Sabtu, 20 Maret 2021

LINTANG KEMUKUS DINI HARI





              LINTANG KEMUKUS DINI HARI
                       Karya Ahmad Tohari



(Buku Kedua dari Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk)


SINOPSIS

Lintang Kemukus Dini Hari merupakan buku kedua dari trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Dalam novel ini masih menggambarkan Dukuh Paruk yang tetap pada kemiskinan dan kebodohannya. Srintil dalam perjalanannya menjadi ronggeng tenar mengalami kesurutan. Hal ini dipicu oleh pertemuannya dengan Rasus yang mengecewakan. Lelaki yang diserahi keperawanannya sebelum melampaui ritual khusus untuk ronggeng, tidak menanggapi birahi dan cintanya, serta telah menampiknya. Rasus memang bercinta semalaman dengan perempuan milik Dukuh Paruk itu, tapi meninggalkannya tanpa pesan sebelum pagi datang.

Srintil merasa kecewa dan harga dirinya diinjak-injak. Merasa benci karena di satu sisi ia dicampakkan lelaki yang dicintainya, dan di sisi lain takut kalau tak punya anak akibat ramuan dukun ronggeng, Nyai Kartareja, akhirnya Srintil mogok meronggeng setelah kepergian Rasus. Merasa frustrasi, ia jatuh sakit. Srintil menolak untuk makan. Tak ada obat yang bisa menyembuhkannya. Hingga suatu saat Tampi menjenguknya bersama Goder, bayinya yang baru sepuluh bulan. Melihat Goder, ia menjadi semangat lagi. Naluri keibuannya membuatnya bangkit kembali. Akhirnya Tampi harus merelakan salah satu anaknya diasuh oleh seorang perempuan terhormat dan termahal macam Ronggeng Dukuh Paruk itu. Tetapi Goder tidak membuat Srintil pentas lagi. Meskipun Marsusi mengiming-imingi dengan kalung mewah. Dan Marsusi yang kaya raya itu merasa terhina. Kemudian membalas penghinaan dengan membuat pentas ronggeng Srintil gagal ketika ia menari di Dawuan, dalam rangka tujuh belas Agustus. Sejak itu Srintil tidak mau pentas lagi.

Berhenti pentas, Srintil berpindah profesi menjadi gowok, perempuan yang mengajari perjaka sebelum menikah agar tidak memalukan di malam pertamanya. Tetapi keronggengan Srintil kemudian mengakibatkan malapetaka. Karena pentas ronggengnya dijadikan kedok politik oleh Pak Bakar yang menanggapnya. Ketika dini hari lelangit berhias lintang kemukus, Dukuh Paruk kebakaran dengan kepulan asap yang menghanguskan rumah-rumah penduduk. Hal ini karena keronggengan Srintil menjadi bencana besar akibat politik. Bakar benar-benar membakar Dukuh Paruk.


TANGGAPAN

Penjabaran alam yang digambarkan oleh Ahmad Tohari begitu mendetail, seolah-olah yang membacanya merasakan sendiri apa yang terjadi. Dalam novel ini pesan moralnya berkaitan dengan asal usul penulis yang berpendidikan di pondok pesantren. Penulis menjabarkan bagaimana dipujanya seorang pelacur. Secara tidka langsung ia menjelaskan sebenarnya yang layak dipuji hanyalah Tuhan semata.



          ~ LINTANG KEMUKUS DINI HARI ~
______________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...