Selasa, 16 Maret 2021

NEGERI 5 MENARA BAGIAN 38

"SEPASANG JUBAH SURGAWI"




Seminggu berlalu sejak Baso bercerita tentang hidupnya. Pelan-pelan kami mulai lupa karena sibuk dengan kegiatan membaca berbagai macam buku pelajaran dari kelas satu 
sampai kelas enam nonstop. Ujian hanya menghitung bulan. Bertumpuk-tumpuk buku menggunung di atas lemari kami, menunggu dibaca. 

Tapi seminggu berlalu tampaknya belum meredakan kekalutan Baso. Sore itu di bawah menara, dia kembali berbagi cerita. Sambil memegang secarik surat yang ditulis tinta biru dia bertanya. 

“Kalian ingat Pak Latimbang yang aku pernah ceritakan? Yang bantu aku ke sini?” Kami mengangguk-angguk. 

“Hari ini aku menerima surat kilat khusus dari dia. Isinya penting sekali.” Wajah kami memandangnya bertanya-tanya. Entah kenapa 
jantungku jadi berdegup cepat. 

“Ada kabar buruk dan ada kabar baik. Yang buruknya, nenekku makin sakit dan tidak bisa bangun dari tempat tidur. Dan Nenek terus menyebut-menyebut namaku. Aku mohon 
bantuan doa kalian agar nenekku sembuh.” 
Bagai koor, kami mengamini doanya. 

“Tapi juga ada kabar baik buatku.” Kami penasaran. Atang kembali ke kebiasaan memperbaiki letak kacamatanya yang tidak salah.

“Di desa di sebelah kampungku di Gowa ada sekolah yang membutuhkan guru untuk mengajarkan bahasa Arab dasar. Pak Latimbang jadi pengurus di sana dan mengusulkan aku untuk mengambil posisi ini. Bahkan sekolahku tidak akan putus karena aku bisa mengikuti ujian persamaan SMA di sana. Sebagai guru, aku akan dapat honor dan jatah beras. Dengan begitu, aku bisa menjaga nenekku juga.” 

Dia berhenti sebentar, dan melanjutkan dengan suara lebih bersemangat 

“Yang lebih menggembirakan, sekolah ini adalah madrasah khusus untuk menghapal Quran. Dipimpin oleh seorang hafiz yang terkenal di daerahku, Tuanku Haji Guru Mukhlas Lamaming. Kalau aku mau mengajar beberapa jam bahasa Arab di sana, aku akan bisa berguru kepada Tuanku untuk menghapal Al-Quran, seperti mimpiku selama ini.” 

“Tapi anta tidak akan mengikuti sarannya, kan?” tanya Atang. 

“Aku mungkin akan pulang beberapa hari lagi,” jawabnya tegas. Sorot matanya mantap, raut wajahnya kukuh. 

“Ini baktiku kepada nenek yang masih hidup. Siapa tahu kepulanganku bisa menjadi obat nenekku. Sedangkan hapalan Al-Quran adalah hadiah buat almarhum bapak dan ibuku, yang 
hanya aku kenal lewat foto saja.” 

Aku terperanjat dengan keputusan Baso ini. Said menggeleng-geleng bingung. Atang dan Dul memasang wajah melongo. Raja menggamit tangan rekannya dalam menulis 
kamus sambil berkara, “Kenapa harus sekarang? Tidak sampai setahun lagi kita lulus. Bertahan sedikit lagi lah. 

Baso menatap Raja lekat, dan dengan suara rendah dia berkata, “Siapa yang menjamin nenekku bisa menunggu? Dia satu-satunya tempat aku mengabdi sekarang.” 

“Tapi kan setelah Nenek sembuh, anta bisa kembali lagi ke PM?”

Baso menggeleng pendek. “Aku sudah membuat keputusan. Bahkan aku sudah shalat Istikharah untuk meminta keputusan terbaik dari Allah. Hatiku sudah mantap.” Lalu dia berbisik lirih, “Walau hatiku sedih sekali berpisah dengan kalian dan PM yang telah membesarkan aku selama ini. 

Beberapa saat hanya ada hening di antara kami. Kami tidak punya apa-apa untuk melawan alasannya yang sangat emosional dan dalam. Bagaimana caranya melawan keinginan suci seorang anak membawa sepasang jubah surgawi buat bapak dan ibunya? Bagaimana melawan bakti seorang cucu kepada nenek yang telah membesarkannya? Jawabannya mungkin ada. 

Awan hitam digayuti mendung yang bergulung-gulung. Matahari sore semakin susut ke Barat. Alam seperti setuju dengan kekalutan kami. 

Dan itu terjadi begitu saja. 

Dua hari kemudian, kami Sahibul Menara, berdiri di kaki menara. Bukan untuk bersenda gurau dan membagi mimpi kami. Tapi untuk membebaskan sebuah mimpi dari kawan kami. Baso tetap dengan keputusan besarnya: merawat neneknya yang sakit dan mengikuti mimpinya menjadi seorang hafiz. 

Duka tampak menggayut di wajah Baso ketika melayangkan pandangan ke sekeliling PM. Tapi tekadnya pulang lebih kuat. 

Raut mukanya berubah-ubah antara sedih dan wajah yang ditegar-tegarkan. Baso tidak mau terlihat cengeng. Said tidak bisa cengeng. Aku tidak dibolehkan cengeng dalam budaya 
keluargaku. Dulmajid tidak kenal kata itu. Kami semua merasakan perpisahan yang berat. Tapi setiap tekanan ini menjalar ke mata, kami tekan jauh ke dalam hati. Kuat-kuat. Hanya Atang dan Raja yang bisa mempraktekkan kesedihan ini dengan baik dan benar. Mereka memerah air mata sambil memeluk Baso. 

Rangkulan dan tepukan di bahu yang bisa aku berikan dengan sebongkah doa, semoga Baso mendapatkan mimpinya. Baso melambaikan tangan dari jendela mobil L300 yang separo terbuka. Mobil yang membawanya berlalu 
mengejar mimpinya di Sulawesi. Meninggalkan kami yang masih mengerami mimpi kami di sini. 

Bila diizinkan Allah, kita akan bertemu lagi di suatu masa dan di suatu tempat yang sudah diaturNya!” teriaknya sambil melambai. Kami melambai kembali. Debu dan asap knalpot 
menelannya tangan Baso yang sayup-sayup tampak masih terus melambai. 

Selamat jalan sahabat. Semoga jalanmu adalah jalan yang diberkati Tuhan. Jalan pengabdian pada nenek, orang tua dan 
agama. Ma’assalamah. 

Sebuah puncak menara telah tiada, tapi dia tidak hilang dan tidak runtuh. Hanya sedang tumbuh dibangun di tempat lain.




Bersambung... 

______________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...