"PARLEZ VOUS FRANCAIS?"
Pondok Madani diberkati oleh energi yang membuat kami sangat menikmati belajar dan selalu ingin belajar berbagai macam ilmu. Lingkungannya membuat orang yang tidak
belajar menjadi orang aneh. Belajar keras adalah gaya hidup yang fun, hebat dan selalu dikagumi. Karena itu, cukup sulit untuk menjadi pemalas di PM.
Banyak kampiun-kampiun belajar yang menjadi legenda di PM. Ada ustad yang dikabarkan menguasai kamus bahasa Arab paling canggih bernama Munjid, ada yang menguasai ribuan hadist, ada yang bisa mengaji Al-Quran dengan berbagai lagu. Ada yang telah menamatkan semua rekaman suara Sukarno dan mempelajari berbagai macam style pidato
orang lain. Salah satu kampiun pembelajar bahasa ternyata Ustad Salman. Aku tidak tahu itu sampai kemudian Kak Is pernah bertanya siapa wali kelasku. Begitu aku menyebut Ustad Salman, dia langsung berseru, “beruntung sekali ya akhi. Dia adalah legenda hidup dalam mempelajari bahasa. Dia menguasai bahasa Arab, Inggris, Perancis dan Belanda. Dan semuanya, katanya dilakukan oto-didak.”
Suatu hari di kelas, aku mengkonfirmasi rumor ini.
“Ustad, apakah benar antum suka membaca kamus?”
“Bukan cuma suka, itu buku favorit saya. Membuka kunci ilmu.”
“Kamus apa saja?”
“Ada dua, pertama Oxford Advanced Learner’s Dictionary, dan kedua AlMunjid, kamus Arab paling legendaris. Keduanya sudah saya khatam 2-3 kali.”
“Khatam?”
“Iya, bukan Al-Quran saja yang saya tamatkan. Untuk kamus Oxford, saya mulai membacanya dari halaman depan sampai halaman belakang, tanpa melewatkan satu halaman pun. Bagi saya, kamus bukan hanya buat mencari kata, tapi sebagai buku yang untuk dibaca dari awal sampai akhir.”
“Tapi bagaimana menghapalnya?”
“Jangan dipaksakan untuk menghapal. Kalau sudah tamat sekali, ulangi lagi dari awal sampai akhir. Lalu ulangi lagi, kali ini sambil mencontreng setiap kosa kata yang sering dipakai. Lalu tuliskan juga di buku catatan. Niscaya, kosa kata yang dicontreng di kamus tadi dan yang sudah dituliskan ke buku tadi tidak akan lupa. Sayidina Ali pernah bilang, ikatlah ilmu dengan mencatatnya. Proses mencatat itulah yang mematri kosakata baru di kepala kita.”
Wah luar biasa, bagaimana antum bisa dapat cara ini?”
Dengan membaca. Saya baca buku kisah hidup Malcom X, tokoh The Nation of Islam yang kemudian menjadi muslim sejati. Dia waktu itu masuk penjara. Dalam penjara dia banyak
merenung dan ingin menulis. Tapi begitu akan menuliskan pemikirannya, isinya sangat dangkal. Dia frustrasi karena dia tak punya kemampuan untuk menggambarkan apa yang ada di kepalanya. Akhirnya dia bertekad untuk membaca kamus, halaman demi halaman. Hasilnya, tulisannya kuat, dalam dan memuaskan.”
“Minggu depan kita punya proyek besar. Berfoto bersama,” umum Said di depan kelas.
“Di mana… di mana… kapan… kapan….” Wajah-wajah pencinta lensa kami bertanya-tanya. Tidak perlu alasan buat apa, yang penting bisa tampil.
Masa ujian kenaikan kelas sudah mendekat. Dan sudah menjadi tradisi, suatu hari dikhususkan untuk foto bersama satu kelas. Latar belakangnya rupa-rupa, mulai dari masjid, aula, asrama dan kelas, sampai lapangan. Yang kami tunggu-tunggu adalah Kiai Rais sendiri hadir untuk diajak foto bersama.
Foto bersama adalah sebuah ajang kompetisi. Setiap kelas harus membuat spanduk masing-masing yang kira-kira tulisannya, “kami keluarga kelas sekian”. Kami berlomba-lomba membuat yang terbagus. Ada yang menghiasi dengan kertas warna-warni, ada yang dengan sarung, ada yang menulis kelasnya dengan tulisan Arab sambil memamerkan
kehebatan kaligrafi. Sebagian lagi menuliskan dengan bahasa Inggris. Tapi semuanya jadi sama, kalau bukan Inggris, ya Arab.
Seperti biasa, Ustad Salman ingin berbeda. Menjelang foto bersama besok, dia mengumpulkan kami.
“Menurut saya, untuk bisa maju dan berprestasi, kita tidak boleh biasa-biasa saja. Harus mencari yang lebih baik dan berbeda. Setuju?”
“Setuju…” Kami mengangguk-angguk, sudah biasa mendengar bagian ini.
“Karena itu, kita akan bikin spanduk kelas kita dalam bahasa lain, yang belum pernah ada di PM, yaitu bahasa Perancis!”
“Wahhh…… kami semua bergumam. Antara kagum dengan pandangannya dan tidak mengerti bagaimana bahasa Perancis.
“Jangan khawatir, saya sudah menerjemahkan ke Bahasa Perancis. Silakan kalian tulis dan bikin spanduk yang baik,” katanya.
“Tulisannya nanti: “Nous sommes la grande famile de la classe 1 B, Pondok Madani, Indonesie”. Artinya adalah, kami keluarga besar kelas 1 B”. Dia menuliskan kata-kata berbunyi aneh ini di papan tulis. Sampai tengah malam kami masih berkumpul di kelas membuat spanduk bersama. Walau tidak
ada yang tahu tata cara membaca bahasa Perancis yang aneh itu, kami merasa berbeda dan keren.
Besoknya, di sesi foto bersama, kami dengan bangga mengarak tinggi-tinggi spanduk kami. Semua orang melihat dengan berkerut kening, tidak mengerti dengan apa yang kami tulis. Bahkan tukang potret kami sampai perlu bertanya untuk memastikan spanduk kami tidak salah tulis. Moment yang paling membanggakan adalah ketika kami berfoto
dengan Kiai Rais di samping rumahnya. Supaya tidak berdesakkan, kami dibagi dua barisan. Barisan belakang berdiri di belakang kursi yang sudah disusun dan di bagian depan anak yang berbadan lebih kecil, termasuk aku. Sedangkan yang duduk di tengah, di atas kursi, diapit oleh Ustad Salman dan Said adalah kiai tercinta kami, Kiai Rais.
“Felicitation, kalian telah memperlihatkan apa yang disebut i’malu fauqa ma amilu. Berbuat lebih dari apa yang diperbuat orang lain. Semoga kalian sukses,” kata beliau setelah melihat spanduk kami. Hati kami meloncat-loncat bangga. Ustad Salman menggenggam tangan Kiai Rais.
Bersambung...
______________________________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar