Sabtu, 13 Maret 2021

NEGERI 5 MENARA BAGIAN 22

"ORATOR DAN TERMINATOR"




Hari ini semua orang memakai wajah suka cita. Ketegangan tentang hasil ujian telah reda. Tadi pagi semua nilai ujian diumumkan. Aku bersyukur sekali, hasil jerih payah belajar habis-habisan menghasilkan nilai yang baik. Begitu juga teman-temanku yang lain, di luar dugaan, kami semua mendapatkan nilai cukup baik. Kecuali Baso dan Raja. Mereka 
memuncaki nilai di kelas kami. 

Yang tinggal sekarang kesenangan. Mulai besok kami menjadi orang merdeka. Uthlah. Libur. Indah sekali rasanya melihat ke belakang perjuangan melelahkan yang aku lakukan setengah tahun ini, sekarang diganjar dengan libur setengah bulan. Bayangkan! Dua minggu tanpa jaras, tanpa kelas tanpa bagian keamanan, dan tanpa antri. Ke mana pun aku pergi, topik pembicaraan teman-teman adalah liburan. 

Di PM selalu ada dua golongan dalam merayakan liburan. Golongan pertama adalah golongan yang beruntung. Mereka mengepak tas dan pulang ke rumah masing-masing, naik 
kendaraan umum atau dijemput oleh orang tua mereka. Ini adalah golongan mayoritas. Golongan kedua adalah yang tidak pergi ke mana-mana dan tetap tinggal di PM selama liburan. Umumnya, yang tidak berlibur karena rumah mereka sangat jauh sehingga tidak efektif pemakaian waktunya, atau karena 
tidak punya uang untuk pulang bolak balik di liburan pertengahan tahun. Jadi mereka mengumpulkan uang untuk bisa liburan di akhir tahun kelak.

Malangnya aku termasuk golongan yang kedua. Kiriman weselku selama ini lancar tapi pas-pasan. Ayah dan Amak tampaknya sedang kesulitan sehingga tidak ada dana khusus 
untuk libur pulang ke Padang. Aku sudah mencoba bertanya, tapi mereka berdua baru bisa mengirimkan uang tambahan minggu depan. Sudah terlalu terlambat untuk berlibur. 

Aku mencoba menghibur diri, kalau pun ada uang, liburanku suatu pemborosan. Waktu yang terpakai untuk naik bus bolak balik bisa 5-6 hari. Sisanya hanya 9 hari yang bisa digunakan di rumah. Karena itu aku memutuskan untuk menunda pulang di libur akhir tahun saja. 

Aku tidak sendiri. Baso juga tinggal di PM dengan alasan yang sama. Raja tidak pulang ke Medan, tapi ke rumah tulangnya di Jakarta. Sedangkan sisa Sahibul Menara pulang berlibur. 

Sejak dari pagi buta suasana PM sudah heboh. Hampir setiap orang di kamar sibuk mengemasi sekaligus membersihkan lemari kecil mereka masing-masing. Tumpukan baju, gunungan buku, dan ceceran kertas ujian tersebar di mana-mana. Barang-barang bekas yang tidak terpakai kami lempar ke karung besar yang menganga di sudut kamar. Kamar kami sudah seperti kapal dikoyak badai. Bunyi resleting koper ditarik terdengar silih berganti. Isinya lemari telah pindahkan ke dalam koper. Salam-salaman dan peluk erat di mana-mana. Saling mengucapkan selamat liburan sampai 
ketemu 2 minggu lagi. Aku tidak mengurus koper, tapi mengucapkan selamat liburan kepada teman-teman lain. 

Hari ini tidak ada lagi aturan ketat yang membuat kami harus hati-hati dengan jasus dan Tyson, karena ini juga hari libur buat mereka. Anak-anak kecil dari keluarga penjemput berteriak-teriak sambil berlarian senang melintasi halaman masjid PM yang luas. Para orang tua murid berseliweran dengan pakaian warna-warni sibuk mencari kamar anak mereka. Suasana meriah dan rileks. 

Beberapa orang berfoto di depan masjid dan aula kebanggaan kami. Aku sempat beberapa kali ditarik-tarik Said untuk berfoto dengan keluarga besarnya di kaki menara kami. Tidak tanggung-tanggung, dia dijemput oleh 8 orang. Dua orang tua, paman dan tante, kakek, dan nenek serta dua keponakannya yang masih balita. 

Rombongan para murid yang tidak dijemput keluarga sudah dinanti oleh bus-bus yang berbaris di depan aula. Kebanyakan naik ke bus carteran yang bertuliskan nama kota masing-masing. Ada yang ke Bangkalan, Denpasar, Jakarta, Jambi, bahkan Banda Aceh. Beberapa orang dijemput dengan kendaraan pribadi. Selain Said, aku melihat Saleh, teman 
sekelasku dari Jakarta juga dijemput orang tua dan adik-adiknya dengan Toyota Kijang biru. Bapak dan Ibunya yang berpakaian muslim putih-putih sangat senang bertemu lagi dengan Saleh, anak laki-laki satu-satunya. Kami, golongan kedua, melambai-lambaikan tangan ke bus yang satu persatu meninggalkan PM. Sedikit gundah terselip di hatiku melihat kawan-kawan akan merasakan libur yang menyenangkan. Bayangan Amak, Ayah dan dua adikku di kampung aku tepis dari pelupuk mata. Sekali lagi aku hibur diriku dengan bilang, perjalanan ke Maninjau bolak balik akan sangat melelahkan. 

Menjelang sore, kemeriahan ini semakin susut. PM sekarang lengang dan terasa lebih luas. Entah karena penduduknya tinggal sedikit atau karena tidak ada aturan ketat yang mempersempit gerak kami. Aku, Baso dan Atang duduk-duduk santai sambil mengunyah kerupuk emping melinjo yang 
dibawa keluarga Said. Atang tidak jadi pulang hari ini, karena bapaknya yang datang menjemput baru sampai besok.

Sepi. Yang terdengar hanya bunyi kerupuk berderak digilas geraham kami masing-masing. Aku dan Baso termenung-menung. Walau aku telah mencoba menghibur diri berkali-kali, tapi perasaan ditinggalkan ribuan orang seperti hari ini terasa aneh. PM sendiri tiba-tiba seperti tidak berdenyut lagi. Merasa 
senyap, tidak diajak, tidak mampu, dan berbagai macam rasa yang aku tidak pahami terasa hilang timbul. Aku melirik Baso dengan ujung mata. Matanya menatap kosong ke lonceng besar yang tegak kokoh di depan aula. Mungkin dia merasakan hal yang sama denganku. 

”Apa rencana kalian selama libur ini,” tanya Atang kepada kami berdua mencoba membunuh kesunyian. Dia bertanya dengan bahasa Arab, walaupun selama libur kami boleh bahasa Indonesia. 

“La airi. Tidak tahu. Mungkin main ke Ponorogo, atau ke perpustakaan,” jawabku sekenanya. Aku mencoba berbahasa Indonesia, walau terasa lebih pas dengan bahasa Arab. 

“Aku sudah punya rencana. Mencoba menyelesaikan hapalan juz kedua selama libur ini,” kata Baso tenang-tenang. Tekadnya menghapal Al-Quran tidak pernah luntur. Atang mungkin membaca perasaan kami. 

“Aku tahu tinggal di PM adalah pilihan kalian. Tapi, mungkin di mobil dinas bapakku masih ada kursi kosong,” katanya mengundang. 

Aku dan Baso sama-sama memandang wajah Atang. Tampaknya keinginan hati kami terdalam sebenarnya adalah berlibur. 

“Masalahnya, aku tidak punya uang sama sekali. Baru minggu depan ada,” jawabku.

“Walau aku ingin menambah hapalan Al-Quranku, tapi itu bisa dilakukan setelah libur. Masalahku sama dengan Alif. Aku muflis. Bokek!” Baso menyumbang bunyi. 

Kembali hanya bunyi kriuk-kriuk kripik melinjo yang mendominasi. Kami bertiga hanyut dengan pikiran masing-masing. Dalam hati, aku sebetulnya bersorak dengan adanya 
kemungkinan yang ditawarkan Atang. Berlibur ke Bandung kayaknya menyenangkan. 

“Aku juga tidak punya duit sekarang. Tapi aku bisa menjamin makan dan tinggal kalian nanti gratis selama di Bandung. Pergi ke Bandung jelas tidak bayar karena naik mobil bapakku. Untuk ongkos kembali dari Bandung ke PM aku bisa meminjamkan nanti. Bagaimana?” bujuk Atang. 

“Boleh aku pikir dulu malam ini ya,” balasku. Walau hatiku bersorak, aku merasa perlu berhitung lagi, apakah duitnya memang ada, dan apakah enak kalau dibayarin seperti ini. 

Baso setuju dengan ideku untuk pikir-pikir dulu. Atang tersenyum. 

Begitu bangun menjelang subuh, kami berdua telah berada di depan Atang yang masih mengucek-ucek mata. Aku menjabat tangannya erat, “Thayyib ya akhi. Ila Bandung. Oke, kita ke Bandung. 

Atang tersenyum senang kami akhirnya mau ikut dia. Perjalanan ke Bandung sangat menyenangkan. Bapak Yunus, ayah Atang adalah laki-laki separo baya yang periang. 
Sepanjang perjalanan dia bercerita tentang kemajuan pendidikan di Bandung dan dengan senang hati mentraktir kami selama perjalanan. Tidak sampai 12 jam, kami telah 
masuk Kota Bandung yang penuh pohon rindang dan berhawa sejuk. Yang pertama aku tanya ke Atang adalah di mana letak ITB. Kampus impianku dan Randai. 

Pak Yunus adalah pegawai Pemda Bandung dan aktif di Muhammadiyah. Kaca depan rumahnya menempel sebuah stiker hijau dengan gambar matahari di tengahnya. “Dari mulai orang tua saya sudah aktif di pengurus cabang Muhammadiyah,” katanya Pak Yunus. 

Keluarga Yunus berkecukupan dan sangat menghargai seni. Dinding rumah dipenuhi lukisan, rak buku disesaki buku teater, melukis dan tari. Beberapa majalah berbahasa Sunda 
dan majalah Panjimas ada di meja tamu. Peragat rumahnya rapi dan berwarna terang. Rumah Atang terletak di dekat kampus Universitas Padjadjaran di kawasan Dipati Ukur. Kawasan ini hiruk pikuk dengan mahasiswa yang berseliweran masuk dan keluar gang. Menurut Atang, daerah sekitar 
rumahnya adalah lokasi favorit kos-kosan mahasiswa, karena dekat ke kampus. “Bahkan dua kamar di paviliun rumahku ini dijadikan tempat kos anak Unpad,” katanya. 

Atang ternyata sudah merencanakan sesuatu buatku dan Baso. Beberapa minggu lalu ternyata Atang dihubungi oleh teman-teman SMA-nya yang sekarang aktif di komunitas 
teater Islam dan seni Sunda di Universitas Padjajaran. Mereka biasa mengadakan pengajian di masjid Unpad Dipati Ukur. Begitu tahu Atang akan pulang liburan, mereka langsung mendaulatnya untuk mengisi acara pengajian bulanan minggu ini. 

Begitu kami menyatakan ikut ke Bandung, Atang langsung mempunyai ide baru. Daripada hanya dia yang memberi ceramah, dia meminta kami berdua juga ikut memberi kuliah pendek, tapi dalam bahasa Arab dan bahasa Inggris. Kami berdua tidak punya pilihan selain setuju. Untunglah kami telah terlatih memberikan pidato dalam 6 bulan terakhir ini. Berbagai konsep pidato sudah ada di kepala, tinggal disampaikan saja. 

“Silakan gunakan liburan untuk berjalan, melihat alam dan masyarakat di sekitar kalian. Di mana pun dan kapan pun, kalian adalah murid PM. Sampaikanlah kebaikan dan nasehat walau satu ayat”, begitu pesan Kiai Rais di acara melepas libur minggu lalu. Kesempatan seperti yang disampaikan Atang 
adalah kesempatan kami untuk mempraktekkan apa yang telah kami pelajari di luar PM, menjalankan amanah Kiai Rais dan melaksanakan ajaran Nabi Muhammad, Ballighul anni walau aayah. Sampaikanlah sesuatu dariku, walau hanya sepotong ayat. 

Seperti undangan yang diterima Atang, kami datang ke Masjid Unpad sebelum Ashar. Di luar dugaan, shalat Ashar berjamaah di masjid kampus ini penuh. Aku sempat agak grogi melihat jamaah yang beragam, mulai dari mahasiswa, dosen, masyarakat umum, dan terutama para mahasiswi yang manis-manis. Tapi begitu aku tampil di mimbar membawakan pidato Bahasa Inggris favoritku yang berjudul “How Islam Solves Our Problems”, pelan-pelan grogiku menguap. Semua teks pidato dan potongan dalil masih aku hapal dengan baik. Suaraku yang awalnya bergetar, berganti bulat dan nyaring. Bagai di 
panggung muhadharah, hadirin terpukau.

Atang dan Baso juga tidak kalah baik penampilannya. Atang dengan lihai memasukkan berbagai macam guyon Sunda yang membuat hadirin terpingkal-pingkal. Sedang Baso, dengan lafaz Arabnya yang bersih, dilengkapi hapalan ayat dan hadisnya yang baik, membuat pendengar mengangguk-
angguk, antara mengerti dan tidak. Pokoknya, dengan gaya masing-masing, kami bertiga membuat para hadirin berdecak kagum dan terlongo-longo. Mereka tidak biasa melihat pengajian dalam tiga bahasa dan dibawakan oleh tiga anak muda yang kurus, berambut cepak, tapi dengan semangat mendidih. 

Begitu acara selesai, kami disalami dan dipuji banyak jemaah. Ada yang bertanya bagaimana belajar pidato bahasa asing, bagaimana cara masuk PM, dan sebagainya. Dengan agak malu-malu, kami menjawab semua pertanyaan dengan sabar. Tiga mahasiswi berjilbab banyak bertanya ke Atang dalam bahasa Sunda. Mungkin bekas temannya di SMA dulu. 
Atang sibuk membetulkan kacamatanya yang baik-baik saja, ketika menjawab pertanyaan mereka. 

Di akhir acara, pengurus masjid berbaju koko yang mengenalkan dirinya kepada kami bernama Yana, menyelipkan sebuah amplop ke saku Atang. “Hatur nuhun Kang Atang dan teman semua. Punten, ini sedikit infaq dari 
para jemaah untuk pejuang agama, mohon diterima dengan ikhlas.” Kami kaget dan tidak siap dengan pemberian ini. Mandat dan pesan PM. 

Pada kami adalah melakukan sesuatu dengan ikhlas, tanpa embel-embel imbalan. Atang dengan kikuk berusaha menolak dengan mengangsurkan amplop kembali ke Kang Yana. Tapi dengan tatapan sungguh-sungguh, dia memaksa Atang untuk menerimanya. 

Besoknya Atang mengajak kami keliling Bandung naik angkot. Sesuai janji, Atang yang membayari ongkos. Dimulai dari melihat alam yang hijau Dago Pakar, melihat keramaian kota di Dago, Gedung Sate, toko pakaian di Cihampelas, keriuhan Alun-Alun dan mencari buku-buku bekas dan murah di Palasari. 

Di hari berikutnya kami berjalan sampai ke luar kota: Lembang dan Tangkuban Perahu. Atas permintaanku, Atang juga mengajak kami masuk ke dalam kampus ITB di Jalan Ganesha dan Masjid Salman yang terkenal itu. Sebuah sekolah yang sangat mengesankan dengan bangunan unik, pohon-pohon rindang dan mahasiswa yang terlihat sibuk dan pakai jaket warna-warni. 

Sedangkan di Masjid Salman, anak-anak muda dengan jaket lusuh bertuliskan nama jurusan kuliah berkumpul di dalam masjid dan pelatarannya. Membentuk kelompok-kelompok yang sibuk berdiskusi. Mereka memegang buku, Al-Quran dan catatan. Diskusinya semangat sekali. Pemimpin diskusinya juga anak muda yang tampak lebih senior. Dia menuliskan potong-potongan ayat dan istilah-istilah modern di papan tulis kecil. Aku mencuri dengar, bacaan Arabnya tidak fasih, tulisan Arab nya apalagi, tapi semangatnya menerangkan luar biasa. Lengkap dengan istilah-istilah modern yang tidak sepenuhnya aku pahami. 

Ada kecemburuan di hatiku. Atau merasa tersindir? Dengan keterbatasan ilmu agama mereka, kenapa mereka begitu bersemangat berdiskusi tentang Islam? Padahal mereka punya jadwal kuliah teknik yang konon berat. Sebaliknya aku malah ingin belajar ilmu teknik-teknik mereka. Apakah seperti ini manusia, yang tidak pernah puas dengan apa yang dipunyai dan selalu melihat kepunyaan orang lain? 

Betapa hebat sekolah ini telah menghasilkan seorang Ir. Soekarno, Presiden Indonesia dan beberapa menteri ternama. Mimpiku memang belum padam. Di gerbang batunya, di sebelah arca Ganesha, aku mendongak ke langit. Duhai Tuhan, apakah mimpiku masih bisa jadi kenyataan? 

Atang menelepon Said yang ada di Surabaya. Mendengar kami bertiga berkumpul di Bandung, dia bersikeras agar kami 
menyempatkan diri main ke rumahnya di Surabaya, sebelum kembali ke PM. Dia bilang, kami bisa kembali bersama mobil keluarganya ke PM. 

Tawaran yang menggiurkan aku. Untunglah kemudian Baso dan Atang setuju. Selain itu kami juga tertolong dengan amplop yang kami terima kemarin. Isinya cukup membantu biaya transportasi aku dan Baso. Tiga hari sebelum libur berakhir, kami bertiga meninggalkan Bandung menuju Surabaya dengan menumpang kereta api ekonomi. Said 
dengan senyum lebar khasnya menyambut kami dengan lengan terbuka lebar. Tangan tiang betonnya memeluk kami. Kawanku yang satu ini memang selalu bisa menunjukkan 
ekspresi persahabatan yang kental. 

“Syukran ya ikhwani lihudurikum…Pokoknya kalian tidak akan rugi main ke sini dulu,” katanya membantu mengangkat koperku. Dia memasukkan koper-koper kami ke Suzuki Hijet biru dan menyetir sendiri ke rumahnya, di daerah Ampel. 

Keluarga besar Said menyambut kami dengan tidak kalah meriah. Bapaknya, kami panggil Abi. Seorang laki-laki paruh baya yang tegap dan berambut putih. Dia memakai baju putih 
terusan seperti piyama dan jari tangannya terus memetik tasbih yang dibawa ke mana-mana. Abi menepuk-nepuk bahu kami, seakan-akan bertemu kawan lama. “Tafadhal. Silakan. 
Anggap rumah sendiri ya,” katanya dengan logat Jawa Timuran yang kental. 

Rumah Said bertingkat dan furniturnya terbuat dari kayu kokoh yang dipelitur hitam. “Ini kayu jati,” kata Said waktu aku tanya. Dinding rumahnya penuh lukisan kaligrafi, foto-foto keluarga dan silsilah keluarga yang seperti pohon besar, ujung bawahnya keluarga Jufri, dan ujung atasnya Nabi Muhammad. Juga ada sebuah kalender besar bertuliskan Pengurus 
Nahdhatul Ulama Jawa Timur, berdampingan dengan sebuah piagam yang diterbitkan oleh PBNU untuk orang tua Said atas dukungan dan sumbangan besarnya buat pembangunan 
sekolah NU di Sidoarjo. Dua mobil parkir di garasi depan. Baso dari tadi tidak henti-henti menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berdecak-decak kagum melihat rumah Said. 
Said menceritakan bahwa rumah di seberangnya adalah kantor Abi, sebuah usaha batik rumahan yang cukup sukses. Kami—
Atang, Baso, aku dan Said tidur di kamar yang sama, ukurannya besar dan mempunyai kasur busa yang tebal. Di dinding kamar Said masih terpampang foto-foto kejayaan semasa dia SMA. Juga ada dua poster bintang film, keduanya poster Arnold Schwarzenegger. Satu poster yang lebih baru mendominasi pintu kamarnya, foto PM dari udara. Sekolah kami tercinta. 

“Aku juga sudah tiga kali ceramah, dua di masjid, satu di kantor Fatayat NU,” kata Said menimpali cerita kami ceramah di Unpad. 

“Salah satu yang hadir di ceramah itu, calon istriku, Najwa,” katanya berbisik sambil tersenyum lebar. Buru-buru dia merogoh dompetnya, mengeluarkan sebuah pas foto seorang perempuan Arab muda berkerudung hitam. Alisnya hitam pekat dan matanya kejora. Said memang telah dijodohkan dengan salah satu keluarga jauhnya. Kedua belah keluarga setuju, dan menurut Said, dia dan calon istrinya juga tidak keberatan. 

Ini benar-benar pengalaman baru bagiku, masuk ke dalam sebuah keluarga Arab dan berada di kawasan yang ditinggali mayoritas orang Arab. Setelah sarapan dengan nasi kebuli, Said mengajak kami melihat toko keluarganya di Pasar Ampel, tidak jauh dari rumahnya.

Pemandangan pasar ini sungguh menarik hatiku. Jalanan pasar semarak dengan barang dagangan yang menjela-jela ke jalan mulai dari baju muslim, bahan pakaian, sajadah, batik, 
minyak wangi sampai kurma dan air zamzam. Bau minyak wangi bercampur dengan bau sate kambing menggelitik hidung. Lagu kasidah dan irama padang pasir mengalun dari beberapa toko. 

Kali ini Said berlagak seorang pemandu turis.
 
“Saudara-saudara, selamat datang di Pasar Kampung Ampel, pasar tertua di Surabaya. Telah ada sejak abad ke-15, tidak lama setelah kehadiran Sunan Ampel.” Tangannya sambil 
melambai ke kiri dan kanan, menyapa para penjaga toko yang banyak memakai kopiah putih dan baju terusan seperti Abi. 

“Dari daerah mana asal keturunan Arab di sini?” tanya Baso tertarik. 

“Macam-macam. Kebanyakan dari Yaman, Hadralmaut seperti faam Jufri, keluargaku. Tapi ada juga sebagian dari Hijaz dan Persia. Tapi walau dari Arab, jangan harap kami 
kebanyakan di sini masih lancar bahasa Arab. Kalian dengar sendiri, kami di sini lebih lancar bahasa suroboyoan.” 

“Hmmmm… kalau pohon silsilah tadi bagaimana ceritanya….,” tanya Atang ragu-ragu. 

“Oh, yang ada di dinding rumahku? Ya, kami percaya, sebagai keturunan dari Yaman, ada hubungan silsilah terus ke atas kepada Rasulullah,” kata Said dengan bangga. 

Nah, sebelum kita jalan keliling kota, aku mau ajak kalian mencicipi makanan kesukaanku,” kata Said begitu kami sampai di depan sebuah rumah makan. Said dengan cekatan memesankan berbagai makanan. Tidak lama kemudian terhidang kebab, roti maryam dan semangkok besar makanan 
berkuah yang aku tidak tahu namanya. 

“Ayo… ayo…. aku traktir. Semua yang aku pesan adalah menu andalan mereka. Coba ini, saya jamin kalian tidak akan ketemu di tempat lain. Ini namanya gulai kacang hijau,” pamer Said. 

Hah, kacang hijau digulai? Di kampungku kacang hijau hanya untuk bubur manis. Aku, Atang dan Baso mencicipi makanan ini. Agak terasa aneh di lidah Minangku, tapi aku bisa memakannya. Setelah dimakan dengan hidangan lain, rasanya semakin enak. Tidak lama, semua hidangan yang di depan kami berempat tandas. 

Seperti di Bandung, tuan rumah kami, Said, dengan senang hati mengajak kami keliling ke berbagai objek wisata di sekitar surabaya, seperti Tunjungan Plaza, Jembatan Merah, dan Kebun Binatang. Bagi aku anak kampung yang baru saja menjejakkan kaki di Pulau Jawa, jalan-jalan di Bandung dan Surabaya merupakan pengalaman yang sangat luar biasa. Aku bersyukur sekali mempunyai teman-teman yang baik dan tersebar di beberapa kota seperti Atang dan Said. 

Di hari terakhir sebelum kami kembali ke PM, Said punya kejutan buat kami. 

“Kalian masih ingat kan waktu kita ke Ponorogo sampai basah kuyup dan melihat poster film Amold Schwarzenegger?” tanyanya kepada kami sambil mengerlingkan matanya yang lucu. 

“Yang membuat kita hampir dihukum itu kan,” kata Atang dengan muka masih kurang senang. 

“Hampir aku botak dan malu seumur hidup,” kata Baso tak kalah sengit, Said tidak peduli dengan perasaan Atang dan Baso. 

“Ya, benar! Ingatan kalian memang bagus. Karena itu aku akan traktir kalian untuk nonton filmnya, Terminator,” katanya berbinar-binar. Aku senang sekali, karena belum pernah 
menonton film di bioskop selain film G-30 S PKI. Itu pun di bioskop di Bukittinggi yang penuh kecoa dan kepinding. Dengan gaya malu-malu tapi mau, Atang dan Baso 
menyambut tawaran Said. 

Bioskop di Surabaya ternyata jauh lebih bagus daripada di kampungku. Udaranya dingin dan kursinya empuk. Suara dan gambarnya juga terasa lebih tajam dan jernih. Film ini dibuka 
dengan sebuah kilatan cahaya dari langit yang kemudian menjelma menjadi aktor idola Said, Arnold Schwarzenegger. Aku tidak terlalu paham cerita detailnya, tapi yang jelas Arnold 
adalah robot canggih utusan dari masa depan untuk menyelamatkan umat manusia. Sepanjang jalan pulang ke rumah Said, kami bertengkar tentang apakah robot yang sudah seperti manusia itu bisa masuk surga atau masuk neraka. Kami berempat kembali ke PM diantar sendiri oleh Abi dengan mobil kijangnya. Muka kami senang dan segar setelah libur. Inilah liburan sekolahku yang paling berkesan. Penuh pengalaman baru mulai dari memberi ceramah, tinggal di kampung Arab sampai menonton bioskop. Aku yakin Randai pun tidak akan pernah punya liburan seseru liburku. 

Kami tidak sabar kembali ke PM antara lain karena penasaran ingin berprofesi sebagai bulis lail alias night watckmatu Sebuah tugas menjadi peronda malam menjaga PM. Sebagai anak baru, kami akan mendapat giliran ronda 
setelah semester pertama. Menurut para senior kami, menjadi bulis lail ini pengalaman tak terlupakan.




Bersambung... 

______________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...