"BERATUS RIBU JABAT ERAT"
Sudah dua minggu berlalu sejak kami merayakan selesainya ujian. Dua minggu yang paling santai yang pernah kami nikmati di PM. Kami melakukan berbagai macam kegiatan,
mulai dari bulis lail, turnamen olahraga antara kelas 6 dan guru, sampai menghadiri berbagai seminar pembekalan bagi calon alumni. Said melampiaskan hasratnya untuk berolahraga
lagi. Raja, Atang dan aku sibuk bolak-balik ke perpustakaan mengumpulkan berbagai informasi universitas mana saja yang mungkin kami masuki setelah tamat PM. Kami melihat-lihat brosur kuliah ke Timur Tengah, khususnya ke Al-Azhar dan Madinah University dan juga informasi sekolah di Eropa, Amerika dan tentunya universitas dalam negeri. Dulmajid
mengoleksi fotokopi cara membuat silabus sekolah untuk digunakan kalau dia merealisasikan niatnya untuk menjadi
pendidik dan mungkin kembali ke kampungnya mengajar.
Salah satu kegiatan yang paling menarik di minggu terakhir kami adalah rihlah iqtishadiyah. Dengan bus carteran, selama
lima hari, segenap murid kelas enam berkeliling Jawa Timur. Kami mengunjungi pabrik kerupuk di Trenggalek, budidaya ikan laut di Pacitan, toko bahan bangunan di Tulung Agung, koperasi simpan pinjam Islami di Jombang, dealer mobil dan pabrik semen di Gresik, industri batik di Sidoarjo, sampai pusat
perawatan kapal besar di Surabaya. Selama kunjungan ini kami berdialog dengan wiraswastawan dan pemilik bisnis dan bertanya bagaimana mereka memulai usahanya.
Tujuan perjalanan ini memang untuk membuka mata bahwa dunia wirausaha sangat luas dan bisa menjadi tujuan kami di masa depan. Perjalanan yang melelahkan, tapi membuat kami puas. Sepanjang jalan kembali ke PM aku dan Sahibul Menara sibuk berandai-andai, akan punya usaha apa kami nanti. Petuah Kiai Rais selalu mengiang-ngiang, “Jangan puas jadi pegawai, tapi jadilah orang yang punya pegawai”.
“Pengumuman kelulusan kita sudah ada, bisa dilihat di aula,” seru Said sebagai ketua angkatan kami berteriak-teriak setelah subuh. Walau masih pegal-pegal dengan perjalanan
keliling Jawa Timur kemarin, kami tidak sabar untuk datang berbondong-bondong ke aula. Walau sudah bertawakal sepenuh hati, tetap saja hatiku berdebur-debur ketika melihat
pengumuman yang ditempel di aula.
Mataku nanar mengikuti jari yang mencoba mencari-cari namaku di papan pengumuman. Dan itu dia. Namaku, Alif Fikri, dan di sebelahnya tertulis huruf nun, jim dan ha. Artinya LULUS. Alhamdulillah. Seperti banyak teman lainnya, aku segera sujud syukur di aula, berterima kasih kepada Allah untuk kelulusan ini. Ternyata para Sahibul Menara lulus semua. Kami berpeluk-pelukkan penuh syukur. Tidak sia-sia aku meregang semua otot kerja kerasku sampai daya lenting tertinggi. Resep yang selalu dikhotbahkan Said berhasil. Ajtahidu fauqa mustaml akhar. Berjuang di atas rata-rata usaha orang lain. Menurut pengumuman ini, hanya kurang dari sepuluh orang yang tidak lulus dan mereka dapat kesempatan untuk mengulang setahun lagi.
Setelah makan pagi, kelas enam dikumpulkan di depan rumah Kiai Rais. Dalam kelompok-kelompok kecil kami dipanggil untuk menerima transkrip nilai dan diberi nasehat langsung oleh Kiai Rais dan para guru senior.
“Dengan ini kami sempurnakan amanah orangtua kalian untuk mendidik kalian dengan sebaik-baiknya. Berkaryalah di masyarakat dengan sebaik-baiknya. Ingat, di kening kalian
sekarang ada stempel PM. Junjunglah stempel ini. Jadilah rahmat bagi alam semesta. Carilah jalan ilmu dan jalan amal ke setiap sudut dunia. Ingatlah nasihat Imam Syafii: Orang
yang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman.Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Selamat jalan anak-anakku,” ucap Kiai Rais dalam nasehat terakhirnya. Sepasang matanya berpendar menatap kami. Juga berkaca-kaca. Suasana begitu hening dan syahdu.
Malamnya diadakan acara yudisium dan khutbatul wada. Khutbah perpisahan. Setelah beberapa sambutan pendek dan doa syukur, kami semua anak kelas enam yang berjumlah
ratusan diminta berdiri memanjang seperti ular di aula. Aku berdiri berjejer bersama Sahibul Menara. Saling meletakkan tangan di bahu teman, di kiri kanan.
Lalu Kiai Rais menjangkau mikrofon.
Anak-anakku, pada hari ini kami sempurnakan memberikan ilmu kepada kalian semua. Pergunakanlah dengan baik dan ia-wadhuk. Kami bangga kepada kalian dan bahagia telah
menjadi guru-guru kalian. Ingat selalu, selama kalian ikhlas, maka selamanya Allah akan menjadi penolong kita. Innallah Maa’na. Tuhan bersama kita. Selamat jalan anak-anak, selamat berjuang.” Kiai Rais berpesan dengan nada suara yang bergetar-getar sampai ke ulu hati kami. Suasana hening pecah oleh isakan-isakan kecil di sana-sini. Udara disesaki keharuan. Beberapa hidung temanku tampak merah dan basah, termasuk Atang yang berdiri persis di sebelahku.
Lalu dipimpin Kiai Rais dan para guru menjabat tangan dan memeluk kami satu persatu sambil mengucap selamat jalan dan berjuang. Tiba giliranku, Kiai Rais memberikan pelukan erat, seakan-akan akulah anak kandung satu-satunya dan akan berlaga di medan perang. “Anakku, selamat berjuang. Hidup sekali, hiduplah yang berarti,” bisiknya ke kupingku. Aku hanya bisa mengucapkan, “Mohon restu Pak Kiai, terima kasih atas semua keikhlasan antum”. Aku menggigit bibirku yang mulai bergetar-getar, tersentuh oleh pelukan guru yang sangat aku hormati ini.
Inilah malam ketika semua dendam kesumat kami bakar habis. Para ustad dari Kantor Pengasuhan yang selama ini menjadi penegak hukum yang sangar, tidak ketinggalan memberi selamat. Wajah-wajah keras mereka tiba-tiba
berubah lembut. Bahkan wajah horor Ustad Torik berubah sembab. Mungkin sedih ditinggalkan para anak asuhannya yang nakal-nakal. “Alif, mohon maaf lahir batin, ma’an najah. Semoga sukses,” kata Ustad Torik sambil mendekapku.
Selanjutnya, giliran ribuan adik kelas kami memberikan selamat dan jabat tangan. “Selamat berjuang Kak, doakan kami menyusul” adalah doa standar adik kelas kepada kami. Inilah malam terjadinya jabat tangan terbanyak dalam sejarah, lebih dari 2500 orang akan menyalami 400 tangan, artinya terjadi lebih ratusan ribu kali jabat tangan malam itu. Tidak heran kalau telapak tanganku terasa panas dingin dan pegal-pegal.
Sebagai pamungkas semuanya, terakhir adalah giliran kami sesama kelas enam saling berpelukan dan berjabat tangan. Suasana menjadi heboh karena 400 orang saling berangkulan dan memberi selamat. Kami semua lebur dalam perpisahan yang penuh emosi.
Kami para Sahibul Menara berangkulan bersama. Hidup penuh suka duka selama 4 tahun di PM telah merekatkan kami semua dalam sebuah pengalaman dan persaudaraan yang tak akan lekang oleh waktu. Aku tidak punya banyak kata-kata untuk mengucapkan selamat jalan kepada kawan-kawanku ini.
Kami hanya saling berangkulan erat beberapa lama. Said yang paling besar mengembangkan tangannya dan memagut kami semua lebih kencang. Badan Atang terlonjak-lonjak menahan isak tangisnya. Tidak lamakemudian, lensa kacamataku berembun dan hidungku seperti selesma.
Esok paginya, PM diselimuti kabut. Hembusan angin pagi menusuk kulit. Tapi aku dan Sahibul Menara telah siap dengan koper-koper kami. Beberapa bus dengan tujuan masing-masing sudah menunggu di depan aula. Aku dan Raja naik bus jurusan Sumatera, Atang ke Bandung, sementara Dulmajid ikut mobil keluarga Said ke Surabaya. Di tengah kabut tipis, kami sekali lagi bersalaman dan berangkulan dan berjanji akan saling berkirim surat. Entah kapan aku akan melihat kawan-kawan terbaikku ini.
Pikiranku tidak menentu. Sedih berpisah dengan kawan, guru dan sekolahku. Tapi aku senang dan bangga menjadi alumni pondok ini. Sebuah rumah yang sesak dengan semangat pendidikan dan keikhlasan yang dibagikan para kiai dan guru kami. Dalam hati, aku berkali-kali mengucapkan berterima kasih kepada Amak yang telah mengirim dan memaksaku ke PM. Aku akan sampaikan terima kasih ini langsung kepada Amak nanti. Aku yakin Amak akan tersenyum bahagia.
Hari ini tidak ada lagi penyesalan yang tersisa di hatiku. Empat tahun terakhir adalah pengalaman terbaik yang bisa didapat seorang anak kampung sepertiku. Saatnya kini aku
melangkah maju, mengatasi kebingungan masa depan. Akan ke mana aku melangkah?
Bus carteran jurusan Bukittinggi menderum meninggalkan PM. Hampir semua kepala kami menengok ke belakang.
Menara masjid tetap menjulang gagah mengingatkan segala kenangan indah bersama Sahibul Menara. Kabut-kabut tipis
masih merambat di tanah, membuat seolah-olah bangunan-bangunan sekolahku melayang di udara. Inilah pemandangan yang pertama aku lihat ketika sampai empat tahun yang lalu di PM. Dan ini pula pemandangan yang kulihat di hari terakhirku di PM. Kampung di atas awan.
Bersambung...
______________________________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar