Senin, 08 Maret 2021

NEGERI 5 MENARA BAGIAN 10

"SAHIBUL MENARA"



Seperti kata orang bijak, penderitaan bersamalah yang menjadi semen dari pertemanan yang lekat. Sejak menjadi jasus keamanan pusat, aku, Raja, Said, Dulmajid, Atang, dan Baso lebih sering berkumpul dan belajar bersama. Kalau lelah belajar, kami membahas kemungkinan untuk bebas dari jerat pengawasan keamanan. 

Waktu berkumpul yang paling enak itu adalah menjelang shalat Maghrib dan malam sebelum tidur. Awalnya kami suka berkumpul di lorong di depan kamar, yang sebetulnya disediakan sebagai tempat belajar. Tapi ini koridor milik 
bersama. Setiap orang bisa lewat dan berkumpul sesukanya. Kami merasa perlu mencari tempat sendiri. 

Baso adalah anak paling paling rajin di antara kami dan paling bersegera kalau disuruh ke masjid. Sejak mendeklarasikan niat untuk menghapal lebih dari enam ribu ayat Al-Quran di luar kepala, dia begitu disiplin menyediakan 
waktu untuk membaca buku favoritnya: Al-Quran butut yang dibawa dari kampung sendiri. Dia memberi usul. 

“Supaya aman dan tenang, bagaimana kalau kita berkumpul di masjid saja.” 

Kami berpandang-pandangan. Memang enak di masjid, tapi pasti sudah penuh dan berisik. Kami pelan-pelan menggeleng. Baso tidak menyerah. “Kalau di tangganya saja?” 

Kami menggeleng lagi. Sama saja, walau tangganya luas, tapi terlalu banyak orang. 
Setelah termenung beberapa lama, Said berteriak. “Aku tahu di mana kita bisa berkumpul tanpa diganggu dan tempatnya di dekat masjid. Yuk!” kata dia langsung jalan 
cepat dan memaksa kami ikut. 

Demi menghormati sang ketua kelas dan ketua kamar yang paling berumur, kami terpaksa mengekor langkahnya. Menuju masjid lurus, tapi kemudian berbelok ke sebelah kanan 
menyamping dari masjid. Kami sampai di menara masjid yang tinggi menjulang. Kami tidak tahu, jika di dasar menara ada taman kecil berupa gerumbulan tanaman perdu dan rumput. Di baliknya tampak pelataran menara dengan tangga semen berundak-undak melingkari dasar menara. 

“Kemarin waktu dihukum membersihkan masjid, aku kebagian membersihkan menara. Ternyata dasar menara ini tempat yang enak untuk istirahat,” kata Said memperlihatkan 
temuannya. 

Tepat di samping kanan Masjid Jami, menjulang menara yang diilhami arsitektur gaya turki yang kokoh, efisien, dan tanpa melupakan keindahan. Menara dipucuki oleh sebuah kubah metal yang mengkilat dan lancip ujungnya. Di leher kubah ini menyembul empat corong pengeras suara yang selalu setia
mengabarkan panggilan shalat sampai berkilo-kilo meter jauhnya. Kami sepakat, kaki menara ini tempat yang sangat cocok untuk berkumpul. Pertama, dekat dengan masjid, kapan lonceng shalat berbunyi, kami tinggal berjalan sedikit langsung sampai di masjid. Kedua, relatif tidak terpantau para petugas 
keamanan yang terlalu sibuk menyatroni asrama demi asrama. Semen berundak ini cukup tersembunyi karena ditutupi taman, 
sementara kami bisa memantau keadaan PM melalui sela-sela dedaunan. Ketiga, tempat ini teduh, dan memungkinkan kami berlama-lama, untuk belajar, ngobrol, bahkan tidur-tiduran 
sambil lurus menatap langit ditemani ujung menara yang lancip mengkilat. 

Di bawah bayangan menara ini kami lewatkan waktu untuk bercerita tentang impian-impian kami, membahas pelajaran tadi siang, ditemani kacang sukro. Bagaikan menara, cita-cita kami tinggi menjulang. Kami ingin sampai di puncak-puncak mimpi kelak. 

Di bawah menara, kami merencanakan amal kebaikan, mempertengkarkan karya Rumi, menyetujui “makar”, mempersalahkan para kakak keamanan, mendiskusikan bagaimana bentuk Trafalgar Square, mencoba memahami 
petuah Plato sampai mengagumi kisah Tariq bin Ziyad. Tidak ketinggalan, ini tempat yang pas mendengarkan kalam Ilahi yang dibaca sangat indah oleh para qari, pembaca Al-Quran, pilihan PM. Ayat-ayat ilahiah ini terbang jauh ke seluruh penjuru PM melalui corong besar di puncak menara. Bulu tangan dan kudukku berdiri setiap mendengarnya. Hatiku 
lintuh. 

Saking seringnya kami berkumpul di kaki menara, kawan-kawan lain menggelari kami dengan Sahibul Menara, orang yang punya menara. Dalam bahasa Arab, kata sahibul kerap digunakan untuk menyatakan kepunyaan, misalnya sahibul bait, tuan rumah, atau seperti diriku sering dipanggil sahibul 
minzdhar, karena memakai kacamata. 

Kami senang saja menerima julukan itu. Bahkan Said kemudian punya ide untuk membuat kata sandi untuk setiap orang. Said kami sebut Menara 1, Raja Menara 2, aku Menara 3. Atang Menara 4. Dulmajid Menara 5 dan Baso Menara 6. Aku sendiri sejak kecil sudah takjub dengan menara dan soka 
menaikinya karena terobsesi merasakan bagaimana rasanya menjadi orang yang tinggi. Menara pertama kukenal adalah menara semen milik masjid di kampungku. Puncaknya yang tiang untuk menumpangkan corong TOA, bagian bawahnya untuk rumah beduk kulit kerbau. Walau sudah dilarang dan dikejar-kejar gharin—-penjaga masjid—kami para anak-anak 
kampung selalu berhasil mengelabuinya untuk diam-diam naik tangga melingkar ke puncak menara. Begitu di puncak yang berangin-angin, kami merasa telah menaklukkan dunia. Kami 
berteriak-teriak ke semua orang yang kebetulan lewat di bawah sana. Lalu terpingkal-pingkal melihat orang terlongo-
longong bingung mendengar teriakan, tapi tidak tahu dari mana arahnya. Kami juga suka meludah ke kolam ikan mujair di bawah sana dan tertawa-tawa melihat mujair-mujair berserabutan menyambar ludah yang dikira makanan kiriman dari langit. Sering pula kami mengikatkan sarung di leher dan merentangkan tangan ke depan lurus-lurus. Sarung yang berkepak-kepak ditiup angin. membuat kami merasa menjadi Superman. 

Menara kedua yang aku kagumi adalah jam Gadang yang berdiri di jantung kota Bukittinggi. Sebuah menara jam besar 
dengan puncak berbentuk atap bagonjong-atap tradisional Minang yang berbentuk tanduk kerbau. Waktu libur akhir tahun kelas dua SD, Ayah mengajakku ke ibukota kabupaten 
Agam ini untuk membeli buku pelajaran di Pasat Ateh. Karena nilai rapor SD-ku bagus, Ayah memberi aku bonus istimewa, naik ke puncak Jam Gadang yang tingginya hampir 30 meter. Dari puncaknya aku bisa melihat jauh-jauh sampai ke pinggir Kota Bukittinggi dan merasakan kemegahan Gunung Merapi dan Gunung Singgalang. Aku juga bisa melihat mesin jam yang sebesar lemari baju, terdiri dari roda-roda kuning tembaga, rantai dan panel besi. Menurut penjaganya, mesin ini dibuat di Jerman dan hadiah dari Ratu Belanda kepada pemerintah kolonial pada tahun 1926. 

Sepulang dari Jam Gadang, aku tidak henti-henti bercerita ke teman-temanku tentang kehebatan menara jam yang menurutku waktu itu sungguh raksasa, termasuk “salah tulis” 
angka penunjuk jamnya. Angka empat romawinya tertulis IIII, padahal biasanya IV. 

Berkumpul di menara PM adalah lanjutan ketakjubanku kepada menara. Sayang, menara PM sama sekali tidak bisa kami naiki. Sebuah gembok berkarat sebesar telapak tangan 
memalang pintunya. Konon, kuncinya hanya dipegang oleh seorang guru bernama Ustad Torik.




Bersambung... 

______________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...