Minggu, 21 Maret 2021

LINTANG KEMUKUS DINI HARI BAB 03

Bagian kedua 01




Tampi berjalan terburu-buru menuju rumah Sakarya. Goder, anaknya yang baru sepuluh bulan melekat di balik kain embanannya. Tangan kanan Tampi memegang sesuatu yang terbungkus tumpal kain. Sesisir pisang raja; yang ini buat Srintil yang sudah beberapa hari tergeletak sakit. Badannya mulai kurus, 
wajahnya pucat. Kesan kesegarannya, ciri utamanya yang paling menonjol selama ini, hampir lenyap. Srintil enggan bercakap-cakap dengan siapa pun, enggan makan, bahkan senyumnya yang sangat khas hilang sama sekali.

Nah, kecuali pada saat Goder kecil datang bersama emaknya. Pesona bayi adalah pesona bunga-bunga, pesona mayang pinang yang terurai dari kelopaknya di pagi hari atau pesona biru bunga bungur di awal musim kemarau. Ulahnya selalu menawan, bahkan bau badan dan mulutnya adalah kesegaran ajaib yang hanya alam sendiri mampu menciptakannya. Sinar matanya yang polos bening mampu memadamkan murka seorang ayah. Bayi adalah kesejukan alam seperti demikian adanya sehingga seorang ibu misalnya, takkan marah bila pangkuannya terkena kencing, bahkan tahi bayinya. Seorang bayi pastilah lebih dari anak kandung ibunya karena dia sesungguhnya adalah anak kandung alam yang paling sah. Maka siapa pun yang mau jujur dengan nuraninya akan mengakui bahwa semua bayi hidup dalam alam yang penuh rahmat. Siapa yang merasa sedang diamuk rasa tidak menentu bisa mendapatkan keteduhan bila dia mau 
menyelinap ke dalam dunia bayi.

Srintil yang sedang merana secara ragawi maupun rohani bisa merasakan keajaiban suasana yang dibawa oleh si kecil Goder. Meski badannya lemah dia berusaha duduk dan meminta Tampi menyerahkan bayinya. 
Demikian setiap hari bila Tampi menjenguk Srintil di rumah Sakarya.

"Kula nuwun..."

"Oh, ya. Tampi, bukan? Mari masuk," ujar Nyai Sakarya menyilakan tamunya.

"Bagaimana keadaan Srintil, Nyai?"

"Lihatlah sendiri di kamar. Wah, harus bagaimana aku ini. Srintil masih enggan makan. Ketupat dia tak mau, lontong yang kuberikan tadi pagi masih utuh sekarang. Bubur, apalagi." Kamar tidur Srintil yang sesungguhnya berada di rumah Kartareja. Di sanalah dia sebagai ronggeng menerima tamunya. Kamar di rumah Kartareja itu mewah menurut ukuran Dukuh Paruk. Tempat tidurnya 
terbuat dari besi pejal, kasurnya tebal dan berkelambu. Orang seperti Tampi tak berani masuk ke dalam kamar seperti itu karena rikuh. Sementara di rumah neneknya, Srintil tidur dalam kamar seperti milik kebanyakan orang Dukuh Paruk. 

Tempat tidurnya terbuat dari bambu seluruhnya kecuali empat tiang penyangganya. Alasnya adalah tikar pandan dengan dua bantal yang sudah lusuh. Masuk ke dalam bilik seperti itu tak ada keraguan sedikit pun di hati Tampi.

"Bagaimana, Srin?" tanya Tampi setelah melangkahi pintu bilik.

Tubuh yang tergolek itu hampir tak memberi tanggapan apa pun. Matanya kosong dan cekung.

"Ini kubawa untukmu pisang raja yang matang di pohon. Wangi sekali," sambung Tampi. Bawaannya diletakkan di samping tubuh Srintil.

"Ah, Yu. Aku tak ingin makan apa pun. Yang kuharapkan dari sampean bukan makanan melainkan anakmu. 

Nah, turunkan Goder biar bermain bersamaku. Tanganku sudah gatal ingin menimangnya. Mari."

Tampi tidak bisa menolak permintaan itu meski dia merasa kasihan ketika melihat Srintil dengan tenaga yang sudah lemah berusaha bangun. Sebelum berpindah tangan Goder menatap emaknya, kemudian berganti menatap Srintil. Yang sedang dicari oleh sepasang mata bening itu adalah ketulusan hati. Seorang bayi dengan hati yang demikian bersih akan segera tahu sikap palsu di balik keramahan dan kehangatan yang dibuat-buat. Dia pasti akan menangis di tangan seorang yang tidak bersikap tulus.

Di pangkuan Srintil, Goder tidak menangis bahkan melonjak-lonjak gembira. Ditarik-tariknya tali kutang Srintil yang membuat ronggeng itu meringkik geli.

"Eh, kamu masih kecil. Nanti, kalau kamu sudah besar!" ujar Srintil.

"Bukan apa-apa, Srin. Goder hanya mau netek." 

"Ya, memang. Tetapi bocah bagus ini memang nakal. Seperti ayahnya, barangkali."

Dua orang perempuan tertawa bersama. Tak ada kesan bahwa seorang di antara keduanya benar-benar dalam keadaan sakit. Nyai Sakarya memanggil Tampi dari luar bilik.

"Kemarilah kamu, Tampi. Biarkan anakmu bergurau dengan Srintil."

Tampi menurut dan keluar dari bilik Srintil dengan wajah gembira; kegembiraan seorang ibu bila anaknya mendapat perhatian khusus orang lain. Apalagi Srintil adalah warga Dukuh Paruk yang terkenal.

Dari luar bilik Tampi dan Nyai Sakarya masih mendengar ceria di balik dinding bambu. Keduanya tersenyum-senyum karena bisa menghayati sepenuhnya kata-kata Srintil kepada Goder. Bukan hanya itu mereka juga bisa membayangkan gerak-gerik Srintil ketika berkata, 

"Cah bagus, bila kamu sudah besar nanti ini buat siapa? Buat saya, boleh, kan?" Atau,
"Malam ini kau tidur bersamaku di sini. Tak apa-apa, sungguh. Paling-paling akan kucubit pipimu yang kenes ini. Paling-paling akan kucubit pantatmu yang gempal ini. Huh!"

Kasak-kusuk di dalam bilik itu terus berlanjut berselang-seling antara tawa ringan dan suara gemas Srintil. Goder ngoceh amat lucu dan menangis bila Srintil terlalu bernapsu menciumnya. Ketika Srintil meringkik agak keras Tampi dan Nyai Sakarya masuk ke dalam bilik. Mereka melihat Srintil meringis menahan rasa geli dan sakit; Goder bergayut pada tetek ronggeng itu. 

"He, kamu sedang meneteki Goder?" seru Nyai Sakarya terheran-heran. "Mana bisa, kamu belum pernah melahirkan. Tetekmu belum berputing."

Srintil menggeliat, meringis sambil menahan napas. Tetapi dia bertahan ketika Tampi hendak mengambil Goder dari tangannya. Coder menangis, entah karena tetek Srintil tidak mengeluarkan air susu atau aqqkarena dia merasakan ada ketegangan menyelimuti ibunya, Srintil, dan Nyai Sakarya.

"Nah, apa kataku," ujar Nyai Sakarya. "Mana mungkin kau bisa meneteki bocah bila tetekmu kosong. Lagi pula seorang perempuan yang sedang menyusui harus banyak makan, terutama sayuran. Sedangkan kau sudah empat-lima hari ini tidak makan apa pun. Pokoknya tidak mungkin!"

Srintil mengalah dan hendak menyerahkan Goder kepada Tampi. Dan pada saat yang sama terpancarlah kencing dari kulup bayi itu. Srintil basah pada bagian perutnya, tetapi dia malah tertawa gembira.

Hari-hari selanjutnya Srintil makin larut dalam dunia Goder, larut dalam ocehan bayi yang lucu menawan. Sentuhan kulit bayi itu menggugah perasaan aneh pada diri Srintil. Demikian, maka entah apa yang dirasakan Srintil ketika dia membenamkan hidung dalam-dalam ke pipi Goder. Pada saat seperti itu Srintil 
kadang merasa begitu dekat dengan Rasus, kadang dia merasa dirinya adalah ibu kandung Goder tak kurang suatu apa. Ibu kandung yang dengan senang hati menyediakan diri menjadi tanah bagi sebutir kecambah yang sedang tumbuh, menjadi air yang mengalirkan kasih-sayang, dan menjadi pagar pelindung bagi si kecambah. Amanat alam ini entah mengapa, menggema dalam sanubari Srintil dan biasnya 
mencapai fitrah keibuannya.

Makin lama Srintil makin lekat dengan Goder, bayi Tampi. Sering kali Srintil menyuruh, jelasnya mengusir Tampi pulang bila Goder sudah di tangannya. Hasrat meneteki Goder telah berubah menjadi rencana jiwanya, rencana hatima, dan rencana sistem ragawinya. Maka alam jangan disalahkan bila Dia menggerakkan kelenjar air susu Srintil bekerja meskipun ronggeng itu belum pernah melahirkan dan bukan pula dalam masa menyusukan. Ketika kali pertama Srintil sadar teteknya mengeluarkan air susu maka dia 
berurai air mata. Namun semangat hidupnya bangkit segera. Srintil kini banyak makan, banyak minum air sayur, bahkan minta diramukan jamu pelancar air susu. Hanya dalam beberapa hari tubuhnya kembali segar dan kelihatan lebih hidup.

Lihatlah seorang perempuan tujuh belas tahun dengan sepasang tetek yang penuh. Adalah di sana gabungan antara kesegaran remaja dan citra kematangan seorang ibu; dua unsur utama pesona perempuan bertemu pada diri seorang ronggeng Dukuh Paruk.

Srintil makin mempesona. Orang-orang Dukuh Paruk terutama yang tua-tua mengaku baru sekali inilah pedukuhan kecil itu memiliki seorang ronggeng yang demikian cantik. Tetapi sesungguhnya orang-orang Dukuh Paruk tidak akan puas dengan kecantikan Srintil. Mereka baru benar-benar puas bila Srintil sudah kembali berjoget, kembali ke pentas ronggeng. Kecuali Tampi, tak seorang Dukuh Paruk pun berkepentingan dengan Srintil yang ke sana kemari membopong bayi. Mereka tak peduli bahwa bayi itu telah menjadi bagian hidup Srintil dan terbukti telah berhasil memberinya motivasi baru dan gairah baru 
dalam hidupnya. Terlebih lagi orang takkan peduli karena tidak tahu bahwa ketika meneteki Goder, Srintil merasakan kepuasan seksual yang setidaknya mengurangi kebutuhan seksual yang sebenarnya. 

Orang-orang Dukuh Paruk tidak peduli semuanya. Mereka hanya ingin melihat Srintil kembali menari dan menari. Bagi mereka apalah arti seorang ronggeng yang tidak menari, dan apalah arti Dukuh Paruk tanpa suara calung serta lenggang-lenggok seorang ronggeng. Anggapan seperti itu terutama melekat demikian kuat pada diri Sakarya, Kartareja, dan istrinya. Sakarya bukan hanya kakek Srintil; dia adalah orang yang 
dituakan di Dukuh Paruk dan merasa mengemban amanat Ki Secamenggala untuk memangku kelestarian Dukuh Paruk dengan segala coraknya. Pada masa hidupnya, pada beberapa generasi lalu, Ki Secamenggala 
- moyang semua orang Dukuh Paruk - bukan hanya penggemar ronggeng. Tokoh bromocorah ini memberi wasiat turun-temurun agar ronggeng dan calung menjadi bagian lestari pedukuhan kecil itu.

Sementara itu suami-istri Kartareja adalah dukun ronggeng. Merekalah yang paling tahu segala tetek-bengek dunia peronggengan dan mereka menggunakan pengetahuan serta statusnya sebagai dasar mata pencarian. Dari ongkos pentas mereka mengambil bagian yang kadang-kadang lebih besar daripada 
bagian yang diterima Srintil. Dan keuntungan yang lebih besar lagi diterima oleh suami-istri Kartareja manakala mereka bertindak sebagai mucikari. Seorang laki-laki yang mabuk kepayang terhadap Srintil dan ingin tidur bersamanya barang satu-dua malam harus melalui perantaraan Nyai Kartareja. Maka baginya untuk sementara tak mengapalah kalau Srintil masih enggan menari asalkan dia mau melayani laki-laki yang menginginkannya.

Ketika suatu malam Marsusi muncul kembali di Dukuh Paruk, tibalah saat bagi Nyai Kartareja meminta Srintil kembali kepada kebiasaan semula. Dalam mempengaruhi Srintil, Nyai Kartareja menggunakan segala kemampuannya karena dia tahu Marsusi pastilah membawa kalung emas seratus gram dengan bandul berlian. Perhiasan seperti milik istri lurah Pecikalan itu telah lama menjadi buah mimpinya. Tetapi kepada Marsusi dia mengatakan Srintil-lah yang menginginkannya.

Malam itu Srintil sedang berada di rumah kakeknya, Sakarya, mengayun-ayun Goder dalam embannya. Bahwa Nyai Kartareja akan datang menyusulnya sudah diperhitungkan oleh Srintil ketika dia mendengar deru sepeda motor memasuki Dukuh Paruk. Kebimbangan mulai membayang pada wajahnya. Srintil belum siap mengambil sikap apa pun. Yang pasti Srintil merasa tidak seperti dulu lagi. Semangat hidupnya sebagian besar tersita oleh bayi gemuk yang kini lekat dalam embanannya. Kehidupan angan-angannya 
terlanjur terpaut kepada anak Dukuh Paruk yang jadi tentara dan kini entah di mana, Rasus. Maka mengapa tidak ada orang tahu sebenarnya Srintil terkejut ketika menyadari bahwa Dukuh Paruk masih mengharuskan dirinya melayani laki-laki yang datang. "Jadi Dukuh Paruk tidak mengerti bagaimana aku 
sekarang," keluhnya.

Dukuh Paruk dengan orang-orangnya memang tidak tahu banyak. Mereka hanya tahu Srintil jatuh hati kepada Rasus dan bertepuk sebelah tangan. Apa dan sejauh mana akibat penampikan Rasus terhadap Srintil tak pernah diperkirakan orang.

Ketika berbaring sakit beberapa hari lamanya Srintil merenungkan pengalamannya dengan dunia laki-laki. Selama ini Srintil hanya menurut kepada Nyai Kartareja, lalu menerima uang atau perhiasan. Betapapun dirinya seorang ronggeng Srintil merasa tidak mempunyai perbedaan dengan perempuan lain. Dia memiliki perasaan khusus terhadap laki-laki tertentu dan dia merasa harus memiliki kesempatan memilih. Adalah peruntungan Srintil mengapa laki-laki yang dipilih untuk dijadikan muara segenap hati dan perasaannya adalah Rasus; dia yang secara halus telah menampik dan meninggalkannya dengan cara yang menyakitkan.

Srintil masih terlalu muda untuk memahami keretakan-keretakan yang terjadi dalam dirinya sendiri. Pada mulanya Srintil merasa sedih dan putus asa. Kemudian seperti yang diajarkan oleh Dukuh Paruk, Srintil menganggap semua kegetiran yang dialaminya merupakan bagian garis hidup yang harus dilaluinya. Maka pada dasarnya Srintil pasrah dan nrimo saja. Dalam hidup ini orang harus nrimo pandum; ikhlas menerima jatah, jatah yang manis atau jatah yang getir.

Tetapi bahkan Srintil sendiri tidak merasa bahwa sesuatu telah menyusup ke alam bawah sadarnya. Sesuatu itu adalah benih melembaga yang kelak akan mengubah sikap Srintil terhadap semua laki-laki. Pada taraf pertama citra laki-laki yang berkembang di hati Srintil adalah dua wajah yang kesemuanya jauh
dari menyenangkan. Pertama adalah laki-laki jenis lembu jantan atau bajul buntung seperti kebanyakan mereka yang datang kepadanya. Mereka mendengus dan menggeram seperti macan berhasil menerkam menjangan. Hampir semua dari mereka tidak mempunyai latar perkenalan sebelumnya dengan Srintil. Melayani laki-laki yang baru dikenalnya mula-mula tidak mendatangkan masalah batiniah pada diri ronggeng itu. Tetapi pengalaman yang sama bersama Rasus, laki-laki belia yang dikenalnya sejak masa kanak-kanak dengan ikatan batin yang kuat, memberi Srintil sebuah perbandingan yang timpang. Sangat jauh berbeda; lebih berkesan, lebih banyak mengandung makna karena bukan hanya raga melainkan juga jiwa yang menyatu.

Lainnya adalah laki-laki jenis munyuk yang lemah Mereka cengar-cengir, dan begitu mudah takluk tak berdaya di hadapan seorang ronggeng cantik seperti Srintil. Mereka rela kehilangan apa saja kemudian merengek hampir mengemis. Kalau mau Srintil bisa memberi segala perintah kepada mereka seperti kacung. Para lelaki seperti itu gampang sekali bermulut bocor, menceritakan keburukan istri sendiri kepada Srintil. Dengan cara seperti ini mereka mengharap simpati ronggeng itu untuk menciptakan suasana yang lebih manis bersamanya. Nah, Srintil justru luar biasa benci kepada laki-laki seperti itu.

Wajah yang kedua adalah laki-laki jenis Rasus dan Rasus sendirilah modelnya. Dia tangkas seperti anak kijang, harga dirinya hampir mencapai taraf congkak dan tidak merengek apalagi mengemis. Rasus memberi karena Srintil meminta atau Srintil meminta dan Rasus memberi. Sebagai laki-laki kepribadiannya menggaris jelas. Rasus memang masih muda tetapi di hati Srintil dia memberi gambaran 
sebuah pohon kukuh dengan bayangan yang teduh tempat orang bernaung.

Sayang sekali betapapun Srintil mengagumi Rasus, laki-laki itu telah membuat luka di hatinya. Seperti semua laki-laki lain Rasus pun ikut menyelipkan benih kekecewaan di alam bawah sadar Srintil. Dalam wawasan ini Srintil tidak bisa melihat beda antara dua wajah laki-laki itu. Semuanya mengecewakan, semua merangsang Srintil membuat suatu perhitungan.

Srintil tersadar karena Goder menggeliat dalam embanannya. Kepada neneknya, Srintil minta diri hendak pulang ke rumah Kartareja. Suami-istri Sakarya cepat tanggap dan menilai tindakan cucunya sebagai perubahan yang baik. Bukan hanya karena Srintil sudah sekian lama tidak mau menjenguk rumah pamongnya, melainkan juga karena kakek dan nenek itu telah mendengar suara sepeda motor yang 
berhenti di depan rumah Kartareja. Menurut perkiraan Sakarya dan istrinya, Srintil hendak menjumpai tamunya, ini berarti cucunya itu telah kembali seperti semula dan telah melupakan Rasus. Nenek dan kakek Srintil saling berpandangan dan tersenyum.

"Kalau kau hendak pergi menemui tamumu, sebaiknya kembalikan dulu Goder kepada emaknya. Atau tinggalkanlah dia bersamaku di sini," kata Nyai Sakarya.

"Tidak, Nek. Biarlah anak ini tetap bersamaku," jawab Srintil di luar pintu.

Srintil melangkah dengan pasti dalam kegelapan. Sebenarnya taburan bintang di langit memberikan cahaya temaram ke bumi. Namun kerimbunan pepohonan di Dukuh Paruk menyerap cahaya itu sehingga tercipta kegelapan sempurna di bawahnya. Srintil berjalan cepat sambil memeluk Goder erat-erat dalam embanannya. Hatinya mantap oleh semangat baru yang pasti akan mengejutkan semua orang, namun dia telah bertekad akan mempertahankannya.

Di depan rumah semangnya itu Srintil berjumpa dengan Nyai Kartareja yang memang hendak menjemputnya di rumah Sakarya.

"Srintil?"

"Ya, Nyai."

"Wah, bagus! Wong ayu, kenes, ada tamu datang. Kau tahu siapakah dia?"

"Tidak."

"Pak Marsusi, kepala perkebunan karet Wanakeling. Berbaik-baiklah melayaninya. Eh, kau masih membawa-bawa anak si Tampi? Mari, serahkan anak itu kepadaku. Tidak pantas menemui seorang tamu penting sambil membopong bayi."

Srintil tidak menjawab tetapi membuat gerakan sedemikian rupa sehingga Nyai Kartareja harus tahu bahwa Srintil enggan berpisah dengan bayinya. Nyai Kartareja mengerutkan kening karena tidak tahu menerjemahkan sikap Srintil. Akhirnya istri dukun ronggeng itu mengalah, masuk kembali ke dalam rumah. Srintil mengikutinya dari belakang.

"Nah, Pak Marsusi, inilah Srintil. Ternyata aku tak perlu bersusah payah menjemputnya karena dia sendiri yang datang. Kukira Srintil tak akan berbuat demikian apabila tamu yang datang bukan sampean. Iya kan, Srin?"

Perkenalan basa-basi itu tidak ditanggapi oleh Srintil. Apalagi pandangan mata Marsusi segera menyergapnya. Memang hanya sesaat tetapi Srintil dapat membaca secara mendalam makna pandangan seperti itu. Entahlah, kali ini Srintil mulai merasa muak.

Dalam hati Marsusi memercik api yang membakar gairah yang dibawanya dari rumah. Pengetahuannya tentang Srintil sebagian besar diperolehnya dari penibicaraan umum, ditambah dengan dua kali melihat ronggeng itu secara langsung. Satu kali ketika Srintil naik pentas di Pecikalan beberapa bulan yang lalu. 
Kemudian satu kali lagi di pasar Dawuan. Kini semuanya menjadi lebih jelas. Apalagi Marsusi merasa Srintil yang muncul di rumah Kartareja saat itu khusus untuk dirinya. "Ah, pantas. Pantas!" kata Marsusi dalam hati. Tanpa disadarinya tangannya meraba kantung baju. Di dalamnya ada seuntai kalung seratus gram 
dengan bandul berlian.

Srintil tetap berdiri. Goder menggeliat dalam buaiannya. Oh, seorang bayi. Alam jualah yang memberinya kepekaan luar biasa kepadanya. Dalam tidurnya bayi itu menangkap keresahan hati ibu yang sedang membuainya. Mata hati bayi yang masih putih mampu merekam segalanya. Bukan hanya denyut jantung Srintil yang makin cepat, melainkan juga segala sudut batinnya yang sedang gelisah.

Mengapa tidak muncul pertanda nyata bahwa seorang bayi seperti Goder sudah merasa bahwa ada pihak lain yang ingin merebut tempatnya di haribaan Srintil? Mengapa sasmita alam ini terlalu lembut sehingga 
hanya seorang bayi yang mampu menangkapnya? Dan mengapa seorang bayi tidak mampu membela kepentingannya yang paling vital sekalipun kecuali hanya dengan cara menangis? Maka apa yang seharusnya terjadi, terjadilah. Goder menggeliat makin kuat. Kemudian meronta dan menangis. Makin 
lama tangisnya makin kuat. Tangis yang sarat makna karena sesungguhnya alam sendiri telah berbisik kepada Goder, di sana ada sepasang mata berbinar yang ingin menelan Srintil bulat-bulat.

Tak tersisa naluri yang utuh untuk membaca apa yang membuat Goder meronta dan menangis. Kartareja dan istrinya yang semula sudah menghilang muncul kembali di ruang tengah. Mereka merasa pasti Goder ingin kembali kepada Tampi, ibu kandungnya. Maka suami-istri dukun ronggeng itu menyuruh Srintil membawa Goder kepada Tampi.

"Siapa menyuruhmu repot seperti itu. Kamu kan masih sendirian, mengapa bersusah payah mengambil anak orang? Dan itu tamumu! Kamu tahu siapa Pak Marsusi, bukan?"

Srintil tidak ingin menanggapi kata-kata Nyai Kartareja. Dia melangkah ke luar sambil mengayun-ayun Goder. Gerak-geriknya demikian pantas. Dari mulutnya terdengar suara desis lembut demi mengajuk bayi dalam embanan, membuat gambaran seorang ibu tampil dengan utuh. Demikian, maka tak kurang dari Pak Marsusi sendiri hanya bisa menelan ludah dan menggeleng-gelengkan kepala. Bersama suami-istri Kartareja, Marsusi duduk membeku ketika mendengar Srintil bersenandung nina bobo di halaman rumah.

Yun ayun, ayun turu
Turu lah neng ayunan
Anakku si bocah landhung
Mesuk gede dadi rebutan
Yun ayun, ayun turu
Turua si bocah lanung
Cilike tak ayun-ayun
Gedhene ngeman biyung

Angkasa yang kelam sepi membisu. Bahasanya tanpa suara. Tetapi kedip-kedip bintang adalah kesaksian yang berbicara banyak akan apa yang terjadi di bawah lengkung langit.

Suara dendang Srintil adalah nyanyian ibu. Berlatarkan bunyi gangsir yang datar dari berat terciptalah dendang alam yang membawa Goder kembali ke alam damai. Dia bergerak-gerak lembut kemudian lelap dalam udara malam yang kian sejuk.

"Anak siapakah itu?" tanya Marsusi setelah Srintil berlalu ke dalam.

"Bayi itu anak si Tampi. Entahlah, Pak, Srintil begitu lekat dengan bayi itu," jawab Nyai Kartareja.

"Ya, aku melihatnya sendiri; seperti ibu dan anak kandungnya."

"Sebenarnya aku tidak suka. Beginilah jadinya. Srintil jadi tidak sempat menghormati tamu secara semestinya."

"Malam ini aku memang bermaksud mengajak Srintil ke luar. Mungkin dua atau tiga hari," ujar Marsusi sambil menyalakan rokok. 

"Nah, itu baik sekali. Hampir sebulan ini Srintil membeku di Dukuh Paruk, tak mau memenuhi undangan pentas. Mula-mula memang karena sakit. Tetapi setelah sembuh Srintil masih ngambek saja. Ah, saya tahu sebabnya. Srintil masih tetap iri terhadap istri lurah Pecikalan. Iri terhadap kalungnya!"

"Hm. Nanti Srintil tidak akan iri lagi," jawab Marsusi. Senyumnya penuh gaya dan pasti. Nyai Kartareja tak perlu bertanya apa pun untuk mengartikan makna senyum tamunya. Maka dalam hati istri dukun ronggeng itu bergema sorak kemenangan.

"Ya, Pak, ya. Maka bawalah Srintil dan gembirakan dia. Srintil telah kehilangan kelincahannya, kekenesannya. Yang demikian itu tak boleh terjadi atas diri seorang ronggeng. Dan kalau itu, Pak: tidak boleh jadi pastilah akan melumerkan kebekuan hati Srintil!"

Di atas tempat tidurnya yang mewah menurut ukuran Dukuh Paruk Srintil membaringkan bayinya dengan hati-hati. Ketika Goder meronta sejenak Srintil menawarkan teteknya. Mulut Srintil kembali berdesis dengan suara lembut. Goder kembali lelap dengan kedamaian sempurna pada wajahnya. Bukan hanya karena lembutnya belaian, tetapi karena rasa aman bagi jiwanya. Bayi itu bisa menerjemahkan tanpa salah segala gerak-gerik ibunya, segala getar suaranya. Rangsangan spiritual itu memberinya sasmita bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan atas diri ibunya, Srintil. Dia tak akan kehilangan setitik pun 
tempat dalam haribaan ibunya.

Melihat Goder sudah tertidur Srintil bangkit. Sanggulnya yang kendor dibuka dan disanggulkannya kembali lebih kuat. Ditatapnya wajah Goder dalam sikap diam sempurna. Tetapi wajah bayi itu menjadi cermin yang menampilkan seribu bayangan. Rasus yang paling pertama muncul, kemudian wajah ibu-bapak yang tak pernah dilihatnya. Terakhir muncul dirinya sendiri. 

Srintil menggigit bibir karena bayangan itu bertanya tentang siapa dirinya. Pertanyaan itu sejenak mengambang karena Srintil tak kuasa menjawabnya. Menyusul pertanyaan lain; siapakah yang mengatur diri itu, Nyai Kartareja, para lelaki yang membayarnya. ataukah diri itu sendiri? Srintil memejamkan mata agar leluasa berbicara dengan hatinya. Lama sekali Srintil tetap berdiri tak bergerak. Kerut-kerut pada kulit dahinya menandakan ada pergolakan sedang berlangsung di dalam dirinya.

Tetapi ketika akhirnya Srintil keluar dari kamar, wajahnya telah cerah. Keyakinan diri seakan telah berada dalam genggamannya. Dia memperlihatkan ketenangan yang hanya mungkin dimiliki oleh perempuan-perempuan yang benar-benar matang. Gerakannya mantap ketika Srintil duduk di bangku di sisi ruangan. Nyai Kartareja agak terkejut terutama karena melihat anak asuhannya keluar dengan kain 
dan baju yang melekat sejak siang hari.

Lebih dari itu, Srintil kelihatan tidak bergairah menyambut tamunya.

"Ah, jangan marah, Pak. Srintil terlalu lama membiarkan sampean menunggu. Sekarang, silakan berbincang-bincang. Oh, ya, Srin. Pak Marsusi hendak mengajakmu pelesir malam ini. Apakah kau tidak berdandan dulu?" 

"Tidak, Nyai," jawab Srintil singkat.

"E, lha?"

Srintil tersenyum; senyum seorang yang merasa mampu mengendalikan suasana.
"Pak Marsusi, aku takkan pergi ke mana-mana malam ini. Dan..."

"Eh, nanti dulu!" potong Nyai Kartareja. Ada kegemparan dalam nada suaranya. "Apa katamu tadi?"

"Aku tak ingin pergi ke mana pun, Nyai," jawab Srintil. Nyai Kartareja masih tak percaya akan kedua daun telinganya. Dadanya turun-naik. Namun hanya sesaat. Kematangannya sebagai seorang mucikari berhasil menata kembali perasaannya.

"Wong Ayu," kata Nyai Kartareja lembut. Tangannya membelai pundak Srintil. "Tak baik terlalu cepat menampik uluran tangan seseorang. Apalagi dia adalah Pak Marsusi. Kau belum bertanya hendak ke mana kau akan dibawanya. Nah, bahkan kau belum mengerti apa hadiah Pak Marsusi buatmu kali ini."

Dua detik kemudian terdengar bunyi rantai logam dijatuhkan orang ke atas meja. Sementara mata Marsusi mengarah ke awang-awang, mata Srintil dan kedua induk semangnya menatap benda berkilau di atas meja itu. Dalam keheningan yang tercipta, sesaat wajah Nyai Kartareja berubah meriah. Sinar matanya memperlihatkan hasrat yang meluap. Bibirnya bergerak-gerak namun suaranya tak kunjung terdengar.

Srintil pun lama menatap kalung emas yang kelihatan sangat menantang itu. Dua-tiga kali dia menelan ludah. Sebutir berlian memancarkan cahaya kebiru-biruan: godaan yang sulit diabaikan oleh seorang perempuan muda seperti ronggeng Dukuh Paruk itu. Ketika Srintil berada dalam puncak kebimbangannya, 
Nyai Kartareja mendorongnya dengan kata-kata yang amat sugestif.

"Apa kataku, Wong Ayu. Rugi benar bila kau tidak menurutkan kehendak Pak Marsusi. Ayolah, ganti pakaianmu. Ganti pula kalung di lehermu itu dengan yang di sana."

"Nah, ini. Ambillah," kata Marsusi dengan suara datar.

"Yang itu memang lebih baik. Jauh lebih baik dan lebih mahal tentunya," sela Kartareja. "Tak pernah kulihat seorang perempuan memakai kalung sebagus itu kecuali istri lurah Pecikalan. Nah, Srin, kini giliranmu."

Sejenak Srintil diam membeku. Di dalam rongga hatinya muncul kembali bayangan Rasus. Gendang telinganya menangkap suara Ciplak yang menembangkan asmara dahana. Li lali tan bisa lali, sun lelipur tan sangsaya...

"Tidak, Nyai. Aku tidak ingin pergi ke mana pun," ujar Srintil pelan namun terasa benar kepastiannya. Ketiga orang di dekatnya terkejut. Kartareja menegakkan kepala. Marsusi meluruskan punggung sambil melepas rokok dari mulutnya. Yang paling gempar adalah Nyai Kartareja.

"Kau? Kau ini bagaimana? Kau cucu Sakarya tidak ingin memiliki kalung sebagus itu?"

"Nyai tak usah berbicara seperti itu kepadaku," ujar Srintil dengan ketenangan yang mengagumkan.

"Oh, maafkan saya yang tua ini, Wong Ayu. Bila kau tak ingin pelesir kukira tak mengapa. Siapa tahu Pak Marsusi tidak berkeberatan mengubah rencana. Dari niat semula hendak pelesir bersamamu barang dua-tiga hari menjadi acara menginap di rumah ini barang dua-tiga malam. Bagaimana, Pak?"

Marsusi terbatuk. Pukulan pertama membekas berupa tanda tanya yang melintang pada wajahnya. Baru kali inilah ajakannya pergi berkencan ditolak orang. Dan justru ketika dia bersedia memberi imbalan yang paling mahal. Dalam keraguannya Marsusi ingin meraup kembali kalung emas itu, dan pulang. Tetapi sesuatu di depan mata menahan Marsusi duduk tempat.

Srintil duduk agak menyamping. Ketenangannya yang demikian utuh adalah pesona baru dalam penampilannya. Dengan tata sanggul seadanya profil Srintil justru memperlihatkan kesegaran remaja yang amat impresif. Bentuk rahangnya bagus. Pipinya jernih dengan hiasan jambang halus. Kulit leher berkata apa adanya, bahwa usia Srintil memang baru tujuh belas.

Marsusi kembali terbatuk.

"Apabila Srintil enggan keluar, maka terserah kepadanyalah. Aku tak keberatan menginap di sini," kata Marsusi akhirnya.

"Dengar itu, Srin? Pokoknya, Pak Marsusi datang kemari hanya membawa satu tujuan. Yakni membuat hatimu senang. Iya kan, Pak?"

Marsusi hanya tersenyum. Nyai Kartareja bangkit dan memberi isyarat kepada suaminya. Keduanya kemudian menghilang ke dalam rumah. Mereka yakin bahwa suasana yang sulit telah berlalu. Tinggal satu yang pantas mereka lakukan, yakni memberi kesempatan kepada tamunya menikmati kebebasannya 
bersama Srintil.

Kelengangan malam merembes masuk ke dalam rumah Kartareja. Ada kampret masuk melalui pintu depan yang terbuka, berputar-putar sejenak dalam ruangan dan menghilang lagi lewat jalan yang sama. Dua ekor cicak berlomba menangkap mangsa: seekor serangga yang terbang hinggap pada dinding bambu. Ketika serangga itu terbang kembali dan berpusing-pusing di sekitar lampu kedua pengejarnya berganti acara. Kedua cicak itu saling berkejaran. Yang besar mengejar yang kecil. Pengejaran berhenti dalam upacara kawin yang brutal. Atap seng rumah Kartareja tiba-tiba berdentam. Sesuatu yang pekat jatuh dari langit. Tak ada sesuatu yang bisa dituduh kecuali kalong berak sambil terbang. Atau binatang itu memuntahkan biji salam yang sudah dimamah dan diisap airnya.

Selain itu terdengar suara yang membuat Dukuh Paruk mempunyai warna khas. Irama calung. Tetapi malam itu yang terdengar adalah suara calung tunggal. Dalam hal demikian calung menggantikan gambang. Di tangan orang yang tepat seperti Sakum, calung adalah gambang. Bedanya, calung terbuat 
dari bambu sementara gambang dari kayu. Sebagai penabuh calung yang masyhur, meski kedua matanya buta, Sakum tak pernah mengeluh. Bahkan gaya dan suaranya selalu berupa banyolan.

Tetapi malam itu Srintil menangkap kelainan pada suara dan irama calung Sakum. Di balik irama yang padu dengan ketenangan malam tersirat pesan ironik. Ironinya seorang penabuh calung yang sudah sekian lama tidak mendapat penghasilan karena Srintil belum juga hendak naik pentas. Srintil tersenyum getir karena teringat akan nasib Sakum; si Buta yang menjadi mascot kelompok ronggengnya. Dan bukan hanya Sakum seorang yang terputus rejeki lantaran Srintil mogok menari. Tiga orang penabuh lainnya bernasib sama.

Sementara suara calung terus mengisi kelengangan Dukuh Paruk, di rumah Kartareja terjadi suasana yang lucu. Marsusi duduk gelisah. Sebaliknya, Srintil duduk di atas singgasana kemandirian yang nyata. Berkali-kali Marsusi menelan ludah, tetapi Srintil tetap duduk menyamping, berpura-pura tidak tahu ada seekor buaya lapar di dekatnya.

"Jenganten," suara Marsusi serak. Senyumnya kaku seperti anak kecil sedang minta jajan kepada emaknya.

"Ini kalungmu, ambillah."

Srintil menoleh sambil tersenyum. Tetapi siapa pun bisa memastikan senyum Srintil kali ini sama sekali tidak erotik.

"Sebentar, Pak. Untuk apa kalung itu sampean berikan kepada saya?" Marsusi menarik napas panjang. Tingkahnya canggung.

"Begini, Pak," sela Srintil setelah tahu Marsusi gagal membuka mulut. "Kalung itu akan kuterima bila dia sampean maksudkan sebagai upahku menari. Nah, sampean tinggal mengatakan kapan dan di mana pentas hendak diadakan. Di sana sampean boleh mengajakku bertayub sepuas hati."

"Lho, bukan. Kalung ini bukan buat upahmu menari atau bertayub," ujar Marsusi.

"Mau sampean berikan kepadaku dengan begitu saja? Nah, marilah!"

"Bukan!"

"Ya!" potong Srintil dengan kecepatan yang tidak terduga. "sampean ingin memberikan kalung ini kepadaku bukan sebagai upahku menari atau bertayub, melainkan untuk satunya lagi. Oh, Pak Marsusi, sampean 
tidak salah. Karena saya memang telah melakukan hal semacam itu dengan sekian banyak lelaki. Tetapi, Pak..."

Marsusi menyondongkan kepalanya lebih ke depan. Pikirannya yang mulai baur membuat dia ingin segera tahu apa kata Srintil selanjutnya.

"Sekarang aku tak ingin melakukannya lagi."

"Lho, kenapa?"

"Hanya merasa tak ingin, begitu."

"Katakan terus terang!" nada suara Marsusi mulai berat.

"Memang hanya tak ingin. Kalau sekedar menari atau bertayub, nah, ayohlah. Aku memang seorang ronggeng."

"Nanti dulu! Mengapa hal ini baru kaukatakan kepadaku; bukan kepada laki-laki lain sebelum aku? Mengapa?"

"Persoalannya sederhana, Pak," kata Srintil masih dalam ketenangan yang utuh. "sampean kebetulan menjadi laki-laki pertama yang datang setelah saya memutuskan mengubah haluan."

"Jelasnya! Kamu menampik kedatanganku?"

"Tidak sepenuhnya demikian, Pak. Kalau sampean ingin sekedar bertayub denganku, maka selenggarakan pentas. Terserah, kapan dan di mana."

Urat pada kedua rahang Marsusi menggumpal. Matanya menyorot lurus ke arah wajah ronggeng Dukuh Paruk itu. Rencana yang dibawanya dari rumah mulai berubah menjadi dorongan amarah. Marsusi bangkit berdiri, berjalan berkeliling ruangan. Wajahnya berubah beringas. Srintil siap menanti sesuatu akan hancur oleh tangan tamunya. Ternyata tidak. Marsusi hanya berjalan berputar-putar, mendengus-dengus, kedua tangannya bergerak limbung.

Nyai Kartareja muncul dari dalam diikuti oleh suaminya. Tentulah mereka mendengar percakapan yang kaku antara Srintil dan Marsusi. Kemunculan pasangan dukun ronggeng itu disambut dengan tudingan 
tangan Marsusi.

"Nah! sampean berdua duduk!" teriak Marsusi.

"Duduk!" ulang Marsusi karena melihat suami istri Kartareja kelihatan bimbang. Kini Marsusi bertindak menurut gayanya yang asli; gaya seorang mandor perkebunan terhadap para kuli penyadap karet.

"Takkan sekali-kali seorang kepala perkebunan sampai kemari kalau pedukuhan ini tidak bernama Dukuh Paruk," Marsusi mengawali pidatonya sambil tetap berjalan berputar-putar. "Dan takkan sekali-kali aku masuk ke rumah ini bila di sini bukan sarang seorang ronggeng. Dan dia si ronggeng Dukuh Paruk yang 
bernama Srintil, bukan?"

Karena dituding tepat di depan mata maka Srintil mengangkat muka. Sementara wajah suami-istri Kartareja kelihatan kecut. Srintil hampir tidak memperlihatkan emosi apa pun. Tatapan matanya yang demikian tenang membuat Marsusi menurunkan tangan. Kemudian Marsusi melangkah mendekati Nyai 
Kartareja. Ucapannya terdengar habis-habisan.

"sampean cecunguk, ya! Siapakah yang secara tidak langsung menyuruhku membawa kalung seperti milik istri lurah Pecikalan? Barang itu sudah berada di depan matamu. Tetapi apa hasilnya sekarang?"

"Pak Marsusi," suara Srintil datar, "saya mohon sampean tidak marah terhadap Nyai Kartareja. Ini urusanku. Persoalan yang sederhana tidak perlu sampean persulit."

"Ini bukan persoalan sederhana! Aku tidak sekali-kali menganggapnya sederhana!"

"Bagaimana juga, Pak, masalahnya tetap sederhana. Yakni sampean mau membeli sesuatu di sini, tetapi warung sudah tutup. Itu saja, Pak."

"Jadi kamu, dan sampean semua di sini, telah menghinaku. Dan kalian orang Dukuh Paruk, apakah kalian mengira aku tidak tahu bahwa semua yang kelihatan di sini adalah hasil persundalan? Hah?"

"Sabar, Pak. Aku ingin berbicara..."

"Cukup! Kamu nenek cecurut! Biang sundal dan setan Dukuh Paruk. Aku tak ingin mendengar lagi suaramu. Omongmu itu kentut kuda!"

Marsusi yang beringas mengambil topi lalu dipasangnya di kepala. Dengan gerak tangan yang cepat kalung yang semula hendak dipakainya sebagai pembeli Srintil segera masuk ke saku baju. Masih ada satu lagi yang diambilnya dari atas meja; botol jenewer. Isinya yang tinggal setengah ditenggaknya. Botol itu 
dibanting mengenai umpak tiang. Suara beling remuk memecah keheningan. Semenit kemudian terdengar suara motor Marsusi menderu. Keberangkatan Marsusi meninggalkan ketegangan di rumah Kartareja. Wajah Nyai Kartareja gelap dan kusut. Kekesalan hatinya dilampiaskan dengan cara berkali-kali memukul pantat sendiri.

"Toblas, toblas! Kamu ini bagaimana, Srintil? Kamu menampik Pak Marsusi? Toblas, toblas. Itu pongah namanya. Kamu memang punya harta sekarang. Tetapi jangan lupa anak siapa kamu sebenarnya. Kamu anak Santayib! Orang tuamu tidak lebih dari pedagang tempe bongkrek. Bapak dan emakmu mati termakan racun!"

Srintil membeku, menundukkan kepala dan menggigit bibir. Kesaksian tentang kedua orang tuanya yang baru disampaikan oleh Nyai Kartareja telah menggores hatinya. Tentang kedua orang tuanya Srintil telah tahu segalanya. Tetapi setiap kali berita itu berulang, setiap kali pula hatinya terluka. Srintil menangis. Dan Nyai Kartareja tidak peduli.

"Oalah toblas, beginilah caramu membalas budi kami, ya! Kami berdua telah memberimu jalan sehingga kamu mendapatkan kamukten. Tetapi inilah imbalan yang kami terima; dipermalukan habis-habisan oleh Pak Marsusi. Anak Santayib, dasar cecurut kamu! Dan kamu bertingkah menolak sebuah kalung seratus 
gram? Merasa sudah kaya? Bila kamu tidak suka kalung itu mestinya bisa kau ambil untukku. Dan kaulayani Pak Marsusi karena semua orang toh tahu kau seorang ronggeng dan sundal."

"Sudah, Nyai, sudah," kata Kartareja berusaha menghentikan amarah istrinya.

"Biar! Sekali ini dia harus mendapat pelajaran. Lama-kelamaan anak Santayib ini jadi kurang ajar!" Dada Nyai Kartareja masih kembang-kempis tetapi dia sudah kehabisan kata-kata. Sisa kemarahannya tumpah ketika dia meludah sengit ke arah Srintil.

Sampai sedemikian jauh Srintil tetap diam. Bahkan dia tetap tak bergeming meski Nyai Kartareja sudah masuk ke kamarnya dengan membanting pintu keras-keras. Air matanya berjatuhan. Ketabahan yang diperlihatkannya ketika menghadapi Marsusi telah runtuh. Hal ini terjadi karena Nyai Kartareja telah mengusik kedua orang tuanya yang sudah menjadi tanah di pekuburan Dukuh Paruk.

Yang membawa kembali ketenangan ke dalam hati Srintil adalah suara calung tunggal yang ditabuh Sakum. Mula-mula suara itu masih berbaur dengan lengking kemarahan Nyai Kartareja yang terus terngiang dalam telinga Srintil. Disusul kemudian oleh derik seribu jangkrik yang menggetarkan gendang telinga. Lama-kelamaan suara kacau itu surut. Tinggal bunyi calung yang menjalin malam Dukuh Paruk, menyatukannya dalam satu citra yang bulat dan utuh. Klenting-klentung itu tumpah dengan runtut, kadang ada nada yang melompat seperti belatung nangka yang ranum, namun tetap terikat dalam keselarasan.

Dengarlah suara mata calung yang menyusup ke bawah rumpun-rumpun bambu di Dukuh Paruk. Dari bambu pulang ke bambu. Mesra dan penuh makna seperti seorang anak yang menyurukkan wajah dalam-dalam ke selangkangan emaknya. Ketika angin malam membuat desah daun-daun bambu, suaranya 
menjadi latar yang paling alami bagi irama calung yang terus mengalir melalui ayunan kedua tangan Sakum. Tit-tuit tit-tuit suara burung prit putih yang mulai terdengar sejak matahari terbenam memaripurnakan kidung Dukuh Paruk. Pedukuhan terpencil itu sedang menembangkan kidung malam. Entahlah, kini yang terdengar bukan nada cepat bergairah, melainkan suara pilu yang menggayut.

Srintil masuk langsung menuju kamar. Kartareja yang sedang duduk membatu hanya menatapnya sepintas. Tetapi dukun ronggeng itu sedikit terperangah ketika sesaat kemudian Srintil sudah berdiri di hadapannya sambil mendekap Goder dalam embanan. Ayah dan anak asuhan bertatapan. Melalui bahasa rasa Kartareja sudah tahu apa arti kehadiran Srintil di hadapannya. Tak terdengar kata barang sepatah meskipun bibir Srintil kelihatan bergerak-gerak. Demikian juga halnya Kartareja. Sampai akhirnya Srintil berbalik dan 
keluar halaman suasana masih bisu. Hanya derit engsel pintu. Selebihnya adalah kelengangan. Dan cericit tikus busuk yang terkejut ketika Srintil lewat di dekatnya.

Keluar dari rumah orang tua akuannya Srintil merasakan suatu hal yang baru; begitu dekat dengan dirinya sendiri. Akunya sepenuhnya dalam genggaman. Akunya yang terdiri atas dirinya sendiri dan seorang bayi dalam pelukan. Hangat tubuh Goder yang melekat di dadanya menjadi kehangatan pertama bagi sebuah semangat baru yang mulai melembaga dalam jiwa Srintil.

Sampai di rumah kakeknya, Sakarya, Srintil mendapati seorang perempuan lain. Tampi. Wajah perempuan itu langsung meriah melihat kedatangan Srintil. Dia tergopoh bangkit menyongsong Srintil di ambang pintu.

"Oalah, Jenganten. Kemarikan anakku. Aku sudah kangen," ujar Tampi sambil mengulurkan kedua tangannya. Namun Srintil menepis tangan itu.

"Mau melihat Goder, Lihatlah dari situ. Mau menggamit pipinya yang tambun dan padat, silakan. Tetapi jangan ambil dia dari embananku."

"Aku bersungguh-sungguh, Jenganten. Karena aku sudah sangat kangen. Sehari ini aku belum menyentuhnya. Dan, ah! Siapa bilang Goder tidak akan mengganggumu, Jenganten? Baru saja terbukti, bukan?"

"Terbukti?"

"Aku mengerti semua yang baru terjadi di rumah Kartareja. Kalau bukan karena anakku, sampean sudah pergi naik sepeda motor bersama..."

"Cukup. Kamu salah, Tampi. Kamu tak mengerti. Aku tidak pergi bersama laki-laki itu karena aku tak mau. Itu saja. Tak ada sangkut-pautnya denga Goder. Tahu?"

"Tetapi aku mendengar Nyai Kartareja jelas menyebut-nyebut nama anakku. Oh, sampean tidak mengerti bagaimana perasaanku saat itu. Ingin rasanya aku menerobos masuk untuk mengambil Goder dan membawanya pulang selekas mungkin. Anakku masih terlalu bersih buat dilibatkan ke dalam urusan orang-orang dewasa."





Bersambung... 

______________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...