan bimbang, mengapa ada keramahan diiringi mata yang berkaca-kaca.

"O, silakan," ujar Srintil dalam suara yang tersaring di tenggorokan. Dan duduk di
samping Nyai Kartareja yang tak kurang rasa herannya melihat Srintil mengenakan seluruh perhiasan yang selama ini sangat dirahasiakannya. Tetapi Nyai Kartareja
tersenyum ceria karena yakin penampilan Srintil adalah bukti kegairahan.

"Nah, yang ingin sampean temui sudah muncul," kata Nyai Kartareja kepada Tamir dan
Diding. "Maka, silakan. Aku ada urusan di rumahku sendiri."

"Nyai! Nyai harus menemaniku di sini," pinta Srintil sungguh-sungguh. Digapainya pundak perempuan tua itu.

"E, lha. Bagaimana Jenganten ini. Kayak perawan sunthi saja."

"Aku bersungguh-sungguh, Nyai. Kalau Nyai keluar, aku ikut."

"E... Oh ya, baiklah. Aku mau ke belakang sebentar. Nanti aku kemari lagi."

"Betul lho, Nyai!"

"Aku bukan anak kecil. Percayalah, Jenganten."

Terdengar bunyi seleret pintu bambu sorongan. Nyai Kartareja melangkah ke luar dan kemudian melingkar demikian rupa sehingga dua menit kemudian dia berada hanya beberapa jengkal dari dinding rumah Srintil. Telinga dipasang baik-baik. Nyai Kartareja tidak ingin satu kata pun terlepas dari pendengarannya.

Yang berada di dalam masih belum berhasil memecah kebekuan yang mendadak
menjebak mereka. Diding masih menunduk dan Tamir yang biasa amat cekatan bila
berhadapan dengan perempuan malah duduk gelisah. Kalimat pertama untuk diucapkan ternyata menjadi barang yang sulit ditemukan. Srintil sengaja diam karena tidak ingin berkata apa pun sebelum Nyai Kartareja datang. Tetapi lima, bahkan sepuluh menit lamanya perempuan itu tidak muncul lagi. Kelihatan Tamir yang hendak mengawali pembicaraan, namun niatnya hanya sampai kepada mimik. Greget-nya diselewengkan menjadi gerak mengambil rokok dan terus menyulutnya.

"Jadi... jadi Adik berdua ingin bertemu saya. Nah, sekarang sudah terlaksana, bukan?" ujar Srintil tiba-tiba. Kemandekan serta- merta cair. Tamir tersenyum lebar. Diding mengangkat muka sekilas. Dan Tamir mendapat kesulitan baru ketika hendak menyambut kata-kata Srintil. Dia telah didahului disebut Adik. Mau membalasnya dengan Mbakyu atau Kakak? Ini sebuah rintangan psikologis bila dihubungkan dengan maksud kedatangan Tamir ke Dukuh Paruk. Atau inilah kemenangan kecil pertama
yang dilakukan oleh Srintil atas kelelakian yang kini kembali menghadang.

"Ya... ya," jawab Tamir patah.

"Tetapi maafkan bila saya tak bisa menjamu Adik. Yah, beginilah keadaan saya. Adik
melihat sendiri; sama sekali beda dengan keadaan kota, kan?"

"Ya... ya. Oh, tak mengapa. Anu. Kami mendengar sampean seorang ronggeng. Masih
suka meronggeng?"

Pertanyaan Tamir yang tak terduga membuat jantung Srintil terpukul dan membuat dadanya menyesak.

"Anu, Dik. Itu dulu. Sekarang saya tidak lagi meronggeng. Dulu pun saya cuma ronggeng bobor, ronggeng yang jarang naik pentas."

"Jadi sampean sekarang tidak meronggeng lagi?" "Tidak."

"Ah, kenapa?"

"Tidak. Tidak."

"Ya, tetapi mengapa?"

"Pokoknya tidak."

"Ya... ya. Tetapi anu. Bagaimana bila... Maksudku, sampean bisa menduga
kepentinganku datang kemari, kan?"

"Ya, saya tahu."

"Bagai..."

"Tidak, Dik."

Tamir terhenyak ke belakang. Hatinya buntu. Pandangan matanya berpindah-pindah tak menentu. Cuping hidungnya bergerak-gerak.

Ti... dak. Kata-kata itu berulang-ulang terdengar dalam hati Tamir. Tidak. Menurut
pengalaman anak Jakarta itu bila perempuan sudah berkata tidak, dan hanya tidak, maka susah. Lain bila 'tidak' itu masih diikuti kata-kata lagi, masih berbuntut. Maka buntut itu, apa pun bunyinya, adalah sekadar prasyarat, sebuah tantangan yang harus ditundukkan. Kalau hanya tidak dan tidak?

"Anu, Mbakyu," kata Diding dengan suara rendah dan mapan. "Kedatangan kami kemari
terutama memang ingin berjumpa Mbakyu. Lainnya tentu nomor dua."

"Ya, benar," tukas Tamir tangkas. Si dungu Diding secara tak terduga telah membantu
melepaskannya dari kebuntuan. "Diding memang benar, kami terutama hanya ingin
berjumpa. Soalnya siapa tahu kami harus minta bantuan sesuatu kepada warga Dukuh
Paruk. Kami masih bekerja beberapa hari lagi di sekitar sini."

"Oh, Dik. Kali ini saya tak perlu berkata tidak. Namun apa kiranya yang bisa kami berikan? Kami tak punya apa-apa."

"Sekadar tempat berteduh pun jadilah. Di tengah sawah panasnya bukan main."

"O, ya. Kalau soal itu, bisa. Dukuh Paruk masih punya kerimbunan rumpun bambu, pohon nangka, pohon bungur dan banyak lagi. Silakan, Adik, silakan."





Bersambung... 

______________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...