Rabu, 24 Maret 2021

LINTANG KEMUKUS DINI HARI BAB 09

Bagian keempat 03




Pada tahun 1964 itu Dukuh Paruk tetap cabul, sakit, dan bodoh. Perubahan kecil hanya menyangkut Srintil, Sakarya, dan Kartareja. Rumah mereka berkapur bahkan berjendela kaca. Kartareja bisa mempunyai lampu pompa. Demikian juga Sakarya. Selebihnya adalah Dukuh Paruk yang sudah dikenal orang dari generasi ke generasi. Bahkan pada tahun-tahun itu Dukuh Paruk semakin kusam. Pedukuhan yang kecil itu mustahil menghindar dari keruntuhan sistem ekonomi yang sudah lama menggejala secara umum di seluruh negeri.

Atau bila Dukuh Paruk tidak mampu mengerti tentang keadaan ekonomi nasional maka setidaknya dia merasa bahwa alamlah yang menguji mereka. Pelepah pisang dan nyiur runduk, dedaunan luruh dan rumpun-rumpun bambu meranggas. Sawah amat luas yang mengelilingi Dukuh Paruk kering dan gersang. 
Semuanya terjadi karena kemarau yang menjerang lama melebihi biasanya. Sekali turun hujan maka sawah menghijau oleh tanaman padi. Orang Dukuh Paruk ikut berharap dapat panen, buruh menuai padi. 
Tetapi berbagai hama datang lebih dulu. Tikus atau walang sangit. Bahkan celeng yang entah datang dari mana ikut merusak harapan orang-orang Dukuh Paruk.

Hanya karena pedukuhan itu bernama Dukuh Paruk maka penghuninya mampu memperlambat datangnya busung lapar. Orang-orang di sana pintar mengolah iles-iles, ubi gadung, atau keladi-keladi gatal seperti 
senthe urang dan lompong bandung,. Bahan-bahan itu diolah dengan cara-cara khusus sehingga mereka tidak mabuk oleh racun iles-iles atau ubi gadung. Lidah mereka tidak menjadi kelu oleh gatalnya keladi-keladi liar. Anehnya orang-orang Dukuh Paruk enggan ikut mengganyang daging tikus. Padahal pada 
masa itu soal makan daging tikus ramai dipropagandakan orang. Tidak jarang para penganjur berdemonstrasi memakan sate daging tikus di tengah rapat-rapat umum.

Ketika kesulitan pangan menimpa kebanyakan orang maka pentas ronggeng jarang terdengar. Bagaimana juga orang mengutamakan nasi daripada ronggeng dan calung. Kadang Srintil tetap tinggal di rumah hingga berbulan lamanya, menunggu masa panen yang baik tiba. Menunggu saat orang yang hendak 
mengawinkan atau menyunatkan anak memiliki cukup uang buat biaya berhajat. Pada saat seperti itu Srintil harus melewati masa yang membosankan.

Tetapi pada tahun 1964 itu, ketika paceklik merajalela di mana-mana, ronggeng Dukuh Paruk malah sering naik pentas. Bukan di tempat-tempat orang berhajat melainkan di tengah rapat umum baik siang atau malam hari. Karena sering berada di tengah rapat itu maka rombongan ronggeng Dukuh Paruk mengenal Pak Bakar; orang yang selalu berpidato berapi-api. Pak Bakar dari Dawuan yang amat pandai berbicara, sudah beruban tetapi semangatnya luar biasa.

Di mata Srintil, Bakar adalah seorang ayah yang sangat layak. Ramah, dan kelihatannya paham akan banyak hal termasuk perasaan pribadi Srintil. Kebapakannya tidak hanya dibuktikan dengan bayaran tinggi yang selalu diberikannya kepada Srintil tetapi juga dengan sikapnya yang dingin terhadap tujuan-tujuan 
erotik. Bakar juga memberikan hadiah kepada Srintil beserta rombongannya berupa seperangkat alat pengeras suara; perkakas elektronik pertama yang masuk dan sangat dibanggakan oleh orang Dukuh Paruk.

Dukuh Paruk yang bersahaja serta-merta menerima Bakar sebagai orang bijak yang bisa memimpin dan melindunginya. Bila datang ke sana ahli pidato itu mendapat penghormatan sebagai seorang kamitua laiknya. Kata-katanya dituruti, pengaturannya dijalankan. Satu-satunya jalan yang menjadi pintu masuk 
ke Dukuh Paruk kini berhias lambang partai. Orang-orang merasa bangga karena itulah pengaturan Bakar. Di depan rumah Kartareja juga dipasang sebuah papan. Tak ada orang Dukuh Paruk yang bisa membaca tulisan dalam papan itu. Namun setidaknya mereka tahu tulisan di sana bersangkutan dengan kesenian ronggeng. Kartareja sebagai ketua rombongan ronggeng Dukuh Paruk harus memasang papan itu di depan rumahnya. Itu pun pengaturan Bakar. Semua patuh, kecuali Sakarya.

Dan suatu ketika Sakarya mempertanyakan hal itu kepada Kartareja.

"Sampean masih ingat ketika kita pentas pada malam Agustusan setahun yang lalu?"

"Ya, tentu. Mengapa"

"Waktu itu kita disebut sebagai kelompok seniman rakyat. Padahal kita tidak pernah mengumumkan nama apa pun. Kemudian ada satu kejadian, aku dilarang membakar kemenyan dan memasang sesaji. Yang 
menyebut kita seniman rakyat dan melarangku memasang sesaji dialah orangnya. Pak Bakar. Saya tahu pasti. Kini orang itu malah sering datang kemari. Bagaimana, ya?"

"Menurut sampean bagaimana, Kang?"

"Itulah. Yang jelas hal semacam ini baru sekarang kita alami. Sejak dulu ronggeng ya ronggeng. Tidak harus pakai nama atau papan nama. Dukuh Paruk sejak dulu ya Dukuh Paruk. Tanpa gambar partai di mulut jalan itu pun pedukuhan kita ini bernama Dukuh Paruk. Nah, Kartareja. Bagaimana ini?" Kartareja diam.

"Dan ini," sambung Sakarya. "Bagaimana kalau kita selalu dilarang memasang sesaji! Ini pelanggaran adat yang bukan main. Kartareja, aku amat takut menerima akibatnya."

Kartareja masih diam. Tetapi dia mempunyai perasaan yang sama dengan kakek Srintil itu.

"Aku mengerti, Kang. Sayang, semuanya ini kok ya menyangkut Pak Bakar. Dia telah berbuat baik terhadap kita. Kita terlanjur menerima kebaikan-kebaikannya. Atau, mungkinkah kita memutuskan hubungan dengan dia. Bila demikian, Kakang tahu caranya?"

Giliran Sakarya yang diam. Kedua-duanya diam. Memutuskan hubungan adalah perkara yang hampir tak dikenal di Dukuh Paruk. Kalaupun harus terjadi maka harus ada alasannya yang nyata, pertengkaran misalnya. Sedangkan Bakar tidak membawa pertengkaran. Dia hanya mencegah Sakarya membakar dupa dan memasang sesaji sesaat pentas ronggeng hendak mulai. Dan itu pun selalu terjadi di luar Dukuh Paruk. Sebaliknya, Bakar datang ke pedukuhan itu membawa sikap kebapakan, memberikan perangkat 
pengeras suara, bahkan yang terakhir Bakar memberi pakaian lengkap bagi para penabuh calung. Srintil mendapat kain dan perlengkapan lainnya. Sampurnya kain pelangi berwarna merah jingga.

"Ah, begini saja, Kang," kata Kartareja.

"Bagaimana?"

"Perkara papan nama dan gambar-gambar itu tak usah kita pikirkan benar. Karena aku melihat di mana-mana di luar Dukuh Paruk sama keadaannya. Kukira kini sedang zamannya. Kalau zaman sedang 
menghendaki demikian, bukankah kita tinggal patuh?"

"Memang, siapa pula yang bisa menampik kersaning zaman. Tetapi perkara sesaji menyangkut semua orang Dukuh Paruk dan leluhurnya, Ki Secamenggala. Zaman apa pun tidak boleh mengubah tata cara ini. Aku bilang tidak boleh!"

"Itu pun ada pemecahannya, Kang. Begini. Kalau kita hendak berangkat pentas, sesaji kita laksanakan dulu di sini. Atau bahkan di makam Eyang Secamenggala. Kukira ini sama saja."

Sesungguhnya Sakarya tidak puas dengan jawaban Kartareja. Menjadi pemangku trah Dukuh Paruk baginya bukanlah perkara gampangan. Dan nuraninya tetap, tidak rela bila Dukuh Paruk berubah. Dia tetap ingin 
melihat Dukuh Paruk seperti aslinya. Terutama tentang sikap seluruh warganya terhadap arwah moyang mereka, Eyang Secamenggala. Namun Sakarya merasa telah terlampau tua buat berpikir yang berat-berat. Dia sadar betul dirinya sudah mencapai usia di mana banyak keinginan harus tetap tinggal menjadi keinginan. Tiada tenaga lagi buat melaksanakannya menjadi kenyataan. Akhirnya dia menerima kata-kata Kartareja.

Atau karena ternyata kemudian Bakar memang berhenti pada titik yang bersahaja. Di luar Dukuh Paruk, Bakar berpropaganda macam-macam, yang pasti sulit dimengerti oleh orang Dukuh Paruk. Misalnya tentang perjuangan kaum tertindas untuk mendapatkan kembali hak-haknya. Perjuangan dan hak adalah hal yang boleh seribu kali diterangkan di Dukuh Paruk, dan orang di sana akan tetap bingung 
memikirkannya. Dukuh Paruk yang percaya bahwa hidup ini mestilah demikian adanya dan merupakan sebuah pakem yang sudah kering tinta, maka tak perlu ada perjuangan. Dan hak hanya kelihatan samar di bawah sikap yang nrimo pandum.

Tidak. Bakar tidak bicara macam-macam di Dukuh Paruk. Dia hanya ingin Srintil dan rombongannya menjadi alat penarik massa, sekaligus mendaulatnya. Tujuan itu sudah berhasil dicapai dengan modal tak seberapa: pengeras suara, pakaian-pakaian, serta sikap kebapakan. Juga slogan-slogan yang telah diubah menjadi syair untuk mengganti lirik tembang tradisional.

Jadilah rombongan ronggeng Dukuh Paruk bagian yang pasti rapat-rapat propaganda yang diselengarakan oleh Bakar beserta orang-orangnya. Rapat selalu berlangsung hingar-bingar. Pengunjung bukan main banyak. Mereka datang demi Bakar atau demi Srintil. Yang demikian ini tidak penting bagi Bakar. 
Pokoknya massa yang amat banyak telah berkumpul dan dia berkesempatan mengolah emosi mereka. Hanya emosi, karena seorang dengan kepala penuh teori seperti Bakar pasti tahu bahwa lebih dari itu, tentang kesadaran ideologi misalnya, sulit dimengerti oleh orang-orang dusun. Orang-orang bersahaja itu 
kebanyakan tidak memiliki sarana batin buat memahami konsep ideologi apa pun.

Kalaulah mau dibuat catatan tentang ideologi dasar orang-orang dusun maka di sana ada keyakinan mesianistik. Bahwa mereka dalam penantian akan datangnya Ratu Adil. Dari sisi inilah Bakar paling sering muncul. Secara tidak langsung kelompoknya ingin diakui sebagai pengejawantahan Ratu Adil yang akan 
memberi keadilan, misalnya dengan janji pembagian tanah yang sama rata sama rasa. Catatan membuktikan bahwa dengan cara ini Bakar berhasil. 

Adalah Srintil yang tidak tahu apakah dalam hidup ini diperlukan rapat-rapat, pidato, dan pawai-pawai. Atau segala kegiatan hura-hura, itu. Dan Srintil yang tidak mengerti tujuan rapat-rapat yang belakangan selalu diikutinya dan dia mengisi acara kesenian. Srintil yang menjadi unsur paling penting bagi Dukuh 
Paruk adalah anak kandung keluguan alam dan kehidupan. Dia yang hidup atas dasar kepercayaan menjalani alur cetak biru yang sudah ditentukan baginya, cetak biru seorang ronggeng.

Alur itu sudah ditempuhnya dengan kerelaan sempurna. Menjadi ronggeng yang diterimanya sebagai tugas hidup, ialah menjadi pemangku naluri primitif, nalun berahi yang membebaskan diri dari norma dan etika yang menyusul kemudian. Itulah dunianya, kesadarannya. Dalam kesadaran itu Srintil merasa pasti ada sesuatu yang hilang ketika dia berpentas pada rapat-rapat propaganda itu. Srintil takkan pernah mampu berkata demikian. Namun nalurinya secara pasti merasakan adanya pendangkalan makna keberadaannya. 
Ronggeng adalah keperempuanan yang menari, menyanyi, serta kerelaan melayani kelelakian. Dia pastilah bersifat mandiri dan mendasar. Tetapi selama mengikuti Bakar, untuk apa dan siapa dia meronggeng 
sungguh menjadi pertanyaan yang sulit dijawabnya.

Meski dalam wawasan yang sederhana Srintil merasa pentas ronggeng dalam rapat-rapat itu sekedar pelengkap. Memang meriah, tetapi lain. Gempita tetapi kering makna. Apalagi dengan lirik tembang yang sudah banyak diubah. Penonton selalu dalam keberingasan yang tidak bisa dimengerti dan karenanya 
Srintil kadang merasa ngeri. Bahkan Sakum yang buta dua belah mata ikut mewarnai perubahan yang dirasakan Srintil. Penabuh calung itu kehilangan dirinya; kekocakan spontan yang selalu tepat ketika ronggeng menggoyang pinggulnya. Sakum, dengan kepekaan dan kehalusan perasaannya mampu 
menangkap keringnya pentas ronggeng yang digelar bersama rapat-rapat propaganda itu.

Acap kali Srintil merenung mengapa segala perasaan itu baru datang setelah kebaikan-kebaikan Bakar bertumpuk menjadi utang budi yang sulit dihindari. Pernah sekali dicobanya menolak naik panggung yang 
diselenggarakan oleh Bakar. Tetapi ketika utusan Bakar datang menjemputnya mulut Srintil terkunci. Kata tidak yang sudah lama dipersiapkannya tidak kunjung terucap. Akhirnya pada tahun 1964 menjelang tahun
berikutnya Dukuh Paruk dan ronggengnya berbaur dalam satu pengertian dengan kelompok Bakar. Srintil mendapat julukan baru yang cepat menjadi tenar: Ronggeng Rakyat. Sebutan ronggeng Dukuh Paruk kian tersingkir.

Tetapi makin jarang terdengar nama Dukuh Paruk, Srintil makin merindukannya. Dukuh Paruk yang meskipun tanpa pengeras suara atau lambang-lambang partai dan tetap melarat dan cabul, tetapi lugu dan sejati. Lirik tembangnya tidak usah diganti dengan slogan-slogan. Tak perlu hingar-bingar dan hura-hura rapat. Kerinduan Srintil akan dunianya memuncak setelah mendapat pengalaman baru bersama Bakar; pengalaman baru yang menggoncangkan jiwanya. Suatu ketika sehabis rapat di mana Srintil mengisi acara kesenian, ratusan penonton mabuk. Mereka kesurupan, kemudian mereka beramai-ramai merojeng padi. Mereka membabat padi menguning di sawah-sawah entah milik siapa. Malam yang amat rusuh karena kemudian datang para pemilik sawah untuk mempertahankan padi mereka. Polisi datang tetapi tujuh orang terlanjur tercampak berlumur darah.

Kegaduhan pertama disusul oleh yang kedua, sebulan kemudian, dan yang ketiga pada bulan berikutnya lagi. Dalam kerusuhan yang terakhir keadaannya demikian genting karena terjadi siang hari dan melibatkan ratusan orang dari pihak perojeng dan para pemilik sawah. Perang pacul dan sabit hanya gagal karena polisi tidak terlambat datang. Namun kengerian yang terjadi membuat Srintil mengambil kata putus. Sakarya mendukungnya. Cucu dan kakek itu mendatangi rumah Bakar di Dawuan dengan keluhan yang telah meningkat menjadi tuntutan.

"Pak Bakar," kata Sakarya penuh kekesalan. 

"Kami orang-orang Dukuh Paruk tidak ingin dilibatkan dengan kerusuhan-kerusuhan itu. Bila demikian terus keadaannya samalah artinya sampean menjerumuskan kami. Orang Dukuh Paruk tidak menyukai kekerasan. Pak Bakar, buat selanjutnya kami tak mau ikut rapat-rapat itu."

"Ya, Pak," sela Srintil. "Akhirnya orang pasti menghubungkan kami dengan kerusuhan di sawah-sawah itu."

"Ah, kalian orang-orang Dukuh Paruk," kata Bakar masih dengan sikap kebapakannya. "Kalian tak perlu terpengaruh oleh perasaan cengeng semacam itu. Yang sedang terjadi adalah sebuah aksi massa, sebuah gerakan kaum miskin yang sekian lama mengalami ketidakadilan. Mereka berkeringat mengerjakan sawah para pemilik tanah. Tetapi mereka tak pernah ikut memetik hasilnya kecuali sekedar untuk hidup, bahkan kurang dan itu. Kini saatnya mereka menuntut hak."

"Dengan cara kekerasan semacam itu?"

"Dengan cara apa pun."

"Jadi sampean menyetujui gerakan para perojeng itu?"

"Aku tak bisa mencegah sebuah aksi massa yang sedang berjuang menuntut hak."

"Maka jadilah! Cukup sekian. Kami takkan mencampuri urusan sampean. Tetapi jangan sekali-kali sampean urusi bagian kami orang-orang Dukuh Paruk. Kami tidak ingin terlibat dalam kerusuhan apa pun."

"Nanti dulu, Kang Sakarya," ujar Bakar sambil tersenyum. "Aku yakin betul, apa yang terjadi di sawah-sawah itu seharusnya tidak asing bagi semua orang Dukuh Paruk. Nah, apa kalian mengira aku tidak tahu siapa dan bagaimana kelakuan nenek moyang kalian?"

Sakarya terperanjat. Kata-kata Bakar tak diduganya sama sekali. Kata-kata itu mengandung penghinaan, menyangkut moyang Dukuh Paruk yang amat dikeramatkan oleh sekalian keturunannya. Ki Secamenggala 
yang semasa hidupnya menjadi bromocorah, pemimpin rampok yang tidak hanya sekali-dua membunuh korbannya. Tetapi bagaimana jua Ki Secamenggala adalah laki-laki dari siapa darah semua orang Dukuh Paruk berasal.

"Oh, Pak Bakar. sampean telah menyinggung perasaan kami. Tetapi sesungguhnya sampean tidak mengerti sepenuhnya siapa Ki Secamenggala, moyang kami. sampean lupa bahwa moyang kami tidak mati dalam peristiwa perampokan atau kerusuhan lainnya. Dia mati dengan tenang di tempat sepi di Dukuh Paruk dalam masa tua yang penuh penyesalan. Aku sendirilah kini pemangku wasiat-wasiat yang diucapkannya menjelang akhir hayat. Kami dilarang keras berbuat sesuatu yang merugikan orang lain, apalagi dengan kekerasan."

"Begitu?"

"Jadi sejak saat ini ronggeng Dukuh Paruk kularang mengikuti rapat-rapat."

"Ya, Pak. Aku tak mau lagi menari bila sesudah itu terjadi keributan," ujar Srintil.

Bakar termenung sejenak. Mengangguk-angguk, kemudian wajahnya kembali tenang. 

"Baiklah. Kukira kalian memang perlu istirahat."

"Dan sampean hendaknya mengambil kembali lambang partai dan papan nama itu dari Dukuh Paruk."

"Ah, tidak sejauh itu. Biarkan papan itu terpasang di sana. Aku takkan mengambilnya. Siapa pun tidak boleh menyingkirkannya. Siapa yang berbuat begitu pasti akan menghadapi kemarahan pemuda-pemudaku. Nah, kalian tidak ingin melihat kerusuhan, bukan?"

Srintil bersama kakeknya pulang dengan hati lega. Keduanya merasa telah keluar dari keterikatan yang semula sulit dihindarkan. Sakarya berharap akan kembali melihat Dukuh Paruk mapan seperti semula. Pada ujung usianya Sakarya tidak ingin melihat pusakanya berubah. Memang di sana masih ada lambang 
partai serta simbol sebuah lembaga kesenian. Namun hal itu bisa diterima oleh Sakarya sebagai nilai tukar seperangkat pengeras suara yang diberikan oleh Bakar kepada orang-orang Dukuh Paruk.

Goder yang kini dua tahun dan sudah pintar berjalan bisa lebih lama menikmati keibuan Srintil. Siapa mengira bahwa antara keduanya hanya dihubungkan oleh naluri dasar seorang perempuan dan kebersihan hati seorang bayi. Tubuh Goder yang selalu telanjang gemuk seperti terong. Subur seperti kecambah. 
Bersama Srintil Goder memperoleh banyak hal yang tidak pernah diterima oleh bayi-bayi Dukuh Paruk lainnya. Dia mempunyai semua mainan yang bisa dibeli di pasar Dawuan. Kadang Srintil bahkan berbuat hal yang berlebihan, misalnya membeli beberapa ekor kambing atas nama Goder, memotong ayam atas nama Goder. Dan sebidang sawah yang dibeli Srintil tahun lalu kini tercatat atas nama Goder.

Orang mengatakan Srintil demikian memanjakan Goder karena dia khawatir anak itu akan diambil kembali oleh emaknya, Tampi. Boleh jadi. Namun Srintil sendiri merasa kebaikannya terhadap Goder belum senilai
dengan kebahagiaan yang dia rasakan karena bisa memeluk anak itu setiap hari. Goder adalah harapan masa depan bila nasib kebanyakan ronggeng terjadi pula atas dirinya: hidup sendiri di hari tua karena peranakan rusak. 

Beberapa hari lamanya calung ronggeng Dukuh Paruk tetap tersimpan di tempatnya. Dukuh Paruk terasing dari kebisingan rapat-rapat dan pawai-pawai politik yang panasnya menjerang desa-desa di sekitarnya. Dengan mengambil sikap tidak mau tahu dan membisu orang-orang di sana yakin telah memelihara pedukuhan dalam wataknya yang asli. Namun ketenangan Dukuh Paruk tidak berlangsung lama. Suatu hari Sakarya menangis keras karena mendapati cungkup makam Ki Secamenggala poranda dirobohkan orang. Dukuh Paruk terluka parah tepat pada sisinya yang paling peka.

Dalam sekejap semua warga naik ke pekuburan di puncak bukit itu. Anak-anak dituntun emaknya. Sakum yang buta terlunta-lunta mengikuti langkah anaknya. Semuanya dengan kesedihan dan kemarahan yang tidak kepalang. Dua orang perempuan tua menangis, sungguh-sungguh menangis. "Ini pasti ulah Bakar. Asu buntung dia. Bajingan!" umpat Sakarya dengan suara parau. "Monyet munyuk itu jengkel karena kita tidak mau lagi bekerja sama dengan mereka. Asu buntung!"

"Kita tidak bisa menerima semua ini!" teriak Kartareja. "Oh, Eyang. Semoga yang merusak makammu ini mampus termakan pathek dan bubul. Atau raja singa sekalian!"

"He, Darkim! Cabut dan bakar lambang partai di mulut jalan itu. Cabut juga papan nama di depan rumah Kartareja."

Seorang muda yang disebut Darkim lari menuruni bukit pekuburan Dukuh Paruk, siap menjalankan perintah Sakarya. Tetapi seorang laki-laki lain menghentikannya. Yang terakhir ini muncul dari balik semak membawa sebuah caping bambu bercat hijau, bertuliskan sesuatu yang tak seorang pun bisa 
membunyikannya.

"Caping ini kutemukan di balik semak. Kita tak pernah mempunyai barang seperti demikian. Ini pasti milik bajingan-bajingan yang telah merusak cungkup makam."

Suasana menjadi hening tetapi tetap tegang. Semua mata memandang caping hijau itu. Dan meski merekatak bisa membaca tetapi mereka telah mengerti sesuatu. Caping hijau. Orang-orang Bakar tak pernah memakai caping seperti itu.

Sakarya menjatuhkan pundak dan mendesah. Sambil menggendong kedua tangan orang tertua di Dukuh Paruk berjalan berkeliling menatap reruntuhan cungkup makam.

"Pulanglah, anak-anak. Ambillah perkakas kalian. Kita perbaiki cungkup Eyang Secamenggala sekarang juga."

Berita tentang perusakan makam Ki Secamenggala cepat tersebar ke mana-mana, tanpa seorang Dukuh Paruk pun menceritakan hal yang merampas kehormatan mereka itu keluar. Dan para perusak yang memakai caping hijau. Pada tahun 1965 itu siapa pun tahu kelompok petani mana yang suka berpawai 
atau berkumpul dalam rapat dengan tutup kepala seperti itu.

Belum pernah sekali pun Dukuh Paruk merasa terhina demikian dalam. Dia muram dan diam menahan murka. Semua warga memusatkan kebersamaan rasa, siap membayar kembali dengan tunai penghinaan yang telah mereka terima. Dan balas dendam itu hanya tertunda karena orang-orang Dukuh Paruk belum 
menemukan nama para penghina itu.

Polisi yang mendapat laporan kejadian di Dukuh Paruk hanya menambah kekecewaan orang di sana. Sampai lima hari lamanya polisi belum bisa memberi keterangan siapa sebenarnya para pelaku. Bahkan polisi membuat Sakarya lebih jengkel dengan melarang keras orang Dukuh Paruk mengambil tindakan sendiri dalam masalah makam Ki Secamenggala itu.

Akhirnya orang Dukuh Paruk menemukan jalan buat melampiaskan murka. Bukan dengan jalan mengayun parang atau meninju kepala orang-orang bercaping hijau, melainkan dengan cara menerima ajakan Bakar untuk meramaikan kembali rapat-rapat propaganda. Srintil kembali menari dengan semangat luar biasa. Dia tidak peduli lagi apakah menari demi keramaian rapat sesuai dengan roh sejati seorang ronggeng. Dengan tarian yang lebih berani dan menantang Srintil merasa sedang membalas serangan orang-orang bercaping hijau atas nama Dukuh Paruk, atas nama arwah Ki Secamenggala yang makamnya baru saja dirusak orang. Sakum menemukan kembali cirinya: membakar setiap pentas dengan seruan-seruan yang jitu dan cabul. Bahkan Sakum ikut berteriak lantang ketika dalam pidatonya Bakar mengucapkan kata-kata serangan terhadap kaum bercaping hijau.

Murka tidak kepalang yang mengusik Dukuh Paruk membuat ronggengnya tidak kehabisan semangat. Pada akhir bulan September 1965 itu Srintil sudah dua minggu manggung terus-menerus di arena pasar malam di lapangan kota Dawuan atas nama kelompok Bakar. Dua minggu yang jor-joran, sarat dengan 
pemberontakan budaya. Tayub yang secara resmi dilarang pemerintah, pada pasar malam bulan September 1965 itu digalakkan kembali dengan semena-mena. Siapa saja boleh naik panggung rakyat buat berjoget atau menciumi Srintil sepuas hati. Cuma-cuma.

Sampailah hari pertama bulan Oktober. Hari pertama yang disusul hari-hari berikutnya, suatu masa yang tidak bisa dimengerti oleh siapa pun di Dukuh Paruk. Tiba-tiba mereka merasakan kehidupan menjadi gagu dan limbung. Pasar malam bubar tanpa pengumuman apa pun. Dawuan, terutama pasarnya yang biasa ramai kian hari kian sepi. Orang-orang kelihatan lebih banyak diam dan menunggu.

Kebingungan yang melanda Dukuh Paruk sedikit demi sedikit mencair. Dimulai dengan selentingan berita bahwa di Jakarta, sebuah negeri antah berantah bagi orang Dukuh Paruk, telah terjadi pembunuhan-pembunuhan. Pelaku pembunuhan adalah orang-orang semacam Bakar. Korbannya adalah pejabat-pejabat negara. Tetapi pada mulanya Dukuh Paruk menampik berita ini.

"Itu kan baru kata orang," kata Sakarya. "Siapa pun yang membawa kabar itu pasti tidak menyaksikannya sendiri."

Kemudian suatu malam muncul Bakar bersama tiga temannya di Dukuh Paruk. Sakarya dan Kartareja yang ingin bertanya tentang banyak hal hanya mendapat jawaban singkat. Dan Bakar kelihatan sudah kehilangan ketenangannya.

"Pokoknya tidak ada apa-apa. Kalian mesti tetap tenang."

"sampean sendiri kelihatan gugup," kata Sakarya.

"Terus-teranglah. Apa yang sebenarnya sedang terjadi?"

"Di Jakarta para tentara sedang saling bunuh."

"Perang?"

"Ya."

"Akan sampai ke sini?"

"Bisa jadi."

"Kami harus bagaimana?"

"Tenang, kataku. Kalian tidak tahu apa-apa. Dan satu hal; kami akan berada di sini dua-tiga hari. Tetapi kalian harus tutup mulut. Jangan banyak bicara bila tidak ingin ada pelor nyasar."

Bakar lenyap setelah tiga hari berada di rumah Sakarya. Selama itu dia bersama teman-temannya hanya keluar bila berhajat. Itu pun dilakukannya malam hari. Berita tentang Bakar sampai ke Dukuh Paruk seminggu kemudian. Rumahnya habis dimangsa api. Juga beberapa rumah lain milik orang-orangnya. Polisi
atau tentara menahan mereka.

"Aku makin tidak mengerti, Kang," kata Kartareja kepada Sakarya suatu malam. "Kabar di luar makin mengerikan. Terus terang aku khawatir Dukuh Paruk akan tetap dihubungkan dengan Bakar. Bila demikian halnya, bagaimana, Kang?"

Pertanyaan itu mengambang sekian lama tanpa jawaban. Beberapa orang yang menanti Sakarya membuka mulut akhirnya mengerti bahwa kamitua Dukuh Paruk itu pun dalam keadaan bimbang. Hanya karena sadar sebagai seorang sesepuh maka Sakarya bertutur. Suaranya bergetar dalam tengorokan.

Inilah yang dulu saya katakan, dalam hidup segala hal mestilah dilakukan pada batas kewajaran. Karena keselamatan berada di tengah antara dua hal yang saling berlawanan. Jadi keselamatan adalah jalan tengah, atau kewajaran atau keberimbangan. Yang kita saksikan akhir-akhir ini adalah kehidupan sang 
serba tidak wajar, melampaui batas. Dan kehidupan takkan kembali berimbang sebelum dia mengalami akibat ketidakwajaran itu. E, anakku, cucuku, kita sendiri telah ikut-ikutan lupa."

Semua pendengar menundukkan kepala. Sakarya telah berbicara dalam bahasa dan wawasan Dukuh Paruk sehingga tak ada makna yang luput dari pemahaman anak-cucunya. Keheningan terus mengembang. Suara burung celepuk bersahutan mendaulat udara Dukuh Paruk. Orang di sana sudah terbiasa mendengar suara unggas itu. Tetapi kali ini mereka merasakan adanya pesan halus dari alam pekuburan Dukuh Paruk; pesan yang tidak mudah dipahami dan yang hanya membuat orang-orang merasa kecil tak berdaya.

"Jadi kita harus bagaimana, Kek?" kata Srintil memecah keheningan.

"Kita hanya tinggal pasrah, eling, dan waspada. Aku minta kalian yang muda-muda berjaga-jaga, meronda pedukuhan kita setiap malam. Yang tua-tua bersiap, Jumat Kliwon mendatang kita akan membersihkan makam Eyang Secamenggala. Kita akan slametan. Mara bahaya yang mungkin menimpa kehidupan harus kita tumbal."

Awal kemarau tahun 1966. Malam yang sangat dingin menyertakan kecemasan yang meluas. Annjng-anjing liar yang beringas karena terangsang bau darah. Atau mayat-mayat yang tidak diurus secara layak. Angin tenggara membawa bau bunga bangkai. Dini hari di langit timur muncul tanda keperkasaan alam. Lintang kemukus menggaris langit dengan ujungnya yang runcing kemilau. Suara malam ialah bunyi langkah sepatu yang berat. Dan letupan bedil sekali-sekali.

Orang Dukuh Paruk belum sempat menyelenggarakan selamatan. Suatu malam puluhan orang datang mengendap-endap mengepung rapat pemukiman terpencil itu. Kedatangan mereka diketahui oleh anak-anak muda yang meronda. Dukuh Paruk bangun buat mempertahankan diri. Semua laki-laki 
mengambil kentongan, memukulnya serentak hingga terjadi suasana genting tak terperikan. Semua perempuan ikut memukuli benda apa saja. Semua anak menjerit ketakutan. Para pengepung lari mengundurkan diri.

Keesokan hari semua orang Dukuh Paruk berkumpul di rumah Sakarya. Wajah mereka adalah wajah-wajah lugu yang menyimpan ketakutan luar biasa. Sakarya menangis. Di hadapannya berhimpun seluruh darah daging Ki Secamenggala yang datang mencari perlindungan. Mereka hanya bisa disamakan anak-anak ayamyang lari berlindung ke bawah sayap induknya dari sambaran burung elang. Perempuan-perempuan mengusap air mata. Anak-anak bergayut di lengan emak dengan pertanyaan besar muncul dari mata mereka yang masih bening. Semua laki-laki membisu.

"Aku akan pergi ke kantor polisi!" kata Srintil tiba-tiba. "Aku akan bertanya kepada mereka apa kesalahan kita."

"Ya. Aku setuju." ujar Kartareja. "Kami hanya meronggeng. Kita sama sekali tidak merojeng padi siapa pun. Srintil, aku akan menyertaimu ke kantor polisi."

"Jangan, cucuku. Kamu harus tetap di sini bersamaku. Kamu jangan ke mana-mana," tangis Nyai Sakarya.

"Kita yakin tidak bersalah. Kita harus mencari pengayoman. Polisi harus memberi pengayoman kepada kita; kaula yang tidak bersalah."

Kata-kata Kartareja menimbulkan sedikit harapan dan percaya diri. Hanya Nyai Sakarya yang mempertahankan Srintil agar jangan pergi ke kantor polisi. Tetapi nenek itu mengalah karena Srintil bersikeras.

"Aku mengenal mereka, Nek. Juga komandannya," kata Srintil.

Ketika Srintil dan Kartareja berangkat semua mata mengikutinya. Harapan terakhir sudah dilayangkan. Dukuh Paruk menanti dengan berbagai pertanyaan tetap mengusik hati.

Seorang kusir andong melihat Srintil bersama Kartareja berjalan di ujung pematang hampir mencapai jalan besar. Tetapi kusir itu tidak menghentikan kendaraannya, tidak pula menawarkan jasa seperti biasa. Orang-orang yang pulang dari pasar Dawuan tidak menyapa ketika berpapasan dengan ronggeng Dukuh 
Paruk itu. Mereka berjalan menunduk menghindari pandangan mata Srintil. Pasar Dawuan telah kehilangan kehangatan bagi ronggeng yang dulu sangat dipuja. Para pedagang di sana memandang dingin kepada 
Srintil yang lewat di hadapan mereka, langsung menuju kantor polisi.

Sampai di depan kantor yang dituju Kartareja berhenti termangu. Jelas sekali keraguannya. Tetapi Srintil terus melangkah. "Ayolah, Kek. Orang tak bersalah tidak perlu merasa takut."

Di kantor itu ternyata bukan hanya polisi, melainkan tentara juga ada di sana. Mereka segera mengenal siapa yang sedang melangkah memasuki halaman. Mereka saling pandang karena pada saat genting seperti
itu dua orang yang dikenal sering tampil bersama Bakar muncul di kantor polisi. Namun Komandan Polisi dan seorang tentara menyilakan Srintil dan Kartareja masuk. Yang lain berdiri dengan sikap kaku.

"Kami datang kemari hendak bertanya, Pak," kata Srintil dengan keberanian yang masih tersisa. "Tadi malam beberapa orang datang mengepung rumah-rumah kami. Tentulah mereka bermaksud buruk. Maka kami ingin minta perlindungan karena kami merasa tidak berbuat salah apa pun. Apabila kami dikatakan salah maka tolong, Pak. Katakan apakah kesalahan kami."

Pak Komandan gelisah. Tangannya bergerak tak menentu. Matanya tak berani menatap Srintil. Padahal benar dia telah mengenal ronggeng Dukuh Paruk itu. Bahkan kemudian dia bangkit masuk ke kamar lain diikuti oleh seorang tentara. Kedua laki-laki berpistol itu berbicara dengan suara kecil.

"Mereka malah datang sendiri. Bagaimana ini?"

"Betul nama-nama mereka tercantum dalam daftar?"

"Ini, lihat," kata Komandan Polisi sambil membuka catatan yang mulai kumal.

"Saya kira ini kebetulan. Setidaknya menghemat pekerjaan."

"Jadi begitu?"

"Begitu saja."

Komandan keluar lagi. Wajahnya keras. Resmi. Pandangannya lurus ke depan, ke halaman kantor.

"Tentang orang yang mengepung Dukuh Paruk akan kami selidiki. Tetapi di luar masalah itu ada hal penting yang akan kami sampaikan buat kalian berdua. Bahwa Saudara Kartareja dan Saudara Srintil termasuk orang-orang yang harus kami tahan. Ini perintah atasan. Dan kami hanya melaksanakan tugas."

Srintil mendengar seluruh ucapan Komandan. Kata-kata itu menjadi masukan yang ternyata amat sulit dijabarkan menjadi pengertian dan kesadaran. Ketika pengertian itu baru muncul samar jiwanya menampik dengan keras. Seluruh proses yang terjadi pada diri Srintil memerlukan tenaga ekstra. Jantung berdenyut lebih cepat dan darah terpusat pada otak dan pusat-pusat syaraf. Wajah Srintil pucat tidak 
kebagian darah. Tangan dan kakinya berkeringat dingin. Dan Srintil tergagap dalam upaya menggapai dirinya kembali.

"Tahan? Kami ditahan?"

Srintil mencoba tersenyum sebagai usaha terakhir menolak kenyataan. Tetapi senyum itu berhenti pada gerak bibir seperti orang hendak menangis. Lama sekali wajahnya berubah menjadi topeng dengan garis-garis muka penuh ironi. Topeng itu tidak hilang ketika dua orang berseragam membawanya ke ruang 
tahanan di belakang kantor. Srintil berjalan tanpa citra kemanusiaan. Tanpa citra akal budi, tanpa roh. Srintil menjadi sosok yang bergerak seperti orang-orangan dihembus angin.

Hingga siang hari warga Dukuh Paruk menanti Srintil dan Kartareja pulang. Mereka bergerombol-gerombol di dalam dan di luar rumah Sakarya. Tak seorang pun pergi bekerja. Sementara di langit burung dadali terbang berputar-putar mencari mangsa. Induk ayam berkotek-kotek menghimpun semua anak di bawah lindungan sayapnya.

Dukuh Paruk hampir senyap. Anak-anak pun kehilangan gairah bermain karena melihat orang tua mereka berwajah murung. Hanya terdengar suara kambing-kambing mengembik. Sejak pagi ternak-ternak itu tidak dibukakan kandang. Dan anak-anak yang menangis karena emak mereka tidak menyalakan api di 
tungku.

Matahari sudah masuk ke belahan langit barat. Dua orang yang ditunggu belum juga datang. Wajah-wajah itu makin gelap. Makin sering terdengar suara mendesah. Dalam keheningan yang amat mencekam itu tiba-tiba terdengar seorang anak berteriak. Ada orang datang. Beberapa orang lelaki menghambur ke luar 
halaman. Di hati mereka terbit harapan. Tetapi harapan itu hanya sedetik tinggal, kemudian lenyap, dan berubah menjadi ketakutan. Yang datang bukan Srintil bukan pula Kartareja, melainkan lima orang berseragam. Sepatu berat dan bedil di tangan mereka lebih dari cukup buat melenyapkan darah dari wajah semua orang Dukuh Paruk, menghapus semua sisa keberanian dan rasa percaya diri.

Dukuh Paruk mewakilkan dirinya kepada Sakarya. Kakek renta ini sejenak memejamkan mata, menghadap ke dalam diri sendiri buat membaca pesan yang dibawa oleh kilasan Sang Waktu. Ya, dia harus sumarah kepada kersaning zaman. Zaman yang telah nyata menampakkan diri sebagai lima laras bedil dan lima wajah membaja di hadapannya. Hidup adalah berperan menjadi wayang atas sebuah cerita yang sudah dipastikan dalam pakem. Keyakinan demikian tidak sedetik pun pernah lepas dari Sakarya. Membela diri dari nasib buruk ketika zaman sudah mengulurkan tangannya adalah sia-sia. Bukan hanya karena Sakarya telah kehilangan keberanian. Tetapi karena dia percaya bahwa keperkasaan zaman mustahil tertandingi oleh kekuatan seorang manusia.

Kedalaman jiwa Sakarya memungkinkannya mampu bersikap diam dalam arti yang sebenarnya. Wajahnya kembali hidup dan polos, siap menerima apa pun dan perlakuan apa pun. Diam yang pada saat-saat tertentu harus diambil sebagai sikap paling santun manakala ketidakberdayaan manusia harus 
diperlihatkan. Siang itu Dukuh Paruk yang bodoh dan melarat tidak berbuat apa-apa ketika Sakarya, Nyai Kartareja, Sakum, dan dua orang lainnya dibawa oleh para petugas keamanan. Mereka digabungkan dengan Srintil dan Kartareja dalam tahanan. Hanya air mata dan tangis perempuan. Dan ketakutan menghantu yang membuat Dukuh Paruk makin kuyu dan lusuh. Dukuh Paruk tanpa Srintil, Sakarya, dan Kartareja adalah Dukuh Paruk tanpa ronggeng. Dia tidak punya martabat apa-apa.

Dan nasib sebenarnya yang harus dipikul oleh Dukuh Paruk baru terjadi dua hari kemudian. Dini hari ketika langit timur berhias kejayaan lintang kemukus, Dukuh Paruk menyala, menyala. Api menggunung membakar Dukuh Paruk. Atap seng rumah Kartareja membubung ke langit bersama asap tebal yang menjulang seperti pohon raksasa. Rumah Sakum yang compang-camping hanya bertahan beberapa menit sebelum jadi abu dalam kobaran yang gemuruh. Jerit tangis dan lolongan manusia disambut dengan ledakan-ledakan bambu terbakar. Kepanikan luar biasa di tengah ketidakberdayaan mempertahankan diri.

Seorang perempuan berlari sengit sambil mengepit bayinya dalam ketiak dan berteriak-teriak mencari anak-anaknya yang lain. Ada laki-laki tua berdiri memeluk batang pinang hanya beberapa langkah dari onggokan api yang mulai membesar. Demikian kuat pelukan itu sehingga diperlukan rudapaksa buat 
melepaskannya. Ketika terlepas ternyata laki-laki itu sudah kejer. Pemandangan yang sangat kocar-kacir sedikit mereda manakala semua perempuan telah berhasil menemukan anak mereka masing-masing. Kaum lelaki teringat kentongan. Mereka memukulnya serentak dengan semangat menggila. Gemuruh yang 
membahana membuat orang-orang di sekitar Dukuh Paruk keluar rumah. Mereka menyaksikan api unggun menjulang di tengah-tengah sawah. Mereka juga mendengar lengkingan-lengkingan suatu puak yang 
sedang melihat dunia mereka punah tepat di depan mata.

Para petugas yang kemudian datang hanya menemukan beberapa gubuk yang tidak ikut terbakar. Dan bangkai lima ekor kambing yang mati terpanggang karena pemiliknya tak sempat membuka pintu kandang. Orang-orang resmi itu tidak bisa tinggal lama di tengah bangkai Dukuh Paruk. Mereka harus menghadapi sekian puluh pasang mata yang menggugat pertanggungjawaban atas nama kemanusiaan. Tetapi mereka tidak bisa memberikan apa-apa.

Banyak cerita yang dilontarkan orang tentang kepunahan Dukuh Paruk. Ada yang mengatakan Dukuh Paruk telah menerima bagiannya yang sah. Sang Mahasutradara memiliki selera dalam menggelar permainannya berupa alam semesta ini, tetapi Dukuh Paruk, sadar atau tidak telah mengabaikannya. Pendapat lain mengatakan, itulah hukum dialektika pergolakan politik yang acap kali berupa ironi sejarah dan ironi 
kemanusiaan. Musnahnya Dukuh Paruk hanya salah satu bukti yang kecil. Ada lagi yang berpendapat peristiwa yang dialami oleh Dukuh Paruk tidak berlatar perkara yang canggih melainkan sederhana saja. Di sana hanya ada perkara balas dendam para petani yang marah karena padi mereka dirojeng beberapa musim berturut-turut. Mereka tahu yang merojeng adalah orang-orang Bakar yang semuanya telah ditahan. Maka Dukuh Paruk terkena getah, setidaknya karena ronggengnya sering muncul bersama Bakar dalam rapat-rapat propaganda. Pendapat ini sekaligus menyepelekan kemungkinan terlibatnya sentimen keagamaan. Juga sentimen politik karena Dukuh Paruk sepanjang sejarahnya tidak bisa memahami politik serta ideologi politik apa pun.

Masih ada satu pendapat yang amat bersahaja. Bahwa yang telah terjadi di Dukuh Paruk tak lebih daripada banyolan sejarah yang hanya disebabkan oleh sebuah caping bambu bercat hijau. Apabila Dukuh Paruk tidak kelewat bebal seharusnya mereka tahu bahwa Bakar-lah orangnya yang merobohkan makam KiSecamenggala. Dengan hanya meninggalkan sebuah caping hijau Dukuh Paruk terkecoh. Kemarahannya tertuju kepada kelompok lain dan ronggengnya kembali bergabung dengan Bakar demi membayar kesumat terhadap kaum caping hijau. Segalanya bisa terjadi jauh berbeda bila ronggeng Dukuh Paruk ketika itu 
tetap meninggalkan kelompok Bakar.

Ketika rerumputan mulai tumbuh di tanah reruntuhan Dukuh Paruk, banyak orang bertanya tentang seseorang yang telah sekian lama berperan dalam satu sisi kehidupan. Srintil; di mana dia dan bagaimana. Bahwa pergolakan hidup Srintil yang sebenarnya baru dimulai sejak hari pertama dia masuk tahanan, ada dalam sebuah catatan. Catatan itu diawali dengan kisah seorang ronggeng cantik berusia dua puluh tahun. Dia dipenjarakan secara fisik dan dikurung secara psikis dalam tembok sejarah yang muncul sebagai keserakahan nafsiyah serta petualangan.

Diperlukan kondisi-kondisi tertentu agar orang bisa membuka catatan lengkap itu. Kondisi-kondisi itu bisa jadi berupa waktu yang mampu mencairkan segala emosi. Atau kedewasaan sikap dan kejujuran agar orang memiliki keberanian mengakui kebenaran sejarah. Maka pada suatu ketika orang dapat membuka 
catatan tentang Srintil. Atau catatan itu bakal lenyap selama-lamanya menjadi bagian rahasia kehidupan Dukuh Paruk.








                                 TAMAT

______________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...