Jumat, 19 Maret 2021

RONGGENG DUKUH PARUK BAGIAN 07

RONGGENG DUKUH PARUK JILID 07




Siapa yang akan menyalahkan Kartareja bila dukun ronggeng itu merasa telah menang secara gemilang. Siapa pula yang akan menyalahkan Dower bila dia kelak berteriak-teriak bahwa dirinyalah yang telah mewisuda ronggeng Srintil. Sesuatu telah terjadi di belakang rumah Kartareja sebelum Dower
menyiapkan kelambu yang mengurung Srintil. Hanya aku dan ronggeng itu yang mengetahui segalanya.
 
 Waktu itu aku masih mengintip di emper samping ketika terdengar pertengkaran mulut antara Dower dan Sulam. Sesaat kemudian aku melihat seseorang keluar dari pintu belakang lalu jongkok di bawah pohon pisang. Dari sosok tubuhnya yang kecil aku memastikan Srintil-lah yang keluar. Dengan berjalan
berjingkat kudekati dia.
 
 “Srintil?” tegurku dengan suara berbisik.

 “Jangan terkejut. Aku Rasus.”
 
 “Oh!” seru Srintil tertahan. Dia cepat bangkit merangkulku sekuat tenaga. “Rasus. Dengar, mereka bertengkar di luar. Aku takut, sangat takut. Aku ingin kencing!”
 
 “Sudah kencing?”
 
 “Sudah. Tetapi aku takut. Rasus, kau sungguh baik. Kau ada di sini ketika aku sedang
diperjual-belikan.”
 
 “Ya.”
 
 Masih merangkulku kuat-kuat Srintil mengisak. Kubiarkan dia karena aku pun tak tahu apa yang harus kuperbuat. Kurasakan tubuh Srintil hangat dan gemetar.
 
 “Aku benci, benci. Lebih baik kuberikan padamu. Rasus, sekarang kau tak boleh menolak seperti kaulakukan tadi siang. Di sini bukan pekuburan. Kita takkan kena kutuk. Kau mau, bukan?”
 
 Sepatahpun aku tak bisa menjawab. Kerongkonganku terasa tersekat. Karena gelap aku tak dapat melihat dengan jelas. Namun aku merasakan Srintil melepaskan rangkulan, kemudian sibuk melepaskan pakaian.

Tidak beda dengan pengalaman tadi siang di pekuburan Dukuh Paruk. Hanya ini segalanya berlaku dalam gelap. Aku tidak dapat melihat sosok tubuh Srintil dengan jelas, meski aku yakin saat itu dia sudah telanjang bulat.
 
 Aku percaya, suasana gelap dapat mengubah nilai yang berlaku pada pribadi-pribadi. Orang berpikir lebih primitif dalam suasana tanpa cahaya. Dan sebuah perilaku primitif memang terjadi kemudian antara aku dan Srintil. Ilusi akan hadirnya Emak saat itu tak muncul di hatiku. Segalanya terjadi. Alam sendiri yang turun tangan mengguruiku dan Srintil. Boleh jadi Srintil merasakan sesuatu yang menyenangkan. Tetapi entahlah, karena aku hanya merasa telah memperoleh sebuah pengalaman yang aneh.
 
 Tidak lama. Kubantu Srintil mengenakan kembali pakaiannya. Kemudian dia kuantar sampai ke pintu. Dengan mengintip lewat celah dinding dapat kulihat Srintil membuka klambu dan rebah tertidur di sana. Aku sendiri pulang dengan berbagai perasaan bercampur-aduk di hati.
 
 Kelak Srintil berceritera kepadaku bahwa dia segera terjaga kembali ketika Dower membangunkannya dengan dengus napas lembu jantan. Srintil tidak mengatakan apa yang dialaminya kemudian sebagai suatu
perkosaan. Dia hanya berkata, sungguh tidak mudah menempuh syarat menjadi seorang ronggeng di Dukuh Paruk.
 
 Setelah Dower keluar Srintil mendengar Nyai Kartareja berkata kepada pemuda Pecikalan itu.
 
 “Kau telah memperoleh hadiah sayembara bukak-klambu. Dua rupiah perak serta kerbau itu sah menjadi milik kami. Engkau puas, bukan?”
 
 Dower hanya tersenyum. Tercapai sudah keinginannya memperoleh sebutan sebagai pemuda yang mewisuda ronggeng Srintil. Virgin atau tidak virgin ronggeng yang ditidurinya, menjadi naif Dower.
 
 “Nek, aku mau pulang sekarang,” katanya kemudian.
 
 “Pulang? Nanti dulu!” jawab Nyai Kartareja. 

“Bila nanti Sulam terjaga dan tidak melihatmu lagi di sini, dia akan merasa curiga. Tahu?”

“Ya. Oh rupanya kalian pasangan tua bangka yang licik dan tengik. Baiklah, aku mau tidur di sini. Aku pun telah lelah dan ngantuk.”
 
 Suasana di rumah Kartareja sunyi kembali meskipun suami-istri dukun ronggeng itu tidak tidur. Srintil sendiri terbaring gelisah. Pelupuh lincak berderit-derit karena Dower belum dapat memejamkan mata. Tetapi tak berapa lama kemudian segalanya diam. Dower yang lelah dan lemas segera pulas.
 
 Tengah malam Nyai Kartareja masuk ke bilik Srintil. Kelambu dibuka. Dengan sinar pelita di tangannya perempuan itu melihat mata Srintil yang masih terbuka. Dengan gaya memanjakan, Nyai Kartareja membelai rambut Srintil.
 
 "Dua keping rupiah perak dan seekor kerbau besar telah menjadi milikmu. Kau sudah menjadi anak yang kaya. Engkau merasa senang, bukan?” Srintil mengangguk walaupun perutnya terasa sakit.
 
 “Dan engkau masih akan menerima sebuah ringgit emas. Mau, bukan? Nanti bila Sulam terjaga, dia akan masuk kemari.”
 
 Mata Srintil terbuka lebar-lebar. Suaranya serak ketika dia bertanya kepada Nyai Kartareja.
 
 “Jadi aku harus melayani Sulam pula?”
 
 “Tak mengapa, bukan? Engkau akan menjadi satu-satunya anak yang memiliki ringgit emas di Dukuh Paruk ini.”
 
 “Tetapi perutku sakit, Nek. Amat sakit.”
 
 “Aku pernah mengalami hal seperti itu. Bocah ayu, percayalah padaku. Semuanya tak mengapa kau lakukan. Ingat, sebuah ringgit emas! Istirahatlah sekarang selagi Sulam masih mendengkur.”

Srintil mengisak seorang diri. Baginya alangkah lambat waktu berjalan. Dia ingin hari segera menjelang pagi. Dia ingin segera menemukan dirinya telah selesai menjalankan bukak-klambu. Tak terpikirkan lagi soal ringgit emas atau lainnya. Yang dirasakannya sekarang adalah perutnya yang bagai teriris-iris. Ronggeng itu tak akan menghentikan tangis karena binatang jantan lainnya akan segera datang menyingkap kelambu dan mendengus.
 
 Di luar gerimis turun. Sesungguhnya Srintil hampir terlena bila tidak mendengar derit lincak di beranda. Sulam menggeliat lalu melenguh. Semula Sulam akan kembali memejamkan mata. Tetapi tiba-tiba mata
pemuda itu terbuka selebar-lebarnya, lalu bangkit. Dia duduk termangu seperti orang sedang bingung.
 
 Nyai Kartareja keluar dari biliknya, melangkah mendekati Sulam.
 
 “Oh, bocah bagus. Engkau sudah bangun?” tanya Nyai Kartareja semanis seorang ibu.
 
 “Jam berapa sekarang, Nek?” kata Sulam sambil menggosok mata dengan punggung tangan.
 
 “Ah, masih sore,” tipu perempuan itu pula.
 
 Ketika Sulam sadar betul apa tujuannya datang ke Dukuh Paruk, dia berkata sambil bangkit berdiri.
 
 “Jadi bagaimana ini. Bagaimana urusan tadi?”
 
 “Oh tenanglah, Bocah bagus. Lihat, anak Pecikalan itu masih tertidur nyenyak. Engkau jadi pemenang. Srintil menunggumu sekarang.”
 
 “Ha? Di mana Srintil?” tanya Sulam bersemangat.
 
 “Lho! Dia di dalam kelambu. Ayo, cepat. Jangan menunggu Dower terbangun.”

“Oh ya. Ya. Tetapi nanti dulu, Nek. Aku ingin kencing.”
 
 Entah sampai kapan pemukiman sempit dan terpencil itu bernama Dukuh Paruk. Kemelaratannya, keterbelakangannya, penghuninya yang kurus dan sakit serta sumpah-serapah cabul menjadi bagiannya yang sah. Keramat Ki Secamenggala pada puncak bukit kecil di tengah Dukuh Paruk seakan menjadi pengawal abadi atas segala kekurangan di sana. Dukuh Paruk yang dikelilingi amparan sawah berbatas
kaki langit, tak seorang pun penduduknya memiliki lumbung padi meski yang paling kecil sekali pun. Dukuh Paruk yang karena kebodohannya tak pernah menolak nasib yang diberikan alam.
 
 Yang Mahaperkasa mencipta diriku dari intisari tanah Dukuh Paruk. Ketika aku mulai mengerti bahwa diriku hidup, di dekatku ada seorang nenek, sebuah kandang berisi tiga ekor kambing dan sekeranjang gaplek di sudut rumah kecil. Anak-anak sebaya memanggil perempuan yang terdekat dengan sebutan
emak. Tetapi perempuan tua yang paling dekat denganku menolak bila kusebut demikian. “Panggil aku nenek,” katanya. Pernyataan itu adalah tanda-tanya besar pertama yang menindih hatiku. Untung, di Dukuh Paruk ada sekian belas anak yang seperti aku. Warta dan Darsun bahkan aku kemudian tahu pula, Srintil juga tidak mempunyai emak. Ayah juga tak pernah kulihat sejak aku lahir. Tetapi aku tidak
begitu merisaukannya. Jangan salahkan diriku karena aku tak tahu mengapa terjadi perasaan demikian.
 
 Ceritera tentang malapetaka tempe bongkrek itu mulai terekam di hatiku sejak usiaku lima atau enam tahun. Nenek dan orang-orang lainnya berceritera sebagian-sebagian, sehingga bila kusambung akan tersusun kisah sebuah peristiwa kematian massal secara lengkap. Termasuk di dalamnya keterangan yang sepotong-sepotong tentang Emak. Ah, aku takkan mengulanginya lagi. Keterangan tentang Emak hanya berbekas sebagai deraan batin yang berkepanjangan.
 
 Dalam hatiku ada sebuah sisi yang kosong. Seharusnya ada Emak di sana. Aku yang mengharuskannya demikian, namun tidak pernah menjadi kenyataan. Kekosongan yang berkembang bersama pertumbuhanku sejak masa kanak-kanak, menciptakan kegersangan dan kegelisahan. Kehausan melihat serta memiliki Emak telah membuat noda dalam hidupku.
 
 Tetapi Dukuh Paruk dan orang-orangnya disana tak ada yang mengerti diriku yang sakit. Memang Dukuh Paruk memberi kesempatan kepadaku mengisi bagian hati yang kosong dengan seorang perawan kecil bernama Srintil. Tidak lama, sebab sejak peristiwa malam bukak-klambu itu Srintil diseret ke luar dari dalam hatiku, Dukuh Paruk bertindak semena-mena kepadaku. Aku bersumpah takkan
memaafkannya.
 
 Jadi ketika Dukuh Paruk bergembira-ria dengan suara calung dan joget Srintil yang telah resmi menjadi ronggeng, aku malah mulai membencinya. Pengikat yang membuatku mencintai Dukuh Paruk telah
direnggut kembali. Aku tidak lagi mempunyai cermin tempat aku mencari bayang-bayang Emak. Sakitku terasa lebih perih daripada saat aku belum mengenal Srintil.

Salah seekor kambing kutuntun ke luar Dukuh Paruk pada suatu pagi. Sebelum berangkat aku berkata kepada Nenek, aku akan mencari paman di luar kampung dan mungkin tidak kembali lagi. Nenek menangis. Terbata-bata Nenek meminta agar aku tetap tinggal. “Siapa yang akan mengurusiku bila aku sakit dan mati,” katanya.
 
 Nenek menjadi korban balas dendamku terhadap Dukuh Paruk. Dia kutinggalkan bersama beberapa ekor kambing. Biarlah. Nenek adalah milik Dukuh Paruk. Kukira Dukuh Paruk tetap mengakui Nenek sebagai warga sampai dia bergabung dengan Ki Secamenggala di pekuburan.
 
 Kambing kujual di pasar. Dengan uang penjualan itu aku hidup beberapa hari di warung-warung. Perpindahanku dari warung satu ke warung lainnya terjadi bila kudengar seorang pengunjung berceritera tentang malam bukak-klambu yang baru diselenggarakan di Dukuh Paruk.
 
 Perkenalanku dengan pedagang singkong di pasar memungkinkan aku mendapat upah. Di Dukuh Paruk setiap anak berkenalan dengan singkong sejak lahir. Maka pedagang itu terkesan betapa cepat aku mengupasi barang dagangannya. Selain mendapat upah buat makan sehari-hari, aku menemukan sebuah
tempat yang teduh untuk menggelar karung-karung. Itulah tempat tidur yang kupakai selama berbulan-bulan.
 
 Dawuan, tempatku menyingkir dari Dukuh Paruk, terletak di sebelah kota kecamatan. Akan terbukti nanti, pasar Dawuan merupakan tempat melarikan diri yang tepat. Di sana aku dapat melihat kehadiran orang-orang dari perkampungan dalam wilayah kecamatan itu. Tak terkecuali orang-orang dari Dukuh Paruk. Pasar Dawuan menjadi tempat kabar merambat dari mulut ke telinga, dari telinga ke mulut dan seterusnya. Berita yang terjadi di pelosok yang paling terpencil bisa didengar di pasar itu.
 
 Jadi aku seperti masih tinggal di Dukuh Paruk laiknya.
 
 Aku mendengar segala hal yang terjadi di pedukuhan itu, tanpa kehadiranku di sana. Dukuh Paruk telah menemukan kembali keasliannya, dengan munculnya kelompok ronggeng di bawah asuhan dukunnya yang terkenal, Kartareja. Keinginan Sakarya maupun Kartareja agar Srintil menjadi ronggeng tenar, telah terlaksana. Boleh jadi benar kata kedua orang tua itu, keris kecil yang kuberikan kepada Srintil ikut andil dalam ketenaran Srintil. Entahlah.
 
 Di pasar Dawuan pula suatu kali aku dapat melihat Srintil yang datang berbelanja dengan Nyai Kartareja. Sebelum ronggeng itu mendekat aku telah tahu kehadirannya dari celoteh orang-orang di pasar itu.
 
 “Itu dia, ronggeng Dukuh Paruk. Srintil memang cantik.”
 
 “He! Betulkah di Dukuh Paruk ada gadis dengan kulit bersih, betis montok tanpa kurap?”
 
 “Srintil itulah buktinya. Wah, alangkah cepat besar dia.”
 
 “Ah, jangan bodoh. Bau keringat laki-laki membuat setiap anak perempuan menjadi cepat dewasa.”
 
 “Lihat. Baru beberapa bulan menjadi ronggeng sudah ada gelang emas di tangan Srintil. Bandul kalungnya sebuah ringgit emas pula,” kata seorang perempuan penjual sirih.
 
 “Kau sudah tahu dari mana ronggeng itu memperoleh bandul kalung seberat dua puluh lima gram. Tetapi kau pasti belum tahu siapa yang memberi Srintil sebuah kalung,” ujar perempuan lainnya.
 
 “Dari lurah Pecikalan yang menggendaknya?”
 
 “Salah. Lurah Pecikalan telah mengganti atap ilalang rumah Sakarya dengan seng. Dia tidak memberi kalung kepada ronggeng itu.”
 
 “Jadi siapa?”
 
 “Le Hian! Itu Cina yang mempunyai kilang ciu tersembunyi di tengah kebun pisang. Lihatlah, sebentar lagi Srintil akan memakai subang berlian. Atau akan memakai gelang rangkap.”
 
 “Ah, kau seperti tahu segala urusannya?”

“Mengapa tidak. Ada seorang siren wedana sedang menggendaknya. Bahkan kudengar istri siren itu sudah menuntut cerai kepada suaminya.”
 
 “Alangkah ampuh pekasih suami-istri Kartareja. Engkau harus mempercayainya sekarang,” ujar tukang sirih itu pula.
 
 “Ah, tanpa pekasih pun orang akan senang tidur bersama Srintil. Maka aku bisa memahami bila Sulam rela kehilangan sebuah ringgit emas untuk memperoleh keperawanan ronggeng itu,” kata orang laki-laki penjual tikar dari tempatnya.
 
 Aku terperanjat mendengar kata-kata lelaki itu. Orang lain mengatakan Sulam-lah orangnya yang mewisuda Srintil. Aku yakin pula Dower dengan caranya sendiri menyatakan sebagai orang pertama yang tidur bersama ronggeng Dukuh Paruk. Rupanya rahasia belum lagi bocor; hanya aku berdua Srintil yang mengetahui segalanya. Tetapi kejadian di belakang rumah Kartareja itu tidak memberiku kesan yang indah. Aku melakukannya sebagai tindakan spontanitas belaka.
 
 Srintil sudah memasuki arena pasar.
 
 Aku bersembunyi di balik onggokan singkong dan karung-karung. Semua pedagang di pasar
memperlakukan Srintil sebagai orang istimewa. Penjual pakaian menawarkan baju merah saga dengan harga luar biasa tinggi. Kalau tidak dicegah oleh pengiringnya, Nyai Kartareja, Srintil akan membayarnya. Tanpa menawar. Penjual benda manik-manik mengangkat dagangannya. Sebuah cermin ditawarkannya kepada Srintil. Kali ini Nyai Kartareja tidak menghalangi ronggeng itu membeli kaca itu bersama beberapa bungkus pupur dan minyak wangi.
 
 Seorang perempuan tua berlari-lari dari arah belakang. Kepada Srintil disodorkannya sehelai kutang.
 
 “Aduh, wong ayu. Pakai kutang ini. Dadamu sudah kelihatan montok.”
 
 “Berapa harganya, Nek?” tanya Srintil.

“Aku tak ingin berjualan kepadamu. Silakan pakai. Aku setiap saat berdiri di pinggir arena bila kau sedang menari. Engkau pasti tidak tahu, bukan?”
 
 Srintil membalasnya dengan tawa yang manja. Dipilihnya sebuah kutang berwarna kuning menyolok, lalu diberikannya kepada Nyai Kartareja untuk dibawa. Bukan hanya penjual kutang itu yang memberikan dagangannya dengan cuma-cuma kepada Srintil. Masih banyak lagi. Seorang perempuan penjual buah
memberikan mangga-mangga yang masak dengan pengantar, “untuk penyegar bagimu yang terlalu banyak melek di malam hari.” Tukang jamu cepat-cepat meramu dagangannya. “ Supaya otot-ototmu tetap kenyal. Laki-laki memang kurang ajar. Dia membenci apa-apa yang kendur!”
 
 Bila para perempuan kelihatan tulus ikhlas memanjakan Srintil, tidak demikian dengan para lelaki. Pak Simbar, penjual sabun di pasar Dawuan berkata dengan mata bersinar-sinar kepada Srintil. “Eh, wong kenes, wong kewes. Aku tahu di Dukuh Paruk orang menggosok-gosokkan batu ke badan bila sedang mandi. Tetapi engkau tak pantas melakukannya. Mandilah dengan sabun mandiku. Tak usah bayar bila malam nanti kau bukakan pintu bilikmu bagiku. Nah, kemarilah.” Berkata demikian, tangan Pak Simbar menjulur ke arah pinggul Srintil. Aku melihat dengan pasti, Srintil tidak menepiskan tangan laki-laki itu. Bangsat!
 
 Babah Pincang yang duduk hampir tenggelam di tengah dagangannya ikut berbicara. Juga dengan wajah beringas dan mata berkilat.
 
 “Nah. Aku punya sandal kulit. Mulah. Balang baik. Na, kamu olang tida pantas beltelanjang kaki. Betismu bagus. Bayal sandalku. Nanti aku juga mau bayal kalau aku tidul di Dukuh Paluk.”
 
 Seperti juga Pak Simbar, Babah Pincang juga gatal tangan. Bukan pinggul Srintil yang digamitnya, melainkan pipinya. Kali ini pun Srintil tak berusaha menolak. Bangsat lagi!



Bersambung... 

______________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...