Jumat, 05 Maret 2021

SENGSARA MEMBAWA NIKMAT BAB 10

Bab 10: Lepas dari Hukuman




SETELAH dibacanya, surat itu dikembalikan anak itu. Maka Midun meminta terima kasih kepada anak itu, lalu berjalan pula. Ia maklum, bahwa surat itu dari Halimah. Hati Midun bertambah kabut, pikirannya makin kusut mendengar bunyi surat itu. Amat kasihan ia 
mengenangkan Halimah. Sampai di penjara, pikirannya sudah tetap akan menolong gadis 
itu sedapat-dapatnya. 

Tetapi bagaimana akan menolong, karena ia masih dalam hukuman? 
Sampai di kamarnya, Midun menghitung-hitung hari, bila ia akan dilepaskan. Dalam pada itu 
datang seorang tukang kunci memanggil, lalu ia dibawanya kepada sipir. Hati Midun mulai 
tidak senang pula, karena sudah 4 bulan ia dihukum, belum pernah dipanggil sipir. Sampai 
di kantor, sipir berkata, 

"Midun, tadi saya dapat perintah, bahwa engkau sudah bebas dari hukuman. Besok pagi engkau dapat surat dari saya, supaya perai ongkos kereta api untuk pulang ke kampungmu." 

Mendengar perkataan itu hampir tidak dapat Midun menjawab, karena sangat girang hatinya mendengar kabar itu. Ia bergirang hati bukannya karena hendak pulang ke kampung, melainkan berhubung dengan surat Halimah. 

Tetapi kegirangan hatinya itu tidak lama, karena sipir menyuruh dia pulang ke kampung. Cemas hatinya memikirkan hal itu, takut kalau-kalau dipaksa sipir mesti pulang juga. Hati Midun memang agak malas pulang, mengingat permusuhannya dengan Kacak. 

Tentu saja kalau ia pulang Kacak tidak bersenang hati, dan mencari ikhtiar supaya ia 
binasa juga. Midun berkata dengan lemah lembut sambil memohon permintaan, katanya,
 
"Jika ada kemurahan Engku kepada saya, harap Engku mengizinkan saya tinggal di sini. 
Saya tidak hendak pulang, biarlah saya mencari penghidupan di kota ini saja. Dan kalau tak ada keberatan kepada Engku, saya bermaksud hendak keluar sekarang." 

"Tidak boleh, karena orang hukuman yang sudah bebas mesti pulang kembali ke kampungnya." 

"Atas rahim dan belas kasihan Engku kepada saya, sudi apalah kiranya Engku mengabulkan permintaan saya itu. Saya takut pulang, karena saya dimusuhi orang berpangkat di negeri saya. Yang menghukum saya kemari pun, sebab orang itulah.
 Oleh sebab itu, saya berniat hendak tinggal di Padang ini saja mencari pekerjaan." 

Karena Midun meminta dengan sungguh-sungguh dan dengan suara lemah lembut, 
maka timbul juga kasihan sipir kepadanya. Ia pun berkata, katanya, 

"Sebetulnya hal ini tidak boleh. Tetapi sebab engkau sangat meminta, biarlah saya kabulkan. Jika engkau bebas sekarang, di mana engkau akan tinggal? Bukankah engkau tidak berkenalan di sini dan hari pun sudah petang pula." 

"Di rumah Pak Karto, tempat Engku menyuruh mengantarkan cucian kepada saya tiap pekan. Orang itu suka menerima saya tinggal di rumahnya. Dan ia pun mau pula menerima 
saya bekerja dengan dia."

"Baiklah, tunggu sebentar, saya buat sebuah surat kepada Penghulu Kampung Ganting. Besok pagi-pagi hendaklah engkau berikan surat saya kepadanya, supaya engkau jangan beralangan tinggal di sini." 

Midun bebas, lalu ia pergi menukar pakaian. Uangnya yang f15,- dahulu diberikan tukang kunci kembali kepadanya. Sudah itu ia pergi kepada sipir mengambil surat yang dijanjikan kepadanya itu. Kemudian ia pergi kepada Turigi akan meminta maaf dan memberi selamat tinggal. Setelah Midun dinasihati Turigi, mereka kedua bertangis-tangisan, tak ubahnya sebagai seorang bapak dengan anaknya yang bercerai takkan bertemu lagi. 

Setelah itu Midun bersalam dengan kawannya sama orang hukuman, lalu terus berjalan ke 
luar penjara. 

Midun terlepas dari neraka dunia. Ia berjalan ke Ganting akan menemui tukang menatu Pak Karto. Memang Midun sudah berjanji dengan Pak Karto, manakala lepas dari hukuman akan bekerja menjadi tukang cucinya. 

Sepanjang jalan pikiran Midun kepada Halimah saja, maka ia pun berkata dalam hatinya, 

"Bahaya apakah yang menimpa Halimah? Jika saya tidak tolong, kasihan gadis itu. 
Akan tetapi bila saya tolong, boleh jadi hidup saya celaka pula. Saya belum tahu seluk beluk 
perkaranya dan dalam bahaya apa dia sekarang. Lagi pula dia seorang gadis, saya bujang, 
bukankah ini pekerjaan sia-sia saja. 

Ya, serba salah. Tetapi lebih baik saya bertanya kepada Pak Karto, bagaimana pikirannya tentang Halimah itu. Perlukah ditolong atau tidak?"

Pikiran Midun bolak-balik saja, hingga sampai ke muka rumah Pak Karto. Didapatinya Pak Karto sedang makan, lalu Midun dipersilakan orang tua itu makan bersama-sama. Sudah makan hari baru pukul 8 malam. Mereka itu bercakap-cakap menceritakan ini dan itu. 

Setelah beberapa lamanya, Midun lalu menceritakan hal Halimah dan surat yang diterimanya itu. Mendengar cerita Midun, apalagi gadis itu berasal dari tanah Jawa, sebangsa dengan dia, Pak Karto sangat belas kasihan. Pak Karto sepakat menyuruh Midun membela Halimah, sebab gadis itu sebatang kara saja di kota Padang. 

la tidak lupa menasihati Midun, supaya pekerjaan itu dilakukan dengan diam-diam, jangan hendaknya orang tahu. Bahaya yang boleh menimpa Midun diingatkannya pula oleh Pak Karto. Midun disuruhnya hati-hati melakukan pekerjaan itu, sebab Halimah seorang gadis. 

Kira-kira pukul 10 malam, Midun berangkat dari rumah Pak Karto akan menepati apa yang dikatakan dalam surat itu. 

Karena hari baru pukul 10, pergilah ia berjalan-jalan ke kampung Jawa akan melihat keadaan kota itu pada malam hari. Setelah lewat pukul 11, Midun berjalan menuju arah ke Pondok. 

Hari gelap amat sangat, jalan sunyi pula. Karena pakaian Midun disuruh ganti oleh 
Pak Karto dengan pakaian yang segala hitam, maka ia tiada lekas bertemu oleh nenek 
suruhan Halimah yang telah menantikannya. 

Midun sangat berhati-hati dan selalu ingat 
melalui jalan itu. Tiba-tiba kedengaran olehnya orang memanggil namanya. Maka ia pun 
berhenti, lalu berjalan ke arah suara itu. 

"Engkau ini Midun?" ujar orang itu dengan suara gemetar, sebagai orang ketakutan. 

"Saya ini nenek, turutkanlah saya dari belakang."

Midun sebagai jawi ditarik talinya menurutkan nenek itu dari belakang. Entah ke mana ia dibawa nenek itu, tidaklah diketahuinya, karena hari amat gelap. Hanya yang diketahui-nya, ia dua kali menyuruki pagar dan menempuh jalan yang bersemak-semak. 

Sekonyong-konyong tertumbuk pada sebuah dinding rumah. 

"Neeeek?" bunyi suara perlahan-lahan dari jendela rumah. 

"Ada Udo Midun? Sambutlah barang-barang ini!" 

"Ada, ini dia bersama nenek," ujar nenek itu perlahanlahan. 

"Midun, tolonglah sambut Halimah dari jendela." 

Midun lalu mengambil pinggang Halimah, dipangkunya ke bawah. Sampai di bawah, 
Halimah berkata, 

"Ingat-ingat, Udo! Boleh jadi Udo dipukul orang. Bawalah saya ke mana Udo sukai, tapi jangan dapat hendaknya kita dicari orang." 

Midun yang dalam kebingung-bingungan dan tidak mengerti suatu apa perkara itu, lalu 
menjawab, 

"Ke mana Uni akan saya bawa, karena saya belum berkenalan di sini. Lain daripada ke Ganting, tak ada lagi rumah lain. Maukah Uni ke sana?" 

"Baiklah, asal saya terhindar dari rumah ini, " 

ujar Halimah dengan berbisik. 

Mereka itu berjalan perlahan-lahan, takut akan diketahui orang. Tangan Halimah dipegang oleh Midun, lalu dipimpinnya ke jalan besar. Ketika hampir sampai di jalan besar, Midun menyuruh Halimah dan nenek berundung-rundung dengan kain, supaya mukanya 
jangan dilihat orang. 

Dan Midun membenamkan kopiahnya dalam-dalam menutupi telinganya, supaya jangan nyata mukanya kelihatan. Sampai di jalan, kebetulan lalu sebuah bendi. Bendi itu ditahan oleh Midun, mereka ketiga lalu naik ke atas bendi itu. 

"Ke Alanglawas," ujar Midun kepada kusir bendi itu. 

Di atas bendi seorang pun tak ada yang berani berkata sepatah kata jua pun. Mereka itu di dalam ketakutan, takut akan dilihat orang lalu lintas di jalan. Ketika bendi itu sampai di 
Alanglawas, Midun berkata, katanya, 

"Berhenti di sini, Mamak!" 

Mereka itu pun turun dari atas bendi. Belum jauh berjalan, Halimah berkata, 

"Mengapa kita di sini turun? Tadi Udo mengatakan ke Ganting." 

"Ya, dari sini kita berjalan kaki saja. Bukankah tidak berapa jauh dari sini ke Ganting? 
Maka kita turun di sini, supaya jangan diketahui kusir bendi tadi ke mana tujuan kita.

Setelah sampai di muka rumah Pak Karto, Midun berseru perlahan-lahan menyuruh 
membukakan pintu. Baru sekali saja ia berseru, pintu sudah terbuka. Memang Pak Karto tidak tidur, karena menanti-nanti kedatangan Midun. 

Setelah naik ke rumah, barulah nyata kepada Midun wajah Halimah yang sangat pucat dan kurus itu. Midun tidak berani bertanya, karena ia tahu bahwa Halimah masih di dalam ketakutan. 

"Udo Midun!" ujar Halimah, setelah kurang takutnya. 

"Saya mengucapkan terima kasih atas pertolongan Udo kepada saya, anak dagang yang telah dirundung malang ini. Saya berharap, jika Udo ada belas kasihan kepada saya, tolonglah saya antarkan ke Betawi, kepada bapak saya di Bogor. Jika di sini juga, tak dapat tiada hidup saya celaka."

"Janganlah Uni khawatir, saya siap akan menolong Uni bilamana perlu," ujar Midun. 

"Permintaan Uni itu insya Allah akan saya kabulkan. Sungguhpun demikian, cobalah 
ceritakan hal Uni, supaya dapat kami ketahui. Lagi pula jika Uni ceritakan, dapat kami 
memikirkan jalan mana yang harus kami turut untuk menjaga keselamatan diri Uni. 
Sebabnya maka saya ingin tahu, pekerjaan saya ini sangat sia-sia, karena Uni seorang anak gadis." 

"Sebab hati saya masih di dalam gusar, tak dapat saya menceritakan hal saya ini dengan panjang lebar," ujar Halimah. 

"Oleh sebab itu Udo dan Bapak tanyakan sajalah kepada nenek ini. Nenek dapat menerangkan hal saya, sejak dari bermula sampai kepada kesudahannya." 

Pak Karto pun bertanyalah kepada nenek itu tentang hal gadis itu. Maka nenek itu 
menerangkan dengan pendek sekadar yang perlu saja, yaitu hal Halimah akan diperkosa 
oleh bapak tiri dan orang Tionghoa yang mula-mula pura-pura hendak menolong gadis itu. 
Setelah sudah nenek itu bercerita, Pak Karto berkata, 

"Midun, hal itu memang sulit. Jika kurang ingat, kita boleh pula terbawa-bawa dalam perkara ini. Bahkan boleh jadi diri kita celaka karenanya. Oleh sebab itu hendaklah kita bekerja dengan diam-diam benar, seorang pun jangan orang tahu. Biarlah sekarang juga nenek ini saya antarkan ke rumahnya." 

"Jangan, Bapak," ujar Midun, 

"kalau nenek bertemu di jalan dengan orang yang dikenalinya, tentu kurang baik jadinya. Tak dapat tiada orang akan heran melihat Bapak 
berjalan bersama-sama dengan nenek. Apalagi rumah Bapak diketahui orang di Padang 
ini. Biarlah saya saja mengantarkan nenek ke rumahnya." 

"Benar juga kata Midun itu!" ujar Pak Karto pula. 

"Pergilah engkau antarkan nenek Sekarang juga. Lekas balik!" 

Sesudah Halimah bermaaf-maafan dengan nenek itu, maka Midun pergilah mengantarkan nenek itu ke rumahnya. Di tengah jalan, Midun berkata kepada nenek itu, bahwa hal itu jangan sekali-kali dibukakan kepada seorang juga. 

Setelah sampai di muka rumah nenek itu, Midun memberikan uang f5,-kepadanya. Nenek itu pun berjanji, biar nyawanya akan melayang, tidaklah ia akan membukakan hal itu. 

Tidak lama antaranya, Midun sudah kembali dari mengantarkan nenek itu. Halimah 
disuruh mereka itu bersembunyi dalam bilik Pak Karto. Baik siang atau pun malam, Halimah mesti tinggal di dalam bilik saja untuk sementara. 

Semalam-malaman Midun dan Pak Karto mufakat tentang diri Halimah. Sudah padat 
hatinya hendak mengantarkan Halimah ke Bogor. Karena hari sudah jauh larut malam, 
mereka pergi tidur. 

Halimah tidur dengan istri Pak Karto. Midun tak dapat tidur, sebab pikirannya berkacau 
saja. Kemudian Midun berkata dalam hatinya, 

"Jika saya pulang, tentu hidup saya makin 
berbahaya lagi. Sekarang telah ada jalan bagi saya akan menghindarkan kampung. Bahkan 
saya pergi ini, akan menolong seorang anak gadis. Apa boleh buat, biarlah, besok saya tulis surat kepada ayah di kampung."

Pagi-pagi benar Midun sudah bangun, lalu pergi mandi. Sudah mandi ia menulis surat 
ke kampung, ditulisnya dengan huruf Arab, demikian bunyinya, 


Padang, 12 Januari 19.. 

Ayah bundaku yang mulia, ampunilah kiranya anakanda! 

Sekarang anakanda sudah bebas dari hukuman dengan selamat. Menurut hemat 
anakanda, jika anakanda pulang, tak dapat tiada akan binasa juga oleh musuh anakanda yang bekerja dengan diam-diam itu. 

Sebab itu agar terhindar daripada 
malapetaka itu, Ayah bunda izinkan apakah kiranya anakanda membawa untung nasib anakanda barang ke mana. Nanti manakala hati musuh anakanda itu sudah lega dan dendamnya sudah agak dingin, tentu dengan segera jua anakanda pulang. Bukankah setinggi-tinggi terbang bangau, surutnya ke 
kubangan juga, Ayah! 

Ayah bunda yang tercinta! Nyawa di dalam tangan Allah, tidak tentu besok atau lusa diambil oleh yang punya. 

Karena itu anakanda berharap dengan 
sepenuh-penuh pengharapan, sudilah kiranya Ayah bunda merelakan jerih lelah Ayah bunda kepada anakanda sejak anakanda dilahirkan. 

Baikpun segala kesalahan anakanda, yang bakal memberati anakanda di akhirat nanti, Ayah bunda maafkan pula hendaknya. 

Sekianlah isi surat ini, dan dengan surat ini pula anakanda mengucapkan selamat tinggal kepada Ayah bunda, karena anakanda akan berlayar ke tanah Jawa. 

Kepada Bapak Haji Abbas dan Bapak Pendekar Sutan tolong Ayahanda sampaikan sembah sujud anakanda. Dan wassalam anakanda kepada Maun, sahabat anakanda yang tercinta itu. 

Jangan hendaknya Ayah bunda perubahkan Maun dengan anakanda, karena dialah yang akan menggantikan anakanda selama anakanda jauh dari negeri tumpah darah 
anakanda. 

Peluk cium anakanda kepada adik-adik! 

Sembah sujud anakanda, 

MIDUN 



Setelah sudah surat itu dibuatnya, lalu ia minta tolong kepada Halimah membuatkan 
alamatnya. Sudah memasukkan surat, pergilah Midun mengantarkan surat yang diberikan 
sipir itu untuk Penghulu Kampung Ganting. 

Setelah Penghulu Kampung itu membaca surat sipir, di ceritakannyalah Midun sebagai anak buahnya di kampung itu. Midun bekerjalah sebagai tukang cuci Pak Karto. 

Pada malam hari, Midun berkata, katanya, 

"Pak Karto, bagaimana akal saya akan 
mengantarkan Halimah ke negerinya? Jika ditahan lama-lama di sini, tentu diketahui orang juga."

"Benar katamu itu, sehari ini sudah saya pikirkan benar-benar hal ini;" ujar Pak Karto. 

"Midun dan Halimah mesti ada surat pas. Kalau tidak, tentu ia tidak dapat berlayar ke Jawa." 

Mendengar perkataan Pak Karto demikian itu, Midun terperanjat amat sangat. Dalam 
pikirannya tak ada terbayang-bayang perkara surat pas itu. Maka ia pun berkata, 

"Jika tidak memakai surat pas, tidakkah boleh berlayar, Bapak?" 

"Tidak boleh! Jika berlayar juga, ditangkap polisi." Midun termenung, pikirannya 
berkacau memikirkan hal itu. 

Tentu saja tidak dapat meminta surat pas untuk Halimah, jika dimintakan surat pasnya, tak dapat tiada halnya diketahui orang. Padahal ia sengaja menyembunyikan gadis itu. Darah Midun tidak senang, takut dan khawatir silih berganti dalam hatinya. Dalam pada ia termenung-menung itu, Pak Karto berkata pula, katanya, 

"Jangan engkau susahkan hal itu, Midun. Sayalah yang akan berikhtiar mencarikan surat 
pas untuk engkau dan Halimah. Engkau tidak sebangsa dengannya, mau menentang bahaya untuk menolong Halimah. Apalagi saya sebangsa dengan gadis itu. Tentu saja sedapat-dapatnya akan saya tolong pula mengusahakan surat pas itu. 


Sabarlah engkau dalam tiga empat hari ini. Barangkali saya dapat mengusahakannya. Banyak orang yang akan menolong saya di sini, sebab saya banyak berkenalan. Penghulu Kampung di sini pun berkenalan baik dengan saya. Sebab itu biarlah saya pikirkan dahulu, bagaimana jalan yang baik mencari surat pas. Seboleh-bolehnya nama Halimah jangan tersebut-sebut." 

"Terima kasih, Bapak!" jawab Midun. 

"Bagi saya, gelap perkara surat pas itu. Sebab 
itu saya harap Bapaklah yang akan menolong perkara itu." 

Sepekan kemudian daripada itu, pada malam hari Pak Karto pulang dari berjalan. Sampai di rumah, ia pun berkata kepada Midun, katanya, 

"Ini surat pas dua buah sudah dapat saya ikhtiarkan. Besok pergilah Midun tanyakan ke kantor K.P.M., bila kapal berangkat ke Betawi." 

Midun dan Halimah sangat berbesar hati mendapat surat pas itu. Mereka kedua minta 
terima kasih akan pertolongan Pak Karto. Midun lalu bertanya, katanya, 

"Bagaimana Bapak dapat memperoleh surat pas ini?" 

"Hal itu tak usah Midun tanyakan, karena kedua surat pas ini dengan jalan rahasia makanya saya peroleh. Asal kamu kedua terlepas, sudahlah." 

Midun tidak berani bertanya lagi. Dalam hatinya ia meminta syukur kepada Tuhan, 
karena kedua surat pas itu dengan mudah dapat diikhtiarkan oleh Pak Karto. 

Keesokan harinya Midun pergi menanyakan bila kapal berangkat ke Betawi. Ketika ia akan pergi, Halimah memberikan sehelai uang kertas f 50,-, lalu berkata, 

"Bawalah uang ini, Udo! Siapa tahu barangkali ada kapal yang akan berangkat ke Betawi. Jika ada, belilah tiket kapal sekali." 

Sambil menerima uang itu, Midun berkata, 

"Maklumlah Uni, saya baru lepas dari hukuman. Sebab itu uang ini saya terima saja." Halimah tersenyum sambil memalingkan mukanya. 

Midunpun pergi menanyakan kapal. Setelah ditanyakannya, kebetulan besoknya ada kapal yang akan berangkat ke Betawi. Dengan segera Midun membeIi dua buah tiket kapal, lalu pulang ke Ganting. 

Pada keesokan harinya Midun dan Halimah bermaaf-maafan dengan Pak Karto laki istri. Setelah itu mereka berangkat ke Teluk Bayur. 

Dengan tiada kurang suatu apa, mereka itu selamat naik kapal. Tidak lama menanti, kapal pun bertolak meninggalkan pelabuhan Teluk Bayur. Penumpang di kapal itu menyangka Midun dan Halimah dua laki istri. Sebab itu seorang pun tak ada yang menghiraukannya.





Bersambung....


______________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...