Episode 22
"Terima kasih, Mbakyu," sahut Diding. Tamir hanya tersenyum, menunduk dan
menggelengkan kepala. Tawar. Keluhnya tersamar dalam desah napas yang panjang.
Melangkah di halaman Tamir dan Diding disambut oleh suara mencecet burung bence
yang terbang cepat di udara. Di tepi dukuh mereka berpapasan dengan anak-anak Sakum yang baru pulang mencari serangga di sawah. Mereka ketakutan dan lari. Obornya membuat suara gemuruh.
Sampai di tengah sawah Diding tak kuasa lagi menahan tawanya. Moralnya naik sementara moral Tamir kacau-balau. Tamir tak bisa membuka mulut mendengar seloroh temannya.
"Mampus kamu, Mir. Menginap semalam di Dukuh Paruk? Bisa, bisa. Tetapi di rumah
Nenek Kartareja!"
"Bajingan!"
"Tetapi jangan lupa, Mir. Uang makanmu sudah menjadi milikku."
"Ambil semua, Kere!"
"E, jangan sewot, Bung. Malah saya minta tambah. Itu uang yang semula kamu sediakan
buat Srintil. Wah, dia tidak butuh uangmu. Kamu lihat kalungnya? Gelangnya? Giwangnya?"
"Sudah. Tengik kamu!"
Di tengah malam buta ada gelak tawa di tengah sawah. Ada kekalahan yang dibawa
berjalan dalam gelap. Dan dua pemuda Jakarta itu punya masalah yang tak terduga, menginap di mana malam ini?
Empat orang anak Sakum adalah bocah-bocah yang paling gembira meskipun mereka bersarang dalam gubuk paling kecil di Dukuh Paruk. Kemarau memberi mereka
kesempatan yang luas untuk berburu serangga di malam hari. Hasilnya adalah nasi thiwul dan sangrai belalang serta jangkrik. Kadang mereka juga berburu burung kedasih. Unggas yang gemuk dan berlemak ini tidur dalam rumpun kecipir di malam hari. Hanya dengan modal obor dan kemampuan bergerak hati-hati seperti kucing anak-anak Sakum sering kali bisa menangkap tiga-empat ekor burung dalam satu malam.
Pagi hari ketika anak-anak lain masih meringkuk di balai-balai atau berjongkok lesu di dekat kencing mereka, anak-anak Sakum sudah berkeliaran di pekarangan. Ranting-
ranting bambu dikumpulkan untuk kayu bakar, buah salam sisa kalong dan kampret dipungut dan langsung dikulum. Kemarau juga memberi arena bermain yang menyenangkan. Tanah pekarangan kering, halaman memadat dan rata, baik sekali untuk berbagai permainan. Pada tempat yang teduh dan masih lembab permukaan tanah adalah lapisan lumut yang lembut berwarna hijau kekuningan. Mata anak-anak Sakum yang awas sangat pintar menangkap makna pertanda alam yang sering kali tersamar. Bila ada tanah merekah di batas pekarangan, mereka akan menggalinya dan
secara pasti akan memperoleh jamur barat atau jamur siung yang belum mekar. Bila
ada tahi burung berserakan di tanah, mereka tahu pada malam hari ada perkutut atau
terkuku menginap di atasnya dan mereka menyiapkan alat penangkap, tali penjerat
atau getah keluwih.
Pagi ini anak-anak Sakum sedang bermain di tepi dukuh sambil menunggu ayah mereka
pulang menjual jangkrik di pasar Dawuan. Mereka baru saja berhasil gemilang
menggantungkan sebuah ayunan bambu pada sebuah dahan yang tumbuh mendatar.
Teriakan-teriakan gembira dan gelak tawa.
Ayunan berderit-derit menggoyang
pepohonan. Makin jauh mengayun makin riuh gelak mereka. Suka-ria di tepi dukuh menarik perhatian anak-anak lain. Goder menarik-narik tangan Srintil ingin melihat. Srintil mengikutinya dari belakang. Sementara Goder berbaur dalam tawa riang anak-anak Sakum, Srintil duduk memperhatikannya. Ayunan terus berderit-derit. Anak-anak Sakum silih berganti mengayun dan diayun. Oh, ya, ayunan! Di tempat duduknya Srintil jadi teringat kakeknya, Sakarya, yang sudah meninggal. Sekali waktu Srintil mendengar kakeknya berkata kepada orang-orang Dukuh Paruk bahwa kehidupan tidak maju ke depan dalam lintasan lurus, melainkan maju sambil mengayun ke kiri dan ke kanan dengan jarak yang sama jauhnya. Padahal nurani kehidupan tak pernah sekali pun bergeser dari kedudukannya di tengah. Apabila ayunan ke kanan bercorak hitam misalnya maka ayunan ke kiri dalam banyak hal adalah kebalikannya, putih.
Itu nasihat Sakarya kepada puak Dukuh Paruk. Tetapi pengetahuan semacam itu bagi orang Dukuh Paruk adalah ngelmu, bukan ilmu. Pemahamannya tidak pernah menjadikan orang di sana sampai kepada pengetahuan praktis. Tak pernah membumi dan selalu dibungkus dengan pandangan-pandangan mistik.
Maka Dukuh Paruk dan Srintil sendiri tidak akan mengerti bahwa mereka adalah korban
yang jatuh ketika kehidupan mencapai puncak ayunan ke kiri dan kemudian hendak berbalik ke kanan. Ketika itulah terjadi pergeseran dan penjungkirbalikan nilai dan tatanannya. Andaikan nilai lama bisa bertahan bahkan menang maka ayunan ke kanan tertunda, Dukuh Paruk bisa selamat. Namun yang terjadi di tahun 1965 itu adalah kekalahan nilai dan tatanan lama. Nilai baru yang sesungguhnya selalu laten dan potensial muncul dengan gempita.
Atau Srintil tidak akan mampu mengerti bahwa kelimbungan luar biasa di dalam dirinya berakar pada kegempitaan nilai baru yang sedang sibuk menata diri di tengah kehidupan. Kesibukan yang penuh semangat sehingga suara nurani kehidupan tak terdengar lagi. Banyak kendali kecenderungan yang menantang nurani kehidupan melonggar. Kecenderungan laten yang akan segera melesat lari ketika kekang kendali mengendur.
Gejala ayunan kehidupan sebenarnya sudah lama merembes jauh ke pelosok. Srintil tidak mengerti bahwa makin banyaknya pesawat radio di Dawuan, atau kedatangan orang-orang Jakarta yang akan membangun sebuah bendungan adalah salah satu pertanda terjadinya ayunan itu. Pintu negeri yang semula terkunci bagi bantuan, modal serta banyak kultur luar kini terbuka lebar. Nilai-nilai kebangsaan yang dirumuskan dalam semangat swadaya serta konservasi kultur dan budaya sendiri, surut dalam sebuah pergulatan seru. Dan lagi-lagi nurani kehidupan sering terlangkahi.
"Mak!" seru Goder sambil menubruk pangkuan Srintil.
"E... ya? Apa, Nak?" jawab Srintil gagap.
"Bikin ayunan, Mak. Aku ingin punya ayunan."
"Ah, kau masih kecil, Nak. Nanti jatuh."
"Mak, bikin ayunan!" Goder mulai menuntut.
"Aku tidak bisa membuat ayunan bambu, Nak. Tetapi kalau ayunan kain Emak bisa."
"Buaian, Mak? Ya, aku mau berayun-ayun di buaian. Aku mau, Mak."
"Baik, Nak. Mari pulang, kita bikin buaian di rumah."
Ketika Goder berlari mendahului Srintil, yang kelihatan adalah citra kesegaran sebuah
kecambah kehidupan. Goder melompat-lompat, kadang berbalik merangkul paha Srintil dan lari lagi sambil bersorak kegirangan. Wajah Srintil yang semenit lalu masih;keruh berubah jernih. Oh, Srintil selalu merasa sangat beruntung karena Goder yang hijau-segar adalah miliknya meski dia tidak keluar dari rahim sendiri. Miliknya!
Episode 23
Srintil masih agak jauh dari gubuknya ketika dia melihat seorang lelaki berdiri menunggu di halaman. Makin dekat dia tahu siapa yang berdiri di sana, seorang pamong desa. Dan di tangannya ada sehelai kertas terlipat. Mendadak langkah Srintilbtertahan-tahan. Bibirnya memucat seketika. Ingatannya melayang ke rumah tahanan di kota Eling-eling.
"A... a... ada apa, Pak? Su... surat untuk saya?"
"Ya, oh bukan. Untuk Goder," kata pamong desa Pecikalan yang wilayahnya meliputi Dukuh Paruk.
"Goder?" tanya Srintil masih gemetar.
"Ya. Tetapi mestilah sampean yang harus mewakilinya. Ini urusan tanah yang terkena
jalur pengairan."
"Oh, ya. Saya memang punya tanah secuil yang saya atas namakan Goder. Jadi bagaimana, Pak?"
"Pagi ini sampean harus berkumpul di balai desa Pecikalan. Ada rapat yang akan
melaksanakan pembayaran ganti rugi. Nah, inilah suratnya. Eh, kenapa sampean
gemetar?"
"Ah, tidak, Pak. Tidak."
Pak Pamong tersenyum yang dibalas dengan senyum rendah diri seorang yang masih
menyimpan sisa rasa menjadi aib kehidupan. Pamong tua menikmati senyum seorang
yang masih saja cantik. Srintil menikmati senyum kehidupan yang sudah lama jarang
dirasakannya. Tetapi Goder menarik-narik tangan Srintil dan masih menuntut dibuatkan sebuah ayunan.
"Cepat, ya. Orang lain sudah mulai datang di balai
desa," kata pamong itu sambil melangkah pergi.
"Ya. Ya, Pak. Aku segera ke sana."
"Ayo, Mak. Bikin ayunan. Cepat, Mak."
"Kita tidak jadi membuat ayunan, Nak. Kamu dan aku akan pergi ke balai desa."
"Tidak jadi, Mak? Tidak jadi?"
Bibir Goder bergerak-gerak hendak menumpahkan tangis. Air matanya sudah
mengambang. Srintil cepat meraup tubuh kecil itu dan mengangkatnya ke dada. Goder
diciuminya dengan lembut.
"Jangan menangis, Nak. Kamu akan memakai baju baru dan bersamaku akan pergi ke balai desa. Kamu satu-satunya anak Dukuh Paruk yang diundang. Kamulah satu-satunya
anak yang punya sawah."
"Di balai desa ada jajanan, Mak?"
"Ah, tidak. Tetapi kita bisa mampir ke pasar Dawuan. Kamu ingin apa?"
"Meniran, Mak."
"Baik, nanti kita beli yang banyak."
"Ondol-ondol."
"Ya, ya."
"Balon, Mak. Balon."
"Boleh."
"Anu, Mak. Anu, Mak. Jangkrik."
"Ah, jangkrik tinggal minta kepada Paman Sakum."
"Es!"
"Nah, ayo kita cepat berdandan."
Selain di pasar Dawuan maka baru kali inilah Srintil berada di tengah rapat yang dihadiri banyak orang. Dulu ketika masih meronggeng orang banyak yang berkumpul semua tunduk di bawah pesonanya. Perasaan mereka, khayalan mereka, menjadi bulan-bulanan alunan tembang dan lenggang-lenggok berahinya. Jantung mereka menjadi permainan lirikan mata dan pacak gulunya. Dan orang-orang terpenting yang sedang berkumpul di balai desa itu adalah mereka yang pernah merengek minta belas kasihnya.
Kini semuanya terbalik dengan semena-mena. Ketika Srintil memasuki balai desa banyak perempuan yang berpindah tempat duduk, menjauh. Banyak lelaki dengan gagahnya menipu diri dalam kepura-puraan, kecuali pamong yang tadi mengundang Srintil yang menyilakannya duduk. Lainnya hanya menatap dengan cara demikian rupa sehingga Srintil merasakan sebagai runcingnya ranting bambu yang menghunjam dada. Oh, tetapi di sana ada seorang priayi yang melihatnya dengan mata yang lunak. Srintil tahu dia adalah salah seorang yang sering dilihatnya mengukur tanah sawah di sebelah barat Dukuh Paruk.
Srintil duduk sambil memangku Goder. Terus menunduk, hampir tak pernah bergerak.
Perasaan hati yang berpusar-pusar hanya bisa ditenangkan oleh kehangatan tubuh Goder yang sedang dipangkunya. Kain kebayanya sangat bersahaja. Srintil sama sekali tidak ingin kelihatan menonjol. Penampilan yang merendah hendaklah diartikan sebagai pengakuan atas sebuah kesalahan hidup yang terlanjur. Atau permohonan dalam kebisuan untuk dimengerti. Atau ucapan tanpa kata-kata bahwa hendaknya semua cukuplah sudah, jangan lagi ada tatapan mata yang mengiris hati, jangan lagi ada cibiran yang meremukkan jiwa.
Bajus duduk di samping lurah Pecikalan. Antara keduanya sudah terjadi beberapa kali
pertemuan. Pertama, ketika Bajus baru hendak mulai mengukur tanah-tanah sawah yang terletak dalam wilayah desa Pecikalan. Kedua, di kantor kecamatan ketika keduanya kebetulan punya urusan dengan Pak Camat. Pertemuan ketiga sudah bersifat pribadi di rumah lurah. Waktu itu Bajus berterus terang masih bujangan, sambil tersenyum dan mata bercahaya.
Waktu itu lurah Pecikalan yang kuno mencoba menangkap makna kata dan suasana. Ada laki-laki tanpa diminta telah mengaku masih bujangan. Ada mata bersinar-sinar dan ada senyum yang menyimpan sesuatu. Lalu mengapa semua orang di wilayah Dawuan masih saja berpikir dalam pola lama bahwa di sana hanya ada satu lubuk di mana semua air mengalir ke sana. Sepanjang menyangkut petualangan berahi, Dukuh Paruk adalah lubuk dan Srintil adalah ikannya. Oh, ya. Bajus dan teman-temannya sedang mengukur tanah sawah yang dekat sekali dengan Dukuh Paruk. Mestinya dia sudah melihat ikan yang elok di lubuknya.
Lurah Pecikalan yang meski kuno tetapi kenal betul akan Srintil, kenal sosoknya dalam arti yang paling harfiah, hanya tersenyum. Dan seorang seperti lurah Pecikalan tidak bisa melepaskan diri dari sebuah nilai kuno bahwa seorang penguasa kecil wajib asok glondbong pengareng-areng kepada penguasa besar. Upeti. Apabila Bajus yang dianggapnya penguasa besar karena datang dari Jakarta mengaku bujangan maka lurah Pecikalan mengerti apa yang dikehendakinya. Dan lurah Pecikalan tidak mempunyai satu pun nilai yang bisa dijadikan pegangan untuk menyalahkan orang dari Jakarta itu.
Episode 24
Setelah semua pemilik sawah datang maka acara pembayaran ganti rugi dimulai. Lurah
Pecikalan mengawalinya dengan pidato. Adalah kejayaan kekuasaan yang menyebabkan tak satu kali pun terdengar pertanyaan atau usulan tentang harga ganti
rugi. Juga semua bungkam ketika lurah berkata bahwa uang ganti rugi akan dipotong
sekian persen untuk biaya perbaikan balai desa, sekian persen untuk membeli seragam
hansip, sekian persen biaya administrasi agraria, sekian persen lain-lain. Semuanya
menjadi empat puluh persen. Sebelumnya sudah beredar bisik-bisik bahwa hanya mereka yang bersangkutan dengan geger 1965 akan menyanggah ketentuan itu.
Srintil sungguh tidak tertarik mendengar persen-persen itu, tidak juga jumlah uang yang akan diterimanya atas nama Goder. Yang amat diinginkannya adalah cepat keluar dan terbebas dari pandangan mata orang banyak, kembali ke Dukuh Paruk dan bersembunyi dalam dunia Goder. Tetapi panggilan untuknya tidak juga datang, bahkan ketika matahari sudah jauh tergelincir dan hanya tinggal dua orang yang belum mendapat bagian. Akhirnya Srintil sadar dia akan mendapat giliran paling akhir. Tentu saja, dari sekian banyak orang hanya akulah bekas tahanan. Itu pikiran Srintil dan itu pula nilai kecongkakan kenisbian masa.
Akhirnya tinggal Srintil bersama Goder. Lurah Pecikalan menyuruh tukang-tukang jagal uang ganti rugi membereskan hasil potongan di ruang lain. Sekali lagi, tentu saja. Seorang bekas tahanan tidak akan diperlakukan sama dengan orang lain. Maka Srintil akan diperlakukan secara khusus. Mungkin uangnya akan dipotong lebih banyak. Atau siapa tahu, Srintil akan dimintai keterangan macam-macam atau persyaratan macam-macam. Itu dugaan semua orang.
"Srintil," kata lurah Pecikalan lirih, lirih sekali. Toh Srintil terkejut bukan main. Wajahnya putih. Goder ditekan ke dadanya yang berdenyut hebat. Dan Pak Lurah malah terkekeh.
"Jangan takut seperti itu, Jenganten. Dengar. Aku dan Pak Bajus ini akan berbicara dengan kamu. Beliau ini jauh-jauh datang dari Jakarta. Mungkin saja, aku tidak tahu persis, beliau membutuhkan teman. Begitu, Pak Bajus? Oh, aku hampir lupa. Ini uang ganti rugi untuk tanah si Goder. Atas nasihat Pak Bajus uangmu tak dipotong apa pun." Bajus terbatuk. Memutar ke samping untuk memperlihatkan sasmita kepada lurah Pecikalan. Laki-laki tua itu tanggap lalu bangkit.
"Nah, aku minta kamu mematuhi Pak Bajus. Yah, tidak boleh tidak orang seperti kamu
harus patuh. Silakan." Dan lurah Pecikalan melangkah ke luar.
Bajus kembali terbatuk. Cengar-cengir sebentar lalu menyuruh Srintil pindah ke kursi
yang lebih dekat. Tangan Bajus mencubit pipi Goder. Kata pertama yang keluar sungguh di luar dugaan Srintil.
"Ini bukan anakmu, kan?"
"Ya, Pak," jawab Srintil masih tetap menunduk.
"Aku sudah tahu banyak hal tentang kamu. Cobalah angkat mukamu. Kita berbicara
seperti biasa."
"Ya, Pak."
"Begini, Srin. Tadi Pak Lurah berkata seperti itu. Ada benarnya sepanjang tidak diartikan secara berlebihan. Aku memang ingin berkenalan dengan kamu. Jangan khawatir, aku belum punya istri. Bagaimana?"
"Tetapi, Pak..."
"Bagaimana?"
"Jadi Bapak..."
"Tidak usah sebut aku begitu. Mas!"
"Oh, Pak. Eh, Mas. Jadi Mas sudah tahu siapa aku. Aku takut, Mas. Dan Mas tidak pantas bergaul dengan seorang bekas tahanan."
"Sudahlah. Nah, kali ini cukup sekian. Besok atau lusa aku akan datang ke Dukuh Paruk. Boleh, kan?"
"Untuk apa, Mas?"
"Yang jelas bukan untuk menginap atau semacam itu. Percayalah. Bagaimana?"
"Boleh, Mas. Tetapi aku takut berbuat salah."
"Ya, aku mengerti perasaanmu. Untuk ini akulah yang bertanggung jawab."
Ada sebuah titik keberanian terbit di hati Srintil. Seperti sebuah bintang kecil muncul
di ufuk langit timur ketika alam yang terbentang adalah kegulitaan sempurna. Tetapi
Srintil belum percaya. Maka ditatapnya wajah Bajus sejenak. Ada keramahan, ada pertanda pengakuan bahwa Srintil masih diakui sebagai warga kehidupan. Dan ada senyum, senyum kelelakian. Srintil ingin surut. Pengalaman dengan kelelakian yang telanjang adalah sejarahnya yang paling getir. Namun wajah Srintil cerah kembali ketika tangan Bajus lagi-lagi menggamit pipi Goder. Itu bukan sikap kelelakian telanjang, melainkan sepercik kemanusiaan yang betapapun kecilnya terasa amat mahal bagi Srintil.
Keluar dari balai desa Srintil berjalan cepat. Kalau bukan karena Goder menagih janji maka Srintil pasti akan langsung pulang. Tetapi karena Goder minta balon dan es maka Srintil mampir ke sebuah warung. Dari sana Srintil meneruskan perjalanan. Tiba-tiba saja dia kurang bernafsu melayani Goder yang berbicara macam-macam.
Sampai di rumah Srintil minum lalu duduk termangu. Goder dibiarkannya bersuka-ria
seorang diri di halaman. Rekaman pertemuannya dengan Bajus berputar kembali
dalam gambar yang demikian jelas. Dan Srintil masih kurang percaya bahwa peristiwa itu baru terjadi kurang dari satu jam yang lalu; pertemuan yang jauh lebih berharga daripada sejumlah uang yang masih berada di balik setagennya.
Duh, Pengeran, ada apa lagi dengan kelelakian. Besok atau lusa dia akan datang. Aku harus bagaimana? Bajus akan datang sebagai warga kehidupan atau mewakili dunianya sendiri? Entahlah. Namun aku tidak percaya tak ada pamrih. Kemudian Srintil tertegun karena merasa telah berbuat sesuatu di luar wewenangnya; menjatuhkan vonis bersalah terhadap orang yang punya pamrih. Srintil cepat-cepat berusaha menghapus
kecurigaannya terhadap maksud kedatangan Bajus. Namun pada saat yang sama timbul
angan-angan baru yang sama-sama menakutkan. Yakni bila Bajus datang dengan tujuan yang sejati. Seorang lelaki bujangan ingin berkenalan dengan seorang perempuan
tanpa suami; maka bila tidak ada maksud petualangan, tinggal satu makna yang bisa
diterjemahkan. Dan Srintil merasa ngeri terhadap angan-angan indah yang sekejap
melintas dalam hatinya. Nelangsa dan takut.
Nelangsa. Karena Srintil tak bisa membebaskan diri dari perasaan tidak berkelayakan menerima kesejatian. "Duh Pengeran, andaikan aku bukan seorang bekas tahanan."
Srintil mengisak. Merebahkan diri ke samping dengan pinggul melintir karena kaki Srintil masih dalam posisi ongkang-ongkang. Ketika pikiran terhenti dan tak mampu menembus ketidakberdayaan maka angan-angan tentang masa lalu, seribu kenangan, muncul silih berganti. Tentang rumah tahanan di kota Eling-eling, di mana resminya Srintil diberi tugas membantu bagian dapur. Tentang kuali raksasa yang digunakan untuk mengolah kangkung dan genjer hanya dengan bumbu garam untuk lauk grontol, rebus biji jagung. Atau sikap sesama tahanan perempuan yang iri hati sebab Srintil mempunyai handuk bagus, sabun mandi, dan di bawah tikar tempat tidurnya ada cermin serta pupur.
Episode 25
Kemudian muncul bayangan Bajus. Oh, dialah orang luar pertama yang bersikap wajar. Ya. Srintil baru bisa memastikan sekarang bahwa yang dimintanya dari kehidupan ini adalah kewajaran yang bisa diterima secara umum dan mendasar. Tetapi mengapa kewajaran yang datang melalui penampilan Bajus jadi menakutkan?
Matahari melintas makin jauh ke barat. Angin mengalir membuat desah lembut ketika
menyelinap celah atap ilalang. Derit ayunan bambu di samping rumah Sakum dan tawa
riang Goder yang sedang bermain balon karet di halaman. Jasad dan jiwa Srintil yang lemah dan lelah menuntut istirahat. Sekejap saja Srintil sudah berada dalam alam antah-berantah. Kupingnya mendengar irama calung yang sangat bergairah. Di hadapannya terlihat beribu-ribu pasang mata yang menatap kagum. Srintil menantang mereka dengan lenggang-lenggok. Suaranya adalah sugesti berahi yang tersamar dalam tembang. Wakul kayu cepone wadhah pengaron, kapanane ketemu padha dhewekan...
Tetapi entah mengapa kemudian penonton bubar kocar-kacir. Rentetan tembakan. Srintil lari meninggalkan arena pentas. Dan sebuah tangan besi mencekal tengkuknya. Dia ingin berteriak namun tangan besi itu mencekik lehernya kuat-kuat. Srintil hanya bisa meronta-ronta. Ketika terasa tangan besi itu mengendur Srintil melenguh seperti ternak dipotong.
"Eh, lha! Tidur siang kok mengigau. Bangun, Jenganten. Bangun. Lihat ini anakmu jatuh ke comberan. Ayo bangun."
Srintil menggelinjang. Bangun lalu duduk linglung. Terengah-engah. Matanya blingsatan masih menampakkan sisa ketakutan. Dahi dan tengkuknya basah.
"Ada apa, Jenganten, mimpi buruk? Eh, lha. Wong habis menerima uang kok malah
mengigau. Ini lihat. Anakmu habis masuk comberan dan sudah saya basuh kaki dan
tangannya."
Srintil masih linglung dan hanya sekejap melihat Goder yang sedang dibopong Nyai
Kartareja. Tanpa berkata sepatah pun Srintil bangkit dan masuk ke dapur. Dengan
gayung diciduknya air dari tempayan untuk membasuh muka. Segelas air di atas meja
ditenggaknya habis.
"Sekarang katakan, Jenganten. Mimpi apa. Digigit ular barangkali?" tanya Nyai Kartareja sambil menyerahkan Goder kepada Srintil.
"Sudahlah, Nyai. Ketakutanku terbawa ke dalam mimpi."
"Takut? E, lha. Sampean masih saja berkata begitu. Zaman sudah aman, Jenganten. Jadi apa lagi yang sampean takutkan?"
"Kapan-kapan dia mau datang kemari, Nyai. Aku takut. Aku tidak tahu harus berbuat apa."
"Dia siapa?"
"Pak Bajus."
"Pak Bajus yang suka memimpin orang mengukur tanah?"
Srintil mengangguk. Dan Nyai Kartareja terpaksa percaya bahwa Srintil sedang
menghadapi kebimbangan. Tak ada kepura-puraan pada wajahnya.
"Eh, lha. Aku jadi tidak mengerti, Jenganten. Mengapa sampean sekarang takut dengan
setiap lelaki yang datang. Sampean menolak Marsusi. Tamir juga sampean tolak. Lalu
sekarang sampean takut menghadapi Bajus. Aku tidak mengerti, Jenganten."
"Aku juga tidak mengerti, Nyai. Namun untuk menjawab Marsusi atau Tamir, gampang
saja. Tidak! Nah, Nyai. Aku tak sanggup berkata seperti itu kepada Pak Bajus.
Entahlah, Nyai. Harus bagaimanakah aku ini."
"Kenapa begitu, Jenganten?"
"Nyai, aku melihat, aku merasa, Pak Bajus tidak ingin main-main. Nyai..."
Nyai Kartareja memperhatikan dengan saksama garis-garis ekspresi pada wajah Srintil.
Ada sesuatu yang berakar dari kedalaman jiwanya. Sedikit demi sedikit dibangunnya
pemahaman tentang apa yang sedang menjadi angan-angan Srintil. Tidak sulit bagi Nyai Kartareja buat berpikir sampai kepada kesimpulan yang jitu. Tersenyum, kemudian digamitnya pundak Srintil.
"Wah iya, Jenganten. Sampean masih muda. Sampean baru dua puluh tiga tahun dan
cantik. Sungguh tidak aneh bila ada lelaki menginginkan sampean."
"Dan Mas Bajus masih bujangan."
"Nah!"
"Tetapi, Nyai. Aku bekas ronggeng. Aku bukan perempuan somahan, perempuan rumah
tangga. Orang tidak akan percaya bahwa aku meski bekas seorang ronggeng akan mampu menjadi ibu rumah tangga yang baik. Nyai, siapa pun tidak akan percaya."
"Eh, lha belum tentu, Jenganten. Buktinya, Pak Bajus itu. Bila dia tak percaya sampean bisa menjadi perempuan somahan mengapa dia ingin bersungguh-sungguh dengan sampean?"
"Entahlah, Nyai. Tetapi bisa saja sekarang dia percaya karena sesuatunya belum menghadapi ujian. Aku takut sekali waktu datang ujian aku harus menghadapi kenyataan pahit, ketidakpercayaan itu. Bila sampai terjadi demikian, Nyai, sia-sialah semuanya. Aku bisa lebih sengsara daripada sekarang."
"Jenganten, andaikan aku adalah sampean, maka aku tidak akan berpikir sejauh itu. Aku hanya akan berpikir bagaimana menggunakan kesempatan yang mungkin amat langka ini. Pak Bajus bujangan dan priayi. Dia orang jauh sehingga sampean bisa menempuh kehidupan baru di tempat yang baru pula. Dan seperti kata sampean sendiri, Pak Bajus kelihatan bukan hendak bermain-main. Apa lagi, Jenganten?"
"Ya, Nyai. Tetapi aku harus bagaimana?"
Nyai Kartareja tertegun. Baginya Srintil adalah sebuah sosok tanpa aling-aling. Perempuan itu tahu segalanya, tahu bagaimana dulu Srintil menghadapi laki-laki, puluhan laki-laki yang ia sukai. Srintil pernah menjadi gowok bagi Waras dari Alaswangkal. Gowok adalah perempuan yang mengajari laki-laki tentang caranya menjadi lelaki. Maka Nyai Kartareja amat yakin bahwa mencari jawaban bagi
pertanyam Srintil sama mudahnya dengan mengedipkan mata.
"Eh, lha. Sampean ini cantik. Sampean mempunyai pakaian yang bagus serta
mempunyai perhiasan emas. Mandi keramas, matut salira secantik mungkin lalu bermanja kepada tamu yang akan datang itu. Masa iya nenek bangka ini harus mengulangi pelajaran yang kuberikan kepada sampean sepuluh tahun yang lalu?"
Srintil melengos dengan sengit. Jawaban yang diucapkan oleh Nyai Kartareja sedikit pun tidak menyentuh kebimbangan dalam hatinya. Kenyataan yang pahit; seorang yang hingga menjadi nenek tetap hidup di Dukuh Paruk dan sekian tahun menjadi semang Srintil tak mampu menggapai akar kepelikannya. Srintil mengeluh dan mendesah. Dia ingin kembali merenung seorang diri. Dan dia tahu cara yang baik untuk menyuruh Nyai Kartareja menyingkir: selembar uang.
Episode 26
Dukuh Paruk sesudah geger komunis 1965 adalah Dukuh Paruk yang sudah dibakar dan
hanya tersisa puing-puingnya. Apabila dulu beberapa rumah sudah beratap genting atau seng dengan penerangan lampu pompa maka sekarang semua rumah sama, gubuk beratap ilalang dengan penerangan pelita di malam hari. Tak ada tembang, tak ada calung, dan tak ada lelaki luar yang datang karena tak ada satu pun lelaki yang rela dikatakan berhubungan dengan ronggeng yang baru pulang dari tahanan. Boleh jadi Marsusi adalah kekecualian karena dia pernah berusaha menghubungi Srintil melalui Nyai Kartareja. Tetapi Marsusi tidak akan berani seperti dulu, membawa motornya masuk ke Dukuh Paruk.
Meskipun Dukuh Paruk selalu paling terbelakang namun dulu dia mandiri. Dia menyatu dengan ketenaran irama calung dan ronggeng. Dan ketika indang ronggeng ada pada diri Srintil semua orang di sana bangga disebut sebagai orang Dukuh Paruk. Lalu apa
yang kemudian terjadi adalah bukti kebenaran kata-kata mendiang Sakarya. Bahwa zaman berjalan sambil mengayun ke kiri dan ke kanan. Setelah Dukuh Paruk mencapai puncak kebanggaan kini zaman mengayunkannya ke kurun yang membawa serba kebalikannya. Orang Dukuh Paruk merasa sukar berjalan dengan kepala tegak apalagi bila sedang berada di luar tanah airnya. Orang Dukuh Paruk tidak ingin berbuat sesuatu yang bisa diartikan sebagai penampilan rasa bangga. Dalam segala urusan mereka ingin memberi kesan sedang meniti nasib dengan penuh penyesalan serta rasa bersalah. Bukan salah yang kepalang tanggung tetapi salah karena merasa seolah-olah ikut mengguncang kehidupan.
Apabila kebanyakan orang Dukuh Paruk mengidap perasaan demikian maka yang
terjadi pada diri Srintil beberapa kali kelipatannya. Dia, inisalnya, dengan kesadaran
penuh lebih suka bersarang di dalam gubuk kecil meskipun sebenarnya dia mampu
membangun atau membeli sebuah rumah yang layak. Sebuah kalung atau salah satu gelangnya cukup untuk membeli sebuah rumah kayu beratap genting. Namun Srintil
tidak akan melakukannya. Tatapan mata semua orang menuntut setiap manusia Dukuh
Paruk memperlihatkan penyesalan dan keprihatinan.
Dulu Sakum sering bertembang di malam hari. Kalau perut seisi rumah kenyang Sakum akan bertembang lagu-lagu dolanan yang gembira dan kadang kocak. Kalau sehari tak ketemu makanan Sakum biasa membawakan kidung yang ngelangut menusuk dasar jiwa. Kini keadaan rumah Sakum hanya bisa diperbandingkan dengan kebun tembakau
atau palawija di pelataran kali. Pada malam hari puluhan jangkrik berderik mengadu
kekuatan suara. Jangkrik yang kecil bersuara kering nyaring menyakitkan gendang telinga, yang besar bersuara berat dan lebih enak didengar. Sementara itu penghuni gubuk, Sakum anak-beranak, meringkuk berdesakan seperti anak ayam kehujanan di emper rumah.
Di gubuk lain Srintil kelihatan sudah memejamkan mata tetapi sama sekali belum
tidur. Ketika Goder sudah lelap Srintil merasa melayang-layang seorang diri dalam dunia tanpa pijakan. Besok atau lusa adalah hari-hari yang kedatangannya amat menggelisahkan. Kadang Srintil ingin kembali bisa merengek seperti bayi. Kadang ingin bisa berdendang lagu asmara seperti gadis muda. Tetapi kadang dia mendambakan menjadi bekicot yang sewaktu-waktu bisa bersembunyi dengan aman dalam rumah kapurnya yang keras. Lamban dan diam, asyik dengan dirinya sendiri, tak peduli dengan apa pun di sekitarnya karena yang terpenting adalah selamat dan tidak repot.
Burung celepuk menggeram dari pepohonan di atas makam Ki Secamenggala yang sudah lama tidak terawat. Gema suaranya membuat Srintil merasa kecil dan makin kecil. Dia meringkuk di bawah selimut kainnya. Srintil benar-benar ingin menjadi bekicot yang ingin mengundurkan diri ke dalam rumah labirin, melupakan segalanya dan tidur. Tetapi kebimbangan tak bisa diajak berdamai. Dia mengusik, terus mengusik. Srintil mengalah dan pelupuh bambu berderit ketika dia bangkit.
Ada kenangan bawah sadar yang menarik Srintil berjalan ke bilik sebelah. Membuka
pintunya perlahan-lahan kemudian Srintil melangkah masuk dan berhenti tepat di
pinggir balai-balai. Neneknya, Nyai Sakarya, sedang tidur. Kempis-kempis dan renta.
"Nek," ujar Srintil lirih sekali. Entah mengapa tiba-tiba hatinya diamuk nelangsa. Air matanya meleleh.
"Nek."
"Oh, eh siapa? Srintil, kenapa engkau, Cucuku Wong Ayu?"
"Nek."
"Ya, Cucuku. Eh, engkau menangis?"
"Nek. Aku mau tidur di sini bersama Nenek."
"Oalah. Mari, Cucuku, mari. Oalah eman, eman, Cucuku. Ada apa rupanya?"
Srintil tidak menjawab tetapi langsung merebahkan diri, melipat tubuh sekecil
mungkin dalam pelukan Nyai Sakarya yang ringkih dan apek. Ada setitik kesejukan. Srintil surut dua puluh tahun ke belakang kala dia selalu mencari perlindungan pada haribaan Nyai Sakarya bila hati sedang sedih dan nelangsa. Sesungguhnya Srintil sadar neneknya tidak mampu memberikan sesuatu untuk menyelesaikan kebimbangannya, namun belaian tangan perempuan tua itu bisa meredam kegelisahan. Nyai Sakarya sendiri tidak mendesak Srintil mengutarakan perasaannya karena pertanyaan yang berulang-ulang hanya dijawab dengan sedu-sedan. Seorang perempuan yang sudah
tujuh puluh tahun menjadi warga kehidupan; Nyai Sakarya mengerti ada keruwetan dalam hati cucunya. Dan pastilah keruwetan itu terjadi pada pusat wilayah pribadi Srintil sehingga Nyai Sakarya merasa tidak mampu berbuat sesuatu kecuali membelai rambut cucunya. Lama-lama Srintil berhenti mengisak. Beberapa kali terdengar desah panjang sebelum napas Srintil berubah lembut dan teratur. Seperti orang yang lama berjalan di bawah terik matahari lalu mencapai kerindangan sebuah pohon besar. Sejuk dan teduh-nyaman. Sejenak Srintil lepas dari kebimbangan. Berangkat tidur diantar oleh belaian nenek adalah tidur seorang cucu yang dimanjakan. Buat sementara Srintil terbebas dari kungkungan keberadaannya.
Pagi-pagi halaman dan tanah pekarangan di Dukuh Paruk berhias mosaik dedaunan yang jatuh semalam. Daun nangka luruh dengan warna kuning tua kemerahan. Tetapi daun ketapang benar-benar berwarna merah. Di bagian-bagian yang tidak terkena terik matahari lumut dan beberapa jenis rumput masih hidup memberi corak hijau lembut. Di bawah rumpun bambu berserakan daunnya yang gugur, cokelat dan kuning tua.
Keremangan pagi memberi penyinaran yang tepat sehingga mosaik alam tampak demikian hidup. Dari hamparan daun-daun gugur itu sesekali terbias kilau embun. Kadang terlihat uap tipis mengambang dari pangkal batang pisang yang sudah ditebang.
Adalah keajaiban hati yang mampu menyimpan perasaan yang berubah-ubah. Bila
malam hati Srintil masih dicekam kebimbangan maka pada pagi hari segala kegalauan rasa sudah mengendap. Barangkali Srintil tetap tidak merasa pasti apa yang harus
dilakukannya. Namun dia sudah berbuat sesuatu yang ternyata membuat Nyai Kartareja tersenyum-senyum di belakang rumah. Srintil sedang membakar ikatan gagang padi buat keramas. Namun sebelum pergi ke pancuran Srintil kelihatan berjalan menuju rumah Sakum.
Bersambung...
______________________________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar