"SAHIRUL LAIL"
Kalau sudah dibakar oleh motivasi Kiai Rais, aku tetap agak grogi menghadapi ujian ini. Beda sekali dengan semua ujian yang pernah aku rasai sebelum ini. Bebanku terasa berlipat
ganda, karena terdiri dari ujian lisan dan tulisan. Selain itu pelajaran lebih sulit karena tidak dalam bahasa Indonesia. Yang membuat aku gamang adalah kelemahanku dalam
bahasa Arab dan hapalan. Aku bahkan tidak tahu apakah kualitas bahasa Arab yang aku punya cukup untuk membuatku naik kelas. Kalau belajar bersama, aku selalu minder dengan kehebatan Baso dan Raja. Keduanya, terutama Baso, sangat gampang dalam menghapal. Sementara kualitas bahasa
Arabnya tinggi dengan tata bahasa dan kosakata yang kaya.
Sementara aku? Semua pelajaran bagiku adalah kerja keras dan perjuangan. Yang aku syukuri, dua kawan cerdasku ini orang baik yang selalu mau membantu dan berbagi ilmu.
Mereka masih bersedia berulang-ulang menerangkan bab-bab yang aku tidak paham-paham berkali-kali. Aku mencoba menghibur diri bahwa aku tidak sendiri. Atang, Dulmajid dan Said juga punya masalah yang mirip, dan kami sangat berterima kasih kepada Baso dan Raja.
Maka, di diari terpercayaku, aku tuliskan rencana konkrit untuk mengatasi masalah ujian ini. Yang pertama, aku ingin meningkatkan doa dan ibadah. Salah satu hikmah ujian bagiku ternyata menjadi lebih mendekat padaNya. Bukankah Tuhan
telah berjanji kalau kita meminta kepadaNya, maka akan dikabulkan?
Aku akan menerapkan praktik berprasangka baik bahwa doaku akan dikabulkan. Tapi berdoa saja rasanya kurang cukup. Aku mencanangkan untuk menambah ibadah dengan shalat sunat Tahajjud setiap jam 2 pagi. Di papan pengumuman asrama telah tertulis, “Daftarkan diri kalau ingin dibangunkan shalat Tahajud malam ini”. Aku langsung mendaftar untuk dua minggu ke depan.
Bawaan alamiku, seperti juga keluarga Ayah dan Amak, berbadan kurus dan kecil. Masalah vitamin ini cerita lama. Waktu aku masih SD, Ayah kadang-kadang di awal bulan membelikan kami vitamin C yang berwarna oranye di botol plastik kecil dan rasanya asam-asam manis. Sekali-sekali
beliau pulang membawa sebotol minyak ikan yang berwarna putih. “Minum minyak ikan dan vitamin ini supaya cepat tinggi dan besar,” bujuk Ayah waktu itu. Mendengar iming-iming
tinggi dan besar, aku yang berbadan mungil langsung bersedia menelan minyak ikan walau rasanya membikin mual-mual. Di lain waktu Ayah pulang membawa tablet obat cacing. “Agar cacing mati dan waang cepat gapuak″ kata Ayah menerangkan. Aku sekarang tahu kalau dia sangat risau dengan nasib anak bujangnya satu-satu ini yang tetap kurus
dan kecil. Selama minum vitamin dan minyak ikan, beratku naik dan pipiku lebih tembem. Tapi begitu berhenti, aku kembali tetap saja kurus dan kecil.
Dan aku hakul yakin, kerja keras selama dua minggu dan belajar malam pasti membuatku lebih kurus lagi. Karena itu rencana lain yang aku tulis adalah memperbanyak makan dan
menambah gizi. Kini, setiap makan, aku usahakan makan selalu menambah nasi, walau tanpa tambahan lauk karena setiap orang hanya dapat satu kupon lauk.
Untuk mendongkrak stamina dan gizi, aku berketetapan untuk membeli multivitamin, madu, dan telur ayam kampung.
Janji yang ditawarkan vitamin dan segala macam pil membuat aku selalu mau membelinya sekali-sekali.
Adapun telur dan madu adalah resep rahasia Said. Menurutnya, dengan mencampur kuning telur dan beberapa sendok madu setiap pagi, akan menjaga stamina tubuh untuk belajar sampai jauh malam.
Rencana lainnya, ya tidak lain tidak bukan, begadang dan bangun malam untuk belajar. Sahirul lail.
Sahirul lail maknanya kira-kira begadang sampai jauh malam untuk belajar dan membaca buku. Sebuah pepatah Arab berbunyi: Man thalabal fula sahiral loyali. Siapa yang ingin mendapatkan kemuliaan, maka bekerjalah sampai jauh malam. Dan aku ingin mencari kemuliaan itu.
Ujian mulai besok, dan hari ini aku berjanji dengan Sahibul Menara untuk mencoba sahirul lail bersama. Setelah makan malam, kami sibuk pergi ke kafetaria untuk membeli
perbekalan. Pilihannya banyak, mulai dari kacang telur, permen, mie, roti, minuman manis, kopi dan gula. Tapi uang di kantongku terbatas. Selanjutnya, kami belajar malam
seperti biasa sampai jam 10 malam. Kami tidur dulu untuk nanti bangun lagi dini hari.
“Kum ya akhi, Tahajjud,” bisik Kak Is, membangunkan aku malam buta, seperti permintaanku. Teng… teng… lonceng kecil berdentang dua kali di depan aula. Jam 2 dini hari. Aku menyeret badan untuk bisa duduk sambil mencari-cari kacamata di sebelah kasur. Dengan tersaruk-saruk aku keluar
kamar yang temaram dan mengambil wuduk.
Aku membentang sajadah dan melakukan shalat Tahajud. Di akhir rakaat, aku benamkan ke sajadah sebuah sujud yang panjang dan dalam. Aku coba memusatkan perhatian kepada Nya dan menghilang selain-Nya. Pelan-pelan aku merasa badanku semakin mengecil dan mengecil dan mengkerut hanya menjadi setitik debu yang melayang-layang di semesta
luas yang diciptakanNya. Betapa kecil dan tidak berartinya diriku, dan betapa luas kekuasaanNya. Dengan segala kerendahan hati, aku bisikkan doaku.
“Ya Allah, hamba datang mengadu kepadaMu dengan hati rusuh dan berharap. Ujian pelajaran Muthala’ah tinggal besok, tapi aku belum siap dan belum hapal pelajaran. HambaMu ini datang meminta kelapangan pikiran dan kemudahan untuk mendapat ilmu dan bisa menghapal dan lulus ujian dengan
baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar terhadap doa hamba yang kesulitan. Amiiinnn.”
Alhamdulillah, selesai tahajud badanku terasa lebih enteng dan segar. Aku siap sahirul lail, belajar keras dini hari sampai subuh. Dengan setumpuk buku di tangan, sarung melilit leher
dan sebuah sajadah, aku bergabung dengan para pelajar malam lainnya di teras asrama. Ada belasan orang yang sudah lebih dulu membuka buku pelajaran di tengah malam buta ini. Ada yang bersila, ada yang berselonjor, ada yang menopang punggungnya dengan dinding, dengan bermacam gaya. Tapi
semuanya sama: mulut komat-kamit, buku terbuka di tangan, sarung melilit leher, segelas kopi dan duduk di atas hamparan sajadah. Sekilas mereka seperti sedang naik permadani
terbang.
Aku layangkan pandanganku ke aula di seberang Al-Barq. Jam 2 malam, aula ini sudah ramai seperti pasar subuh! Puluhan lampu semprong berkerlap-kerlip di atas setiap meja
pasukan sahirul lail Ketika angin malam berhembus, mata apinya serempak menari-nari seperti kunang-kunang.
Said melambaikan tangan di ujung koridor. Lima kawanku telah lebih dulu bangun dan duduk melingkar mengelilingi lampu petromaks yang mendesis-desis setelah dipompa. PM memang tidak dalam jalur PLN karena terisolir dari keramaian. Karena itu PM membeli beberapa mesin diesel yang dipergunakan untuk menerangi PM sampai jam 10 malam. Setelah itu, mesin-mesin dimatikan
kecuali sebuah generator kecil untuk penerangan jalan dan koridor asrama. Karena itu, kalau mau sahirul Bil yang terang, perlu membeli lampu semprong atau sekalian petromaks seperti yang dimiliki Said.
Said menyorongkan gelas besar dan semangkuk makrunah, “Ya akhi, ngopi dulu supaya tidak ngantuk.” Itulah enaknya punya teman seperti Said yang sering dapat wesel. Konsumsi ditanggung banyak.
Dengan menghirup kopi panas di tengah dini hari, aku siap berjuang. Sebuah doa aku kumandangkan lamat-lamat sebelum membuka buku pelajaran muthalaah. “Allahumma iftah alainfil Kilamatan….” Tuhan, mohon bukakanlah pintu hikmah dan ilmuMu buatku. Rabbi izdni ilman warzuqni fahman. Tuhanku tambahkanlah ilmuku dan berkahilah aku dengan pemahaman.
Hampir satu jam kami khusyuk dengan pelajaran masing-masing. Keheningan hanya dipecah oleh gemeretak kacang yang kami kunyah dan Said yang memompa petromaks yang meredup. Pelajaran rasanya masuk dengan gampang ke kepalaku. Tapi hampir satu jam, aku mulai goyah dan berjuang berat melawan kelopak mata yang semakin berat.
Tegukan kopi sudah tidak mempan lagi. Dua kali aku kaget sendiri karena menjatuhkan buku yang aku pegang gara-gara tertidur dalam duduk. Nasib kawan-kawanku tidak lebih baik.
Kepala mereka pelan-pelan mengangguk ke depan dan lalu tersentak ke atas lagi ketika terbangun. Begitu berkali-kali sampai kami dikejutkan lonceng berdentang tiga kali. Jam tiga subuh.
Raja dan Baso mengucek-ngucek mata sambil menguap lebar. Mereka segera mengundurkan diri masuk kamar. Said sudah sulit ditolong dari cengkeraman kantuk, tapi dia tidak mau menyerah. Setiap buku yang dipegangnya jatuh ke lantai karena tertidur, dia kembali memungutnya dan melanjutkan membaca. Sementara Atang dan Dulmajid tampak masih
cukup kuat melawan kantuk. Aku juga tidak mau kalah. Walau mata berat, aku ingin menjalankan tekad yang sudah aku tulis di buku. Aku akan bekerja keras habis-habisan dulu.
Aku berdiri sambil mengulet untuk mengusir kantuk. Setelah membasahi muka dan mengambil wudhu, kantukku lumayan reda. Setiap aku merasa harus menyerah dan tidur,
aku melecut diriku, “ayo satu halaman lagi, satu baris lagi, satu kata lagi…” Akhirnya dengan perjuangan, aku bisa menamatkan bacaanku. Dengan lega aku angkat buku itu dan benamkan di wajahku sambil berdoa, “Ya Allah telah aku sempurnakan semua usahaku dan doaku kepadaMu. Sekarang semuanya aku serahkan kepadamu. Aku tawakal dan ikhlas.
Mudahkanlah ujianku besok. Amin.”
Dengan doa itu aku merasa tenang dan tentram. Aku kembali tidur dengan senyum puas. Tidak lama setelah itu aku kembali dibangunkan Kak Is, kali ini untuk shalat Subuh.
Belum pernah dalam hidupku melihat orang belajar bersama dalam jumlah yang banyak di satu tempat. Di PM, orang belajar di setiap sudut dan waktu. Kami sanggup membaca buku sambil berjalan, sambil bersepeda, sambil antri mandi, sambil an-tri makan, sambil makan bahkan sambil mengantuk. Animo belajar ini semakin menggila begitu masa ujian datang. Kami mendesak diri melampau limit normal untuk menemukan limit baru yang jauh lebih tinggi.
Aku merasakan PM sengaja mengajarkan candu. Candu ini ditawarkan siang malam, sedemikian rupa sehingga semua murid jatuh menyerah kepadanya. Kami telah ketagihan. Kami candu belajar. Dan imtihan atau ujian adalah pesta merayakan candu itu.
Ujian gelombang pertama adalah ujian lisan yang menegangkan. Pagi itu, bersama beberapa murid lainnya, aku antri di depan sebuah ruang kelas, menunggu giliran dipanggil. Wajah kami tidak ada yang tenang, dan semua komat-kamit menghapal dan mungkin juga menyebut doa tolak bala.
Tiba-tiba pintu ruangan ujian lisan terbuka. Seorang murid keluar dengan muka kusut. Mungkin dia gagal menjawab ujian. Sejurus kemudian, sebuah kepala muncul dari balik
pintu dan membacakan giliran siapa yang harus masuk. “Alif Fikri… tafadhal”. Jantungku berdebur. Aku merapikan baju dan masuk ke dalam kelas yang lengang ini dengan mengucap salam. Di dalam ruangan ada meja panjang. Tiga orang ustad penguji duduk di belakang meja itu. Mereka berkopiah, berbaju putih, dan berdasi. Penuh wibawa. Salah satunya adalah yang memanggil aku masuk tadi. Satu meter di depan mereka, ada sebuah meja kecil dan kursi kayu. Mereka mempersilakan aku menempati kursi yang berderit ketika diduduki itu.
Pantatku menggantung di ujung kursi karena tegang. Badanku terasa mengecil. Di seberang sana, tiga pasang mata menatapku seorang dengan diam. Seakan-akan mereka menikmati tekanan mental yang sedang aku hadapi. Aku
menundukkan pandangan ke dua telapak tanganku yang saling mencengkeram di atas meja. Aku berdoa dalam hati semoga kegugupanku tidak menguapkan apa yang tadi malam telah aku pelajari sampai subuh.
Pertanyaan pertama menyambar. Aku disuruh menceritakan ulang sebuah percakapan dalam buku Muthala’ah. Suara Ustad Fatoni—salah seorang penguji—terasa mengepungku karena
bergaung di kelas kosong ini. Dengan tergeragap dan terdiam sebentar sambil mengais-ngais ingatanku dari semalam,
suaraku agak bergetar ketika melemparkan jawaban yang akhirnya aku temukan. Tidak sempurna, tapi cukup membuat dia manggut-manggut.
Pertanyaan terus berlanjut semakin lama semakin susah. Di pertanyaan terakhir, tiba-tiba aku merasa blank dan tidak menemukan jawaban tentang inti cerita di bab ketiga buku
Muthala’ah. Lama aku aku berpikir sambil mengusap-usap kening, dan tetap tidak bisa menjawab. Akhirnya aku menyerah dan berkata, “Afwan ya Ustad, nasiitu. Maaf saya
lupa.” Dengan jawabanku itu berakhir lah ujian lisan yang terasa sangat lama itu. Aku tidak puas, tapi aku senang karena telah melewati sebuah beban. Dengan kepala sedikit lebih ringan aku keluar dan siap dengan ujian lisan lainnya besok.
Akhirnya setelah seminggu, ujian lisan selesai juga. Selang beberapa hari, datang ujian tulisan. Ujian hari pertama lagi-lagi Muthalk’ah atau bacaan bahasa Arab. Aku duduk terasing
dari teman sekelas karena selama ujian posisi duduk diacak dengan kelas lain. Dalam satu ruangan ini hanya ada aku dan Baso dari satu kelas. Dan soal pun dibagikan. Bentuknya
berupa kertas buram setengah halaman yang membuat mataku keriting. Semuanya tulisan Arab dan semuanya huruf gundul. Dan semuanya soal esai, tidak ada pilihan ganda.
Duhh…..
Tentu saja jawabannya juga harus sama, Arab gundul juga. Untuk pelajaran ini aku harus menjawab dengan banyak tulisan. Aku keteteran karena harus menguras hapalanku yang seret dan belum biasa menulis Arab dengan cepat. Tapi Baso yang duduk dua bangku di depanku seperti sedang pesta. Dia
lancar menulis dan beberapa kali mengangkat tangan untuk minta lembar jawaban tambahan. Tidak ada orang yang meminta lembar jawaban lebih seperti dia.
Aku cukup frustrasi dengan ujian yang banyak memerlukan hapalan karena selalu merasa tidak bisa menjawab dengan memuaskan. Aku bertanya-tanya, apakah semakin tinggi kelas
kami di PM, semakin banyak hapalan? Dengan kapasitasku seperti ini, apakah aku cocok di sini. Kadang-kadang, setiap terbentur oleh urusan hapalan, aku melihat masa depanku.
semakin redup di PM. Berapa lamakah aku bisa bertahan?
Bersambung...
______________________________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar