"SERGAPAN PERTAMA TYSON"
Teng… teng… teng… teng…. Suara lonceng besar di depan Cis gedung pertemuan bergema sampai jauh. Belum lagi gaungnya padam, semua penjuru sepi senyap, tidak ada orang satu pun. Kami berpandang-pandangan dengan kalut. Kalau mengikuti qanun yang dibacakan tadi malam, lonceng 4 kali di
jam 5 artinya tanda semua aktifitas harus berhenti dan semua murid sudah harus ada di masjid dengan pakaian rapi dan bersarung.
Jangankan duduk manis bersarung di masjid. Kami masih menggotong lemari di tengah lapangan. Artinya kami telah melawan perintah lonceng, alias terlambat. Dari kejauhan, aku
lihat asrama kami seperti rumah hantu, kosong, sepi, tak satu jiwa pun.
Kami seperti sekawanan tentara yang terjebak di padang terbuka, tanpa perlindungan sama sekali. Kami telah dengan telak melanggar qanun di hari pertamanya berlaku. Aku hanya
bisa berharap, sebagai murid baru kami bisa dimaafkan terlambat barang 5 menit. Lagi pula, sejauh ini tidak ada petugas keamanan yang mencegat kami.
“Ayo lebih cepat!” seru Said di posisi paling depan.
Posisinya seperti pelari sprint yang memimpin paling depan.
Ringan, enteng, cepat.
“Kumaha cepat, ini beratnya minta ampun!” balas Atang
sambil menggerutu. Dia menyeret lemarinya di tanah. Raja
tidak bisa menyembunyikan bahasa aslinya, yang terdengar
hanya “bah, bah, bah!” berkali-kali.
Aku, Baso dan Dulmajid mendengus-dengus dari belakang.
“Tenang akhi, sebentar lagi kita akan selamat. Asrama hanya tinggal 100 meter lagi. Insya Allah tidak akan kena hukum. Sedikit lagi…,” kata Said dengan optimis memberi kami harapan.
Harapan yang terlalu indah. Tiba-tiba… uksss… Sebuah bayangan hitam berkelebat kencang dan berhenti mendadak di depan kami yang sedang ngos-ngosan. Jejak sepedanya
membentuk setengah lingkaran menghalangi jalan kami.
“Qifya akhi… BERHENTI SEMUA!” suara keras mengguntur membuat kami terpaku kaget. Rasanya darah surut dari wajahku. Gerimis semakin rapat. Langit senja semakin kelam.
Duduk tegap di sadel sepedanya, kami melihat laki-laki muda, berjas hitam, berkopiah, sebuah sajadah merah tersampir di bahu kirinya. Di dadanya tersemat pin perak bundar berkilat bertuliskan “Kismul Amni”—Bagian Keamanan.
Kalau ini film koboi, dia adalah sherif berwajah keras yang siap mengokang pistolnya. Dengan enteng dia meloncat dari sadel. Sepedanya diberi kaki. Langkahnya cepat menuju kami. Sret… sret… sret, sarungnya tidak mempengaruhi keligatan gerakannya.
Perawakannya pendek gempal. Menyerupai sang juara tinju kelas berat dunia Mike Tyson—tapi dengan ukuran lebih kecil. Geraknya sigap dan memburu. Matanya tidak lepas menusuk
kami. Bagai pemburu ulung, raut mukanya waspada dengan gerakan sekecil apa pun.
“Maaza khataukum. Apa kesalahan kalian?” tanyanya dengan suara seperti guruh.
Kami gelagapan. Tidak siap menjawab pertanyaan interogatif di senja bergerimis dalam keadaan kepayahan ini.
“Apa salah kalian!?” berondongnya sekali lagi, tidak sabar. Gerimis bercampur dengan percikan ludahnya. Mukanya maju. Napasnya mengerubuti mukaku. Aku katupkan mataku rapat-rapat. Apa yang akan dilakukan Tyson ini padaku.
Melihat aku menutup mata, dia membentak lebih keras, “Jangan takut dengan manusia, JAWAB!”
Aku tidak punya pilihan lain untuk memberanikan diri menjawab. Ragu-ragu.
“Maaf… maaf… Kak, kami terlambat. Tapi hanya sedikit Kak, 5 menit saja. Karena harus membawa lemari yang berat ini dari lapangan…”
“Sudah berapa lama kalian resmi jadi murid di PM?” katanya memotong kalimatku.
“Dua… dua… hari Kak,” jawabku terbata-bata.
“Baru dua hari sudah melanggar. Bukankah kemarin malam qanun dibacakan dan kalian tahu tidak boleh terlambat.”
Kami membisu, tidak bisa menjawab. Hanya napas kami yang naik turun terdengar berserabutan.
“Kalian sekarang di Madani, tidak ada istilah terlambat sedikit. 1 menit atau 1 jam, terlambat adalah terlambat. Ini pelanggaran.”
Sambil membaca papan nama kami satu-satu, kakak mirip Tyson ini menyalak lagi.
“Ingat, Alif, Said, Atang, Dulmajid, Baso dan Raja, saya akan selalu ingat nama kalian. Jangan diulangi lagi!”
Kami bernapas sedikit lega. Gelagatnya, kami akan lolos dari hukuman dan hanya diberi peringatan. Sambil mengucapkan terima kasih dan merunduk-rundukkan kepala, kami kembali beringsut membawa lemari-lemari sialan ini.
“Hei, nanti dulu, kalian tetap dihukum. Di PM tidak ada kesalahan yang berlangsung tanpa dapat ganjaran!” hardik si Tyson.
Kami terkesiap. Mukaku setegang besi.
“Ambil posisi berbaris bersaf. Tangan kanan kalian di bahu kiri teman. CEPAT!”
Kami patuh. Membuat barisan. Aku berdiri paling ujung dekat Tyson, menyusul Atang dan Said. Sementara itu, tanpa kami sadari, ratusan murid yang sedang membaca Al-Quran di
masjid lantai dua melihat kami dengan ekor mata. Kami menjadi tontonan gratis menjelang Maghrib.
“Sekarang, pegang kuping teman kalian sebelah kiri. CEPAT!”
Kami menurut. Aku bergumam dalam hati, kalau cuma jewer gak apa-apa. Kalah menyakitkan dibanding hukuman rotan waktu mengaji di kampung dulu. Yang berat itu rasa
malu ditonton ratusan orang…
Belum selesai gumamanku, kuping kiriku berdenging dan panas. Tangan Tyson dengan keras memelintir kupingku.
“Jewer kuping teman sebelahmu sekuat aku menjewermu!”
Belum dia selesai, aku telah menjewer kuping Atang, sementara Atang menjewer kuping Said. Selanjutnya Said memegang kuping Raja yang memegang kuping Dulmajid yang memegang kuping Baso. Semakin kencang jeweran yang kuterima, semakin kencang aku menjewer Atang dan semakin ganas Atang menjewer Said, begitu seterusnya. Sementara itu yang paling ujung, Baso yang malang, tidak punya mitra untuk saling jewer menjewer. Dia hanya meringis-ringis tanpa bisa melampiaskan kesumatnya. Dengan sudut mata aku lihat dia akhirnya menjewer pintu lemarinya yang keras.
Dari lantai dua masjid, beberapa orang tampak cekikikan. Mereka menutup mulut dengan kopiah, tak kuasa menahan tawa. Sementara itu, di bawah tangga masjid aku melihat
seorang laki-laki berbaju putih, bersorban Arafat, berdiri diam sejak kami dihentikan Tyson tadi. Bagai elang mengancam ayam kampung, matanya tajam mengawasi kami. Siapakah gerangan dia?
Itulah perkenalan pertama kami dengan orang yang aku gelari Tyson. Dia murid senior bernama lengkap Rajab Sujai dan menjabat sebagai kepala Keamanan Pusat, pengendali
penegakan disiplin di PM. Kerjanya berkeliling pondok, pagi, siang dan malam dengan kereta angin. Dia tahu segala penjuru PM seperti mengenal telapak tangannya. Begitu ada
pelanggaran ketertiban di sudut PM mana pun, dia melesat dengan sepedanya ke tempat kejadian dan langsung menegakkan hukum di tempat, saat itu juga, seperti layaknya superhero. Dia irit komunikasi verbal, tapi tangannya cepat menjatuhkan hukuman. Keras tapi efisien. Tidak heran, semua murid menakutinya. Baru melihat sepeda hitam berkelebat, hidup rasanya sudah was-was. Dan bagi kami berenam, Tyson kami nobatkan sebagai horor nomor satu kami.
Bersambung....
______________________________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar