Jumat, 05 Maret 2021

SENGSARA MEMBAWA NIKMAT BAB 14

Bab 14: Bahagia



SEBERMULA rupanya perkataan Syekh Abdullah al-Hadramut "hendak mengadukan"
Midun itu tiadalah gertaknya saja. Tiada berapa lama antaranya Midun sudah terpanggil ke muka pengadilan. Bagaimana juga Midun menerangkan bahwa uangnya tidak sebanyak itu yang tertulis di atas surat utang itu, hakim tidak dapat membenarkannya, sebab tidak ada 
saksi atau buktinya. Hakim menjatuhkan hukuman, ia mesti membayar utang yang f500,- itu, tambah ongkos-ongkos perkara kira-kira f 35,-. 

Beberapa lamanya sesudah putusan itu, Syekh Abdullah datang mendapatkan Midun. 
Ditagihnya dengan lemah lembut. Tetapi Midun, karena ia sudah tertipu itu sudah 
menetapkan niatnya tidak akan membayar utangnya itu. 

Dia tidak tahu betapa kekuatan acceptatie itu. Dia belum mendengar, bahwa orang yang berutang itu, boleh ditahan di dalam penjara. Dalam pada itu Syekh Abdullah tidak putus-putusnya membujuk Midun. 

Demi dilihatnya Midun tidak mau membayar, dan pada sangkanya Midun tidak sanggup 
membayar, ketika itulah hendak
disampaikannya cita-citanya yang selama ini dikandungnya. 

Kalau dapat Midun mengusahakan Halimah, yang disangkakan oleh Syekh Abdullah 
istri Midun menjadi istri Syekh Abdullah, maka segala uang Midun akan dilunaskannya. 

Mendengar perkataan Syekh Abdullah demikian itu, naiklah darah Midun, lalu orang Arab itu diusirnya sebagai anjing. Orang Arab itu pun pergilah dengan mengandung niat yang jahat akan melepaskan sakit hatinya. 

Tidak berapa lamanya sesudah itu, datanglah deurwaarder dengan polisi mengambil Midun, mengantarkannya ke penjara. Walaupun Midun tidak mengerti betul, apa sebabnya ia dipenjarakan, perintah itu terpaksa juga diturutnya. 

Setelah beberapa lamanya Midun dipenjarakan, datanglah pula orang Arab itu membujuknya, tetapi itu pun tidak berhasil juga. 

Sudah dua-tiga kali ia datang membujuk Midun ke penjara, dengan halus budi bahasanya, tetapi dibalas Midun dengan maki dan nista jua. Ia mau terkurung selama hidupnya, asal jangan karena dia Halimah terserah kepada orang Arab mata keranjang itu. 

Akhirnya Syekh Abdullah datang sendiri mendapatkan perempuan yang sangat 
diharapkannya itu. Setelah dibujuknya dengan lemah lembut, tetapi tiada berhasil juga, maka akhirnya digertaknya, bahwa Midun sekarang di bawah kekuasaannya dan terpenjara 
di bui Glodok. 

"Selama Midun tidak sanggup membayar utangnya kepada saya," kata orang Arab itu, 

"dia akan saya tahan juga dalam penjara itu, dan Neng boleh menantikan laki yang dirindukan itu sampai tumbuh uban di kepala Neng. Tetapi sebaliknya, jikalau Neng mau mengabulkan permintaanku itu, segera ia kukeluarkan dari bui."

Mendengar perkataan yang demikian, Halimah pun marah, dan Arab itu diusirnya. Tetapi sepeninggal orang Arab itu, sangatlah susah hatinya memikirkan Midun terpenjara itu. 

Maka dibuatnyalah mufakat dengan ayahnya akan membayar utang Midun itu. Segala 
barang perhiasannya dijualnya untuk melepaskan kekasihnya dari penjara. Maka pergilah ia ke Betawi dengan bapaknya, tetapi sebab Midun sendiri ada mempunyai uang f 500,- tidak seberapa ia menambah untuk membayar utang itu. 

Mulanya Midun tak mau sedikit juga membayar utangnya itu. Tetapi setelah dimufakati dengan panjang lebar dan setelah mendengarkan bujukan Halimah, diturutnya jugalah kehendak kekasihnya. Tetapi permintaan Halimah dan ayahnya supaya ia pergi bersama-sama ke Bogor, tidak diperkenankannya. Sebabnya ialah karena dia hendak mencari penghidupan yang lebih sempurna di Betawi. 

Selama Midun dalam penjara itu, ada seorang hukuman bekas orang yang bersekolah juga, yang mengajarkan menulis dan membaca dan menceritakan berbagai-bagai ilmu 
pengetahuan, sehingga banyaklah tokok tambahnya pengetahuan Midun selama dalam 
penjara itu. Orang itu Mas Sumarto namanya. Ketika ia akan meninggalkan bui itu, maka 
ditemuinyalah orang itu. 

Sesudah mengucapkan terima kasih atas nasihat-nasihat dan kesudian Mas Sumarto mengajarnya menulis dan membaca selama dalam bui, Midun memberi selamat tinggal kepada gurunya itu. 

Ia berjalan ke luar bui, lalu naik trem yang hendak ke Kramat. Sudah dua bulan ia di 
dalam bui, tak ada ubahnya sebagai burung di dalam sangkar. Sekarang dapat pula ia 
melepaskan pemandangannya kian kemari, melihat-lihat kota Betawi yang indah itu. 

Amat lega hati Midun masa itu, dadanya lapang, pikirannya senang. Sampai di Kramat ia pergi ke Kwitang, ke rumah tempatnya membayar makan dahulu. Induk semangnya heran melihat kedatangannya itu, karena dengan tidak berkata sepatah jua Midun pergi, sekarang tiba-tiba datang pula kembali. 

Setelah mereka itu duduk lalu diceritakan Midun nasibnya selama meninggalkan rumah itu. Mendengar ceritanya itu, mereka belas kasihan dan menasihati Midun, menyuruh ingat-ingat menjaga diri yang akan datang. 

Maka ia pun tinggal pula di sana membayar makan. Pada petang hari Midun pergi berjalan-jalan. Sampai di Pasar Senen, ia bertemu 
dengan Salekan, temannya sama-sama berkedai dahulu. 

"Ke mana engkau, Midun?" ujar Salekan. 

"Sudah lama saya tidak melihat engkau."

"Ah, saya pergi bertapa dua bulan ke Glodok," ujar Midun. 

"Bertapa bagaimana? Ceritakanlah kepada saya yang sebenar-benarnya saja, Midun."

"Baik, engkau tidak berkedai hari ini?"

"Tidak, sudah dua hari dengan sekarang. Saya hendak tempo dulu barang seminggu ini, karena ada urusan sedikit."

"Kalau begitu, marilah kita ke Pasar Baru! Saya ingin hendak makan nasi goreng, sebab sudah dua bulan tidak mengecap makanan itu. Nanti di jalan saya ceritakan pertapaan saya yang dua bulan itu kepadamu."

"Baiklah."

Sepanjang jalan diceritakanlah oleh Midun, bagaimana halnya yang dua bulan itu. Dalam mereka asyik bercerita, tiba-tiba kedengaran olehnya orang berseru, 

"Awas, serdadu mengamuk! Lekas lari!"

Midun terkejut, lalu melihat ke sana kemari. Waktu itu ia sudah sampai dekat pintu masuk ke Pasar Baru. Temannya, Salekan, baru saja mendengar suara orang menyuruh lari, ia sudah membuat langkah seribu. 

Sekonyong-konyong kelihatan oleh Midun seorang serdadu memegang sebuah pisau yang datangnya dari arah Kemayoran. Mana yang dapat, apalagi orang yang mengalangi, terus saja diamuknya. 

Serdadu itu terus juga lari mengejar seorang sinyo yang baru berumur 12 atau 13 tahun. Sinyo itu sudah payah, napasnya turun naik, agaknya sudah lama ia dikejar serdadu itu. Hampir saja ia dapat kena tikam, karena tidak jauh lagi antaranya. Midun tidak berpikir lagi, seraya berkata, 

"Jangan lari, Sinyo, berdiri saja di belakang saya!"

Baru saja sinyo itu mendengar suara Midun, ia berhenti. Memang ia hampir tak kuat lagi berlari, sebab sudah payah. Sambil terengah-engah, sinyo itu pun berkata, 

"Tolong saya, Bang, dia hendak menikam saya."

Setelah dekat, Midun melompat menangkap pisau serdadu itu. Maka kedua mereka itu 
pun berkelahi, di tengah jalan itu. Setelah pisau serdadu itu dapat oleh Midun, lalu dilempar-
kannya, seraya berkata, katanya, 

"Ambil pisau itu, Sinyo!"

Ketika pisau itu tak ada lagi, serdadu itu pun menyerang Midun dengan garangnya. Tetapi dengan mudah Midun dapat menyalahkan serangannya. 

Midun melepaskan kekuatannya pula. Tidak lama antaranya, ia pun dapat menangkap serdadu itu: Midun berkata pula, 

"Sinyo, coba ambil ikat pinggang saya pengikatnya!"

"Ini ada ikat pinggang saya, Bang," ujar sinyo sambil memberikan ikat pinggangnya. 

Sekaliannya terjadi dalam beberapa saat saja. 
Setelah serdadu itu diikat Midun, maka opas pun berlompatan akan menangkapnya. 

Ketika ia akan dibawa ke kantor Commissaris, sinyo berkata, 

"Tak usah dibawa ke sana. Ikut saya saja!"

Maka serdadu itu pun dibawa oleh sinyo itu kepada sebuah gedung yang tidak berapa 
jauhnya dari sana, diiringkan oleh orang banyak yang berkerumun sesudah si pengamuk itu tertangkap. 

Setelah sampai, sinyo terus saja masuk ke dalam. Kemudian ia ke luar bersama dengan seorang tuan.
 
Adapun tuan itu ialah Hoofdcommissaris, bapak sinyo yang ditolong Midun itu. Di muka bapak dan ibunya, diterangkanlah oleh sinyo itu bagaimana halnya dengan serdadu yang mengamuk itu. Nyonya Hoofdcommissaris menjerit mendengar cerita anaknya yang 
sangat ngeri itu. 

Tetapi ia bergirang hati, karena anaknya terlepas dari bahaya. Demikian pula Hoofdcommissaris, amat senang hatinya kepada Midun yang menolong anaknya itu. 

Hoofdcommissaris menelpon, dan tidak lama antaranya datanglah beberapa orang 
politie-opziener akan membawa serdadu yang mengamuk itu.

"Saya ucapkan banyak-banyak terima kasih karena keberanianmu menolong anak saya di dalam bahaya," ujar Hoofdcommissaris kepada Midun. 

"Terima kasih kembali, Tuan!" jawab Midun dengan hormatnya. 

"Siapa namamu?"

"Nama saya Midun."

"Negerimu di mana?"

"Negeri saya di Padang."

"Apa kerjamu di sini?"

"Tidak bekerja, Tuan!" Maka Midun pun menceritakan nasibnya kepada 
Hoofdcommissaris, sejak mulai sampai ke Betawi. Mendengar cerita Midun, tuan dan 
nyonya itu amat belas kasihan. Kemudian Hoofdcommissaris berkata pula, 

"Kamu pandai menulis?"

"Pandai, Tuan."

"Baiklah. Besok kamu datang ke kantor saya pukul 8 betul, ya!"

"Baik, Tuan."

"Sekarang kamu boleh pulang. Jangan lupa, besok mesti datang di kantor saya."

"Ya, Tuan."

Midun keluar dari gedung itu. Orang banyak yang berkerumun melihat Midun, 
mengiringkannya dari belakang. Berbagai-bagailah pertanyaan orang kepadanya. Midun 
amat malu diiringkan orang banyak, lalu ia naik bendi ke Pasar Baru. 

Sampai di situ terus masuk ke kedai orang menjual nasi goreng. Di tempat itu lain tidak yang didengar Midun, percakapan orang tentang serdadu mengamuk itu saja. Tetapi Midun berdiam diri saja; 

sesudah makan nasi goreng, ia naik bendi pulang ke Kwitang. 

Di atas bendi Midun berkata dalam hatinya, 

"Apa pulakah yang akan terjadi atas diri 
saya besok pagi? Celaka pulakah yang akan datang, sebab saya menangkap serdadu? Tak 
boleh jadi, serdadu itu tak ada yang bercela badannya oleh saya. Lagi pula mendengar 
perkataan Hoofdcommissaris, tak mungkin saya akan dihukum karena itu. Tak dapat tiada, sinyo anaknya itu tidak akan membiarkan saya, karena saya menolongnya."

Sampai di Kwitang, induk semangnya bertanya pula tentang orang mengamuk di Pasar Baru, kalau-kalau Midun mendengar kabar itu. Tetapi Midun menerangkan pura-pura tidak tahu saja, karena ia ke Meester, katanya. 

Pada keesokan harinya pagi-pagi Midun sudah bangun. Sesudah sembahyang dan minum kopi, maka ia pun berpakaian. 

Kira-kira pukul 7 Midun berangkat dari rumahnya menuju ke kantor Hoofdcommissaris. Baru saja ia sampai, datang seorang politieopziener mendekatinya. 

"Kamu yang bernama Midun?" kata politie-opziener. 

"Saya, Tuan!" ujar Midun.

Midun dibawa masuk ke dalam sebuah kamar yang terasing letaknya di kantor itu. Tiba-tiba kelihatan oleh Midun, tuan yang menyuruhnya datang kemarin itu. 

"Tabik, Midun, ada baik?" kata 
Hoofdcommissaris.

"Baik juga, Tuan," ujar.Midun dengan sopannya. 

"Kemarin kamu katakan, kamu tidak bekerja. Mau kamu bekerja di sini?"

"Kalau Tuan mau menerima saya, dengan segala suka hati saya terima."

"Baiklah. Sekarang boleh Midun mulai bekerja."

Setelah Hoofdcommissaris bercakap beberapa lamanya di telepon, Midun dibawa ke dalam sebuah kamar besar. Di situ dilihatnya amat banyak orang bekerja. 

Maka Midun pun mulailah bekerja sebagai juru tulis di kantor Hoofdcommissaris. Dengan rajin dan sungguh Midun bekerja di kantor itu. Di dalam dua bulan saja, sudah kelihatan kecakapannya bekerja. Ia selalu hati-hati dan hemat dalam pekerjaannya. 

Tidak lama Midun disuruh mengambil pekerjaan mata-mata. Sebabnya ialah karena masa itu amat banyak penggelapan candu. 

Di dalam pekerjaan itu pun Midun sangat pandai. Tidak sedikit ia dapat menangkap 
candu gelap. Pandai benar ia menjelmakan diri akan mengintip orang membawa candu gelap itu. Bermacam-macam ikhtiar dijalankannya. 

Kadang-kadang waktu kapal masuk pelabuhan, ia menjadi kuli, turut mengangkat barang dari anggar ke stasiun. Bahkan kuli-kuli itu dapat pula dipikatnya dengan menjanjikan persen, manakala dapat menunjukkan orang yang membawa candu gelap. 

Ada yang ditangkap Midun candu itu di perut perempuan orang Tionghoa yang pura-pura hamil. Padahal sebenarnya candu gelap yang dibalutnya dengan kain di perutnya itu. Ada pula yang ditangkapnya dalam perban kaki orang, yang pura-pura sakit kaki. Pendeknya, di dalam hal yang sulit-sulit, yang tak mungkin pada perasaan orang candu itu ditaruhnya di sana, dapat ditangkap Midun. 

Enam bulan Midun bekerja, nyatalah kepada orang di atas akan kecakapannya dalam 
pekerjaannya. Maka ia pun diangkat menjadi menteri polisi di Tanjung Priok. Seiring dengan keangkatannya itu, ia mendapat anugerah pula dari pemerintah beberapa ribu rupiah. Uang itu ialah persen dari candu yang sudah ditangkapnya. 

Berlinang-linang air mata Midun sebab suka, waktu menerima uang sekian itu. Tidak disangka-sangkanya ia akan mendapat uang sebanyak itu. 

Segala uang itu dimasukkannya ke bank. 
Karena suka dan girang amat sangat mendapat uang dan menerima angkatan itu, 
Midun segera menulis surat ke Bogor kepada ayah Halimah. Maka dinyatakannya hasratnya 
yang selama ini dikandungnya. Midun takut Halimah yang sangat dikasihinya itu akan dapat bencana. 

Sebab itu hendak disegerakannya supaya ia menjadi suami istri dengan gadis itu. 

Demikian bunyi surat Midun kepada Halimah: 


Weltevreden, 9 Desember 19..

Kekasihku Halimah! 

Berkat doa Adinda yang makbul jua, kakanda sekarang sudah menjadi menteri polisi di Tanjung Priok. 

Oleh sebab itu, saat inilah yang sebaik-baiknya untuk melangsungkan cita-cita kita yang selama ini. Bersamaan dengan surat ini 
ada kakanda kirim surat kepada bapak, yang isinya menyatakan hasrat kakanda itu. 

Di dalam surat itu kakanda sertakan pula uang banyaknya f 400,- untuk belanja perkawinan kita. Pada tanggal 15 Desember ini kakanda perlop, lamanya 14 hari. Waktu itulah kakanda datang kemari. 

Untuk keperluan Adinda, kakanda bawa bersama kakanda nanti. Bagaimana permufakatan bapak dan Halimah, kakanda menurut. 

Sehingga inilah dulu, nanti seminggu lagi sambungannya. 

Peluk cium kakanda, 

MIDUN 



Midun dapat perlop, lamanya 14 hari. Beserta dengan beberapa orang kawan dari Betawi, ia pun berangkatlah ke Bogor. Sampai di Bogor, didapatinya ayah Halimah sudah siap. 

Di muka rumah sudah terdiri sebuah dangau-dangau besar, dihiasi dengan bagusnya. 
Orang sedang sibuk bekerja, mengerjakan ini itu mana yang perlu. Rupanya perkawinan itu akan dilangsungkan ayah Halimah dengan peralatan yang agak besar, sebab hanyalah Halimah anaknya yang perempuan. 

Kedatangan Midun diterima ayah Halimah dengan segala suka hati. Maka Midun pun 
menceritakan halnya sejak keluar dari bui sampai menjadi menteri polisi di hadapan 
Halimah, ayahnya dan beberapa orang lain famili mereka itu. Segala yang mendengar cerita Midun itu amat bergirang hati. Lebih-lebih Halimah, karena bakal suaminya sudah menjadiambtenar pula. 

Tiga hari kemudian, perkawinan Midun dan Halimah dilangsungkan. Dua hari dua malam diadakan peralatan, sangat ramai, karena banyak sahabat kenalan ayah Halimah hadir dalam peralatan itu. Begitu pula sahabat kenalan Midun banyak datang dari Betawi. 

Dengan tidak kurang suatu apa, selesailah peralatan itu. Setelah seminggu Midun tinggal bersama mertuanya, ia pun berangkat ke Betawi. Ayah, ibu tiri, dan beberapa orang 
famili Halimah turut mengantarkannya ke Tanjung Priok.

Midun memang sudah siap dengan sebuah rumah yang sederhana, cukup dengan perkakasnya, bakal mereka itu tinggal dua laki istri. Maka tinggallah mereka suami istri di rumah itu, hidup selalu dalam berkasih-kasihan, seia sekata dan turut-menurut dalam segala hal. 

Demikianlah pergaulan mereka itu dari sehari ke sehari. Midun sudah bekerja sebagai menteri polisi. Namanya termasyhur di Tanjung Priok.

Baik kuli baik pun tidak, amat segan dan takut kepada menteri polisi Midun. Polisi orang 
Melayu atau pun Belanda segan pula kepadanya. Sebabnya ialah ketika terjadi perkelahian beberapa orang kelasi kapal yang memperebutkan perempuan durjana. Tidak ubah sebagai perang kecil waktu terjadi perjuangan itu. 

Perkelahian yang asal mulanya dua orang kelasi yang berlainan-lainan kapal tempatnya bekerja, menjadi ramai sebab mereka memper-
tahankan teman masing-masing. Polisi tak dapat lagi memisahkan, sebab sangat sibuknya. 

Segala orang yang mempunyai toko menutup tokonya karena ketakutan. Yang berkedai 
mengemasi kedainya, lalu mencari tempat persembunyian. Amat banyak orang berlarian ke sana kemari menjauhi perkelahian itu. Huru-hara, tidak berketentuan lagi. Tidak sedikit polisi baik pun kelasi yang luka. 

Jika tidak ada Midun, entah berapa agaknya bangkai terhantar, sebab mereka itu sudah memakai senjata tajam dalam perjuangan itu. 

Menteri polisi Midunlah yang terutama berusaha memadamkan perkelahian yang hebat itu. Oleh karena itu ia sangat terpuji oleh orang di atas dalam pekerjaannya. 

Belum cukup enam bulan Midun di Tanjung Priok, ia menerima surat pindah ke 
Weltevreden. Menerima surat pindah itu, Midun berduka cita. Di Tanjung Priok hampir ia tak 
dapat menidurkan badan. Ada-ada saja yang mesti diuruskannya, baik siang atau pun 
malam. Kadang-kadang lewat tengah malam orang memanggil dia, karena ada sesuatu 
yang terjadi dan perlu diselesaikan. 

Tiga hari kemudian daripada itu, Midun suami istri berangkat ke Weltevreden. Maka ia. pun bekerjalah dengan rajinnya di Weltevreden. 
Sekali peristiwa Midun dipanggil Hoofdcommissaris datang ke kantornya. Sampai di kantor, Hoofdcommissaris pun berkata, 

"Midun, sekarang kamu mesti berlayar."

"Ke mana, Tuan?" ujar Midun dengan hormatnya. 

"Kami dengar kabar ada penggelapan candu yang sangat besar. Pusat penggelapan itu di Medan, dan ada pertaliannya di Jawa ini. Sebab itu kamu mesti berangkat minggu di 
muka ini ke Medan, akan menyelidiki benar tidaknya kabar itu. Saya harap, pekerjaanmu di 
sana memberi hasil yang baik. 

Nah, selesaikanlah mana yang perlu, dan berangkatlah minggu di muka ini!"

"Baik, Tuan!" lalu Midun pulang ke rumahnya. 

Setelah perintah itu dikabarkan Midun kepada istrinya, maka ia pun berkirim surat ke Bogor menyuruh datang mentuanya ke Betawi. Masa itu mentua Midun sudah pensiun. 

Dua hari kemudian, datanglah mentuanya laki istri. Midun mengabarkan bahwa ia tiga hari lagi berangkat ke Medan. Dimintanya, selama ia di Medan, supaya mentuanya menemani 
Halimah. 

Setelah mustaid barang-barang yang perlu dibawa Midun, ia pun berangkatlah ke Medan. Waktu ia akan berangkat, tidak dibiarkannya seorang jua mengantarkannya ke kapal. Midun ke Medan menjelma sebagai seorang saudagar. Sebab itu, ia menumpang di atas geladak kapal saja. 

Sampai di Medan, dengan ditemani oleh seorang mata-mata, Midun pun bekerjalah 
menyelidiki kabar penggelapan candu yang besar itu. Ada sebulan ia menyelidiki kabar itu 
dengan rajinnya. Bermacam-macam ikhtiar dijalankan Midun. Kemudian nyatalah, bahwa 
kabar itu bohong belaka. 

Menurut pendapatnya, kabar itu hanya dibuat-buat orang saja, untuk menjalankan maksudnya di tempat lain. Dua hari lagi akan berangkat ke Betawi, Midun memakai seperti biasa. 

la pun pergilah berjalan-jalan dengan temannya itu melihat-lihat keindahan kota Medan. Setelah hari malam, terus menonton komidi gambar. Ketika akan pulang lalu diajak oleh temannya minum-minum kepada sebuah hotel.

Baru saja duduk, datang seorang jongos membawa buku tulis. 

"Minum apa, Engku?" ujar Ahmad, temannya itu. 

"Apa saja yang Engku sukai," jawab Midun. 

Ketika Ahmad menuliskan nama minuman yang akan diminta, Midun memandang 
kepada jongos yang berdiri di belakang kawannya itu. Tiba-tiba ia terperanjat, karena 
dilihatnya jongos itu serupa benar dengan adiknya Manjau. 

Hatinya tertarik, lalu diperhatikannya tingkah laku jongos hotel yang seorang itu. Midun amat heran karena jongos itu sebentar menyeringai, sebentar pula duduk, seolah-olah menahan sakit. 

Perjalanannya pun tidak sebagai biasa, melainkan agak lambat. Maka Midun berkata dalam hatinya, 

"Tidak boleh jadi Manjau akan sampai kemari. Tentu saja ia tidak diizinkan ibu dan ayah meninggalkan kampung, karena saya sudah pergi. Lagi pula tidak akan sampai hatinya 
meninggalkan orang tua, yang telah bersedih hati kehilangan anaknya yang sulung itu. Ah, 
agaknya pemandangan saya yang salah, tidak sedikit orang yang serupa di atas dunia ini

Tetapi apakah sebabnya dia selalu memandang saya? Dan apakah sebabnya jongos itu selalu menyeringai dan sebentar-sebentar duduk? Tidak lain tentu karena korban perempuan-perempuan dukana yang berkeliaran seluruh kota ini agaknya."

Di dalam Midun termenung memikirkan jongos hotel itu, tiba-tiba Ahmad kawannya itu 
berkata, katanya, 

"Mengapakah Engku termenung saja dari tadi saya lihat? Apakah yang Engku menungkan?" 

"Tidak apa-apa," ujar Midun menghilangkan pikirannya, sambil memperbaiki duduknya. 

"Pikiran saya melayang ke tanah Jawa." 

"Di sini pun tidak kurang kepelesiran seperti di tanah Jawa, bahkan lebih agaknya. 
Lihatlah ke jendela tingkat hotel ini. Di tanah Jawa tidakkan lebih, samalah dengan di sini 
agaknya." 

"Benar, sama dengan di sini. Sungguh berbahaya benar perempuan-perempuan jahat itu. Tidak sedikit orang yang telah menjadi korban penyakit itu. Di Betawi lebih-lebih lagi yang buta, buta juga, anggotanya pun banyak yang rusak. Sungguh berbahaya benar penyakit jahanam itu." 

"Sebenarnyalah perkataan Engku itu. Di sini pun begitu pula. Bahkan banyak hotel di sini dipergunakan untuk itu saja. Dipelihara di situ perempuan-perempuan dukana itu, untuk 
pemuaskan hawa nafsu orang yang baru datang atau yang ada di negeri ini. Seolah-olah sengaja rupanya orang memperkembang biak penyakit keparat itu."

"Benar, kalau begitu sama keadaannya dengan Betawi. Hal ini tidak boleh sekali-kali dibiarkan. Patut benar pemerintah berikhtiar, supaya musna kupu-kupu malam yang berkeliaran di kota-kota di tanah Hindia ini." 

Adapun jongos hotel itu terkejut pula ketika melihat muka Midun. Ia amat heran karena 
orang itu selalu memandang kepadanya. Pada pemandangannya tidak ubah sebagai 
saudaranya Midun. 

Dengan darah berdebar-debar, jongos itu berkata dalam hatinya, 

"Dari tadi saya diperhatikan orang itu. Rupanya bersamaan benar dengan saudara saya Midun. 

Nyata kepada saya, bahwa sebenarnyalah dia kakak saya. Tetapi tidak boleh ia segagah ini. 
Temannya memanggilkan dia "Engku". Tentu ia seorang berpangkat.

Mustahil, sedang menulis pun Midun tidak pandai dan tidak pula bersekolah. Lagi pula ia dihukum ke Padang, masakan orang hukuman menjadi orang berpangkat. Agaknya orang itu serupa dengan Midun. 

Menurut suratnya ke kampung dahulu, ia pergi ke tanah Jawa. Suatu hal yang tidak boleh jadi ia di sini." 

Kira-kira pukul sebelas malam, Midun membayar beli minuman. Maka ia pun 
pulanglah ke rumah tempatnya menumpang. 

Sampai di rumah hati Midun tidak senang 
sedikit jua. Jongos hotel itu tidak hendak hilang dalam pikirannya. 

Kemudian diputuskannya pikirannya hendak kembali ke hotel itu, akan menanyakan siapa dan orang mana jongos hotel itu. 

Sampai di sana, lalu dipanggilnya jongos itu. Maka ia dibawa Midun kepada suatu tempat yang terpisah. Midun berkata, katanya, 

"Saya harap kamu jangan gusar, karena 
saya hendak bertanya sedikit." 

"Baiklah, Engku," ujar jongos itu dengan hormatnya. 

"Kamu orang mana?" 

"Saya orang Minangkabau, Engku." 

"Di mana negerimu di Minangkabau?" 

"Di Bukittinggi." 

"Namamu siapa?" 

"Nama saya Manjau." 

Mendengar nama itu hati Midun hampir tidak tertahan lagi. Ketika itu sudah nyata 
kepadanya, bahwa orang yang bercakap dengan dia itu, adiknyalah. Tetapi dengan 
sekuat-kuatnya ia menahan hati, lalu meneruskan pertanyaannya, katanya, 

"Adakah engkau bersaudara?" 

"Ada, Engku." 

"Siapa namanya?" 

"Midun." 

"Manjau, adikku kiranya ini," ujar Midun sambil melompat memeluk Manjau. 

Kedua mereka itu bertangis-tangisan, karena pertemuan yang tidak disangka-sangkanya itu. Tidak lama mereka itu insaf akan diri. Midun meneruskan pertanyaannya pula, katanya, 

"Sudah lamakah engkau di sini? Ayah bunda dan adikku di mana? Diizinkan mereka itukah engkau merantau kemari? Adakah ia sehat-sehat saja sampai sekarang?" 

Manjau menceritakan dengan panjang lebar penyakit ayahnya waktu akan meninggal 
dunia dan perkara pusaka yang diambil oleh kemanakan ayahnya. 

Begitu pula perkawinan Juriah dengan Maun, pesan ayahnya waktu akan berpulang. Dengan tidak diketahuinya, air mata Midun berlinang-linang, karena amat sedih hatinya mengenangkan kematian ayahnya yang dicintainya itu. Maka ia pun berkata, 

"Ayah sudah meninggal, apa pula yang engkau 
turut kemari! Tentu ibu canggung engkau tinggalkan, suami mati, anak dua orang sudah 
hilang." 

"Saya pergi sudah seizin beliau. Akan tinggal juga saya di kampung tak ada pekerjaan saya, sebab harta kita sudah habis sama sekali. Usikan Penghulu Kepala Kacak tidak pula 
tertanggung oleh saya. Tidak ada berselang sepekan saya sudah disuruhnya pula berodi, 
jaga, ronda malam, dan lain-lain. Karena itu saya mufakat dengan Maun. la sendiri mengizinkan juga saya pergi. 

Kata Maun, "Pergilah, Manjau, mudah-mudahan engkau bertemu dengan Midun. Saya sendiri pun akan meninggalkan kampung ini pula, sebab saya tidak senang diam oleh si Kacak musuh kami dahulu. Biarkanlah ibu dan Juriah tinggal. 

Sayalah yang akan menjaga keselamatan ibu. Ke mana saya pergi, tentu beliau saya bawa."

Maka saya pun pergilah ke Bukittinggi. Mula-mula saya bekerja menjadi jongos kepada seorang Belanda. Belum lama saya bekerja, diajak oleh induk semang saya itu kemari. 

Tiga bulan saya bekerja dengan dia, induk semang saya itu pun perlop ke negeri Belanda. Saya tinggal seorang diri, lalu mencari pekerjaan lain. 

Dengan seorang kawan bernama Sabirin, orang Minangkabau juga, kami pergi meminta pekerjaan kepada sebuah onderneming yang jauhnya lebih kurang 30 pal dari sini. 

Kami dapat pekerjaan pada onderneming itu. Saya jadi juru tulis kontrak dan teman saya itu jadi mandor. Habis tahun kami dapat perlop 14 hari dan ekstra gaji 3 bulan. 

Sebab kami biasa tinggal di hutan, maka kami pergi kemari. Di sini pelesir menyenang-nyenangkan hati, akan melepaskan lelah bekerja terus setahun itu. Ke pelesiran itu rupanya menjadi sesalan kepada saya sekarang. 

Teman saya Sabirin itu meninggal dunia baru sebulan. Sebabnya ialah karena mendapat penyakit ... perempuan. 

Ia mendapat penyakit yang nomor satu. Saya untunglah dapat yang enteng. Sudah dua bulan sampai sekarang saya menanggung penyakit itu. Akan kembali ke onderneming sudah malu, dan rasanya saya tidak kuat lagi bekerja. Maka saya carilah pekerjaan yang ringan di sini, yaitu menjadi jongos hotel. Demikianlah hal saya selama Kakak tinggalkan." 

Midun mengangguk-anggukkan kepala saja mendengar cerita adiknya itu. Maka Manjau disuruhnya berhenti bekerja di hotel itu. 

Setelah itu dibawanyalah ke rumah 
tempatnya menumpang. Sampai di rumah, sesudah Midun berganti pakaian, maka ia 
menceritakan nasibnya kepada Manjau sejak meninggalkan kampung. 

Tetapi yang diceritakannya, hanyalah mana yang patut didengarkan adiknya saja. Ketika sampai kepada menceritakan halnya digoda perempuan perempuan di Betawi, di situ diperpanjang oleh Midun. 

Ditanyakannya kepada Manjau bagaimana keimanannya dalam hal itu. Begitu pula 
tentang pergaulan hidup dan caranya berteman dengan orang. 

Mendengarkan cerita Midun yang amat panjang itu, Manjau insaf benar-benar akan dirinya. la menekur dan menyesal amat sangat perbuatannya yang sudah-sudah. Lebih-lebih ketika Midun menceritakan bahaya penyakit perempuan itu, maka Manjau pucat sebagai orang ketakutan. 

Menteri polisi Midun berangkat pula kembali ke Betawi. Manjau dibawanya bersama-sama. Dengan selamat Midun sampai ke Betawi. Maka Midun menceritakan hal pertemuannya dengan adiknya itu. 

Setelah mendengar keterangan Midun, orang di rumah itu pun girang hatinya. Tiga bulan Manjau berulang ke rumah sakit, barulah sembuh benar penyakitnya. 

Tetapi setelah sembuh ia harus memakai tesmak, karena pemandangannya sudah kurang terang. Manjau tidak dibiarkan Midun bekerja, melainkan bersenang-senangkan diri saja di rumah. 

Sekali-sekali jika Midun membawa pekerjaan pulang, ditolongnya bekerja di rumah. 
Kemudian Manjau dimasukkan Midun bekerja di kantor Roofdcommissaris.




Bersambung.... 


______________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...